Showing posts with label Gary Dauberman. Show all posts
Showing posts with label Gary Dauberman. Show all posts

Sunday, December 2, 2018

Ini Lho It (2017)

It buatan Andy Muschietti (Mama) berada di jalan yang sempurna untuk merengkuh status "instant classic" berkat keberhasilan menjadi banyak hal positif. Diangkat dari novel berjudul sama karya Stephen King, film ini sanggup memodifikasi tanpa melupakan esensi, dan bila anda telah menonton miniseries 2 episodenya (1990), ada perasaan familiar sekaligus menyegarkan. Mempertahankan inti novel King, It mengandung unsur coming-of-age sebagai sarana menuturkan subteks mengenai proses melawan rasa takut khususnya pada anak. Suatu pembuktian kalau horor mainstream tak selamanya lalai mengurusi penceritaan.

Memindahkan setting 1950-an ke 1989, alkisah di Derry, sebuah kota kecil yang diselimuti misteri hilangnya banyak anak-anak. George (Jackson Robert Scott), adik Bill (Jaeden Lieberher) jadi salah satunya. Momen hilangnya George pun merupakan perkenalan kita dengan It/Pennywise (Bill Skarsgard), entitas jahat yang kerap mengambil wujud badut dan beraksi memangsa anak kecil tiap 27 tahun sekali. Penampakan perdana Pennywise bagai pernyataan Muschietti, bahwa berbeda dengan miniseries-nya, versi layar lebar ini bersedia menyentuh ranah lebih gelap, baik di balik ceritanya maupun aspek kasat mata lewat gore penyusun citra nasib tragis tokoh bocah. 
Naskah goresan pena Chase Palmer, Cary Fukunaga, dan Gary Dauberman disusun atas pemahaman kalau keberhasilan memacu intensitas dan kengerian horor tak terlepas dari seberapa jauh penonton terikat dengan jajaran tokoh. Selain fakta mereka masih bocah (we have soft spot for children), masing-masing mempunyai faktor pendorong proteksi penonton. Bill berusaha menemukan sang adik, Beverly (Sophia Lillis) dilecehkan ayahnya, Eddie (Jack Dylan Grazer) dikekang oleh ibunya, sementara Mike (Chosen Jacobs) korban rasisme. Dan kesamaan sekaligus penyatu ketujuh huruf utama (dipanggil The Losers Club" yaitu sama-sama di-bully oleh Henry (Nicholas Hamilton). Bahkan Henry bukan semata tokoh jahat dua dimensi. Sikapnya didasari didikan keras berlebihan sang ayah. 

Musuh terbesar mereka tak lain rasa takut, yang lalu Pennywise wujudkan guna menebar teror. Karena ketakutan tiap tokoh berbeda bentuk, jadilah The Losers Club melawan Pennywise lebih dari pertarungan membasmi makhluk jahat, tapi perihal mengalahkan ketakutan. Menghadapi SARA, trauma, fobia, rasa bersalah, penindas, terdapat konteks usaha luas sehingga It bekerja secara universal. Makin besar lengan berkuasa ikatan penonton dengan The Losers Club berkat performa solid deretan cast. Sophia Lillis dengan kedalaman memainkan gadis "bermasalah" pencari kawasan bernaung, Jaeden Lieberher yang berbeda dengan tokoh peranannya, tidak tergagap menghantarkan kerumitan gejolak batin, Finn Wolfhand sebagai Richie jago melempar lawakan bandel penyegar suasana di antara kengerian. Bersama, The Losers Club punya ikatan persahabatan kuat, memberi pondasi emosi penyokong jalan menuju sekuel.
Bill Skarsgard sebagai Pennywise adalah mimpi buruk, bukan saja untuk penderita coulrophobia (fobia badut). Setiap kehadirannya mengguncang, dengan tatapan, senyum, dan tawa yang seolah sanggup mencabut nyawa. Muschietti memanfaatkan betul kengerian Skarsgard, menempatkan sang pemain film di sudut-sudut yang efektif. Selain selipan gore dan suasana tak nyaman terkait keberanian memperlakukan tokoh anak begitu kejam, Muschietti cukup berakal meramu jump scare. Walau di beberapa kesempatan cenderung menerapkan metode standar di mana kemunculan mendadak jadi andalan, tetapi apa yang Pennywise perbuat meminimalisir kesan predictable. Mudah menduga "kapan", namun tidak dengan "bagaimana". 

