Showing posts with label Alexandre Desplat. Show all posts
Showing posts with label Alexandre Desplat. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Based On A True Story (2017)

Art imitates life. Karya seni mengimitasi realita. Istilah tersebut bahwasanya erat kaitannya dengan metode seorang seniman mengais inspirasi, yakni bersumber dari dunia nyata. Tapi dalam perjalanannya, penciptaan karya, yang juga merupakan proses penciptaan kehidupan di tatanan fiktif, sanggup memunculkan efek berkebalikan apabila sang pembuat karya mulai terseret terlampau jauh menuju kreasinya. Terjadilah life imitates art. Hal ini jadi pokok bahasan Based on a True Story yang menampilkan kerja sama Roman Polanski (The Pianist, Chinatown, Rosemary’s Baby) dan Oliver Assayas (Personal Shopper, Clouds of Sils Maria) sebagai penulis naskah. Hanya saja, proses observasi itu ditambahi bumbu thriller.

Seorang novelis yang gres meraih kesuksesan perdana, tersiksa tanggapan kebuntuan menulis, kemudian bertemu penggemar misterius seiring dengan memudarnya batasan fantasi dan realita sang novelis. Premisnya familiar, apalagi bagi kedua penulis naskah. Film terakhir Polanski, Venus in Fur (2013) serta judul-judul lamanya kerap membahas soal itu, sementara Assayas, hampir di tiap karyanya, gemar bertutur ihwal krisis eksistensial. Paruh awalnya bekerja layaknya drama psikologis observasional pada umumnya, dikala Delphine (Emmanuelle Seigner, istri Polanski) berkenalan dengan Elle (Eva Green), si penggemar berat yang ia rasa amat mengerti isi hati dan pikirannya. Dari penggemar-idola, korelasi keduanya cepat menjelma persahabatan.
Delphine bersedia mengatakan ringkasan novel terbaru yang tengah susah payah ia tulis, memberitahu kata sandi komputernya, bahkan mengizinkan Elle tinggal di apartemennya sementara waktu. Kehadiran Elle dirasa bisa melucuti beban Delphine, yang bukan cuma buntu, pula sedang menghadapi teror dari surat misterius yang menuduhnya mengeksploitasi malu keluarga lewat novel. Semakin jauh kisahnya bergerak, nuansa thriller makin kental merasuk, bahkan mencapai third act, Based on a True Story mulai terang-terangan merujuk pada Misery (1990), lengkap dengan penulis yang kakinya terluka dan mesti terus berbaring.

Di tangan Polanski selaku sutradara, Based on a True Story lebih condong ke ranah slow-burning thriller ketimbang drama meditatif sebagaimana pendekatan Assayas sebagai sutradara. Pun tak mengejutkan dikala aroma psikoseksual kurang jelas tercium di balik interaksi Delphine dan Elle. Kadang kamera Polanski bergerak terlampau lambat, namun ada kalanya perpindahan sekuen terlalu cepat. Hasilnya sama. Potensi ketegangan urung memuncak. Klimaksnya sendiri menghadirkan perjuangan Polanski mengajak penonton mengecap atmosfer film suspense masa 70-80an, dilengkapi orkestra mencekam Alexandre Desplat yang kental membawa rasa dari masa tersebut.
Satu hal yang Polanski tahu pasti, bahwa Eva Green bisa membuat intensitas. Kamera pun seolah begitu mantap menangkap setiap mulut sang aktris. Berkat sang aktris pula, gampang memahami alasan Delphine tetap terobsesi kepadanya walau telah melalui sejumlah pertengkaran, kekangan, dan sikap histerikal Elle. Green mempunyai sorot mata menghipnotis, yang sekalinya mencengkeram, sulit untuk melepaskan diri darinya. Terkadang, Polanski pun memanfaatkan Green guna memproduksi creepy factor, sewaktu rahasia sekaligus tiba-tiba, ia sudah berada di satu sudut ruangan.  Kedua penampil utama sama-sama memamerkan transformasi dengan gradasi bertahap. Green dari penggemar antusias yang tak jarang seduktif, sementara Seigner perlahan semakin kehilangan pegangan atas realita.

Penutupnya menyimpan twist yang sanggup terlihat terperinci bahkan sedari menit pertama kalau anda familiar dengan karya-karya Polanski maupun Assayas. Tapi twist itu bukan semata soal daya kejut, alasannya Based on a True Story bicara mengenai bagaimana kesuksesan dan ketenaran dadakan membuat tekanan, kebuntuan penulis yang mengikuti kesuksesan itu, juga proses mengkreasi kehidupan. Semua ini yaitu soal observasi terhadap proses, bukan hasil akhir. Pun filmnya memancing pertanyaan, “bukankah tiap bentuk karya seni, kalau dilihat dari aspek tertentu, sejatinya dibentuk menurut dongeng nyata?”.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Valerian And The City Of A Thousand Planets (2017)

Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang  seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia daerah aksara itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melaksanakan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya dikala kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan formasi pemain film kenamaan sekaligus imbas CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman aksara atau dongeng solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.

Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang tepat membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan acara luar angkasa insan dari masa ke masa, berujung pada era 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama membuatkan kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) yakni anggota kepolisian insan yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies binatang langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi banyak sekali daerah di galaksi, bertemu alien bermacam-macam bentuk, juga menyelidiki bencana masa kemudian yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian dongeng dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum hingga titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di daerah lain, menetap di sana menikmati suasana, gres lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one

Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan berpengaruh di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, dominan konflik berujung sekuen agresi tidak didorong perjuangan tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup dikala terancam ancaman jawaban terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar insan dan keburukan alami mereka (kita). 
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, alasannya bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner bisa membuat sederet lingkungan, teknologi, hingga kegiatan tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar membisu di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan lisan kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang eksklusif menghentak semenjak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal sanksi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.

Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pendekar sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori jelek Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara bisa pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh perempuan idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas bawel milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan aksara (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah badan di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.


Ulasan untuk film ini sanggup dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Three Billboards Outside Ebbing, Missouri / The Shape Of Water / Loving Vincent

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibentuk dengan lukisan ini terperinci pantas menerima perhatian anda.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, hingga kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, yummy diikuti, pula gampang dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam menilik kasus pembunuhan dan pelecehan seksual puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill yakni polisi pola yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan menggunakan kekerasan. Kesenduan Harrelson bisa mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand yakni pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), hemat gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan bermacam-macam gempuran yang tidak mungkin diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)

The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam info sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk sumbangan del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) yakni tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan perempuan kulit gelap berjulukan Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium belakang layar tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan perjuangan mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan semenjak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari berdiri tidur, masturbasi, menanti bus, hingga bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat kolam dunia khayal yang membuai, walau keindahan bahu-membahu gres tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya menu klasik Hollywood yang mempunyai kegunaan mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna menyayangi sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan Istimewa yang del Toro siapkan tengah bolos dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)

Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, ukiran cat air ala lukisan Vincent van Gogh menimbulkan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya menciptakan tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta maut sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan perjuangan Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian perilaku Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski bahaya pemecatan menghantui. Misteri seputar maut (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)