Showing posts with label Dimas Anggara. Show all posts
Showing posts with label Dimas Anggara. Show all posts

Wednesday, December 5, 2018

Ini Lho Promise (2017)

Film-film produksi Screenplay Films itu penting bagi industri perfilman tanah air. Walau sering dicap berkualitas sinetron, judul-judul macam "London Love Story" dan "ILY from 38.000 Ft" sanggup meraih jutaan penonton bahkan bukan tidak mungkin memperkenalkan kultur menonton bioskop kepada sasaran pasarnya (pemirsa televisi). Lambat laun mereka bakal melirik film lain, menjalani proses "belajar film". Tapi "Promise" ialah perkara Istimewa di mana para pembuatnya berambisi mengusung kisah remaja dan bangunan alur rumit, menerapkannya di formula FTV dangkal yang mana tidak selaras hingga gagal bekerja.

Kisahnya dibuka melalui pengenalan sepasang sahabat, Rahman (Dimas Anggara) dan Aji (Boy William). Rahman merupakan remaja polos anak pemuka agama (Surya Saputra). Didikan kolot sang ayah membuatnya aib berinteraksi pula enggan menatap mata perempuan dengan alasan menghormati. Tapi kenapa tato Dimas Anggara beberapa kali terlihat? Sebegitu malaskah departemen make-up film ini? Tidakkah sutradara Asep Kusdinar menyadari itu? Come on, menonton porno saja Rahman tidak berani, apalagi menciptakan tato. Sebaliknya, Aji ialah playboy, anak gaul yang bicara sok asyik, menggulung lengan dan membuka kancing seragamnya. Come on, anak gaul tak lagi berpenampilan begitu termasuk di Jogja yang menjadi setting.

Kenapa Jogja dipilih tak pernah terperinci kecuali penegasan protagonisnya ialah laki-laki kampung nan polos pula lurus. Really? Para penulisnya niscaya tidak memahami Jogja. Rahman pun hanya sesekali menggunakan logat Jawa (bukan bahasa Jawa) dan pelafalan Dimas Anggara terdengar menggelikan. Singkat cerita, akhir tertangkap berair menyimpan film porno derma Aji, Rahman diharuskan menikah oleh ayahnya. Ada potensi menggugat konsep perjodohan dan anutan kolot bersenjatakan agama, tapi Sukhdev Singh dan Tisa TS selaku penulis naskah urung bereksplorasi, membiarkannya tertinggal sebagai hiasan nihil substansi. Lalu dengan siapa Rahman dijodohkan? Di sini alur "Promise" bererak makin ambisius, menggunakan gaya non-linier. 
Kisahnya eksklusif melompat beberapa waktu ke depan, ketika Rahman berkuliah di Milan, bertemu Moza (Mikha Tambayong) yang rahasia jatuh cinta padanya. Hadir pula Ricky Cuaca sebagai comic relief tak lucu yang tampil hanya untuk bertingkah norak dan menyebalkan. Total screentime-nya tak hingga 10 menit termasuk adegan Ricky marah-marah di daerah umum lantaran menabrak tiang. Come on, this is Milan for fuck sake! Rahman sendiri rupanya tengah mencari sang istri yang identitas serta alasan kepergiannya belum terungkap. Sampai ia bertemu Aji yang sekarang menjadi fotografer sukses dan berpacaran dengan model berjulukan Sunbulat (Amanda Rawles).

