Showing posts sorted by relevance for query the-bow-2005. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query the-bow-2005. Sort by date Show all posts

Tuesday, January 15, 2019

Ini Lho The Bow (2005)

Dua pengalaman terakhir saya dalam menonton film Kim Ki-duk yaitu Time dan Arirang tidak se-amazing pengalaman-pengalaman sebelumnya ketika menonton film buatan sutradara Korea ini. Bagi saya Time terasa terlalu banyaomong untuk ukuran film Kim Ki-duk dan alurnya yang berputar-putar terasa membosankan. Suasana magis seolah menyatu dengan alam yang jadi ciri Ki-duk juga tidak terasa alasannya Time punya set yang lebih realistis, yaitu sebuah perkotaan di Korea dan dalam dunia yang bisa dibilang "lebih modern". Sedangkan Arirang memang masih merupakan film yang tidak mengecewakan bagus, setidaknya bagi saya yang merupakan penggemar Kim Ki-duk. Tapi film itu yakni sebuah dokumenter yang tentunya tidak akan memperlihatkan sensasi yang sama kalau dibanding film-film Ki-duk lainnya. Apalagi Arirang juga dibentuk dengan kesederhanaan tingkat tinggi alasannya memang film itu dibentuk nyaris tanpa biaya. Sampai kesudahannya saya menonton The Bow atau yang punya judul Korea Hwal. Ya, disinilah saya kesudahannya kembali mencicipi perasaan unik yang hanya bisa ditemui kalau menonton film buatan Kim Ki-duk.

Kim Ki-duk kembali menampilkan aksara "bisu" dalam filmnya. Di sebuah kapal yang mengapung di tengah maritim tinggal laki-laki bau tanah berumur kira-kira 60-an (Jeon Seong-hwang). Tapi laki-laki itu tidak tinggal sendirian, disana juga ada seorang gadis muda yang gres 16 tahun (Han Yeo-reum). Keduanya sama-sama tidak pernah mengucapkan satu katapun. Sang laki-laki bau tanah menyebabkan kapal daerah ia tinggal itu sebagai daerah pemancingan. Tiap harinya dengan kapal motor ia menjemput beberapa orang yang akan memancing disana. Diantara para pemancng tersebut sering beredar banyak gosip ihwal hubungan antara laki-laki bau tanah dan gadis tersebut. Ada yang bilang bahwa gadis itu sudah tinggal di kapal sejak usia 6 tahun sehabis ditemukan oleh laki-laki bau tanah itu dan selama 10 tahun tidak pernah meninggalkan kapal. Ada juga kabar yang menyampaikan bahwa laki-laki bau tanah itu berniat untuk menikahi sang gadis ketika usianya menginjak 17 tahun. Entah benar atau tidak, sang laki-laki bau tanah yang juga hebat panah itu memang sangat protektif khususnya kalau ada pemancing yang mencoba menarik hati sang gadis. Sampai suatu hari tiba seorang laki-laki yang seumuran dengan gadis itu (Seo Si-jeok). Tidak butuh waktu usang hingga kesudahannya dua orang ini saling mencintai.

Ah rasanya tidak perlu lagi saya menjelaskan bahwa film ini akan punya alur yang lambat, suasana yang sepi dan sinematografi keren yang mampu menangkap gambar-gambar indah namun praktis dalam filmnya, alasannya semua kebanggaan itu selalu saya lontarkan dalam review yang saya tulis untuk film-film Kim Ki-duk sebelumnya. Gambar-gambar membisu dan bisu yang indah memang masih muncul dalam The Bow. Momen-momen tersebut yakni momen favorit saya tiap kali menonton film-film Ki-duk. Perasaan hening dan magis yang bisa secara luar biasa mengikat dan membuat saya jatuh cinta pada karya-karyanya. Satu lagi keunggulan dari The Bow yakni musiknya yang terasa sangat tradisional Korea. Musik-musik tradisional tersebut benar-benar menambah keindahan artistik film ini. Tentu saja pemakaian musik-musik tersebut juga sangatlah efektif untuk membangun suasana dan feel dalam filmnya. Pemakaian beberapa simbol dan gambar-gambar bercorak Buddha dan lambang Korea Selatan sendiri makin menambah kesan etnik dalam film ini.
Tentu saja membicarakan film Ki-duk tidak akan lengkap rasanya kalau tidak membahas makna-makna dan interpretasi dari penonton ihwal film tersebut. Bagi saya The Bow masih membicarakan hal-hal yang sering diangkat Ki-duk sebelumnya, yaitu ihwal cinta dan kehidupan, setidaknya cinta dan kehidupan menyerupai apa yang dilihat oleh Kim Ki-duk. Dua tema besar itu semuanya terangkum dalam judul film ini sendiri yaitu The Bow. Sosok gadis muda dalam film ini memang terlihat begitu terkekang oleh keberadaan sang laki-laki tua. Namun bekerjsama gadis itu juga cukup tergantung dan tidak bisa begitu saja melepaskan laki-laki bau tanah yang sudah merawatnya dan tinggal bersamanya selama 10 tahun. Sang gadis bagaikan sebuah anak panah yang belum ditembakkan, hanya bisa melamun dan tidak bisa berbuat apapun. Namun akan tiba waktunya anak panah tersebut ditembakkan dan terbang bebas menyerupai kehidupan yang akan dijalani oleh sang gadis bila meninggalkan sang laki-laki tua. Jika bicara soal kehidupan maka The Bow bagi saya yakni sebuah pencarian keindahan hidup dan definisi dari kebebasan dalam hidup itu sendiri.

