Showing posts with label Michael Douglas. Show all posts
Showing posts with label Michael Douglas. Show all posts

Sunday, January 6, 2019

Ini Lho Basic Instinct (1992)

Bagi penonton mainstream, mungkin neo-noir garapan Paul Verhoeven ini lebih dikenal sebagai film yang mempertontonkan isi rok Sharon Stone. Menjadi one of the most paused movie scene of all time, adegan itu seolah menutupi keseluruhan filmnya sendiri. Penuh seks dan kekerasan berdarah, Basic Instinct merupakan perjuangan terdekat Verhoeven untuk menjadi versi ekstrim dari Alfred Hitchcock. Investigasi pembunuhan serta tokoh utama bermasalah yaitu apa yang diharapkan untuk membuat noir. Film ini pun demikian dengan hadirnya Detektif Nick Curran (Michael Douglas) yang pernah secara tidak sengaja menembak mati dua orang turis alasannya yaitu efek kokain. Nick tengah menyelidiki masalah pembunuhan seorang rock star. Tersangka pun mengarah pada pacar korban, Catherine Tramell (Sharon Stone) yang juga seorang penulis novel. Kita tahu Nick kacau secara psikis dan Catherine begitu manipulatif. Nick ringkih sedangkan Catherine penuh keyakinan. Dari situlah eksplorasi dimulai. 

Naskah Joe Eszterhas bermain-main dengan seks di samping misteri. Banyaknya seks bukan sekedar embel-embel tanpa arti. Kelemahan terbesar laki-laki yaitu wanita, khususnya perempuan cantik, sensual, apalagi kalau ia penggoda handal. Terlebih lagi kalau laki-laki itu ada dalam fase yang tidak stabil, dikala itulah nafsu merubahnya menjadi binatang. Tapi hewan ini tidak sedang menerkam mangsa, melainkan jatuh kedalam umpan. Nick masuk perangkap Catherine, tapi bukan berarti tidak menyadari itu. Pada satu titik ia memang terbutakan, tapi dalam kesempatan lain ia sepenuhnya sadar dan menentukan secara suka rela masuk perangkap, mengikuti permainan yang dilakukan Catherine. Itulah kenapa film ini berjudul Basic Instinct, alasannya yaitu dalam dongeng penuh glorifikasi terhadap Freudian ini seks merupakan pencetus utama sikap manusia. Saat seks turut berandil, maka faktor lain termasuk objektifitas sebagai detektif pun dilupakan oleh Nick. Kerapuhan mendorongnya memasuki area dikala moralitas menjadi nihil. Tapi tidak ada seks yang menyenangkan disini, melainkan penuh kesedihan, amarah, sepenuhnya nafsu. There's no making love here, only fucking. 
Basic Instinct menebar misteri tapi tidak pernah berusaha keras menutupi faktanya. Penonton dibiarkan terombang-ambing dalam ketidak pastian meski balasan sudah terang ada di depan mata. Kecurigaan terbesar terang ada pada Catherine. Novel yang ia tulis menggambarkan dengan tepat tiap detil masalah pembunuhan yang ada. Meski ada beberapa tersangka lain, penonton tetap digiring untuk percaya bahwa Catherine yaitu sang pembunuh entah lewat aneka macam bukti ataupun sikap sang tokoh. Tapi disaat semuanya terlalu terang justru keraguan kita akan mulai muncul. Seperti yang hadir dalam suatu dialog, benarkah seorang penulis novel akan sebodoh dan senekat itu dengan melaksanakan pembunuhan menyerupai apa yang ia tuliskan dalam buku? Ataukah itu memang disengaja sebagai penciptaan alibi untuk mengalihkan kecurigaan? Menarik, alasannya yaitu misteri hadir bukan alasannya yaitu alur melainkan dari persepsi penonton sendiri. 

