Showing posts with label Putri Ayudya. Show all posts
Showing posts with label Putri Ayudya. Show all posts

Thursday, December 13, 2018

Ini Lho Flutter Echoes And Notes Concerning Nature (2015)

Saya menyukai slow cinema. Sajian arthouse lambat yang bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan kerap memberi kepuasan hasil dari kontemplasi mendalam sekaligus observasi mendetail. Untuk film Indonesia, "Another Trip to the Moon" karya Ismail Basbeth ialah rujukan tepat dan hingga ketika ini masih menjadi film Indonesia favorit saya untuk tahun 2015. Tapi disaat suatu slow cinema gagal mencapai tujuannya, tak jarang justru kebosanan serta kesan pretensius yang hadir. "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" garapan Amir Pohan ini salah satunya. Selama 90 menit pemutarannya pada event JAFF, saya mendapati banyak penonton yang menguap bahkan bermain handphone entah lantaran bosan atau tak mengerti makna alur film yang tidak linier. Bahkan begitu credit bergulir ada keraguan dari audience untuk memberi applause. Mungkin lantaran memang tak terpuaskan atau tidak yakin film telah usai. Wajar saja, lantaran sepanjang film (pasti) banyak yang tidak yakin filmnya bertutur wacana apa.

Gagasan dalam film ini sebetulnya sederhana saja: kecintaan terhadap alam. Hanya saja cara bernarasi Amir Pohan yang begitu lambat dan sunyi serta alur penuh abstraksi tanpa kejelasan setting waktu bakal menghadirkan kebingungan untuk banyak penonton. Terdapat dua garis besar cerita. Pertama wacana perekam bunyi (Ladya Cheryl) yang berjalan menyusuri alam bebas untuk merekam ambience disana. Hasil rekaman itu ia gunakan untuk "terapi" bagi flora yang ia tanam di rumahnya. Kedua, ialah mengenai empat orang Guerrilla Gardeners (Tara Basro, Ismail Basbeth, Putri Ayudya & Ralmond Karundeng) yang menanam flora di banyak sekali sudut kota yang sudah "tenggelam" oleh beton dan semen. Untuk mengemas dua kisah itu, Amir Pohan bereksperimen dengan berfokus pada audiovisual. Kamera lebih sering menyoroti landscape pemandangan diiringi voice over Ladya Cheryl sedangkan ambience alam menggantikan scoring musik yang biasanya mengiringi suatu film. 
Normally, saya menyukai film semacam ini dan akan menyebutnya tontonan kontemplatif, indah, puitis, dan sebagainya. Tapi "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" tak pernah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai tontonan yang mengedepankan olah rasa daripada pergerakan alur, filmnya gagal membawa saya terhanyut kedalam keindahan alam negara agraris yang dimaksudkan. Sinematografi-nya tak pernah memukau untuk film yang ingin mengeksploitasi keindahan visual. Begitu pula imbas bunyi yang bahkan nyaris tak terdengar. Mungkin saja kekurangan audio ini cukup dipengaruhi oleh bunyi AC yang begitu kencang di dalam ruangan, tapi faktanya saya tak mendengar ambience apapun yang sanggup menghipnotis. Disaat dua aspek "unggulan" ini sama sekali tidak unggul, jatuhlah filmnya. Dengan alur lambat nan sunyi (sering penonton hanya disuguhi adegan "artsy" ketika huruf tak "melakukan apapun") juga sisi surealisme, perlu ada poin yang mengikat penonton semoga bersedia menemukan makna lebih dalam. Film ini tak punya poin tersebut, dan saya pun mengalah dalam kebosanan.
Pada sesi Q&A, sempat ada penonton mengutarakan statement bahwa film ini layak diapresiasi lantaran tidak meng-underestimate penontonnya. Saya justru ragu. Apakah filmnya memang tidak menganggap penonton kurang bakir hingga berani mengambil jalur artsy, ataukah filmnya sok pintar. Karena beberapa adegan seolah diselipkan hanya demi memberi absurditas alur. Sebagai rujukan pada adegan pembuka (dan sedikit di tengah) ada subplot yang menyinggung ranah mistis tapi kemudian tak pernah dibahas lagi, sehingga terkesan random. Bukannya tanpa benang merah, lantaran mistis yang disinggung masih berkaitan dengan sisi lain dari alam, tapi dibandingkan momen lain, bab ini terasa out-of-place. Bahkan Amir Pohan sendiri menuturkan bahwa adegan ini diambil dari dokumenter yang tengah ia garap sehingga "tidak etis" jikalau dimasukkan terlalu banyak dalam film ini. Pertanyaannya, "kalau begitu kenapa harus dimasukkan?" Karena toh bab ini tidaklah signifikan. 

