Showing posts with label Isman HS. Show all posts
Showing posts with label Isman HS. Show all posts

Saturday, December 1, 2018

Ini Lho Flight 555 (2018)

Membuat komedi itu susah. Apalagi bila spesifik, khusus menyasar problem atau setting tertentu. Seperti namanya, Flight 555 (seharusnya) merupakan komedi penerbangan dengan humor yang terfokus pada benda, peristiwa, dan orang-orang di pesawat. Adegan pembukanya melaksanakan itu, menggelitik lewat parodi terhadap ragam ciri penumpang: wakil rakyat sombong, orang yang gres pertama terbang dan bertingkah norak, pramugari yang bergerak hiperbolis kala menawarkan arah bangku. Melihat Meriza Febriani yang bagus dalam balutan seragam pramugari bertingkah demikian jadi anomali menyenangkan.

Memang perlu perjuangan ekstra bagi duo penulis naskah, Isman HS dan Raymond Handaya (juga sutradara) mengkreasi opening-nya. Dituntut berpikir keras tampaknya membuat pikiran mereka terforsir kemudian kering ide. Humor yang menyusul, khususnya sesudah pembajakan dimulai, tak lebih dari kebodohan seragam nan reptitif. Pembajakannya absurd. Putu (Tarra Budiman) yang pulang ke Bali demi menemui sang ayah yang sakit keras menemukan pistol di toilet pesawat, sempurna sebelum seorang Sunda dengan koteka (Anyun Cadel) dan seorang Papua (Abdur Arsyad) membajak pesawat menggunakan panah. Tidak usang kemudian muncul satu lagi pembajak yang mengenakan bom. 
Merasa perlu bertindak, Putu menggunakan pistol yang ia temukan untuk berpura-pura ikut membajak pesawat guna mengkonfrontasi ketiga pelaku. Absurd dan penuh perjuangan melucu, namun skenarionya bukan menitikberatkan pada situasi, melainkan karakter. Ketimbang membuat absurditas menurut rutinitas penerbangan menyerupai dilakukan Airplane! yang tampaknya memberi imbas besar (romansa dengan pramugari, konflik terkait mantan kekasih, keracunan makanan, pembersih beling pesawat, kemiripan pilot dengan sosok ternama), Flight 555 mengutamakan biar beberapa tokohnya bertindak sebodoh mungkin.
Anyun Cadel misalnya, diminta melontarkan pernyataan ngawur terus menerus sampai ke titik membosankan, bahkan menyebalkan. Sebaliknya, begitu banyak huruf malah sama sekali tidak berstatus tokoh komedik. Rusmedie Agus yaitu antagonis super serius, Tarra Budiman selaku protagonis hanya konyol di awal sewaktu status jomblonya jadi materi olok-olok, pula Mikha Tambayong yang tersia-siakan talentanya. Raymond urung memahami potensi Mikha melakoni komedi deadpan serupa yang ditunjukkan dikala merespon kecerobohan supir yang membuat lipstiknya awut-awutan di awal kemunculan.

Terlalu banyaknya huruf plus situasi serius menyiratkan hilang arahnya film ini. Pembajakan diposisikan kolam kenyataan selaku situasi hidup-mati alih-alih sekedar parodi pengundang tawa di tengah premis absurd. Tapi di dikala bersamaan, Flight 555 juga menggelontorkan lawakan di luar nalar. Inkonsistensi tone pun hadir. Absurditas komikal yang tak mempedulikan logika bertabrakan, gagal membaur dengan komponen suspens dan dramatik. Anda pun dapat memindahkan setting Flight 555 ke mana saja. Bus, perahu, kapal selam. tinggal pilih. Pertanda filmnya gagal memanfaatkan kekhasan setting. 

