Showing posts with label Deva Mahenra. Show all posts
Showing posts with label Deva Mahenra. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Partikelir (2018)


Kalau saya setia mengikuti “buku pertaturan”, maka Partikelir yakni film buruk. Dalam debut penyutradaraannya, Pandji Pragiwaksono (juga menulis naskah bersama Goks Writing Team) kentara ingin menciptakan buddy movie. Pun filmnya dijual sebagai buddy movie sebagaimana diperlihatkan formasi poster parodinya yang merujuk pada judul-judul menyerupai Lethal Weapon, Hot Fuzz, 21 Jump Street, dan lain-lain. Masalahnya, Pandji dan tim kurang terampil menerapkan elemen-elemen vital penyusun sub-genre tersebut, tetapi, beberapa humor bisa hadir sempurna sasaran.

Jadi bukankah berarti Partikelir sukses menghibur? Jawabannya relatif. Pertama kita rangkum unsur utama buddy movie khususnya yang mengedepankan komedi bercampur aksi. Seperti istilahnya, dinamika dua protagonis memegang signifikansi luar biasa. Jamaknya, mereka mempunyai kepribadian berlawanan, kerap bertengkar, hingga hasilnya perlahan bersatu pasca melewati serangkaian agresi berhiaskan pernak-pernik humor. Partikelir punya Adri (Pandji Pragiwaksono), seorang detektif swasta nekat, serta Jaka (Deva Mahenra), pengacara dengan keseharian selaku “budak korporat”.
Semasa sekolah, keduanya erat dekat, disatukan oleh harapan menjadi detektif. Hingga sebuah insiden memecah pertemanan itu. Bukan cuma jarak, sifat Adri dan Jaka pun menjauh, saling bertolak belakang. Sekian tahun berselang, mereka bertemu lagi ketika Adri sedang diminta bantuannya oleh Tiara (Aurelie Moeremans) guna menilik bisnis sang ayah, yang menggiring Adri menuju rahaia soal narkoba berjulukan Rantau. Saya berasumsi, tali pertemanan Adri-Jaka bakal kembali seiring penyelidikan yang menggiring ke arah bahaya. Saya keliru. Mereka berdamai bahkan sebelum baku hantam dimulai. Alhasi, ketimbang dua langsung berlainan yang terpaksa mengesampingkan perbedaan sambil terus sabung argumen, Partikelir sebatas menyajikan dua laki-laki konyol.

Seberapa keras Deva mencoba menghidupkan Jaka yang selalu meragu maupun Pandji memerankan Adri yang seenaknya, dinamika gagal terjalin alasannya yakni pondasi alias nakahnya lemah. Kelemahan yang tidak berhenti di urusan dinamika antar tokoh, juga penyusunan misteri. Partikelir yakni film dengan protagonis detektif namun alurnya tak menyimpan daya tarik seputar misteri serta pemeriksaan terhadapnya. Biar demikian, Pandji sejatinya merupakan pelawak cerdas. Gelak tawa masih teripta, meski bukan berasal dari dagelan khas buddy comedy.
Saya menyukai suatu sekuen yang melibatkan penampilan singkat Gading Marten, yang menunjukan kejelian Pandji menyuguhkan kelucuan bermodalkan momen berisi lelucon tak lucu. So unfunny, it’s funny. Andai saja Pandji menambah kesolidan pondasinya alih-alih berusaha memenuhi ambisi besar pada debutnya sebagai sutradara ini. Dia ingin menyatukan segalanya. Komedi, aksi, hingga siratan romansa yang dipaksakan antara Adri dengan Tiara, si perempuan yang bahkan fungsi keberadaannya layak dipertanyakan selain memberi masalah kepada Adri.