Banyak bakat berbakat mengisi jajaran cast, sebut saja Ladya Cheryl, Tara Basro dan Putri Ayudya. Ketiga aktris itu tersia-siakan potensinya. Tara dan Putri dengan kemampuan pendalaman huruf serta kesubtilan emosi yang dimiliki hanya ditugaskan menanam tumbuhan. Sedangkan Ladya Cheryl lebih "beruntung", lisan kedamaiannya sebagai mother nature yang menikmati nyanyian alam memang memberi keindahan. Adegan ketika ia menyiram flora sambil mengajak mereka bicara pun menjadi spotlight film ini. Ya, ketika adegan Ladya Cheryl menyiram flora ialah bab terbaik, pastinya ada yang salah dalam film tersebut. Begitu ingin saya mencintai "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" dengan potensi keindahan kisah puitis serta eksperimen bertuturnya. Sungguh. Tapi apa daya, disaat secara umum dikuasai "senjata utama" tak bekerja dengan baik, filmnya pun hanya berakhir sebagai satu setengah jam yang melelahkan. Punya niatan yang baik dan berbeda dengan film-film lokal lainnya, tapi niat baik dan berbeda saja tidak cukup.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)

Kalau anda mencari horor yang tidak semata bergantung pada jump scare berisik dan mengandung kisah untuk dituturkan, maka Kafir: Bersekutu dengan Setan menunjukkan alternatif tersebut. Tanpa kaitan dengan Kafir (2002) kecuali pada kemiripan judul dan penampilan Sujiwo Tejo sebagai dukun santet, film yang naskahnya digarap oleh Upi (#TemanTapiMenikah, Sweet 20, My Stupid Boss) dan Rafki Hidayat ini akan diingat selaku film yang berani mencoba pendekatan berbeda di tengah topan horor yang minim variasi, baik wacana gaya maupun kualitas. Perlu diapresiasi, meski menyimpan setumpuk kelemahan sehingga memperpanjang penantian atas “horor bagus” pasca Pengabdi Setan.

Kafir: Bersekutu dengan Setan dibuka oleh atmosfer menjanjikan. Terasa tidak nyaman, berbekal nuansa lawas hasil pewarnaan, tata artistik, serta musik, yang  tak pelak memunculkan komparasi dengan Pengabdi Setan. Sri (Putri Ayudya), bersama sang suami, Herman (Teddy Syach) dan puterinya, Dina (Nadya Arina) sedang makan malam bersama, sembari menanti kepulangan si anak laki-laki, Andi (Rangga Azof). Mendadak Herman muntah darah. Dia tewas dengan kaca keluar dari mulutnya. Tidak salah lagi, Herman merupakan korban santet. Siapa pun pelakunya ia benar-benar ingin menghancurkan keluarga ini hingga ke akarnya. Itulah mengapa meja makan dipilih jadi panggung pembunuhan.

Mengapa meja makan? Karena di situ, beserta acara makan bersama, seringkali jadi ajang bertukar rasa antar anggota keluarga. Mematikannya, berarti mematikan suatu keluarga. Benar saja, sepeninggal Herman, kehangatan memudar. Kafir: Bersekutu dengan Setan menggunakan bentuk horor psikologis guna membungkus paruh awalnya. Trauma yang dialami Sri jadi sorotan. Lagu kesukaan Herman tidak boleh diputar, pun enggan ia memasak opor ayam kesukaan mendiang suaminya itu. Sewaktu Andi—yang membawa pacar barunya, Hanum (Indah Permatasari)—tersedak kala makan, wajah Sri eksklusif dipenuhi teror. Memori kematian tragis Herman muncul, dan Putri Ayudya tampil meyakinkan memerankan perempuan yang terluka luar-dalam.