Tentu saja The Bow juga bicara persoalan cinta antara tokohnya, cinta antara umat manusia. Apa yang saya tangkap masih berkaitan juga dengan panah yang jadi salah satu properti utama di film ini. Dalam film ini digambarkan bahwa cinta bisa disamakan dengan busur panah. Jika dipakai dengan "baik" tanpa niat yang jelek maka akan tercipta keindahan. Tarikan busur yang begitu mantap hingga kemudian melontarkan anak panah yang terbang bebas menuju sasaran dengan indahnya dan membuat bunyi yang tidak kalah merdu. Seperti yang dituliskan Kim Ki-duk di tamat film "Strength and a beautiful sound like in the tautness of a bow. I want to live like this until the day I die." Sebuah busur panah sama dengan cinta, kalau disikapi dengan cara yang sempurna dan dengan hati yang baik maka bisa menjadi sebuah keindahan bahkan sebagai sebuah protektor menyerupai apa yang dilakukan oleh laki-laki bau tanah dalam film ini ketika melindungi si gadis di momen-momen awal. Namun lama-lama bukannya melindungi laki-laki tersebut justru menjadi posesif dan bukan lagi melindungi namun justru menyerang dan membahayakan orang lain. Sama juga menyerupai busur dan cinta yang bisa membahayakan kalau tidak disikapi dengan bijak.

Bicara cinta juga akan membawa pada sebuah perenungan ihwal ketulusan cinta antara sang laki-laki bau tanah dan gadis muda. Apakah si gadis memang mengasihi laki-laki bau tanah itu? Atau hanyalah sebuah belas kasihan belaka? Tidak ada yang tahu. Berbicara ihwal adegan metafora sendiri masih banyak lagi adegan metafora yang sudah menyangkut kepada detail adegan, bukannya tema besar hingga tidak akan saya jabarkan disini. Untuk ending, film ini juga tetap punya ciri khas Ki-duk yakni punya ending yang cukup absurd. Bagi saya sendiri ending itu merupakan balasan dari pertanyaan ihwal perasaan cinta yang dirasakan kedua tokoh utama film ini, sebuah cinta yang murni ataukah bukan? Sekali lagi, pemaknaan terhadap film Kim Ki-duk akan sangat berbeda pada tiap penontonnya, dan apapun itu saya rasa tidak persoalan asalkan ada sesuatu yang bisa penonton ambil maknanya. The Bow sendiri terperinci sebuah pengalaman magis yang kesudahannya kembali saya rasakan dalam menonton film Kim Ki-duk dan kesudahannya membuat saya berangan-angan, "Kapan ya saya bisa menonton film Kim Ki-duk di layar bioskop?"


