Showing posts with label Yoga Pratama. Show all posts
Showing posts with label Yoga Pratama. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Lima (2018)

Mengamati bermacam-macam konflik serta perpecahan bangsa ini beberapa waktu belakangan, urgensi mengingatkan dan mendalami makna Pancasila sebagai dasar negara terang meninggi. Bentuk medianya bebas, asal terjadi pengkajian lebih jauh, lebih dari sekedar berteriak lantang “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!”, tapi enggan memanusiakan sesama yang dianggap berbeda. Apa pun kepentingan yang menguntit di balik pembuatannya, kehadiran film menyerupai Lima tetaplah penting, di mana para tokoh menghadapi situasi yang berkaitan dekat dengan tiap-tiap sila Pancasila. Sebagaimana rakyat yang semestinya mengasihi ibu pertiwi, perbuatan abjad film ini tak bisa lepas dari sosok ibu mereka.

Lima sutradara digaet untuk menangani dongeng dalam masing-masing sila. Shalahuddin Siregar (Negeri di Bawah Kabut) menangani segmen pembuka sekaligus yang terbaik. Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra) gres saja kehilangan sang ibunda, Maryam (Tri Yudiman). Secara tersirat bisa ditangkap bahwa Maryam terlahir beragama Islam, pindah ke Katolik sesudah menikah, kemudian kembali lagi memeluk Islam pasca suaminya tiada. Dari ketiga anaknya, cuma Fara yang beragama Islam, sedangkan dua puteranya Kristen. Urusan agama ini memantik persoalan. Mulai soal Aryo yang dihentikan turun ke liang lahat hingga seruan Maryam biar gigi palsunya tidak dilepas dikala dimakamkan (Islam melarangnya).
“Mungkin emang caranya udah kayak gitu”, begitu ucap Fara kala Adi menanyakan perihal gigi palsu. Fara cuma tahu, atau tepatnya peduli, soal “boleh/tidak boleh”, tapi tidak dengan alasannya, esensi dari hukum itu. Sejatinya ini pangkal konflik seputar agama di Indonesia. Berkoar-koar ihwal “TOLAK PEMIMPIN KAFIR!” atau “BOLEH MENIKAH EMPAT KALI!”, tapi begitu diminta menjabarkan atau dikonfrontasi, jawaban yang keluar seringkali sebatas “itu aturannya”, atau lebih parah lagi, “cebong mana ngerti!”. Di tangan Shalahuddin, rentetan proses penguburan terasa penuh duka, namun ada pula ketentraman di situ. Puncaknya dikala dua bentuk kepercayaan disatukan jelang tamat segmen.

Saya pernah menyaksikan adegan serupa digarap lebih baik, entah secara lebh subtil macam di Toba Dreams (2015), atau lebih indah menyerupai nampak dalam film pendek Senyawa (2015) karya Wregas Bhanuteja. Biar demikian, itu tetap momen menggugah nan mengharukan selaku penegas bahwa segmen mengenai sila “Ketuhanan yang Maha Esa” yaitu yang terbaik juga paling provokatif (salah satu alasan santunan rating 17+). Sila kedua garapan Tika Pramesti (Sanubari Jakarta) berpotensi tak kalah provokatif, bahkan bisa lebih menghentak, sayangnya, ketimbang penegasan, konklusinya justru memancing kesan gejolak batin yang tidak tuntas dalam diri karakternya.
Sila “Persatuan Indonesia” digarap Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park, Labuan Hati) yang turut menjadi produser, dan di segmen seputar dilema Fara menentukan muridnya untuk dikirim sebagai atlet renang ke Asian Games ini, nuansa “iklan layanan masyarakat” paling kentara (the whole movie is, but this one is too much). Fara, instruktur renang sekaligus mantan atlet Sea Games, diminta menentukan perenang “pribumi” tatkala ada atlet (keturunan Cina) yang lebih berbakat. Bukan cuma terlampau menitikberatkan pada hasil ketimbang menggali proses pemikiran, segmen ini turut mencuri kesempatan guna memajang kesan faktual bagi PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia), yang kemudian hadir kolam malaikat penolong menuntaskan segala masalah.

Sila keempat yang ditangani Harvan Agustriansyah (Hi5teria) punya kasus berbeda. Fokus diberikan pada Aryo, yang sesudah dihantam ujian akhir ketiadaan musyawarah, mesti memimpin musyawarah mengenai warisan sang ibu bersama kedua saudaranya. Poin bahwa ini merupakan segmen milik Aryo takkan saya tangkap apabila bukan sebab sinopsis resmi filmnya. Pun kemunculan Fajar (Rangga Djoned) si notaris canggung menghadirkan distraksi. Ya, Lima butuh relaksasi melalui komedi, tapi kekonyolan Fajar membuatnya bagai abjad dari film berbeda. Setidaknya dongeng keempat ini bisa membawa lagi motivasi karakternya ke semula, yakni sebab ibu (pertiwi).
Tantangan terbesar Lima yaitu bagaimana naskahnya, yang ditulis oleh Titien Wattimena (Dlan 1990, Salawaku) dan Sinar Ayu Massie (3 Hari untuk Selamanya, Sebelum Pagi Terulang Kembali), menyatukan esensi kelima sila kemudian menempatkannya di konteks keluarga. Beberapa titik kurang menyatu mulus tapi masih memunculkan korelasi dalam terciptanya keluarga kokoh sebagai metafora Indonesia. Segmen terakhir buatan Adriyanto Dewo (Tabula Rasa) sayangnya jadi poin dikala konsep solid itu lenyap. Giliran Bi Ijah (Dewi Pakis) si ajun rumah tangga jadi fokus. Kelemahan krusial segmen ini yaitu inkonsistensi, di mana para protagonis urung terlibat aktif menuntaskan masalah. Mereka cuma penonton. Menghadirkan tokoh gres selaku “penolong”, seolah para penulis cuma “gatal” ingin menyelipkan informasi tanpa memperhatikan keperluan narasi. Lain dongeng jikalau semenjak awal, konsepnya memang sekedar menempatkan keluarga ini sebagai jembatan.

