Showing posts with label Chew Kin Wah. Show all posts
Showing posts with label Chew Kin Wah. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Terbang: Menembus Langit (2018)

Salah satu adegan dalam Terbang: Menembus Langit memperlihatkan Onggy (Dion Wiyoko) melamar Candra (Laura Basuki). Bagi karakternya, ini momen penting ketika ia menemukan cinta, mitra hidup yang menyokong sekaligus memberi motivasi bagi perjuangannya. Tapi Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka’s Jakarta Undercover) yang bertindak selaku sutradara dan penulis naskah enggan menghantam penonton lewat dramatisasi tinggi. Berlatar warung mie ayam, ia menarik romantisme keluar dari situasi kurang romantis, setidaknya berdasarkan Candra. Kesederhanaan itu mematenkan rasa juga nilai usungan filmnya, yang menimbulkan Terbang, meski masih mempertahankan formula khas melodrama, mempunyai nilai lebih dibanding “rekan-rekan sejawatnya”.

Mengangkat dongeng hidup motivator sukses Onggy Hianata, Nugros justru tak semata menekankan destinasi berupa keberhasilan finansial. Lahir di keluarga sederhana di Tarakan, Onggy selalu terngiang petuah sang ayah (Chew Kin Wah) wacana ketiadaan kebebasan hidup apabila bekerja bagi orang lain. Begitu melancong ke Surabaya kemudian menikah, ia pun nekat meninggalkan pekerjaan kantoran lantaran takut kelak tidak punya waktu menyaksikan tumbuh kembang si buah hati. Saya kerap mendapati penyesalan serupa dialami banyak ayah begitu menyongsong usia senja sementara anak mereka telah “terbang” seorang diri jauh di sana. Keluarga yaitu poin utama Terbang, yang terus Nugros pertahankan hingga konklusi sewaktu ia berani menampilkan bentuk kebahagiaan sederhana ketika banyak penonton mungkin berekspektasi akan gelimag harta.
Bisa dibilang Onggy bukan jenius dalam hal bisnis. Berulang kali ia terbentur kegagalan entah akhir kesalahan taktik maupun tertipu. Sejak kecil pun ia digambarkan tidak secemerlang kakaknya di dingklik sekolah. Ditambah keterbatasan ekonomi, saya pun berpikir, “bagaimana ia bisa sukses?”. “Apa rencananya?”. Selain tekad baja, Onggy digambarkan sebagai laki-laki dengan banyak rencana. Kalimat “aku punya rencana” pun sering terlontar dari mulutnya, walau jangankan memancing keyakinan terhadapnya, filmnya lalai menjabarkan planning apa yang dimaksud. Bahkan Onggy kuliah di jurusan apa pun urung dipaparkan. Karena bagi filmnya, yang penting penonton melihat Onggy bisa menempuh pendidikan di Surabaya, tanah impiannya. Di Surabaya pula Terbang memasuki babak paling menyenangkan berkat sentuhan komedi seputar kehidupan mahasiswa indekos, yang lagi-lagi melukiskan kebahagiaan di tengah kesederhanaan.

Tidak ketinggalan pula pesan nasionalisme, yang meski bisa diperhalus lagi penyampaiannya dengan cara “menunjukkan” alih-alih banyak “menyatakan” secara verbal, tak berkurang relevansinya. Pesan tersebut terang penting disampaikan sekarang. Kegamblangan macam itu memang senjata andalan film inspiratif dan/atau melodrama, tapi untungnya, penokohan Onggy terhindar dari keklisean serupa. Dia pantang menyerah, namun bukan sosok suci. Penonton berkesempatan melihatnya di titik nadir, ketika ia merasa lelah, dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan yaitu bersimpuh sambil bertanya pada Tuhan ditemani luapan tangis yang mengambarkan kebolehan Dion Wiyoko mengolah rasa. Chemistry yang dibangun bersama Laura Basuki juga solid, menghasilkan pasangan gampang menggaet simpati walau keduanya gres bertemu ketika film memasuki separuh durasi.
Salah satu tantangan terbesar Nugros di penulisan naskah tak lain menangani fakta bahwa tokoh utamanya merupakan pentolan Multi Level Marketing (MLM) negeri ini, yang bukan tidak mungkin termasuk alasan mengapa Nugros menentukan mengedepankan kekeluargaan. Bayangkan apa respon publik menonton kesuksesan ekonomi aksara yang disebabkan MLM? Fakta itu dikaburkan, dan sayangnya, dari segi naratif keputusan itu menghilangkan beberapa poin krusial. Keseluruhan alurnya memang dipenuhi lompatan berangasan dan bukan cuma yang bersinggungan dengan MLM. Waktu berganti begitu saja, masalah-masalah yang dilontarkan juga berlalu sedemikian kilat.

