Showing posts with label Velove Vexia. Show all posts
Showing posts with label Velove Vexia. Show all posts

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Hujan Bulan Juni (2017)

Hujan Bulan Juni selaku penyesuaian novel puitis berjudul sama buatan Sapardi Djoko Darmono dari luar tampak sederhana tapi mengandung pergolakan rumit nan filosofis soal cinta di dalam. Mengisahkan Sarwono (Adipati Dolken) dan Pingkan (Velove Vexia), sepasang kekasih yang mengajar di Universitas Indonesia. Sarwono yang menentukan puisi sebagai cara mengungkapkan segala isi hati kepada Pingkan mulai khawatir begitu sang kekasih bakal melanjutkan kuliah di Jepang selama dua tahun. Alasannya Katsuo (Koutaro Kakimoto, putera Tetsuo Kurata alias Kotaro Minami), laki-laki Jepang sesama alumni UI yang akan menemani Pingkan selama masa studinya. 

Ini bukan semata konflik saling cemburu saling curiga yang kerap dijumpai dalam karya romansa populer. Seperti gaya bahasa metaforik multitafsir Sapardi, skenario karya Titien Wattimena mengakibatkan puisi media penyusun analogi guna merangkum setumpuk aliran serta problematika kompleks. Ada duduk perkara perbedaan suku pula keyakinan yang menyeret keluarga Pingkan (Sarwono ialah Jawa-Islam, Pingkan Manado-Kristen), keresahan terkait kesetiaan, hingga gagasan-gagasan Sarwono terkait cinta. Betapa sulit menuturkan bermacam-macam hal tersebut melalui paparan narasi tersurat. 
Ketersiratan membantu menyingkat penyampaian sembari menjangkau makna terdalam. Tentu butuh kesediaan penonton menguraikan benang berbentuk kalimat bersayap maupun simbolisme. Sebutlah perjalanan ke Manado yang notabene rumah Pingkan. Di sana pikiran Sarwono diganggu dua pria. Benny (Baim Wong) jadi perwakilan masa kemudian Pingkan, dan Katsuo yang segera mengisi rutinitas Pingkan di masa depan. Sementara Pingkan mesti bergulat dengan jati dirinya sebagai keturunan Manado. Proses tersebut makin berarti lantaran hadir di rumah atau kampung halaman selaku daerah segalanya bermula, layaknya menyusuri ruang paling dalam sekaligus paling konkret karakternya.

Pun pemakaian sajak Sapardi memberi kenikmatan tersendiri. Mendengarkan lantunan bait demi bait senantiasa mengundang decak kagum atas pengolahan kata sang penulis. Demikian indahnya, tanpa perlu memikirkan interpretasi niscaya pun hati ini sanggup kembang-kempis dibuatnya. Mendukung perjuangan Hujan Bulan Juni memvisualkan puisi, sinematografi Faozan Rizal memproduksi jalinan gambar yang menyimpan tuturan di balik keindahan. Kelopak bunga sakura, debur ombak, nyala neon berbentuk salib, masing-masing bagai punya kisah untuk diceritakan. Kisah yang mewakili rasa dua tokoh utama.
Penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Air Mata Surga) juga mencapai titik terbaik, menuangkan sensitivitas dalam keintiman Sarwono dan Pingkan lewat kedekatan batin ketimbang fisik. Bentuk olah rasa serupa dilakukan oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia. Adipati dengan kelembutan natural yang menyimpan kerapuhan guna menjauhkan Sarwono dari kesempurnaan, Velove dengan energi ditambah keanggunan sehingga Pingkan layak dipuja. Mereka mulus bicara lewat hati, bercinta memakai kata. Sedangkan Baim Wong bersama Surya Saputra berjasa menyuntikkan humor segar yang menambah dinamika kunjungan ke Manado.

Sayangnya transformasi bahasa sajak ke sinema belum sepenuhnya lancar. Terdapat dua kelemahan di dua poin vital. Pertama monotonitas alur. Media novel tak menghadapi duduk perkara ini lantaran membiarkan imaji pembaca bebas bermain. Tapi di film, puisi serta gambar indah tidak sanggup menyembunyikan repetisi momen "tukar puisi" Sarwono dan Pingkan. Kedua, menerjemahkan ambiguitas ending novelnya yang berupa sajak bukan perkara gampang. Kembali, film butuh visualisasi, memaksa ambiguitas tadi dilucuti. Hasilnya ialah epilog yang terburu-buru, dipaksakan, bahkan ibarat kebingungan menentukan arah. 

