Showing posts with label Tya Subiakto. Show all posts
Showing posts with label Tya Subiakto. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Arwah Tumbal Nyai The Trilogy: Part Arwah (2018)

Mari sambut Arwah Tumbal Nyai The Trilogy: Part Arwah selaku film Indonesia dengan judul paling membingungkan semenjak Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013). Arwah sendiri merupakan pembuka sebelum Tumbal dan Nyai yang masing-masing dibintangi Dewi Perssik dan Ayu Ting Ting ikut menyusul rilis tahun ini. Saya merasa patut berterimakasih, alasannya yaitu tanpa film ini, saya takkan tahu kalau Zaskia Gotik telah menjadi brand ambassador Go-Jek kemudian mengubah namanya menjadi Zaskia Gotix. Jangan kaget jikalau di film kedua ia berganti nama lagi jadi Zaskia Go-Ride.

Digarap oleh sutradara seorang andal film ajaib, yaitu Arie Azis (Oops!! Ada Vampir, Tali Pocong Perawan, The Secret: Suster Ngesot Urban Legend), Arwah mengisahkan seorang gadis berjulukan Syurkiani (Zaskia Go-Car), yang untungnya tidak gemar beradegan syur, melainkan bermimpi ingin menari jaipong menyerupai mendiang ibunya. Tapi rentetan perkara hilangnya para penari jaipong secara misterius ditambah larangan sang nenek, Lela (Minati Atmanegara), membuat harapan Mbak Syur sukar terwujud.

Tapi Mbak Syur nekat, kemudian menentukan meminta diajari oleh Nyi Imas (Dewi Gita), yang tinggal di sebuah rumah tua. Di rumah Nyi Imas pula terdapat kendang terkutuk yang apabila dipukul tiga kali, bakal membangkitkan para hantu. Di sinilah naskah karya Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Alas Pati) mulai mengatakan kejeniusannya berlogika. Nyi Imas bersedia melatih Mbak Syur menari jaipong asal Mbak Syur mau memukul kendang itu 3 kali. Pertanyaan bagi anda: Mbak Syur ingin berguru jaipong, tapitak mau memanggil hantu. Jalan apa yang mesti ia ambil semoga 2 hal tersebut terpenuhi?

Apabila anda menjawab “pergi dari sana, cari guru jaipong di kota lain”, maka SELAMAT, anda cukup arif juga waras. Sayang, Mbak Syur (dan penulis naskahnya) tidak sepintar itu. Karena pantangannya yaitu “JANGAN PUKUL KENDANG 3 KALI”, ia pun MEMUKUL KENDANG 4 KALI! Begini Mbak Syur, sebagai orang yang peduli pada sesama, beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Jika anda memukul kendang itu 4 kali, bukankah artinya anda sempat memukulnya sebanyak 3 kali yang artinya hantu-hantu sudah keluar?

Selanjutnya, kebodohan demi kebodohan elemen kisah menyusul bergantian. Tapi jangan khawatir. Bukan cuma itu kehebatan film ini. Sebagaimana Dewi Perssik sebut di sebuah wawancara, ia ingin trilogi ini menjadi kolam trilogi “GOD FATHER”. Peduli setan bahwa penulisan judul yang benar yaitu “The Godfather”. Mungkin maksud Dewi, keduanya sama-sama total. Apabila trilogi garapan Francis Ford Coppola itu memukau di seluruh elemen, maka Arwah Tumbal Nyai remuk di segala sisi.

Tata suaranya lebih awut-awutan daripada arus kemudian lintas Ibukota di jam pulang kantor. Karakternya bagai bicara dari balik bantal sehingga sulit mencerna apa yang dikatakan. Apalagi kalau kalimat itu diucapkan oleh Shakti Arora yang memerankan Shakti, kekasih Mbak Syur. Orang bicara sambil kumur-kumur masih lebih jernih di indera pendengaran ketimbang dialog film ini. Sedangkan musik gubahan Tya Subiakto termasuk salah satu scoring paling menyayat indera pendengaran yang pernah saya dengar. Baru kali ini saya benar-benar menutup indera pendengaran alasannya yaitu tidak kuat.