Monday, November 5, 2018

Ini Lho 5 Pemuda Jagoan: Rise Of The Zombies (2017)

5 Deadly Angels. Begitu judul internasional untuk 5 Cewek Jagoan (1980) karya Danu Umbara. Tentu para protagonis 5 Cowok Jagoan buatan Anggy Umbara, putera Danu, kurang pas disebut "Deadly", lantaran daripada membantai lawan, mereka lebih banyak memamerkan kekonyolan. Bahkan Reva (Cornelio Sunny) yang andal mengayunkan katana bukan laki-laki berperilaku normal. Dia kolam sufi cinta hening yang tersenyum bijak menyikapi semua hal, tapi berkembang menjadi parodi tokoh anime tiap kepalanya terbentur, lengkap dengan rambut lancip dan logat Jepang dengan artikulasi kacau. 

Kelima pendekar kita asing luar dalam. Dedi (Dwi Sasono) yang berkepala botak tanggung, berperut gendut ialah pelupa akut yang melupakan ulang tahun istri dan anaknya. Danu (Arifin Putra) merupakan dukun palsu dengan alis menyatu. Lilo (Muhadkly Acho) si anak mama gemar ber-cosplay tidak pada tempatnya. Sementara Yanto (Ario Bayu), selain berambut kribo rupanya seorang pemimpi di siang bolong. Berkata punya pekerjaan mentereng padahal cuma cleaning service, kemudian mengaku berpacaran dengan Dewi (Tika Bravani), rekan sekantor yang bahkan jarang ia ajak berinteraksi. Tapi korelasi Yanto-Dewi lah aktivis alur film ini.
Dewi diculik oleh sindikat misterius. Demi menyelamatkan sang pujaan hati, Yanto menagih kesepakatan keempat sobat masa kecilnya. Janji yang bahkan tidak diingat jelas, di mana mereka menyimpan memori berbeda akan masa kemudian itu sesuai kepribadian masing-masing. Kepribadian yang sebatas disusun oleh ciri komedik: Dedi pemalas yang ingin mendapat televisi, Danu mata duitan, Lilo anak manja, Yanto pengkhayal dan penakut, Reva pecinta ketenangan dengan tutur kata bijak. Kepribadian yang semata berfungsi memicu tawa penonton.

Komedi wajib lucu, tapi 5 Cowok Jagoan  ditulis oleh Anggy Umbara, Isman HS, Arie Kriting  berusaha mati-matian menciptakan penonton tertawa. Memakai visual gags lewat tampilan abstrak tokohnya hingga komedi situasi hasil tingkah laris mereka, Anggy ingin penonton tergelak di semua kesempatan, hingga terkadang terasa berlebihan. Tidak berhenti di situ, kita juga diberi tahu kapan mesti tertawa melalui iringan pengaruh bunyi yang sudah lewat masa keemasannya selaku suplemen komedi. Anggy memerah habis-habisan potensi humornya, menghasilkan inkonsistensi. Kerap gagal, tapi sekalinya berhasil, sulit menahan ledakan tawa. 
Apalagi setiap Cornelio Sunny bicara layaknya tokoh-tokoh dalam Crows Zero. Beberapa waktu lalu, saya menyaksikannya tampil depresif kemudian bercinta dengan jeep di Mobil Bekas buatan Ismail Basbeth. Serupa Abimana di Warkop DKI Reborn atau Reza Rahadian di My Stupid Boss, melihat pemain film "dramatik" mencoba tugas konyol (dan sukses) selalu menyenangkan. Begitu pula Ario Bayu dengan cara menodongkan pistol yang tak ubahnya James Bond kehilangan kewarasan atau Ganindra Bimo dengan bebeknya. Itulah sebab, walau totalitas Dwi Sasono kembali menghibur, kedua nama tadi lebih mencuri perhatian. 

Penampilan berkesan lain berasal dari Nirina Zubir. Berbeda dengan para pria, Nirina sebagai Debby tampil serius, mengundang decak kagum ketika secara meyakinkan menangani porsi laga. Bersama Tika (dan tiga aktris lain yang diungkap di penghujung film), Nirina membangun jembatan menuju remake 5 Cewek Jagoan, yang tampaknya bakal fokus pada aksi, menekan kadar komedi. Menjanjikan, mengingat kapasitas Anggy merangkai sabung penuh gaya, ibarat tampak dalam 3 (Alif, Lam, Mim), lebih mumpuni ketimbang komedi. 5 Cowok Jagoan sendiri tidak jauh beda, asyik berkat dosis gaya plus pemakaian CGI secukupnya, termasuk dalam mengemas para zombie memasuki paruh kedua. 5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies mungkin tak mulus mengalir, tapi saya tak ingin hiburan ini cepat berakhir.

