Showing posts with label Taron Egerton. Show all posts
Showing posts with label Taron Egerton. Show all posts

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Robin Hood (2018)

Para purist akan menyebut Robin Hood—sebagaimana King Arthur: Legend of the Sword (2017)—produk hina penuh dosa akhir keengganannya setia pada gaya tradisional. Padahal filmnya sendiri sudah meminta, “Lupakan sejarah dan dongeng pengantar tidur yang kalian kenal”. Kaprikornus apa perlunya kita meminta sesuatu yang jelas-jelas tidak coba filmnya raih? Robin Hood merupakan modernisasi yang meski tidak luar biasa maupun cerdas, namun menyenangkan pula efektif. Terima saja kenyataan itu.

Sang ningrat muda, Robin of Loxley (Taron Egerton), mendapatkan perintah wajib militer dari Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn), di mana ia mesti terjun ke Perang Salib, memaksanya meninggalkan kehidupan glamor serta cintanya, Marian (Eve Hewson). Otto Bathurst, dalam debut penyutradaraan layar lebarnya, mengemas Perang Salib layaknya Perang Irak dengan parade “boom bang”. Para prajurit mengangkat busur panah ibarat senapan, dan pihak lawan menghujani mereka dengan crossbow seolah benda itu ialah senapan mesin. Dan saya mengaguminya.

Robin, yang sejatinya cowok berhati mulia, terganggu menyaksikan rekan-rekannya membantai tawanan perang secara keji. Dia pun memberontak hingga dikirim kembali ke Nottingham. Salah satu tawanan, Yahya alias John (Jamie Foxx), sehabis melihat sang putera dipenggal di depan matanya, merencanakan kudeta. John memutuskan belakang layar mengikuti Robin kembali ke Nottingham. Bagaimana John bisa bersembunyi selama tiga bulan di bawah geladak? Bagaimana ia makan dan minum?

Tidak perlu mempertanyakan itu, lantaran ketika otak anda sibuk memikirkan setumpuk lubang alurnya, film ini, yang bergerak dalam tempo cepat, telah mencapai destinasi: Nottingham, yang kini telah jauh berubah. Di bawah perintah Sheriff, semua penduduk dipindahkan ke tambang untuk bekerja paksa, termasuk Marian yang kini menjalin kasih dengan Will (Jamie Dornan), lantaran nama Robin tertera dalam daftar buatan Sheriff of Nottingham tentang prajurit yang gugur dua tahun kemudian (Robin pergi selama empat tahun).

Bukan saja urusan kerja, pemaksaan Sheriff of Nottingham juga terjadi tentang pembayaran pajak yang terlampau tinggi. Konon pajak itu digunakan mendanai Perang Salib.  Didorong hasrat balas dendam dan patah hati, Robin, dengan derma John yang mengajarinya teknik memanah tingkat lanjut, berkembang menjadi “The Hood” yang populer lewat aksinya mencuri dari para ningrat guna dibagikan kepada rakyat miskin. Sedangkan sebagai ningrat Robin of Loxley, ia coba memenangkan hati Sheriff, untuk mengungkap siapa dalang di balik kediktatoran kejam ini.

Tentu alur dalam naskah buatan Ben Chandler dan David James Kelly tipis sekaligus penuh lubang. Salah satunya lagi-lagi melibatkan perjalanan jalur air menuju Nottingham. Bagaimana bisa para Crusaders (termasuk “kawan lama” Robin di medan perang) datang sedemikian cepat guna menjadi kaki tangan Sheriff meski jarak tempuhnya memakan waktu tiga bulan? Tapi lagi-lagi, sungguh buang-buang waktu menyibukkan pikiran dengan pertanyaan tersebut ketika Bathurst sibuk mempersembahkan banyak agresi menghibur.

Gerak lambat, musik bombastis buatan Joseph Trapanese (dwilogi The Raid, The Greatest Showman), ledakan-ledakan, set piece raksasa, hingga agresi tembak-menembak panah super cepat dengan koreografi yang mengingatkan saya akan gun fu milik John Woo, semua merupakan perjuangan modernisasi untuk tuturan medieval yang bagi penonton kini rasanya sudah ketinggalan zaman. Aksi-aksinya takkan menciptakan jantung berdegup keras, namun setidaknnya, bisa menyunggingkan senyum puas.

Robin Hood merupakan film di mana protagonisnya bertarung demi merebut cintanya lagi sembari meruntuhkan pemerintahan korup. Bagaimana saya tidak mendukungnya? Apalagi ketika Taron Egerton enggan berusaha terlalu keras tampak keren (yang acap kali menyulut penampilan kaku seorang aktor), membiarkan gaya asyiknya terhampar lepas. Ketika Ben Mendelsohn melakoni pekerjaan langganannya (baca: memerankan pejabat biadab), Eve Hewson yang juga puteri Bono U2, akan mencuri hati penonton sebagaimana yang ia perbuat pada Robin.

