Saturday, January 5, 2019

Ini Lho The Age Of Adaline (2015)

Film dengan konsep menyerupai The Age of Adaline sebenarnya bukan merupakan hal yang benar-benar gres ketika ini. Kisah perihal seseorang yang tidak bisa bertambah renta pernah dieksplorasi secara lebih mendalam dan filosofis oleh The Man from Earth, sedangkan selipan romansanya mengingatkan pada The Curious Case of Benjamin Button. Kisahnya mengangkat kehidupan Adaline Bowman (Blake Lively) yang lahir pada tahun 1908. Pada usia 29 tahun, ia mengalami kecelakaan dan karam di sungai yang membeku. Suhu hirau taacuh dalam sungai ditambah sambaran petir yang menyusul kemudian "menghidupkan kembali" Adaline. Tapi alasannya ialah dua hal tersebut ia tidak lagi bertambah renta untuk selamanya. Karena kondisinya itu, beliau sempat diburu oleh FBI. Adaline pun tetapkan untuk terus berpindah daerah tinggal serta identitas setiap 10 tahun demi menghilangkan kecurigaan. Bukan hal gampang untuk dilakukan, apalagi Adaline harus meninggalkan puterinya, Flemming (Ellen Burstyn) yang terus bertambah tua, meski keduanya tetap meluangkan waktu untuk bertemu sesekali.

Sebagai eksplorasi terhadap keabadian usia Adaline, film ini sesungguhnya tidak terlalu mempunyai kedalaman. Dengan kondisi semacam itu pastilah banyak konflik rumit yang harus ia lewati. Tapi tidak banyak benturan-benturan yang digali oleh naskahnya. Sebaliknya, untuk seseorang dengan kondisi dan cara menjalani hidup yang abnormal, kehidupan Adaline nampak terlalu nyaman. Dia tidak menemui kesulitan untuk bertemu dengan Flemming yang notabene ialah satu-satunya kerabat akrab yang ia miliki. Konflik paling besar hanyalah disaat ia harus terus kabur untuk menghindari kejaran pihak-pihak menyerupai FBI. Namun menyerupai yang diungkapkan Flemming, mereka yang mengejar Adaline telah usang mati, sehingga bahaya pun tidak lagi ada. Esensi dongeng mengenai insan sebagai makhluk mortal pun tidak dipaparkan lebih dalam. Usaha mengemas unsur fantasi yang ada secara lebih scientific lewat aneka macam klarifikasi ilmiah mengenai kondisi Adaline bukannya memperkuat tapi justru melemahkan dongeng disaat sentuhan sains itu pun tidak terasa logis.
Untungnya, seiring durasi berjalan The Age of Adaline lebih banyak berfokus pada romansa dilematis yang harus dijalani karakternya. Sebagai drama kehidupan film ini memang terasa lemah, tapi sebagai pemaparan romantika, "daya bunuhnya" jauh lebih kuat. Selalu hidup berpindah demi merahasiakan identitas, menghalangi Adaline dalam menjalin relasi percintaan. Baginya, cinta jadi tidak bermakna ketika seseorang tidak bisa menghabiskan masa renta bersama pasangannya. Pada era 60-an Adaline pun diceritakan pernah menjalin relasi dengan seorang laki-laki tapi ia menentukan pergi ketika mengetahui laki-laki tersebut berniat melamarnya. Setelah sekian usang Adaline kembali jatuh cinta, kali ini pada Ellis (Michiel Huisman) yang ia temui pada sebuah pesta perayaan tahun baru. Tidak butuh waktu usang bagi mereka berdua untuk jatuh cinta. Tentu relasi itu tidak berjalan mulus alasannya ialah Adaline masih terjebak dalam problem antara kejujuran perasaan dengan sumpahnya untuk terus pergi dari satu kehidupan menuju kehidupan yang baru.
Dari sini daya pikat filmnya mulai terasa. Meski tidak memperlihatkan eksplorasi lebih jauh, unsur fantasi yang ada telah menjauhkan film ini dari romansa-romansa klise yang sudah banyak bertebaran. Tapi kekuatan sesungguhnya dari kisah cintanya berasal dari kedua tokoh utama. Adaline dan Ellis sekilas ialah pasangan yang cocok. Sepasang perempuan elok dan laki-laki tampan merupakan kombinasi tepat untuk mencuri hati para penonton. Ellis tidak diberikan karakterisasi mendalam, tapi sosoknya terang memperlihatkan kesan seorang laki-laki baik, dan itu sudah cukup. Sedangkan Adaline menjadi daerah bagi Blake Lively (yang terlihat menyerupai Cate Blanchett) untuk memperlihatkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Pengalaman hidup selama ratusan tahun membuatnya menjadi seorang perempuan yang cerdas dan tangguh. Sang aktirs bisa menghadirkan kedua aspek tersebut. Tapi yang paling memikat ialah ketika unsur kedewasaan sukses disuntikkan Blake Lively kedalam sosok perempuan muda yang ia perankan. Tentu dengan kondisinya, usia psikologis Adaline akan tampak lebih renta dibandingkan usia kronologis yang nampak dari penampilan fisiknya. Akting ditambah pertolongan make-up dan kostum berhasil mewujudkan kesan tersebut. 

Satu lagi sajian memikat dari departemen akting ialah Harrison Ford. Menanggalkan sosok laki-laki tangguh, Ford bertransformasi sebagai laki-laki renta yang kembali ringkih ketika dihadapkan dengan kenangan masa kemudian yang masih terus membekaskan luka dalam hatinya. Sebenarnya pengenalan abjad William yang diperankan oleh Ford terasa klise. Dimaksudkan sebagai twist, tapi sudah bisa "tercium" sebelum sepenuhnya dipaparkan. Tapi berkat akting sang aktor, dongeng klise itu justru berhasil menambah sentuhan emosi bagi ceritanya. Ekspresinya yang penuh kerapuhan, serta bagaimana ia menceritakan refleksi masa kemudian menyiratkan rasa sakit yang bisa ikut penonton rasakan. Disaat abjad Adaline dengan keabadian dihadapkan pada masa depan yang tanpa batas, William sebaliknya, beliau masih terjebak dalam kenangan masa lalu. The Age of Adaline memberikan konklusi yang klise, tapi berkat kepedulian yang dirasakan pada masing-masing karakter, saya dengan bahagia hati mendapatkan itu dan tidak menganggapnya sebagai satu hal yang dipaksakan. 

