Showing posts with label Jack Black. Show all posts
Showing posts with label Jack Black. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho The House With A Clock In Its Walls (2018)

Dalam salah satu perubahan jalur karir paling ekstrim semenjak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi darah menuju penyesuaian novel The House with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland semenjak buku ketujuh sesudah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik Amblin Entertainment, film ini erat bagi penonton anak. Jika biasanya Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba menghangatkannya, meski balasannya sang sutradara total bergantung pada jajaran pemain untuk mencapai itu.

Kasus lain perihal perubahan karir ajaib yaitu ketika Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man. Raimi berhasil lantaran sutradara horor yang baik selalu mempunyai sensitivitas dalam membuat intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”. Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan.  Berbeda dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung membuat kelemahan terbesar The House with a Clock in Its Walls.

Filmnya menghabiskan secara umum dikuasai durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah tertutup yang dianggap ajaib oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis berguru menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.

Apabila anda perhatikan, dua poin di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan menyerupai jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun tiba begitu kisahnya melewati separuh jalan. Sebelum hingga di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan menghibur. Visualnya, yang melibatkan beling patri yang rutin berubah gambar, perabotan yang sanggup bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air di kolam pasir, terlihat menarik  dalam balutan sinematografi Rogier Stoffers (School of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan wangsit imajinatif tersebut memang didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa menghidupkannya.

Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi perjuangan Lewis melatih ilmu sihirnya bisa kita temui. Montage yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil besar lengan berkuasa berkat keberadaan Jack Black selaku salah satu keputusan casting yang tepat. Black tepat menangani tugas di dunia fantasi ajaib menyerupai ini. Vaccaro si bintang film cilik pun tampil apik, khususnya ketika diminta menangis tanpa perlu terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini terang Cate Blanchett sebagai Florence Zimmerman, penyihir perempuan tetangga Jonathan dengan obsesi terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah ularnya menjadi ungu.

Blanchett mengajarkan bagaimana cara berakting di tontonan family-friendly. Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah ketika bertukar ajukan dengan Black atau ketika secara elegan tetapi playful, terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang mempunyai belahan dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan yang mana ketika menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan matanya, pula keraguan kala melangkah, yang menyerupai halnya seseorang ketika dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.

Tanpa kebolehan akting pemainnya, film ini akan menjadi perjalanan yang yummy dilihat namun nihil kepekaan akan intensitas. Narasinya terasa draggy, juga nyaris tanpa sentakan, alasannya yaitu sekali lagi, Roth bukan ahlinya membuat ketegangan bahkan ketika menggarap horor. Tanpa gore ia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak hingga jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror. Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali memperlihatkan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.

Akibat sisi lemah penyutradaraan Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera mencapai titik di mana ancaman besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu balasannya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melaksanakan hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup memesona bagi kawan-kawannya.

The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran trio protagonis melawan monster labu plus banyak sekali makhluk ajaib lain, yang kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akhir titik puncak yang berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack Black” menandakan bekerjsama Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, mempunyai otak sinting yang sanggup memproduksi hiburan.

Ini Lho Goosebumps 2: Haunted Halloween (2018)

Kalau film pembiasaan Goosebumps pertama (2015) menyerupai penghormatan bagi monster-monster dalam buku horor anak tersebut beserta R. L. Stine sang kreator, maka sekuelnya yang bertajuk Haunted Halloween ialah penerapa gaya narasi Stine, yang sejauh ini telah membentang sampai 231 buku. Tapi keduanya mempunyai satu kesaman, yakni sama-sama berakhir menjadi petualangan keluarga medioker juga sarat keklisean.

