Showing posts with label Awi Suryadi. Show all posts
Showing posts with label Awi Suryadi. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Danur (2017)

"Danur" diangkat dari novel "Gerbang Dialog Danur" karya Risa Saraswati, musisi sekaligus penulis buku yang populer lewat kemampuan supranaturalnya. Karya-karya Risa sendiri kental unsur mistis, berisi pengalaman interaksinya dengan para makhluk halus, termasuk Peter, hantu bocah Belanda yang namanya paling dikenal publik (album mini Risa bertajuk "Story of Peter"). Dibintangi Prilly Latuconsina yang makin menunjukan talenta beraktingnya serta Shareefa Daanish yang rasanya layak diberi gelar "Ratu horror modern Indonesia", "Danur" memang tampak menjanjikan. Belum lagi keberadaan Awi Suryadi ("Badoet", "Bidadari Terakhir", "Street Society" di dingklik penyutradaraan.

Alkisah, di ulang tahun kedelapan, Risa kecil (Asha Kenyeri Bermudez) berharap menemukan mitra untuk menghilangkan kesendiriannya jawaban selalu ditinggal sang ibu bekerja (ayahnya kerja di luar negeri). Harapan Risa terkabul, hanya saja teman yang ia sanggup bukanlah manusia, melainkan tiga hantu bocah Belanda berjulukan Peter (Gamaharitz), William (Wesley Andrew), dan Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh). Sembilan tahun berselang, Risa (Prilly Latuconsina kembali ke rumah masa kecilnya itu guna menjaga neneknya (Ingrid Widjanarko) bersama sang adik, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Keanehan muncul semenjak kedatangan pembantu gres berjulukan Asih (Shareefa Daanish). 
Film ini mempunyai departemen visual menawan berkat pemanfaatan banyak sekali properti bernuansa klasik dengan penempatan apik dalam tata artistiknya. Permainan cahaya pun ikut diperhatikan khususnya kala titik puncak di alam roh yang (seperti "Insidious") menonjolkan dominasi warna merah plus sedikit hijau di beberapa sudut. "Danur" amat memperhatikan tampilan, membuatnya tak monoton dari segi visual, meski kadang usahanya terasa terlampau keras, semisal penataan kamera dalam sinematografi Adrian Sugiono yang seolah anti pada gaya "mainstream", sehingga begitu sering memiringkan kameranya beberapa derajat. Stylish, terkadang dramatis, tapi lebih sering tanpa arti.

Awi Suryadi terang menyimpan setumpuk referensi  "The Conjuring", "Insidious", "Jacob's Ladder"  yang harus diakui mengakibatkan beberapa jumpscare-nya tidak terkesan malas dan apa adanya. Tapi sejalan dengan sinematografi, ketimbang menyesuaikan kebutuhan, banyak momen kolam sekedar ajang pamer gaya. Terasa repetitif kala filmnya bagai tersusun atas segmen demi segmen jumpscare. Karakternya berdiri tidur, "BOOM" hantu muncul. Karakternya menciptakan kopi, "BOOM" hantu muncul. Karakternya berjalan, "BOOM" hantu muncul. Demikian seterusnya tanpa jalinan dongeng menarik guna mengikat antusiasme penonton. Tiba-tiba saja di akhir, naskah buatan Lele Laila dan Ferry Lesmana menjawab soal jati diri Asih. Pertanyaannya, kapan film ini mengajak mempertanyakan siapa Asih? Buat apa saya peduli pada jawaban dari misteri yang tak pernah ditelusuri sebelumnya?