Seperti yang saya sebut di atas, film ini yaitu perjuangan terdekat Verhoeven untuk menyamai Hitchcock. Belum hingga pada taraf sang legenda, tapi gelar master of suspense memang tidak terlalu jauh dari jangkauan Verhoeven melihat apa yang ia hasilkan disini. Beberapa kali sang sutradara mengatakan kepiawaiannya dalam membangun ketegangan. Jalan menuju puncak ketegangan suatu adegan bisa disajikan lewat intensitas luar biasa, membuat saya membisu terpaku. Menantikan apakah Catherine memang sang pelaku dan apakah ia akan membunuh Nick di atas ranjang diluar dugaan bisa terasa seintens itu. Bukan hanya berkat Verhoeven, semua ini juga hasil dari scoring megah Jerry Goldsmith. Iringan musik yang setipe dengan film-film Hitchcock, hanya saja lebih bergemuruh, seolah mewakii filmnya yang lebih berdarah dan liar. 
Apa yang memisahkan Verhoeven dengan Hitchcock yaitu intensitas yang tidak stabil. Memang beberapa ketegangan berhasil memuncak, tapi selain itu filmnya berjalan datar bahkan cukup membosankan di beberapa bagian. Disaat darah dan seks tidak muncul, hilang juga daya tarik film ini. Seolah-olah karakternya harus melaksanakan sesuatu yang passionate, mereka harus bergairah. Karena kalau tidak film ini pun terasa lesu. Paul Verhoeven tidak bisa mengemas adegan yang konteksnya biasa saja menjadi luar biasa. Alhasil dikala "tidak terjadi apapun", dongeng film pun berjalan sambil lalu. Beruntunglah ada Sharon Stone. Tanpa mengesampingkan Michael Douglas yang tampak begitu kacau (dalam artian positif) sang atris yaitu tenaga film ini. Stone bukan sekedar menjadi abjad dua dimensi bermodalkan wajah anggun dan sensualitas tinggi. Dialah definisi tepat dari istilah femme fatale. Sebuah penampilan berani nan habis-habisan dan membuatnya layak menerima lebih dari sekedar diingat alasannya yaitu adegan "menyilangkan kaki". Karakter dan akting yang gres bisa diulangi oleh Amy-nya Rosamund Pike dalam Gone Girl.

Basic Instinct memang penuh kontroversi mulai dari ihwal kekerasan dan seksualitas tinggi, penggambaran abjad gay yang dianggap diskriminatif, hingga glorifikasi terhadap rokok. Tapi semuanya substansial. Tanpa kekerasan berdarah dan adegan seks, maka penggambaran abjad yang passionate tidak akan tersampaikan. Merokok makin menguatkan keresahan abjad Nick sekaligus membantu menghantarkan sisi sensual Catherine. Karakter gay? Well, bukankah lebih banyak psikopat straight yang bisa kita temui dalam sejarah perfilman? Tanpa bermaksud merendahkan pihak manapun, aneka macam protes yang mengiringi film ini yaitu bukti respon berlebihan masyarakat ihwal sesuatu yang diluar moralitas. Bukankah itu semakin memperkuat dongeng film ini yang memang menyoroti ambigunya sisi moral?

Saturday, December 29, 2018

Ini Lho Basic Instinct (1992)

Bagi penonton mainstream, mungkin neo-noir garapan Paul Verhoeven ini lebih dikenal sebagai film yang mempertontonkan isi rok Sharon Stone. Menjadi one of the most paused movie scene of all time, adegan itu seolah menutupi keseluruhan filmnya sendiri. Penuh seks dan kekerasan berdarah, Basic Instinct merupakan perjuangan terdekat Verhoeven untuk menjadi versi ekstrim dari Alfred Hitchcock. Investigasi pembunuhan serta tokoh utama bermasalah yaitu apa yang diharapkan untuk membuat noir. Film ini pun demikian dengan hadirnya Detektif Nick Curran (Michael Douglas) yang pernah secara tidak sengaja menembak mati dua orang turis alasannya yaitu efek kokain. Nick tengah menyelidiki masalah pembunuhan seorang rock star. Tersangka pun mengarah pada pacar korban, Catherine Tramell (Sharon Stone) yang juga seorang penulis novel. Kita tahu Nick kacau secara psikis dan Catherine begitu manipulatif. Nick ringkih sedangkan Catherine penuh keyakinan. Dari situlah eksplorasi dimulai. 