Verdict: Sebagai observasi kehidupan, The Age of Adaline tidak memperlihatkan kompleksitas yang menjadi potensinya. Tapi dalam tataran romansa, film ini menghadirkan dinamika emosi besar lengan berkuasa khususnya berkat penampilan simpatik dari Blake Lively dan Harrison Ford. I love this epic fantasy-romance tale and I love Adaline Bowman too.

Ini Lho Testament Of Youth (2014)

Kandungan kisah dalam Testament of Youth mempunyai segalanya untuk menjadi sebuah memoir perang emosional. Naskah Juliette Towhidi yang merupakan pembiasaan memoir berjudul sama karya Vera Brittain menjangkau begitu banyak sisi, mulai dari romansa, persahabatan, sampai kisah kemanusiaan. Sebuah drama mengenai Perang Dunia I terbagi menjadi dua: bencana dan kebahagiaan ajaib. Memilih yang manapun sama-sama menuju kearah sajian dramatis nan menyentuh. Sutradara James Kent juga tampak begitu menghormati memoir Vera Brittain, itu sanggup serta merta kita rasakan. Dia memperlakukan tiap huruf dengan penuh perasaan, mengemas interaksi diantara mereka layaknya kenangan berharga. Semakin terasa indah disaat sinematograger Rob Hardy memakai filter warna yang lembut, membiarkan alam lengkap dengan kilauan cahaya matahari seolah melambai perlahan pada kita.

James Kent berusaha tampil puitis lewat visual manis dan narasi yang seringkali berupa rangkaian sajak puisi goresan pena Vera Brittain (Alicia Vikander) ataupun kekasihnya yang berada di medan perang, Roland (Kit Harington). Saya tidak mempermasalahkan pilihan tersebut, lagipula ketika harus memindahkan setting ke rumah sakit, Kent bersedia menanggalkan keindahan itu untuk diganti dengan horor tak menyenangkan berupa tumpukan mayat. Mungkin mereka yang telah meregang nyawa itu jauh lebih beruntung daripada para kompatriotnya yang harus menderita rasa sakit begitu besar, entah sebab lubang bekas luka tembak atau ada pecahan badan yang hancur. James Kent paham betul cara membangun suasana lewat gambar dan kapan ketika suasana tersebut harus diganti. Masa tanpa perang dan romansa Vera dan Roland disajikan lewat warna lembut yang cerah, sebaliknya masa perang dipenuhi warna gelap yang tajam. Maksudnya yaitu untuk menunjukkan komparasi ekstrim antara situasi yang bertolak belakang tersebut.
Tapi dengan semua itu, Testament of Youth tetap berakhir sebagai penyia-nyiaan kekuatan materi dasar bagi saya. Selain kisah dan karakter, ada satu hal fundamental yang teramat penting untuk ditampilkan supaya penonton sanggup ikut terbawa perasaannya. Hal penting itu yaitu waktu atau momen. Kita perlu tahu kapan suatu hal terjadi untuk sanggup terikat dalam peristiwa terebut Tanpa adanya setting waktu yang definitif, penonton akan kesulitan mencicipi substansi suatu drama. Film ini gagal mengemas hal tersebut. Saya tidak tahu niscaya sudah berapa usang Verda dan Roland berkenalan, kemudian berapa usang mereka berpisah di medan perang, kapan jarak waktu antara momentum satu dan lainnya, begitu seterusnya. Saya tersesat pada dimensi waktu film ini. Mungkin hal ini dikarenakan transformasi yang tidak mulus dari baris kalimat dalam buku menjadi narasi visual. 

Cukup dengan satu atau dua kalimat yang menyuratkan "kapan", narasi dalam memoir bisa dijembatani. Tapi film tidak demikian. Harus ada jembatan yang lebih nampak. Biasanya diakali dengan penggunaan sebaris tulisan. Cara lainnya yaitu yang dipakai Richard Linklater dalam Boyhood (review). Tidak ada jembatan antar waktu, tapi melihat perubahan fisik karakternya kita tahu niscaya kapan ketika waktu hanya berlalu sesaat, kapan yang dalam hitungan tahun. Tanpa adanya pengetahuan mengenai dimensi tersebut, saya pun tidak mencicipi sisi emosional dalam film ini. Bagaimana sanggup hadir rasa simpati bila saya tidak menerima petunjuk sudah berapa usang Vera dan Roland berpisah? Apa yang saya tahu hasilnya terbatas pada yang saya lihat. Keduanya berkenalan, kemudian jatuh cinta namun harus berpisah sehabis beberapa hari. Kemudian bertemu lagi dalam kondisi Vera diterima di Oxford, tujuan yang sama dengan Roland. Namun meletusnya Perang Dunia I memisahkan keduanya disaat Roland terjun ke medan perang. Vera yang merasa tidak hening hasilnya menentukan menjadi perawat sukarelawan, mengesampingkan impiannya untuk berguru di Oxford. 
Screentime romansa Vera dan Roland amatlah sedikit. Bahkan sehabis keduanya berpisah, penonton hanya diajak melihat Vera, sedangkan Roland otomatis menghilang. Lalu pada pecahan mana saya harus merasa peduli pada korelasi mereka berdua? Tentu kita melihat bagaimana Vera merasa tidak hening sebab mencemaskan Roland, tapi itu saja tidak cukup. Sebelumnya harus sudah ada pondasi berpengaruh untuk korelasi mereka berdua. Tapi layaknya adab penuh sopan santun pada banyak sekali period drama yang bagi saya hambar dan kaku, pembangunan romansa keduanya pun terasa menyerupai itu. Mereka saling bertukar puisi, saling berbicara, saling tersenyum, tapi tidak ada kehangatan yang menciptakan saya percaya kekuatan cinta mereka memang begitu besar. Setidaknya Vera yaitu sosok yang menarik. Pada awal film kita melihatnya sebagai perempuan keras kepala yang tidak segan menetang sang ayah demi sanggup berkuliah di Oxford. 

Kemudian perang tiba membawa duka, bencana dan banyak aroma kematian. Selalu membawa penonton bersahabat dengan Vera, observasi terhadapnya pun terasa lengkap. Perubahan perlahan yang ia alami dari sebelum sampai pasca peperangan tertangkap jelas. Bagaikan gradasi warna yang berubah secara halus, terasa natural pula perubahan yang dialami Vera. Alicia Vikander sanggup memanggul beban yang cukup berat sebagai Vera. Kehadirannya memancarkan pesona kemandirian seorang perempuan yang teguh di luar namun dalam hatinya terjadi pertikaian internal yang kompleks. Paruh selesai ketika perang telah usai dan Vera sempat mengalami breakdown adalah pertunjukkan terbaik sang aktris. Kehampaan yang ia munculkan berhasil menciptakan saya bertanya dalam hati, "lalu apa yang tersisa dalam kehidupannya?" Paruh selesai memang momen terbaik film ini. Emosi yang telah memuncak ditambah kompleksitas persepsi pada peperangan muncul disini. Begitu menyegarkan dan terasa lebih kaya, tapi sebuah aspek konkret yang terlambat hadir.

