Showing posts with label M. Irfan Ramly. Show all posts
Showing posts with label M. Irfan Ramly. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)

Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, merk Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari kisah pendek karya Dewi "Dee" Lestari, sekarang kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di banyak sekali kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun sesudah tetapkan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, hingga kegamangan akhir merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian balasan karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menunjukkan balasan kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi duduk masalah bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan dikala Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista gres berjulukan Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua eksklusif berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah eksklusif yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari verbal mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco menciptakan keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga semoga Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun menurut prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya fatwa konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu daerah hadir sambil kemudian dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya mempunyai kesalahan fundamental berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan yaitu cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jikalau merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan lantaran pengadeganan Angga, sulit mendapatkan kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang meniru efek emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai insan yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul menyerupai apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani formasi lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu. 

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Banda The Dark Forgotten Trail (2017)

Sutradara Jay Subyakto menyebut pembuatan debut film panjangnya ini sebagai proses bebas cenderung tak terstruktur. Meski naskah buatan Irfan Ramly (Surat dari Praha, Filosofi Kopi 2) memetakan jalur serta garis besar cerita, begitu pengambilan gambar berlangsung Jay membebaskan kru menangkap gambar apa pun di bermacam-macam titik kepulauan Banda. Lalu bagaimana bisa tercipta tuturan kohesif? Sebab begitulah sejarah. Tersimpan rapi nan rapat di semua daerah dari arsitektur bangunan bikinan insan hingga bentangan alam karya Tuhan, menetap, menunggu untuk diungkap, dirangkai, kemudian dimaknai. Selalu ada dongeng masa kemudian yang mungkin takkan diduga masyarakat masa kini.

Film dibuka oleh sekumpulan awan pekat sembari musik unsettling gubahan Lie Indra Perkasa. Sekilas bagai prolog bagi tontonan horor ketimbang dokumenter kebanyakan, tapi Banda The Dark Forgotten Trail memang bukan dokumenter kebanyakan dan punya belakang layar mengerikan yang segera penonton temukan. Kisahnya menjelaskan dahulu betapa dahulu, tak ubahnya hikayat Kerajaan nusantara macam Majapahit, Kepulauan Banda selaku penghasil pala nomor satu sempat mengalami masa kejayaan sebagai sentra perdagangan rempah yang bahkan lebih berharga daripada emas. "Kuasai rempah, maka kamu akan menguasai dunia", sebut salah satu ungkapan yang dibacakan Reza Rahadian selaku narator yang sepanjang film amat menghayati sehingga kita seolah mendengarnya eksklusif dari pihak pertama.
Toh film ini juga menghadirkan beberapa narasumber orisinil Banda dari bermacam profesi; sejarawan Usman Thalib, pengusaha pala Pongky van den Broeke, Wim Manuhutu, dan lain-lain. Dari para narasumber yang sangat informatif bertutur inilah kenangan gelap Banda terungkap lengkap, memunculkan kisah mencekat yang takkan ditemukan dalam pelajaran sejarah di sekolah. Beberapa nama atau insiden mungkin familiar, namun kita disadarkan betapa pengetahuan kita akan fakta bekerjsama masih sekelumit. Jan Pieterszoon Coen misal. Semua mengenal sosok Gubernur Jenderal Hindia Belanda ini. Tapi berapa banyak orang tahu kalau Coen merupakan pelaku pembantaian terhadap rakyat nusantara pertama?  

Kelengkapan isu berpadu luasnya eksplorasi jadi keunggulan Banda The Dark Forgotten Trail. Berpijak pada jalur rempah sentra perdagangan, filmnya turut menjabarkan bagaimana kejayaan tersebut mempengaruhi manusia-manusia di Banda, termasuk mendorong hasrat berkuasa serta sisi materialistis insan yang memancing sederet konflik bahkan jauh sebelum kolonialisme. Cakupan kisah Banda membentang luas dari sekitar kurun 14 atau 15 hingga sekarang. Penonton diajak menengok Banda di era reformasi kala diterpa konflik SARA walau sebelumnya dikenal lewat berkat pluralisme yang kolam miniatur Indonesia. Ada pula presentasi situasi kini tatkala pala Banda mulai meredup dan terlupakan. Alhasil muncul satu garis lurus panjang yang mengambarkan bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan saling bersinggungan, sehingga memahami sejarah menjadi penting. 
Hebatnya, meski punya jangkauan kisah luas, penceritaannya rapi. Ibarat suatu kelas, film ini ialah guru sedangkan penonton muridnya. Dan Banda jadi guru yang baik, bisa memberikan materi secara runtut sekaligus jelas. Latar seluruh sisi, proses alasannya ialah akhir yang terjadi, tiada yang terlewat. Akhirnya bila tercetus pertanyaan dalam hati kita selaku murid, sang guru senantiasa sanggup menjawabnya. Bukti keberhasilan kerja kolektif Irfan Ramly yang menyiapkan dasar berupa naskah, trio editor Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, dan Syauqi Tuasikal yang sangat cermat menyusun, kemudian tentunya pengarahan Jay Subyakto dengan niatan meracik dokumenter unik.

Jay memang membawa keunikan gaya. Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful menangkap panorama alam indah dengan tone gelap selaku representasi kisah kelamnya. Sesekali suasana gambar mengingatkan akan judul-judul ibarat Baraka dan Samsara, walau sayang, sesekali terjadi repetisi footage. Bedanya dengan dua judul di atas, (selain keberadaan narasi) Jay menciptakan filmnya lebih liar lewat perpindahan gambar cepat ditemani musik gabungan rock n roll dan industrial. Departemen animasi yang diemban RUS Animation tak ketinggalan mencuri perhatian mereka ulang aneka macam insiden lampau. Di luar lisan kreativitas tersebut, momen terkuat justru hadir dibalut kesederhanaan saat kamera hanya memperlihatkan Pak Pongky mengisahkan suatu tragedi. Saat itu seisi ruangan mendadak terasa sesak. Sepertinya semua penonton menahan nafas sewaktu imajinasi tersulut, membayangkan detail insiden menyakitkan itu. Informatif, agresif, kreatif. Begitulah Banda The Forgotten Trail. Sumber berguru mengenai masa lalu, cerminan masa kini, dan persiapan bagi masa depan. 


Ulasan film ini juga sanggup dibaca di: http://tz.ucweb.com/8_1J3A