Showing posts with label Ario Bayu. Show all posts
Showing posts with label Ario Bayu. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho 22 Menit (2018)

22 Menit membuka dongeng melalui paparan rutinitas pagi hari karakternya. AKBP Ardi (Ario Bayu) beserta kehangatan keluarganya, Firman (Ade Firman Hakim) si polisi kemudian lintas yang mengatur jalanan Thamrin di tengah kegamangan akhir pernikahannya dengan Sinta (Taskya Namya) terancam batal, office boy bernama Anas (Ence Bagus) yang berusaha membantu kakaknya, Hasan (Fanny Fadillah) mencari kerja, juga Mitha (Hana Malasan) yang di sebuah cafe menantikan kedatangan Dessy (Ardina Rasti). Semua berjalan damai, hingga pukul 10:40, terjadi ledakan bom di persimpangan Sarinah.

Lalu layar menampilkan jam digital yang bergerak mundur beberapa menit sebelum tragedi, memindahkan fokus menuju perspektif aksara lain. Rupanya 22 Menit merupakan hyperlink cinema, atau setidaknya, berusaha menjadi itu. Meminjam deksripsi Roger Ebert, hyperlink cinema yaitu tatkala tokoh-tokoh maupun rangkaian insiden terjadi dalam kisah berlainan, namun koneksi atau imbas di antara kisah-kisah itu perlahan diungkap, menyatukan segalanya. Sederhananya, struktur satu ini yakni penyatuan kisah yang (awalnya) terpisah menggunakan satu benang merah.

Terinspirasi peristiwa bom Sarinah pada 14 Januari 2016, hyperlink  sejatinya merupakan bentuk yang tepat, mungkin malah paling efektif untuk menggambarkan bahwa korban yang berasal dari bermacam-macam kalangan, terhubung dalam satu pengalaman kolektif. Bahwa di tengah kekacauan tersebut, ada individu-individu yang menyimpan cerita, atau dalam konteks naskah buatan Husein M. Atmodjo (Parts of the Heart, Midnight Show) dan Gunawan Raharjo (Jingga), sosok tercinta masing-masing. Perspektif itu berpotensi memberi dampak emosional kuat, lantaran terdapat hal spesial, misterius, bahkan “ajaib” seputar pengalaman kolektif yang terwujud melalui kebetulan yang diprakarsai takdir.

Sayang, naskahnya gagal mempresentasikan pengalaman kolektif itu, atau mengusut kegunaan hyperlink cinema, tautan yang mestinya ada justru tiada. Ketimbang merekatkan, sanksi 22 Menit justru kacau nan membuyarkan. Fokus lemah menjadi sebab. Daripada menyoroti tokoh atau lingkup waktu tertentu di tiap “segmen”—yang dipisahkan hitung mundur jam digital—alurnya kolam produk campur aduk asal terhadap sederet plot sampingan. Sulit menyebut secara pasti, aksara atau situasi mana yang di satu titik tengah dijadikan fokus (kalau fokus itu sendiri dipunyai filmnya). Dalam hyperlink, tentu fatal andai “link”-nya sendiri hilang, yang di film ini turut menimbulkan raibnya jembatan antara dongeng dengan perasaan penonton.

Hanya subplot Hasan-Anas yang cukup berkesan, itu pun bukan berkat skrip, tetapi lantaran menyerupai dalam Guru Ngaji, Ence Bagus menampilkan sensitivitas. Matanya menyuarakan keresahan. Sisanya hampa, terlebih Mitha dan Dessy. Kita tak tau siapa mereka, tidak pula mengembangkan momen personal dengan keduanya. Kesannya, para penulis naskah yang sudah terjebak di jeratan benang kusut buatan sendiri, alih-alih coba merapikan justru menambah jalinan benang lain.

Didukung penuh pihak kepolisian, film panjang kedua produksi Buttonijo Films sehabis Another Trip to the Moon (2015) ini mempunyai production value plus penanganan agresi yang tidak main-main. Prosedur anti-terorisme ditampilkan, beberapa helikopter diterjunkan, detail properti-properti lain pun solid. Apalagi 22 Menit diambil di lokasi asli, di mana pengambilan gambar dilakukan tiap selesai ahad selama sebulan. Namun itu berakhir sebatas kemewahan kulit luar ketika duo sutradara, Eugene Panji (Naura & Genk Juara the Movie) dan Myrna Paramita kurang cakap memaksimalkan modal di atas untuk menghasilkan gelaran agresi intens. Tidak buruk, tapi melihat sumber daya miliknya, masuk akal kalau saya berharap lebih, meski Ario Bayu tentu saja tidak mengecewakan, tampak meyakinkan memerankan polisi tangguh nan pemberani yang mengangkat senjata.