Lupakan fakta bila sebelumnya Rahman dan Aji tak pernah diperlihatkan tertarik akan bidang yang mereka geluti di Milan, lantaran toh jalan hidup insan siapa yang tahu. Anda bisa mendadak ingin menjadi politikus ketika kuliah walau di Sekolah Menengan Atas bercita-cita sebagai aktivis. God only knows. Mari fokus pada pilihan alur non-linier saja. Apakah pemakaian gaya tersebut penting? Tentu tidak. Sama tidak pentingnya dengan pertanyaan "Kucing jatuh dari pohon apanya dulu?" yang balasan serta konteksnya teramat menggelikan. Pemakaian alur non-linier tak lebih dari bentuk kemalasan menghadirkan kejutan yang bahkan sama sekali tak mengejutkan.
"Promise" justru tersesat di kerumitan kisah yang dibangun. Alurnya asal melompat, begitu awut-awutan tanpa disertai alasan terperinci mengapa dari titik A ceritanya perlu melompat ke titik D, kemudian kembali ke B, dan seterusnya. Film ini tidak memerlukan kejutan, cukup nuansa romantis. Masalahnya, lompatan alur memaksa paparan hubungan Rahman dan cinta sejatinya ditempatkan di tengah menjelang akhir. Penonton dipaksa tersentuh oleh percintaan yang belum sempat disaksikan. Andai perjuangan memunculkan kejutan yang tidak perlu ini ditiadakan, bukan tidak mungkin filmnya bisa sedikit mempermainkan emosi. 

Bila ada faktor penyelamat, itu terletak pada beberapa shot memikat mata lengkap disertai warna-warna cerah. Jangan lupakan pula Mikha Tambayong yang sama memikatnya bagi mata. Mengenakan busana yang ditata apik oleh Aldie Harra, walau akting Mikha masih belum layak disebut realistis (sinetron-ish), penonton laki-laki pastinya bakal terhibur oleh gerak-gerik termasuk tariannya sewaktu clubbing. Am I being sexist right now? Entahlah, tapi ketika filmnya menempatkan sang aktris selaku eye candy semata yang karakternya tak menyimpan signifikansi, saya bisa apa? 

Setiap tingkah dan keputusan aksara sulit diterima nalar sehat. Di produksi Screenplay lain saya sanggup mendapatkan sikap tak logis yang sengaja dibentuk demi memuaskan hasrat penonton atas konsep cinta sejati. Kali ini kebodohan mereka sudah keterlaluan, terlampau dipaksakan demi menggerakkan alur atau menambah konflik. Dosis kalimat puitis pun bertambah dan makin menggelikan semisal "Kamu seterang lampu di luar sana" (lampu mana mbak? Berarti kalau mati listrik Rahman tidak lagi terang?). Selipan unsur pernikahan, perjodohan, dan religiusitas tak menciptakan "Promise"  lebih remaja alasannya ialah semuanya sekedar tempelan yang bila dihilangkan pun tak jadi masalah. Untuk apa pula memaksakan tampil (sok) pintar dengan alur acak dalam suguhan semacam ini? Seolah belum cukup, menjelang simpulan filmnya masih menyelipkan unsur penyakit secara mendadak, menambah satu lagi hal tak perlu di tengah ambisi besar yang berujung kehancuran. Ungkapan "less is more" nampaknya patut diresapi Screenplay Films.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho The Perfect Husband (2018)

Sepertinya sineas kita masih sulit membedakan antara “lelaki pantang menyerah” dengan “lelaki penguntit”. Setelah Dilan (Dilan 1990) dan Nick (Arini), The Perfect Husband, selaku pembiasaan novel berjudul sama karya Indah Riyana, mengenalkan kita pada Arsen (Dimas Anggara) seorang pilot yang ngotot mengantar-jemput Ayla (Amanda Rawles), calon istri dari proses perjodohannya, meski sang gadis yang berusia jauh lebih muda (siswi SMA) menolak keras. Arsen pun mengikuti Ayla ke mana saja ia pergi, bahkan berani menggendong secara paksa di depan teman-temannya, di lingkungan sekolah pula. Dan tatkala Ayla mengaku tak lagi perawan, Arsen mengungkapkan kekecewaan sambil berkata bahwa semestinya Ayla lebih menghargai dirinya sendiri.

