Showing posts with label Yadi Sugandi. Show all posts
Showing posts with label Yadi Sugandi. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Koki-Koki Cilik (2018)

Mengawali debut lewat Garuda Di Dadaku (2009) pun pernah mengarahkan Ambilkan Bulan (2012), sutradara Ifa Isfansyah kembali menangani film anak, atau lebih tepatnya film dengan aksara anak, mengingat kontennya bukan saja sanggup dinikmati penonton usia dini, orang berilmu balig cukup akal pun bisa memetik pelajaran berharga di balik usaha tokoh utamanya menjadi koki cilik terbaik. Bagi Ifa sendiri, Koki-Koki Cilik menandakan kapasitasnya menggarap film semua umur belum luntur, bahkan lebih baik ketimbang karya-karya di luar zona kondusif miliknya menyerupai Pendekar Tongkat Emas (2014) apalagi Pesantren Impian (2016).

Film ini punya judul awal Cooking Camp yang merujuk pada program yang ingin diikuti si protagonis, Bima (Farras Fatik), di mana bawah umur berkemah sambil berguru sekaligus berlomba masak. Berasal dari keluarga sederhana yang mesti memaksa ia dan sang ibu (Fanny Fabriana) memecah celengan plus mendapatkan tunjangan warga demi membayar biaya masuk, Bima pun dipandang remeh. Jangankan menggulingkan dominasi Audrey (Chloe Xaviera) selaku juara tiga tahun beruntun, mengucapkan “chef” dengan benar saja ia tak mampu. Tapi berbekal buku resep buatan mendiang ayahnya, Bima optimis bisa bertahan dan menang.

Mengambil latar di perkemahan anak, pastilah elemen persahabatan turut hadir. Teman-teman Bima, meski tak semua punya kepribadian menarik dan saya yakin secara umum dikuasai penonton takkan bisa mengingat seluruh nama mereka, cukup piawai perihal mengajak kita bersenang-senang. Apalagi ketika Melly yang diperankan Alifa Lubis, sang pemenang Little Miss Indonesia 2013, mengeluarkan polah antik yang melibatkan celotehan serba dramatis kolam remaja hingga gerakan yoga. Tapi fokus tak hingga terbelah, tetap mengerucut pada usaha Bima.

Naskah karya Vera Varidia (Surat Cinta untuk Kartini, Me vs Mami) urung mengutak-atik formula from-zero-to-hero, sehingga pertemuan Bima dengan aksara father figure yang bakal membimbingnya mencapai status “hero” bisa ditebak kehadirannya sedari awal. Sosok itu yaitu Rama (Morgan Oey), petugas kebersihan Cooking Camp yang belakang layar merupakan mantan chef ternama. Polanya jelas: Bima minta diajari memasak, Rama menolak, Bima kukuh, Rama luluh, kemudian dalam montase latihan singkat, Bima diperlihatkan berguru satu-dua hal seputar memasak. Bukan cuma itu, Rama turut mengingatkan Bima akan pesan mendiang ayahnya dahulu, “Yakin akan kekuatan pengecap kamu”, atau dalam konteks lebih umum, “percaya pada kemampuanmu”.

Bima coba meningkatkan rasa masakannya, dan hubungannya dengan Rama pun merupakan sumber rasa Koki-Koki Cilik. Farras dalam film keempat sekaligus kiprah utama perdananya pintar memainkan emosi, sedangkan Morgan mulus menangani Rama yang tengah berkonflik batin. Rama senantiasa ketus, menciptakan senyum simpul pertamanya, kala Bima melaksanakan “transfer energi” menghadirkan kehangatan. Kalau bukan sebab ketepatan timing Morgan menyunggingkan sekilas senyum, imbas serupa takkan terasa.  

Apabila penonton anak bisa berguru dari usaha Bima, para orang renta yang menemani mereka wajib memperhatikan cerita Rama. Awalnya, Rama bersedia mengajari Bima demi merampungkan dendam personalnya. Menurut Rama, semua akseptor yaitu saingan. Sebaliknya, Bima menganggap mereka teman. Dia ingin juara namun enggan terbutakan persaingan panas. Ketika orang berilmu balig cukup akal dikuasai ambisi, hasrat kompetitif, dan praduga, para anak sebatas ingin bersenang-senang sembari menyayangi sesuatu dan/atau seseorang. “Jadi orang jangan terlalu lugu” merupakan pernyataan yang belakangan makin kerap terdengar, dan Koki-Koki Cilik seolah menantang perspektif terseut sewaktu Bima dan Rama sering berbenturan jawaban perbedaan cara memandang lomba di Cooking Camp.

Sebagai food movie, adegan penyajian kuliner lezat dilihat pula menggugah selera. Tampak betul Ifa memahami bahwa momen memasak tak perlu sudut pengambilan gambar penuh gaya. Cukup close up sehingga kuliner terlihat jelas. Karena kini, sewaktu proses memasak dimulai, semua yaitu ihwal masakannya, bukan lagi sang koki. Ifa, dibantu penataan kamera Yadi Sugandi (Sang Penari, Kuntilanak), memastikan penonton bisa mencicipi tekstur kenyal daging maupun gurihnya kuah kare. Pun rangkaian momennya dinamis berkat tempo cekatan dari Ifa plus penyuntingan lincah Cesa David Luckmansyah (Sang Penari, Guru Ngaji).