Verdict: Nyaris tepat dalam membangun suasana lewat sinematografi, tapi membuang percuma segala potensi kekuatan ceritanya. Keindahan kacau dan minim emosi maksimal yang seharusnya sering terasa.

Ini Lho The Nightmare (2015)

Dulu saya cukup sering mengalami apa yang orang Jawa (saya tidak tahu sebutan di kawasan lain) bilang "ketindihan", atau dari bahasa lebih scientific disebut sleep paralysis. Salah satu yang paling mengerikan terjadi kurang lebih tiga tahun lalu. Seluruh tubuh tidak dapat digerakkan (gejala standar), kemudian tubuh merinding membuat pikiran saya mengasosiasikan bahwa ada kehadiran makhlus halus di dalam kamar, sampai tiba-tiba saya ibarat berada di tengah hutan. Kondisi tubuh masih tidak dapat digerakkan, tidak dapat pula berteriak. Mulailah terdengar bunyi asing yang menyuruh untuk melihat kearah semak-semak sempurna di depan saya. Semakin usang pandangan terfokus kesana, semakin saya merasa ada suatu hal mengerikan di baliknya. Lalu mendadak sepasang mata berwarana merah menyala tampak dari balik semak-semak diiringi bunyi teriakan menyayat layaknya scoring film Insidious. Saya pun terbangun. Mungkin hampir tiap orang pernah mengalami itu meski detail yang dirasakan atau dilihat berbeda. Lewat The Nightmare, Rodney Ascher merangkum dongeng dari delapan narasumber yang sering mengalami sleep paraylisis kemudian ia visualisasikan.

Reka ulang yang dilakukan Ascher mengakibatkan dokumenter ini kental dengan aura horor. Bahkan pada karenanya The Nightmare jauh lebih berhasil sebagai horor murni daripada dokumenter yang berfungsi melaksanakan penggalian terhadap sebuah isu. Sama ibarat karya Ascher sebelumnya yaitu Room 237, tidak ada satupun pakar dari bidang bersangkutan yang memperlihatkan keterangan. Segala informasi yang membentuk narasi, murni berasal dari dongeng delapan orang narasumbernya. Hal tersebut mengakibatkan filmnya kurang mempunyai pegangan dalam eksplorasi. Meski berjumlah cukup banyak, orang-orang ini berasal dari pihak yang sama, yakni mereka dengan sleep paralysis. Pada karenanya meski pengalaman masing-masing berbeda, sudut pandang yang dimunculkan kurang lebih sama. Tidak peduli walaupun ada yang menggunakan perspektif agama dan ada pula yang sains, semuanya memperlihatkan penuturan serupa: their sleep paralysis are beyond explanation. Lalu apa? 
Tidak banyak hal gres yang dapat penonton ambil lewat film ini. Keseluruhan 90 menit film ini tidak ada bedanya dengan dialog yang terjadi ketika tengah duduk bersama teman-teman kita membicarakan pengalaman mistis. Menyenangkan, mengerikan dan membuat kita ingin mendengar lebih. Tapi semua itu hanya dongeng yang subjektif tanpa ada penyeimbang dari sumber lain. Kita tidak tahu apakah narasumber ini menyatakan 100% kebenaran. Bisa saja mereka memberi bumbu, dapat saja semuanya kebohongan, atau dapat saja ialah kebohongan yang tidak mereka sadari. Sebagai contoh, salah satu narasumber menceritakan pengalamannya didatangi dua makhluk ibarat alien ketika usianya masih 1,5 tahun. Seseorang dapat saja mengingat sebuah memori yang kurang sempurna atau bahkan sama sekali berbeda untuk kemudian secara tidak sadar mereka percayai sebagai sebuah kebenaran. Apalagi pengalaman itu diceritakan terjadi puluhan tahun kemudian ketika masih balita. Miskonsepsi memori amat mungkin terjadi. 
Apakah The Nightmare masih dapat disebut penggalian lebih dalam akan sleep paralysis? Bagi saya tidak. Daripada menggali lebih dalam, film ini coba menggali di lebih banyak lubang tanpa kedalaman yang berarti. Tujuan Rodney Ascher memang hanya menghimpun sebanyak mungkin cerita, tanpa membuat polemik maupun pencerahan terhadap objek utamanya. Seperti Room 237, kita sebagai penonton hanya diajak mendengarkan dongeng subjektif yang tidak dapat lagi diganggu gugat. Mereka karam dalam dongeng mereka, begitu percaya akan apa yang mereka yakini, tak ubahnya seorang tokoh agama radikal. Saya sama sekali tidak menyatakan segala omongan mereka itu bohong. Karena salah satu dongeng narasumber hampir sama persis ibarat yang saya deskripsikan di atas. Saya termasuk yang percaya bahwa sleep paralysis secara medis memang ada, tapi "ketindihan" secara mistis juga ada. Dua buah fenomena yang serupa tapi tak sama. Masalahnya, Rodney Ascher tidak memperlihatkan sudut pandang lain untuk memperkuat statement yang diusung filmnya. Bagai sebuah karya tulis yang mengambil rujukan dari ocehan pengguna media sosial.

The Nightmare adalah dokumenter lemah, tapi justru merupakan horor yang cukup efektif. Sebagai kisah positif yang didokumentasikan tanpa dasar teori kuat, film ini bagaikan fiktif. Tapi dipandang sebagai fiktif, pengemasannya sebagai dokumenter justru membuat film ini terasa nyata. Ironis memang, tapi The Nightmare justru berhasi memunculkan apa yang seringkali gagal dilakukan mockumentary horror dewasa ini, yaitu membuat kengerian yang seakan-akan sungguh terjadi. Pengemasan Ascher bagai membawa kita kedalam mimpi buruk. Atmosfer eerie, rasa seperti melayang di kehampaan, kemunculan bayangan hitam misterius yang perlahan mendekat, suara-suara chaotic nan disturbing, lengkap dengan lighting remang didominasi neon merah-biru, setidaknya film ini sukses mewujudkan situasi sleep paralysis dengan meyakinkan. Terasa menakutkan, apalagi jikalau pengalaman anda termasuk yang divisualisasikan oleh film ini. Bagi saya sendiri, kemunculan bayangan hitam berwarna merah sukses membuat bulu kuduk berdiri, rasa tidak nyaman hadir, dan seketika saya menengok sekeliling ruangan berharap tidak ada sosok mengerikan berdiri disana.