Tentu saja “musik” tersebut rutin menemani formasi jump scare “asal masuk” yang disusun Arie Azis. Jujur, Arwah sejatinya diawali dengan cukup meyakinkan. Hantu tidak buru-buru dimunculkan, dan waktu coba dimanfaatkan guna menuturkan kisahnya, walau apa tolong-menolong yang ingin dikisahkan tak pernah jelas. Sekitar 15-20 menit pertama plus beberapa titik-titik berikutnya, Arie Azis nampak ingin membuat slow burning horror.

Ya, bukan saja The Godfather, Arie pun berusaha membuat Hereditary versinya, yang mengalun pelan, luar biasa pelan hingga satu sekuen jump scare saja sempat makan waktu 5 menit. Dari Mbak Syur terbangun akhir barang di kamarnya jatuh, duduk di kasur, pelan-pelan berjalan ke arah barang itu, pelan-pelan mengeceknya, pelan-pelan membuka pintu, pelan-pelan menutup pintu, pelan-pelan menengok ke bawah kasur, dan banyak sekali “pelan-pelan” lain yang ditutup menggunakan payoff antiklimaks kala musik penyayat telinganya terdengar beberapa detik lebih cepat sebelum si setan menampakkan wajah.

Melakoni debut akting layar lebarnya,  Zaskia Go-Pay masih luar biasa canggung. Sewaktu dituntut berakting kaget akhir gangguan setan, Zaskia Go-Massage malah bagai orang yang dikejutkan bunyi alarm. Satu-satunya hal yang terlihat natural hanya saat Zaskia Go-Food mencoba beberapa gerakan tari jaipong. Akting sang aktris kaku sekaligus monoton, sama monotonnya dengan gelaran alur yang berjalan menggunakan formula: Datang ke rumah Nyi Imas - Diusir - Menemukan misteri - Datang ke rumah Nyi Imas - Ulangi dari awal.

Semakin mencapai akhir, kekonyolan alurnya makin dahsyat, sayangnya, begitu pula histeria penonton kebanyakan, yang rupanya sangat terhibur menyaksikan Zaskia Go-Send terjebak dalam satu lagi “horor berisik”. Fakta mengenaskan: Jumlah penonton Arwah pada hari pertama penayangan mengalahkan Aruna & Lidahnya juga Something in Between, walau di antara ketiganya, film yang dibintangi Zaskia Go-Box ini diberi jatah layar paling sedikit. Bukan salah bioskop, bukan salah Rapi Amat, bukan salah Zaskia Go-Pulsa. Kita sebagai penonton yang perlu introspeksi.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Nyai Ahmad Dahlan (2017)

Entah sudah berapa kali saya menuliskan perihal terlampau sibuknya film religi negeri ini berceramah hingga lupa akan esensinya sebagai film itu sendiri yang perlu memperhatikan tata penceritaan, naskah, akting, pun aspek sinematik lain. Walau banyak suguhan religi yang jauh lebih menggurui dalam tuturan pesannya, Nyai Ahmad Dahlan termasuk produk langka, di mana keseluruhan alur bagai kompilasi pesan agama yang disatukan. Naskah Dyah Kalsitorini (Surga Menanti) secara literal mengakibatkan tiap momen sebagai ceramah agama, seolah lupa sedang mengisahkan hidup seseorang. Sosok penting berjulukan besar, namun tetap insan biasa dengan ragam persoalan. 

Sejak momen pertama, Nyai Ahmad Dahlan langsung melempar gagasan mengenai hak semua orang, tak terkecuali perempuan dan belum dewasa memperoleh pendidikan umum serta Islam. Digambarkan pula, kesadaran atas problematika itu telah tumbuh dalam diri Walidah (Tika Bravani) semenjak kecil. Menuruti undangan kedua orang tuanya, beliau menikahi KH Ahmad Dahlan (David Khalik) yang ketika itu sudah terpandang sebagai pemuka agama. Nyai Walidah pun mulai dipanggil Nyai Ahmad Dahlan, perempuan yang getol memperjuangkan hak perempuan mencar ilmu mengaji, hingga mendirikan 'Aisyiyah selaku organisasi perempuan pendamping Muhammadiyah.
Jangan dulu bicara wacana penceritaan, sebab sedari awal ada poin yang tidak kalah mencuri perhatian, ialah tata suara. Musik garapan Tya Subiakto berwujud orkestra megah yang gemar menggelegar kemudian mencapai titik puncak beberapa menit sekali. Sedikit saja emosi huruf bergejolak atau tensi adegan meningkat, musik seketika memuncak. Tapi perkara utama bukan pada musik. Toh jika didengar terpisah, karya Tya yummy didengar. Persoalannya di sound mixing. Tanpa sensitivitas, volume musik membesar bersamaan dengan meningkatnya tensi pembicaraan. Anda pernah kesulitan mendengar bunyi lawan bicara di tengah berlangsungnya konser musik dengan penonton yang riuh bernyanyi bersama? Begitulah kualitas suaranya.