Andai Awi memperhatikan timing, kesan berlebihan bakal terhindarkan. Ketiadaan timing membuat sederet penampakan menjadi overkill, kehilangan daya bunuh, bahkan menggelikan. Ya, alih-alih berteriak ketakutan, berulang kali studio daerah saya menonton yang full house diramaikan gelak tawa penonton. Tatkala horror justru memancing respon yang berlawanan dengan takut, tentu ada problem besar. Penonton tertawa menyaksikan Risa salah mengartikan kegelisahan nenek yang tak bisa bicara. Penonton tertawa kala senyuman lebar Asih nampak di balik jendela. Penonton tertawa melihat nenek  yang selalu dijaga oleh keluarga  rambutnya tergerai awut-awutan selaku perjuangan tak perlu menambah kejanggalan mengerikan. Saya sendiri tertawa melihat make-up belang alias kurang rata di wajah Ingrid Widjanarko (perhatikan bab hidung dan verbal sewaktu close-up).
Shareefa Daanish mempunyai aura seram meski sekedar berdiri diam, memamerkan tatapan mata yang seolah sanggup membunuh. Awi menyadari itu, kemudian mengeksploitasinya. Sepertiga paruh selesai "Danur" lebih banyak didominasi diisi adegan Shareefa menatap huruf lain bermodalkan majemuk raut wajah. Film ini bagaikan eksperimen seputar "berapa banyak ekspresi mengerikan yang bisa Shareefa Daanish perlihatkan?" Sang aktris maksimal melakoni tugas itu, tetapi penggunaan berlebih lagi-lagi melunturkan efeknya. Semakin diulangi, semakin keras tawa penonton (termasuk saya) meledak. Sebaliknya, Prilly justru kurang diberi kesempatan unjuk gigi dikala tokoh Risa tidak diberi porsi penggalian berarti. Sepanjang durasi Risa hanya kebingungan, ketakutan, nihil karakterisasi pasti.

"Danur" bukan tergolong horror lokal jelek yang cenderung memancing amarah daripada takut. Digarap sungguh-sungguh, kekecewaan memuncak jawaban potensi besar bahan serta nama-nama yang terlibat di dalamnya. Awi Suryadi tetap salah satu sineas horror tanah air yang berpotensi menyuguhkan inovasi-inovasi. Sebagai contoh, selain sajian klasik macam "Pengabdi Setan", horror mana yang menampilkan teror sewaktu tokoh utamanya tengah solat? ("Pesantren Impian" yakni thriller). Selanjutnya tinggal bagaimana Awi bisa secara sempurna guna memakai kreativitasnya. Saya percaya dan masih akan selalu menantikan karya-karya berikutnya. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Asih (2018)

Asih membuktikan 2 hal: Awi Suryadi (dwilogi Danur) selalu berusaha memperbaiki kekurangannya dan ia pantas menerima franchise, atau setidaknya naskah yang lebih baik. Pasca sekelumit peningkatan di Danur 2: Maddah, di sini Awi menyempurnakan penyutradaraannya, tahu kapan waktunya memainkan keheningan guna membangun atmosfer, kapan mengejutkan penonton lewat jump scare, serta bagaimana melakukannya. Patut disayangkan departemen naskah mencoreng pencapaian tersebut.

Bertindak selaku prekuel yang terjadi 37 tahun sebelum film pertama, Asih mengisahkan asal-usul sang titular character (Shareefa Daanish), meski pada kenyataannya, elemen itu cuma muncul dalam satu flashback singkat. Naskah buatan Lele Laila (Keluarga Tak Kasat Mata, dwilogi Danur), yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, bahkan tidak berupaya menjelaskan keperluan selipan fakta mengenai perubahan nama Kasih menjad Asih, sebuah isu yang tak berperan dalam keseluruhan plot.

Sisanya serupa judul-judul lain di Danur Universe, yakni kompilasi teror demi teror yang ditempel paksa tanpa dongeng besar lengan berkuasa sebagai perekat. Setelah adegan pembuka kala Asih membunuh bayinya sebelum balasannya bunuh diri, kita dibawa mengunjungi satu keluarga kecil: pasangan suami-istri, Puspita (Citra Kirana) dan Andi (Darius Sinathrya) beserta sang ibu (Marini Soerjosoemarno). Pasutri ini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Protagonis yang akan mempunyai bayi ketika sang antagonis kehilangan bayi terang bukan mengambarkan baik.

