Showing posts with label Fajar Yuskemal. Show all posts
Showing posts with label Fajar Yuskemal. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Kenapa kualitas horor lokal tak berbanding lurus seiring dengan peningkatan kuantitasnya belakangan? Kemungkinan besar lantaran secara umum dikuasai pembuatnya, meski sering menonton horor (who doesn’t?), tidak menaruh rasa cinta terhadapnya, sehingga kurang memahami seluk beluknya akhir miskin referensi. Sebab horor sendiri beraneka ragam cabangnya. Dari trashy sampai artsy, dari slasher hingga supranatural. Selain Joko Anwar yang sudah kita saksikan pembuktiannya lewat Pengabdi Setan, ada Timo Tjahjanto yang sebelumnya mempersembahkan Rumah Dara (sebagai Mo Brothers bersama Kimo Stamboel) juga Safe Haven (berduet dengan Gareth Evans) selaku segmen dalam antologi V/H/S/2 (2013).

Harapan publik, termasuk saya, kepada karya terbaru Timo, Sebelum Iblis Menjemput, luar biasa besar. Apalagi sehabis menanti hampir setahun, belum ada horor lokal mumpuni penerus prestasi Pengabdi Setan. Sebelum Iblis Menjemput dibentuk atas dasar kekaguman Timo atas Sam Raimi, khususnya trilogi Evil Dead. Teror tiba dari entitas jahat yang merasuki manusia, mengubah mereka jadi makhluk buas menyerupai Deadite, lengkap dengan riasan serupa (plus sedikit efek dari Pazuzu-nya The Exorcist?), yang pada salah satu serangannya, melompat dalam balutan POV shot sebagaimana gemar digunakan Raimi.

Ceritanya masih menggunakan formula “cabin in the wood”, tapi alih-alih sekelompok berakal balig cukup akal penuh hasrat, tokohnya terdiri atas anggota keluarga disfungsional. Ketika Lesmana (Ray Sahetapy), mantan pengusaha sukses yang telah gulung tikar terbaring di rumah sakit akhir penyakit misterius, puteri dari ijab kabul pertamanya, Alfie (Chelsea Islan) terpaksa kembali pulang. Alfie masih terluka lantaran dahulu Lesmana meninggalkan ia dan ibunya, yang kemudian tewas bunuh diri, untuk menikahi artis ternama, Laksmi (Karina Suwandi). Pernikahan kedua ini memberi Lesmana tiga buah hati: Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan si bungsu Nara (Hadijah Shahab).

Berniat menguasai harta sang suami, Laksmi mengajak ketiga anaknya mengunjungi vila milik Lesmana guna mencari barang berharga yang bisa “diamankan”. Tapi mereka, termasuk Alfie yang tiba lantaran enggan membiarkan Laksmi berbuat seenaknya, justru menemukan diam-diam mengerikan serta teror mematikan yang disembunyikan sang ayah. Jangan berharap rekonsiliasi emosional di antara mereka. Melalui Sebelum Iblis Menjemput, Timo hanya ingin memindahkan neraka dan segala isinya ke dunia manusia. Menghadirkan kengerian audiovisual merupakan tujuan tunggal film ini.

Departemen audio, selain lagu bernuansa lawas berjudul Hampa, diisi scoring karya Fajar Yuskemal (The Raid, Killers) yang mengkombinasikan denting piano ritmis bernada tinggi di satu kesempatan, dengan suara synth yang memunculkan kesan serupa music score era 70-80an macam Tubular Bells (lagu tema The Exorcist) di kesempatan lain. Tidak heran, alasannya sengaja atau tidak, Sebelum Iblis Menjemput juga mengingatkan pada film buatan William Friedkin itu. Apabila Friedkin sesekali menyelipkan “wajah iblis” secara sembunyi-sembunyi, Timo pun sempat memasukkan sekilas penampakan yang mungkin penonton lewatkan (hint: Chelsea Islan dan bus).

