Showing posts with label Karina Nadila. Show all posts
Showing posts with label Karina Nadila. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Mantan (2017)

"Mantan" mungkin menjadi salah satu kata paling mengerikan bagi pandai balig cukup akal sekarang. Menariknya, saat secara umum dikuasai dari mereka menentukan menghindar, Adi (Gandhi Fernando) yang segera melangsungkan kesepakatan nikah justru mengunjungi lima mantan kekasihnya untuk mencari tahu, apakah ada di antara kelimanya yang merupakan soulmate-nya. Mungkin banyak penonton bakal bertanya apa perlunya melaksanakan itu. Mengapa harus membuka lembaran usang penuh luka bila tengah bersiap mengarungi masa depan? Namun sejatinya demikianlah citra generasi masa kini yang gemar mempermasalahkan tetek bengek "mantan" dan "pacaran".

Mengusung hal di atas, debut penyutradaraan Svetlana Dea ini telah menjadi cerminan sempurna soal percintaan para millenial, di mana romansa masa kemudian kerap memancing keributan dan membebani. Dalam film ini, Adi mengunjungi kelima mantan di banyak sekali kota. Daniella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung, Frida (Karina Nadila) di Yogyakarta, Juliana (Kimberly Ryder) di Bali, Tara (Luna Maya) di Medan, dan Deedee (Citra Scholastica) di Jakarta. Pemilihan bermacam-macam kawasan tersebut tolong-menolong tanpa substansi terkait narasi alasannya yakni kita takkan menemui perbedaan yang dipengaruhi kultur (penokohan, konflik). Pun hanya sekilas penonton diperlihatkan lingkungan sekitar mengingat pertemuan selalu terjadi di kamar hotel, yang mungkin bentuk penyiasatan bujet.
Sisi positifnya, kamar hotel bisa membangun ruang personal, sehingga memfasilitasi obrolan intim, jujur, hati ke hati. Kemudian kita dibawa mempelajari bahwa terdapat alasan berbeda-beda yang memicu berakhirnya relasi Adi dengan masing-masing dari mereka. Semakin banyak kita tahu, semakin sulit bersimpati kepada Adi beserta segala kesalahan juga kengototan memaksa mengembalikan kenangan menyakitkan di benak mantan-mantannya. Tapi toh film ini tak berniat menjustifikasi perbuatan Adi baik dulu maupun sekarang. 

Adi menyatakan ingin "clear the air", namun berulang kali pula ketimbang menyiasati perdamaian, ia mengungkit kesalahan para mantan. Kalimat-kalimat dari mulutnya pun terdengar berlawanan dengan niatan move on. Setiap pertemuan berujung pertengkaran, yang ibarat disebut Juliana, berputar di satu titik, tak melangkah maju. Apa tujuan Adi? Seperti telah disebutkan, Adi kolam mewakili generasi kekinian yang berlebihan dibingungkan oleh perkara mantan lantaran terlampau bahagia menengok ke belakang. Mencapai destinasi, setumpuk perkara mungkin nihil resolusi, tapi satu hal pasti, Adi merasa tenang, memperoleh kepastian akan pilihannya. Mantan adalah dongeng seseorang menempuh perjalanan akhir didorong ketakutan atas masa lalu. Adi tak tentu arah, resah mesti berbuat apa, alasannya yakni sejatinya, tanpa sadar ia "hanya" ingin menerima penguatan terhadap suatu keputusan.
Ditulis sendiri oleh Gandhi Fernando, naskah Mantan lebih besar lengan berkuasa di tataran konsep ketimbang eksekusi. Premis seorang laki-laki mengunjungi lima mantan kekasih memang unik, tapi di sisi lain sulit melaksanakan penggalian mendalam dengan jumlah tokoh pula konflik sebanyak itu, apalagi lewat durasi 75 menit. Ragam aspek mulai paparan relasi Adi dan tiap mantan hingga alasan putus kurang solid dijabarkan, karam di tengah obrolan yang sesungguhnya berisi banter menarik namun acap kali tumpang tindih. Belum matangnya Svetlana Dea menyusun adegan juga berperan, di mana sang sutradara kerap kerepotan menangani momen pertengkaran secara rapi. Kurang tepatnya beberapa pilihan musik (orkestra dramatis yang tak selaras dengan nuansa low-key film kadang menyeruak) dan transisi adegan kasar  entah disebabkan penyuntingan lemah atau stock footage minim  turut melemahkan momentum.