Sri melihat panci yang terjatuh sendiri, “kembaran” Andi, hingga noda hitam yang tak kunjung hilang di langit-langit. Apakah itu semua kasatmata atau sebatas produk trauma mendalam? Naskahnya tak pernah menyelami pertanyaan itu lebih jauh, meninggalkan banyak kekosongan berwujud observasi tanpa eksplorasi dalam alur bertempo lambat. Jangan harapkan jump scare bombastis. Beberapa perjuangan mengageti penonton tetap dilakukan, tapi tak dieksploitasi. “Atmosferik” yakni kesan yang ingin diciptakan, walau ketidakmampuan sutradara Azhar Kinoy Lubis (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini) mengkreasi tensi, khususnya kala tiada kejadian besar terjadi, menghalangi tercapainya tujuan tersebut.

Penonton hampir tidak pernah ditempatkan di posisi karakterya. Sri ketakutan, saya tidak. Sebabnya sederhana: keanehan-keanehan di sekitar Sri tak nampak mengerikan di layar. Benda-benda bergerak, alat musik berbunyi sendiri, semua itu angker apabila terjadi di realita. Namun di film, anda tidak bisa sekedar menangkap kejadian itu di kamera kemudian berharap ketakutan otomatis timbul di hati penonton. Butuh ketrampilan juga sensitivitas guna melukis gambar-gambar menyeramkan, semoga ketakutan karakternya tersalurkan ke penonton. Azhar tidak (atau belum) memiliki itu.

Dinamika meningkat ketika Jarwo (Sujiwo Tejo) masuk, menampilkan gaya creepy nan eksentrik miliknya. Di sini terjadi “hal besar” ketimbang sekedar kejadian poltergeist, sehingga Azhar memperoleh amunisi berlebih. Adegan yang melibatkan api di kediaman Jarwo tersaji mendebarkan pula mencengangkan. Selain itu, filmnya mulai memasuki babak penelusuran misteri. Berkutat pada pertanyaan “Siapa pelaku santet?”, pengenalan misterinya menarik. Jika berhenti di wacana “siapa”, jawabannya gampang ditebak bahkan semenjak setengah jam pertama, tapi dalam jenis dongeng whodunit, proes pun penting.

Penelusuran fakta yang tersibak satu demi satu merupakan pondasi yang wajib dibangun lebih dulu. Namun Kafir: Bersekutu dengan Setan lalai melibatkan penonton dalam penyelidikan. Terlihat ketika beberapa kali karakternya menemukan petunjuk yang urung diungkap kepada penonton. Dengan demikian, durasi bergulir dan alur terus bergerak maju, tapi kolam tanpa progres. Seluruhnya ditimbun, disimpan bagi third act yang terasa tidak sinkron dengan keseluruhan film, khususnya terkait pembawaan over the top Indah Permatasari dan Nova Eliza. Penampilan keduanya di titik puncak kolam berasal dari horor yang mengedepankan unsur “fun” atau bahkan b-movie. Tidak buruk, hanya bukan di sini tempatnya. Their performance don’t belong here.

Paling tidak klimaksnya menyimpan momen tidak mengecewakan menegangkan yang melibatkan darah dan kekerasan. Sayang, kelebihan itu lagi-lagi tidak berlangsung lama, tepatnya hingga film ini melaksanakan simplifikasi terkait cara mengakhiri konflik. Perkelahian yang ditangani begitu canggung oleh Azhar yakni cara yang dimaksud. “Beat ‘em up” is the easiest (read: the laziest) way to ends a conflict in any movie. Ingin sekali rasanya berkata “Saya mengagumi film ini”, dan terang saya mengapresiasi usahanya ampil beda. Tapi sesudah horor jelek gentayangan silih berganti di bioskop, saya, dan rasanya lebih banyak didominasi penonton, ingin segera menyaksikan hasil lebih tinggi.

Ini Lho Petualangan Menangkap Petir (2018)

Petualangan Menangkap Petir yakni film menyenangkan dengan tokoh sentral anak-anak, meski bukan film anak yang sepenuhnya berhasil. Sebab bila terlontar pertanyaan mengenai pesan apa yang sanggup diserap, saya hanya bisa menjawab, “Jadi orang renta jangan protektif secara berlebihan”, dan “Cobalah memahami harapan anak”. Sebagai film anak, karya penyutradaraan ketiga Kuntz Agus (#republiktwitter, Surga yang Tak Dirindukan) ini malah lebih lantang mengkritisi kalangan cukup umur walau meluangkan sepanjang durasi menyoroti acara huruf bocahnya. Mungkin ini hasil proses bawah sadar ketika para pembuatnya, serupa salah satu obrolan yang mereka tulis, kerap “lupa cara menjadi anak kecil”.