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan seputar film ini tentu terkait kadar gore. Sebab berkat itulah karya Timo banyak digandrungi pecinta horor. Sebelum Iblis Menjemput boleh tidak seeksplisit Rumah Dara, pun tak menumpahkan darah sebanyak itu, namun cukup untuk menciptakan anda meringis ngeri sambil menutup mata. Beberapa elemen gore juga berfungsi melengkapi jump scare, yang Timo kemas biar tidak asal mengageti, pula berdampak. Saat iblis menyeret badan karakternya, kita melihat kuku-kuku si abjad terlepas, berdarah, sebagai akhir perjuangan melarikan diri. Iblis muncul bukan cuma untuk “setor muka”, melainkan ada perjuangan kasatmata mendatangkan janjkematian bagi korbannya.

Timo, menyerupai sutradara horor bertalenta lain, pintar memainkan ekspektasi. Salah satu sekuen paling menegangkan, melibatkan Nara di kamar tidur. Timo paham kapan penonton menduga jump scare bakal menyerbu. Berbekal itu, saya dipaksa menahan nafas, terombang-ambing di tengah penantian tidak pasti, sambil secara perlahan, dibarengi keheningan, wajah orisinil teror diungkap. Sedangkan alur berjalan penuh kesabaran, terkadang pelan, tetapi tak pernah melepakan cengkeraman berkat ketelatenan Timo, yang turut menulis naskahnya, menjabarkan poin-poin cerita secara bertahap. Pemilihan timing-nya tepat, kapan mesti menggeber kengerian, kapan mesti berhenti sejenak guna bernarasi. Begitu teror diluncurkan, hadrilah pertunjukan mengenai cara memacu adrenalin berbekal kekacauan situasi.

Pujian wajib diberikan untuk tiga pemain film wanitanya. Berkat mereka, “Neraka Dunia” ciptaan Timo tampak meyakinkan. Chelsea Islan alhasil menemukan film yang tepat memfasilitasi gaya aktingnya, yang acap kali terkesan berlebihan di banyak sekali drama. Di sini luapan emosinya sesuai dengan kengerian yang karakternya hadapi. Pevita, walau belum sekuat rekannya, bisa mengangkat tensi titik puncak di mana sosok Maya berperan besar. Walau menyaksikan keduanya menyebarkan layar bagai harapan yang jadi kenyataan, Karina Suwandi muncul sebagai kekuatan tak terduga. Sang aktris menggila, kolam pelayan buas Bafomet yang bertugas mengacaukan seisi dunia.

Kelemahan Sebelum Iblis Menjemput terletak di third act yang gagal menandingi dinamika parade teror sebelumnya. Timo menolak menginjak pedal gas lebih kencang, menjadikannya terkesan diulur. Lagipula, durasi 110 menit bagi horor berskala kecil macam ini memang agak terlalu lama, saat 90an menit saja rasanya cukup. Bukan berarti klimaksnya buruk. Adegan-adegan yang muncul sebelumnya lah yang levelnya sukar dikejar. Sama menyerupai keseluruhan filmnya, yang meneruskan tongkat estafet dari Pengabdi Setan untuk menempatkan standar tinggi terhdap film horor Indonesia. Semoga tidak perlu menunggu satu tahun lagi hingga judul memikat berikutnya menjemput.  

Ini Lho Apostle (2018)

Gareth Evans menantang dirinya sendiri melalui Apostle. Setelah tancap gas dengan 3 film termasuk dwilogi The Raid yang mengubah skena film agresi dunia, Evans membuat period horror yang di dalamnya mengalir DNA serupa The Wicker Man (versi 1973, bukan remake konyol Nicolas Cage). Apostle sama-sama menampilkan protagonis laki-laki dengan persoalan psikis yang pergi ke sebuah pulau daerah kelompok cult misterius tinggal, guna menyelamatkan seorang wanita. Dan serupa horor klasik karya Robin Hardy tersebut, Evans menentukan gaya slow burn.

