Showing posts with label Titi Kamal. Show all posts
Showing posts with label Titi Kamal. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Insya Allah, Sah! (2017)

Entah berbentuk kritik atau sindiran dalam satir maupun semata olok-olok jenaka, unsur "ketidakseriusan" milik komedi sanggup berfungsi memperhalus penyampaian sebuah pesan. Lalu apa risikonya ketika suguhan komedi justru bagai berceramah secara bertubi-tubi dalam berpesan hingga mengesampingkan permintaan tertawa bagi penonton? Demikianlah Insya Allah, Sah! adaptasi novel berjudul sama karya Achi TM yang mengandung DNA serupa drama religi preachy perfilman kita. Menyedihkan ketika mendapati medium bersenang-senang pengendur otot turut dijajah polisi moral begini.

Silvi (Titi Kamal) sedang harap-harap cemas dilamar oleh kekasihnya, Dion (Richard Kyle), tetapi kesialan-kesialan bagai enggan menjauh darinya. Bahkan begitu lamaran terjadi, keberuntungan tak jua tiba ketika persiapan kesepakatan nikah selalu dihantam rintangan. Belum lagi, Silvi mesti menghadapi Raka (Pandji Pragiwaksono), laki-laki lugu anak buah Dion yang selalu menasehati biar rajin beribadah, yang mana termasuk nazar Silvi tatkala terjebak dalam lift bersama Raka. Benarkah masalah-masalah tersebut disebabkan keengganan Silvi menjalankan nazarnya?
Tidak saya pungkiri pesan utama Insya Allah, Sah! baik, bahwa seseorang wajib memenuhi janji, terlebih jikalau ditujukan pada Tuhan. Akan gampang mendapatkan tuturan itu apabila intisari sanggup penonton petik dengan sendirinya alih-alih beruntun diutarakan oleh seorang man-child yang gemar menginvasi ruang personal wanita. Seperti poin utama kisahnya, Raka berniat baik. Tapi sewaktu ia selalu hadir tak kenal waktu, mulai muncul di depan rumah Silvi hingga menelepon tengah malam, ketimbang peduli sosoknya justru terkesan creepy. Apalagi Raka yaitu fully functional adult, paham soal agama, pun diceritakan jago mengurus bisnis musik (entah bagaimana caranya), menjadikannya bukan representasi kemuliaan hati insan polos, melainkan stalker mengerikan.

Bagai sejalan dengan banyak sisi mengkhawatirkan negeri ini seputar warta moral dan agama, Insya Allah, Sah! tidak saja preachy menasihati ihwal agama, pula asal senggol soal warta sensitif untuk materi humor. Misalnya pemakaian huruf bencong dan LGBT sebagai materi lelucon usang, yang salah satunya muncul ketika Raka menasihati satu laki-laki biar "kembali pada kodratnya". Pun jikalau sekedar ditinjau dari kualitas komedi tanpa mempedulikan kekerabatan terhadap isunya, Benni Setiawan (Wa'alaikumsalam Paris, Toba Dreams, Sepatu Dahlan) selaku sutradara sekaligus penulis naskah kurang luas berkreasi, mengandalkan repitisi momen kemunculan tiba-tiba Raka. 
Pandji berusaha sebisanya bertingkah aneh, namun penokohannya sama sekali tak membantu. Untung di mana Raka berada, Silvi selalu turut mengisi (or is it the other way around?), alasannya Titi Kamal yaitu aktivis yang tidak pernah surut tenaganya. Mencibir sesuka hati lewat kata-kata pedas hingga verbal konyol, konsisten menggelakkan tawa walau tanpa derma sepadan dari sumber materinya. Begitu juga sederet meta jokes terkait sederet cameo mulai Prilly Latuconsina (Danur) hingga Reza Rahadian (Something in the Way?). Sedangkan bagi Richard Kyle ada dua opsi: melatih keluwesan akting dan berbahasa Indonesia atau meng-cast aktor lain yang lebih kompeten.

Di samping ceramah agama, Insya Allah, Sah! sejatinya mengandung potensi kisah lain untuk dijadikan fokus, yaitu keruwetan persiapan pernikahan. Kita memang melihat bermacam-macam kesulitan Silvi tapi semua selalu dikaitkan dengan agama ketimbang bangun sebagai eksplorasi tersendiri. Mungkin anda familiar akan ungkapan banyak sekali pihak kala terjadi petaka di suatu tempat yang kira-kira berbunyi "itu adzab Tuhan, makanya rajin ibadah". Sungguh pernyataan nihil empati. Demikianlah yang tercermin pada respon Raka menanggapi setumpuk permasalahan Silvi. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh (2018)

Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film, saat Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam lisan alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sebetulnya bisa ditujukan bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu” dengan “aneh” dan “absurd”.

Saya ambil satu lagi adegan dari trailer saat Doyok (Fedi Nuril) ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud pocong. Doyok diminta supaya cepat mencari jodoh, kemudian bermuara pada adegan musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh milik Wali, berlagak kolam rock star, sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru dan lucu, saya malah dibentuk kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.

Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar (Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu jadi target kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akhir hanya bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menarik hati perempuan walau telah memacari Yuli (Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui banyak sekali cara. Salah satunya lewat situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan brand yang bagai kegemaran Anggy, yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico Fachriza.

Tapi plesetan di atas masih lebih baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi abstrak yang dibentuk seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan Anggy Umbara, tampil sebagai cameo, memerankan juri lomba debat berjulukan Manoj P., yang membuka perlombaan dengan teriakan “Action!”. Seberapa jorok? Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu tersalurkan secara sempurna dan terkontrol, ia bisa melahirkan kreativitas tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara agresi yang bagus, Anggy bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.

Karena bagaimana bisa sebuah film amat tidak lucu saat diisi nama-nama bertalenta? Selain bahan lemah, fakta bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang dominan pemain utama merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya sulit dikenali, memikat berkat kemampuan membuat tawa unik, Pandji yaitu Pandji ibarat biasa, hanya gaya rambut asing plus perut (lebih) buncit yang membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir Fahri si pujaan perempuan yang ia perankan di Ayat-Ayat Cinta, terang belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan formasi pemain pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih hebat mengoceh kolam lesatan peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, hingga Laura Basuki yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.

Dan kita pun tahu niscaya gaya khas Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata. Sehingga, third act-nya, melompat ke satu lagi twist berkonsep tinggi yang menggiring kita menuju titik puncak berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya berpikir Anggy mulai bisa mengontrol takaran keliaran eksplorasinya untuk digunakan seperlunya ibarat dalam Insya Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang juga karya terburuknya semenjak Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015).