Pada departemen musik, Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven) telah berusaha menyerbu indera pendengaran penonton melalui dentuman mendebarkan plus horn megah ala Hans Zimmer, tapi aksinya tidak pernah mencapai klimask. Pun tak berlebihan bila menyebut 22 Menit sebagai film nihil klimaks. Pertempuran polisi melawan teroris berakhir ketika secara umum dikuasai penonton rasanya menerka filmnya masih menyimpan amunisi lebih, dan memang seharusnya demikian. Tapi tidak. Baku tembaknya tampil pendek dalam durasi keseluruhan yang juga pendek (71 menit), kemudian memberi ruang bagi penutup yang melompat dari fokus utama (peristiwa terorisme 14 Januari), yang dibentuk hanya untuk menggambarkan gerak cepat dan kesigapan polisi memberantas antek terorisme hingga ke akarnya. Singkatnya, pembangunan citra. Terdengar voice over Vincent Rompies (tampil singkat selaku cameo) di siaran radio yang terasa melankolis, syahdu, bagus tapi pahit. Momen itu seharusnya dijadikan penutup.

Ini Lho Buffalo Boys (2018)

Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan menuntaskan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan sempurna ke badan Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi titik tembak yang terang tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata. Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, agresi yang dinanti hasilnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang 102 menit Buffalo Boys, yang terasa menyerupai perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.

Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, beliau memberikan keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan ketika Buffalo Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke Indonesia di periode kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan laki-laki tangguh amoral yang hasilnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, lantaran semoga bagaimana, ini negeri Timur.

Jamar dan Suwo terang tak berada di garis abu-abu. Keduanya cowok baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas maut ayah mereka di tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa semenjak kecil di Amerika, bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach beserta kaki-tangannya. Sakar mempunyai dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan mahir memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak dipertanyakan.

Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya luput memberikan sedih dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para pahlawan western beristirahat di malam hari di depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai, pahlawan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa kemudian dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung dilibatkan, lantaran akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua cowok nihil kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar” ketika sasaran mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melaksanakan perjalanan panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk ditunggu.

Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan riasan “kotor” di sekujur badan cocok sebagai huruf yang menghabiskan waktu usang tinggal di wild west, sementara Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di ketika bersamaan, Jamar punya kapasitas tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.

Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang jajaran pemain pendukung, termasuk para villain yang punya dandanan sekaligus sikap unik cenderung gila macam Alex Abbad dan Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat performa over-the-top yang terang lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi bahaya pada Jamar dan Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal membalikkan keadaan dengan cepat nan gampang pribadi terasa. Di luar tokoh-tokoh yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak perempuan Van Trach, yang diperankan Happy Salma, yang menunjukkan akting dengan kepekaan rasa jauh mengungguli penampil lainnya.

Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski dampaknya menurun akhir dibarengi perjuangan menghindari gunting sensor lewat penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya yaitu pemilihan sudut yang digunakan Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya lantaran keengganan direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari bersahabat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas laga, bertambah melelahkan film ini.

Anda bisa berargumen bahwa banyak sekali judul western terbaik tak mempunyai banyak aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah informasi sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul ketika filmnya sebatas memberikan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo Boys bisa menjadi citra alternatif terhadap pertempuran skala kecil bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan dahulu. Namun potensi itu karam bersama poin-poin dongeng yang berakhir sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan pelurunya.

Saya begitu menantikan Buffalo Boys lantaran variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya. Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya mengucap dialog, kerap terbenam. Makara ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018)

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta menempatkan penonton di posisi sebagaimana kita sehari-hari, sebagai rakyat, menyikapi seorang pemimpin. Coba pikirkan, seberapa sering anda mencurigai Camat, Bupati, Gubernur, hingga Presiden? Kita cenderung—dan merupakan hal wajar—menghakimi mereka berdasarkan apa yang terlihat kini. Karena kita pun tidak tahu menahu soal pertimbangan di belakang. Apalagi ketika suatu keputusan lebih berorientasi jangka panjang. Masalahnya, walau film ini berhasil menghadirkan pemahaman soal proses di balik layar itu, hal paling esensial, yakni hasil, urung ditampilkan.