Tujuan dasar Petualangan Menangkap Petir bahwasanya sederhana, yakni melecut supaya belum dewasa tak ragu mengejar mimpi, juga berpetualang ke luar rumah, bertemu teman-teman faktual ketimbang melulu berkutat di balik gadget dan dunia maya. Tapi dalam konteks film ini, bila pokok-pokok bahasan di atas dirunut kembali, semua duduk perkara justru berpangkal di orang renta ketimbang anak. Bukan sang anak, Sterling (Bima Azriel) yang meragu, melainkan sang ibu, Beth (Putri Ayudya) yang mengekang. Semua tergantung pada Beth. Masalah hanya akan tuntas ketika Beth yang tersadar, bukan Sterling.

Meninjau situs personalnya, sanggup disimpulkan Beth yakni seorang penggiat soal pendidikan terhadap anak, yang kerap membahas bagaimana semoga anak bisa bermain sesuka hati, bersenang-senang tanpa perlu membahayakan diri dengan keluar rumah. Berbanding terbalik dengan sang suami, Mahesa (Darius Sinathrya), yang sejatinya ingin Sterling mengeksplorasi dunia luar, namun enggan menyulut duduk perkara dengan Beth. Sterling, yang selama ini tinggal di Hong Kong, menjadi YouTuber tenar berkat bermacam-macam konten kreatif, berinteraksi dengan ribuan “teman” meski tak ada satu pun pernah ia temui langsung.

Kesuksesan itu menciptakan Sterling berat hati kala orang tuanya tetapkan pindah ke Jakarta. Sementara persiapan kepindahan dilakukan, Sterling dititipkan di  rumah kakeknya (Slamet Rahardjo) di Selo, Boyolali. Kekhawatiran bakal merasa jengah lantaran tinggal di kampung seketika sirna pasca bertemu Gianto alias Jaiyen (Fatih Unru) dengan segala gairahnya soal film khususnya akting. Mengetahui acara Sterling di YouTube, Jaiyen pun eksklusif mengajaknya menciptakan film mengenai legenda Ki Ageng Sela yang konon, sanggup menangkap petir ketika tengah bertani.

Aktivitas Sterling di Selo mengasyikkan, apalagi bagi penonton menyerupai saya yang berasal dari tempat pedesaan di Jawa. Semua terasa familiar, dari lokasi hingga cara interaksi penuh selorohan menggelitik warga berlogat setempat, termasuk kemunculan singkat duo Pangsit-Benjo sebagai penjual jamu tradisional. Para pemeran ciliknya pun tampak menikmati, yangjadi elemen terkait anak terbaik di film ini. Bima Azriel apik memerankan seorang bocah yang jengah atas tekanan bertubi-tubi ibunya. Bima memperlihatkan menyerupai apa kekesalan terpendam yang pelan-pelan dipupuk, menunggu meledak di kemudian hari. Keberhasilan Putri Ayudya memerankan ibu super protektif yang memudahkan kita mendukung “pemberontakan” Sterling. Jangan kaget jikalau Beth mengingatkan pada sosok-sosok di sekitar anda.

Tapi pencuri perhatian terbesar tetap Fatih Unru yang bukan cuma mahir mengocok perut, juga melakoni momen dramatik. Ada adegan ketika ia dituntut melaksanakan akting dalam akting, dan itu tampak meyakinkan, mematenkan Jaiyen sebagai pondasi motivasi pengejaran mimpi filmnya. Agak asing bahwasanya ketika motivasi motivasi itu tiba dari sosok pendukung ketimbang Sterling yang seringkali sekedar mengikuti kemauan sobatnya. Jaiyen sendiri bicara kolam orang cukup umur penggemar film alih-alih anak kecil dengan kemurnian mimpinya. Eddie Cahyono (Siti) dan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta? Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) selaku penulis naskah berusaha memposisikan diri sebagai anak kecil, kemudian gagal, kolam pemeran yang berakting buruk.