Pada satu titik, Candra mengalami kontraksi di pasar. Dia segera melahirkan. Candra terjatuh, dan bila saya tidak salah lihat, begitu ia dipapah oleh beberapa orang, perut Laura Basuki tampak mengempis. Ini cacat bagi elemen artistik yang secara keseluruhan terhampar baik. Detail setting dan properti masa lalu, hingga warna yang mengesankan nuansa “hikayat dari kala terdahulu”, semua memanjakan mata. Bicara soal kala terdahulu, Nugros memang tampaknya hendak mengajak penonton kembali, bukan saja menuju masa lalu, pula kembali ke akar, pulang ke rumah, kembali pada keluarga. Dibalik segala kelemahannya, Terbang: Menembus Langit tetap menonjol bila disandingkan dengan film-film lokal bertema usaha inspiratif kebanyakan.

Ini Lho Dimsum Martabak (2018)

Meniliki judulnya, masuk akal menerka Dimsum Martabak ialah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun alasannya ialah ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, sasaran yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, menciptakan produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran sekarang menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai sajian andalan.

Jika Mona ialah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak menggunakan truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana teladan sidekick yang baik, bisa mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi menciptakan keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibentuk yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya bisa membisu terpukau, sementara Mona, meski terkejut alasannya ialah nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia ialah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari menggunakan riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong mengakibatkan Mona dipecat, dan alasannya ialah Soga telah terpikat, gampang baginya mendapatkan Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang terang terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, alasannya ialah ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan ketika saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona ialah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga ialah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi harapan pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah asing itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai teladan betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak balasannya berpindah ke setting berbeda, tapi ketika itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Dukun (2018)

Di tengah persidangan, Karim (Faizal Hussein) selaku pengacara, bertanya, “Siapa di sini percaya ilmu hitam?”. Hampir semua akseptor sidang mengangkat tangan. Sebagaimana kita, perihal mistis memang lekat dengan kehidupan masyarakat Malaysia. Beberapa menyebutnya kepandiran dalam periode modern, tapi saya melihatnya sebagai aspek kultural unik yang memiliki fungsi. Seperti ketika Dain Said (Bunohan: Return to Murder, Interchange) menimbulkan Dukun karya “eksklusif” yang takkan bisa direplika sineas negeri Barat sehebat apa pun. Aspek supranatural bukan jadi alat penghasil teror saja, melainkan cuilan penting narasi, pula cuilan kehidupan karakternya.

Dukun sendiri terinspirasi dari kasus kasatmata pembunuhan Mona Fandey, dukun sekaligus mantan penyanyi yang membunuh kemudian memutilasi badan salah satu kliennya, politikus Mazlan Idri, menjadi 18 cuilan pada 1993 selaku cuilan ritual. Selepas proses persidangan yang menarik ekspresi dominan seantero negeri, Mona dieksekusi gantung tahun 2001. Keterlibatan nama-nama besar serta konten kontroversial tersebut menciptakan Dukun terhalang perilisannya yang awalnya dijadwalkan pada 2007. Setelah 11 tahun tanpa kejelasan, Dukun akhirnya tayang.

Skenario buatan Huzir Sulaiman sejatinya hanya mengadaptasi lepas, walau beberapa unsur terperinci masih serupa. Pilihan itu hasilnya membuka jalan kisahnya mencampurkan elemen tiga genre: pemeriksaan kasus pembunuhan, thriller ruang persidangan, dan horor supranatural. Menariknya, elemen yang disebut terakhir justru porsinya paling minim, meski nuansa supranatural kental menyelimuti tiap sisi cerita, sehingga menciptakan tiap cabang alur tetap saling terikat.

Nama Mona Fandey diganti Diana Dahlan (Umie Aida). Jauh berbeda? Tidak ketika anda tahu jikalau album debut Mona dahulu mengusung judul Diana I. Sejak awal kita bertemu Diana, ia telah mendekam di penjara pasca menghabisi sang klien, Datuk Jefri (Adlin Aman Ramlie), dengan damai menanti dakwaan, sembari selalu menolak jasa pengacara. Sampai pengacara ke-24, Karim, mengatakan diri demi memperoleh informasi soal puterinya yang hilang. Kali ini Diana beredia. Di kawasan lain, Talib (Nam Ron) dan bawahannya, Shah (Bront Palarae) dari kepolisian, sedang memeriksa kasus tersebut kemudian menemukan setumpuk belakang layar kelam nan mengerikan.

