Showing posts with label Talitha Bateman. Show all posts
Showing posts with label Talitha Bateman. Show all posts

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Annabelle: Creation (2017)

Prekuel Annabelle adalah salah satu horor terbaik 2017. Kalau tiga tahun kemudian selepas film pertama yang begitu jelek rilis ada pernyataan demikian, niscaya saya tertawa. Namun kenyataannya, Annabelle: Creation memang salah satu horor terbaik tahun ini. Memberi origin baru yang bekerjsama merupakan retcon, karya dari David F. Sandberg (Lights Out) ini membawa kisahnya mundur menuju sekitar tahun 1950-an, saat seorang pembuat boneka berjulukan Samuel Mullins (Anthony LaPaglia) dan istrinya, Esther Mullins (Miranda Otto) kehilangan sang puteri tunggal, Annabelle (Samara Lee), jawaban kecelakaan. 

12 tahun berselang, Samuel dan Esther menimbulkan rumah mereka sebagai panti asuhan teruntuk segelintir anak wanita bimbingan Suster Charlotte (Stephanie Sigman). Kebahagiaan memperoleh rumah gres berukuran besar tidak bertahan lama, khususnya bagi Janice (Talitha Bateman) yang pada suatu malam tertarik memasuki sebuah kamar meski telah tidak boleh oleh Samuel. Rupanya kamar itu milik Annabelle dulu, dan tanpa Janice sadari, ia sudah membebaskan sesosok roh jahat dari kekangan. Roh yang siap menebar teror keji berkepanjangan. 
Tanda peningkatan kualitas dibanding installment pendahulunya pribadi terpercik sejak opening sequence-nya. Sandberg menentukan menyusun kesunyian, menunjukkan proses Samuel membuat boneka Annabelle disusul bermain petak umpet bersama puterinya. Nihil musik atau pengaruh suara, hanya kesepian pemantik antisipasi yang terasa mencekik. Nuansa sepi terus bertahan mencapai pertengahan durasi, namun bukan kekosongan melelahkan. Ada sedikit introduksi atas segala kecacatan dalam rumah hingga formasi teror berskala kecil ibarat sekelebat bayangan. Atmosfer terbangun besar lengan berkuasa di mana Sandberg   dibantu pembagian sisi gelap dan terperinci ruangan oleh sinematografi Maxime Alexandre   memancing ketakutan alamiah kita bahwa ada sosok angker tengah mengintai dari balik kegelapan.

Tapi Sandberg sadar, atmosfer saja takkan cukup memuaskan penonton luas. Butuh parade jump scare. Mengikuti ilmu James Wan ditambah kreativitas sebagaimana ia pamerkan dalam Lights Out, jump scare olahan Sandberg berisi penampakan-penampakan lewat cara serta waktu yang kerap tak terduga. Para hantu bukan saja numpang lewat memamerkan tampang seram, tetapi "aktif" melaksanakan sesuatu, sebutlah mendorong dingklik roda di siang bolong. Babak tengah film simpel bergerak di jalur formulaik berupa teror tanpa henti, namun eskalasi tempo sesudah paruh awal yang menjalar pelan plus metode cukup kreatif sang sutradara, ampuh menjaga atensi. 
Turut menjaga film terjerumus pada kehampaan yaitu jajaran pemeran. Naskah Gary Dauberman terbagi menjadi dua fokus. Separuh pertama jadi panggung Talitha Baterman menawarkan akting meyakinkan terkait verbal ketakutan. Tatkala kamera kerap mengambil close-up, kita bagai melihat penampilan aktris yang berpengalaman di ranah horor. Lalu paruh kedua diisi Lulu Wilson sebagai sahabat Janice, Linda. Wilson kolam mewakili niat Sandberg bersenang-senang menggarap filmnya. Baik celotehan singkat ("who cares, run!" is my favorite line) maupun respon lugu atas teror boneka Annabelle menghadirkan kesejukan humor secukupnya yang tak hingga mendistraksi parade horor. Tapi tingkah polos Linda justru masuk logika, sehinga selain jadi salah satu tokoh bocah paling likeable dalam horor belakangan ini, pula terpintar. 

Menyentuh third act, Sandberg tidak lagi menahan diri. Dilepaskan segala amunisi, dipacunya tempo secepat mungkin. Tidak hingga terburu-buru pula, alasannya Sandberg masih menjembatani momen demi momen, menghasilkan antisipasi yang tak kalah menegangkan dibanding suguhan kengerian utama. Berlangsung panjang namun tidak berlebihan dan konsisten menjaga dinamika, titik puncak Annabellee: Creation layak mendefinisikan "epic horror entertainment". Terkait eksistensinya dalam The Conjuring universe, sepanjang film ikut disematkan beberapa koneksi dengan judul-judul sebelumnya, termasuk credit scene (ada dua buah) yang merujuk pada spin-off berikutnya yang bakal rilis tahun depan.