Saya tidak oke anggapan film harus mendidik atau mengusung pesan. Namun pada masa di mana gerakan-gerakan faktual soal “kemerdekaan diri” maupun “mencerdaskan bangsa” tengah vokal didengungkan, The Perfect Husband bagai proses mundur beberapa langkah. Betapa tidak? Filmnya seolah mendukung perjodohan paksa yang berujung janji nikah dini selepas SMA. Menghadapi perkara itu, pikiran Ayla tentu kacau. Terlebih ia telah mempunyai seorang kekasih, vokalis grup musik rock berjulukan Ando (Maxime Bouttier), yang tampil di program berjulukan “Indienight”, mengenakan dandanan rock ‘n roll yang tidak lagi digunakan rockstar mana pun, tapi menyanyikan lagu pop-punk berlirik galau. Bagaimana Ayla bisa mencintainya yakni pertanyaan besar. Mungkin anak Sekolah Menengan Atas memang sebodoh itu.
Ucapkan selamat tinggal kepada potensi dinamika serta tensi cinta segitiga, alasannya yakni Ando dan Arsen terang timpang dikala disandingkan. Selain penokohan Ando yang terlampau menggelikan untuk menjadi pesaing serius, pesona Dimas Anggara dengan gampang menghempaskan Maxime Bouttier dan tato spidolnya. Di sisi lain, Amanda Rawles menghasilkan kesejukan memerankan gadis cukup umur yang bertingkah sekaligus bicara seenaknya. Pun berkat Amanda pula bumbu humornya bisa bekerja cukup baik, khususnya di paruh awal yang sempat memberi delusi bahwa The Perfect Husband bakal jadi film terbaik produksi Screenplay yang lebih “manusiawi”, urung mengandalkan obrolan puitis.

Apalagi ada Slamet Rahardjo sebagai Tio, ayah Ayla, yang ibarat biasa mulus menangani tiap momen, kecuali ketika menyebut nama sang puteri. Dua kali ia luput menyebut “Alya”. Mungkin Rudy Aryanto (Surat Cinta untuk Starla) selaku sutradara segan mengoreksi si bintang film senior. Mengapa Tio kukuh menjodohkan Ayla yang belum lulus Sekolah Menengan Atas tentu mengundang tanya. Bisa ditebak ada hal yang Tio dan para penulis naskahnya sembunyikan demi menyulut konflik. Karena, andai Tio mengutarakan alasan perjodohan sedari awal, yang mana merupakan pilihan logis, film ini bakal selesai dalam 15 menit.
Pun sewaktu kesannya diungkap, diam-diam itu tak lebih dari elemen paling klise yang bisa dipikirkan seorang penulis dongeng melodrama, yang kebetulan juga ciri khas judul-judul produksi Screenplay. Film Screenplay di bawah isyarat Asep Kusdinar memang berlebihan mendramatisasi, tetapi setidaknya keputusan itu menghadirkan ketepatan porsi melodrama. Di tangan Rudi Aryanto, momen yang seharusnya menyajikan puncak emosi justru berujung canggung nan kaku. Rudi cukup sukses di Surat Cinta untuk Starla lantaran dibantu nomor-nomor balada ciptaan Virgoun. Tanpanya, sang sutradara kolam hilang nalar dan kekurangan amunisi.

Kembali sejenak menuju fakta yang Tio sembuynikan, diam-diam tersebut gagal memberi justifikasi terhadap problematika perjodohan dan nikah muda. Ada begitu banyak alternatif cara menuturkan pesan mengenai bakti anak pada orang tua. Menurut The Perfect Husband, menikah sehabis lulus Sekolah Menengan Atas merupakan jalan keluar pemberi kebahagiaan sekaligus bukti bakti terhadap orang bau tanah yang telah memberi segalanya untuk anak. Ya, segalanya kecuali kebebasan menjalani hidup sesuai kemauan sendiri. Dengan contoh pikir demikian, jangan heran jikalau negeri ini dipenuhi orang bodoh. The Perfect Husband menanggalkan gaya Screenplay yang makin repetitif hanya untuk menemukan kelemahan gres yang lebih fatal.


Untuk ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Dancing In The Rain (2018)

Sungguh hidup ibarat putaran roda yang sulit ditebak arahnya. Baru tiga ahad lalu, Screenplay Films gres saja mempersembahkan karya terbaik mereka lewat Something in Between (review), kini muncul Dancing in the Rain sebagai salah satu yang terburuk. Film karya sutradara Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie, The Perfect Husband) ini mendobrak batas kengawuran bertutur disease porn. Setelah sempat beralih ke tangan Titien Wattimena, departemen penulisan naskah dikembalikan pada duo Tisa TS-Sukhdev Singh (Magic Hour, London Love Story) yang beranggapan bahwa penyakit merupakan satu-satunya penghasil penderitaan. Padahal, mereka yang sehat pun bisa menderita. Penonton film ini misalnya.