Didominasi interaksi abjad di satu lokasi, Mantan tentu amat bergantung pada kualitas jajaran cast guna menyulut daya tarik. Ayudia Bing Slamet yang menggelitik melalui amarah tanpa henti dan komentar pedas, terdengar naturalnya lantunan kalimat Kimberly Ryder, Luna Maya dengan sisi glamornya, Citra Scholastica yang penuh semangat, hingga Karina Nadila selaku penampil paling memikat lewat sex appeal didukung interpretasi kompleks yang ia berikan bagi tokohnya, semua saling mengisi, meracik hiburan asyik. Berada di antara perempuan tersebut, Gandhi Fernando memberi akting terbaik dalam karirnya sejauh ini, melontarkan kata, humor, serta emosi bersenjatakan antusiasme yang menyenangkan disimak. Begitu film berakhir, jangan buru-buru beranjak, lantaran ada mid-credit scene singkat yang mengungkap jati diri salah satu sosok penting filmnya.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Di Balik Layar - Crazy Girlfriend Stadium 3

Artikel kali ini bukan sebuah review, bukan pula membahas film, melainkan web series Crazy Girlfriend demam isu ketiga yang merupakan hasil produksi Web TV Asia Indonesia. Bukan, ini juga bukan artikel endorsement. Seperti judulnya, saya akan membahas sedikit proses di balik layar (sambil sedikit promosi) serial ini, alasannya kebetulan, saya berkontribusi menulis naskahnya.

Saya termasuk penonton demam isu pertamanya yang tayang awal 2017 kemudian dan cukup menyukainya. Bukan konsep baru, tapi kegilaan Karina Nadila sebagai Gladys si pacar sinting terang hiburan menyenangkan di waktu senggang. Lebih dari setahun berselang, Gandhi Fernando berniat melanjutkan Crazy Girlfriend yang cukup usang tertunda, salah satunya alasannya duduk masalah biaya.  Saya pun oke menjadi penulis naskah, alasannya sebelumnya pun sempat menulis beberapa episode Gadun the Series.

Pertanyaannya, “Bagaimana menciptakan serial dengan biaya minim, atau bahkan sama sekali nihil?”. Akhirnya tercetus pandangan gres untuk mengubah konsep. Setelah demam isu pertama dan kedua yang mempunyai story arc panjang dengan durasi tiap episode sekitar 5 menit (bahkan lebih), diputuskan bahwa demam isu ketiga cenderung berbentuk skema berdurasi 1-2 menit. Saya pun mulai menulis sekitar 15 episode. Proses yang cukup memusingkan, alasannya lagi-lagi terbentur soal dana, beberapa pandangan gres tidak dapat dimasukkan. Semua episode harus berlokasi di satu daerah (indoor) dan hanya melibatkan dua pemain: Karina dan Gandhi.

Saya sadar, sesudah menembak pacarnya sendiri di demam isu kedua, meningkatkan kegilaan Gladys bukan hal mudah. Saya pun tetapkan menambah unsur absurditas (contohnya dapat dilihat di episode pertama yang saya unggah di bawah). Tapi itu saja tidak cukup. Perlu ada modifikasi lain. “Nino (Gandhi Fernando) harus lebih berperan dalam humornya!”, begitu pikir saya. Menyaksikan beberapa episode lama, saya berujar, “He’s too manly, too normal”. “Kejantanan” Nino pun saya lucuti. Jadilah demam isu ketiga menampilkan Nino yang baru, lebih lemah, lebih cengeng, lebih penakut, lebih pasif, lebih (merasa) teraniaya.

Ditambah beberapa skrip yang sudah Gandhi tulis sebelumnya (3 episode berkelanjutan yang menampilkan 2 bintang tamu), proses pengambilan gambar pun dimulai. Sekitar 12 episode diambil selama 1 hari. Sayang saya tidak dapat bercerita banyak mengenai proses ini alasannya kebetulan sedang ada di luar kota.
Sekarang episode pertama Crazy Girlfriend 3—yang menyerupai musim-musim sebelumnya masih disutradarai oleh Achmad Romieyang berjudul Kamu Selingkuh? alhasil sudah diunggah di jalan masuk YouTube Gandhi Fernando. Kalian juga dapat menonton episode pertamanya di bawah artikel ini. Selamat menikmati dengan santai!