Bisa ditebak, ambisi Pandji menyertakan kritik bernuansa sosial-politik. Komedi manis yakni komedi yang lucu. Komedi yang luar biasa yakni komedi yang bisa menyuarakan pesan kritis lewat kelucuan. Sedangkan Partikelir, bukannya “menyentil melalui komedi”, tapi “menyentil di tengah komedi”. Semakin mendekati akhir, metode “masuk paksa” untuk barisan kritik sosial-politik miliknya makin kentara. Termasuk pertanyaan besar mengenai perlunya twist wacana salah satu tokoh menjelang film berakhir yang semata-mata demi dua tujuan: 1) Kejutan, 2) Penyuluhan pesan anti-narkoba. Jika itu dihilangkan apakah akan mengurangi kelengkapan perkembangan karakternya? Tidak.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Belok Kanan Barcelona (2018)

(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang bisa membawa saya dalam hubungan cinta/benci menyerupai Belok Kanan Barcelona. Saya mengasihi caranya menuturkan betapa cinta sanggup mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mengasihi caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mengasihi masing-masing huruf utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke kepingan agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang sekarang tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis yaitu pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang sekarang menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan janji nikah Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi kawasan curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut rahasia memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan Sekolah Menengan Atas selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, sehabis terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi huruf beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mengasihi mitra sendiri, ketika pengungkapan perasaan kolam haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik menyerupai biasa sehingga gampang mendapatkan dikala Francis disukai dua gadis anggun walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: ia terkenal lantaran ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva hasilnya memperoleh bahan yang pas guna memfasilitasi bakat komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui formasi lisan gila dan ketiadaan urat aib dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan tugas yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif membuat adegan emosional dikala melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi basuh mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta bisa mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, sampai elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan iman Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kau tega membuat Francis harus menentukan antara kau (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, alasannya kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts hereSaya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis hasilnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang iman personal), itu cara paling kondusif semoga bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat dikala Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah iman demi janji nikah dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, sehabis sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai bahan komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu menandakan ketidakpekaan para pembuatnya.

Ini Lho Dancing In The Rain (2018)

Sungguh hidup ibarat putaran roda yang sulit ditebak arahnya. Baru tiga ahad lalu, Screenplay Films gres saja mempersembahkan karya terbaik mereka lewat Something in Between (review), kini muncul Dancing in the Rain sebagai salah satu yang terburuk. Film karya sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie, The Perfect Husband) ini mendobrak batas kengawuran bertutur disease porn. Setelah sempat beralih ke tangan Titien Wattimena, departemen penulisan naskah dikembalikan pada duo Tisa TS-Sukhdev Singh (Magic Hour, London Love Story) yang beranggapan bahwa penyakit merupakan satu-satunya penghasil penderitaan. Padahal, mereka yang sehat pun bisa menderita. Penonton film ini misalnya.

Saya takkan mengaku paham betul mengenai segala aspek medis film ini. Saya bukan ahli, bukan dokter, bukan pula psikolog. Apalah artinya ilmu saya yang butuh waktu 7,5 tahun menuntaskan studi psikologi dibanding psikolog profesional yang (konon) jadi konsultan naskah sekaligus pendamping sepanjang proses produksi. Saya hanya bisa menyebut bahwa merujuk pada definisi DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition), akting Dimas Anggara sebagai pengidap gangguan spektrum autisme telah memenuhi simtoma-simtoma yang tertulis. Tapi saya tak bisa mengukur akurasinya secara detail, apalagi kondisi penderita autisme amat beragam. Satu hal pasti, Dimas melaksanakan yang ia bisa, sesuai impian sutradara dan petunjuk sang psikolog dalam proses yang saya yakin cukup singkat.

Pun saya yakin, Tisa dan Sukhdev melaksanakan wawancara kepada psikolog. Bukan lantaran naskahnya tersaji mendalam, namun beberapa kalimat terdengar bagai hasil verbatim (menulis ulang kata per kata tanpa pengubahan) dari wawancara formal, ketimbang ucapan insan normal. Tengok saja voice over Ayu Dyah Pasha yang memerankan psikolog. Itu bukan ucapan psikolog pada klien. Itu pembacaan halaman Wikipedia.

Mari beranjak menuju alurnya, yang mengisahkan penderita spektrum autisme berjulukan Banyu (Dimas Anggara), yang akhir kondisinya, sulit meneukan teman. Di sekolah ia dijauhi, sementara di lingkungan sekitar rumahnya, ia jadi korban bully. Sampai ia bertemu Radin (Deva Mahenra) yang tumbuh sebagai sahabat sekaligus pelindung bagi Banyu. Kemudian Kinara (Bunga Zainal) turut masuk ke hidup mereka, bahkan dikala beranjak memasuki masa kuliah, menjalin cinta dengan Radin. Untunglah film ini urung masuk ke ranah cinta segitiga, alasannya ialah kebersamaan Radin-Kinara amat disukai oleh Banyu.