Film ini bukan pelajaran sejarah, bukan pembiasaan legenda yang setia terhadap sumbernya, bukan blockbuster yang berkesempatan unjuk gigi di ajang penghargaan, bukan pula interpretasi bergaya gritty realism layaknya versi Ridley Scott 8 tahun lalu, yang sejatinya jauh lebih ngawur (Robin Hodd tanpa tudung dan panah???). Film ini ialah hiburan sekali waktu. Cukup terima kenyataan tersebut.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Kingsman: The Golden Circle (2017)

"Manners maketh man". Baris kalimat ini menjelaskan popularitas Kingsman, di mana para laki-laki bersetelan jas rapi, menjaga perilaku dan perkataannya, berjibaku sebagai jasus yang bersahabat dengan kekerasan pula seksualitas tinggi. Rupawan, dibekali persenjataan canggih, brutal menghabisi musuh, gampang menaklukkan hati perempuan terang mimpi banyak pria. James Bond pun digemari alasannya yaitu itu, dan kala tiga tahun kemudian Kingsman: The Secret Service selaku penyesuaian komik karya Dave Gibbons dan Mark Millar memalsukan kadar ragam faktor tadi, perolehan 414 juta dollar jadi kewajaran.

Masih digawangi Matthew Vaughn, The Golden Circle mempertahankan apa yang dicari penonton semenjak menit pertama dikala Eggsy (Taron Egerton) terlibat perkelahian sengit melibatkan kejar-kejaran kendaraan beroda empat di jalanan kota, baku tembak di dingklik penumpang, tangan robot, juga aksi-aksi lain yang melawan logika, melawan Charlie (Edward Holcroft), mantan trainee Kingsman yang membelot. Anarkisme Vaughn menggarap agresi lewat pergerakan kamera liar dan para tokoh melakoni stunt di luar nalar yang menciptakan mereka bagai pendekar paling keren jadi pemandangan rutin yang alih-alih berujung repetitif, justru konsisten menambah tenaga, menekan penurunan tensi selama 141 menit durasi.
"Mustahil" dan "berlebihan" merupakan dua kunci kemenangan seri Kingsman. Sehingga keberadaan penjahat dengan rencana berskala global pemicu kepanikan massal yaitu kewajiban. Kali ini Kingsman dihadapkan pada Poppy Adams (Julianne Moore) pemilik organisasi pengedar narkoba terbesar berjulukan The Golden Circle yang eksistensinya tersembunyi. Bukan saja menebar teror ke seluruh dunia, Poppy pun bisa menekan Kingsman hingga titik terbawah, memaksa Eggsy dan Merlin (Mark Strong) meminta derma Statesman, organisasi jasus Amerika berkedok sentra penyulingan whiskey di Kentucky. Dari sini keduanya menemukan kemustahilan berikutnya, yakni masih hidupnya Harry (Colin Firth) pasca kepalanya tertembak di film pertama.

Dibanding pendahulunya, The Golden Circle menurunkan kadar parodi cerdik untuk film-film spy khususnya James Bond meski unsur-unsur menyerupai gadget super canggih tetap dipertahankan. Jane Goldman bersama Matthew Vaughn merangkai dongeng generik seputar usaha menggagalkan rencana penjahat keji sembari menyelipkan subplot berupa dua bentuk hubungan Eggsy, dengan Harry sang mentor, dan kekasihnya, Tilde (Hanna Alstrom) si Puteri Swedia. Namun kombinasi rentetan agresi dinamis, kekerasan berlebihan dikala Vaughn begitu enteng memasukkan badan insan ke mesin penggiling, alat-alat imajinatif, hingga koreografi yang mendorong karakternya ke status keren tertinggi memudahkan kita melupakan alur tipisnya. 
The Golden Circle dibantu ensemble cast yang mampu menghasilkan bobot pada momen sekecil apapun. Taron Egerton solid, bahkan sempat sekilas memamerkan sensitivitas rasa kala mengenang Harry. Channing Tatum walau porsinya terbatas, memperoleh kesempatan mengundang tawa lewat tariannya. Colin Firth masih seorang laki-laki sejati. While Harry isn't in his best form, Firth is. Sedangkan Julianne Moore piawai memainkan psikopat yang bisa tersenyum santai memandang janjkematian berdarah orang lain. Tapi Elton John sebagai versi fiktif dirinya yaitu pencuri perhatian terbesar. Memakai kostum-kostum abnormal plus elemen kejutan di tiap kemunculan, ia mewakili semangat komedi The Golden Circle, yang serupa aspek lain, mengedepankan absurditas. 

Kingsman: The Golden Circle boleh menempuh jalur semaunya dalam parade agresi penuh gaya Vaughn. Tapi di balik segala kekerasan dan bumbu sensualitas rating R miliknya, Vaughn dan Goldman justru membangun dunia faktual di mana pelaku tindak kejahatan kemanusiaan dibabat tanpa kecuali termasuk Presiden negara adidaya, perang melawan narkoba berujung kemenangan mutlak, serta berhasil terealisasikannya percintaan beda kasta. Dilengkapi semuanya, film ini memantapkan posisi Kingsman sebagai franchise yang menampung banyak impian-impian penonton, menghidupkannya melalui jalan unik.