Pembicaraan terkait politik beserta filosofi di belakangnya memang rumit, namun satu jam pertama Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta tampil lebih sederhana, yang mana merupakan paruh terbaiknya. Wajah bila sederhana, alasannya yaitu inilah masa di mana Sultan Agung alias Raden Mas Rangsang (Marthino Lio) masih muda dan mencar ilmu pada Ki Jejer (Deddy Sutomo) di padepokan. Menimba ilmu, baik fisik maupun batin, jadi konsentrasi utama, yang tentu saja diselingi romantika. Raden Mas Rangsang memadu kasih dengan Lembayung (Putri Marino), seorang rakyat biasa.

Romansanya hidup, selain berkat selipan interaksi keseharian santai kaya selipan humor, juga perpaduan apik Marthino-Marino. Putri Marino memudahkan siapa saja menyayangi Lembayung, si gadis dengan kekuatan fisik pula batin. Ya, batinnya tergoncang kala Raden Mas Rangsang didapuk sebagai Raja sehingga mesti pulang ke Kraton sekaligus menikahi perempuan lain yang ditentukan mendiang ayahnya. Tapi seiring kemampuan Putri mengguncang hati penonton lewat luapan emosi, turut ditegaskan bahwa ia ikhlas, memahami bila tiada pilihan. Jadilah elemen romansanya tak menyentuh ranah dramatisasi opera sabun. Ini wacana sepasang muda-mudi besar lengan berkuasa yang mendahulukan kepentingan negeri.

Di antaranya, beberapa adegan laga yang disusun solid oleh Hanung Bramantyo sesekali mengisi, menghasilkan sabung jurus menghibur khas dongeng pahlawan masa lampau. Fase masa muda Sultan Agung ditutup kudeta sarat intrik serta pertumpahan darah yang mana tak pernah lepas dari sejarah kerajaan mana pun. Kemudian kisahnya melompat beberapa tahun, beranjak menyelami konflik politis kompleks dan peperangan kolosal yang mengetengahkan perlawanan Kerajaan Mataram terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC.

Dari Marthino Lio, Sultan Agung berilmu balig cukup akal anti diperankan Ario Bayu. Anda akan sadar betapa cerdik casting film ini begitu melihat kemiripan paras kedua aktor. Ario memerankan Sultan Agung yang telah tumbuh jadi Raja berkepribadian keras yang menolak berkompromi kala VOC berusaha menundukkan Mataram melalui kedok kolaborasi dagang dengan hukum mencekik. Lembayung berilmu balig cukup akal diperankan Adinia Wirasti, yang bukan saja jago mengolah rasa, juga meyakinkan melakoni porsi aksi. Sementara Ario, lewat wibawanya, mulus memerankan Raja yang mantap menyerukan teriakan perang “Mukti utawa mati!”.

Sultan Agung tetapkan menabuh genderang perang, mengerahkan ribuan rakyat termasuk sekumpulan petani guna menyerbu VOC di Batavia, meski berdasarkan beberapa pihak termasuk sang paman, Tumenggung Notoprojo (Lukman Sardi), itu kolam misi bunuh diri. Tapi Sultan tidak bergeming. Mengapa harus menyerah kalau ujungnya kehilangan harga diri sebagai budak penjajah? Di sini kompleksitas muncul, ketika mereka yang menaruh kepercayaan sekalipun, niscaya akan bertanya-tanya, “Apakah Sultan sudah dibutakan harga diri hingga membiarkan ribuan rakyat meregang nyawa?”.

Korban berjatuhan, pasukan Mataram tersudut, kian gampang baik bagi rakyat dan penonton mencurigai Sultan. Sepanjang pertempuran, jarang kita melihat Sultan, apalagi memperoleh detail soal pendorong keputusan kontroversialnya. Naskah karya BRA Mooryati Soedibyo (juga produser dan produser eksekutif), Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2), dan Bagas Pudjilaksono memang sengaja meninggalkan penonton dalam ketidaktahuan, serupa yang dialami pasukan Mataram di medan perang, yang lebih sering kita tengok kondisinya. Kita sama-sama ada dalam “ruang gelap”, menduga-duga maksud Sultan sebagaimana pada umumnya rakyat mempertanyakan perilaku sang pemimpin.