Guna menolong proses pembuatan film, Sterling dan Jaiyen meminta dukungan dua videografer pernikahan, Arifin (Abimana Aryasatya) dan Kriwil (Arie Kriting), yang konon pernah menciptakan film fenomenal, namun secara tersirat disampaikan bahwa mereka tak pernah menyelesaikan karya itu, sehingga menyebarkan mimpi serupa kedua bocah tersebut. Menurut Ifa Isfansyah selaku produser eksekutif, Petualangan Menangkap Petir didasari mimpinya bersama Kuntz Agus menciptakan film anak dan film wacana film. Sayang, mereka sulit menahan diri untuk tidak menyelipkan filosofi mengenai film, menyerupai kalimat “film itu magis” atau penyebutan istilah macam “Mise-en-scène”, yang terdengar kurang pas di film anak. Semoga beruntung menjelaskan artinya pada belum dewasa anda. Hal-hal “ke-sinema-an” tadi dicuapkan Abimana, yang balasannya memerankan huruf “serius tapi santai” menyerupai ketika mencuri perhatian tujuh tahun kemudian di Catatan Harian Si Boy walau penokohan Arifin sendiri dangkal.

Seperti saya sebutkan di awal, di luar setumpuk kelemahannya, Petualangan Menangkap Petir masih sebuah tontonan menyenangkan. Kuntz Agus bisa membungkus kegiatan karakternya menciptakan film dengan seru. Bocah-bocah ini tidak peduli meski cuma berbekal properti buatan tangan seadanya juga akting sebisanya, lantaran mereka hanya berniat bersenang-senang. Setidaknya Petualangan Menangkap Petir berpotensi menyediakan alternatif kegiatan aktif bagi anak: Membuat film. Walau lagi-lagi, berdasarkan film ini, semuanya tergantung pada orang tua. 

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Di Balik Layar - Kisah Mistis (2018)

Bukan, ini bukan review ibarat biasa, sebab sebagaimana beberapa dari kalian tahu, saya yaitu salah satu produser Dongeng Mistis. Seperti judul artikelnya, kali ini saya hendak menceritakan sekelumit proses di balik layar film ini.

Awal Keterlibatan
Semua bermula di awal 2017, ketika Gandhi Fernando tiba ke Yogyakarta untuk proses pra-produksi Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017) karya Ismail Basbeth, di mana ia termasuk salah satu produser administrator sekaligus aktor. Sebelumnya kami sempat bertemu sejenak dua kali, yakni seusai pemutaran Istimewa Midnight Show (2016) di Yogyakarta dan pada Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2016.

Karena tiba terlalu pagi, saya (disusul Taufiqur Rizal dari Cinetariz) berbaik hati menemani. Di situlah ia memperlihatkan beberapa proyek yang sedang dikerjakan, dari trailer Mantan (2017), klip Zodiac: Apa Bintangmu? (rencana rilis awal 2019), dan konsep film horor omnibus yang merupakan cikal bakal Dongeng Mistis.
Sejujurnya saya bukan penggemar Renee Pictures. Tapi satu yang saya suka, selalu ada perjuangan tampil segar. The Right One (2014) memang lemah di naskah dan chemistry, namun berani menghadirkan romansa bergaya Before Sunrise. Tuyul: Part 1 (2015) tampak menonjol bila disandingkan dengan horor-horor lokal belakangan. Lalu ada Midnight Show buatan Ginanti Rona, slasher solid yang bahkan menyerempet gaya giallo yang jarang disentuh sineas kita.

Selang beberapa bulan, sewaktu saya disibukkan penyelesaian skripsi, Gandhi kembali menghubungi, mengatakan posisi produser untuk Dongeng Mistis, yang ketika itu berada di tengah fase produksi. Saya tentu tertarik, tapi pertanyaan ini terus berkecamuk.....
Reviewer Kok Kaprikornus Produser?
Apakah etis jikalau saya terjun ke industri film sebagai pembuat tapi meneruskan kegiatan review film? Selama beberapa bulan saya gamang. Sebenarnya beberapa reviewer kita sudah melaksanakan itu. Daniel Irawan sebagai konsultan di Magma Entertainment bahkan menulis naskah bersama Charles Gozali untuk Malam Jahanam yang hendak  diproduksi, Elbert Reyner menjadi astrada Buffalo Boys, Vincent Jose sebagai produser di Renee Pictures, dan tentunya Witra Asliga yang beberapa waktu kemudian merilis film panjang perdananya, The Returning.

Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan berguru mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum wacana proses di balik layar film. Tentu kita sanggup berguru dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami eksklusif bakal memberi pembelajaran lebih besar?