Kembali ke jalannya cerita. Ketimbang memanusiakan Nyai Ahmad Dahlan beserta segala kelebihan dan kekurangan, naskahnya memposisikan sang titular character layaknya jukebox. Bedanya, bukan musik yang keluar melainkan kutipan ayat Al Qur'an, metafora pesan moral, atau pembacaan kisah Rasul. Sesekali kiprah berpindah, giliran KH Ahmad Dahlan yang berceramah. Tetapi pada dasarnya sama: pesan tanpa jeda. Tentu ada konflik khususnya menyinggung hak wanita, namun lagi-lagi sekedar jalan menyalurkan kata mutiara. Berujung dikorbankan justru sederet tuturan penting yang lalai dijabarkan, sebutlah bahaya kolonialisme hingga detail perselisihan tanggapan pemikiran Ahmad Dahlan dipandang menyimpang. 
Daripada menggali lebih dalam, Nyai Ahmad Dahlan memilih menetap di rapat demi rapat, pengajian demi pengajian, sambil sesekali memberi eksposisi ala kadarnya seputar ragam tabrakan tadi maupun insiden penting melalui sebaris teks pendek atau ucapan ekspresi sambil lalu. Nyaris nihil momentum menarik ditampilkan. Malah mendekati penghujung, demi menunjukkan Nyai Ahmad Dahlan tetap ingat kiprah sebagai istri meski disibukkan tetek bengek organisasi, fokus berubah menyoroti kesehariannya merawat sang suami hingga simpulan hidup tiba. Bisa saja tercipta drama emosional andai mengalir rapi, bukan potongan-potongan adegan yang ditempel paksa lewat penyuntingan lompat-lompat nan kasar. Paling mendekati keberhasilan menggetarkan rasa justru ketika seorang perempuan nembang (bernyanyi). Pun sebab kehebatan si aktris, bukan didorong pengadeganan solid.

Muncul pemberian di beberapa aspek. Sinematografi Zeta Alpha Maphilindo bersama pewarnaan yang diemban tim Super 8mm Studio (Ziarah, Another Trip to the Moon) menghasilkan perpaduan warna serta pencahayaan yang yummy dipandang. Begitu pula akting dua pemain film utama. Tika Bravani menghidupkan keteguhan di balik tutur lembut Nyai Ahmad Dahlan walau performanya terganjal kala tokohnya memasuki usia lanjut tanggapan riasan jelek ditambah gerak, gaya bicara, juga ekspresi dibuat-buat demi menyiratkan penuaan. David Chalik cukup meyakinkan bermain emosi meski bakal agak sulit membedakan Ahmad Dahlan versinya dengan huruf kiai di kebanyakan film lokal berlatar masa lalu. Film ini sedikit terselamatkan. Dari biografi kacau tanpa peduli asas storytelling, jadi biografi amat membosankan yang setidaknya digarap sungguh-sungguh. 

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Ayat-Ayat Cinta 2 (2017)

SPOILER ALERT: Fahri kembali menikah di sekuel ini. Melihat track record karakter yang diperankan Fedi Nuril dalam beberapa film religi, fakta tersebut bukan kejutan. Pertanyaannya, dengan siapa? Karena menyerupai film pertama dikala ia diperebutkan Aisha, Maria, Noura hingga Nurul, Fahri masih laki-laki mulia idola wanita. Sesungguhnya penokohan Fahri memang hanya tersusun atas dua kata: mulia dan idola. Pintar, kaya, dan tampan sanggup disertakan, tapi tetap tidak menambah kedalaman. Fahri begitu sempurna, sisi manusiawinya nyaris lenyap.

