Showing posts with label Prisia Nasution. Show all posts
Showing posts with label Prisia Nasution. Show all posts

Friday, December 7, 2018

Ini Lho Comic 8: Casino Kings Part 2 (2016)

Saya bukan penggemar franchise buatan Anggy Umbara ini. Baik Comic 8 maupun Casino Kings Part 1 sama-sama gagal memaksimalkan potensi kehadiran banyak komika kelas wahid guna memberi menu komedi mengocok perut. Permasalahan terbesar ada pada keengganan franchise ini mengakui kebodohannya dan tetap berusaha keras tampil sekeren juga secerdas mungkin menghantarkan alur penuh intrik. Karena itulah menjelang perilisan Casino Kings Part 2, saya tidak lagi menyimpan impian terlampau besar. Memang begini gaya Anggy Umbara, memang menyerupai ini wajah franchise-nya. Hingga tanpa diduga filmnya justru cukup memuaskan, bahkan menjadi yang terbaik di antara ketiga film Comic 8.

Melanjutkan dongeng film sebelumnya, Casino Kings Part 2 tidak banyak berbasa-basi, eksklusif membawa penonton terjun ke tengah medan aksi. Bukan saja terjebak di tengah hutan, kedelapan komika masih harus menghadapi para pemburu yang diperankan oleh aktor-aktor senior tanah air (kecuali Sacha Stevenson dan Soleh Solihun). Sementara itu Indro dan Cynthia (Prisia Nasution) menerima serangan dari anak buah The King (Sophia Latjuba). The King sendiri mulai mengungkap identitas bekerjsama pada Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Sebagaimana kasus lain di mana chapter akhir sebuah franchise dipecah ke dalam dua bagian, Casino Kings Part 2 memang didominasi agresi titik puncak dan sedikit meminggirkan alur, yang justru merupakan nilai positif.
Menengok dua film sebelumnya, naskah karya Fajar Umbara dan Anggy Umbara memang terlalu berambisi menggabungkan segunung konflik berisi konspirasi penuh twist dengan hanya satu tujuan: mengejutkan penonton tanpa peduli masuk logika atau tidak. Sesungguhnya bukan persoalan andai filmnya memang sengaja dikemas kurang cendekia layaknya b-movie kebanyakan. Namun Comic 8 jelas ingin tampak keren dan dianggap serius. Pada Casino Kings Part 2 meski aspek tersebut masih muncul, fokus lebih condong ke arah aksi, yang mana merupakan keunggulan Anggy Umbara ('3' sudah jadi bukti). Sesungguhnya ini hal kecil alasannya ialah tidak terdapat perbedaan signifikan pada cara penghantaran film ini dengan pendahulunya. Masih penuh sesak oleh lens flare, efek CGI bernafsu (untuk buaya dan naga), serta slow motion. Walau harus diakui departemen artistik khususnya setting dan kostum masih memanjakan mata.
Hal kecil itu jadi kuat besar tatkala alurnya dinomorduakan. Minim intrik, Casino Kings Part 2 menjelma seutuhnya sebagai b-movie bodoh nan menyenangkan. Karena bagai film kelas b, saya sanggup memaafkan buruknya CGI atau kejutan konyol semisal pengungkapan identitas orisinil dari The King. Kekonyolan itu justru menjadi kekuatan. Termasuk ketika filmnya menciptakan Prisia Nasution, Hannah Al-Rashid dan Sophia Latjuba sebagai femme fatale sekaligus eye candy. Sentuhan komedi juga tidak dipaksakan hadir setiap saat. Sibuk dengan action, dagelan sekedar muncul sesekali, memberi waktu bagi penonton untuk bernafas sejenak. Kekuatan komedi masih belum mencapai puncak potensi (referensi The Raid sudah ketinggalan jaman) dan makin minimnya eksplorasi huruf tambah mengaburkan ciri khas tiap komika, tapi setidaknya lebih banyak tawa berhasil dihadirkan.