Intinya, saya merasa kolot dan ingin menjadi pintar.
Peran di ‘DONGENG MISTIS’
Begitu saya bergabung, Dongeng Mistis hendak memulai pasca-produksi. Peran saya yaitu mengisi posisi Gandhi yang sudah mulai disibukkan oleh acara Mister Indonesia kemudian Mistet Supranationl. Salah satunya soal pengisian musik, di mana kami bekerja sama dengan Spinach Records milik DJ Riri. Saat itu kami kebingungan. “Mau dibawa ke mana musiknya kalau diisi para DJ yang minim pengalaman di film?”. Akhirnya, kami nekat berkata, “Just use your roots. If it’s an electronic music, we’re gonna make an electro-horror then”. Hasilnya tidak mengecewakan. Terselip keunikan yang pastinya bukan bunyi-bunyian asal berisik.

Proses berikutnya sekaligus yang paling menantang (Baca: ruwet) yaitu urusan birokrasi, baik ke bioskop maupun LSF. Di sinilah tujuan awal saya terpenuhi. Saya yang biasanya mengacuhkan birokrasi (saat kuliah selalu berkata “Fuck them!” ketika kampus menyulitkan pementasan yang saya buat) sekarang tahu tahap-tahap mengurus sensor, di mana saya kesannya mengalami eksklusif betapa ajaibnya LSF. Begitu pula soal distribusi—poster, trailer, maupun DCP film—, penentuan tanggal tayang, pembagian jatah layar, juga acara pasca-produksi lain. 
Filmnya Sendiri Bagaimana?
Dongeng Mistis yaitu omnibus berisi enam kisah buatan enam sutradara yang menampilkan enam hantu khas Indonesia (666, get it?). Enam sutradara ini hampir semuanya debutan, keputusan yang kerap dilakukan Renee Pictures, berpijak pada tujuan membukakan pintu bagi talenta-talenta muda untuk terjun ke industri (Mempunyai kredit layar lebar termasul salah satu syarat penting jikalau sutradara ingin dilirik).

Sementara keenam hantunya yaitu Pocong, Sundel Bolong, Genderuwo, Begu Ganjang, Bajang, dan Lehak. Khusus nama yang disebut terakhir, itu yaitu makhluk gres ciptaan sutradara/penulis naskah Andra Fembriarto (Sinema Purnama) yang dibentuk menurut adonan budaya-budaya milik bermacam-macam tempat Indonesia.

Saya tidak sanggup memberi evaluasi pada film ini, tapi saya sanggup memberi sedikit citra mengenai tiap segmen. Sundel Bolong karya Ihsan Fadli (sempat menjadi astrada 2 di Cek Toko Sebelah) jadi segmen paling atmosferik berkat visualnya. Di rumah yang tengah mati lampu di malam hari, seorang ibu hamil (Maryam Supraba) harus menghadapi teror Sundel Bolong yang penuh nalar bulus guna menjebak korbannya. Pocong garapan Achmad Romie mengisahkan ustaz (Kiky Armando) yang keimanannya diuji, kala di tengah perjalanan pulang seusai mengajar ngaji, diganggu sesosok pocong. Saya suka bagaimana hebat agama tidak digambarkan sebagai pahlawan tepat di sini.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada perempuan (Putri Ayudya) yang gres melaksanakan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibentuk oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan pameran ibarat Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai perempuan (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Daya tarik terbesar Begu Ganjang  karya Vicky Ray yaitu hantu yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Anda akan diajak memahami legenda Begu Ganjang melalui pemeriksaan wartawan berjulukan Daniel (Gandhi Fernando). Terakhir yaitu Lehak yang rasanya cukup tepat disebut sebagai segmen paling artistik. Efek visual warna-warni serta tarian tradisional akan membawa anda mengunjungi dunia fantasi rekaan Andra Fembriarto yang mengetengahkan keputusan seorang gadis (Btari Chinta) melaksanakan tarian terkutuk pemanggil Lehak.

Silahkan sambangi bioskop mulai 22 NOVEMBER 2018, dan jangan ragu-ragu mengutarakan pendapat kalian mengenai filmnya di kolom komentar, entah baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah saya akan terlibat pada produksi film lain, sehingga bukan tidak mungkin ini merupakan yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, ini kesempatan langka melihat nama saya di layar lebar, hehehe....

