Showing posts with label Iko Uwais. Show all posts
Showing posts with label Iko Uwais. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Mile 22 (2018)

Melalui Mile 22, Peter Berg (Battleship, Lone Survivor, Deepwater Horizon) terang ingin membuat The Raid versinya. Berg sendiri mengaku, bekerja bersama Iko Uwais merupakan alasannya membuat film ini. Menurut Gareth Evans, bukan saja aktor, Iko ialah pengarah langgar (peran yang juga dilakoni di Mile 22) yang piawai membuat koreografi yang tampak menawan di kamera. Artinya, supaya kemampuan itu terfasilitasi, gerakan buatannya perlu diperlihatkan seutuh mungkin, alih-alih dimutilasi oleh penyuntingan liar, trik malas yang jamak dipakai, termasuk di sini. Tapi kita sedang membicarakan Iko Uwais. Tidak ada yang bisa menghentikannya melambungkan kualitas sekuen aksi. Dampaknya bisa berkurang, namun tak bisa dilenyapkan. Ditambah kesediaan Berg menyipratkan darah, setiap langgar yang melibatkan Iko dalam Mile 22 jauh lebih baik dibanding adonan semua film agresi generik Hollywood.

Pertanyaannya, apa tujuan penyuntingan liarnya dipilih? Apalagi teknik itu digunakan bukan cuma di tengah baku hantam, melainkan keseluruhan film, menghasilkan momen-momen blink-it-and-you’ll-miss-it, yang berfungsi sebagai penjelas. Penonton dituntut menjaga fokus—yang mana melelahkan kalau dilakukan terus menerus selama 94 menit—bila enggan tersesat. Untunglah, menyerupai telah disinggung, Berg ingin membuat The Raid versinya, yang berarti, memiliki alur sesederhana mungkin. Sekelompok jasus menempuh perjalanan 22 mil guna mengantar aset yang menyimpan instruksi perangkat keras berisi lokasi senjata pemusnah masal, sembari menghadapi pasukan yang dikirim musuh. Sesederhana itu.

Salah satu agen, James Silva (Mark Wahlberg), merupakan laki-laki temperamental pengidap ADHD, yang sulit berdiam diri, dan kalau suasana terlalu intens, memainkan karet gelang pertolongan mendiang sang ibu yang selalu ia kenakan di tangan. Itu dia. Salah satu alasan Berg menerapkan kesan manic bagi temponya yaitu untuk menyelaraskan pergerakan film dengan kondisi mental protagonis. Perlukah? Tentu tidak. Lagipula Mile 22 tidak dituturkan melalui sudut pandang James dan berpusat pada dirinya seorang. James perlu menyebarkan porsi dengan beberapa tokoh lain.

Pertama Alice Kerr (Lauren Cohan), anggota tim James yang diberi subplot wacana kesulitannya menjaga hubungan dengan sang puteri pasca bercerai. Kisah sampingan ini coba menggambarkan bahwa profesi dalam bidang spionase tak memungkinkan orang-orangnya menjalani hidup normal, namun hanya tampil sekilas tanpa resolusi maupun imbas emosi. Tokoh kedua tentu saja Li Noor (Iko Uwais), polisi Indocarr yang mengkhianati bangsanya dengan membocorkan diam-diam pada pihak Amerika.

Ya, anda tidak salah baca. Ketika negara lain menyerupai Rusia disebut menggunakan nama aslinya, Indonesia bermetamorfosis Indocarr. Rumor menyebutkan, naskah buatan Lea Carpenter awalnya menggunakan nama Indonesia, pun filmnya sempat berniat mengambil gambar di sini. Sayang rencana itu batal akhir semrawutnya kondisi Jakarta serta ketiadaan insentif dari pemerintah. Alhasil, proses dipindah ke Bogota, Kolombia. Bisa dipahami, walau semestinya mereka bisa memikirkan alternatif nama yang lebih baik, lantaran Indocarr terdengar menyerupai showroom mobil.