Perlahan ketiga cabang itu bertemu, memuncak di suatu twist seputar relasi terselubung antar-karakter yang terasa beralasan juga masuk akal, berbeda dengan kebanyakan film yang cuma mengandalkan kebetulan dipaksakan. Satu lagi bukti solidnya penulisan Huzir Sulaiman, meski di banyak kesempatan, selipan adegan-adegan pendek yang muncul sambil lalu, menimbulkan fatwa alur kurang nyaman diikuti.

Besar kemungkinan anda takkan menganggap Dukun sebuah horor menyeramkan, walau melihat dari penyutradaraan Dain Said, itu memang pilihan. Dia enggan berusaha keras menakut-nakuti penonton lewat unsur supranatural, namun melukiskannya sebagai pemandangan tidak wajar. Seram atau tidak urusan belakangan. Ketika Diana melaksanakan ritual di sel misalnya, yang jadi wahana Dain Said bermain-main memanfaatkan ruang gelap gulita untuk mengkreasi trik visual. It’s scary for some but not for the others. But I think we can agree that it feels unnatural.

Babak persidangan ialah fase terbaik Dukun. Satu per satu saksi hadir, tiap keterangan divisualisasikan, menggiring kita menuju reka ulang insiden yang menjelaskan kengerian dalam ruang praktek Diana. Semakin banyak protagonisnya berguru perihal kasus itu dari para saksi, semakin kita memahami latar belakang kisanya. Di situ terjadi “pertarungan”  Karim melawan jaksa penutut (Chew Kin Wah). Jaksa bersikukuh Diana bersalah, sebaliknya, Karim menyanggah. Argumen mereka berdasar, saya pun tertarik mempertimbangkan versi kebenaran masing-masing, termasuk Karim, di mana selesai hidup Datuk Jefri hanya kecelakaan. Setidaknya sampai kasus digali lebih jauh.

Bagi drama ruang sidang, kemampuan memprovokasi penonton, menghadirkan duduk kasus mengenai dua perspektif berlawanan yang diperdebatkan dalam konfliknya, merupakan wujud kesuksesan. Tapi sulit menyangkal argumen bahwa kesuksesan terbesar film ini ialah penampilan Umie Aida. Terlihat mengerikan, mematikan, dengan senyum yang menolak memudar walau berada di persidangan yang mempertaruhkan nyawanya. Pun beliau tambahkan sensualitas melalui gestur kecil ibarat memilin rambut atau gerakan kepala yang menyiratkan kontrol penuh sarat kepercayaan diri atas segala situasi.

“Aku tidak akan mati”. Demikian kalimat terakhir Mona Fandey sebelum lehernya dijerat tali gantungan. Walau tak dimasukkan di film, namun baik di atas atau di balik layar, kalimat itu terus menggema. Terkait narasi, Dain Said berilmu menggunakannya guna menyusun konklusi supranatural yang sepenuhnya baru, tidak terikat insiden nyatanya. Sementara di balik layar, seiring kontroversi yang membanjiri filmnya, Mona takkan mati. Namanya, riwayatnya, selalu hidup dalam ingatan publik sebagai bomoh (dukun) penebar teror berdarah.

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho A Man Called Ahok (2018)

Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi secara umum dikuasai rakyat Indonesia niscaya tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar beling menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang kesannya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan perihal keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang disesuaikan dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang sanggup pribadi kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu jawaban praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai laki-laki penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang kemudian memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil goresan pena sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut kisah yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai laki-laki penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu bisa ia satukan untuk membentuk huruf yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar sehabis 3 tahun—selaku pemain film Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta derma yaitu conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa cukup umur Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia gres kembali ke Belitung sehabis merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga sanggup memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan huruf Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah terang dua huruf berbeda.