Saya takkan mengaku paham betul mengenai segala aspek medis film ini. Saya bukan ahli, bukan dokter, bukan pula psikolog. Apalah artinya ilmu saya yang butuh waktu 7,5 tahun menuntaskan studi psikologi dibanding psikolog profesional yang (konon) jadi konsultan naskah sekaligus pendamping sepanjang proses produksi. Saya hanya bisa menyebut bahwa merujuk pada definisi DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition), akting Dimas Anggara sebagai pengidap gangguan spektrum autisme telah memenuhi simtoma-simtoma yang tertulis. Tapi saya tak bisa mengukur akurasinya secara detail, apalagi kondisi penderita autisme amat beragam. Satu hal pasti, Dimas melaksanakan yang ia bisa, sesuai impian sutradara dan petunjuk sang psikolog dalam proses yang saya yakin cukup singkat.

Pun saya yakin, Tisa dan Sukhdev melaksanakan wawancara kepada psikolog. Bukan lantaran naskahnya tersaji mendalam, namun beberapa kalimat terdengar bagai hasil verbatim (menulis ulang kata per kata tanpa pengubahan) dari wawancara formal, ketimbang ucapan insan normal. Tengok saja voice over Ayu Dyah Pasha yang memerankan psikolog. Itu bukan ucapan psikolog pada klien. Itu pembacaan halaman Wikipedia.

Mari beranjak menuju alurnya, yang mengisahkan penderita spektrum autisme berjulukan Banyu (Dimas Anggara), yang akhir kondisinya, sulit meneukan teman. Di sekolah ia dijauhi, sementara di lingkungan sekitar rumahnya, ia jadi korban bully. Sampai ia bertemu Radin (Deva Mahenra) yang tumbuh sebagai sahabat sekaligus pelindung bagi Banyu. Kemudian Kinara (Bunga Zainal) turut masuk ke hidup mereka, bahkan dikala beranjak memasuki masa kuliah, menjalin cinta dengan Radin. Untunglah film ini urung masuk ke ranah cinta segitiga, alasannya ialah kebersamaan Radin-Kinara amat disukai oleh Banyu.

Sebelum kehadiran Radin dan Kinara, Banyu hanya mempunyai Eyang Uti (Christine Hakim), yang luar biasa sabar merawat sang cucu pasca ditelantarkan kedua orang tuanya. Tentu Christine Hakim merupakan hal terbaik Dancing in the Rain. Caranya meregulasi emosi luar biasa. Momen favorit saya ialah dikala Katrin (Djenar Maesa Ayu), ibu Radin, mendatanginya, memaksa supaya ia bersedia memutus pertemanan Banyu dengan Radin. Eyang berusaha sabar, pelan-pelan bicara, mempertahankan senyum, walau kita bisa mencicipi amarah siap meledak. Hingga di satu titik ia tak berpengaruh lagi, suaranya “pecah”, namun tak lama. Kembali ia mengatur emosinya. Such a bravura performance.

Tapi itu urung menyembunyikan keburukan naskahnya, termasuk penulisan huruf Eyang Uti. Dia betul-betul mengasihi Banyu, satu dari sedikit orang yang mengerti cara menanganinya, sehingga bagaimana mungkin ia seteledor itu meninggalkan Banyu sendirian di pasar? Tentu keteledoran itu dimaksudkan guna membuat momen dramatis, tanpa peduli masuk logika atau tidak. Pola serupa terus diulang. Di cafe, beberapa laki-laki dengan lantang mencela Banyu (yang tiba bersama Radin dan Kirana), menyebutnya idiot, mengejek gaya berpakaiannya. That’s a terrible soap opera level of dramatization. Sama halnya dengan penokohan dangkal Katrin, yang tak ubahnya sosok ibu antagonis tanpa nurani di sinetron, yang bicara sendiri di depan kamera mengungkapkan rencana jahatnya.