Sebelum kehadiran Radin dan Kinara, Banyu hanya mempunyai Eyang Uti (Christine Hakim), yang luar biasa sabar merawat sang cucu pasca ditelantarkan kedua orang tuanya. Tentu Christine Hakim merupakan hal terbaik Dancing in the Rain. Caranya meregulasi emosi luar biasa. Momen favorit saya ialah dikala Katrin (Djenar Maesa Ayu), ibu Radin, mendatanginya, memaksa supaya ia bersedia memutus pertemanan Banyu dengan Radin. Eyang berusaha sabar, pelan-pelan bicara, mempertahankan senyum, walau kita bisa mencicipi amarah siap meledak. Hingga di satu titik ia tak berpengaruh lagi, suaranya “pecah”, namun tak lama. Kembali ia mengatur emosinya. Such a bravura performance.

Tapi itu urung menyembunyikan keburukan naskahnya, termasuk penulisan huruf Eyang Uti. Dia betul-betul mengasihi Banyu, satu dari sedikit orang yang mengerti cara menanganinya, sehingga bagaimana mungkin ia seteledor itu meninggalkan Banyu sendirian di pasar? Tentu keteledoran itu dimaksudkan guna membuat momen dramatis, tanpa peduli masuk logika atau tidak. Pola serupa terus diulang. Di cafe, beberapa laki-laki dengan lantang mencela Banyu (yang tiba bersama Radin dan Kirana), menyebutnya idiot, mengejek gaya berpakaiannya. That’s a terrible soap opera level of dramatization. Sama halnya dengan penokohan dangkal Katrin, yang tak ubahnya sosok ibu antagonis tanpa nurani di sinetron, yang bicara sendiri di depan kamera mengungkapkan rencana jahatnya.

Saya sering kesal mendengar omongan “Ini film kelas FTV” atau “Sinetron banget deh filmya”. Kalimat-kalimat itu ialah simplifikasi rendahan. Tapi Dancing in the Rain benar-benar cocok akan deskripsi tersebut. Naskahnya eksis di universe yang sama dengan Jenazah Mandor Kejam Mati Terkubur Cor-Coran Dan Tertimpa Meteor. Tisa dan Sukhdev membuat semua karakternya terserang penyakit, entah supaya hidup mereka lebih menderita, memberi pelajaran pada antagonis, atau menghadirkan haru lewat sebuah pengorbanan. Sekalinya mencoba memancing haru melalui momen tanpa penyakit, kesudahannya justru canggung, ketika sang pembantu menyanyikan Lelo Ledhung ketika Banyu tengah menangis di dekapan Eyang Uti.

Menciptakan persamaan nasib di antara ketiga protagonis turut melucuti pesan penting mengenai perbedaan, bahwa kita harus memperlakukan semua orang sama, dan walau kita dianggap “normal” dan lebih sehat, bukan berarti kita berderajat lebih tinggi. Tapi apa peduli film yang seenaknya menggambarkan proses transplantasi jantung (silahkan anda cari dari bermacam-macam sumber mengenai detail prosedurnya) mengenai pesan? Setidaknya, saya bersyukur Rudi Aryanto masih bisa membungkus filmnya dalam tempo dinamis, enggan tampil bertele-tele dan membuang waktu. Karena kalau tidak, menonton film ini akan semakin terasa membuang waktu.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Jomblo (2017)

Jomblo versi 2017 punya niat mengenalkan nama besar pembiasaan novel berjudul sama buatan Adhitya Mulya pada generasi masa sekarang sembari tetap merangkul penggemar lama, salah satunya dengan mempertahankan Hanung Bramantyo di dingklik penyutradaraan. Masalahnya, remake ini kolam lupa alasan film aslinya disukai. Jomblo versi 2006 mewakili liku hidup remaja, khususnya mahasiswa yang diisi keliaran menyenangkan, dari menghisap ganja, mencoba seks, hingga merebut pacar sahabat. Poin terakhir dipertahankan, tapi secara keseluruhan lebih "jinak" (tentu empat protagonis bukan lagi perokok berat), hanya tertarik menertawakan kebodohan tingkah para jomblo mencari cinta.