Sebelum menonton, simak dulu trailer-nya berikut ini

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Wage (2017)

Wage menarik lantaran pernyataan John De Rantau (Denias, Senandung di Atas Awan, Obama Anak Menteng) bahwa karya penyutradaraan pertamanya sesudah mangkir enam tahun ini bukan biopic, melainkan noir. Melihat hasilnya, menyebut film ini sebagai noir sama saja menyebut Pengabdi Setan komedi lantaran ada selipan humor. Penyertaan beberapa ciri suatu genre atau sub-genre tidak otomatis menciptakan sebuah film termasuk di dalamnya. Begitu pula Wage, yang hanya satu dari sekian banyak sajian biografi formulaik dilengkapi production value mumpuni dengan penceritaan berantakan.

Pasca menit awal berisi tulisan-tulisan panjang yang memenuhi layar dari kutipan petuah ketua organisasi Shiddiqiyyah, kredit lengkap, hingga narasi prolog, kita berkenalan dengan Wage kecil (Khoirul Ilyas Aryatama) yang ditindas oleh bawah umur Belanda. Sepeninggal ibunya, ia tinggal bersama sang kakak, Roekiyem (Putri Ayudya) dan suaminya, Van Eldick (Wouter Zweers), di Makassar. Saat itulah Wage berguru bermain biola. Wage sampaumur (Rendra Bagus Pamungkas) pun menjadi musisi cafe yang diakui kehebatannya. Lalu seiring memanasnya perlawanan rakyat terhadap kolonialisme, ia tergerak ambil bagian, pindah ke Jawa, memulai usaha bersenjatakan musiknya.
Sesederhana itu jalinan alur Wage, tetapi naskah buatan Fredy Aryanto (Ketika Mas Gagah Pergi) bersama Gunawan BS, ditambah gaya bertutur John De Rantau menghadirkan kompleksitas tak perlu. Cerita melompat begitu liar nan berangasan dari titik satu ke berikutnya. Tanpa transisi maupun klarifikasi latar insiden juga karakter, Wage bagai rekoleksi memori acak yang telah buram, terkikis dimakan waktu. Bila kerumitan noir dipicu plot atau twist berlapis, Wage didorong ketiadaan struktur narasi solid. Kacaunya alur berujung melemahkan pengembangan karakter, menghalangi penonton terikat pada sosok Wage Rudolf Supratman. 

Minus hati, film ini kolam buku sejarah. Bahkan lebih buruk, alasannya yaitu buku sejarah paling tidak berisi pengetahuan. Sementara lompatan kisah Wage menyulitkan untuk mencerna rangkaian insiden guna menyerap informasi. Berjalan hampa, momen dikala Indonesia Raya berkumandang yang mestinya menggetarkan, berakhir numpang lewat. Berlangsung selama 120 menit tanpa rasa atau poin menarik, Wage jadi obat insomnia mujarab, produsen kantuk pemantik niatan walk out. Untung ada Rendra Bagus Pamungkas lewat kemiripan fisik dengan Supratman plus performa meyakinkan memainkan keteguhan sosok yang tak gentar meski pistol ditodongkan sempurna ke kepalanya. Walau di sisi lain, bakat Putri Ayudya dan Prisia Nasution terbuang percuma.
Aspek terkuat Wage adalah production value penghasil visual memikat mata. Sinematografi Hani Pradigya menonjolkan kesan sinematik kuat, membungkus tata artistik bernuansa period yang tak kalah mumpuni. Beberapa kali Hani menerapkan pencahayaan rendah, yang di satu sisi menghasilkan kedalaman plus bobot bagi gambar, tapi di sisi lain mengatakan salah kaprah film ini terkait definisi noir makin akut. Noir memang identik dengan cahaya temaram, bayang-bayang, hingga asap rokok mengepul. Namun keberadaan unsur-unsur itu tidak seketika menciptakan filmnya dapat disebut noir. Generalisasi serupa terjadi pula dalam naskah, khususnya terkait poin plot serta penokohan.

Ciri khas lain noir yakni ambiguitas moral protagonis yang mengalami konflik batin. Wage sempat mabuk (sekali), mencurigai usaha dan kapasitasnya, tapi itu belum menjadikannya pribadi yang bermasalah. Dia insan biasa dengan segala kelemahan, bukan sosok problematik. Sebagai produk pasca Perang Dunia II, masuk akal apabila noir diselimuti tone kelam selaku luapan depresi masyarakatnya. Sebaliknya, Wage dikelilingi aura positif, harapan, perlawanan akan represi, hikayat kepahlawanan bertabur pesan moral. Selaku biopic, Wage pantas diapresiasi, namun dilihat sebagai noir layaknya keinginan John De Rantau, Wage merupakan kegagalan akhir tindakan pretensius.