Sekuen peperangan di benteng Batavia tampil problematik. Benar tata artistik, semisal kostum dan properti persenjataan tampak solid. CGI yang digunakan menggambarkan ribuan insan di medan laga pun nyaman dilihat. Poin mengganjal justru ketiadaan paparan taktik. Apa seni administrasi Mataram, hingga Jan Pieterzoon Coen (Hans de Kraker) kaget, mempertanyakan dari mana mereka paham cara mengepung benteng? Kita hanya akan melihat serbuan acak yang terkesan asal gempur. Lalu apa alasannya yaitu VOC berbalik unggul? Tidak ada perubahan taktik, kecuali mendadak beberapa orang, termasuk J.P. Coen, menembakkan senapan (yang anehnya, merupakan pengulangan adegan flashback sebelumnya). Atau lantaran menang jumlah? Sulit dipastikan, mengingat sepanjang sekuen, pasukan Mataram justru terlihat unggul kuantitas.

Setelah lokasi pindah ke hutan, gres peperangan lebih menarik. Satu-satunya momen berisi seni administrasi jitu hadir di sini, sewaktu prajurit Mataram memakai otak, memanfaatkan alam guna memberi pukulan terbesar bagi VOC. Pada fase ini, ada tata kamera menarik berupa siluet berlatar belakang warna jingga dari nyala obor. Faozan Rizal memang hebat bermain bayangan. Contoh lain eksplorasi bayangan dalam sinematografi tersaji ketika ibunda Sultan Agung, Gusti Ratu Banowati (Christine Hakim) memberi petuah kepada sang anak. Suasana ruang remang-remang, sebagian wajah Christine maupun Marthino gelap, memunculkan keintiman nan khidmat.  

Kembali menuju keputusan kontroversial Sultan. Pernyataan bila perang ini bakal terasa dampaknya 100 tahun ke depan merupakan kunci. Saat itulah perkiraan aku menjadi fakta, didukung oleh sekuen berikutnya, yang menegaskan mengapa kebesaran Sultan Agung perlu kita ketahui. Sultan memikirkan masa depan. Dia memupuk bibit generasi mendatang semoga kelak sanggup menuai usaha generasi kini, yang dengan terpaksa harus berkorban bertaruh nyawa. Masalahnya, hasil faktual siasat Sultan Ahanya ditaruh di teks sebelum credit akhir. Kita tak pernah melihatnya divisualisasikan. Itu kenapa, sehabis 148 menit, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta terasa gres melaju separuh jalan. Tidak peduli seberapa mumpuni, separuh jalan tetaplah kurang utuh.

Ini Lho The Returning (2018)

Saya pertama menyaksikan The Returning sekitar 2 bulan kemudian dalam suatu test screening pagi hari. Mengira bakal disuguhi creature feature (seperti Jeepers Creepers misal), saya terkejut mendapati debut penyutradaraan penuh Witra Asliga—pasca 5 tahun kemudian menggarap segmen Insomnights dalam omnibus 3Sum—ini yaitu horor psikologis slow burning. Ekspektasi yang meleset ditambah fakta jika pemutaran dilakukan pukul 9:00 dikala nyawa ini belum sepenuhnya terkumpul, saya pun memutuskan bakal menonton ulang.

Pada pengalaman kedua, walau aneka macam kelemahan tetap terpampang nyata, saya dibentuk terkesan oleh kesubtilan penulisan naskah Witra. Begitu terpelajar ia menyembunyikan intensi orisinil abjad melalui beberapa sikap tak mencurigakan, yang rupanya punya maksud lain sehabis kebenaran diungkap jelang akhir. The Returning diawali kecelakaan yang menimpa Colin (Ario Bayu). Dia terjatuh dikala sedang memanjat tebing. Pencarian dilakukan, tapi tubuhnya tak jua ditemukan.

Tiga bulan berlalu tanpa progres. Colin meninggalkan 2 anak, Maggie (Tissa Biani Azzahra) dan Dom (Muzakki Ramdhan), juga seorang istri, Natalie (Laura Basuki), yang menolak mendapatkan kenyataan bahwa sang suami telah tiada. Berbagai perjuangan dilakukan, dari menemui psikolog, hingga menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai pengrajin tanah liat, namun tidak banyak membantu. Akibatnya, hubungan Natalie dengan Maggie memburuk, di mana pertengkaran jadi rutinitas. Belum lagi tekanan dari sang mertua (Dayu Wijanto), yang meski murah senyum serta mengasihi kedua cucunya, gemar melontarkan komentar sinis pada Natalie. Dayu Wijanyo cocok melakoni tugas ini, menyebabkan Oma abjad yang dengan bahagia hati kita benci.