Saya sering kesal mendengar omongan “Ini film kelas FTV” atau “Sinetron banget deh filmya”. Kalimat-kalimat itu ialah simplifikasi rendahan. Tapi Dancing in the Rain benar-benar cocok akan deskripsi tersebut. Naskahnya eksis di universe yang sama dengan Jenazah Mandor Kejam Mati Terkubur Cor-Coran Dan Tertimpa Meteor. Tisa dan Sukhdev membuat semua karakternya terserang penyakit, entah supaya hidup mereka lebih menderita, memberi pelajaran pada antagonis, atau menghadirkan haru lewat sebuah pengorbanan. Sekalinya mencoba memancing haru melalui momen tanpa penyakit, kesudahannya justru canggung, ketika sang pembantu menyanyikan Lelo Ledhung ketika Banyu tengah menangis di dekapan Eyang Uti.

Menciptakan persamaan nasib di antara ketiga protagonis turut melucuti pesan penting mengenai perbedaan, bahwa kita harus memperlakukan semua orang sama, dan walau kita dianggap “normal” dan lebih sehat, bukan berarti kita berderajat lebih tinggi. Tapi apa peduli film yang seenaknya menggambarkan proses transplantasi jantung (silahkan anda cari dari bermacam-macam sumber mengenai detail prosedurnya) mengenai pesan? Setidaknya, saya bersyukur Rudi Aryanto masih bisa membungkus filmnya dalam tempo dinamis, enggan tampil bertele-tele dan membuang waktu. Karena kalau tidak, menonton film ini akan semakin terasa membuang waktu.

Ini Lho The Night Comes For Us (2018)

The Night Comes for Us dibentuk oleh laki-laki cukup umur asing yang mewujudkan mimpi berair masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah, kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh: The Story of Ricky.

Saya membubuhkan tanda petik pada kata “realistis” lantaran sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo Tjahjanto sepanjang 2018 ini terperinci tidak memerlukan logika, baik dalam pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo berdiri ialah dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan masakan sehari-hari insan di dalamnya . Wajar, alasannya dalam dunia ini Triad memegang kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.

Ito (Joe Taslim) merupakan salah satu anggota Six Seas, enam laki-laki dan perempuan pilihan dengan identitas misterius yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti menghalalkan segala cara supaya semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik berjulukan Reina (Asha Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, kemudian berbalik menghabisi anak buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya, termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.

Berikutnya ialah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan sedikit flashback, sedikit pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita goresan pena Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi cuek tanpa emosi, kecuali dikala Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal menghipnotis pertumbuhannya.

Tapi itu dongeng di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini ialah proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana ia bisa membungkus tiap janjkematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan, sampai tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan darah bahkan belahan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita melihat serpihan tubuh mereka.

Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas, Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi buatan Iko Uwais—yang menyerupai biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi dinamika serta menciptakan penonton mencicipi pengaruh dari beberapa pukulan dan tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi  (The Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.

Sulit menentukan mana pertarungan terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama dikala Fatih (Abimana Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus kematangan menangani obrolan yang tak terduga muncul di film macam ini.

Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali kalau ada film lanjutan), Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator (Julie Estelle). Bermula di kamar kemudian berlanjut ke lorong penuh belahan tubuh manusia, sekuen ini mengambarkan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah), Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi mengambarkan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia dikala ini. Karakter yang bisa memutus jari tangannya sedemikian santai menyerupai The Operator terperinci perlu dibuatkan filmnya sendiri.