Memindahkan lokasi dari Madison ke Wardenclyffe di malam Halloween, strukturnya mengikuti rujukan yang telah kita saksikan ratusan, bahkan ribuan kali. Terdapat tiga protagonis: Sonny (Jeremy Ray Taylor), sahabatnya, Sam (Caleel Harris), dan sang kakak, Sarah (Madison Iseman). Sonny ialah bocah nerd, yang ingin membuat ulang menara penghantar listrik milik Nikola Tesla. Bersama Sam, ia juga menjalankan bisnis memungut barang rongsokan.

Tentu keduanya jadi korban perundungan. Tentu mereka secara tidak sengaja mengumpulkan rongsokan di bekas rumah R. L. Stine (Jack Black), membuka buku karyanya (berjudul Haunted Halloween, buku pertama Stine yang belum sempat diselesaikan), menghidupkan lagi Slappy the Dummy ke dunia manusia. Tentu Madison akan menangkap lembap perselingkuhan kekasihnya di pesta, dalam sebuah sekuen yang bisa dengan gampang kita temukan di film cukup umur manapun. Dan keretakan hubungan cinta itu tak menyimpan signifikansi bagi keseluruhan alur.

Naskah buatan Rob Lieber tidak berusaha memberi pembeda, atau setidaknya, membuat elemen formulaik di atas menarik disimak. Semua hanya pengisi durasi sebelum Slappy menampakkan wujudnya di hadapan Sonny, Sam, dan Sarah. Modus operandi si boneka iblis itu ialah mengontrol kehidupan ketiganya, memperbudak, menghancurkan hidup mereka, yang mana merupakan tipikal teror Goosebumps dan telah menghadirkan mimpi jelek bagi bawah umur pembaca bukunya. Ending-nya pun diisi twist kelam kesukaan R. L. Stine.

Andai saja Goosebumps 2: Haunted Halloween setia mempertahankan elemen tersebut selaku plot device. Sayangnya tidak, alasannya ialah setelahnya, film ini kembali bergerak pasrah mengikuti arus dalam rujukan cerita petualangan anak, di mana hal terpenting ialah menghajar monster-monster, tanpa menekankan teror di pikiran mereka mengenai konsekuensi kalau rencana Slappy berhasil. Padahal itulah keunggulan terbesar Goosebumps, dikala petualangan ringan bisa membaur dengan teror menyeramkan.

Berjalan selama 90 menit, alurnya bergerak cepat, pribadi merangsek ke inti konflik begitu Slappy bangkit, kemudian menghidupkan monster-monster lain. Beberapa sosok dari buku, mirip insan serigala (The Werewolf of Fever Swamp) Abominable Snowman (The Abominable Snowman of Pasadena), sampai para gnomes (Revenge of the Lawn Gnomes), tampil, bersama sekelompok monster baru. Tapi kehadiran mereka sekedar glorified cameo, sebagaimana tugas tidak penting Jack Black, yang seolah dipaksakan ada meski minim alasannya ialah sang pemain drama sibuk terlibat di film setipe, The House with A Clock in Its Walls.

Penyutradaraan Ari Sandel (When We First Met) gagal membuat gelaran agresi menyegarkan, atau paling tidak menghibur, begitu pula gugusan one-liner Slappy yang sama tidak lucunya dengan humor-humor medioker yang kentara diciptakan buru-buru kemudian ditempel secara asal-asalan. Ditutup oleh simplifikasi luar biasa pada konklusinya yang menghapus metode kreatif film pertama (yang juga tribute terhadap kreativitas R. L. Stine) guna menuntaskan konflik, Goosebumps 2: Haunted Halloween sebaiknya dikesampingkan demi penghematan menyongsong sederet film menarik yang segera menyusul di bulan ini.

Monday, November 5, 2018

Ini Lho Jumanji: Welcome To The Jungle (2017)

Banyak film berbasis video game menutup mata akan gameplay sumber materinya sehingga gagal menghasilkan pengalaman yang sama. Sebagai pembiasaan acara menyenangkan, mereka bersikap terlalu serius. Seperti kita tahu, Jumanji: Welcome to the Jungle adalah sekuel Jumanji (1995) yang diangkat dari buku anak buatan Chris Van Allsburg. Tapi kalau timbul pertanyaan "film apa yang menjadikan kesan serupa bermain video game?", inilah jawabannya. Gamers bakal tertawa sambil mengangguk paham mendapati bermacam-macam referensinya, penonton umum pun takkan terasing dan tersesat, sementara keempat tokoh utamanya tersesat di suatu dunia asing. 

