Showing posts with label Ryan Gosling. Show all posts
Showing posts with label Ryan Gosling. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Song To Song (2017)

Menutup trilogi kontemporer tak resmi milik Terrence Malick, Song to Song menyatukan kisah cinta To the Wonder dengan gemerlap membutakan kehidupan modern Knight of Cups. Sampai titik ini penonton mestinya tahu sang sutradara bakal memberi tontonan mirip apa. Sehingga walau menyoroti skena musik di Austin, Texas, menuturkan romantika, serta dibintangi Ryan Gosling sebagai musisi passionate, jangan mengharapkan "La La Land 2.0". Song to Song adalah "film Malickian" ketika abjad merupakan representasi pandangan gres ketimbang insan kompleks yang tinggal dalam dunia di mana matahari selalu bersinar dan jatuh cinta diekspresikan dengan berguling di rumput atau saling belai di balik balutan gorden.

Menit-menit awal diisi perkenalan terhadap tiga tokoh utama, BV (Ryan Gosling), Cook (Michael Fassbender), dan Faye (Rooney Mara). Penonton hanya disuguhi sekelumit karakterisasi: BV ingin menyentuh rasa orang-orang lewat musiknya, Berbekal prinsip "any experience is better than no experience" Faye mengejar kehidupan sebebas mungkin, sedangkan Cook ialah pelaku industri musik handal yang bergelimang kemewahan (tipikal "manusia kosong" yang gemar Malick kritisi). Penokohan singkat di atas berfungsi menjelaskan (baca: menjustifikasi) tindakan karakter, bagai kitab yang memandu kita apabila tersesat di tengah gerak liar filmnya.
Ruang dan waktu bagi Malick bersifat abstrak. Penonton sulit memastikan sedang berada di mana dan kapan kala alur melompat dari lagu ke lagu, insan ke manusia, ciuman ke ciuman, hubungan ke hubungan. Namun kini alurnya lebih runtut dibanding dua film sebelumnya. Setidaknya bisa dipahami ketika BV, Faye, dan Cook saling tertawa bersama sebelum konflik asmara segitiga menyeruak, kemudian dengan tiap gejolak pribadi mereka menempuh jalan masing-masing, bertemu sederet tokoh lain. Cook menyeret Rhonda (Natalie Portman) si pelayan ke kehidupan seks liarnya, BV bertemu Amanda (Cate Blanchett) yang terluka, sementara Faye melanjutkan "petualangannya" dengan seorang perempuan berjulukan Zoey (Berenice Marlohe). 

Progresi chaotic yang menjelajah ke pemandangan paling acak sekalipun (sempat menampilkan adegan film usang Rusia) untungnya dibantu kehadiran voice over. Ucapan berbisik wajib ada dalam karya Malick, namun jikalau biasanya sekedar menguatkan mood, voice over milik Song to Song ibarat pemandu yang mengajari penonton cara merangkai plot. Tidak seluruhnya gamblang, jadi pastikan berkonsentrasi pada tiap kalimat. Namun andai tanpa voice over pun, gelaran penceritaan visual Malick di sini lebih koheren, saling mengikat walau bergerak acak maju-mundur. Memang kurang substansial (feeling or memory doesn't work liket that) tapi membentuk bulat utuh seputar kehidupan kontemporer hampa yang akibatnya mendorong insan kembali menuju kesederhanaan, "memandikan diri" (bentuk meyucikan) dengan alam bersama cintanya.
Bukan berarti keliaran chaotic di atas sepenuhnya nyaman disimak. Seiring makin banyak tokoh gres diperkenalkan sekaligus repetisi momen (bertemu-bertatapan-berkencan-foreplay) yang selalu mengisi, Song to Song mudah menggiring penonton menuju titik jenuh. Ketika pengulangan-pengulangan itu terus berlangsung selama 129 menit, bukan tidak mungkin rasa lelah pula frustrasi yang menghinggapi gugusan tokohnya.

Setelah menggarap sinematografi Malick semenjak The New World, menggerakkan kamera laksana hantu yang terbang belakang layar membuntuti para tokoh rasanya sudah menjadi refleks bagi Emmanuel Lubezki. Begitu pula rutinitas "memuja" siraman cahaya mentari, entah di pagi hari, siang bolong, atau senja. Tetap indah, sedap dipandang, tetapi tidak lagi groundbreaking. Serupa rutinitas yang gampang ditebak, kita tahu kapan Faye bakal bersandar sembari tersenyum mesra di tembok, kapan BV memandang syahdu matahari, atau kapan kameranya berjungkir balik menangkap kemesraan sepasang kekasih. 
Bermain di film Terrence Malick kolam ujian seberapa jauh seorang pemain drama bisa berakting tanpa naskah, memunculkan improvisasi natural. Terlebih karakternya kerap dituntut mengekspresikan cinta serta kegembiraan melalui sikap "kekanak-kanakan" berupa keusilan, tarian, atau verbal yang nampak konyol. Gosling dan Fassbender lulus ujian berkat ekspo tingkah alamiah pemancing senyum sembari menjalin interaksi bernyawa walau hanya dibekali sedikit dialog. Keduanya menghembuskan dinamika, sesuatu yang gagal dilakukan Ben Affleck (To the Wonder) atau Christian Bale (Knight of Cups). Sementara di antara penuh sesaknya cameo musisi  yang anehnya jarang diperlihatkan bermain musik  hanya Patti Smith dengan kisah murung emosionalnya yang meninggalkan kesan. 

