Showing posts with label Scott Eastwood. Show all posts
Showing posts with label Scott Eastwood. Show all posts

Saturday, December 1, 2018

Ini Lho Pacific Rim: Uprising (2018)


We are cancelling the apocalypse!”, demikian pidato membahana Jenderal Stacker Pentecost (Idris Elba) yang menentukan nuansa Pacific Rim (2013). Sebuah simpulan dunia, saat di tengah malam gelap, di antara gedung-gedung pencakar langit, monster raksasa alias Kaiju melancarkan serangannya, dan nyaris tiada keinginan bagi umat manusia. Dalam Uprising, sekuel yang tiga tahun kemudian tampaknya tidak mungkin direalisasikan akhir performa box office film pertamanya biasa saja, atmosfer itu dilucuti, sementara dominan agresi terjadi di siang hari bolong. Singkatnya, Pacific Rim: Uprising memilih berpindah ke pedoman “Bayhem”.

Tapi sutradara debutan Steven S. DeKnight bukan Michael Bay, sebagaimana Jake Pentecost (John Boyega), putera Stacker Pentecost, bukanlah ayahnya. Putera seorang pahlawan perang yang mengorbankan nyawa demi menutup portal penghubung dunia kita dengan Kaiju, Jake justru menjadi pencuri rongsokan sisa-sisa Jaeger. Juga mengorek rongsokan yaitu gadis berakal balig cukup akal berjulukan Amara Namani (Cailee Spaeny) yang ingin (lalu berhasil) membangun Jaeger seorang diri. Keduanya bertemu, sedikit bersitegang dalam interaski love/hate menarik yang menciptakan aku berharap tukar barang kalimat mereka terjalin lebih sering.
Alih-alih demikian, rivalitas setengah matang antara Jake dengan Nate Lambert (Scott Eastwood), salah satu pilot Jaeger justru sempat mengambil alih sentral. Pertmuan mereka terjadi sehabis Jake dan Amara harus “menebus dosa” dengan bergabung di kesatuan militer sehabis direferensikan oleh Mako (Rinko Kikuchi), protagonis film pertama sekaligus saudari tiri Jake. Amara dengan talenta mekaniknya, sementara Jake mewarisi kehebatan sang ayah mengendalikan Jaeger. Beberapa kali, Jake menegaskan bahwa beliau dan ayahnya berbeda. Saya setuju. Boyega terang bukan Elba. Dia lucu, likeable, tapi kekurangan karisma sebagai pendekar utama film aksi.

Kita tahu akan ada titik balik pada perilaku Jake, dan kemunculan Mako menyiratkan apa pemicunya. Saya amat menantikan titik balik tersebut, poin di mana Jake, beserta filmnya, bakal total terjun ke medan perang. Karena, keputusan menghilangkan atmosfer “impending doom” ditambah kurangnya daya tarik dalam alur meminimalkan tensi tatkala layar tidak sedang diisi pertarungan Jaeger melawan Kaiju. Apalagi sepanjang paruh awal jarak tiap pertarungan terlampau jauh. Tapi titik balik yang aku nanti gres benar-benar terlihat begitu markas militer diserbu serangan mendadak. Tempo dipercepat dan pertaruhan nyawa meningkat, yang bermuara pada totalitas klimaks.
Sekali lagi, Steven S. DeKnight bukan Michael Bay yang piawai merangkai ledakan bombastis memikat mata dalam rentetan pertempuran para raksasa yang nyaris seluruhnya dikemas kolam puncak segalanya. Bagusnya, DeKnight menyusun koreografi pertempuran ketimbang sekedar membenturkan besi-besi tanpa bentuk maupun orientasi gerakan pasti. Ada kesadaran terhadap ruang, waktu, juga wujud. Robot-robot DeKnight dapat berguling, menendang, langgar dengan lincah, memamerkan beraneka ragam senjata, dan penonton takkan kesulitan mengamati apa yang tengah terjadi dan melibatkan siapa saja.