Musik Benjamin Wallfisch kolam merangkum keseluruhan film. Meski menekankan atmosfer mengerikan atau dentuman mengejutkan, sesekali terdengar alunan megah bernuansa old school yang menyimpan cita-cita dan hati di tengah kepungan ancaman. It bisa menjadi angker pula brutal, namun tak ketinggalan menyimpan kehangatan, sisi bagus bahkan emosional. Penonton menghabiskan lebih dari dua jam tersentak, berteriak, terpaku, tidak hanya dipicu ketakutan sendiri, alasannya kita tahu begitu film usai kita akan selamat, tapi bagaimana dengan ketujuh tokoh utama? We scream for them and we cheer for their victory. The Losers Club saling peduli satu sama lain, pun demikian kita dengan mereka.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho The Nun (2018)

The Nun ialah korban benturan kepentingan artistik dengan potensi finansial. Para pembuatnya, yang digawangi sutradara Corin Hardy (The Hallow) serta James Wan sebagai produser, sadar bahwa seri The Conjuring butuh napas baru. Tapi sepenuhnya berpindah jalur sanggup “mengkhianati” ekspektasi penonton yang—pasca kesuksesan 4 filmnya meraup lebih dari $1,2 miliar berkat segala cirinya—sudah mantap ingin disuguhi tontonan mirip apa: straight up haunted house ride.

Naskah karya Gary Dauberman (Annabelle: Creation, It) menyenggol area petualangan berbumbu fantasi ala The Mummy (1999) milik Stephen Sommers, tapi tak memiliki cukup nyali untuk total beralih ke sana (detailnya bakal dibahas nanti). Lokasinya sendiri, yang kali ini berlatar waktu tahun 1952 atau 25 tahun sebelum The Conjuring 2 (2016), beralih dari rumah bau tanah ke biara tua, yang sejatinya tak mengandung banyak pembeda terkait pemanfaatannya sebagai panggung teror mistis.

Masih dalam ruang remang-remang, perbedan terbesar justru berupa hal negatif, di mana ketiadaan “keluarga serasi dalam bahaya hantu” turut meniadakan keintiman kaya rasa yang jadi nilai tambah formasi installment The Conjuring. Kini abjad utamanya ialah Irene (Taissa Farmiga), seorang novice yang diutus oleh Vatikan membantu penyelidikan Pendeta berjulukan Burke (Demián Bichir) terhadap insiden bunuh diri seorang suster di suatu biara di Rumania. Tragedi tersebut bertindak selaku momen pembuka The Nun, yang menyiratkan misteri di balik sosok Valak, namun malah meninggalkan lubang alur menganga terkait modus operandi sang hantu ternama, yang membutuhkan badan guna memasuki dunia manusia.

Dibantu laki-laki setempat, Frenchie (Jonas Bloquet), keduanya berusaha mencari kebenaran menyibak tabir rahasia, yang sebagaimana tagline-nya, merupakan “Babak tergelap dalam dunia The Conjuring”. Benar bahwa biara yang alih-alih suci justru jadi sarang iblis ialah gagasan kelam, tapi tak terpapar besar lengan berkuasa akhir urung dibarengi story arc mendukung soal para protagonisnya.  Keduanya tidak mempertanyakan kepercayaan masing-masing, bahkan keduanya nyaris tidak melewati proses internal sepanjang durasi. Patut disayangkan mengingat Bichir, sang peraih nominasi Oscar, niscaya sanggup menangani tugas kompleks semacam itu.

Walau sama-sama terdiri dari laki-laki dan perempuan yang bersahabat dengan hal-hal magis, dinamika Burke-Irene dan Ed-Lorraine mirip langit dan bumi. Tanpa chemistry, tanpa lapisan karakterisasi. Irene diceritakan menyimpan “bakat” serupa Lorraine, namun kurang digali untuk menghasilkan konflik batin mumpuni. Setelah di awal kesulitan memahami kemampuan itu, tiba-tiba dia sanggup mengendalikan tanpa menempuh proses apa pun, lantaran naskahnya memerlukan cara mengakhiri konflik. Jangan kaget apabila pada sekuelnya nanti, Lorraine dan Irene diceritakan punya korelasi darah sebagaimana kedua aktris pemerannya di dunia nyata.