Naskah Joe Eszterhas bermain-main dengan seks di samping misteri. Banyaknya seks bukan sekedar embel-embel tanpa arti. Kelemahan terbesar laki-laki yaitu wanita, khususnya perempuan cantik, sensual, apalagi kalau ia penggoda handal. Terlebih lagi kalau laki-laki itu ada dalam fase yang tidak stabil, dikala itulah nafsu merubahnya menjadi binatang. Tapi hewan ini tidak sedang menerkam mangsa, melainkan jatuh kedalam umpan. Nick masuk perangkap Catherine, tapi bukan berarti tidak menyadari itu. Pada satu titik ia memang terbutakan, tapi dalam kesempatan lain ia sepenuhnya sadar dan menentukan secara suka rela masuk perangkap, mengikuti permainan yang dilakukan Catherine. Itulah kenapa film ini berjudul Basic Instinct, alasannya yaitu dalam dongeng penuh glorifikasi terhadap Freudian ini seks merupakan pencetus utama sikap manusia. Saat seks turut berandil, maka faktor lain termasuk objektifitas sebagai detektif pun dilupakan oleh Nick. Kerapuhan mendorongnya memasuki area dikala moralitas menjadi nihil. Tapi tidak ada seks yang menyenangkan disini, melainkan penuh kesedihan, amarah, sepenuhnya nafsu. There's no making love here, only fucking. 
Basic Instinct menebar misteri tapi tidak pernah berusaha keras menutupi faktanya. Penonton dibiarkan terombang-ambing dalam ketidak pastian meski balasan sudah terang ada di depan mata. Kecurigaan terbesar terang ada pada Catherine. Novel yang ia tulis menggambarkan dengan tepat tiap detil masalah pembunuhan yang ada. Meski ada beberapa tersangka lain, penonton tetap digiring untuk percaya bahwa Catherine yaitu sang pembunuh entah lewat aneka macam bukti ataupun sikap sang tokoh. Tapi disaat semuanya terlalu terang justru keraguan kita akan mulai muncul. Seperti yang hadir dalam suatu dialog, benarkah seorang penulis novel akan sebodoh dan senekat itu dengan melaksanakan pembunuhan menyerupai apa yang ia tuliskan dalam buku? Ataukah itu memang disengaja sebagai penciptaan alibi untuk mengalihkan kecurigaan? Menarik, alasannya yaitu misteri hadir bukan alasannya yaitu alur melainkan dari persepsi penonton sendiri. 

Seperti yang saya sebut di atas, film ini yaitu perjuangan terdekat Verhoeven untuk menyamai Hitchcock. Belum hingga pada taraf sang legenda, tapi gelar master of suspense memang tidak terlalu jauh dari jangkauan Verhoeven melihat apa yang ia hasilkan disini. Beberapa kali sang sutradara mengatakan kepiawaiannya dalam membangun ketegangan. Jalan menuju puncak ketegangan suatu adegan bisa disajikan lewat intensitas luar biasa, membuat saya membisu terpaku. Menantikan apakah Catherine memang sang pelaku dan apakah ia akan membunuh Nick di atas ranjang diluar dugaan bisa terasa seintens itu. Bukan hanya berkat Verhoeven, semua ini juga hasil dari scoring megah Jerry Goldsmith. Iringan musik yang setipe dengan film-film Hitchcock, hanya saja lebih bergemuruh, seolah mewakii filmnya yang lebih berdarah dan liar. 
Apa yang memisahkan Verhoeven dengan Hitchcock yaitu intensitas yang tidak stabil. Memang beberapa ketegangan berhasil memuncak, tapi selain itu filmnya berjalan datar bahkan cukup membosankan di beberapa bagian. Disaat darah dan seks tidak muncul, hilang juga daya tarik film ini. Seolah-olah karakternya harus melaksanakan sesuatu yang passionate, mereka harus bergairah. Karena kalau tidak film ini pun terasa lesu. Paul Verhoeven tidak bisa mengemas adegan yang konteksnya biasa saja menjadi luar biasa. Alhasil dikala "tidak terjadi apapun", dongeng film pun berjalan sambil lalu. Beruntunglah ada Sharon Stone. Tanpa mengesampingkan Michael Douglas yang tampak begitu kacau (dalam artian positif) sang atris yaitu tenaga film ini. Stone bukan sekedar menjadi abjad dua dimensi bermodalkan wajah anggun dan sensualitas tinggi. Dialah definisi tepat dari istilah femme fatale. Sebuah penampilan berani nan habis-habisan dan membuatnya layak menerima lebih dari sekedar diingat alasannya yaitu adegan "menyilangkan kaki". Karakter dan akting yang gres bisa diulangi oleh Amy-nya Rosamund Pike dalam Gone Girl.