Review Annabelle: Creation juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_L7Lz

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Geostorm (2017)

Apa pemicu utama keberhasilan disaster film? Bukan semata bujet besar. Ingat, The Impossible berhasil secara meyakinkan mereka ulang tsunami tahun 2004 walau hanya punya anggaran 45 juta dollar. Menempatkan peristiwa di atas unsur lain dan membawa penonton berada di tengahnya yaitu poin terpenting. Sehingga saat Geostorm tak pernah merealisasikan situasi ajal ibarat yang dijanjikan, artinya debut penyutradaraan Dean Devlin ini gagal memenuhi hakikatnya. Tidak mengejutkan, alasannya yaitu filmnya sudah empat kali berganti tanggal rilis, salah satunya akhir hasil test screening buruk yang memaksa pengambilan gambar ulang dilakukan.

Adegan pembukanya menjanjikan, mengisahkan upaya kolaborasi 17 negara membuat satelit pengontrol cuaca berjulukan "Dutch Boy" demi menghentikan peristiwa global. Jake Lawson (Gerard Butler) merupakan pimpinan proyek tersebut. Tetapi begitu risikonya kondisi aman, Jake justru "ditendang" dari tim, digantikan oleh adiknya, Max (Jim Sturgess). Sifat insan yang bersedia bersatu kala dirundung kesusahan hanya untuk mementingkan ego sesudah kembali  merasa aman, sekilas disiratkan, walau sayangnya urung benar-benar dieksplorasi. 
Tiga tahun berselang, kejadian asing mulai menyerang banyak sekali negara, diawali tempat gurun Afganistan yang membeku. Malfungsi pada Dutch Boy diduga jadi penyebabnya. Jake pun diminta bertugas lagi di stasiun luar angkasa demi mendeteksi kerusakan satelit buatannya sebelum terjadi geostorm, yaitu topan raksasa berskala global yang akan mengakhiri dunia. Terdengar epik, dan filmnya pun menjanjikan itu tatkala sepanjang durasi penonton diperlihatkan tsunami, gempa, hujan es, dan lain-lain. Tapi geostorm sendiri tak pernah diwujudkan. Menyisakan kehancuran berskala non-global yang sekedar muncul sekilas bagi penonton.

Bukankah kalau geostorm berlangsung artinya kiamat? Benar, dan bukan masalah. 2012-nya Roland Emmerich jadi referensi sewaktu insan tak bisa membendung "kiamat", fokus diberikan pada usaha bertahan hidup. Sejatinya mengedepankan usaha preventif pun sanggup menarik asalkan berkutat di acara menantang ajal ibarat Michael Bay tunjukkan lewat Armageddon. Dalam Geostorm, protagonis lebih sibuk mengutak-atik komputer yang turut menyia-nyiakan bakat Gerard Butler. Kurang bijak membayar Butler untuk mengucapkan kalimat-kalimat ilmiah alih-alih beraksi menyelamatkan dunia sebagai action hero. Cuma sebuah sekuen agresi ia dapat, itu pun dilakoni dalam balutan spacesuit
Singkatnya, para protagonis jarang ditempatkan eksklusif di sentra kekacauan. Max dan Sarah (Abbie Cornish), kekasihnya sekaligus anggota secret service sempat terjebak topan halilintar, namun Devlin menentukan memusatkan kamera pada kendaraan beroda empat yang dipacu ketimbang kerusakan sekitar. Devlin boleh saja menulis naskah lima film Emmerich, tapi beliau tak "tertular" kapasitas pengadeganan sang maestro film bencana. Staging Devlin amat buruk. Daripada digiring ke dalamnya, kiprah penonton sebatas observer akan kejadian yang tidak terlihat meyakinkan lantaran CGI buruk. Bahkan CGI penyusun latar kota (khususnya Rusia) pun tampak menggelikan.

Kurangnya sanksi adegan peristiwa baik dari kuantitas maupun kualitas, Geostorm nyaris tak punya faktor pemberi kenikmatan. Drama keluarganya gagal menyentuh akhir penggalian dangkal naskah buatan Dean Devlin dan Paul Guyot. Pun performa cast-nya kurang mendukung di mana hanya Talitha Bateman (Annabelle: Creation) melalui kemunculan singkat sebagai puteri Jake yang sanggup menangani momen emosional. Demikian pula selipan humor yang bagai dibawakan setengah hati para pemain, kecuali Zazie Beetz dengan gaya deadpan menggelitik miliknya.