Teror di sekitar karakter, yang merupakan alasan utama penonton berbondong-bondong meramaikan bioskop, gagal menjadi wahana pemacu jantung. Seperti sedikit disinggung sebelumnya, penyebabnya tak lain peleburan parade jump scare dengan petualangan sarat aksi. Keduanya berbeda. Saya mengibaratkan jump scare layaknya tabrak lari. Fasenya kurang lebih berjalan begini: penonton menunggu–hantu muncul secara mengejutkan–hantu menghilang. Trik ini bertujuan melonjakkan intensitas, kemudian memberi penonton kesempatan bernapas sembari menunggu hentakan berikutnya. Sementara petualangan/aksi, walau bisa mengagetkan, menekankan pada momen “pasca”. Karakter dituntut berjibaku melawan makhluk yang muncul, membangun intensitas kontinyu daripada sekali waktu.

Hardy acap kali kelabakan menyatukan dua elemen tadi, khususnya sepanjang second act. Pembangunan tensi yang perlahan terperinci mengikuti contoh horor James Wan, tetapi kemunculan Valak dan kompatriotnya sesama makhluk mistik ditangani kolam serbuan monster yang sekedar muncul di layar, minim elemen kejut, kemudian menantang sang satria beradu fisik. Namun sebelum sabung fisik mencapai puncak ketegangan sebagaimana mestinya film aksi/petualangan berkualitas, makhluk tersebut lenyap. Hardy berusaha menggabungkan dua contoh yang terbukti tidak berjodoh.

Penelusuran misteri sempat menarik di paruh awal. Sederet tanya terkait asal muasal Valak, juga misteri di balik perilaku asing para biarawati, menyuntikkan cukup daya tatkala jump scare kehilangan taring sementara potensi humor segar tersia-siakan dikarenakan Hardy kurang piawai memainkan comic timing. Namun begitu serangkaian tanya menemukan titik terang, yang dijabarkan lewat eksposisi plus flashback pendek, daya cengkeram alurnya ikut memudar. Jangan harap memperoleh latar belakang rumit perihal Valak. Selalu cuma ada satu balasan bagi pertanyaan “Dari mana iblis berasal?”.

Klimaks ialah momen sewaktu The Nun kesudahannya berani melangkah lebih jauh ke lingkup petualangan. Mengetengahkan pencarian benda pusaka sambil diselingi pertarungan kontak fisik yang tidak lagi hadir malu-malu (bahkan melibatkan senjata), terciptalah hiburan yang tiba terlambat. Ambisi melahirkan spin-off bernuansa lain layak diberi nilai tambah, tapi kalau Wan dan rekan-rekan berharap terus memperpanjang sekaligus memperlebar cakupan dunia The Conjuring, formula supaya warna gres dan signature lamanya bisa disatukan perlu segera ditemukan.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Annabelle: Creation (2017)

Prekuel Annabelle adalah salah satu horor terbaik 2017. Kalau tiga tahun kemudian selepas film pertama yang begitu jelek rilis ada pernyataan demikian, niscaya saya tertawa. Namun kenyataannya, Annabelle: Creation memang salah satu horor terbaik tahun ini. Memberi origin baru yang bekerjsama merupakan retcon, karya dari David F. Sandberg (Lights Out) ini membawa kisahnya mundur menuju sekitar tahun 1950-an, saat seorang pembuat boneka berjulukan Samuel Mullins (Anthony LaPaglia) dan istrinya, Esther Mullins (Miranda Otto) kehilangan sang puteri tunggal, Annabelle (Samara Lee), jawaban kecelakaan. 

