Showing posts with label Samuel L. Jackson. Show all posts
Showing posts with label Samuel L. Jackson. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Incredibles 2 (2018)

Jika The Incredibles (2004) merupakan parodi film pahlawan super bertemu drama keluarga kelas menengah di pinggiran kota—pekerjaan membosankan sang ayah, ibu rumah tangga—dengan keseharian monoton mereka, maka Incredibles 2, walau tetap menyoroti nilai kekeluargaan dan agresi para pemilik kekuatan super, menyentil info yang mengikuti zaman, yakni kiprah gender. Bagaimana jikalau ibu mempunyai pekerjaan mapan di luar sedangkan ayah mengurus rumah? Pria pemegang teguh nilai patriarki bakal kelabakan bahkan merasa terhina. Itu sebabnya ada relevansi pula urgensi tinggi di sini.

Melanjutkan tamat film pertama tatkala Mr. Incredible alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen Parr (Holly Hunter), bersama ketiga anak mereka menghadapi Underminer, meski aturan masih melarang agresi pahlawan super berkostum. Mereka yakin agresi tersebut baik, tapi dikala berujung melanggar hukum, apakah definisi baik masih layak disematkan? Secercah cita-cita muncul dari Winston Deavor (Bob Odenkirk), pemilik perusahaan telekomunikasi sekaligus penggemar berat pahlawan super, yang mengatakan jalan semoga petinggi-petingi dunia bersedia menghentikan pelarangan terhadap pahlawan super. Kuncinya tak lain menggaet kontribusi publik.

Rencana Winston dan adiknya, Evelyn (Catherine Keener) si mahir teknologi, yaitu memasang kamera di badan pahlawan super, supaya publik sanggup memahami lebih jauh seluk beluk di tengah pertarungan melawan kejahatan. Supaya publik tahu, betapa keselamatan mereka jadi prioritas utama para jagoan. Mengacu pada data soal “seberapa destruktif” tiap-tiap jagoan kala beraksi, Elastigirl, yang mempunyai tingkat terendah pun dipilih. Data tersebut membawa kita sedikit mengintip perihal tema gender yang diangkat. Mr. Incredibles (pria) cenderung mengandalkan otot, tanpa pikir panjang, sementara Elastigirl (wanita) lebih taktis dan mengedepankan otak. Pekerjaan bagi sang istri mengharuskan Bob tinggal di rumah menjaga ketiga buah hati.

Seperti kebanyakan suami, Bob yakin tetek bengek rumah tangga bukan masalah sulit dan akan gampang dijalankan. Bob tak tahu apa yang menantinya. Menangani Violet (Sarah Vowell) dan urusan cinta monyetnya, kiprah matematika Dash (Huck Milner), dan Jack-Jack yang memberi problem lebih dari sekedar mengganti popok. Sulit bagi Bob. Dia lelah, mengeluh, tapi bukan lantaran sisi machonya terancam, melainkan rasa “gatal” untuk kembali beraksi. Semacam post-power syndrome, yang juga dialami Helen, meski kontrol diri sang istri lebih kuat. Bob mencoba melaksanakan yang terbaik, memberi tumpuan mengenai heroisme seorang ayah. Bagi orang bau tanah yang bekerja, konsekuensinya yakni melewatkan tumbuh kembang anak. “Aku melewatkan kekuatan super pertama Jack-Jack”, ungkap Helen, sebagaimana keluhan orang bau tanah yang melewatkan langkah pertama anaknya.

Intensitas Incredibles 2 tidak sepadat film pertama akhir kesan lebih “cerewet” dari setumpuk obrolan. Ada perdebatan panjang ayah-ibu hingga pembicaraan hati ke hati para perempuan perihal kiprah gender, yang bakal sulit diikuti penonton bocah, namun cukup menyadarkan penonton dewasa, dan bukan tidak mungkin memberi mereka materi perihal parenting maupun pemberdayaan perempuan untuk diajarkan ke anak mereka suatu hari kelak. Jangan khawatir elemen tersebut menurunkan daya hibur filmnya. Layaknya film pertama, Incredibles 2, dipandu penyutradaraan berenergi Brad Bird (The Incredibles, Mission: Impssible – Ghost Protocol) masih sajian pendobrak batas terkait urusan agresi pahlawan super.

Ditemani musik epic garapan Michael Giacchino, seri The Incredibles selalu sanggup menggelontorkan agresi yang akan tampak terlalu konyol atau membutuhkan CGI terlampau banyak di medium live action. Lihat agresi pembukanya, kala kamera bergerak amat dinamis, menggunakan tracking shot, mengikuti satu demi satu ekspo kekuatan keluarga super kita, sebelum Frozone (Samuel L. Jackson) memasuki arena pertempuran, kolam menari lincah di atas lintasan es buatannya. Atau dikala Elastigirl berusaha menghentikan upaya supervillain Screenslayer, yang bisa menghipnotis korbannya melalui banyak sekali jenis layar, dengan merenggangkan tubuhnya sementara motornya “terbelah” dua. Butuh kreativitas tinggi guna mengeksekusi sekuen macam itu.