The Returning dengan penuh kesabaran menggunakan lebih banyak didominasi durasinya mengeksplorasi sedih yang Natalie alami, pelan-pelan mengungkap beban demi beban karakternya, disokong oleh penampilan cukup solid dari Laura Basuki yang bisa meletupkan emosi kala dibutuhkan. Tapi kadangkala, eksplorasi film ini terasa melelahkan, bukan dipicut tempo lambatnya, melainkan keberadaan momen maupun abjad minim signifikansi. Sebutlah Yasmin (DJ Yasmin) yang andai dihilangkan pun, takkan seberapa mempengaruhi kondisi psikis Natalie.

Sementara itu, musik dreamy garapan Lie Indra Perkasa (Tabula Rasa, Banda the Dark Forgotten Trail) dan lagu haunting berjudul Kecuali Cahaya yang dibawakan Danilla Riyadi mampu menghanyutkan dalam isi pikiran Natalie yang memang tengah melayang-layang dihantui angan-angan serta luka. Tata kostum bersama departemen artistik yang menampilkan nuansa 90an tanpa terkesan pamer secara berlebihan, juga sinematografi Abdul Dermawan Hadir (Sinema Purnama) yang mengutamakan pemakaian warna hijau, senantiasa memanjakan mata.

Kemudian, di suatu malam Jumat, secara tiba-tiba Colin pulang ke rumah. Tanpa luka, hanya sikap yang lebih hirau taacuh dan sedikit asing di awal. Tapi seiring waktu, Colin semakin normal. Setidaknya di depan, lantaran di belakang, keanehan-keanehan justru makin sering terjadi. Cuma terdapat satu jump scare di sini, yang sayangnya sudah dibocorkan oleh trailer-nya. Dipandang dari cara monsternya muncul, adegan itu tidak spesial, tapi dibangun dengan sempurna, demikian pula pilihan timing Witra, yang efektif menciptakan penonton tersentak. Sisanya, Witra menolak mengandalkan “trik murahan”. Sang sutradara ingin menciptakan kita takut, bukan terkejut.

Hasilnya tidak selalu baik. Witra terang mempunyai kreativitas tinggi, yang dibuktikan lewat beberapa momen, semisal kemunculan pertama monster atau teror menggunakan papan scrabble. Masalahnya ada di hook. Seringkali, pilihan sudut kameranya gagal memancing bulu kuduk berdiri. Pembangunannya justru kerap lebih mencekam, di mana saya menyukai beberapa penggunaan voice over guna menyiratkan bahwa sesuatu tidak menyerupai kelihatannya. Desain monsternya pun menarik, walau mata merah dan aura hijau di sekujur badan yang dimaksudkan menguatkan kesan out-of-this-world justru mengganggu lantaran tampak artificial.

Klimaks yang mestinya jadi puncak justru bergulir lemah. Setelah melewati sepanjang durasi bergerak dengan penuh kesabaran, The Returning justru tampil buru-buru kala third act, luput menekankan aneka macam poin yang bisa menambah intensitas pula balutan emosi (elemen “tanda mahar” berpotensi menghadirkan konflik rasa yang lebih rumit bagi karakternya). Untungnya ada satu penyelamat, yang menawarkan hati sebagaimana filmnya butuhkan. Penyelamat itu berupa penampilan Muzakki Ramdhan yang sukses memannfaatkan sebuah momen singkat. Pasca The Returning juga A Mother’s Love-nya Joko Anwar, tidak sabar rasanya menantikan masa depan pemain drama cilik ini, termasuk Gundala tahun depan. Way to go, Kiddo!

Monday, November 5, 2018

Ini Lho 5 Pemuda Jagoan: Rise Of The Zombies (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", lantaran daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang andal mengayunkan katana bukan laki-laki berperilaku normal. Dia kolam sufi cinta hening yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berkembang menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima pendekar kita asing luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut ialah pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, kemudian mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi korelasi Yanto-Dewi lah aktivis alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih kesepakatan keempat sobat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa kemudian itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapat televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian menciptakan penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan abstrak tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laris mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, hingga terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan pengaruh bunyi yang sudah lewat masa keemasannya selaku suplemen komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif kemudian bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat pemain film "dramatik" mencoba tugas konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum ketika secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang tampaknya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai sabung penuh gaya, ibarat tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat dosis gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.