Ini Lho As The Gods Will (2014)

Takashi Miike kembali menjadi seorang jenius gila yang tahu caranya bersenang-senang dalam pembiasaan manga berjudul Kami-sama no Iu Toori (As the Gods Will) ini. Setelah menghabiskan beberapa tahun terakhir mencari uang untuk makan (Miike menyampaikan itu) lewat film-film ringan macam Ninja Kids dan Ace Attorney, memang sudah saatnya ia kembali menjadi Miike yang dicintai banyak orang. Kekerasan penuh darah, situasi abstrak yang hadir seenaknya, sampai komedi gelap yang hitam pekat ialah apa saja yang bakal kita temui dalam film ini. As the Gods Will adalah jawaban kalau ada seseorang bertanya "kenapa sang sutradara begitu suka mengadaptasi manga?" Jawabannya mudah. Karena dari bahan buku komik, Miike sanggup menemukan keluasan fantasi yang dengan gampang memfasilitasi keliaran gayanya. Seolah ia menemukan kebebasan mengekspresikan kegilaan komikal yang mengakar berpengaruh dalam jiwanya. 

Bagaikan tidak sabar, Miike sudah menyodorkan boneka Daruma yang sanggup bergerak, bicara, bahkan membunuh orang sedari awal film. Sekelompok siswa Sekolah Menengan Atas terkurung dalam kelas tanpa tahu apa-apa dan dipaksa menjalani permainan maut oleh Daruma tersebut. Sebuah permainan tradisional sederhana, dimana ada satu orang berjaga (Daruma) sambil melantunkan sebaris lirik sedangkan pemain lainnya (siswa) harus bergerak mendekatinya tanpa ketahuan. Jika Daruma berbalik dan mendapati ada yang bergerak/bicara, siswa tersebut akan mati. Cara mereka mati pun dikemas sadis tapi komikal. Kepala mereka meledak, tapi tidak hanya darah yang muncrat, melainkan kelereng berwarna merah dalam jumlah besar. Semua itu hanya awal. Awal dari rangkaian permainan tradisional lain yang dimainkan secara mematikan, alasannya pemenang dari tiap babak akan lanjut ke permainan lain yang lebih sulit dan tentunya lebih berbahaya. Takashi Miike telah menciptakan Battle Royale versinya lewat film ini.
Mengingatkan pada Battle Royale karena survival games yang hadir tidak hanya menguji kecepatan berpikir, namun juga fisik serta psikologis pesertanya. Ada beberapa momen dimana kepercayaan dan kesetiaan pada teman-teman mereka diuji. Tapi toh As the Gods Will tidak mempunyai atau lebih tepatnya tidak berusaha mempunyai drama persahabatan menyentuh ibarat film yang diperbandingkan. Satu-satunya drama yang menerima fokus lebih ialah hubungan antara sang huruf utama, Shun Takahata (Sota Fukushi) dengan dua orang sobat wanitanya. Mereka ialah Ichika Akimoto (Hirona Yamazaki) yang merupakan sobat Shun sedari kecil, dan Shoko Takase (Mio Yuki) yang sempat bersahabat dengannya ketika Sekolah Menengah Pertama dulu. Selipan cinta segitiga di tengah kekacauan abstrak penuh darah semacam ini memang terdengar menggelikan. Jika dipaksakan dramatis, bukan kesan emosional berpengaruh yang hadir, namun justru kekonyolan dalam konteks negatif. 

Namun tentu saja Miike sadar akan hal tersebut. Dia membiarkan drama itu mengalir seadanya, tidak berusaha melaksanakan penggalian lebih. Bagaimana pada kesannya semua itu terasa emosional ialah ketika Miike bertransformasi dari orang gila menjadi seorang yang kejam. Dengan kejamnya, ia memanfaatkan tiga aspek: adegan final hayat sadis, wajah bagus nan polos dari Mio Yuki, serta kondisi sebatang kara dari Shun. Alhasil sesudah semua ini berakhir, saya yang masih merasa sakit jawaban "tusukan" mendalam dari Miike dibentuk mencicipi kehampaan serupa dengan karakternya. Ending yang seharusnya senang itu pun jadi terasa kosong (in a positive way) ketika penonton dibentuk bertanya-tanya "lalu untuk apa berusaha lolos dari semua ini?" 
Sepanjang film, karakternya sering bermonolog dalam hati guna memohon, bertanya, bahkan mengutuk segala tindakan Tuhan. Seperti yang tersurat dalam perkataan Shun, "Tuhan itu tidak ada, kalau memang ada maka Dia sangat kejam." Kemudian kalau penonton bertanya kenapa, bagaimana dan untuk apa, mungkin Miike dengan santainya bakal menjawab "semuanya sudah merupakan kehendak Tuhan." Mungkin ceritanya merupakan perwujudan cerdas mengenai orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Atau sanggup saja semua ini hanyalah escapism dari Miike yang tidak mau repot-repot menjelaskan asal muasal makhluk-makhluk gila pembawa maut tersebut. Karena kalau ditanya, toh lagi-lagi ia sanggup menjawab "semuanya kehendak Tuhan." Sebenarnya yang manapun tidak masalah, alasannya keduanya sama-sama berhasil menyuguhkan tontonan menyenangkan. Mungkin pertanyaan di atas akan terjawab oleh sekuelnya kelak kalau dibuat.

Dibalik segala kebrutalan dan keabsurdan sureal yang menyenangkan, poin terbaik As the Gods Will adalah permainan-permainan mautnya. Memberikan twist pada game tradisional, menyaring aturannya, kemudian mengubahnya menjadi rangkaian permainan mematikan ialah wangsit yang segar. Setiap permainan mempunyai lawan berbeda, setting berbeda, hukum berbeda, ujian berbeda, dan konsekuensi yang berbeda pula. Hal itu menciptakan perjalanan film ini tidak pernah membosankan, selalu bergerak dalam kecepatan serta intensitas yang stabil. Ditambah imbas CGI yang meski tidak terlalu mahal namun bersinkronisasi tepat dengan tone "tidak serius" khas seorang Takashi Miike, kesenangan yang dihadirkan film ini pun seolah tak ada habisnya.