Asih menebar beberapa benih konflik menarik di awal. Kepikunan ditambah penglihatan Ibunda Andi yang mulai menurun, rasa takut berlebih Puspita akhir mendengar dongeng mistis dari sang bidan (Djenar Maesa Ayu), semua itu lebih dari cukup selaku pangkal perpecahan keluarga yang diakibatkan kejadian mistis, atau tepatnya, ketakutan terhadapnya. Tapi benih-benih menjanjikan itu ditinggal begitu saja seiring penolakan penulis naskah untuk repot-repot membuat dongeng sungguhan. Menjaga supaya filmnya terus berjalan (baca: mengisi durasi) merupakan fokus tunggal.

Poin menarik naskah Asih hanya dikala beberapa kepercayaan mistis lokal turut mengambil peran, yang sanggup menghadirkan rasa ngeri bagi penonton yang familiar dengan hal-hal macam bunyi anak ayam atau tiang listrik yang dipukul. Sisanya nihil. Usaha menjembatani film ini dengan Danur: I Can See Ghosts (2017) pun berujung kekonyolan. Mengapa Asih meningglkan sisirnya?

Di sinilah kapasitas Awi mengambil alih. Dibebani kiprah menghabiskan durasi (yang cuma 77 menit), sang sutradara meninggalkan pendekatan mengesalkan yang jadi andalan seri Danur, di mana jump scare berisik menghantam tiap beberapa detik. Kali ini Awi justru berani menyusun atmosfer melalui keheningan plus lagu Indung Indung yang terdengar lebih creepy dibanding Boneka Abdi.

Begitu Asih muncul, musik garapan Ricky Lionardi (Sakral, Rasuk) menolak latah untuk pribadi menggebrak. Awi menyimpan gebrakan itu khusus bagi gugusan “menu utama” ketika jump scare dilontarkan pada kesempatan  tak terduga, yang sesuai formula di “Buku Panduan James Wan”, dikala para hantu bukan sekedar “setor muka”, melainkan menyerang secara agresif. Saya terenta beberapa kali dibuatnya. Bahkan, Awi sanggup memberi sebuah momen yang benar-benar menyeramkan, bukan sebatas mengagetkan. Momen itu berupa sekelebat penampakan Asih, yang mungkin takkan disadari banyak penonton.

Sayang, sekali lagi, pencapaian Awi “dikhianati” kemalasan skenarionya begitu Asih memasuki babak ketiga yang kolam tanpa puncak intensitas. Seolah filmnya usai alasannya yakni penulis naskahnya sudah kehabisan ide, membiarkan teror Asih tidak boleh oleh doa ala kadarnya dan teriakan karakter. Secara menyeluruh, Asih memang membuktikan bahwa seri Danur, walau perlahan, konsisten mengalami peningkatan. Namun bila mereka tak kunjung memperbaiki kualitas naskah, sulit membayangkan franchise ini bakal memproduksi installment yang layak menyandang status “film bagus”. Sementara, paling tidak Asih bukan satu lagi horor berisik mengesalkan atau parade repetitif bagi lisan abnormal Shareefa Daanish.

Ini Lho Kesempatan Kedu(D)A (2018)

Saya bisa membayangkan bagaimana banyak orang memandang sebelah (bahkan menutup) mata Kesempatan Kedu(d)a begitu tahu filmnya diproduksi RA Pictures, bahkan menampilkan Raffi Ahmad sebagai salah satu pemeran utama. Bisa dipahami melihat rekam jejak rumah produksi satu ini. Tapi saya memberinya kesempatan, lantaran dingklik penytutradaraan ditempati Awi Suryadi (Danur Universe) yang kembali menggarap komedi sesudah sekian lama. Awi pun menulis naskahnya bersama duet Agasyah Karim-Khalid Kashogi (Madame X, Badoet, Reuni Z), yang mempunyai filmografi tidak mengecewakan baik. Dan terlihat, meski masih dibarengi setumpuk kelemahan, Kesempatan Kedu(d)a merupakan produk terbaik RA Pictures sejauh ini.