Saturday, January 12, 2019

Ini Lho Top 30 Kim Ki-Duk Movie Moments

Jika tidak menghitung Moebius yang gres akan screening di Venice Film Festival bulan ini, maka Kim Ki-duk telah merilis total 18 film sepanjang lebih dari 16 tahun karirnya. Dari kedelapan belas film tersebut, saya sudah menonton 17 diantaranya dimana satu-satunya film yang belum berhasil saya tonton ialah Wild Animals yang merupakan film kedua Kim Ki-duk (filmnya sulit didapat). Saya sendiri berniat memposting daftar ranking film Kim Ki-duk sehabis selesai menonton semua karyanya. Tapi berhubung Wild Animals sulit didapat dan saya sudah begitu ingin memposting sebuah list wacana sutradara favorit saya ini, pada kesudahannya saya menentukan untuk menciptakan daftar momen favorit saya dalam film-film Kim Ki-duk. Tentunya daftar ini bisa berubah mengingat masih ada satu film yang belum saya tonton. Makara berikut ini ialah 30 momen favorit saya dalam film-film Kim Ki-duk yang tentunya banyak mengandung SPOILER, apalagi banyak momen terbaik sang sutradara berasal dari ending filmnya.

30. FIGHT SCENE from BAD GUY (2001)
Selalu ada cara bagi Kim Ki-duk menghantarkan kekerasan dalam filmnya. Adegan pertarungan antara Han-gi yang diperankan pemeran andalan Kim, Jo Jae-hyun ini menggambarkan dengan tepat kebrutalan karakternya ketika ia menghajar segerombolan tukang pukul yang mencoba menciptakan kekacauan di tempatnya bekerja. Dengan kondisi babak belur penuh darah Han-gi melipat sebuah kertas dan menyulapnya menjadi sebuah senjata mematikan.

29. SPRING...AGAIN from SPRING, SUMMER, FALL, WINTER...AND SPRING (2003)
Apa yang menarik dari seorang biksu kecil bermain-main dengan binatang di bersahabat sungai? Fakta bahwa dongeng perputaran hidup seorang laki-laki milik Kim Ki-duk ini telah mencapai satu putaran dan kembali lagi keawal, menggambarkan roda kehidupan yang berputar tanpa pernah putus. Memancarkan sedikit kengerian sekaligus perenungan bagi saya.

28. THE STAGE from REAL FICTION (2000)
Dalam film yang menjalani syuting hanya selama 3,5 jam dan tanpa retake ini, abjad yang dimainkan oleh Joo Jin-mo masuk kedalam sebuah panggung pertunjukkan teater untuk bertemu dengan seorang laki-laki misterius yang bermonolog diatas panggung sambil meminta untuk ditembak. Sebuah self-reflection mengenai hasrat terpendam yang cukup gamblang namun begitu sempurna.

27. SINGING WITH TEARS from ARIRANG (2011)
Dalam dokumenternya ini Kim Ki-duk mengutarakan segala kegundahannya mengenai kehidupan sambil kemudian menyanyikan lagu favoritnya, Arirang. Kim menyanyi sambil berkatarsis ria, dan perlahan nyanyian tersebut berkembang menjadi sebuah momen emosional yang menciptakan air matanya mengalir deras. Salah satu momen terjujur dan paling personal dalam film Kim Ki-duk.

26. CUT! from REAL FICTION (2000)
Siapa sangka dengan kisahnya yang mengaburkan batas antara fiksi dan realita, film ini ditutup dengan momen "kurang ajar" ketika sang sutradara berteriak "Cut!" dan menutup filmnya. Saya yang sepanjang film begitu keras memeras otak untuk berpikir mana yang kenyataan mana yang fiksi seolah "ditertawakan" oleh Kim yang ibarat berbicara "tentu saja semuanya fiksi, kan ini hanya film"

25. NEVER SLEEP AGAIN from DREAM (2008)
Saya begitu menyukai scene yang satu ini sebab begitu jarang saya dibentuk tertawa oleh film Kim Ki-duk. Oke, mungkin adegan yang satu ini tidak dimaksudkan untuk lucu, tapi melihat lisan Lee Na-young saya tidak berpengaruh untuk tidak tertawa namun disisi lain semakin menguatkan simpati saya pada abjad yang ia perankan.

24. FIRST INTERCOURSE from SPRING, SUMMER, FALL, WINTER...AND SPRING (2003)
Gambaran tepat bagaimana seorang biksu sekalipun ialah laki-laki biasa, insan biasa yang akan memasuki fase "musim panas" dalam hidupnya dimana libido serta hasrat seksual mencapai puncaknya. Bukan seks menyakitkan ala Kim Ki-duk, hanya sebuah seks yang polos dari seorang yang pertama kali melakukannya.

23. SEX SCENE from THE BOW (2005)
Sang gadis muda kesudahannya kehilangan keperawanannya melalui sebuah kekerabatan seks dengan...sosok tidak terlihat. Tiba-tiba sebuah panah melesat kearah sang gadis dan kekerabatan seks pun dimulai. Absurd namun entah mengapa terasa indah dan "melegakan".