Ini Lho Poltergeist (2015)

Fungsi sebuah remake setidaknya ada dua. Pertama sebagai sarana memperbaiki kekurangan yang dimiliki film aslinya. Dahulu, John Carpenter menyetujui pembuatan ulang The Fog karena bujet yang lebih besar untuk menghadirkan CGI mumpuni (meski hasil alhasil justru jauh lebih buruk). Sedangkan alasan kedua sekaligus yang paling sering, yakni membawa sebuah tontonan klasik menuju setting modern guna memperkenalkannya pada penonton masa kini. Sebenarnya ada alasan ketiga sebagai usaha tidak kreatif studio untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya, tapi mari berpura-pura alasan itu tidak ada. Poltergeist yang film aslinya rilis 33 tahun kemudian terperinci tidak butuh perbaikan. Mungkinkah film ini dibentuk sebagai usaha modernisasi? Jawabannya "ya". Sutradara Gil Kenan membawa film yang aslinya yakni kombinasi haunted house horror dengan family drama ini menuju destinasi gres untuk penonton ketika ini. Kenan tidak berusaha melaksanakan modifikasi pada aspek cerita, tidak pula berusaha menciptakan horor yang lebih mengerikan. Dia hanya berfokus menciptakan Poltergeist versinya menjadi lebih modern meski dibungkus dalam template yang sama dengan versi original. 

Saya mulai benar-benar menyadari itu pada beberapa hari kemudian sewaktu menonton Minions. Saat trailer Poltergeist ditayangkan, saya mendengar dua wanita di samping saya coba menebak trailer untuk film macam apa yang tengah mereka lihat. Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing alasannya yakni sudah pernah melihat trailer itu. Tapi mendadak perhatian saya teralih ketika seorang dari mereka berkata "pasti film alien." Mendengar itu saya putuskan mengamati trailer sekali lagi, dan menyadari bahwa dugaan bahwa itu merupakan film alien terdengar menggelikan alasannya yakni saya sudah tahu film horor macam apa Poltergeist. Tapi ketika coba memposisikan diri sebagai "penonton baru", banyak sekali unsur menyerupai glitch pada handphone, layar televisi yang buram, "Sutet" dengan pedoman listrik tinggi, hingga rambut yang bangun ketika menyentuh lemari terperinci lebih akrab pada sci-fi/thriller daripada haunted house horror.
Ceritanya masih serupa, disaat satu keluarga pindah ke rumah gres dan mendapati rumah tersebut dipenuhi oleh roh-roh jahat. Gangguan yang dihadirkan bertahap, mulai dari pergerakan benda secara perlahan, hingga perabotan yang terlembar kesana-kemari hingga menghilangnya Madison (Kennedi Clements) sang puteri sulung. Hampir semuanya tampak serupa. Mulai dari cerita, karakter, hingga adegan. Tentu saja momen-momen ikonik menyerupai ketika Madison bangun terpaku di depan televisi atau pohon yang mendadak hidup masih dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap film original. Tapi segala persamaan itu bekerjsama hanya di atas kertas. Mari tengok adegan ketika Eric (Sam Rockwell) mengalami sesuatu yang mengerikan dengan wajahnya. Pada versi Hooper, adegan tersebut punya tingkat gore yang terasa menyakitkan bagi penonton sekaligus mewakili esensi bahwa roh jahat yang ada mengetahui ketakutan tiap anggota keluarga, kemudian mengeksploitasinya. Gil Kenan juga memunculkan adegan itu, tapi bab paling "menyakitkan" tidak tersaji eksplisit. Begitu pula esensi adegan yang disini tidak lebih dari jump scare murahan.

Poltergeist juga identik dengan drama keluarga, alasannya yakni huruf yang berpengaruh pada masing-masing dari mereka. Tidak hanya itu, teror yang hadir turut menciptakan keluarga tersebut bersatu, menghadirkan ikatan berpengaruh yang berujung pada kehangatan dramatis. Potensi kearah sana bekerjsama dimiliki film ini. Sam Rockwell mengkombinasikan kedalaman akting dramatik dengan kehebatannya mengemas tugas komedik. Eric pun menjadi huruf yang menarik dan mempunyai jiwa. Begitu pula Madison si gadis kecil menggemaskan yang gampang dicintai penonton. Sehingga ketika ia harus terkurung bersama roh-roh itu, kita akan peduli padanya. Hal serupa terjadi pada huruf lain, kecuali Kendra yang mencuri perhatian hanya alasannya yakni kecantikan Saxon Sharbino. Seharusnya ikatan diantara mereka menjadi modal bagi Gil Kenan untuk menghadirkan titik puncak yang pumping bukan saja alasannya yakni keseruannya, tapi juga alasannya yakni penonton sudah bersimpati pada keluarga tersebut, dan mendukung usaha mereka. Begitu besar potensi film ini untuk mempunyai titik puncak yang epic, namun berakhir menyia-nyiakan itu semua.
Tidak sanggup disangkal klimaksnya begitu intens, cepat, berisik, sangat seru. Bahkan Poltergeist nampak lebih baik dalam menghadirkan adegan agresi daripada horor menyeramkan. Tapi Kenan kurang piawai menggabungkan segala potensi filmnya. Dia kebingungan menempatkan fokus antara agresi dan spotlight bagi huruf yang jumlahnya tidak sedikit. Dia pun menentukan jalan tengah dengan berusaha menyeimbangkan porsi mereka semua, termasuk bagi Carrigan Burke (Jared Harris) beserta sekelompok jago paranormal lainnya. Bagi saya itu kesalahan, alasannya yakni menkhianati esensi bekerjsama dari Poltergeist yang mengedepankan drama keluarga beriringan dengan horor. Semakin "keliru" lagi disaat film ini berhasil memperlihatkan keseruan tapi gagal tampil seram. Kali ini bukan saja melenceng dari pakem franchise-nya, tapi dari film horor itu sendiri. Untuk apa adrenaline penonton berhasil dipacu lewat rentetan agresi super cepat tapi sama sekali tidak dibentuk takut ketika horor-nya lagi-lagi hanya berisikan jump scare yang sudah basi? 