Daniel Mananta melaksanakan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak asing dari depan), walau ada kalanya ia terlihat menyerupai karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu konkret dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melaksanakan pendalaman ekstra, alasannya yaitu jikalau tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes lantaran memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang ketika Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang tepat merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan semoga filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita kesannya datang di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena ketika itu, mudah semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin lantaran anggapan “Kamu tidak bisa menciptakan film perihal politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melaksanakan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh menyerupai Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Susah Sinyal (2017)

Apakah Ernest Prakasa kelelahan? Atau ia belum menemukan formula mengolah dongeng di luar sentilan kultur Cina yang kali ini hanya muncul sekelebat sebagai balutan humor sesaat? Masih memakai perpaduan drama keluarga dan komedi "acak" serupa Ngenest dan Cek Toko Sebelah, kedua unsur tersebut sesekali tersampaikan, namun tak jarang luput dari sasaran, kurang mulus pula dikawinkan. Koneksi dengan penonton timbul tenggelam, kadang lancar, kadang terganggu. Sepertinya film ini tengah mengalami susah sinyal. 

Seperti kebanyakan drama serupa, relasi berjarak antara orang bau tanah dan anak film ini disebabkan urusan pekerjaan. Ellen (Adinia Wirasti), pengacara sukses sekaligus ibu tunggal, jarang meluangkan waktu bersama puterinya, Kiara (Aurora Ribero), yang lebih terikat dengan kehidupan media umum dan sang nenek, Agatha (Niniek L Karim). Di suatu malam, sepulang kerja, Ellen berusaha terlibat pembicaraan ihwal film favorit Kiara, Moana, tapi justru menyebut Lilo & Stitch. Nenekmu lebih tahu film yang kau cintai daripada ibumu, yang notabene jarang memberi perhatian. Tentu menyakitkan. 
Alhasil, masuk akal Kiara amat terpukul ketika nenek meninggal. Mengetahui itu, Ellen mengabulkan cita-cita Kiara berlibur ke Sumba, sembari berharap menemukan sinyal yang terputus di antara mereka. Tapi liburan ke kawasan di mana Asri Welas, Arie Kriting, Abdur Arsyad, Ge Pamungkas, hingga Chew Kin Wah yang menikahi Selfi KDI berkumpul, terang takkan berlangsung normal. Ernest menyediakan panggung melucu seliar mungkin. Asri yang lebih kalem tetap mengocok perut kala memperagakan capoeira, pun Ge sebagai tokoh penuh trauma yang memfasilitasi gaya ekspresifnya. 

Keliaran komedi, yang acap kali tak terkait alur utama, berhasil sebagai bumbu penyedap dalam Cek Toko Sebelah. Susah Sinyal memunculkan kesan berbeda. Menulis naskahnya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest bagai menabur bumbu terlalu banyak demi menutupi kekurangan di materi pokok, alias alur yang tipis. Kelakar Arie dan Abdur misalnya. Menggelitik, namun seketika kehilangan daya bunuh sewaktu hadir berkepanjangan. Titik tertinggi komedi film ini terletak pada guyonan sekilas dengan kesempurnaan timing, seperti Asri Welas yang cenderung serius sehingga dampaknya berlipat ganda ketika celotehan yang dinanti tiba, atau absurditas Dodit Mulyanto yang mengisi sesuai kebutuhan, tak dieksploitasi.
Ellen berharap perjalanan ke Sumba merekatkan hubungannya dengan Kiara. Kita menghabiskan sepertiga durasi di sana, melewati aneka macam peristiwa, termasuk ketertarikan Kiara pada karyawan hotel berjulukan Abe (Refal Hady), sayangnya itu semua bukan quality time. Terlampau sering distraksi hadir, keduanya telah menemukan kembali sinyal yang terputus sebelum penonton sempat direnggut oleh tabrakan yang terjadi. Film ini membawa karakternya ke Sumba, kemudian seolah resah mesti berbuat apa pada mereka. Aspek teknis pun gagal membantu, baik pilihan shot ala kadarnya (Ernest pernah melahirkan gambar luar biasa besar lengan berkuasa berupa Chew Kin Wah bersandar di tiang toko kosong dalam Cek Toko Sebelah) maupun transisi garang musik selaku cue emosi. 

Untungnya Susah Sinyal punya Adinia Wirasti, seorang aktris langka yang mampu menyulap dialog kasual jadi menarik. Bersama debut memikat Aurora Ribero dalam gaya sinis yang menyebabkan ketakutan Ellen mendekatinya terasa masuk akal, Adinia menghembuskan nyawa, menghindarkan filmnya dari kehampaan total. Susah Sinyal is a step back. Tapi bukan kemunduran jauh, apalagi suguhan buruk. Ernest selalu belajar, dan itu menciptakan kepercayaan saya padanya tidak luntur.