Untuk sedikit melihat citra perbandingan dua versi, mari tengok lagu tema masing-masing. Versi usang mempunyai BDG 19 OKT dengan petikan lirik "Segala yang kuberi, tak pernah berarti, berat terasa, habiskan darahku, menusuk tulangku, yang lelah" yaitu nomor rock seputar curahan hati. Sedangkan remake-nya ditemani Jomblo dengan hook pada bab "Masih betah jadi jomblo, Since Grow, Sampai kapan jadi jomblo, Since Grow" selaku hip hop nuansa modern yang lebih lugas dan playful. Intinya, didorong menyasar para milenial, Jomblo berusaha tampil (lebih) ringan yang sayangnya berujung simplifikasi kosong.
Empat tokoh utamanya masih sama, Agus (Ge Pamungkas) yang berambisi mengakhiri masa jomblo kala bertemu sahabat lamanya, Rita (Natasha Rizky), Bimo (Arie Kriting) yang menembak semua wanita, Doni (Richard Kyle) si playboy ganteng, dan Olip (Deva Mahenra) yang takut berkenalan dengan Asri (Aurelie Moeremans). Dari luar, kepribadian pula permasalahan tetap sama. Bedanya, walau konflik meninggi hingga mengancam jalannya persahabatan, kali ini sulit merasa terikat alasannya jarangnya momen kebersamaan. Benar mereka sempat nongkrong di kampus tetangga atau berlibur ke pantai bersama, tapi semua belum cukup berpengaruh menggambarkan ikatan pertemanan. 

Agar peduli, penonton butuh keintiman, sebagaimana kala Bimo-nya Dennis Adhiswara tersenyum pilu sambil dipeluk tiga sahabatnya. Tanpanya, Jomblo begitu hampa rasa, tidak peduli berapa banyak air mata tumpah maupun seberapa keras pukulan Deva Mahenra ke pipi Richard Kyle dikala perselisihan memanas. Pun keputusan mempertahankan konklusi bittersweet turut nihil dampak. Satu-satunya perubahan positif dari naskah garapan Adhitya Mulya dan Ifan Ismail yaitu mengakibatkan Olip bukan lagi creepy stalker, melainkan laki-laki pemalu yang diakibatkan tekanan untuk selalu berhasil dari latarnya sebagai anak tentara. 
Sisi komedi tampil selaku penyelamat melalui sentuhan humor menghibur yang sesekali terjun ke ranah absurditas. Tapi pemfokusan terhadap komedi turut membawa imbas negatif, yakni aksara utama yang sebatas karikatur ketimbang insan nyata. Contohnya Ge Pamungkas. Meski andal memainkan kekonyolan berlebihan, tapi kekonyolan itu pula yang mendorong Agus menjadi sosok komikal nan artificial belaka. Toh itu belum seberapa dibanding Richard Kyle yang bagaikan robot berperut six pack dengan pengucapan kalimat carut-marut. Deva tampil meyakinkan, sehingga patut disayangkan filmnya terlampau menyoroti Agus dan mengesampingkan Olip, padahal dialah tokoh paling kompleks.

Demi menyulut nostalgia, homage diselipkan, pun beberapa komponen film sebelumnya dipertahankan walau banyak di antaranya terkesan asal tempel. Misalnya penokohan Bimo, sebagai orang Papua yang lahir di Jogja. Mengapa tidak sekalian mengubahnya secara menyeluruh? Pilihan ini nihil substansi, tidak digunakan sebagai sumber humor, tidak pula disinggung lagi di kemudian waktu. Jomblo begitu berhasrat menjadi berbeda hingga kehilangan semangat aslinya, tetapi ingin juga mencuri perhatian penggemar usang tanpa memahami sisi yang mereka kagumi atau aspek mana yang perlu disertakan. Dalam usahanya merenggut atensi cukup umur milenial, Jomblo rupanya serupa sederet dari mereka yang mengalami krisis identitas.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Keluarga Tak Kasat Mata (2017)

Keluarga Tak Kasat Mata adalah film jelek. Sangat jelek. Dan sesuai tradisi, film berkualitas jauh di bawah rata-rata akan menerima review spesial. Tapi 2 hari berselang, saya buntu. Ketika ulasan Coco dan Murder on the Orient Express yang ditonton belakangan sudah dipublikasikan, inspirasi belum juga mengalir bagi Keluarga Tak Kasat Mata. Saking bingungnya, sempat terpikir menerbitkan satu halaman nyaris kosong bertuliskan "Ini yakni review tak kasat mata", namun urung saya lakukan. Karena itu sama saja dengan pembuat filmnya, yang kehabisan nalar kemudian menentukan jalur luar biasa malas sekaligus bodoh.