Memerankan sosok misterius, gaya kalem terang cocok dilakoni Iko untuk sekarang, sampai kapasitas akting dramatiknya pelan-pelan meningkat suatu hari nanti. Paling tidak saya lebih nyaman menyaksikannya mengucap sepatah dua patah kata daripada akting berlebihan Mark Wahlberg, dengan mata melotot yang menggelikan serta pengucapan kalimat dibuat-buat selaku perjuangan mati-matian mengesankan sosok hiperaktif. Sedangkan pada porsi langgar terang Iko tak tertandingi. Menjalani dominan stunt-nya dengan tangan diborgol, beliau menyayat badan lawan, meremukkan tulang mereka, bergerak indah kolam penari menarikan tarian mematikan, menunjukan kapasitas sebagai bintang langgar terbaik masa kini.

Kembali menyinggung dilema penyuntingan kilat dan keliaran tempo, sepertinya tujuan Berg menentukan teknik tersebut supaya mengurangi penurunan tensi, menjaga filmnya sepadat mungkin. Sense of urgency. Itu yang dicari, dan itu pula yang berhasil diciptakan. Walau kadang terasa bagai tes daya tahan, selama anda bisa bertahan, Mile 22 akan menjadi sajian langgar spionase cepat, liar sekaligus cekatan, yang menolak melepaskan penonton dari cengkeraman intensitasnya. Berg paham betul alurnya setipis kertas, kemudian menentukan memacu filmnya supaya penonton tidak berkesempatan menyadari itu kemudian merasa bosan.

Ini Lho The Night Comes For Us (2018)

The Night Comes for Us dibentuk oleh laki-laki cukup umur asing yang mewujudkan mimpi berair masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah, kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh: The Story of Ricky.

Saya membubuhkan tanda petik pada kata “realistis” lantaran sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo Tjahjanto sepanjang 2018 ini terperinci tidak memerlukan logika, baik dalam pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo berdiri ialah dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan masakan sehari-hari insan di dalamnya . Wajar, alasannya dalam dunia ini Triad memegang kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.

Ito (Joe Taslim) merupakan salah satu anggota Six Seas, enam laki-laki dan perempuan pilihan dengan identitas misterius yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti menghalalkan segala cara supaya semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik berjulukan Reina (Asha Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, kemudian berbalik menghabisi anak buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya, termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.

Berikutnya ialah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan sedikit flashback, sedikit pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita goresan pena Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi cuek tanpa emosi, kecuali dikala Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal menghipnotis pertumbuhannya.

Tapi itu dongeng di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini ialah proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana ia bisa membungkus tiap janjkematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan, sampai tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan darah bahkan belahan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita melihat serpihan tubuh mereka.

Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas, Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi buatan Iko Uwais—yang menyerupai biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi dinamika serta menciptakan penonton mencicipi pengaruh dari beberapa pukulan dan tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi  (The Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.

Sulit menentukan mana pertarungan terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama dikala Fatih (Abimana Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus kematangan menangani obrolan yang tak terduga muncul di film macam ini.

Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali kalau ada film lanjutan), Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator (Julie Estelle). Bermula di kamar kemudian berlanjut ke lorong penuh belahan tubuh manusia, sekuen ini mengambarkan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah), Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi mengambarkan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia dikala ini. Karakter yang bisa memutus jari tangannya sedemikian santai menyerupai The Operator terperinci perlu dibuatkan filmnya sendiri.