Basic Instinct memang penuh kontroversi mulai dari ihwal kekerasan dan seksualitas tinggi, penggambaran abjad gay yang dianggap diskriminatif, hingga glorifikasi terhadap rokok. Tapi semuanya substansial. Tanpa kekerasan berdarah dan adegan seks, maka penggambaran abjad yang passionate tidak akan tersampaikan. Merokok makin menguatkan keresahan abjad Nick sekaligus membantu menghantarkan sisi sensual Catherine. Karakter gay? Well, bukankah lebih banyak psikopat straight yang bisa kita temui dalam sejarah perfilman? Tanpa bermaksud merendahkan pihak manapun, aneka macam protes yang mengiringi film ini yaitu bukti respon berlebihan masyarakat ihwal sesuatu yang diluar moralitas. Bukankah itu semakin memperkuat dongeng film ini yang memang menyoroti ambigunya sisi moral?

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Ant-Man And The Wasp (2018)

Dilihat melalui kacamata mana pun, Ant-Man and the Wasp ialah film keluarga. Semata bertujuan menghibur, bernuansa ringan, dan pastinya, berkisah mengenai keluarga. Rasanya bagai sedang menyaksikan tontonan Minggu pagi yang semakin seru jika dinikmati bersama seisi rumah. Pendekatan ini diharapkan selaku jeda pasca segala kedahsyatan Avengers: Infinity War, pun semoga film-film serupa (baca: bersakal besar) produksi Marvel tetap menjadi suatu hal spesial, sebuah puncak, sebuah “event” alih-alih rutinitas. Walau bagi saya, Ant-Man (2015) sendiri ialah sajian spesial.

Alasannya tak lain unsur keluarga. Scott Lang (Paul Rudd) bersedia mengenakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas) “hanya” demi sang puteri, Cassie (Abby Ryder Fortson). Bukan kasus menyelamatkan dunia. Sedangkan Hank sendiri mengalami rekonsiliasi dengan puterinya, Hope (Evangeline Lilly). Pada sekuelnya, elemen itu dipertahankan. Ant-Man and the Wasp ialah soal menyatukan kembali sebuah keluarga pasca puluhan tahun, dan kini Scott berada di tengah, membantu mewujudkannya. Bukan reuni keluarga biasa saja, alasannya ialah ketiganya beruaha menyelamatkan Janet (Michelle Pfeiffer), istri Hank dan ibunda Hope dari quantum realm.

Sesederhana itu. Skalanya kecil, urung melebar dari satu kota, tanpa kehancuran dunia, tanpa penjahat megalomania. Bahkan Ghost (Hannah John-Kamen), sosok misterius yang bisa menembus benda padat, bukan tipikal villain biasa dalam film jagoan super. Sewaktu villain kebanyakan berambisi memusnahkan kehidupan, Ghost justru ingin mengembalikan kehidupan. Ya, salah satu pembeda jika dibandingkan dengan “film Minggu pagi”, selain tentunya production value yang jauh lebih mewah, yaitu ketiadaan “hitam-putih” pada penokohan. Hank menyerupai biasa masih laki-laki renta pemarah nan egois, sementara pihak-pihak yang berseberangan pun tidak seutuhnya keliru. Semua soal perbedaan kepentingan. Tapi jangan pula berharap penggalian terkait ukiran serta huruf secara kompleks. Film ini bukan tempatnya.

Mungkin anda akan bertanya, “Bagaimana perabotan dalam laboratorium yang disusutkan itu tidak hancur berserakan sehabis dilempar ke sana kemari?”, atau “Mengapa salah satu huruf begitu cepat berubah sikap?”, atau “Kenapa resolusi untuk konflik villain-nya sedemikian mudah?”. Semua itu sempat terbersit di pikiran saya. Tapi kita perlu menjadi layaknya Scott. Dia enggan ambil pusing meski kesulitan memahami tetek bengek sains yang meluncur bertubi-tubi dari verbal Hank, Hope, dan Bill Foster (Laurence Fishburne)—di mana filmnya juga tidak berusaha menciptakan penonton mengerti—dan menentukan menikmati petualangan di hadapannya.

Petualangannya menyenangkan diikuti dan kapasitas sutradara Peyton Reed menggiring penonton menuju kesenagan tak perlu diragukan, walau menyerupai lebih banyak didominasi sekuel, kesan segar milik pendahulunya sudah memudar lantaran di kesempatan kedua, unsur-unsurnya bukan lagi hal baru. Contohnya quantum realm, yang tetap dibungkus visual imajinatif dalam sinematografi buatan Dante Spinotti (X-Men: The Last Stand, Hercules), namun takkan menciptakan kita terpana lagi oleh vibe surealnya. Sama dengan gugusan sekuen agresi menarik yang menampilkan ragam perubahan ukuran ekstrim pada benda-benda sampai kemampuan Ghost menembus hampir semua hal termasuk badan manusia. 