Ini Lho Bunda: Dongeng Cinta 2 Kodi (2018)


Inspira Pictures. Dengan nama menyerupai itu, bisa ditebak rumah produksi satu ini bertujuan melahirkan film inspiratif. Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi selaku karya komersil perdananya merupakan penyesuaian novel Cinta 2 Kodi buatan Asma Nadia, yang didasari dongeng faktual Kartika, seorang pengusaha baju muslim anak. Film ini bukan cuma ingin bicara soal kesuksesan bisnis, walau bagaimana Kartika bisa berbagi perjuangan kecilnya jadi sebesar kini sejatinya sudah cukup mengagumkan. Tapi ini buah pikir Asma Nadia. Harus ada yang lebih dari sekedar menghasilkan uang.

Ibarat proses menciptakan lagu, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi menyertakan sebanyak mungkin instrumen demi hasil maksimal. Ketika semua alat beserta musisi telah terkumpul, sang komposer justru kebingungan menata porsi dan posisi masing-masing.  Pun sang komposer meminta penggebuk drumnya memainkan pedal ganda walau lagunya bergenre pop. Proses sederhana jadinya berujung kerumitan tak perlu. Kartika (Acha Septriasa) tertegun mendapati suaminya, Fahrul (Ario Bayu) meminta izin menikah lagi untuk memenuhi harapan ibunya yang sakit parah. Apa perlunya konflik ini?
Fahrul bahkan meminta Kartika menggugurkan bayi kedua mereka. Lagi-lagi apa perlunya? Selain itu, usul ini berlawanan dengan penokohan Fahrul si ayah penyayang. Melompat ke pertengahan film, Fahrul tak sengaja menjatuhkan materi pesanan Kartika. Fahrul yakin materi itu jatuh ketika ia nyaris tertabrak mobil. Bila saya di posisi Fahrul, saya akan bergegas kembali ke lokasi, mencarinya. Alih-alih demikian, Fahrul cuma minta maaf, meratap, masuk ke dalam rumah. Tentu Kartika murka besar. Masalah yang takkan berkepanjangan bila terjadi pada insan normal di dunia nyata.

Penokohan Kartika bersama-sama cukup menarik. Dia mengatur hidup kedua puterinya, angkuh, karam dalam pekerjaan dan lupa keluarga. Keputusan karakterisasi yang dalam konteks “film inspiratif” termasuk berisiko sehingga patut diapresiasi. Andai konflik dikerucutkan di cuilan ini, ialah wacana orang renta yang membanting tulang demi para buah hati namun sempat melupakan tujuan tersebut, alurnya bakal lebih tertata. Sebab seiring duduk kasus bertambah, makin sulit mengidentifikasi arahnya. Soal pemberdayaan wanita? Kesetiaan cinta? Pengorbanan ibu bagi anak? Mana yang utama mana yang pendukung tampak kabur, tak saling mengikat, seolah berdiri sendiri-sendiri.
Penyutradaraan Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo untungnya mempunyai sensitivitas. Lihat dikala Fahrul memohon semoga Kartika menerimanya lagi. Ali dan Bobby enggan meledakkan dramatisasi. Dibungkus cahaya temaram sinematografi Yadi Sugandi, dialognya diucapkan setengah berbisik pun tanpa musik. Kedua sutradara membangun keintiman sembari mengandalkan akting pemain. Acha dituntut meluapkan amarah sambil berteriak berulang kali dan sanggup membuatnya tidak repetitif. Selalu ada detail kecil untuk pembeda antar situasi. Bermodalkan charm-nya, Ario Bayo meyakinkan memerankan sosok ayah idola anak-anaknya, yang turut diperankan dengan baik oleh Arina Mindhisya dan Shaquilla Nugraha.

Apakah Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi inspiratif? Sebagai ilham semu mungkin saja. Aspek bisnisnya penuh simplifikasi, berorientasi pada hasil ketimbang menelusuri pergulatannya lebih mendalam. Memang gres hingga situ makna “inspiratif”  bagi sebagian masyarakat kita. Pokoknya kesuksesan sanggup diraih di tengah keterbatasan tanpa tertarik memahami cara menuju ke sana. Pokoknya permasalahan seberat apa pun sanggup terselesaikan. Entah benar-benar selesai atau cuma dijustifikasi sebagaimana film ini menuntaskan problematika tokoh-tokohnya. Baik Kartika maupun Fahrul menyulut masalah-masalah pelik, berbuat kekeliruan fatal, kemudian begitu saja dimaafkan dan terlupakan.