Ini Lho Flight 555 (2018)

Membuat komedi itu susah. Apalagi bila spesifik, khusus menyasar problem atau setting tertentu. Seperti namanya, Flight 555 (seharusnya) merupakan komedi penerbangan dengan humor yang terfokus pada benda, peristiwa, dan orang-orang di pesawat. Adegan pembukanya melaksanakan itu, menggelitik lewat parodi terhadap ragam ciri penumpang: wakil rakyat sombong, orang yang gres pertama terbang dan bertingkah norak, pramugari yang bergerak hiperbolis kala menawarkan arah bangku. Melihat Meriza Febriani yang bagus dalam balutan seragam pramugari bertingkah demikian jadi anomali menyenangkan.

Memang perlu perjuangan ekstra bagi duo penulis naskah, Isman HS dan Raymond Handaya (juga sutradara) mengkreasi opening-nya. Dituntut berpikir keras tampaknya membuat pikiran mereka terforsir kemudian kering ide. Humor yang menyusul, khususnya sesudah pembajakan dimulai, tak lebih dari kebodohan seragam nan reptitif. Pembajakannya absurd. Putu (Tarra Budiman) yang pulang ke Bali demi menemui sang ayah yang sakit keras menemukan pistol di toilet pesawat, sempurna sebelum seorang Sunda dengan koteka (Anyun Cadel) dan seorang Papua (Abdur Arsyad) membajak pesawat menggunakan panah. Tidak usang kemudian muncul satu lagi pembajak yang mengenakan bom. 
Merasa perlu bertindak, Putu menggunakan pistol yang ia temukan untuk berpura-pura ikut membajak pesawat guna mengkonfrontasi ketiga pelaku. Absurd dan penuh perjuangan melucu, namun skenarionya bukan menitikberatkan pada situasi, melainkan karakter. Ketimbang membuat absurditas menurut rutinitas penerbangan menyerupai dilakukan Airplane! yang tampaknya memberi imbas besar (romansa dengan pramugari, konflik terkait mantan kekasih, keracunan makanan, pembersih beling pesawat, kemiripan pilot dengan sosok ternama), Flight 555 mengutamakan biar beberapa tokohnya bertindak sebodoh mungkin.
Anyun Cadel misalnya, diminta melontarkan pernyataan ngawur terus menerus sampai ke titik membosankan, bahkan menyebalkan. Sebaliknya, begitu banyak huruf malah sama sekali tidak berstatus tokoh komedik. Rusmedie Agus yaitu antagonis super serius, Tarra Budiman selaku protagonis hanya konyol di awal sewaktu status jomblonya jadi materi olok-olok, pula Mikha Tambayong yang tersia-siakan talentanya. Raymond urung memahami potensi Mikha melakoni komedi deadpan serupa yang ditunjukkan dikala merespon kecerobohan supir yang membuat lipstiknya awut-awutan di awal kemunculan.

Terlalu banyaknya huruf plus situasi serius menyiratkan hilang arahnya film ini. Pembajakan diposisikan kolam kenyataan selaku situasi hidup-mati alih-alih sekedar parodi pengundang tawa di tengah premis absurd. Tapi di dikala bersamaan, Flight 555 juga menggelontorkan lawakan di luar nalar. Inkonsistensi tone pun hadir. Absurditas komikal yang tak mempedulikan logika bertabrakan, gagal membaur dengan komponen suspens dan dramatik. Anda pun dapat memindahkan setting Flight 555 ke mana saja. Bus, perahu, kapal selam. tinggal pilih. Pertanda filmnya gagal memanfaatkan kekhasan setting.