Pria di balik tontonan pemacu adrenalin membuat horor slow burn yakni sesuatu yang tak pernah aku duga. Menulis naskahnya sendiri, Evans mengisahkan soal Thomas Richardson (Dan Stevens), yang berhenti menjadi misionaris pasca bencana yang nyaris membunuhnya. Nyawa Thomas selamat, namun keyakinannya kepada Tuhan yang risikonya terbunuh. Sempat hilang dan disangka tewas, sekarang Thomas mesti mencari adiknya, Jennifer (Elen Rhys) yang diculik sekelompok cult demi uang tebusan. Thomas harus menemukan Jennifer sebelum cult yang dipimpin Malcolm (Michael Sheen) itu membongkar identitasnya.

Sejam pertamanya bergerak lambat, dengan hanya sekelumit penampakan misterius serta satu sekuen agresi pendek berdarah mengisi di sela-sela. Sisanya, Evans mengajak penonton mengobservasi beberapa sudut pandang—atau tepatnya kritik—di kepalanya wacana sisi gelap agama. Ada mantan misionaris yang membenci Tuhan, juga Nabi palsu yang merepresentasikan keserakahan umat manusia, yang tak pernah ragu merusak semesta demi kepentingan personal, bahkan “mengeksploitasi Tuhan”.

Dan Stevens (The Guest, Beauty and the Beast) memberi performa intens, yang meski takkan membawanya menyabet piala penghargaan, tampak tepat di tengah bangunan dunia sarat kegilaan milik Evans, meski studi terhadap aksara Thomas yang coba Evans jabarkan tampil terlalu dangkal. Ada pula perjuangan merangkai misteri terkait kebenaran soal misteri di pulau tersebut yang penyampaiannya kurang mengikat. Pertama, alasannya yakni rangkaian alurnya tak cukup tricky untuk menggiring penonton terus mengajukan pertanyan. Kedua, sebagaimana telah kita saksikan di The Raid 2: Berandal (2014), Evans bukanlah penulis yang baik, khususnya diakibatkan tendensi bercerita terlalu banyak, membentangkan konflik selebar mungkin tanpa fokus jelas.  

Ketimbang menggali satu-dua konflik lebih jauh, Evans terus membeberkan subplot demi subplot tak perlu, di mana masing-masing tampil tanpa kedalaman, bahkan saling melemahkan alasannya yakni kurangnya kesempatan eksplorasi, tatkala Evans mengutamakan kuantitas di atas kualitas (durasinya membengkak hingga 130 menit). Beruntung, sewaktu “Gareth Evans si penulis” terbata-bata, “Gareth Evans si sutradara” masih berjaya. Kepekan visualnya mampu membuat atmosfer mengerikan sekaligus disturbing tanpa perlu bergantung pada jump scare.

Keberhasilan tersebut juga jasa sinematografer langganan Evans, Matt Flannery (Merantau, dwilogi The Raid), yang bukan cuma menangkap keindahan panorama Wales, pula teror menggganggu di desa tersembunyinya. Tambahkan musik unik garapan duo Fajar Yuskemal (The Raid, Headshot, Killers) dan Aria Prayogi (The Raid, Headshot, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212), Apostle mungkin terlampau panjang dan sesekali melelahkan, namun tidak pernah membosankan.

Kemudian kita datang di satu jam terakhir dikala sang sutradara melepaskan segala kegilaan kaya gore yang akan membuat penontonnya antara menutup mata menahan ngilu atau bersorak kegirangan. Seperti biasa camerawork Flannery efektif menyuntikkan intensitas melalui pergerakan dinamis maupun getaran manic yang memunculkan sense of urgency yang rasanya takkan bisa diikuti penata kamera lain. Apostle bukan sadisme indah layaknya The Raid. Ini yakni sajian “tebas-dan-tusuk” dengan kebrutalan mentah. Eksperimen Evans mungkin belum sepenuhnya berjalan mulus, tapi mungkin hanya beliau yang cukup berani memadukan dua wajah horor yang berlawanan semacam ini.