Tapi mau bagaimana lagi? Poltergeist versi remake ini memang bentuk seutuhnya dari masyarakat modern. Dari sisi pembuatnya, menyerupai inilah interpretasi dengan memakai "kaca mata" masa kini. Dipenuhi glitch pada barang-barang elektronik, alur cepat, dominasi CGI, bahkan Gil Kenan beberapa kali memakai lens flare. Tidak akan terlalu mengejutkan jikalau tiba-tiba Kenan memasukkan titik puncak The Amazing Spider-Man 2 lengkap dengan scoringnya. Saya pun mengamini perkataan seorang wanita yang saya sebut di atas, bahwa Potergeist lebih nampak menyerupai film alien, atau lebih tepatnya thriller yang kental dengan unsur sci-fi penuh sorotan lampu menyilaukan dan teknologi mutakhir. Saya tidak menyukainya, tapi bisakah sepenuhnya film ini disalahkan? Ternyata tidak juga, alasannya yakni seusai filmnya berakhir, beberapa anak Sekolah Menengan Atas memasang wajah puas. Salah seorang dari mereka kemudian berkata, "keren ya, bagusan ini daripada film-film Insidious" yang eksklusif disetujui oleh teman-temannya. Nampaknya film ini mewakili jiwa bawah umur muda pada kala modern menyerupai sekarang, dan saya tidak termasuk dalam golongan anak muda tersebut.

Verdict: Poltergeist sebagai film horor yakni sebagaimana dubstep sebagai salah satu genre musik paling terkenal ketika ini. Disukai alasannya yakni upbeat, noisy, penuh gimmick elektronika, melaju kencang tapi tanpa jiwa. This techno-remake is that kind of not-so-scary-but-fun horror movie.


Ini Lho Terminator Genisys (2015)

Setiap film pastinya (diharapkan) mempunyai ciri sebagai pembeda antara satu dengan yang lain. Pembeda itu akan semakin vital pengaruhnya jikalau membicarakan sebuah franchise. Apapun bentuknya, entah cerita, karakter, tema, atau mungkin sekedar gimmick, ciri khas menjadi begitu penting dalam membangun franchise. Tidak perlu yang sifatnya besar. Satu hal kecil asalkan itu besar lengan berkuasa pun sudah cukup. Sebagai pola kita sanggup membedakan antara Die Hard dengan Rambo yang sama-sama mengusung one man army sebagai aktivis dongeng alasannya yaitu perbedaan sosok John McClane dengan Rambo. Keberadaan ciri tersebut mengatakan jalur yang harus diikuti ketika menciptakan sekuel, alasannya yaitu mengesampingkan hal itu sama saja menghilangkan jati diri. Perubahan boleh dibentuk asal membawa kearah lebih baik dan tidak mengkhianati esensi dasar. Penonton sanggup mendapatkan ketika Fast Five berubah dari racing movie kearah heist, alasannya yaitu tetap menampilkan kebut-kebutan kendaraan beroda empat sebagai fokus utama. 
Terminator Genisys adalah usaha membangkitkan suatu franchise yang sesungguhnya tidak mempunyai banyak hal tersisa untuk dieksplorasi. Salvation yang dirilis enam tahun kemudian gotong royong sudah mengatakan arah gres dengan berfokus pada usaha John Connor di masa depan, tapi alasannya yaitu respon negatif, maka merupakan hal riskan untuk melanjutkan kisahnya. Pada kesudahannya untuk me-refresh cerita dan memberi kesempatan bagi Arnold Schwarzenegger kembali sebagai Terminator, dilakukanlah upaya yang ketika ini tengah menjadi tren di Hollywood: soft-reboot. Metode ini gotong royong efektif untuk memberi awalan gres tanpa harus sepenuhnya melupakan/menuturkan lagi semua yang selama ini sudah dibangun. X-Men: Days of Future Past dan Jurassic World adalah dua pola yang berhasil. Genisys mengambil langkah menyerupai dengan film yang disebut pertama, yakni memanfaatkan aspek perjalanan waktu dan alternate timeline. Filmnya dibuka dengan "recap" mengenai hal yang sudah kita tahu, mulai dari Judgement Day, hingga perlawanan insan terhadap mesin yang dipimpin John Connor (Jason Clarke).

Manusia telah berada dalam tahap simpulan pertempuran dimana tinggal selangkah lagi Skynet berhasil mereka kalahkan. Skynet yang tidak tinggal membisu mengirim sejumlah Terminator untuk membunuh ibu John, Sarah Connor (Emilia Clarke) di tahun 1984. Tidak tinggal diam, John mengirim tangan kanannya, Kyle Reese (Jai Courtney) untuk melindungi sang ibu. Tentu saja kita sudah mengetahui apa yang akan terjadi, alasannya yaitu semua itu yaitu plot bagi film pertama yang rilis 31 tahun lalu. Kyle akan melindungi Sarah, keduanya saling jatuh cinta, kemudian lahirlah anak mereka, John Connor. Penonton berada dalam posisi yang tidak jauh berbeda dengan Kyle ketika berekspektasi bakal melihat Sarah versi sampaumur yang masih polos dan lemah. Tapi sesampainya di masa kemudian kita mendapati Sarah sudah mengetahu segala hal wacana Skynet, kedatangan Kyle, John sebagai pemimpin perlawanan, pada dasarnya segala hal yang seharusnya belum ia ketahui. Bahkan ia sudah 10 tahun hidup bersama T-800 (Arnold Schwarzenegger) yang membantu Sarah mempersiapkan takdirnya kelak.
Penjelasan mudahnya adalah, Kyle Reese tiba di alternate timeline yang berbeda dari masa kemudian yang ia tahu. Masa kemudian berubah, nasib abjad berubah, begitu juga masa depan. Bagaimana itu sanggup terjadi? Film ini mengatakan jawaban yang sesungguhnya tidak menjelaskan apapun alias "ngeles". Naskah yang ditulis Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier asal memasukkan versi alternatif sebagai langkah gampang untuk merubah dongeng seenaknya tanpa mempedulikan bagaimana semua itu sanggup terjadi. Tentu saja saya tidak mengharapkan sesuatu yang masuk nalar disini, tapi layaknya X-Men: Days of Future Past, setidaknya tidakkah mereka sanggup berusaha lebih keras mengatakan pemaparan? Penggunaan alternate timeline hanyalah alasan permisif yang sulit diterima untuk sanggup berbuat sesuka hati dalam menyusun dongeng tanpa peduli akan semua yang sudah dibangun oleh Terminator selama ini. Contohnya, jikalau ada yang bertanya "kenapa T-1000 (Lee Byung-hun) sanggup ada di tahun 1984 padahal seharusnya ia gres muncul sehabis John lahir?", saya yakin orang-orang dibalik film ini akan menjawab dengan enteng "karena masa kemudian sudah berubah."