Setahun lalu, ketika horor tanah air cenderung jalan di tempat, kelemahan akut Keluarga Tak Kasat Mata mungkin bisa sedikit (catat: SEDIKIT) dimaafkan. Paling tidak ini bukan tontonan antah berantah macam Dia Pasti Datang atau Video Maut yang mengatakan keburukan tidak memiliki batas. Terima kasih Joko Anwar, Pengabdi Setan memasang standar baru. Kini, production value lumayan (catat: LUMAYAN) saja tak cukup memberi rasa maklum. Apalagi dalam film seperti Keluarga Tak Kasat Mata yang layaknya "kaum sumbu pendek" Indonesia, gampang curiga dan insecure. Pulpen jatuh musik berdentum, sebaris obrolan final musik berdentum, hantu muncul sekelebat pun musik berdentum. 
Apa yang terjadi ketika para makhluk halus sungguh-sungguh menampakkan wujud? Menurut sutradara Hedy Suryawan (Rock N Love), jawabannya yakni close-up ekstrim, dan tentu saja musik berdentum. Bagai Benedict Cumberbatch yang doyan mengganggu sesi foto karpet merah, hantu film ini suka melaksanakan photo bomb, tiba-tiba muncul memenuhi seisi layar bioskop, yang daripada angker justru memancing tawa. Lucu, jauh lebih lucu ketimbang abjad Bebek (Kemal Palevi) yang memanfaatkan tiap kemunculan untuk merengek, bertingkah menyebalkan, berusaha tampil konyol meski sama sekali tidak lucu.

Soal membangun intensitas filmnya juga punya metode murahan. Ketegangan berbasis kekacauan situasi disamakan dengan editing lompat-lompat, kala secara ajaib, tokohnya bisa mendadak berpindah tempat. Entah di antaranya ada transisi tak kasat mata atau pembuat filmnya menganggap Genta (Deva Mahenra) dan kawan-kawan sebagai David Copperfield yang tengah melaksanakan sulap pindah kawasan dalam sekejap dibantu trik kamera. Deva sendiri kesulitan menangani tugas protagonis horor yang dituntut senantiasa takut dan curiga, akhir kosongnya pengekspresian rasa. 
Cerita Keluarga Tak Kasat Mata buatan Bonaventura D Genta yang terkenal di Kaskus intinya merupakan rangkaian pengalaman melihat hantu atau mendengar bunyi aneh, yang mengerikan alasannya yakni membiarkan imajinasi serta perkiraan pembaca berkeliaran. Mengangkatnya mentah-mentah ke layar lebar, ibarat tangisan wanita yang rutin terdengar tiap beberapa menit, menghasilkan ketiadaan eksistensi alur pun daya cekam. Walau tidak hingga satu setengah jam, alasannya yakni sekedar diisi penampakan satu ke berikutnya, Keluarga Tak Kasat Mata seolah berjalan sehari penuh. Bisa dipahami kalau anda merasa sedang terjebak di kutukan bulat waktu tanpa ujung serupa Jessica Rothe di Happy Death Day.

Ada perjuangan merajut alur, namun naskah buatan trio Lele Laila, Evelyn Afnila, dan Bonaventura D Genta mengandung setumpuk poin yang pantas dipertanyakan, dari esensi goresan pena penanda waktu serta lokasi yang hanya tampak di awal, hingga resolusi seputar para keluarga tak kasat mata di kantor Genta. Penonton bukan Genta dan Rudi (Gandindra Bimo) yang bisa memahami problem makhluk halus hanya lewat menandakan ambigu dalam mimpi. Penonton butuh elaborasi. Tak perlu gamblang, cukup pemaparan berbentuk struktur dongeng rapi alih-alih plot tak kasat mata dalam film berkualitas tak kasat mata pula. 