Begitu pun urusan komedi, alasannya ialah sehabis kemunculan James Gunn kemudian disusul Taika Waititi di MCU, semua dagelan bakal terasa “normal”. Biar demikian tawa masih efektif dipancing, entah tatkala Paul Rudd unjuk gigi menangani humor gender swap, atau daur ulang terpelajar terhadap momen paling berkesan kepunyaan Luis (Michael Peña) dari film pertama tanpa perlu menjadi repetitif. Tapi sesuai dengan statusnya sebagai film pertama MCU yang mencantumkan nama jagoan super perempuan di judulnya, Ant-Man and the Wasp punya kesearan dalam bentuk lain, yaitu tatkala tiga bintang film perempuan sanggup mencuri perhatian.

Evangeline Lilly memamerkan ketenangan sekaligus ketangguhannya yang menciptakan sosok Hope tampak begitu menikmati berada di medan pertarungan. Lalu si bocah 10 tahun, Abby Ryder Fortson, yang mulus menghidupkan Cassie sebagai gadis cilik lucu, menggemaskan, nan pintar. Apabila memperhatikan beberapa ucapannya plus rumor terkait casting, tidak berlebihan rasanya berasumsi bahwa Ant-Man and the Wasp memberi sekelumit petunjuk soal tugas Cassie di film keempat Avengers tahun depan. Terakhir ada Michelle Pfeiffer, yang meskipun total penampilannya tidak melebihi 5 menit, aktris 60 tahun (yang nampak 20 tahun lebih muda) ini menawarkan satu kekuatan yang makin jarang dimiliki pelakon Hollywood sekarang: pesona bintang. Suatu ketika, Kevin Feige berkata, “...in a room full of movie stars, Michelle Pfeiffer rises to the top.”, dan saya mengamini itu.

Apakah film ini menyenangkan? Ya. Spesial? Tidak. Bahkan bukan termasuk salah satu installment teratas MCU. Tapi tanpa hiburan ringan macam Ant-Man and the Wasp, yang saya yakin oleh banyak kalangan akan dipandang sebelah mata dan dianggap selingan, “event movie” alias film bersifat kulminasi pasti kehilangan gereget. Tatkala satu per satu studio dengan ambisi membangun shared universe tumbang tanggapan kebingungan, Ant-Man and the Wasp jadi teladan kejelian Feige dan timnya menyusun struktur penceritaan dinamis. Hanya saja, kisah itu bukan mengalir selama 2 jam durasi, melainkan satu dekade lebih.

Ini Lho Animal World (2018)

Animal World punya salah satu trailer paling menipu. Saya berkewajiban mengungkap itu biar anda tidak keliru memasang ekspektasi. Adaptasi lepas dari manga Tobaku Mokushiroku Kaiji karya Nobuyuki Fukumoto ini bukan Deadpoolesque mengenai agresi bertabur warna seorang hero super berkostum badut mirip nampak di banyak sekali bahan promo. Bayangkan Sucker Punch (2011) milik Zack Snyder, tapi dengan sanksi yang tak semata bergantung pada sekuen fantasi, melainkan punya pondasi alur solid yang sedikit menyenggol film-film klasik bertema judi kartu macam God of Gamblers (1989).

Sederet adegan badut menebas monster-monster yang menyemprotkan darah kolam cat beraneka warna berasal dari kondisi mental Zheng Kaisi (Li Yifeng), yang menyebut dirinya gila, dan setiap emosinya tersulut, Zheng akan bertransformasi menjadi hero badut yang sewaktu kecil ia tonton di layar kaca. Tentu semua hanya di kepalanya saja. Monster yang dihadapi pun hanya manifestasi dari orang-orang di sekitar yang mengganggu pikirannya. Nakah buatan Han Yan (Go Away Mr Tumour), yang turut menduduki dingklik sutradara, terang tak menyasar ketepatan presentasi ilmu psikologi, lantaran seiring memuncaknya konflik, sikap Zheng terlalu damai untuk ukuran penderita gangguan emosi.

Zheng terbelit kesulitan finansial. Sang ibu telah koma bertahun-tahun dan ia makin sulit melunasi biaya perawatan rumah sakit. Bantuan kerap didapat dari perawat sekaligus temannya semenjak kecil, Liu Qing (Zhou Dongyu), yang juga merupakan pujaan hati Zheng, namun keuangan cekak membuatnya ragu menyatakan cinta. Putus asa, ia terpaksa mendapatkan “bisikan setan” dari sahabat lamanya, Li Jun (Cao Bingkun) biar menggadaikan apartemen ibunya, hanya untuk mendapati pola kekejaman dunia di mana orang-orang saling tipu dan tikam demi materi.