Ketiga tentu saja titik puncak Joe melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna. Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang tak kalah “meledak”, sama-sama  menembus batas, baik dari sisis karakternya yang bertarung sampai titik (atau banjir?) darah penghabisan, maupun usaha keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi mengakibatkan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama, namun The Night Comes for Us merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan bahagia hati saya kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna menikmati pertarungannya secara terpisah.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho London Love Story 3 (2018)


London Love Story 3 terang ditujukan bagi para penggemar saja. Penonton di luar lingkup tersebut, menyerupai saya, meski setia mengikuti dari film pertama, akan kesulitan mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu. Bahkan sedikit flashback tak begitu membantu. Kenapa dulu Caramel (Michelle Ziudith) meninggalkan Dave (Dimas Anggara)? Apa Dave sebelumnya pernah mengalami kecelakaan? Semua kurang jelas di ingatan. Satu yang film ini terus coba ingatkan, bahwa Caramel pernah berdoa supaya Tuhan mengambil nyawanya satu hari sebelum Dave. Doa ini mengerikan bagi Dave, lantaran bila kelak Caramel meninggal, ia tahu keesokan harinya akan menyusul.

Doa tersebut hampir jadi kenyataan, dikala keduanya mengalami kecelakaan beberapa ahad sebelum melangsungkan ijab kabul di Bali. Kecelakaan yang menciptakan Caramel tidak bisa menggerakkan kakinya, dan berdasarkan Dokter Rio (Derby Romero), ada kemungkinan ia lumpuh total. Identitas Dokter Rio sendiri yaitu twist. Kejutan yang eksekusinya penuh lubang budi sekaligus tanpa signifikansi kecuali sebagai pemenuhan obligasi. Karena ini termasuk salah satu ciri khas Screenplay.
Saya membayangkan duo penulis naskahnya, Tisa TS dan Sukhdev Singh menyimpan template berisi checklist mengenai apa saja yang wajib muncul dalam film Screenplay. Twist? Cek. Kecelakaan atau penyakit? Cek. Jalan-jalan dengan kendaraan beroda empat mewah? Cek. Dialog puitis? Cek. Khusus soal dialog, kuantitasnya sedikit dikurangi, meski obrolan berkepanjangan tetap setia mengisi. Begitu panjang dan berulang, satu pokok permasalahan bisa dibahas dua kali, di mana sekali pembicaraan bisa berlangsung 5 menit.

Memasuki film ketiga (plus penampilan di produksi Screenplay lain), Michelle Ziudith makin cakap menjual momen bertabur kalimat “puitis”. Dia tersipu, menangis, tertawa dengan alamiah, seolah kata-kata gombal yang Dave lontarkan merupakan hal yang normal keluar dari verbal insan pada umumnya. Untuk Dimas Anggara, nyatanya ia cukup menarik disimak ketika tak dituntut bermanis ria lewat puisi. Saat Dave berpura-pura hendak menghajar Rio misalnya. Momen ringan namun hidup menyerupai itu yang sejatinya Screenplay butuhkan semoga film-filmnya bernyawa.
Poin plus layak diberikan terhadap kemauan Tisa TS dan Sukhdev Singh bergerak ke ranah lebih kelam. Konflik London Love Story 3 bukan lagi wacana cinta segitiga. Gejolak psikis Caramel kala bergulat dengan ketakutan serta shock tentu lebih rumit daripada kebingungan mengenai menentukan kekasih. Kondisi itu membuatnya menolak percaya pada keajaiban. Sudah niscaya itu sementara. Kita tahu bahwa sehabis proses penuh simplifikasi, Caramel bakal mempercayai keajaiban lagi sebagaimana para penulisnya mempercayakan penyelesaian duduk kasus pada keajaiban. Paling tidak ada perjuangan merangkai adegan romantis terkait keajaiban tersebut.

Seperti trailer-nya telah paparkan, Caramel akan meminta Dave mengakhiri korelasi mereka. Alasannya dua: Pertama, Caramel tidak tahan melihat sang cinta sejati harus mengurusnya bagai perawat. Kedua, Caramel merasa Dave memberinya impian palsu dengan meyakinkan bila ia akan segera sembuh. Andai pengutamaan diberikan kepada alasan kedua, tujuan menyusun konflik yang lebih berilmu balig cukup akal bakal terpenuhi. Tapi London Love Story 3 memang khusus untuk para penggemar yang secara umum dikuasai belum memasuki usia dewasa.