Ini Lho Satu Hari Nanti (2017)

Mengusung rating 21+, Satu Hari Nanti memang film dewasa. Bukan alasannya ialah bertebaran sensualitas yang sesungguhnya sebatas beberapa ciuman "panas" dan lingerie Adinia Wirasti, melainkan tema beserta perspektif soal hubungan. Ditulis sekaligus disutradarai oleh Salman Aristo (Bukaan 8, Mencari Hilal), sudut pandang film yang mengetengahkan dongeng saling tukar pasangan ini memang cenderung menyasar kalangan dewasa, di mana romantika bukan cuma kegiatan "manis-manis manja", istilah "best friend forever" tidak eksis, sedangkan setting luar negeri bukan digunakan sebagai lahan jalan-jalan ria. 

Bertempat di Swiss memfasilitasi (atau tepatnya memudahkan) empat tokoh utamanya menjalin asmara, tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Bima (Deva Mahenra) yang bergulat meniti karir musik mendapati hubungannya dengan Alya (Adinia Wirasti) yang tengah menempuh pendidikan chocolatier semakin hambar, sementara Chorina (Ayushita Nugraha) si manajer hotel harus sabar menyikapi kegemaran kekasihnya yang berprofesi sebagai tour guide, Din (Ringgo Agus Rahman), bermain wanita. Kedua pasangan ini saling mendukung, menyediakan daerah bersandar kala masing-masing diterpa permasalahan. Sampai semua berjalan terlalu jauh, dan persahabatan berubah menjadi hasrat menggebu. 
Satu kelebihan yang kerap Salman Aristo munculkan lewat skenario buatannya yakni aksara solid. Dalam Satu Hari Nanti, gampang mendeteksi apa yang tiap tokoh rasakan, inginkan, atau keluhkan dari pasangannya. Serupa pendekatan filmnya, keempat protagonis bukan lagi muda-mudi naif yang selalu kagum kolam turis di negeri orang. Akhirnya, biarpun kamera Faozan Rizal sanggup menyibak indahnya alam setempat, dan Aghi Narottama bersama Bemby Gusti menciptakan musik bernuansa Eropa, Satu Hari Nanti tidak tampil "kampungan" kala enggan meluangkan terlampau banyak waktu berwisata. 

Dewasa dan elegan. Dua kata itu menyusun gerak langkah filmnya, setidaknya itu yang ingin dituju Salman Aristo ketika menekan letupan emosi sambil membangun interaksi melalui barisan pembicaraan yang digunakan karakternya untuk menuangkan kegelisahan ketimbang bertukar bahasa puitis. Pun daripada momentum bergelora, Salman menentukan memberi panggung bagi jajaran pemain sebagai pembentuk rasa, khususnya Adinia Wirasti yang kembali piawai memberi bobot untuk adegan sesederhana apapun. Tidak semua keputusan Alya simpatik, tapi Adinia bisa mengajak penonton bertahan di sisinya.
Sayang, penyutradaraan Salman Aristo tak mempunyai sensitivitas sekuat sang aktris. Keinginan memasang wajah pandai balig cukup akal nan elegan membuatnya lalai menghembuskan rasa. Tidak dibarengi pembentukan dinamika mumpuni ditambah obrolan tanpa pokok pembicaraan yang bisa menyulut kemauan penonton menyelami detail setiap kata, Satu Hari Nanti tersaji sedingin Swiss. Padahal jikalau diamati, tersimpan setumpuk gagasan menarik mengenai cinta, mimpi, sampai gejolak batin manusiawi, yang gagal tertuang maksimal layaknya seseorang penuh wangsit yang resah cara menumpahkannya. Penonton sanggup menangkap setumpuk gagasan itu, tapi sulit merasa terikat, yang artinya, Satu Hari Nanti hanya bekerja di ranah kognitif, bukan afektif. 

Kekurangan tersebut berakibat fatal tatkala konklusi yang bermakna dan berpotensi mengguncang emosi secara subtil akibatnya kurang berdampak. Mengangkat tagline "Cinta itu Perjalanan", Satu Hari Nanti justru melangkah lemah di paruh tengah, menciptakan destinasi yang gotong royong Istimewa berujung hambar. Padahal resolusi yang dipilih untuk menutup dilema kedua (atau keempat) hubungan sudah selaras dengan kedewasaan berbasis realita yang dituju. Apalagi ketika Chorina tidak lagi membutuhkan santunan untuk memotong cokelat kepunyaannya. Tersirat namun kuat. 


Note: Diputar dalam rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017