Akankah Lima membangkitkan jiwa Pancasila rakyat? Saya ragu. Tapi apakah Lima patut disimak? Ya, film yang bicara ihwal pentingnya Pancasila terang patut disimak, setidaknya demi mengingatkan kita bahwa semua situasi ideal yang ditampilkan bukan cuma pesan menggurui, namun tujuan yang coba dicapai Pancasila selaku dasar negara. Kala datang masa ketika intisari Pancasila meresapi sanubari tiap rakyatnya, saya percaya negeri ini beserta manusia-manusia di dalamnya akan bisa menghapuskan awan segelap apa pun. Lima sayangnya bukan cuma mencerminkan dasar negara lewat cerita, tapi kualitas balasannya juga mengikuti kondisi Indonesia yang digelayuti bermacam-macam kasus serta kekurangan.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017)

Satay western. Demikian karya teranyar Mouly Surya yang telah kemudian lalang di festival-festival internasional ini disebut. Istilah tersebut mengingatkan pada spaghetti western, salah satu sub-genre yang mencapai masa keemasan di periode 1960-an semenjak Sergio Leone merengkuh puncak kesuksesan. Sebagaimana spaghetti western dengan ambiguitas moral serta kekerasan, satay western punya elemen-elemen khas, selain tentunya buatan sineas Indonesia. Faktor kultural Sumba jadi partikel penyusun pondasi, tetapi lebih Istimewa tatkala Mouly bisa menerapkan unsur western ke realita modern berisi isu-isu relevan, khususnya feminisme. 

Berdasarkan ilham dongeng dari pengalaman kasatmata Garin Nugroho dikala menyaksikan pemenggalan di pasar Sumba, naskah garapan Mouly bersama Rama Adi menempatkan seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) di tengah bahaya perampok. Sang pemimpin, Markus (Egi Fedly), mendatangi Marlina, mengutarakan maksud merampok harta benda sekaligus memperkosanya. Begitu perampok tiba, praktik patriarki turut mendera. Marlina dirampas haknya, diminta diam, patuh, memasak makan malam, melayani nafsu seksual para pria. Hilangkan setting perampokan, kita bakal melihat cerminan dunia kasatmata terkait anggapan "wanita yakni pelayan pria".
Ucapan Markus bahwa Marlina beruntung berkesempatan ditiduri delapan laki-laki walau berstatus janda terdengar menusuk, alasannya yakni kalimat bernada serupa, yaitu kesuksesan perempuan diukur lewat keberhasilan mendapat (atau didapatkan) pria, kerap berseliweran di sekitar kita. Sementara siksaan berlangsung, Mouly merangkai nuansa menghantui tatkala mayit suami Marlina terduduk di sudut ruangan. Dari kacamata patriarki, protagonis kita tak berdaya. Sendiri, tanpa pelindung berjulukan pria. Namun selaku respon bagi maskulinitas spaghetti western, Marlina enggan tinggal diam, mengeksekusi penindasnya, bahkan memenggal salah satu kepala perampok. Inilah selesai babak pertama, "The Robbery".

Sesuai judulnya, film ini mempunyai empat babak: The Robbery, The Journey, The Confession, The Birth. Marlina memutuskan membawa kepala itu ke polisi, menembus lanskap padang gersang Sumba yang dibungkus sinematografi Yunus Pasolang, diiringi gitar plus suara siul musik buatan Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani yang bagai berkiblat pada karya Ennio Morricone. Bermodalkan segala rasa western itu, Marlina tampil segar, mendobrak monotonitas gaya sinema Indonesia menyerupai ketika Joko Anwar menyuguhkan noir melalui Kala. Bahkan lebih unik, lantaran Marlina merupakan western berlatar masa kini, memungkinkan durjana versinya mengendarai motor trail dan truk alih-alih kuda dan keretanya (walau Marlina sendiri sempat menaiki kuda). 
Penuturan informasi sosial Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak berlanjut di babak-babak berikutnya, termasuk mengkritik kinerja pegawanegeri serta respon publik yang justru kerap mencibir korban pelecehan. Malah dalam sebuah kesempatan, sempat salah satu perampok, Frans (Yoga Pratama), dengan nada kebencian memanggil Marlina "Si Pembunuh", seolah lupa siapa penjahat sesungguhnya. Menariknya, di antara informasi pelik juga aura suram, tawa penonton masih sempat dipancing oleh beberapa selentingan menggelitik juga sederet komedi hitam yang melibatkan khayalan liar dan petikan alat musik sebagai cue jika komedi akan segera muncul.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak merupakan kendaraan bagi Marsha Timothy menyentuh dimensi lain aktingnya. Marsha piawai memerankan tokoh yang memendam campur aduk emosi tetapi jarang meluapkannya. Suatu bentuk olah rasa yang lantang walaupun subtil. Ekspresi wajahnya nampak terbebani tapi tindakannya tanpa keraguan. Langkahnya pasti, pelan tapi tak gontai. Seperti filmnya sendiri, yang berkat visi besar lengan berkuasa Mouly Surya, bergerak perlahan namun punya tujuan, kemudian bermuara pada konklusi tepat yang memaparkan filosofi "kelahiran kembali" sembari mengatakan kekuatan terbesar seorang wanita.