12 tahun berselang, Samuel dan Esther menimbulkan rumah mereka sebagai panti asuhan teruntuk segelintir anak wanita bimbingan Suster Charlotte (Stephanie Sigman). Kebahagiaan memperoleh rumah gres berukuran besar tidak bertahan lama, khususnya bagi Janice (Talitha Bateman) yang pada suatu malam tertarik memasuki sebuah kamar meski telah tidak boleh oleh Samuel. Rupanya kamar itu milik Annabelle dulu, dan tanpa Janice sadari, ia sudah membebaskan sesosok roh jahat dari kekangan. Roh yang siap menebar teror keji berkepanjangan. 
Tanda peningkatan kualitas dibanding installment pendahulunya pribadi terpercik sejak opening sequence-nya. Sandberg menentukan menyusun kesunyian, menunjukkan proses Samuel membuat boneka Annabelle disusul bermain petak umpet bersama puterinya. Nihil musik atau pengaruh suara, hanya kesepian pemantik antisipasi yang terasa mencekik. Nuansa sepi terus bertahan mencapai pertengahan durasi, namun bukan kekosongan melelahkan. Ada sedikit introduksi atas segala kecacatan dalam rumah hingga formasi teror berskala kecil ibarat sekelebat bayangan. Atmosfer terbangun besar lengan berkuasa di mana Sandberg   dibantu pembagian sisi gelap dan terperinci ruangan oleh sinematografi Maxime Alexandre   memancing ketakutan alamiah kita bahwa ada sosok angker tengah mengintai dari balik kegelapan.

Tapi Sandberg sadar, atmosfer saja takkan cukup memuaskan penonton luas. Butuh parade jump scare. Mengikuti ilmu James Wan ditambah kreativitas sebagaimana ia pamerkan dalam Lights Out, jump scare olahan Sandberg berisi penampakan-penampakan lewat cara serta waktu yang kerap tak terduga. Para hantu bukan saja numpang lewat memamerkan tampang seram, tetapi "aktif" melaksanakan sesuatu, sebutlah mendorong dingklik roda di siang bolong. Babak tengah film simpel bergerak di jalur formulaik berupa teror tanpa henti, namun eskalasi tempo sesudah paruh awal yang menjalar pelan plus metode cukup kreatif sang sutradara, ampuh menjaga atensi. 
Turut menjaga film terjerumus pada kehampaan yaitu jajaran pemeran. Naskah Gary Dauberman terbagi menjadi dua fokus. Separuh pertama jadi panggung Talitha Baterman menawarkan akting meyakinkan terkait verbal ketakutan. Tatkala kamera kerap mengambil close-up, kita bagai melihat penampilan aktris yang berpengalaman di ranah horor. Lalu paruh kedua diisi Lulu Wilson sebagai sahabat Janice, Linda. Wilson kolam mewakili niat Sandberg bersenang-senang menggarap filmnya. Baik celotehan singkat ("who cares, run!" is my favorite line) maupun respon lugu atas teror boneka Annabelle menghadirkan kesejukan humor secukupnya yang tak hingga mendistraksi parade horor. Tapi tingkah polos Linda justru masuk logika, sehinga selain jadi salah satu tokoh bocah paling likeable dalam horor belakangan ini, pula terpintar. 

Menyentuh third act, Sandberg tidak lagi menahan diri. Dilepaskan segala amunisi, dipacunya tempo secepat mungkin. Tidak hingga terburu-buru pula, alasannya Sandberg masih menjembatani momen demi momen, menghasilkan antisipasi yang tak kalah menegangkan dibanding suguhan kengerian utama. Berlangsung panjang namun tidak berlebihan dan konsisten menjaga dinamika, titik puncak Annabellee: Creation layak mendefinisikan "epic horror entertainment". Terkait eksistensinya dalam The Conjuring universe, sepanjang film ikut disematkan beberapa koneksi dengan judul-judul sebelumnya, termasuk credit scene (ada dua buah) yang merujuk pada spin-off berikutnya yang bakal rilis tahun depan.


Review Annabelle: Creation juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_L7Lz

Ini Lho It (2017)

It buatan Andy Muschietti (Mama) berada di jalan yang sempurna untuk merengkuh status "instant classic" berkat keberhasilan menjadi banyak hal positif. Diangkat dari novel berjudul sama karya Stephen King, film ini sanggup memodifikasi tanpa melupakan esensi, dan bila anda telah menonton miniseries 2 episodenya (1990), ada perasaan familiar sekaligus menyegarkan. Mempertahankan inti novel King, It mengandung unsur coming-of-age sebagai sarana menuturkan subteks mengenai proses melawan rasa takut khususnya pada anak. Suatu pembuktian kalau horor mainstream tak selamanya lalai mengurusi penceritaan.