Sayang, selaku “film kompetisi” di mana perlombaan berjalan beriringan dengan proses berguru tokohnya, film ini berlubang. Koki-Koki Cilik kolam gemar memencet tombol fast forward. Contohnya ketika Bima, si hebat masakan Indonesia yang tak tahu sushi, berhasil mengkreasi masakan Jepang sebagai simbol kesuksesan melampaui batasan diri. Bisa menjadi bencana bermakna andai sebelum merengkuh sukses, kita dibawa sejenak menyaksikan Bima meresapi apa yang telah dipelajari, menerapkannya, kemudian gres memetik hasilnya. Alih-alih demikian, Koki-Koki Cilik bergegas mencapai garis final ketika ramen buatan Bima disajikan. Masalah itu pula penyebab tensi kompetisinya kurang. Kita tak diberi kesempatan “gigit jari” menantikan koki-koki cilik ini berpacu dengan waktu untuk merampungkan kiprah yang dibebankan.

Tugas pertama bagi koki-koki cilik yakni menciptakan hidangan berbahan dasar buah. Saya bersorak dalam hati ketika Bima berjaya berkat rujaknya. Itulah titik di mana Koki-Koki Cilik mengingatkan penontonnya kepada hal penting dalam hidup. Ini bukan bagaimana terlihat elegan dan tidak kampungan. Itu dangkal. Bima hanya jujur dan melaksanakan apa yang ia cinta (masak), yang ia tekuni sebab seseorang yang ia cinta (bapak). Do what you love and love what you do. Klise, sederhana, namun benar adanya.  

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Bunda: Dongeng Cinta 2 Kodi (2018)


Inspira Pictures. Dengan nama menyerupai itu, bisa ditebak rumah produksi satu ini bertujuan melahirkan film inspiratif. Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi selaku karya komersil perdananya merupakan penyesuaian novel Cinta 2 Kodi buatan Asma Nadia, yang didasari dongeng faktual Kartika, seorang pengusaha baju muslim anak. Film ini bukan cuma ingin bicara soal kesuksesan bisnis, walau bagaimana Kartika bisa berbagi perjuangan kecilnya jadi sebesar kini sejatinya sudah cukup mengagumkan. Tapi ini buah pikir Asma Nadia. Harus ada yang lebih dari sekedar menghasilkan uang.

Ibarat proses menciptakan lagu, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi menyertakan sebanyak mungkin instrumen demi hasil maksimal. Ketika semua alat beserta musisi telah terkumpul, sang komposer justru kebingungan menata porsi dan posisi masing-masing.  Pun sang komposer meminta penggebuk drumnya memainkan pedal ganda walau lagunya bergenre pop. Proses sederhana jadinya berujung kerumitan tak perlu. Kartika (Acha Septriasa) tertegun mendapati suaminya, Fahrul (Ario Bayu) meminta izin menikah lagi untuk memenuhi harapan ibunya yang sakit parah. Apa perlunya konflik ini?
Fahrul bahkan meminta Kartika menggugurkan bayi kedua mereka. Lagi-lagi apa perlunya? Selain itu, usul ini berlawanan dengan penokohan Fahrul si ayah penyayang. Melompat ke pertengahan film, Fahrul tak sengaja menjatuhkan materi pesanan Kartika. Fahrul yakin materi itu jatuh ketika ia nyaris tertabrak mobil. Bila saya di posisi Fahrul, saya akan bergegas kembali ke lokasi, mencarinya. Alih-alih demikian, Fahrul cuma minta maaf, meratap, masuk ke dalam rumah. Tentu Kartika murka besar. Masalah yang takkan berkepanjangan bila terjadi pada insan normal di dunia nyata.

Penokohan Kartika bersama-sama cukup menarik. Dia mengatur hidup kedua puterinya, angkuh, karam dalam pekerjaan dan lupa keluarga. Keputusan karakterisasi yang dalam konteks “film inspiratif” termasuk berisiko sehingga patut diapresiasi. Andai konflik dikerucutkan di cuilan ini, ialah wacana orang renta yang membanting tulang demi para buah hati namun sempat melupakan tujuan tersebut, alurnya bakal lebih tertata. Sebab seiring duduk kasus bertambah, makin sulit mengidentifikasi arahnya. Soal pemberdayaan wanita? Kesetiaan cinta? Pengorbanan ibu bagi anak? Mana yang utama mana yang pendukung tampak kabur, tak saling mengikat, seolah berdiri sendiri-sendiri.
Penyutradaraan Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo untungnya mempunyai sensitivitas. Lihat dikala Fahrul memohon semoga Kartika menerimanya lagi. Ali dan Bobby enggan meledakkan dramatisasi. Dibungkus cahaya temaram sinematografi Yadi Sugandi, dialognya diucapkan setengah berbisik pun tanpa musik. Kedua sutradara membangun keintiman sembari mengandalkan akting pemain. Acha dituntut meluapkan amarah sambil berteriak berulang kali dan sanggup membuatnya tidak repetitif. Selalu ada detail kecil untuk pembeda antar situasi. Bermodalkan charm-nya, Ario Bayo meyakinkan memerankan sosok ayah idola anak-anaknya, yang turut diperankan dengan baik oleh Arina Mindhisya dan Shaquilla Nugraha.

Apakah Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi inspiratif? Sebagai ilham semu mungkin saja. Aspek bisnisnya penuh simplifikasi, berorientasi pada hasil ketimbang menelusuri pergulatannya lebih mendalam. Memang gres hingga situ makna “inspiratif”  bagi sebagian masyarakat kita. Pokoknya kesuksesan sanggup diraih di tengah keterbatasan tanpa tertarik memahami cara menuju ke sana. Pokoknya permasalahan seberat apa pun sanggup terselesaikan. Entah benar-benar selesai atau cuma dijustifikasi sebagaimana film ini menuntaskan problematika tokoh-tokohnya. Baik Kartika maupun Fahrul menyulut masalah-masalah pelik, berbuat kekeliruan fatal, kemudian begitu saja dimaafkan dan terlupakan.