Jelas menjadi sebuah kesalahan disaat film ini bermain-main dengan tema perjalanan waktu dan alternate timeline secara asal-asalan menyerupai ini. Tapi "dosa" yang lebih besar yaitu Genisys melupakan esensi dari Terminator franchise. Esensi yang mana? Hampir semuanya. Sedari awal tema perjalanan waktu sudah diusung, namun satu hal penting yaitu fakta bahwa menyerupai apapun usaha yang dilakukan, masa depan tidak akan sanggup dirubah. Fakta tersebut turut diperkuat oleh twist ending pada film ketiganya, Rise of the Machine. Tapi film ini mengambil langkah yang berlawanan. Lagi-lagi hal itu dilakukan dengan memanfaatkan versi alternatif dari masa lalunya. Langkah tersebut terperinci memperlihatkan bagaimana para pembuat filmnya tidak menghormati intelegensi penonton. Seolah dengan menyuguhkan versi masa kemudian dan masa depan yang berbeda mereka terlihat tidak mengutak-atik konsep di atas. 
Kesalahan berikutnya yaitu ketika Genysis melucuti aura "horor" yang selama ini lekat dengan Terminator, entah horor yang dihasilkan oleh kejar-kejaran dengan robot mengerikan, atau horor dari penggambaran kondisi masa depan yang depresif, penuh kehancuran dan tanpa harapan. Saya tidak mengharapkan kengerian menyerupai yang dimunculkan James Cameron dalam film pertama. Cukup hadirkan suasana kelam jawaban Skynet saja sudah cukup. Namun Genysis berusaha sekuat mungkin untuk disukai oleh penonton secara lebih luas. Caranya dengan menciptakan tone film lebih ringan lewat sentuhan komedi tidak lucu yang secara umum dikuasai berasal dari interaksi kaku antara T-800, Sarah dan Kyle. Sesekali melihat kekakuan Arnold dalam berdialog itu masih menghibur, tapi tidak jikalau terlalu sering. Emilia Clarke dan Jai Courtney pun kurang piawai ketika harus menangani momen komedik di tengah-tengah adegan serius. Semakin menjauh dari atmosfer itu ketika ending-nya memperlihatkan konklusi senang yang membuka opsi bagi sekuel secara dipaksakan. Kenapa dipaksakan? Karena daripada menyisakan dongeng lebih untuk dieksplorasi, film ini hanya menggunakan kalimat "perjuangan belum usai", seolah mengambarkan hasrat akan sekuel (baca: uang lebih banyak) tapi gundah akan dibawa kemana lagi ceritanya.

Hilang pula aura usaha berbalut drama emosional yang selalu menghiasi franchise ini. Bahkan Salvation yang selama ini dianggap paling lemah pun masih mempunyai semangat usaha dalam ceritanya. Disini saya tidak pernah merasa diajak untuk memahami apalagi mencicipi apa yang diperjuangkan oleh karakternya. Kyle Reese diutus untuk melindungi Sarah Connor, tapi sehabis masa kemudian berubah kemudian apa? Filmnya kebingungan memaksimalkan ceritanya alasannya yaitu kerumitan alternate timeline yang mereka pun kebingungan merangkainya. Hubungan antara T-800 dengan Sarah dimaksudkan selayaknya ayah dan anak, tapi tidak pernah ada ikatan emosional kuat. Begitu pula disaat Sarah mengetahui John yang seharusnya ia persiapkan sebagai impian terakhir umat insan berkembang menjadi impian terakhir pihak mesin. Karakternya tidak ada yang berhasil mencuri perhatian. Sarah dan Kyle lebih terasa menyebalkan lewat pertengkaran penuh kengototan mereka daripada mengatakan hubungan kuat. John lebih parah, disaat karakternya di-twist secara "ngawur" tanpa transformasi yang memuaskan. Sedangkan Arnold sebagai T-800 sudah melaksanakan hal terbaik yang menjadi bakatnya, yaitu berakting sedatar mungkin (it's a praise, by the way).

Genisys melupakan segala faktor penting yang menjadi dasar film-film Terminator, namun sesungguhnya sebagai sajian agresi blockbuster film ini cukup menghibur. Alan Taylor terbukti punya kapasitas untuk menggarap rentetan agresi yang eksplosif. Baku hantam berhasil tersaji brutal, memanfaatkan abjad Terminator yang tidak sanggup mencicipi sakit dan tanpa batasan fisik. Sehingga mau sekeras dan segila apapun Taylor mengemas filmnya, penonton tetap sanggup menikmati. Ledakan demi ledakan pun hadir menggelegar, sebagai bukti pemanfaatan bujet $170 juta dengan cukup efektif. Paling tidak Alan Taylor tahu bagaimana mengemas adegan agresi penuh ledakan yang tidak menciptakan penontonnya merasa pusing dan kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Penggunaan CGI pun cukup efektif meski sesungguhnya semua imbas yang hadir dalam film ini khususnya T-1000 yang sanggup berkembang menjadi benda cair hanya akan menciptakan kita semakin terpukau pada kehebatan James Cameron yang puluhan tahun kemudian sudah sanggup menyajikan hal serupa.

Verdict: The action sequences are very entertaining, but as a part of "Terminator Franchise", this movie pretty much ruined everyhting from the substance, plot continuity and characters, just for the sake of more money. The characters are often talk about blow something up, and apparently that's the only thing that "Genisys" is good at.

Ini Lho While We're Young (2014)

Bukan hal gampang untuk membuat abjad yang mengundang simpati penonton. Tapi jauh lebih sulit lagi ketika simpati tersebut hadir sebab adanya perasaan "senasib". Sebuah perjalanan menyenangkan ketika kita mendapati menonton suatu film dimana kita pernah mencicipi hal sama ibarat yang dirasakan karakternya, mengalami tragedi yang serupa pula, sehingga kita merasa familiar dan terikat dengan mereka. Pemaparan konflik pun tidak lagi terasa sebagai perjuangan "formalitas" demi membentu dinamika suatu film. Konflik jadi suatu cerminan realita yang kita sadari memang positif keberadaannya dalam hidup. Itulah yang saya rasakan dari karya terbaru Noah Baumbach ini. Mungkin kita semua pernah berada dalam posisi layaknya Josh (Ben Stiller), seorang pembuat dokumenter yang selama 10 tahun terhambat dalam menuntaskan film terbarunya. Kondisi itu juga yang menjadi salah satu pemicu problem dalam pernikahannya dengan Cornelia (Naomi Watts). Keduanya merupakan pasangan paruh baya, tidak mempunyai anak, dan mendapati kemesraan diantara mereka mulai luntur.