Ini Lho Chrisye (2017)

Menengok kehidupan sumber inspirasinya, Chrisye bisa terjatuh dalam jurang kesalahan fundamental film biografi, yakni ambisi. Perjuangan mengejar impian, warna-warni industri musik, romantika, sampai pergumulan batin terkait religiusitas, semua mengiringi perjalanan penyanyi legendaris berjulukan orisinil Chrismansyah Rahadi ini. Untungnya, menurut ide serta supervisi istri Chrisye, Damayanti Noor, skenario buatan Alim Sudio pintar memilah poin mana saja yang perlu ditampilkan, mengaitkannya, menghasilkan dongeng utuh yang dihubungkan benang merah berupa "spiritualitas".

Dari sini, penonton berguru bahwa setiap langkah Chrisye (Vino G. Bastian) dituntun oleh iman dari hati. Dia yakin musik merupakan jalan hidup meski harus menentang sang ayah (Ray Sahetapy), pula bahwa Damayanti (Velove Vexia) yakni perempuan terbaik baginya walau dihadapkan perbedaan agama. Bahkan alasan ayahnya memberi restu bermusik didorong mimpi ditegur sosok berpakaian putih. Ditambah beberapa pergolakan batin tokoh pula pemilihan proses rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata sebagai puncak, membuktikan filmnya bertujuan memposisikan kekerabatan insan dan Tuhan selaku pondasi seorang Chrisye. 
Biarpun tidak dalam bentuk konvensional, Chrisye layak disebut film religi, setidaknya kental tekstur spiritual. Film religi yang enggan berceramah, tidak perlu setumpuk istilah keagamaan, semata melukiskan kemelut ruang batin yang menjadikan musik alat komunikasi dengan Sang Pencipta. Itulah mengapa sisi personal Chrisye, termasuk hubungan dengan Damayanti lebih diutamakan, tanpa melupakan sisi karir musiknya. Melalui naskahnya, Alim Sudio bisa mengesankan betapa kehidupan langsung dan karir Chrisye saling bertautan, tidak bisa dipisahkan, berkorelasi satu sama lain sehingga membentuk Chrisye secara utuh. 

Keputusan tersebut tetap mengakibatkan pengaruh negatif tatkala presentasi perjalanan karir Chrisye tersaji serba mendadak. Tiba-tiba beliau telah dikenal publik, tiba-tiba pula namanya melejit, dipandang sebagai sosok legenda musik tanah air. Pun bagi orang yang awam akan kondisi industri musik Indonesia masa itu, kesulitan keuangan Chrisye meskipun albumnya cukup meroket di pasaran akan mengakibatkan tanda tanya. Namun itu harga yang harus, juga layak dibayar demi menjaga fokus. 
Dalam penggarapannya, Rizal Mantovani paham betul bila sudah dibekali dongeng konkret sekaligus gugusan lagu luar biasa. Penggemar Chrisye bakal gampang meneteskan air mata mendengar lantunan klasik sang idola, atau kala kulminasi kekuatan cinta protagonis sewaktu Chrisye meminta Damayanti menemaninya merekam lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Rizal enggan berlebihan mendramatisasi, membiarkan balutan rasa kisah aslinya bekerja. Kerap menciptakan video klip, Rizal pun piawai mereka ulang banyak sekali momen ikonik, sebutlah rekaman kegiatan Aneka Ria Safari dan pemotretan sampul album, keduanya untuk nomor Aku Cinta Dia. 

Jajaran pemainnya memikat. Vino membayar lunas perbedaan warna suaranya dengan kebolehan mengolah emosi serta ketepatan memainkan gestur kaku Chrisye, yang uniknya (dibantu tata kostum dan rias), semakin seolah-olah seiring pertambahan usia. Soal permainan emosi, Velove Vexia mencapai tingkat serupa khususnya pada momen keputusan Chrisye memeluk Islam. Performa itu sayangnya diganggu kelamahan tata rias, ketika fase paruh baya Damayanti tak mempunyai perbedaan dengan sosoknya di usia muda. Demikian pula rambut palsu menggelikan yang dikenakan Andi Arsyil Rahman sebagai Erwin Gutawa. Sementara Roby Tremonti memberi penampilan singkat berkesan nan otentik sebagai Jay Subiyakto.