22. ACTION! from ARIRANG (2011)
Jika Real Fiction yang menggabungkan fiksi dan realita ditutup dengan "cut!", maka dokumenter yang juga membaurkan kedua hal tersebut ini justru ditutup dengan teriakan "action!". Dan sang sutradara pun menembak dirinya sendiri melepaskan segala tekanan yang menghimpitnya.

21. THE SHOOTING from THE COAST GUARD (2002)
Awal dari segala kegilaan yang menyerang abjad utamanya ialah sebuah penembakan brutal yang terjadi di tengah malam ini. Sebuah adegan seks liar di pinggir pantai berkembang menjadi pembantaian ketika seorang warga sipil diberondong peluru. Belum cukup, ia pun diledakkan dengan granat sampai tubuhnya hancur. Sang kekasih pun menangis memeluk potongan tubuh sang kekasih. Tragis.

20. TIME LOOP from TIME (2006)
Bahkan dalam salah satu karyanya yang paling lemah (menurut saya) Kim KI-duk masih mampu menghadirkan sebuah momen abstrak yang penuh makna. Adegan opening tersebut ternyata ialah ending film ini, dan dua gadis yang bertabrakan ternyata ialah satu orang yang sama. 

19. FORTUNE TELLING from THE BOW (2005)
Sang kakek ternyata ialah seorang peramal. Bagaimana cara ia meramal? Cukup biarkan si gadis berayun di samping kapal sambil tersenyum senang, sedangkan sang kakek menembakkan panahnya. Dimana anak panah tersebut mendarat disitulah yang akan mempengaruhi hasil ramalan. Adegan yang menegangkan, namun sungguh indah melihat senyum riang nan polos dari Han Yeo-reum disini.

18. FIRST TALK from BAD GUY (2001)
Karakter Han-gi yang sepanjang film diam kesudahannya berbicara. Dengan susah payah dan penuh amarah ia menghajar sahabatnya seolah berteriak "tahu apa kamu wacana cinta?!" Han-gi pun berubah dari sosok berdarah masbodoh menjadi laki-laki yang menyimpan kesedihan atas cinta terpendamnya.

17. CAN I GO BACK IN? from PIETA (2012)
Dalam dongeng abstrak wacana ibu dan anak ini abjad Lee kang-do dengan brutal "memaksa" kembali masuk kedalam vagina sang ibu. Hanya sebuah adegan gila? Tentu tidak. Disini terpancar terang bagaimana kepedihan hati sang laki-laki berdarah masbodoh tersebut yang begitu membenci kondisinya sekarang.

16. SEX IN PRISON from BREATH (2007)
Akhirnya Yeon dan Jang Jin bekerjasama seks untuk pertama kalinya. Yang menciptakan adegan ini ironis adalah, gamabarnya menyorot mereka bekerjasama seks bergantian dengan adegan disaat suami Yeon dan puteri kecilnya sedang bermain salju diluar penjara...menanti ibu dan istri mereka yang tengah beruhubngan seks dengan seorang terpidana mati. Diiringi musik yang indah, adegan ini pun terasa indah berkat editing yang cermat tapi juga terasa begitu menyakitkan.

15. CHANG-GUK'S DEATH from ADDRESS UNKNOWN (2001)
Adegan selesai hidup yang terasa begitu tragis dan asing akhir cara Kim Ki-duk menyajikannya. Setelah menyiksa sang ibu, Chang-guk menaiki motor milik kekasih ibunya yang gres saja ia gantung dengan penuh emosi. Kehilangan kendali ia pun terlempar dari motor sebelum jatuh di area persawahan dengan kondisi kepingan atas badannya tertanam kedalam lumpur.

14. THE LAST SEX from CROCODILE (1996)
Untuk pertama kalinya kedua abjad utama film ini bekerjasama seks tanpa adanya paksaan dan sebab sama-sama menginginkannya. Ironisnya itu juga ialah terakhir kalinya mereka bekerjasama seksual. Iringan musik yang digunakan pada adegan ini tidak pernah bisa lepas dari ingatan saya. Sangat luar biasa.

13. CONJUGAL VISIT from BAD GUY (2001)
Sun-hwa mengunjungi Han-gi di penjara. Disinilah untuk pertama kalinya saya merasa Sun-hwa benar-benar menyayangi Han-gi. Dengan berurai air mata ia melampiaskan emosinya pada Han-gi yang hanya bisa melamun dengan rokoknya. Sebuah adegan dengan romantisme yang unik namun begitu menyentuh.