Incredibles 2 masih berperan selaku parodi film-film pahlawan super. Kunjungan kita ke rumah Tony Stark (tidak diungkap secara gamblang) jadi contoh. Pun jikalau anda familiar dengan komik Fantastic Four, yang memberi ide besar bagi pondasi The Incredibles semenjak dulu, maka Jack-Jack mungkin mengingatkan kepada Franklin Richards, putera Reed Richards dan Susan Storm yang mempunyai kekuatan tanpa batas, bahkan dianggap sebagai makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Jack-Jack sendiri merupakan sumber tawa terbesar film ini yang takkan sulit mencuri hati penonton mana saja.


Note: Jangan lewatkan film pendek Bao yang diputar di awal, satu lagi animasi indah Pixar yang menguras air mata. 

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho The Hitman's Bodyguard (2017)

Dalam The Bodyguard (1992), Kevin Costner memerankan bodyguard yang bertugas melindungi Whitney Houston, seorang diva. Sesosok hero tangguh menjaga bintang ternama yang tak berdaya. Normal. Namun dalam The Hitman's Bodyguard, Michael Bryce (Ryan Reynolds) harus mengawal Darius Kincaid (Samuel L. Jakcson), salah satu pembunuh bayaran paling berbahaya. Absurditas premis itulah sumber daya tarik karya terbaru Patrick Hughes (The Expendables 3) yang rupanya hingga delapan ahad menjelang pengambilan gambar masih berstatus drama serius. Melihat kelakar Reynolds-Jackson, juga pembawaan over-the-top Hughes, transformasi menuju kekonyolan terang tepat.

Michael Bryce yaitu biro berstatus triple A yang menyediakan proteksi bagi kriminal kelas kakap. Hingga maut salah satu klien menghancurkan karirnya dan Bryce sekarang hanya bodyguard untuk penjahat kelas teri atau korporat pecandu narkoba, dengan kendaraan beroda empat butut dan botol plastik penyimpan air kencing. Di sisi lain, tengah berlangsung persidangan terhadap diktator keji Belarusia, Vladislav Dukhovich (Gary Oldman) di mana Darius Kincaid jadi saksi kunci. Namun perjalanan membawa Kincaid ke Mahkamah Internasional berlangsung kacau akhir pengkhianatan dalam Interpol, memaksa Agen Roussel (Elodie Yung) meminta santunan Bryce yang notabene mantan kekasihnya. Masalahnya, Bryce dan Kincaid merupakan musuh turun-temurun yang sudah berulang kali coba saling bunuh.
Konon penulisan ulang naskah buatan Tom O'Connor terjadi pasca Reynolds dan Jackson resmi direkrut. Praktis memahami alasannya. Jackson menyerupai kita tahu jago bersumpah serapah (khususnya "motherfucker") sedangkan Reynolds piawai melontarkan celotehan bernada sinisme yang teruji lewat Deadpool. Naskah dirombak demi memfasilitasi kelebihan keduanya, kesudahannya meski beberapa adegan berbasis obrolan berlangsung kepanjangan, chemistry Jackson-Reynolds ditambah keahlian plus ketepatan timing komedi mereka cukup solid menjaga dinamika. Terbentuk love/hate bromance relationship kacau (in a good way) yang mengekspresikan benci dengan saling pukul bahkan tembak, dan cinta dengan membunuh musuh masing-masing. 
Di jajaran pemain film pendukung, Salma Hayek sebagai Sonia, istri Kincaid, ikut menggila, dengan ekspresi tidak kalah busuk, mengeskalasi tingkat humor berkat perilaku seenaknya. Baik menggunakan ucapan atau pukulan, semua pihak dibantai habis, dari teman satu sel di penjara hingga Interpol. Elodie Yung tampil dalam tipikal serupa Salma, hanya saja porsinya lebih minim. Agak disayangkan kala Gary Oldman melalui performa megalomania miliknya banyak menghabiskan waktu duduk di ruang sidang, padahal kegilaan menyenangkan yang paling kita kenal dalam huruf Norman Stansfield di Leon: The Professional kembali terpancar. Satu hal pasti, Hayek, Yung, dan Oldman, sebagaimana dua pemain film utamanya, terlihat bersenang-senang. 

Seolah didorot hasrat yang teredam di The Expendables 3, Hughes meluapkan segala amunisinya, terkait guyonan maupun sekuen aksi. Pondasinya sama, kemunculan di waktu tak terduga. Belum semua berhasil memang. Beberapa momen medioker berseliweran, tapi secara keseluruhan masih efektif menjaga minat menonton berkat keberhasilan menghindari rasa film agresi generik. The Hitman's Bodyguard pun berujung hiburan yang enggan terbatasi sekat-sekat nalar sehat. