Showing posts with label Dan Stevens. Show all posts
Showing posts with label Dan Stevens. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Beauty And The Beast (2017)

Poin terpenting dari remake adalah mempertahankan esensi film aslinya, dan bakal makin baik kalau bisa menambal kekurangan, menyesuaikan dongeng dengan kondisi modern, serta meningkatkan aspek teknis sesuai kemajuan teknologi. "Cinderella" dan "The Jungle Book" merupakan dua rujukan live action remake milik Disney yang memenuhi syarat-syarat di atas. Kini giliran Bill Condon ("The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 & 2", "Dreamgirls") bertugas menghidupkan "Beauty and the Beast" yang lebih dari dua dekade kemudian sanggup menjadi film animasi pertama peraih nominasi Best Picture di ajang Oscar. Prepare to feel the magic from this tale as old as time once again. 

Saya percaya anda semua sudah familiar dengan kisah khas fairy tale klasik miliknya, di mana seorang pangeran tampan (Dan Stevens) dikutuk oleh penyihir menjadi makhluk buas mengerikan akhir keangkuhannya. Kutukan itu hanya bisa hilang kalau Pangeran mengasihi dan dicintai seseorang sebelum kelopak mawar terakhir dari sang penyihir jatuh. Di desa, Belle (Emma Watson) yaitu gadis tercantik namun dianggap absurd lantaran selalu menghabiskan waktu membaca, bahkan menolak cinta Gaston (Luke Evans), laki-laki berpengaruh idola semua wanita. Ketika ayahnya, Maurice (Kevin Kline) tersesat dan ditangkap oleh Beast, Belle bersedia menggantikan posisi sang ayah untuk tinggal selamanya di istana. Lalu menyerupai anda tahu, itulah awal tumbuhnya benih cinta mereka.
Walau dikukuhkan sebagai klasik, harus diakui animasinya dulu menyimpan beberapa lubang alur yang sampai kini kerap diangkat selaku materi diskusi. Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulos menyadari kasus tersebut dalam menulis naskahnya, kemudian melaksanakan perubahan-perubahan kecil yang berdampak besar, semisal berkenaan timeline yang tak lagi memancing tanya soal usia Pangeran atau asal mula keberadaan Chip (Nathan Mack), si cangkir kecil putera Mrs. Potts (Emma Thompson). Chbosky dan Spiliotopoulos turut menyelipkan fakta kalau sang penyihir menghilangkan memori warga kampung ihwal Pangeran dan istana agar ketidaktahuan mereka terasa masuk akal. Secara umum, kualitas narasi film ini jauh lebih baik ketimbang pendahulunya.

Penokohan pun bertambah solid. Serupa Beast, Belle dipandang "berbeda" dan statusnya sebagai misunderstood genius ikut ditekankan. Melihat respon negatif warga yang menganggap tidak sepantasnya perempuan banyak mencar ilmu menciptakan sosok Belle kian relevan di masa sekarang. Belle versi gres ini juga berani terang-terangan menolak Gaston yang menegaskan kekuatannya. Hubungan Belle dengan ayahnya diperdalam, menambah bobot emosi lewat selipan kisah masa kemudian ihwal sang ibu. Demikian pula terkait tokoh-tokoh lain. Ada alasan mengapa Gaston begitu terobsesi pada kekuatan, bukan hanya lantaran ia laki-laki penuh otot tanpa otak. Sementara paparan singkat mengenai orang bau tanah Beast cukup menjelaskan penyebab perilaku kasarnya.
Sepertiga awal penceritaan sejatinya sempat tertatih tatkala filmnya kolam kekurangan amunisi di samping tata visual memikat mata termasuk gegap gempita warna-warni nomor musikal "Be Our Guest" yang menerangkan insting Bill Condon merangkai nuansa festive. Namun sebagaimana jalinan asmara Belle dan Beast, momen ketika "si jelek rupa" menyelamatkan pujaan hatinya dari serangan serigala bertindak selaku titik balik. Keduanya mulai intens berinteraksi, bertukar tawa dan perhatian, memunculkan kehangatan manis yang bakal memancing senyum penonton mengamati perkembangan natural romansa kedua protagonis. Setelahnya, bersiaplah terhanyut, tak kuasa menahan senyum, tawa, kemudian tersentuh dan meneteskan air mata.

Sudah barang tentu puncak kisah cintanya bertempat di adegan dansa. Bill Condon dan tim berhasil menghidupkan momen tersebut, mulai gaun kuning ikonik Belle, kemegahan dekorasi set, iringan lagu tema, sampai sempurnanya pergerakan kamera menangkap setiap gerakan Belle dan Beast yang mewakili komunikasi rasa antara mereka berdua. Segala aspek berpadu menghasilkan sajian yang akan bisa dikagumi para love skeptic sekalipun. Bagaikan tengah menyaksikan perwujudan kesakralan cinta tatkala dua insan saling jatuh hati, mengekspresikan segenap perasaan tanpa perlu berkata-kata. One of the most romantic musical piece ever put on cinema that perfectly defines what "love" is. 
Belle digambarkan sebagai "the most beautiful girl in town" dan Emma Watson mewakili deskripsi itu. Sosoknya lovable dan tegas bersikap. Penuh kasih sekaligus berpengaruh di ketika bersamaan. Watson konsisten mempertahankan charm baik kala melakoni porsi drama serius, romansa, komedi, sampai memamerkan kemampuan bernyanyi ditambah antusiasme ekspresif yang diharapkan aktris musikal. Saya sempat khawatir Beast kehilangan pesona alasannya yaitu transisi media animasi ke live action (biasanya) tampil lebih serius, berpotensi melucuti daya tarik ketika makhluk buas ini canggung menyikapi kehadiran sang pujaan hati. Walau butuh waktu, Dan Stevens menggugurkan kekhawatiran saya. Begitu Beast dan Belle semakin lekat, sang pemain film berkesempatan mengatakan sisi kemanusiaan likeable di balik balutan CGI. 

Beberapa perubahan demi memperbaiki beberapa kekurangan narasi versi animasi tak serta merta menurunkan respect Bill Condon pada film aslinya dengan tetap memberi sentuhan tersendiri agar tak berujung shot-for-shot remake. Para penggemar pasti bakal bernostalgia melihat sederet adegan direka ulang. Percintaan Belle dan Beast boleh jadi suguhan utama, tetapi film ini menyertakan bermacam bentuk cinta lain, sebutlah cinta Belle untuk Maurice (ayah dan anak) juga keduanya pada sang ibu/istri. Bahkan para perabot selaku aksara pendukung turut diberi kesempatan (their "last moment" is very touching), menjadikan "Beauty and the Beast" sebuah perayaan menyentuh terhadap keindahan cinta. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Apostle (2018)

Gareth Evans menantang dirinya sendiri melalui Apostle. Setelah tancap gas dengan 3 film termasuk dwilogi The Raid yang mengubah skena film agresi dunia, Evans membuat period horror yang di dalamnya mengalir DNA serupa The Wicker Man (versi 1973, bukan remake konyol Nicolas Cage). Apostle sama-sama menampilkan protagonis laki-laki dengan persoalan psikis yang pergi ke sebuah pulau daerah kelompok cult misterius tinggal, guna menyelamatkan seorang wanita. Dan serupa horor klasik karya Robin Hardy tersebut, Evans menentukan gaya slow burn.

Pria di balik tontonan pemacu adrenalin membuat horor slow burn yakni sesuatu yang tak pernah aku duga. Menulis naskahnya sendiri, Evans mengisahkan soal Thomas Richardson (Dan Stevens), yang berhenti menjadi misionaris pasca bencana yang nyaris membunuhnya. Nyawa Thomas selamat, namun keyakinannya kepada Tuhan yang risikonya terbunuh. Sempat hilang dan disangka tewas, sekarang Thomas mesti mencari adiknya, Jennifer (Elen Rhys) yang diculik sekelompok cult demi uang tebusan. Thomas harus menemukan Jennifer sebelum cult yang dipimpin Malcolm (Michael Sheen) itu membongkar identitasnya.

Sejam pertamanya bergerak lambat, dengan hanya sekelumit penampakan misterius serta satu sekuen agresi pendek berdarah mengisi di sela-sela. Sisanya, Evans mengajak penonton mengobservasi beberapa sudut pandang—atau tepatnya kritik—di kepalanya wacana sisi gelap agama. Ada mantan misionaris yang membenci Tuhan, juga Nabi palsu yang merepresentasikan keserakahan umat manusia, yang tak pernah ragu merusak semesta demi kepentingan personal, bahkan “mengeksploitasi Tuhan”.

Dan Stevens (The Guest, Beauty and the Beast) memberi performa intens, yang meski takkan membawanya menyabet piala penghargaan, tampak tepat di tengah bangunan dunia sarat kegilaan milik Evans, meski studi terhadap aksara Thomas yang coba Evans jabarkan tampil terlalu dangkal. Ada pula perjuangan merangkai misteri terkait kebenaran soal misteri di pulau tersebut yang penyampaiannya kurang mengikat. Pertama, alasannya yakni rangkaian alurnya tak cukup tricky untuk menggiring penonton terus mengajukan pertanyan. Kedua, sebagaimana telah kita saksikan di The Raid 2: Berandal (2014), Evans bukanlah penulis yang baik, khususnya diakibatkan tendensi bercerita terlalu banyak, membentangkan konflik selebar mungkin tanpa fokus jelas.  

Ketimbang menggali satu-dua konflik lebih jauh, Evans terus membeberkan subplot demi subplot tak perlu, di mana masing-masing tampil tanpa kedalaman, bahkan saling melemahkan alasannya yakni kurangnya kesempatan eksplorasi, tatkala Evans mengutamakan kuantitas di atas kualitas (durasinya membengkak hingga 130 menit). Beruntung, sewaktu “Gareth Evans si penulis” terbata-bata, “Gareth Evans si sutradara” masih berjaya. Kepekan visualnya mampu membuat atmosfer mengerikan sekaligus disturbing tanpa perlu bergantung pada jump scare.

Keberhasilan tersebut juga jasa sinematografer langganan Evans, Matt Flannery (Merantau, dwilogi The Raid), yang bukan cuma menangkap keindahan panorama Wales, pula teror menggganggu di desa tersembunyinya. Tambahkan musik unik garapan duo Fajar Yuskemal (The Raid, Headshot, Killers) dan Aria Prayogi (The Raid, Headshot, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212), Apostle mungkin terlampau panjang dan sesekali melelahkan, namun tidak pernah membosankan.

Kemudian kita datang di satu jam terakhir dikala sang sutradara melepaskan segala kegilaan kaya gore yang akan membuat penontonnya antara menutup mata menahan ngilu atau bersorak kegirangan. Seperti biasa camerawork Flannery efektif menyuntikkan intensitas melalui pergerakan dinamis maupun getaran manic yang memunculkan sense of urgency yang rasanya takkan bisa diikuti penata kamera lain. Apostle bukan sadisme indah layaknya The Raid. Ini yakni sajian “tebas-dan-tusuk” dengan kebrutalan mentah. Eksperimen Evans mungkin belum sepenuhnya berjalan mulus, tapi mungkin hanya beliau yang cukup berani memadukan dua wajah horor yang berlawanan semacam ini.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Colossal (2016)

A heavy drunkard and a vicious bully. Both are colossal problems. Demikian kiranya gagasan di balik film terbaru Nacho Vigalondo (Timecrimes, Open Windows) yang mengkombinasikan rasa indie dramedy dengan kaiju flick ala Godzilla sampai Pacific Rim. Bahkan di salah satu titik sempat menyentuh ranah thriller. Colossal tak lain produk sinema modern yang menyikapi genre sebagai alat bantu menyusun pondasi daripada batasan. Hasil selesai karya genre-defying memang kerap penuh lubang  termasuk Colossal  tetapi kepuasan yang dihasilkan nyatanya sebanding. 

Awalnya semua terlihat normal, menampilkan Gloria (Anne Hathaway), perempuan pengangguran yang diusir oleh sang kekasih, Tim (Dan Stevens), dari apartemen mereka di New York akhir kecanduan alkohol. Gloria memutuskan pulang ke kampung halamannya, berharap sanggup menata ulang kehidupan. Pertemuan Gloria dengan sahabat masa kecilnya, Oscar (Jason Sudeikis) yang ramah pula sederhana (Tim pebisnis sukses, Oscar hanya pemilik bar) mencerminkan gelagat tontonan komedi-romantis ketika protagonis menemukan cinta sejati yang jauh dari kemewahan hidup lamanya. Ditemani musik country, Colossal bak sajian low-key indie. Sampai monster raksasa menyerang Korea Selatan.
Menulis naskahnya sendiri, Vigalondo piawai mempermainkan ekspektasi, entah berkat pembauran genre atau pengembangan huruf dan kisah ke arah mengejutkan. Pemahaman Vigalondo akan template tiap genre membuat filmnya bisa bergulir menghindari tiap-tiap keklisean, semisal ditiadakannya fase skeptisme teman-teman Gloria mendengar dongeng gilanya mengenai terhubung dengan monster. Colossal langsung memasuki mode bersenang-senang semaunya sebagaimana perilaku karakternya di bawah imbas alkohol. Bicara soal kesenangan, khususnya di paruh pertama, Vigalando pamer kebolehan menyusun komedi. 

Keberhasilan humor Colossal didorong keengganan perjuangan berlebihan tampil konyol, setidaknya bukan melalui jalur umum. It's all about quirky and weird comedy. Saat Gloria kali pertama menyadari koneksi dirinya dengan monster, misal. Musik garapan Bear McCreary terdengar bombastis pula intens alih-alih jenaka, yang malah menguatkan kelucuan dari kemustahilan situasi. Tentu kecocokan Anne Hathaway bertingkah quirky melalui raut wajah dan gerak badan canggung berperan besar memuluskan laju komedi. Sedangkan Jason Sudeikis kapabel menjalankan dua sisi kontradiktif tokohnya. 
Sama kontradiktifnya yakni progresi tone yang mencapai babak pertengahan, melompat cepat dari drama-komedi ringan menuju drama serius, pun (seperti telah disebutkan) salah satu adegan agak menyerempet bangunan intensitas thriller. Sangat berlawanan suasana, namun sesuai dengan perkembangan dongeng juga karakter, yang justru berpotensi kehilangan bobot kalau dipaksakan konyol, mengingat Colossal mengangkat informasi seputar penindasan, baik dalam konteks umum maupun antar-gender. Gloria, meski seorang pemabuk kurang bertanggung jawab, seiring berjalannya waktu menegaskan posisi sebagai perempuan yang berusaha membebaskan diri dari kekangan para pria, berujung memudahkan untuk mendukung prosesnya. 

Terkait aspek monster (dan robot) raksasa, Colossal urung, bahkan tidak coba menunjukkan klarifikasi logis. Karena memang tidak perlu. Satu-satunya lubang logika yang layak dipermasalahkan yakni logika atau rules dalam filmnya sendiri (tanpa mengacu ke dunia nyata). Aturan mengenai "kapan" dan "bagaimana" terlalu dibiarkan bebas oleh Vigalondo. Padahal hukum demikian penting guna menjaga penonton tetap terikat dengan cerita, tak peduli seabsurd apapun. The deeper Colossal dig its lore about the giant monster, the messier, untungnya di ketika bersamaan, studi dramatik yang ditawarkan juga makin kokoh.