Showing posts with label Lola Amaria. Show all posts
Showing posts with label Lola Amaria. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Labuan Hati (2017)

Orang-orang dengan duduk kasus personal menentukan "lari" untuk sementara waktu, mengasingkan diri dari keriuhan dunia modern di tengah alam, kemudian menemukan satu sama lain dan gotong royong coba saling menyembuhkan luka. Premis itu sudah familiar. Begitu pula dengan konflik antar mitra tatkala menyayangi orang yang sama. Bersama penulis naskah Titien Wattimena (Salawaku, Winter in Tokyo, Negeri Van Oranje),  Lola Amaria (Jingga, Minggu Pagi di Victoria Park) menggunakan unsur-unsur di atas sebagai jalan memberikan dongeng berselipkan rasa feminisme, berhiaskan acara diving mengarungi pemandangan bawah bahari Pulau Komodo. Semuanya familiar, tapi Labuan Hati nyatanya masih nikmat disaksikan.

Bia (Kelly Tandiono) yang tengah bermasalah dengan sang suami berlibur seorang diri ke Pulau Komodo dengan sumbangan Maria (Ully Triani) selaku guide. Sebelum memulai tur, Bia bertemu Indi (Nadine Chandrawinata) yang tanggapan miskomunikasi harus terpisah dari tunangannya yang memaksa mengatur segala detail perjalanan Indi. Merasa serupa dan praktis akrab, keduanya menentukan menghabiskan waktu liburan bersama. Sampai kehadiran pelatih selam berjulukan Mahesa (Ramon Y Tungka) memancing perpecahan ketika Bia, Indi, bahkan Maria sama-sama menyukai Mahesa. 
Labuan Hati bergerak dari satu destinasi wisata menuju lainnya, di mana tiap pemberhentian (baik darat atau underwater terpampang indah di layar) bermuara pada obrolan tiga wanita. Melalui pembicaraan mereka, Titien Wattimena mengutarakan bermacam-macam sudut pandang seputar kebahagiaan, cinta, atau tepatnya, soal kehidupan. Kadang pula Maria atau Mahesa memberikan segelintir info mengenai alam sekitar, entah yang sifatnya sekedar fakta dan data bagi penonton atau kritik terhadap lingkungan, semisal banyaknya pulau negeri ini yang dimiliki pihak asing. It's all about conversation. Meaningful and informative one. At least that's what this movie trying to be.

Pengadeganan Lola mengedepankan nuansa low key, sederhana, minim gejolak. Ibarat konser, Labuan Hati adalah pertunjukkan akustik intim ketimbang orkestra megah atau konser pop di stadion pengundang nyanyian massal. Namun kolam berkontradiksi, ketika seorang tokoh mengucap baris kalimat bermakna, ia seolah memasuki dramatic state, bagai coba terdengar puitis, berlawanan dengan usungan konsep realistisnya. Alhasil tercipta transformasi tak mulus, bagai ada jurang pemisah antara penuturan kalimat santai dengan yang menyimpan makna. Padahal keduanya tergabung dalam sebuah rangkaian pembicaraan di satu waktu. Akibatnya, perjuangan merangkai jalinan emosi subtil nan lembut daripada dramatisasi bergejolak pun gagal, menjadi seutuhnya datar.
Bukan sepenuhnya kekeliruan Lola, lantaran akting cast pun berpengaruh. Nadine paling terasa canggung dan berlebihan kala menangani kalimat tersebut. Kelly sekuat tenaga menghidupkan Bia dengan segala kehebohan dan sifat "wanita kota" miliknya. Tapi Ully Triani lah motor pencetus utamanya. Paling jarang bicara, Maria menentukan membisu mengamati dan menahan diri kala dua rekannya sibuk dikuasai ego. Baik berkat pengucapan obrolan natural maupun siratan rasa terpendam, Ully menciptakan tokohnya paling simpatik. Labuan Hati berharap penonton memahami ketiga tokoh utama, namun terang di Maria hati filmnya bertempat. Sepanjang film, Indi dan Bia gemar bermain "Fuck, Marry, Kill". It's arguable which one I'm gonna fuck, but Maria is definitely who I'm gonna marry, while the other two are killable.