Is it a good movie? Sebenarnya tidak. Masih terdapat beberapa kekurangan yang lagi-lagi berada di seputaran terlalu banyaknya konflik serta huruf coba dilebur menjadi satu. Apabila anda menantikan agresi Barry Prima, Willy Dozan atau Yayan Ruhian mungkin bakal kecewa alasannya ialah begitu minimnya porsi mereka. Konklusi yang ditawarkan juga masih terasa dipaksakan biar cepat usai (sekaligus mengejutkan). Tapi sungguh hiburan memuaskan di tengah minimnya blockbuster dalam industri perfilman Indonesia. Saya masih tetap beranggapan gaya dari Anggy Umbara lebih efektif jikalau diterapkan dalam film pure action macam '3', namun melihat bagaimana ending film ini, tidak sanggup dipungkiri saya akan tetap dengan bahagia hati menantikan sekuel demi sekuel dari Comic 8


Ticket Powered by: ID Film Critics

Ini Lho Pesantren Cita-Cita (2016)

Ada harapan menjulang tinggi teruntuk film terbaru karya Ifa Isfansyah ini. Utamanya terperinci alasannya usungan genre-nya, yakni perpaduan antara religi dan thriller. Jika anda rutin membaca goresan pena di blog ini, tentu paham betul akan kejengahan saya pada tipikal film religi tanah air yang cenderung doyan menggurui penonton. Gabungan religi dan romansa sudah jamak. Begitu pula komedi. Tapi thriller? Diangkat dari novel berjudul sama buatan Asma Nadia (Surga yang Tak Dirindukan), Pesantren Impian jelas bertengger di jajaran film Indonesia paling saya tunggu tahun ini. Terlebih Ifa sudah mengambarkan kapasitasnya menggarap banyak sekali jenis film, dari Sang Penari sampai sajian semua umur macam Ambilkan Bulan atau Garuda Di Dadaku. Kaprikornus kenapa tidak untuk thriller-religi?

Dibuka oleh sebuah pembunuhan misterius, Pesantren Impian memperkenalkan kita dengan Briptu Dewi (Prisia Nasution), seorang polisi muda bermodalkan segudang ambisi dan kepercayaan diri. Demi mengungkap masalah pembunuhan itu, Dewi menyamar sebagai Eni, guna mendatangi seruan untuk tinggal di sebuah pesantren di pulau terpencil berjulukan Pesantren Impian. Pesantren tersebut didirikan oleh Gus Budiman (Deddy Sutomo) khusus bertujuan menuntun para perempuan menuju jalan lurus. Termasuk Dewi/Eni, total ada 10 perempuan dari banyak sekali latar belakang (PSK, artis, junkie) tiba di sana. Namun teror mulai menyerbu tatkala satu per satu penghuni pesantren ditemukan tewas mengenaskan. 
Sejak opening credit-nya yang stylish, saya sudah mencium ketidakberesan dalam film ini. Tanpa ada klarifikasi sedikitpun, mendadak Briptu Dewi tetapkan mendatangi Pesantren Impian. Saya tahu, tujuannya yakni untuk memecahkan masalah pembunuhan tadi, namun apa kaitannya dengan pesantren tidak dipaparkan. Sempat mengira klarifikasi memang disimpan rapat guna membangun misteri, faktanya justru berkebalikan. Alur semakin kusut, meninggalkan lebih banyak lubang dan pertanyaan tak terjawab. Berbagai tanya tersebut bukan perjuangan bertutur secara subtil atau menyusun ambiguitas sebagai bab misteri, melainkan murni bentuk kekacauan naskah. 

Film misteri butuh sokongan naskah kuat, biar penonton selalu tertarik merangkai keping-keping puzzle-nya. Andai tersesat pun, pondasi kisah menjaga minat penonton berpikir keras mencari jawaban. Tapi naskahnya sungguh kacau balau. Jika sedari awal saya tidak tahu apa yang dicari oleh Dewi, bagaimana sanggup timbul ketertarikan? Bahkan di pertengahan film, masalah pembunuhan tadi mendadak dilupakan begitu saja, dijawab seadanya kemudian berpindah menuju konflik baru. Mungkin naskahnya coba menyelipkan red herring (pengecoh), menggiring penonton menuju suatu arah sebelum banting setir ke arah berbeda. Namun daripada kecohan cerdas, yang terasa justru lompatan out-of-nowhere. Begitu film usai, sanggup jadi anda akan galau merangkai bagaimana titik awal "A" sanggup berujung konklusi "B" ketika ending.

Alurnya berjalan terburu-buru, tidak memberi kesempatan mengenal lebih jauh huruf dan misterinya. Pembukaan dan konklusi sama-sama dipaksakan hadir secepat mungkin, menciptakan Pesantren Impian seolah hanya berisi adegan pembunuhan demi pembunuhan. Tidak menjadi duduk masalah apabila film ini menempatkan diri sebagai slasher, masalahnya Pesantren Impian coba menonjolkan kompleksitas misteri, di mana kisah yakni bab vital. Sebagai thriller pun filmnya minim intensitas. Cara Ifa membangun ketegangan kelewat klise, entah bersenjatakan gerak lambat huruf kala ancaman mengintip atau scoring menyayat pengundang rasa kaget. Memandang lewat kacamata slasher juga tak memuaskan, alasannya penyajian momen pembunuhannya terlampau "malu-malu".
Keberhasilan utama film ini justru terletak pada unsur religi yang mungkin bakal sulit diterima masyarakat luas. Pondok pesantren sebagai ajang pembantaian? Adegan pembunuhan ketika huruf tengah menjalankan solat? Keberanian Ifa patut diacungi jempol. Semuanya kolam tamparan bagi sudut pandang dangkal banyak orang khususnya para fanatik. Jika kebanyakan film religi akan berkata "solat, maka semua masalahmu akan tuntas", Pesantren Impian seolah menyatakan "meski ibadah memang bentuk kebaikan berpahala, bukan berarti sepenuhnya menjauhkan dari marabahaya". Bukan berarti menodai kesucian agama, karena di dunia nyata, tindak bengis sanggup terjadi di manapun dan dilakukan oleh siapapun, tak terkecuali di pondok pesantren berisikan jago agama. 

Tiada pula ceramah menggurui walaupun tetap muncul perjuangan menyelipkan pesan lewat kisah Briptu Dewi yang digambarkan tidak religius. Kita diajak mengamati bagaimana perempuan besar lengan berkuasa ini ternyata menyimpan kerapuhan, dan tatkala kondisi makin memojokkan, Dewi pun melemah kemudian kehilangan arah. Dari sinilah unsur religi seharusnya sanggup merasuk secara alami tanpa paksaan alasannya sejalan dengan perkembangan karakter. Sayang, dangkalnya penceritaan turut melemahkan eksplorasi sosok Dewi. Hilang sudah potensi drama mengenai perjalanan tokohnya menemukan "cahaya". Padahal Prisia Nasution telah memberi akting besar lengan berkuasa menyebabkan dua sisi berlawanan dalam diri karakternya tampak believable. Menyedihkan rasanya, mendapati Pesantren Impian bertransformasi dari one of the most awaited movie of the year menjadi one of the most disappointing one



Ticket Powered by: Bookmyshow ID

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho The Curse (2017)

Horor kita terlalu mengandalkan jump scare. Terkesan menggeneralisasi, tapi anggapan itu tidak sepenuhnya keliru. Setiap tahun, film yang tidak mengageti dengan penampakan berisik setan lima menit sekali bisa dihitung jari. Apa daya, masyarakat kita gandrung akan gaya tersebut. Buktinya Danur mampu mengumpulkan hampir 2,7 juta penonton, menjadikannya horor lokal terlaris sepanjang masa. Di antara segelintir sineas horor dalam negeri, Muhammad Yusuf (Kemasukan Setan, Misterius, Angker) termasuk paling potensial melahirkan kengerian hakiki. Sehingga sulit dipercaya saat The Curse  dengan segala cita-cita tinggi yang dibebankan padanya  justru amat melelahkan disimak, kolam mengalami krisis identitas.

Filmnya membawa kita ke Melbourne, Australia tanpa tujuan terang kecuali demi hamparan kawasan rural serta sebuah pohon besar renta nan mengerikan yang sepanjang durasi gemar Yusuh perlihatkan. Saya yakin pemandangan serupa sanggup ditemukan tanpa perlu ke luar negeri. Begitu pula alurnya, mengenai Shelina (Prisia Nasution), seorang pengacara asal Indonesia yang bekerja di law firm setempat dan tengah menangani kasus pembantaian. Shelina yang tengah menjalani proses perceraian mulai didatangi hantu di rumahnya. Secara bergantian, filmnya menyoroti penyelidikan Shelina di siang hari dan teror mistis di malam hari. 
The Curse bagai hendak menggandakan pencapaian low budget horror macam Under the Shadow, The Witch sampai The Babadook. Judul-judul itu mencengkeram lewat atmosfer sambil sesekali melempar penampakan yang terasa efektif lantaran dipakai seperlunya. Studi huruf pun disertakan semoga atensi penonton tetap terjaga dalam pergerakan alur lambatnya. Seperti di Kemasukan Setan, Muhammad Yusuf menerapkan contoh serupa, hanya saja kali ini ia kolam terjebak di antara keinginan menciptakan slow-burning horror dan menuruti usul pasar melalui seabrek jump scare. Alhasil tercipta krisis identitas. 

Film ini setipe Danur. Hantu menampakkan sosoknya terlalu sering. Bedanya sela-sela teror dijejali adegan lambat dan shot statis berisi pemandangan. Dua formula berlawanan itu tidak sinkron. Terlebih tempo pengadeganan Yusuf tak substansial membangun atmosfer, asal lambat, menyeret, pula pretensius, termasuk ketika sinematografi Satya Ginong (penata kamera langganan Yusuf) lebih mementingkan gambar artsy ketimbang suasana mencekam. Serta merta melambatkan (bahkan meniadakan) gerak kamera dan menggunakan gambar ber-tone "dingin" tidak berbanding lurus dengan atmosferik. Pemilihan sudut hingga pemanfaatan lingkungan wajib pula diperhatikan. 
Dua jump scare cukup efektif memancing kejut, adalah kemunculan pertama dan terakhir. Penampakan pertama disebabkan kesan "tiba-tiba" sehabis rangkaian kesunyian, pun yang terakhir, tatkala kita mengira semua telah berakhir, urung menduga filmnya masih menyimpan satu kejutan. Sisanya medioker. Untuk apa static shot dan gerak kamera perlahan pemancing observasi penonton akan tiap sudut ruangan, jikalau ujungnya teror dihukum menggunakan perpindahan adegan mendadak? Lagi-lagi, itu dua jenis formula berlawanan dan tidak selaras. Menggabungkannya secara paksa menghasilkan trik murahan yang terasa menipu. 

Bicara soal menipu, rupanya jalinan ceritanya pun demikian. Persoalan langsung Shelina alih-alih menghasilkan studi psikis huruf justru dilupakan seutuhnya. Begitu pula kasus yang ia tangani, tak lebih dari pengecoh sebelum kisahnya beralih ke kasus lain yang melibatkan Leann (Shareefa Daanish). Konsep menarik wacana roh pembawa pesan pun tidak lagi penting ketika kehadiran mereka sekedar berfungsi menakut-nakuti. Semakin parah di babak konklusi sewaktu Yusuf memberi penjelasan out-of-nowhere mengenai asal para hantu sekaligus membangun ambiguitas wacana kemampuan Shelina (kemungkinan untuk bahan sekuel). Ambiguitas yang gagal memancing minat mencari tahu lebih lanjut lantaran sepanjang durasi kemampuan Shelina itu sebatas tempelan.

Prisia Nasution berusaha sekuat tenaga memberi nyawa lewat aktingnya, pun Shareefa Daanish walau porsi kemunculannya lebih sedikit. Namun performa keduanya dirusak oleh penulisan obrolan klise menggelikan. Tengok ketika Shelina membahas pemindahan persidangan kliennya ke Indonesia yang terdengar bagai obrolan orang awam ketimbang pengacara kelas atas. Atau tiap kalimat dari Leann yang menyerupai diambil dari FTV percintaan remaja. Kualitas jelek ADR (Automated dialogue replacement), menciptakan obrolan terdengar kurang natural, jadinya emosi yang seharusnya ada urung tersalurkan maksimal, melemahkan akting Prisia dan Shareefa. Emosi lewat ekspresi kuat, tetapi tidak dari tuturan verbal. 

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Lima (2018)

Mengamati bermacam-macam konflik serta perpecahan bangsa ini beberapa waktu belakangan, urgensi mengingatkan dan mendalami makna Pancasila sebagai dasar negara terang meninggi. Bentuk medianya bebas, asal terjadi pengkajian lebih jauh, lebih dari sekedar berteriak lantang “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab!”, tapi enggan memanusiakan sesama yang dianggap berbeda. Apa pun kepentingan yang menguntit di balik pembuatannya, kehadiran film menyerupai Lima tetaplah penting, di mana para tokoh menghadapi situasi yang berkaitan dekat dengan tiap-tiap sila Pancasila. Sebagaimana rakyat yang semestinya mengasihi ibu pertiwi, perbuatan abjad film ini tak bisa lepas dari sosok ibu mereka.

Lima sutradara digaet untuk menangani dongeng dalam masing-masing sila. Shalahuddin Siregar (Negeri di Bawah Kabut) menangani segmen pembuka sekaligus yang terbaik. Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra) gres saja kehilangan sang ibunda, Maryam (Tri Yudiman). Secara tersirat bisa ditangkap bahwa Maryam terlahir beragama Islam, pindah ke Katolik sesudah menikah, kemudian kembali lagi memeluk Islam pasca suaminya tiada. Dari ketiga anaknya, cuma Fara yang beragama Islam, sedangkan dua puteranya Kristen. Urusan agama ini memantik persoalan. Mulai soal Aryo yang dihentikan turun ke liang lahat hingga seruan Maryam biar gigi palsunya tidak dilepas dikala dimakamkan (Islam melarangnya).
“Mungkin emang caranya udah kayak gitu”, begitu ucap Fara kala Adi menanyakan perihal gigi palsu. Fara cuma tahu, atau tepatnya peduli, soal “boleh/tidak boleh”, tapi tidak dengan alasannya, esensi dari hukum itu. Sejatinya ini pangkal konflik seputar agama di Indonesia. Berkoar-koar ihwal “TOLAK PEMIMPIN KAFIR!” atau “BOLEH MENIKAH EMPAT KALI!”, tapi begitu diminta menjabarkan atau dikonfrontasi, jawaban yang keluar seringkali sebatas “itu aturannya”, atau lebih parah lagi, “cebong mana ngerti!”. Di tangan Shalahuddin, rentetan proses penguburan terasa penuh duka, namun ada pula ketentraman di situ. Puncaknya dikala dua bentuk kepercayaan disatukan jelang tamat segmen.

Saya pernah menyaksikan adegan serupa digarap lebih baik, entah secara lebh subtil macam di Toba Dreams (2015), atau lebih indah menyerupai nampak dalam film pendek Senyawa (2015) karya Wregas Bhanuteja. Biar demikian, itu tetap momen menggugah nan mengharukan selaku penegas bahwa segmen mengenai sila “Ketuhanan yang Maha Esa” yaitu yang terbaik juga paling provokatif (salah satu alasan santunan rating 17+). Sila kedua garapan Tika Pramesti (Sanubari Jakarta) berpotensi tak kalah provokatif, bahkan bisa lebih menghentak, sayangnya, ketimbang penegasan, konklusinya justru memancing kesan gejolak batin yang tidak tuntas dalam diri karakternya.
Sila “Persatuan Indonesia” digarap Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park, Labuan Hati) yang turut menjadi produser, dan di segmen seputar dilema Fara menentukan muridnya untuk dikirim sebagai atlet renang ke Asian Games ini, nuansa “iklan layanan masyarakat” paling kentara (the whole movie is, but this one is too much). Fara, instruktur renang sekaligus mantan atlet Sea Games, diminta menentukan perenang “pribumi” tatkala ada atlet (keturunan Cina) yang lebih berbakat. Bukan cuma terlampau menitikberatkan pada hasil ketimbang menggali proses pemikiran, segmen ini turut mencuri kesempatan guna memajang kesan faktual bagi PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia), yang kemudian hadir kolam malaikat penolong menuntaskan segala masalah.

Sila keempat yang ditangani Harvan Agustriansyah (Hi5teria) punya kasus berbeda. Fokus diberikan pada Aryo, yang sesudah dihantam ujian akhir ketiadaan musyawarah, mesti memimpin musyawarah mengenai warisan sang ibu bersama kedua saudaranya. Poin bahwa ini merupakan segmen milik Aryo takkan saya tangkap apabila bukan sebab sinopsis resmi filmnya. Pun kemunculan Fajar (Rangga Djoned) si notaris canggung menghadirkan distraksi. Ya, Lima butuh relaksasi melalui komedi, tapi kekonyolan Fajar membuatnya bagai abjad dari film berbeda. Setidaknya dongeng keempat ini bisa membawa lagi motivasi karakternya ke semula, yakni sebab ibu (pertiwi).
Tantangan terbesar Lima yaitu bagaimana naskahnya, yang ditulis oleh Titien Wattimena (Dlan 1990, Salawaku) dan Sinar Ayu Massie (3 Hari untuk Selamanya, Sebelum Pagi Terulang Kembali), menyatukan esensi kelima sila kemudian menempatkannya di konteks keluarga. Beberapa titik kurang menyatu mulus tapi masih memunculkan korelasi dalam terciptanya keluarga kokoh sebagai metafora Indonesia. Segmen terakhir buatan Adriyanto Dewo (Tabula Rasa) sayangnya jadi poin dikala konsep solid itu lenyap. Giliran Bi Ijah (Dewi Pakis) si ajun rumah tangga jadi fokus. Kelemahan krusial segmen ini yaitu inkonsistensi, di mana para protagonis urung terlibat aktif menuntaskan masalah. Mereka cuma penonton. Menghadirkan tokoh gres selaku “penolong”, seolah para penulis cuma “gatal” ingin menyelipkan informasi tanpa memperhatikan keperluan narasi. Lain dongeng jikalau semenjak awal, konsepnya memang sekedar menempatkan keluarga ini sebagai jembatan.

Akankah Lima membangkitkan jiwa Pancasila rakyat? Saya ragu. Tapi apakah Lima patut disimak? Ya, film yang bicara ihwal pentingnya Pancasila terang patut disimak, setidaknya demi mengingatkan kita bahwa semua situasi ideal yang ditampilkan bukan cuma pesan menggurui, namun tujuan yang coba dicapai Pancasila selaku dasar negara. Kala datang masa ketika intisari Pancasila meresapi sanubari tiap rakyatnya, saya percaya negeri ini beserta manusia-manusia di dalamnya akan bisa menghapuskan awan segelap apa pun. Lima sayangnya bukan cuma mencerminkan dasar negara lewat cerita, tapi kualitas balasannya juga mengikuti kondisi Indonesia yang digelayuti bermacam-macam kasus serta kekurangan.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Jejak Cinta (2018)

Sebelum meninggal, mendiang Julia Perez sempat terlibat proyek berjudul Doa untuk Cinta yang ia bintangi bersama Gandhi Fernando, disutradarai Tarmizi Abka (Kalam-Kalam Langit), dan berlokasi di Singkawang. Sayang, sebelum menuntaskan proses pengambilan gambar, kondisi kesehatan Jupe mulai memburuk. Sempat berhembus kabar mengenai usaha melanjutkan produksi dengan perubahan cerita, namun tak kunjung terealisasi. Sampai Jejak Cinta—yang juga disutradarai Tarmizi Abka serta berlatar Singkawang—dirilis utuk mengenang almarhumah.

Entah bagaimana kekerabatan kedua proyek tersebut, tapi apabila diniati sebagai persembahan baik bagi Julia Perez maupun penderita kanker secara umum, Jejak Cinta bukan persembahan yang mengesankan. Pertama dari kalimat salah satu karakternya yang berbunyi, “Biasa, penyakit perempuan sekarang, kanker payudara”. Meski bukan pakar medis, saya yakin kanker payudara tidak ada hubungannya dengan “dulu” atau “sekarang”, pun sanggup menyerang laki-laki. Lain halnya dengan kanker serviks yang tumbuh di leher rahim sebagaimana diderita Julia Perez.

Berikutnya terkait Maryana (Prisia Nasution), puteri Julia Perez (hanya muncul lewat foto) yang khawatir penyakit yang merenggut nyawa sang ibu juga menurun kepadanya. Kekhawatiran itu terbukti. Kanker serviks juga dimiliki Maryana. Tenang, ini bukan spoiler, alasannya yaitu fakta itu (plus ending) telah diungkap oleh sinopsis resmi filmnya. Tapi jangankan menggambarkan usaha penderita kanker atau memberi edukasi, kondisi medis Maryana sama sekali tak mempengaruhi alur, yang takkan berubah meski kanker serviks digantikan penyakit lain. Seolah penyakit itu ada biar filmnya sanggup menyebut dirinya “A tribute to Julia Perez”.

Babak awal Jejak Cinta bekerjsama bisa dinikmati, ketika mengikuti formula soal gadis kota yang mencar ilmu menyayangi kampung kemudian menemukan cinta. Selaku materi riset untuk desain pakaian yang akan ia kirim ke Berlin Fashion Week, Maryana pulang ke kampung halamannya di Singkawang guna meninjau batik-batik di sana. Di tengah perjalanan ia bertemu Hasan (Baim Wong), yang juga gres tiba untuk menjadi guru gres di sebuah SD. Pertemuan mereka penuh keklisean sarat kebetulan, tapi baik Prisia maupun Baim punya cukup pesona guna memberi warna di tengah barisan obrolan membosankan dari naskah goresan pena Faozan Rizal (juga menulis Kalam-Kalam Langit), yang tak pernah terdengar bagus apalagi menghasilkan pemahaman lebih dalam mengenai karakternya.

Begitu membosankan, perhatian saya teralihkan ke subtitle yang luar biasa ngawur. Jejak Cinta sukses menorehkan prestasi sebagai film dengan terjemahan resmi terburuk yang pernah saya baca, bahkan lebih kacau dari terjemahan berbasis Google Translate yang sering tersedia di Subscene. Laki-laki dipanggil “her, perempuan dipanggil “him”, “tunggu sebentar” menjadi “WHITE a minute”, dan paling memancing tawa ketika “dahsyat-dahsyat” diterjemahkan menjadi “awesome-awesome”. Mungkin kalau penerjemahnya ditanya, “Can you speak English?”, ia akan menjawab “Little-little sih I can”.

Kekonyolannya tidak berhenti di urusan subtitle. Seiring waktu, dari romantika sederhana, persoalan demi persoalan pelik mulai hadir, menambah kompleksitas, di mana semakin rumit konflikya, semakin kacau dan menggelikan filmnya. Karakterisasi merupakan salah satu penyebab. Maryana awalnya yaitu perempuan kekinian yang enggan buru-buru menikah, mengutamakan karir, hanya untuk tiba-tiba ngebet menikahi Hasan yang belum usang beliau kenal. Keputusan itu diambil ketika filmnya gres menampilkan 2 momen kebersamaan singkat plus sebuah montase. Oh, jangan pula terlampau memikirkan profesi Maryana selaku desainer terkenal. Kita urung diperlihatkan satu pun hasil desainnya yang dilombakan di Berlin Fashion Week, suatu program kelas dunia yang di sini dikemas kolam peragaan busana kelas mall.

Sedangkan Hasan coba digambarkan sebagai laki-laki baik semenjak kemunculan pertamanya, ketika bersedia mengembalikan dompet dan sketchbook milik Maryana. Kebaikan Hasan makin menjadi sewaktu mantan kekasihya, Sarah (Della Wulan Astreani) muncul dalam kondisi batin yang hancur pasca sang ayah, Hendrawan (Mathias Muchus) dijebloskan ke penjara jawaban tuduhan korupsi. Meyakini Hendrawan “bersih”, Hasan bersedia membantu termasuk mencarikan jasa pengacara.

Kawan-kawan, janganlah kita menjadi laki-laki menyerupai Hasan. Kebaikannya memang seolah tanpa pandang bulu, bersedia menolong ketika kebanyakan dari kita menganggap mantan merupakan peristiwa masa lalu. Namun bila hingga membohongi istri, tak bisa menafkahinya lantaran keluar dari pekerjaan demi membantu sang mantan, sering meninggalkan istri sendirian meski ia telah rela menetap di kampung, melepaskan hingar bingar ibukota sebagai desainer ternama, artinya kau suami tak tahu diri yang buta akan prioritas. Lebih asing (juga menggelikan) lagi ketika di atas pelaminan, pengacara yang Hasan sewa mendatangi Hasan, kemudian keduanya berbisik-bisik soal progres kasus Hendrawan. DI ATAS PELAMINAN, DI TENGAH PERNIKAHAN, TEPAT DI SEBELAH MEMPELAI WANITA! Sebagai film yang mengusung tajuk “Jejak Cinta”, jejak-jejak cinta kasih justru sukar ditemukan di sini.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Wage (2017)

Wage menarik lantaran pernyataan John De Rantau (Denias, Senandung di Atas Awan, Obama Anak Menteng) bahwa karya penyutradaraan pertamanya sesudah mangkir enam tahun ini bukan biopic, melainkan noir. Melihat hasilnya, menyebut film ini sebagai noir sama saja menyebut Pengabdi Setan komedi lantaran ada selipan humor. Penyertaan beberapa ciri suatu genre atau sub-genre tidak otomatis menciptakan sebuah film termasuk di dalamnya. Begitu pula Wage, yang hanya satu dari sekian banyak sajian biografi formulaik dilengkapi production value mumpuni dengan penceritaan berantakan.

Pasca menit awal berisi tulisan-tulisan panjang yang memenuhi layar dari kutipan petuah ketua organisasi Shiddiqiyyah, kredit lengkap, hingga narasi prolog, kita berkenalan dengan Wage kecil (Khoirul Ilyas Aryatama) yang ditindas oleh bawah umur Belanda. Sepeninggal ibunya, ia tinggal bersama sang kakak, Roekiyem (Putri Ayudya) dan suaminya, Van Eldick (Wouter Zweers), di Makassar. Saat itulah Wage berguru bermain biola. Wage sampaumur (Rendra Bagus Pamungkas) pun menjadi musisi cafe yang diakui kehebatannya. Lalu seiring memanasnya perlawanan rakyat terhadap kolonialisme, ia tergerak ambil bagian, pindah ke Jawa, memulai usaha bersenjatakan musiknya.
Sesederhana itu jalinan alur Wage, tetapi naskah buatan Fredy Aryanto (Ketika Mas Gagah Pergi) bersama Gunawan BS, ditambah gaya bertutur John De Rantau menghadirkan kompleksitas tak perlu. Cerita melompat begitu liar nan berangasan dari titik satu ke berikutnya. Tanpa transisi maupun klarifikasi latar insiden juga karakter, Wage bagai rekoleksi memori acak yang telah buram, terkikis dimakan waktu. Bila kerumitan noir dipicu plot atau twist berlapis, Wage didorong ketiadaan struktur narasi solid. Kacaunya alur berujung melemahkan pengembangan karakter, menghalangi penonton terikat pada sosok Wage Rudolf Supratman. 

Minus hati, film ini kolam buku sejarah. Bahkan lebih buruk, alasannya yaitu buku sejarah paling tidak berisi pengetahuan. Sementara lompatan kisah Wage menyulitkan untuk mencerna rangkaian insiden guna menyerap informasi. Berjalan hampa, momen dikala Indonesia Raya berkumandang yang mestinya menggetarkan, berakhir numpang lewat. Berlangsung selama 120 menit tanpa rasa atau poin menarik, Wage jadi obat insomnia mujarab, produsen kantuk pemantik niatan walk out. Untung ada Rendra Bagus Pamungkas lewat kemiripan fisik dengan Supratman plus performa meyakinkan memainkan keteguhan sosok yang tak gentar meski pistol ditodongkan sempurna ke kepalanya. Walau di sisi lain, bakat Putri Ayudya dan Prisia Nasution terbuang percuma.
Aspek terkuat Wage adalah production value penghasil visual memikat mata. Sinematografi Hani Pradigya menonjolkan kesan sinematik kuat, membungkus tata artistik bernuansa period yang tak kalah mumpuni. Beberapa kali Hani menerapkan pencahayaan rendah, yang di satu sisi menghasilkan kedalaman plus bobot bagi gambar, tapi di sisi lain mengatakan salah kaprah film ini terkait definisi noir makin akut. Noir memang identik dengan cahaya temaram, bayang-bayang, hingga asap rokok mengepul. Namun keberadaan unsur-unsur itu tidak seketika menciptakan filmnya dapat disebut noir. Generalisasi serupa terjadi pula dalam naskah, khususnya terkait poin plot serta penokohan.

Ciri khas lain noir yakni ambiguitas moral protagonis yang mengalami konflik batin. Wage sempat mabuk (sekali), mencurigai usaha dan kapasitasnya, tapi itu belum menjadikannya pribadi yang bermasalah. Dia insan biasa dengan segala kelemahan, bukan sosok problematik. Sebagai produk pasca Perang Dunia II, masuk akal apabila noir diselimuti tone kelam selaku luapan depresi masyarakatnya. Sebaliknya, Wage dikelilingi aura positif, harapan, perlawanan akan represi, hikayat kepahlawanan bertabur pesan moral. Selaku biopic, Wage pantas diapresiasi, namun dilihat sebagai noir layaknya keinginan John De Rantau, Wage merupakan kegagalan akhir tindakan pretensius.