Tidak bisa dipungkiri juga, Malick punya ragam acara yang lebih menarik untuk dilakukan para karakter. Tentu rutinitas tersebut di atas, ditambah foreplay berkepanjangan masih mendominasi, tapi pemandangan semisal keisengan Gosling mencoba-coba pakaian kekecilan sampai Mara yang menari begitu antusias memunculkan kesenangan. Song to Song tetap bukan perenungan filosofis dengan keindahan luar dalam macam The Tree of Life, tidak akan pula mencerahkan hati dan pikiran penonton soal tuturannya mengenai "settling down", namun eksperimen terakhir Terrence Malick (untuk sekarang) sebelum kembali ke narasi terstruktur lewat Radegund urung berujung kekosongan. 


Sunday, December 2, 2018

Ini Lho Blade Runner 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film orisinil bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata perjuangan frustasi mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan penyesuaian novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve bisa melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis wacana eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang sekarang berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik pemeriksaan K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi pada dasarnya penyelidikan K mengarah akan belakang layar replicants yang sanggup mengubah dunia, khususnya relasi mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya efek noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat digunakan biar tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, mengakibatkan kegiatan sederhana para tokoh kolam berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins yaitu masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah insan dan replicants, Deakins juga menghadirkan pertentangan antara reruntuhan peradaban maju ibarat di Las Vegas, daerah Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan agresi yang memberi kiprah penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling menghipnotis rintangan huruf (ombak di klimaks) atau menghipnotis mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi teladan eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak bisa mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis terang lebih cocok.

Gosling tepat mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan cuek yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih insan dari insan itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa badan nyata, justru lebih mempunyai rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang dia lontarkan yaitu hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang menciptakan kita spesial?

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho First Man (2018)

Tokoh utama First Man ambil bab dalam misi menuju bulan. Sebuah destinasi teramat jauh sekaligus misterius, apalagi 49 tahun kemudian ketika teknologi NASA bahkan kalah canggih dibanding smartphone di saku celana kita. Tapi dalam mengadaptasi biografi First Man: The Life of Neil A. Armstrong karya James R. Hansen, sutradara Damien Chazelle (Whiplash, La La Land) bersama penulis naskah Josh Singer (Spotlight, The Post) urung menuturkan kisah kepahlawanan maupun merayakan pencapaian sains. Bukan pula sebuah puja-puji kebangkitan Amerika Serikat dalam “perang angkasa” melawan Rusia. First Man yaitu dongeng personal yang mengatakan betapa hati insan sanggup berjarak lebih jauh dan kompleks ketimbang perjalanan ke bulan.

Adegan pembukanya menampilkan pendaratan darurat Neil Armstrong (Ryan Gosling) di suatu misi. Tapi alih-alih beralih menuju penilaian teknis terhadap kejadian tersebut, filmnya pribadi mengajak kita mengunjungi keluarga Neil yang sedang dirundung duka. Pasca pergulatan panjang, sang puteri, Karen, meninggal tanggapan tumor. Rasa kehilangan amat mempengaruhi Neil. Dia ingin memulai hidup baru, salah satunya dengan melamar sebagai astronot untuk proyek Gemini, yang mempunyai tujuan selesai menerbangkan insan ke bulan. Namun bukannya awal baru, Neil justru makin dihantui oleh satu hal: kematian.

“Kami terbiasa mendatangi pemakaman”, sebut istri Neil, Janet (Claire Foy). Pernyataan yang merujuk pada seringnya Neil melihat rekan-rekannya sesama pilot tewas dalam misi. Kepergian Karen menyulitkan Neil menghadapi konsep kematian. Sehingga begitu Gemini dilangsungkan, kemudian kecelakaan demi kecelakaan terjadi dan satu per satu nyawa melayang termasuk sahabat-sahabatnya, Neil mesti bertarung melawan ketakutan terbesarnya, yang saya percaya, juga ketakutan terbesar banyak orang. Takut ketika sang maut menjemput diri sendiri atau orang-orang terdekat.

Kemudian naskahnya menunjukkan kepiwaian menautkan misi luar angkasa dengan studi abjad seorang Neil Armstrong. Segala trial and error (especially the errors) bukan sekedar alat pembangun tensi dan permasalahan teknis yang harus dipecahkan, juga observasi mengenai terbentuknya sikap protagonis. Di salah satu adegan, seekor lalat terbang di kabin pesawat. Neil hanya bisa memperhatikan sebelum seorang temannya membunuh lalat itu. Sebagaimana astronot lain, tentu Neil terganggu akan keberadaan seekor lalat, tetapi ia tak bisa berbuat apapun. Dia terlalu takut untuk menatap kematian, meski cuma janjkematian seekor lalat.