12. GIRL AND HER DOG from ADDRESS UNKNOWN (2001)
Bagaimana cara Eun-ok melampiaskan hasrat seksualnya? Ternyata ia menentukan bercanda dengan anak anjing yang ia miliki kemudian membiarkan anjing tersebut menjilati kemaluannya. Disisi lain, Jihum yang begitu menyayangi Eun-ok mengintip dari balik jendela memperhatikan bagaimana gadis yang ia puja melampiaskan hasratnya.

11. SUICIDE ATTEMPT from THE ISLE (2000)
Ada dua adegan percobaan bunuh diri yang terasa menyakitkan dan sama-sama memakai kail pancing di film ini. Tapi saya lebih "menyukai" adegan ketika Hee-jin mencoba bunuh diri dengan mengaitkan mata kail di kemaluannya kemudian mengikatkan benangnya pada bahtera yang tengah berjalan. Menyakitkan disaat Hee-jin ingin mati ditangan laki-laki yang begitu ia cintai.

10. LEAVING THE PATH from SAMARITAN GIRL (2004)
Sang ayah mengajari puteri yang begitu ia sayangi menyetir kendaraan beroda empat sambil memberi tanda pada jalur yang harus ia lewati. Secara rahasia sang ayah meninggalkan puterinya sendiri. Untuk apa? Tidak lain untuk melepaskan puterinya hidup di jalannya sendiri sehabis "melatihnya" mengarungi jalan penuh bebatuan tersebut.

9. FATE from DREAM (2008)
Salah satu film paling cerah dari Kim Ki-duk ini diakhiri dengan cukup tragis ketika kedua karakternya menentukan bunuh diri. Namun Ran yang gantung diri berkembang menjadi kupu-kupu mengunjungi Jin yang lebih dahulu bunuh diri. Diatas hamparan salju putih keduanya pun berpegangan tangan. Akhirnya mereka bisa bersatu.

8. DRAGGED BY A CAR from PIETA (2012)
Dengan rasa sakit hati sehabis kehilangan sang ibu, Kang-do menentukan mengakhiri hidupnya dengan mengikatkan tubuhnya di sebuah mobil. Mobil tersebut melaju di pagi buta sambil meninggalkan jejak darah Kang-do yang mewarnai aspal jalan. Tragis namun dikemas dengan begitu indah oleh Kim Ki-duk.

7. BROKEN GLASS from BAD GUY (2001)
Sun-hwa kesudahannya sadar bahwa Han-gi selama ini terus memeprhatikannya dari balik kaca. Han-gi pun menyalakan korek api, pertanda keberadaannya. Sun-hwa kesudahannya memecahkan beling penghalang diantara mereka berdua. Contoh tepat keindahan sinematografi yang membalut adegan emosional sampai terasa begitu menyentuh. 

6. DROWN WITH LOVE from CROCODILE (1996) 
Sederhana saja, salah satu referensi tepat bagaimana Kim bisa mengemas ending yang tragis namun disisi lain menyimpan impian sekaligus keindahan. Kedua tokoh utamanya duduk bersandingan di bawah sungai Han, mengakhiri hidup mereka bersama.

5. THE PREGNANT GIRL from THE COAST GUARD (2002)
Mee-young yang mengalami tekanan mental sejak selesai hidup kekasihnya diketahui hamil. Saat sang abang memerintahkannya mencari siapa diantara para tentara yang bekerjasama seks denagnnya, Mee-young mulai mencium satu per satu dari mereka yang melaksanakan tindakan tersebut. Mengenaskan melihat Mee-young yang terlihat begitu senang disini. Tentunya iringan musik yang ada terasa begitu menyayat.

4. I AM THE SOLDIER from THE COAST GUARD (2002)
Adegan epilog yang lagi-lagi terasa begitu menghantui disaat Kang yang berseragam lengkap dengan menenteng senapan bernyanyi ditengah kerumunan orang di sentra kota. Dia pun mulai "berlatih" dengan senjatanya. Saya pun hanya bisa terpaku melihat Kang mengarahkan senjatanya kearah kamera.