Memindahkan setting 1950-an ke 1989, alkisah di Derry, sebuah kota kecil yang diselimuti misteri hilangnya banyak anak-anak. George (Jackson Robert Scott), adik Bill (Jaeden Lieberher) jadi salah satunya. Momen hilangnya George pun merupakan perkenalan kita dengan It/Pennywise (Bill Skarsgard), entitas jahat yang kerap mengambil wujud badut dan beraksi memangsa anak kecil tiap 27 tahun sekali. Penampakan perdana Pennywise bagai pernyataan Muschietti, bahwa berbeda dengan miniseries-nya, versi layar lebar ini bersedia menyentuh ranah lebih gelap, baik di balik ceritanya maupun aspek kasat mata lewat gore penyusun citra nasib tragis tokoh bocah. 
Naskah goresan pena Chase Palmer, Cary Fukunaga, dan Gary Dauberman disusun atas pemahaman kalau keberhasilan memacu intensitas dan kengerian horor tak terlepas dari seberapa jauh penonton terikat dengan jajaran tokoh. Selain fakta mereka masih bocah (we have soft spot for children), masing-masing mempunyai faktor pendorong proteksi penonton. Bill berusaha menemukan sang adik, Beverly (Sophia Lillis) dilecehkan ayahnya, Eddie (Jack Dylan Grazer) dikekang oleh ibunya, sementara Mike (Chosen Jacobs) korban rasisme. Dan kesamaan sekaligus penyatu ketujuh huruf utama (dipanggil The Losers Club" yaitu sama-sama di-bully oleh Henry (Nicholas Hamilton). Bahkan Henry bukan semata tokoh jahat dua dimensi. Sikapnya didasari didikan keras berlebihan sang ayah. 

Musuh terbesar mereka tak lain rasa takut, yang lalu Pennywise wujudkan guna menebar teror. Karena ketakutan tiap tokoh berbeda bentuk, jadilah The Losers Club melawan Pennywise lebih dari pertarungan membasmi makhluk jahat, tapi perihal mengalahkan ketakutan. Menghadapi SARA, trauma, fobia, rasa bersalah, penindas, terdapat konteks usaha luas sehingga It bekerja secara universal. Makin besar lengan berkuasa ikatan penonton dengan The Losers Club berkat performa solid deretan cast. Sophia Lillis dengan kedalaman memainkan gadis "bermasalah" pencari kawasan bernaung, Jaeden Lieberher yang berbeda dengan tokoh peranannya, tidak tergagap menghantarkan kerumitan gejolak batin, Finn Wolfhand sebagai Richie jago melempar lawakan bandel penyegar suasana di antara kengerian. Bersama, The Losers Club punya ikatan persahabatan kuat, memberi pondasi emosi penyokong jalan menuju sekuel.
Bill Skarsgard sebagai Pennywise adalah mimpi buruk, bukan saja untuk penderita coulrophobia (fobia badut). Setiap kehadirannya mengguncang, dengan tatapan, senyum, dan tawa yang seolah sanggup mencabut nyawa. Muschietti memanfaatkan betul kengerian Skarsgard, menempatkan sang pemain film di sudut-sudut yang efektif. Selain selipan gore dan suasana tak nyaman terkait keberanian memperlakukan tokoh anak begitu kejam, Muschietti cukup berakal meramu jump scare. Walau di beberapa kesempatan cenderung menerapkan metode standar di mana kemunculan mendadak jadi andalan, tetapi apa yang Pennywise perbuat meminimalisir kesan predictable. Mudah menduga "kapan", namun tidak dengan "bagaimana". 

Musik Benjamin Wallfisch kolam merangkum keseluruhan film. Meski menekankan atmosfer mengerikan atau dentuman mengejutkan, sesekali terdengar alunan megah bernuansa old school yang menyimpan cita-cita dan hati di tengah kepungan ancaman. It bisa menjadi angker pula brutal, namun tak ketinggalan menyimpan kehangatan, sisi bagus bahkan emosional. Penonton menghabiskan lebih dari dua jam tersentak, berteriak, terpaku, tidak hanya dipicu ketakutan sendiri, alasannya kita tahu begitu film usai kita akan selamat, tapi bagaimana dengan ketujuh tokoh utama? We scream for them and we cheer for their victory. The Losers Club saling peduli satu sama lain, pun demikian kita dengan mereka.