Ketiga tentu saja titik puncak Joe melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna. Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang tak kalah “meledak”, sama-sama  menembus batas, baik dari sisis karakternya yang bertarung sampai titik (atau banjir?) darah penghabisan, maupun usaha keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi mengakibatkan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama, namun The Night Comes for Us merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan bahagia hati saya kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna menikmati pertarungannya secara terpisah.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Beyond Skyline (2017)


Beyond Skyline dibuka ketika seorang perempuan (Lindsey Morgan) tengah terbaring dalam perawatan, yang identitasnya gres terungkap pada penghujung. Bahkan besar kemungkinan "rahasia" tersebut sanggup penonton pahami di pertengahan, ketika tanpa urgensi, sang perempuan sekilas muncul lagi, memperlihatkan betapa buruknya naskah buatan Liam O'Donnell yang juga menduduki bangku sutradara. Dan serupa The Brothers Strauese, duo sutradara Skyline, walau O'Donnell bukanlah pencerita handal, kisah fiksi ilmiah mengenai alien kentara merupakan passion-nya.


Itulah mengapa tatkala efek visualnya buruk, O'Donnell bisa mengemas momen invasi secara menghibur, membangkitkan sisi kanak-kanak kalangan penonton menyerupai saya, yang terobsesi akan makhluk abnormal berukuran masif. Tidak peduli seberapa besar perjuangan anggota LAPD berjulukan Mark (Frank Grillo) untuk melindungi Trent (Jonny Weston) dalam hubungan renggang ayah-anak yang dipaparkan dangkal, perhatian tetap tertuju pada alien pemburu otak insan dan ibu hamil yang menyerang dengan mecha berwujud monster raksasa. Dalam semangat film kelas B, O'Donnell tak segan menampilkan mereka di siang bolong walau kurang didukung CGI memadahi.
Namun itu hanya pelopor sementara. Perlu jalinan dongeng menarik, intensitas, atau agresi seru demi menjaga atensi penonton. Beyond Skyline lemah terkait ketiganya. Alurnya setipis kertas, apalagi begitu Mark dan kawan-kawan singgah di pesawat luar angkasa, berputar di lingkup "Frank Grillo berjalan menyusuri satu per satu ruangan" dan "alien memandangi layar". Sekalinya adegan agresi merangsek, O'Donnell gagal memanfaatkan maskulinitas Grillo, yang kita ingat betul sanggup merepotkan Captain America di The Winter Soldier hingga memikul beban menghidupkan The Purge: Anarchy seorang diri.

O'Donnell bersama sinematografer Christopher Probst kurang cakap mengemas sudut kamera agar adegan agresi tereskalasi dari sebatas baku hantam generik menjadi sajian pemacu adrenalin. Demikian pula bumbu horor/thriller yang urung mencapai kengerian tinggi sebagaimana dijanjikan momen klaustrofobik sewaktu Frank dan Audrey (Bojana Novakovic) mendapatkan pesan misterius untuk jangan menatap sinar. Bicara soal Bojana Novakovic, sayangnya sang aktris kerap melucuti potensi tensi akhir akting kaku dengan teriakan-teriakan yang tidak terang maksudnya. 
Penulisan O'Donnell tambah awut-awutan tatkala coba melebarkan mitologi, menyerupai ketiadaan paparan mengenai otak insan yang sanggup melawan kontrol alien. Bahkan guna mencapai titik terbaik film, tepatnya ketika setting berpindah ke Laos (pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Batam), Beyond Skyline harus terlebih dahulu melewati bermacam-macam bentuk penulisan naskah buruk, sebutlah perselisihan pegawapemerintah lokal melawan kartel narkoba pimpinan Sua (Iko Uwais) yang sekedar tempelan, hingga fakta bahwa tragedi di dua lokasinya bagai dua dongeng berbeda yang dipaksa menyatu.

Bukan didorong nepotisme, tetapi Iko Uwais dan Yayan Ruhian memang aspek terbaik Beyond Skyline. Aksi keduanya hadir agak terlambat dan terlampau singkat, namun mendapati mereka menghabisi sederet alien disokong koreografi garapan Yayan Ruhian menghasilkan kepuasan penebus segala kelemahan sebelumnya. Ini menegaskan, betapa Iko juga Yayan sanggup seketika melambungkan kualitas suatu sajian laga, termasuk Beyond Skyline yang berakhir sebagai B-movie menghibur, atau setidaknya guilty pleasure.