3. SPRING SONG from BREATH (2007)
Momen paling ceria dalam sejarah film Kim Ki-duk. Yeon mengunjungi Jang-jin dan mendekor ruangan dengan suasana demam isu semi. Ia pun bernyanyi dengan begitu ceria, mengajak saya untuk juga turut tersenyum dan secara tidak sadar bersenandung mengikuti nyanyian dan tariannya.

2. THE ISLAND from THE ISLE (2000)
Ah, lagi-lagi sebuah ending yang dirangkai dengan simbolisme indah dari Kim Ki-duk. Sang laki-laki terlihat berenang menuju sebuah rerumputan yang ternyata ialah rambut kemaluan sang wanita. Manusia memang selalu singgah kepada insan lain meski itu hanya sebatas kekerabatan seksual.

1. KISSING from 3-IRON (2004)
Sederhana. Adegan paling romantis dalam film Kim Ki-duk, sekaligus merupakan adegan ciuman paling romantis yang pernah saya lihat dalam semua film. Romantis, romantis, romantis.

Ini Lho Kim Ki-Duk Films: Worst To Best Ranking

19 tahun berkarya, 20 film dan puluhan penghargaan berkelas internasional. Hal tersebut merupakan bukti bagaimana kehebatan seorang Kim Ki-duk sebagai seorang sutradara. Tanpa berbekal pendidikan formal mengenai perfilman dan hanya mengandalkan keinginan yang kuat, Kim bertransformasi dari seorang bocah kampung miskin yang tidak bisa membiayai sekolahnya menjadi seorang sutradara yang begitu dihormati di seluruh dunia. Semenjak pertama kali menonton filmnya di Spring, Summer, Fall, Winter...and Spring saya perlahan semakin jatuh cinta tidak hanya akan karya-karyanya tapi juga terhadap bagaimana caranya "bertarung" dalam kehidupan. Bagi saya sendiri Kim Ki-duk kini bukan hanya seorang sutradara yang karyanya saya sukai namun juga menjadi isnpirator paling besar bagi saya untuk terus berkarya. Seperti yang sudah saya singgung dalam artikel "30 Momen Terbaik Kim Ki-duk", bahwa dikala itu saya tengah menyusun list berikutnya mengenai Kim Ki-duk yang berisi ranking filmnya dari yang terburuk hingga yang paling saya sukai. Disini saya menyusun ranking dari kesembilan belas film tersebut dari yang berdasarkan saya paling jelek hingga yang terbaik.


20. ONE ON ONE (2014)
His latest and his absolute worst. Tema penyiksaan beserta sindiran politik harusnya masakan empuk sang sutradara. Tapi Kim justru melunak dalam film ini. Kebrutalan terkesan biasa saja, begitu pula penggalian sisi kelam karakter. Ambisi besar yang berujung kegagalan. (review)

19. TIME (2006)
Operasi plastik ialah sebuah fenomena sosial yang begitu besar di Korea Selatan. Bagaimana kalau seorang Kim Ki-duk mengangkat dongeng tersebut dalam filmnya? Sayangnya Time justru menjadi film Kim yang terburuk. Alurnya terasa berputar di kawasan yang sama secara terus menerus. Opening yang disturbing hingga ending ambigunya tidak sanggup menyelamatkan bab utamanya yang terasa kurang menarik. (review)


18. CROCODILE (1996)
Film perdana sang sutradara. Dibuat dengan begitu banyak keterbatasan, banyak aspek teknis mulai dari noise bunyi yang mengganggu hingga editing yang masih belum rapih. Crocodile nampaknya memang layak disebut sebagai pencarian jati diri seorang Kim Ki-duk. Cho Jae-hyun bermain begitu baik namun sayang karakternya tidak simpatik menyerupai abjad lain dalam film Kim. Tapi toh ending-nya masih begitu indah. (review)


17. BREATH (2007)
Tahun 2006 dan 2007 nampaknya menjadi titik terbawah dalam kualitas film Kim Ki-duk. Setelah Time yang mengcewakan, Breath menghadirkan dongeng cinta yang jauh lebih menarik dan memiliiki salah satu adegan favorit saya diantara film-film Kim. Tapi secara keseluruhan Breath berjalan terlalu biasa. Tidak buruk, hanya saja terasa kurang ada ambisi untuk menjadi besar di dalamnya. (review)