Di rumah pun ia kelabakan menata perasaan. Sulit baginya membahas jikalau selepas 20 Juli 1969, hari di mana Apollo 11 diluncurkan, ada kemungkinan kedua puteranya menjadi yatim dan Janet menyandang status janda. Bahkan sebelum tubuhnya berangkat ke bulan, hatinya telah lebih dulu pergi entah ke mana. Gosling sanggup menghidupkan perasaan itu, sehingga tiap Chazelle menempatkan kamera demikian akrab dengan kedua matanya, seluruh ketakutan serta beban Neil terpancar nyata. Di sisi lain, Claire Foy memperkaya jalinan emosi filmnya. Matanya yang lembap menahan ledakan tangis pada malam sebelum keberangkatan Neil terang mengaduk-aduk perasaan.

Satu-satunya tembok penghalang usaha filmnya mengalirkan rasa kepada penonton yaitu obrolan yang mengalami permasalahan serupa Interstellar (2014) dalam pilihannya menggunakan pendekatan realistis. Baris-baris kalimat sarat istilah ilmiah terus bertebaran, nyaris tanpa alat bantu bagi kalangan awam memahami konteksnya, yang berpotensi besar membuat banyak penonton tersesat. Penggunaan gaya itu pun kontradiktif dengan tujuan menyertakan penonton dalam sebuah perjalanan intim. Semakin kontradiktif tatkala disandingkan bersama elemen-elemen lain yang semuanya mengarah ke tujuan serupa. Salah satunya sinematografi garapan Linus Sandgren (American Hustle, La La Land) yang menggunakan tekstur grainy, yang selain bertujuan membuat kesan lawas, juga biar filmnya tampak kolam home video, format yang identik dengan keintiman serta keluarga.

Pada setiap sekuen penerbangan, Chazelle gemar menggoyangkan kameranya (shaky cam). Begitu keras goncangannya, bukan tidak mungkin anda merasa mual (konon ada yang hingga muntah di studio). Biasanya, teknik demikian terasa mengganggu, namun dalam First Man, teknik itu justru selaras dengan tujuan menempatkan penonton di posisi karakternya. Sebelum misi puncak alias peluncuran Apollo 11, dalam seluruh sekuen penerbangan, Chazelle terus mengurung kita dalam interior pesawat. Di tiap goncangan mengerikan dan bahaya, ibarat Neil, penonton hanya bisa mengintip ke luar lewat jendela kecil, memunculkan ketidaknyamanan dan suasana klaustrofobia.

Bukan berarti First Man cuma berkutat di penderitaan kemudian mengesampingkan kekaguman. Selain departemen visual, kiprah membangkitkan rasa tersebut diemban pula oleh Justin Hurwitz (Whiplash, La La Land) selaku kompose. Di momen ketika Agena Target Vehicle (ATV) melayang-layang di kehampaan langit, musik gubahan Hurwitz seolah berasal dari katalog musik klasik yang digunakan Stanley Kubrick untuk mengiringi 2001: A Space Odyssey (1968). Sedangkan kala titik puncak pendaratan di bulan mulai bergulir, Hurwitz menghantarkan kemegahan tanpa banyak mengeksploitasi formula “boom bang braam” sebagaimana jadi andalan secara umum dikuasai sajian blockbuster.

Kita takkan melihat publik berkumpul, menonton peluncuran Apollo 11 di depan televisi dengan kekaguman dan kecemasan, alasannya yaitu First Man tak ingin menjadi dongeng kepahlawanan. Bahkan sesudah Neil mendarat dengan selamat di Bumi, tak ditemukan pula momen “wajib” ketika seorang protagonis disambut penuh suka cita, dielu-elukan ribuan manusia. First Man sempat menyulut kontroversi tanggapan keengganan menampilkan momen ikonik penancapan bendera Amerika Serikat. Chazelle menggantinya dengan pemandangan lain yang lebih personal, yang bermuara kepada usaha Neil melawan gejolak batinnya.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Blade Runner 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film orisinil bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata perjuangan frustasi mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan penyesuaian novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve bisa melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis wacana eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang sekarang berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik pemeriksaan K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi pada dasarnya penyelidikan K mengarah akan belakang layar replicants yang sanggup mengubah dunia, khususnya relasi mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya efek noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat digunakan biar tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, mengakibatkan kegiatan sederhana para tokoh kolam berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins yaitu masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah insan dan replicants, Deakins juga menghadirkan pertentangan antara reruntuhan peradaban maju ibarat di Las Vegas, daerah Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan agresi yang memberi kiprah penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling menghipnotis rintangan huruf (ombak di klimaks) atau menghipnotis mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi teladan eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak bisa mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis terang lebih cocok.

Gosling tepat mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan cuek yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih insan dari insan itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa badan nyata, justru lebih mempunyai rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang dia lontarkan yaitu hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang menciptakan kita spesial?