Bia, Indi dan Maria merupakan perempuan kuat, setidaknya ingin menuju ke sana. Mereka gamang akan cinta dan kebahagiaan tapi berusaha tegak bangun sendiri, menolak dikontrol termasuk oleh laki-laki. Butuh pemicu kuat biar membutakan mereka. Pemicu itu tak lain Mahesa. Ketiganya tiba-tiba jatuh hati meski gres sejenak mengenalnya, belum pernah bicara hati ke hati atau mengalami bencana luar biasa. Pasca duduk bersama, berbahagia menghabiskan senja, adegan berikut eksklusif menawarkan adanya lomba, saling cemburu di antara mereka. Masalahnya, apa yang menciptakan Mahesa begitu digandrungi selain kehebatan menyelam? Mahesa sekedar keklisean sosok laki-laki tangguh, serupa namanya yang menyiratkan "kejantanan". 
Semakin sulit mempercayai proses ketertarikan pada Mahesa sewaktu Ramon Y Tungka tampil nihil pesona. Dia tidak diberkati charm natural macam Vino G Bastian atau Arifin Putra. Tidak pula bisa menyulap line sederhana jadi penuh wibawa menyerupai Reza Rahadian atau Abimana. Performanya di sini bukan suatu ekspo akting buruk, tapi terang kurang kuat untuk mengemban beban selaku penampil laki-laki utama, apalagi bermain sebagai pemikat hati tiga perempuan secara bersamaan. Belum lagi menyerupai telah disebutkan, karakterisasi Mahesa lemah, tanpa ciri. 

Pilihan resolusinya terkesan menggampangkan tapi masuk akal, lantaran proses perenungan berujung memaafkan juga penerimaan masuk akal terjadi kala seseorang bersinggungan dengan hidup dan mati. Saya pun menyukai bagaimana Labuan Hati bijak menyikapi pesan feminismenya. Titien Wattimena dan Lola Amaria menekankan pentingnya perempuan bertindak mandiri, menolak segala kekangan patriarki, namun tidak serta merta lupa akan tugas seorang istri. Mengandung setumpuk kekurangan, Labuan Hati layak diapresiasi berkenaan atas tebaran kedamaian di tengah perjalanan karakternya berdamai dengan diri sendiri dan seluruh problematika. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Lima (2018)

Mengamati bermacam-macam konflik serta perpecahan bangsa ini beberapa waktu belakangan, urgensi mengingatkan dan mendalami makna Pancasila sebagai dasar negara terang meninggi. Bentuk medianya bebas, asal terjadi pengkajian lebih jauh, lebih dari sekedar berteriak lantang “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!”, tapi enggan memanusiakan sesama yang dianggap berbeda. Apa pun kepentingan yang menguntit di balik pembuatannya, kehadiran film menyerupai Lima tetaplah penting, di mana para tokoh menghadapi situasi yang berkaitan dekat dengan tiap-tiap sila Pancasila. Sebagaimana rakyat yang semestinya mengasihi ibu pertiwi, perbuatan abjad film ini tak bisa lepas dari sosok ibu mereka.

Lima sutradara digaet untuk menangani dongeng dalam masing-masing sila. Shalahuddin Siregar (Negeri di Bawah Kabut) menangani segmen pembuka sekaligus yang terbaik. Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra) gres saja kehilangan sang ibunda, Maryam (Tri Yudiman). Secara tersirat bisa ditangkap bahwa Maryam terlahir beragama Islam, pindah ke Katolik sesudah menikah, kemudian kembali lagi memeluk Islam pasca suaminya tiada. Dari ketiga anaknya, cuma Fara yang beragama Islam, sedangkan dua puteranya Kristen. Urusan agama ini memantik persoalan. Mulai soal Aryo yang dihentikan turun ke liang lahat hingga seruan Maryam biar gigi palsunya tidak dilepas dikala dimakamkan (Islam melarangnya).
“Mungkin emang caranya udah kayak gitu”, begitu ucap Fara kala Adi menanyakan perihal gigi palsu. Fara cuma tahu, atau tepatnya peduli, soal “boleh/tidak boleh”, tapi tidak dengan alasannya, esensi dari hukum itu. Sejatinya ini pangkal konflik seputar agama di Indonesia. Berkoar-koar ihwal “TOLAK PEMIMPIN KAFIR!” atau “BOLEH MENIKAH EMPAT KALI!”, tapi begitu diminta menjabarkan atau dikonfrontasi, jawaban yang keluar seringkali sebatas “itu aturannya”, atau lebih parah lagi, “cebong mana ngerti!”. Di tangan Shalahuddin, rentetan proses penguburan terasa penuh duka, namun ada pula ketentraman di situ. Puncaknya dikala dua bentuk kepercayaan disatukan jelang tamat segmen.