Dunia itu berada dalam video game. Ya, Jumanji yang 22 tahun kemudian berbentuk papan permainan sekarang yakni Nintendo 90-an. Jangan tanya bagaimana. Anggap saja keajaiban. Keajaiban serupa turut mengubah Spencer, Bethany, Fridge, dan Martha, dari kuartet siswa Sekolah Menengan Atas bermasalah menjadi tokoh video game. Ini membahagiakan bagi Spencer, yang mempunyai otot besar sebagai Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) atau Martha sebagai Ruby Roundhouse (Karen Gillan) yang atletis pula andal laga sambil menari. Sebaliknya, Fridge dibentuk kesal akhir perawakan tinggi tegapnya mengkerut ketika menempati tubuh Moose Finbar (Kevin Hart).
Setidaknya penderitaan Fridge tidak setara Bethany. Hilang sudah paras bagus dan rambut pirang (dan telepon genggam), berganti jenggot lebat dan perut buncit Professor Sheldon Oberon (Jack Black). Melihat Dwayne Johnson kagum pada tubuh kekarnya,  sebagaimana kita para insan biasa kerap rasakan  Kevin Hart heboh mengeluhkan keadaan, hingga ketangguhan bertarung serta kecanggungan Karen Gillan berlagak seksi terang menghibur. Namun Jack Black dengan tingkah "anggun" yang bukan parodi murahan terhadap laki-laki feminin memberi pesona terkuat, bukti bahwa sang pelawak belum habis.

Perjalanan berikutnya sederhana. Keempatnya mesti menyelamatkan dunia Jumanji, menjelajahi hutan, menghadapi serbuan kudanil buas, segerombol badak, hingga ular berbisa. Kemasan agresi dalam penyutradaraan Jake Kasdan (Bad Teacher, Sex Tape) memang menyenangkan walau detail tiap set-piece mudah terlupakan begitu kita meninggalkan bioskop. Menariknya, justru para abjad yang sanggup bertahan usang di ingatan berkat penokohan khas, juga porsi merata, baik momen agresi maupun komedi. Bermain video game perlu fatwa taktis, dan mereka berempat mengatakan itu kala menghadapi setumpuk rintangan. 
Jatah nyawa, NPC (Non-Player Character) dengan kemampuan bicara sebatas isyarat samar kolam sandi, merupakan segelintir cara Jumanji: Welcome to the Jungle bersenang-senang memakai ciri video game. Tidak muluk pula usungan pesannya, sekedar "we can make new friends by playing multiplayer video game", yang mana kerap terjadi di keseharian kita. Kisah persahabatan (berbumbu romansa) ditangani dengan baik, membuat epilog hangat meski tidak mencapai level emosional setinggi reuni Alan dan Sarah di film pertama.

Jumanji: Welcome to the Jungle memilih menekan nostalgia secukupnya, hanya secuil rujukan berupa nama dua tokoh, termasuk versi lain Van Pelt (Bobby Cannavale) selaku antagonis. Tidak menyerupai pendahulunya, Jumanji: Welcome to the Jungle takkan meraih status tontonan keluarga klasik, apalagi di tengah seringnya keterlibatan Dwayne Johnson pada suguhan agresi petualangan. Pun empat bulan lagi, kita segera melihatnya memerankan action hero, bertarung melawan hewan-hewan liar di tengah hutan belantara (sebelum berlanjut ke sentra kota) sambil mengenakan kemeja berwarna abu-abu yang sama dalam Rampage. But this is fun and that should be enough.