Saya yakin akan sering mendengar pertanyaan “lebih anggun mana dibanding film pertama?”. Biar aku jabarkan. Kalau anda menyukai Pacific Rim dengan alasan menyerupai saya, yaitu atmosfer “hari akhir” yang mengiringi pertarungan seru, besar kemungkinan Uprising kurang memuaskan. Tapi jikalau anda menyukainya lantaran alasan berbeda, atau justru sebaliknya, bukan merupakan penggemar disebabkan pertempuran di film pertama kurang mengedepankan unsur “fun” boleh jadi sekuelnya menghadirkan kesenangan. Setidaknya, bagi penonton yang mencari agresi imajinatif seputar robot raksasa, Pacific Rim: Uprising masih menunjukkan daerah bernaung.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Overdrive (2017)

Overdrive adalah satu dari sekian banyak tontonan kelas dua yang berusaha mengekor kesuksesan seri Fast & Furious, berharap sebagian sasaran pasar franchise raksasa itu terpengaruhi oleh kemiripan yang ditawarkan. Formulanya memang serupa. Mobil mewah, wanita cantik, agresi abnormal melawan logika, hingga plot soal pencurian yang memaksa tokoh utamanya membentuk sebuah tim. Kebetulan Scott Eastwood sebagai salah satu cast The Fate of the Furious turut ambil bab memerankan Andrew Foster sang protagonis. 

Cerita dalam naskah besutan Michael Brandt dan Derek Haas bersama-sama generik. Andrew bersama adik tirinya, Garett (Feddie Thorp) merupakan dua bersaudara pencuri kendaraan beroda empat yang mesti berurusan dengan cecunguk sekaligus kolektor kendaraan beroda empat antik berjulukan Jacomo Morier (Simon Abkarian) akhir "tanpa sengaja" mencuri koleksi barunya. Keduanya dipaksa mengambil kendaraan beroda empat milik tentangan bisnis Morier, Max Klemp (Clemens Schick) yang konon populer bengis. Intinya hanya itu. Tapi Brandt dan Haas menumpahkan banyak belokan tajam, abjad tambahan, serta sub-konflik, menghasilkan setumpuk kerumitan.

Hampir 10 menit sekali muncul duduk masalah gres yang dibawa oleh tokoh gres pula, mengakibatkan durasi 93 menitnya penuh sesak. Semua didasari perjuangan memberi kompleksitas yang sesungguhnya tak perlu, lantaran sering kali poin plotnya mengundang tanya, "untuk apa?". Tidak jarang keputusan karakternya justru menyulitkan diri sendiri. The kind of stupidity that hide behind unnecessary complexites. Belum lagi, mengikuti semangat film heist, twist beraneka ragam khususnya soal rencana pencurian bakal bergantian muncul ke permukaan. Kejutan yang tidak terduga, bukan lantaran kepintaran naskah mengecoh penonton, melainkan murni bentuk "penipuan" yang tiba-tiba saja terjadi.
Tentu bodoh. Sebodoh rencana Andrew dan kawan-kawan yang tak nampak disusun oleh para mahir di bidangnya. Namun kebodohan tersebut sulit dipungkiri, terasa menyenangkan. We love surprises. Kala Overdrive yang overstuffed ini dikemas penuh kesadaran atas kebodohan miliknya, penonton pun tinggal duduk menikmati sambil mengistirahatkan otak. Dan walau keterbatasan biaya (dan imajinasi) menghalangi kegilaan maksimum menyerupai ilham terbesarnya, Antonio Negret selaku sutradara masih punya visi mencukupi dalam menciptakan brainless action set piece. Duel (literally) kendaraan beroda empat melawan pesawat yaitu tumpuan terbaik.

Beberapa kali Andrew dan Garrett membicarakan ayah mereka. Selain demi menanamkan (secara paksa) drama keluarga, seolah merupakan nod bagi si pemain film utama. Scott Eastwood memang masih karam di balik bayang-bayang sang ayah. Mungkin pesonanya masih amat jauh dibanding Clint, tetapi Scott menampilkan charm memadahi, cukup merepresentasikan sosok pendekar keren sesuai kebutuhan film. Ana de Armas sebagai Stephanie, kekasih Andrew, dan Gaia Wess sebagai Devin si pencopet pun serupa, walau bukan tokoh-tokoh dengan dengan penulisan solid, telah memenuhi kebutuhan filmnya selaku car movie akan aktris berparas cantik. Overdrive is fun. Brainless fun. Just don't expect more