Saya pernah menyaksikan adegan serupa digarap lebih baik, entah secara lebh subtil macam di Toba Dreams (2015), atau lebih indah menyerupai nampak dalam film pendek Senyawa (2015) karya Wregas Bhanuteja. Biar demikian, itu tetap momen menggugah nan mengharukan selaku penegas bahwa segmen mengenai sila “Ketuhanan yang Maha Esa” yaitu yang terbaik juga paling provokatif (salah satu alasan santunan rating 17+). Sila kedua garapan Tika Pramesti (Sanubari Jakarta) berpotensi tak kalah provokatif, bahkan bisa lebih menghentak, sayangnya, ketimbang penegasan, konklusinya justru memancing kesan gejolak batin yang tidak tuntas dalam diri karakternya.
Sila “Persatuan Indonesia” digarap Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park, Labuan Hati) yang turut menjadi produser, dan di segmen seputar dilema Fara menentukan muridnya untuk dikirim sebagai atlet renang ke Asian Games ini, nuansa “iklan layanan masyarakat” paling kentara (the whole movie is, but this one is too much). Fara, instruktur renang sekaligus mantan atlet Sea Games, diminta menentukan perenang “pribumi” tatkala ada atlet (keturunan Cina) yang lebih berbakat. Bukan cuma terlampau menitikberatkan pada hasil ketimbang menggali proses pemikiran, segmen ini turut mencuri kesempatan guna memajang kesan faktual bagi PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia), yang kemudian hadir kolam malaikat penolong menuntaskan segala masalah.

Sila keempat yang ditangani Harvan Agustriansyah (Hi5teria) punya kasus berbeda. Fokus diberikan pada Aryo, yang sesudah dihantam ujian akhir ketiadaan musyawarah, mesti memimpin musyawarah mengenai warisan sang ibu bersama kedua saudaranya. Poin bahwa ini merupakan segmen milik Aryo takkan saya tangkap apabila bukan sebab sinopsis resmi filmnya. Pun kemunculan Fajar (Rangga Djoned) si notaris canggung menghadirkan distraksi. Ya, Lima butuh relaksasi melalui komedi, tapi kekonyolan Fajar membuatnya bagai abjad dari film berbeda. Setidaknya dongeng keempat ini bisa membawa lagi motivasi karakternya ke semula, yakni sebab ibu (pertiwi).
Tantangan terbesar Lima yaitu bagaimana naskahnya, yang ditulis oleh Titien Wattimena (Dlan 1990, Salawaku) dan Sinar Ayu Massie (3 Hari untuk Selamanya, Sebelum Pagi Terulang Kembali), menyatukan esensi kelima sila kemudian menempatkannya di konteks keluarga. Beberapa titik kurang menyatu mulus tapi masih memunculkan korelasi dalam terciptanya keluarga kokoh sebagai metafora Indonesia. Segmen terakhir buatan Adriyanto Dewo (Tabula Rasa) sayangnya jadi poin dikala konsep solid itu lenyap. Giliran Bi Ijah (Dewi Pakis) si ajun rumah tangga jadi fokus. Kelemahan krusial segmen ini yaitu inkonsistensi, di mana para protagonis urung terlibat aktif menuntaskan masalah. Mereka cuma penonton. Menghadirkan tokoh gres selaku “penolong”, seolah para penulis cuma “gatal” ingin menyelipkan informasi tanpa memperhatikan keperluan narasi. Lain dongeng jikalau semenjak awal, konsepnya memang sekedar menempatkan keluarga ini sebagai jembatan.

Akankah Lima membangkitkan jiwa Pancasila rakyat? Saya ragu. Tapi apakah Lima patut disimak? Ya, film yang bicara ihwal pentingnya Pancasila terang patut disimak, setidaknya demi mengingatkan kita bahwa semua situasi ideal yang ditampilkan bukan cuma pesan menggurui, namun tujuan yang coba dicapai Pancasila selaku dasar negara. Kala datang masa ketika intisari Pancasila meresapi sanubari tiap rakyatnya, saya percaya negeri ini beserta manusia-manusia di dalamnya akan bisa menghapuskan awan segelap apa pun. Lima sayangnya bukan cuma mencerminkan dasar negara lewat cerita, tapi kualitas balasannya juga mengikuti kondisi Indonesia yang digelayuti bermacam-macam kasus serta kekurangan.