Dua mitra lama, Abi (Raffi Ahmad) dan Ken (Zizan Razak) bereuni di pengadilan agama, ketika keduanya bercerai di dikala bersamaan. Walau awalnya bersedih, mereka sadar, status duda memberi kesempatan kedua untuk menggapai mimpi yang tertunda akhir saingan para mantan istri. Abi ingin membuka cafe, sedangkan Ken coba merintis ulang karirnya sebagai aktor. Tapi kesuksesan tak semudah membalikkan telapak tangan. Cafe Abi sepi pengunjung, dan Ken selalu gagal menerima tugas kecuali di audisi obat pencahar, yang ia tolak mentah-mentah. 

Suatu hari, Syafa (Cut Meyriska), puteri produser ternama (Diky Chandra), tiba ke cafe bersama temannya, Dianti (Marsha Aruan), si penggemar drama Korea. Keduanya tiba dalam kondisi mempunyai masalah, dan duduk masalah itu memberi Ken ilham untuk menuntaskan masalahnya dan Abi.

Di sini masalahnya. Rencana licik Ken tidak simpatik, yang mana bukan duduk masalah besar, andai secara sedikit demi sedikit (bukan tiba-tiba di akhir), ia bisa menunjukan kelayakannya untuk menutupi kesalahan tersebut. Sayangnya tidak, ketika sepanjang waktu, ia hanya bertingkah bodoh, kebingungan menangani situasi yang diciptakan sendiri, sehingga romansa yang dipaksa hadir antara ia dan Syafa berlangsung kurang meyakinkan. Kelebihan Ken ialah keberhasilannya memancing tawa Syafa. Namun meski punya ayah yang memintanya terjun ke dunia hiburan alih-alih bersekolah serta mantan menyebalkan (Bastian Steel), hidup Syafa tak seberapa merana hingga menyebabkan tawa suatu hal langka yang hanya bisa diberikan Ken. Apalagi, dibanding tipu muslihat Ken, gelak tawa beberapa hari terang tidak sebanding.

Romansa mereka tidak bekerja, tetapi sebagai komedi, cukuplah memberi hiburan. Razak masih kurang mumpuni menyokong beban film selaku pemeran utama, walau sang pemeran asal Malaysia bisa diandalkan dalam memancing tawa, khususnya dibandingkan kecanggungan penghantaran humor Raffi. Khusus bagi Raffi, kalau kiprahnya diberikan pada pemeran dengan sensibilitas tinggi dalam melakoni momen dramatis, pasti Kesempatan Kedu(d)a bakal jauh lebih baik.

Mengapa khusus Raffi? Karena dongeng Abi, tanpa diganggu kebodohan-kebodohan Ken, sanggup menciptakan film ini lebih manis, lebih menyentuh, mengenai perjuangan seorang laki-laki mengumpulkan lagi keping-keping hatinya yang berserakan demi sang buah hati, hingga di kemudian hari, menemukan cinta yang gres (sewaktu Ken mengasihi Syafa, Abi pelan-pelan kepincut pada Dianti). Saya suka ketika naskahnya menciptakan relasi Abi dan puterinya terjadi 2 arah, di mana mereka ingin dan coba saling membahagiakan. Sementara keberhasilan Marsha Aruan memainkan tugas love interest yang manis dan kadang jenaka, menambah keasyikan menyaksikan sisi romansanya. 

Awi terang menawarkan sisi lainnya sebagai sutradara komedi-romantis bertalenta yang banyak pihak mungkin lupa sesudah ia banyak berkutat di horor beberapa tahun belakangan. Comedic timing-nya solid, pun Awi bisa memberi momen romantis menjelang final lewat reka ulang sebuah momen manis drama Korea, Oh My Venus (2015). Momen itu terasa manis lantaran Awi tak berusaha keras membuatnya romantis sekaligus dramatis, menentukan tetap menyuntikkan humor. Andai saja Kesempatan Kedu(d)a lebih mengutamakan dongeng kekeluargaan dengan bumbu percintaan ketimbang buddy comedy.....