16. REAL FICTION (2000)
Proses syuting film ini memang jauh lebih Istimewa dari filmnya sendiri. Diambil dalam waktu 3,5 jam sehabis rehearsal selama kurang lebih 3 jam, Real Fiction diambil tanpa re-take dan secara real time. Anda bisa melihat banyak kru yang menyamar menjadi figuran untuk mengamankan lokasi syuting disaat bersamaan. Ceritanya ialah revenge standar menyerupai secara umum dikuasai thriller Korea, tapi aspek surrealnya menciptakan film ini jauh lebih menarik. (review)


15. AMEN (2011)
Film drama pertama Kim sehabis hampir tiga tahun berhenti menciptakan film. Hanya bermodalkan kru dua orang termasuk ia dan sang aktris, Amen dipenuhi kesederhanaan teknis. Ceritanya sendiri dirangkum tanpa adanya naskah disaat syuting berjalan. Semua yang hadir murni berasal dari mulut impulsif dari rasa yang dimiliki sang sutradara. Namun justru disitulah yang menciptakan saya menyukai film ini. Ada kejujuran rasa yang muncul dari gambarnya yang sederhana. (review)


14. WILD ANIMALS (1996)
Mudah mengikuti karya Kim yang satu ini. Alurnya berjalan secara linier tanpa metafora maupun simbol yang "berlebih". Tingkat kekerasan dan seksualnya pun tidaklah menyakitkan untuk ditonton. Aspek teknis yang ada sudah jauh lebih baik daripada film  debutnya yang rilis tidak hingga setahun sebelumnya. Cho Jae-hyun disini mengatakan sekali lagi bahwa ia ialah bintang film yang tepat untuk menggambarkan visi film-film awal Kim Ki-duk. (review)


13. ADDRESS UNKNOWN (2001)
Kisah perihal orang-orang yang terluka batinnya ini ialah salah satu pola tepat bagaimana Kim Ki-duk menggambarkan horror dalam kehidupan setiap manusia. Menghadirkan banyak adegan janjkematian ataupun seksual yang disturbing (anjing menjilat kemaluan?), film ini sebetulnya bisa jadi jauh lebih baik kalau mengurangi jumlah karakternya sedikit saja. (review)


12. ARIRANG (2011)
Bahkan dalam dokumenternya yang begitu jujur inipun Kim masih menyelipkan aneka macam metafora ataupun simbolisme di dalamnya. Mungkin sebuah film yang membosankan bagi mereka yang bukan pecinta karya sang sutradara, tapi bagi saya ini ialah sebuah dokumenter personal dari sang sutradara yang tidak hanya terasa menyentuh tapi juga mengajak penontonnya melihat lebih jauh mengenai isi hati Kim Ki-duk. (review)


11. PIETA (2012)
Mungkin bagi para penonton non-fans Kim Ki-duk ini ialah filmnya yang paling dikenal. Tidak hanya alasannya ialah ini film Kim yang paling gres tapi juga alasannya ialah melalui film ini jugalah ia menjadi orang Korea pertama yang berhasil meraih penghargaan tertinggi di salah satu dari tiga festival film paling bergengis di dunia (Cannes, Venice, Berlin). Mungkin dongeng ibu-anak paling gila yang pernah diangkat dalam film. (review)


10. DREAM (2008)
Sedari awal film ini tidaklah sekelam dan sedpresif film-film Kim yang lain. Kedua abjad utamanya terasa lebih punya impian dan lebih cerah, bahkan filmnya menyempilkan beberapa humor. Mungkin salah satu film Kim dengan ending paling spesial. Tidak saja alasannya ialah dihadirkan dengan tragis namun indah menyerupai biasa tpai juga adegan itulah yang sempat menciptakan sang sutradara menyepi di gunung selama hampir tiga tahun untuk introspeksi diri. (review)


9. THE BOW (2005)
Lagi-lagi sebuah dongeng cinta yang asing dari Kim Ki-duk. Menampilkan bagaimana sebuah busur panah sanggup dimakanakan sebagai hidup ataupun cinta, The Bow berkisah tidak hanya perihal indahnya sebuah cinta nanuh juga indahnya kehidupan disaat kita sudah melesat bebeas menyerupai anak panah yang telah ditembakkan oleh busurnya. (review)


8. BAD GUY (2001)
Kolaborasi kelima sekaligus terakhir antara Kim Ki-duk dan bintang film Cho Jae-hyun sebelum alhasil mereka berenui kembali lewat Moebius di tahun ini. Dirilis pada masa disaat karir Cho tengah mencapai puncaknya, film ini juga mengatakan akting terbaik sang bintang film sebagai seorang tukang pukul yang tidak pernah berbicara. Ada aneka macam banyak momen indah termasuk ending yang ambigu menyerupai biasa. (review)