Beberapa kali baik Josh maupun Cornelia menyatakan pada satu sama lain ketidak inginan mempunyai anak, sebab bagi mereka hal itu bisa menghilangkan kebebasan melaksanakan apapun yang dimau. Namun kita bisa melihat bahwa kenyataan yang mereka pendam justru sebaliknya. Cornelia masih merasa stress berat dengan dua kali pengalamannya mengalami keguguran. Sedangkan Josh pun dipenuhi aneka macam macam ketakutan yang saling berpengaruh. Seperti kutipan obrolan dari pementasan The Master Builder karya Henrik Ibsen yang menjadi pembuka, While We're Young banyak menampilkan rasa takut yang berujung pada terhambatnya kehidupan tokoh-tokohnya (especially Josh). Josh takut mempunyai anak, takut memotong dokumenternya sehingga berujung sebagai bahan kompleks nan membosankan selama enam jam yang tidak pernah keluar dari ruang editing, Josh tidak meminta pertolongan mertua sekaligus mantan mentornya, Leslie (Charles Grodin) sebab tanpa pernah diakui ia takut Leslie memandangnya sebagai penerus sekaligus menantu yang gagal. 
"Ketakutan yang menghentikan langkah seseorang". Baumbach kemudian menggabungkan itu dengan tema penuaan, menerapkannya pada pasangan Josh dan Cornelia. Keduanya merasa kehidupan yang mereka jalani "payah", dan berkat penggabungan dua hal di atas, penonton bisa melihat itu secara jelas. Semakin terang sehabis kehadiran Jamie (Adam Driver) dan Darby (Amanda Seyfried), sepasang suami-istri muda yang nampak berkebalikan dari Josh dan Cornelia. Jamie dan Darby gres berusia 25 tahun, tampak begitu passionate dalam menjalin hubungan, melaksanakan hal-hal penuh kebebasan yang dirasa "liar" atau "aneh" oleh Josh dan Cornelia. Lucu, sebab mereka selalu beranggapan tidak mempunyai anak yakni perjuangan untuk mempertahankan kebebasan tapi selama ini keduanya tak pernah melaksanakan apapun. Pertemuan dengan pasangan muda itu mulai merubah rutinitas mereka. Mulai dari Josh yang mencoba berandan layaknya anak muda, Cornelia yang mengikuti kelas tari hip-hop, sampai mengikuti upacara Ayahuasca (just google it).

While We're Young adalah film yang dengan cerdiknya men-"tackle" konflik lintas generasi. Mereka yang bau tanah akan menganggap para anak muda absurd dan sering melaksanakan hal-hal "berbahaya", sedangkan sebaliknya bagi pemuda, generasi bau tanah sering dianggap membosankan. Siapa benar dan siapa salah, film ini mengajak kita melihat bahwa hal itu tidak ada. Untuk yang sudah berumur layaknya Josh dan Cornelia, memang anggun sesekali meluangkan waktu bersenang-senang menikmati kebebasan, Pada awalnya itu terbukti mengembalikan hasrat serta romantika mereka berdua. Tapi sehabis itu justru kepalsuan yang tercipta. Keduanya lupa bahwa semua itu hanyalah pecahan dari perjalanan hidup, dan dulu, masa penuh kesenangan itu pun pernah mereka alami. Sedangkan bagi para perjaka pun sama, tidak peduli seunik apapun kalian sekarang, pada ketika bau tanah nanti juga akan berakhir sebagai "orang bau tanah membosankan" ibarat pada umumnya. Jamie dan Darby mungkin liar, tapi bukan sebab mereka "gila" tapi sebab mereka masih muda. Semuanya hanya problem perspektif, dan Baumbach begitu lancar menuturkan konflik yang jawabannya akan sulit diungkapkan lewat kata-kata tersebut.
Pada awal goresan pena saya membahas perihal abjad simpatik. Keterikatan saya akan sosok Josh begitu kuat disini. Kecemburuan, takut akan kegagalan, takut mengecewakan orang lain, takut membuang segala kesempatan, saya tahu rasanya semua itu. Saya pernah, bahkan sering berada dalam posisi ibarat Josh. Melihatnya, saya bagaikan dipertontonkan suatu refleksi oleh Noah Baumbach. Refleksi hidup dan diri saya sendiri. Emosi sukses diaduk-aduk seiring dengan aneka macam kesulitan yang menghampiri Josh. Setiap kesulitan dan kegagalan yang menghampiri, rasa sakit yang saya rasakan juga semakin menumpuk. Sosoknya nampak menyedihkan, dan Ben Stiller memang sesuai dengan tugas ibarat itu. Sesekali mengatakan talenta komedinya, tapi akting dramatis dari ekspresi wajah "tak berdaya" itulah yang mencuri perasaan saya. Beginilah keindahan dari kekuatan realisme abjad dalam film. Bukan hanya sesosok tokoh fiksi, tapi miniatur kehidupan sehari-hari. Seperti fim garapan Jamie, bukan problem orisinil atau tidak, tapi sejauh mana hal itu bisa mewakili orang-orang yang menontonnya. 

Tapi bukan film Noah Baumbach namanya, jikalau tanpa selipan komedi sederhana namun bisa memancing tawa. Sederhana, sebab banyolan Baumbach tidak akan jauh-jauh dari situasi awkward atau tingkah polah abjad yang absurd namun masih sangat masuk akal terlihat di sekitar kita. Ben Stiller dan Naomi Watts sama-sama melakoni momen dramatik maupun komedik dengan baik. Tapi Naomi Watts dengan segala tarian hip-hop-nya yakni pemancing tawa paling besar di paruh pertama. Kenapa paruh pertama? Well, karena pada paruh kedua, filmnya bergerak kearah yang jauh lebih serius dan emosional. Filmnya memang emosional, tapi apakah hanya untuk mereka yang mencicipi kemiripan dengan karakternya? Saya jawab "ya", tapi hampir semua penonton setidaknya akan merasa terwakili pada salah satu momen. Karena begitu banyak konflik yang kuat berpijak pada realita hadir dalam film ini, dan hebatnya Noah Baumbach begitu mulus merangkum semua itu, tanpa harus terasa sebagai kepingan-kepingan terpisah yang dipaksakan menjadi satu. 

Verdict: Another funny and bittersweet movie by Noah Baumbach with relatable characters. The story looks simple on the surface but have much deeper complexity about fear, ageing and relationship inside it.