Kini beliau tinggal di Edinburgh, Skotlandia, hidup mapan sebagai dosen yang rutin mendapatkan setumpuk hadiah makanan dari penggemar. Tapi hatinya urung tergoda, setia menanti Aisha yang hilang, diduga meninggal di Palestina. Alih-alih dibenamkan kesedihan, Fahri menentukan membantu orang-orang tanpa pandang bulu, dari Nenek Catarina (Dewi Irawan dalam kepiawaian bermain rasa) yang seorang Yahudi hingga Keira (Chelsea Islan) yang menyalahkan umat Islam akhir maut sang ayah. Bisa diduga, kebaikan Fahri layaknya magnet penarik cinta wanita. Hulya (Tatjana Saphira), sepupu Aisha yang hendak menempuh S2, Brenda (Nur Fazura), pengacara yang kerap beliau tolong, Sabina (Dewi Sandra), imigran yang ia pekerjakan, semua jatuh hati. Pun menengok trailer-nya, kita tahu pada satu titik, kebencian Keira berubah jadi permohonan biar dinikahi. 
Ketiadaan cela dalam diri Fahri mengakibatkan Ayat-Ayat Cinta 2 sebatas kumpulan episode yang merekam kebaikan-kebaikannya, menutupi gejolak batin soal upaya mengikhlaskan kepergian Aisha. Ini satu-satunya menandakan Fahri masih manusia. Dia menangis menyadari kesedihan pembentuk kelemahannya. Tapi sebelum beranjak menuju eksplorasi lebih jauh, problem usai pasca obrolan singkat dengan sobat lamanya, Misbah (Arie Untung). Fahri memperoleh pencerahan biar merelakan sang istri, mengikuti kata hati untuk menikah lagi. Mencapai film kedua, rupanya dilema Fahri tetap berkutat seputar menikah atau tidak. 

Bahkan proses mencari keikhlasan itu berakhir sia-sia, lantaran melihat konklusi yang ditawarkan, Fahri justru makin terjebak di masa lalu. Belum lagi ditambah "keajaiban" medis serta keberadaan twist yang terkesan membohongi, paruh akhir Ayat-Ayat Cinta 2 cenderung memancing tawa daripada haru. Setidaknya bagi penonton umum menyerupai saya, alasannya sasaran pasar utama filmnya ialah para akhwat pemuja Fedi Nuril terdengar berteriak histeris sembari berurai air mata. Saya memutuskan menahan tawa demi menghormati mereka, sebagaimana Ayat-Ayat Cinta 2 menghormati kelompok penonton yang punya perbedaan cara pandang. 
Naskah buatan Alim Sudio dan Ifan Ismail mungkin dangkal mengkaji debat soal toleransi dalam Islam, termasuk mengenai perlakuan terhadap perempuan yang dijawab seadanya. Namun jalan pikir film ini tak sesempit asumsi Meski penempatannya kurang mulus, obrolan perihal Pancasila menunjukkan filmnya coba menghargai keragaman. Tidak ada ceramah menggurui, dan itu patut diapresiasi. Tentu terdapat perbedaan ideologi, yang apabila dikeluhkan, saya sama saja dengan para fanatik yang membabi buta membela kepercayaannya. 

Ayat-Ayat Cinta 2 bakal berhasil di pasaran, namun takkan mencapai tingkat fenomena setara film pertama yang dibekali setting perkampungan Kairo plus scoring bernuansa etnik garapan Tya Subiakto dan lagu-lagu ikonik yang dibawakan Rossa. Ditangani Guntur Soeharjanto, kemewahan dan kemegahan dipentingkan, menciptakan filmnya nampak terlalu menyerupai suguhan religi berlokasi luar negeri kebanyakan, sebutlah 99 Cahaya Di Langit Eropa yang juga karya Guntur. Suguhan religi berlokasi luar negeri dengan tokoh-tokoh Eropa atau Timur Tengah berwajah Indonesia dan fasih bicara Bahasa Indonesia.