7. BIRDCAGE INN (1998)
Kim Ki-duk tidak perlu bermelodrama ria untuk mengeksploitasi kesulitan hidup yang dialami oleh abjad dalam filmnya. Kehidupan seksual tidak pernah terasa seindah ini dan seorang abjad pekerja seks dalam film tidak pernah bisa mengambil simpati sebesar yang dilakukan abjad dalam film ini. Inilah film yang mulai memperkenalkan nama Kim kepada dunia untuk pertama kalinya. (review)


6. THE COAST GUARD (2002)
Tidak perlu menghadirkan adegan baku tembak yang epic dan berskala besar untuk menggambarkan horror yang tersaji dalam peperangan. Kim Ki-duk melaksanakan hal itu. Bagaimana psikologis mereka yang terjebak dalam perang begitu terluka sanggup digambarkan dengan begitu baik disini. Awalnya hanya dua orang yang menjadi "media", namun usang kelamaan semua karakternya ikut karam dalam "kegilaan" tersebut. Ending-nya begitu mengharukan. (review)


5. SPRING, SUMMER, FALL, WINTER...AND SPRING (2003)
Perkenalan saya dengan film Kim Ki-duk. Film ini juga merupakan salah satu film tersukses Kim baik dari penghargaan yang diterima maupun dari uang yang didapatkan. Film inipun menandai perubahan gaya dari Kim yang sebelumnya identik dengan kekerasan dan amarah menjadi lebih sampaumur dan menghadirkan film yang lebih sepi nan puitis. (review)


4. MOEBIUS (2013)
Biasanya Kim Ki-duk mengeksporasi relasi antara laki-laki dan perempuan atau kehidupan seorang wanita. Tapi disini ia lebih berfokus pada relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya meski ada beberapa abjad perempuan di dalamnya. Dengan segala kesederhanaan teknis, film ini tidak sederhana dalam menghadirkan kisahnya. Ini ialah kilmaks kegilaan dari Kim Ki-duk dimana ia sedikit meninggalkan keindahan gmbar yang juga jadi ciri khasnya hingga menciptakan film ini semakin terasa "kasar". Penuh darah, adegan brutal, tapi yang lebih penting bagaimana eksplorasi terhadap sisi gelap manusianya yang benar-benar mendalam disini. Sinting. (review)


3. SAMARITAN GIRL (2004)
Jika Spring ialah perkenalan, maka film ini ialah yang menciptakan saya secara resmi jatuh cinta akan karya-karya Kim Ki-duk. Sebuah dongeng tepat perihal penebusan dosa dan pemaknaan kembali akan apa itu kesucian. Karakter dan segala konflik yang ada di sekitarnya hadir dengan begitu baik, dan tentunya hadir pula sebuah ending penuh makna yang menjadi salah satu favorit saya. (review)

2. 3-IRON (2004)
Mungkin ini ialah film yang paling bisa merepresentasikan segala karya dan ciri khas dari sang sutradara. Kim Ki-duk sendiri mengakui bahwa ini ialah film favoritnya. Tanpa kekerasan maupun konten seksual yang gamblang, film ini mengalun sepi disaat kedua abjad utamanya hampir tidak pernah berdialog sama sekali. Tapi meski begitu cinta yang terjalin antara keduanya begitu indah. Tentunya adegan ciuman menjelang ending itu begitu indah dan menjadi momen favorit saya dari semua film Kim. Sebuah dongeng cinta spiritual yang begitu indah. (review)


1. THE ISLE (2000)
Ini ia film yang menciptakan nama Kim Ki-duk diakui untuk pertama kalinya. Semua hal yang saya harapkan dari film Kim hadir semua disini. Adegan seksual yang gamblang? Ada. Adegan kekerasan sngat menyakitkan? Film ini punya banyak. Penyiksaan terhadp hewan? (sayangnya) ada. Karakter yang tidak berbicara? Kedua abjad utamanya tidak pernah berbicara. Visual yang indah? Tentu saja ada. tone yang kelam? Ada juga. Ending yang sureal dan ambigu? Film ini punya ending terbaik dalam film-film Kim Ki-duk. Jika anda mulai mengenal film-film Kim beserta segala ciri khasnya, maka The Isle ialah rangkuman dari semua signature yang ia miliki. (review)