Singkatnya, Zheng justru terjebak hutang besar, dan untuk melunasinya, ia mesti berada di Animal World, sebuah panggung permainan di kapal pesiar yang dikelola Anderson (Michael Douglas, yang keberadaannya hanya untuk memberi “rasa Hollywood”), di mana para akseptor saling bertarung demi melunasi hutang, sementara orang-orang kaya rahasia menyaksikan dengan nyaman sambil bertaruh siapa yang bakal keluar sebagai pemenang. Walau mirip dunia bawah tanah imajiner, Animal World sejatinya cerminan realita kita. Peserta saling tipu, berkhianat, menanggalkan moral serta nilai-nilai kemanusiaan demi keselamatan pribadi dan (lagi-lagi) materi. Dalam Animal World, Zheng, mirip keseharian kita, menjalani proses sarat ujian. Dia harus bertahan sembari menolong beberapa pihak yang bekerja sama dengannya, di tengah godaan biar memenangkan ego. Perjalanan Zheng pun memunculkan pesan yang tak lekang oleh waktu, bahkan bertambah penting seiring kondisi dunia kita yang makin ibarat Animal World.

Penonton dengan hati nurani tentu berharap Zheng tetap bertahan di jalur, meski penokohannya penuh kesan dadakan. Dari pecundang menyedihkan nan pemalas, ia jadi jeli, taktis, cekatan, bahkan hebat matematika. Belakangan diungkap ayah Zheng merupakan guru matematika, elemen karakterisasi yang urung dijabarkan selaku pondasi di awal, sehingga sulit rasanya pribadi mendapatkan fakta itu begitu saja. Pun status “anak guru matematika” bukan alasan memadahi melihat kompleksitas permainan yang dijalankan, ialah batu-kertas-gunting berbentuk kartu. Tiap akseptor diberi 3 bintang plus 6 kartu yang sanggup bertambah maupun berkurang seiring waktu. Mereka yang sesudah 4 jam mempunyai minimal 3 bintang dan tidak satu pun kartu, dinyatakan lolos.

Terdengar gampang, tapi sebagaimana kita tahu, kartu remi di level pos ronda saja butuh hitung-hitungan rumit kalau ingin menjadi ahli, apalagi ketika nyawa dipertaruhkan dan melibatkan puluhan orang beradu taktik penuh trik psikolologis dan matematika. Terdapat momen-momen kala protagonis kita tersudut, dan sulit menebak bagaimana caranya keluar dari kesulitan itu.  Hebatnya, Han Yan senantiasa memperlihatkan resolusi cerdik, mengakibatkan proses pencarian solusi darurat secara cepat berlangsung menarik berkat penantian atas apa yang bakal dilakukan Zheng berikutnya. Begitu terungkap, kepuasaan selalu saya peroleh.

Barisan taktik kompleks sering Zheng pakai, dan Han Yan coba menjabarkannya lewat kemasan visual kreatif yang turut bertujuan memudahkan pemahaman penonton. Mungkin balasannya tetap sulit mencerna seluruh detailnya, namun sang sutradara telah melaksanakan perjuangan terbaiknya. Sisanya, tinggal mau (dan mampu) atau tidak penonton memperhatikan. Sekali kita menyerap permainannya, Animal World akan menghadirkan pertarungan otak sekaligus mental menarik pula dinamis, yang memudahkan kita memaafkan “promosi tipu-tipu” miliknya.

Di luar yang mempunyai kegunaan memperjelas jalannya permainan, tersebar banyak visual bergaya (termasuk semua adegan agresi brutal Zheng dalam kostum badut) yang sesungguhnya, lebih banyak didominasi kurang substansial. Setidaknya, niat Han Yan membuai mata kita layak diapresiasi. Dia ingin filmnya terlihat menawan, dan itu pula yang terpampang di layar. Kembali, berbeda dengan Snyder di Sukcer Punch yang hanya mengandalkan kemewahan sekuen agresi fantasi guna menutupi kekosongan plot, dalam Anima World, unsur itu berfungsi mempercantik, alias hal sekunder. Meski kalau diajukan pertanyaan “perlukah semua itu?”, saya bakal menjawab, “mungkin tidak”.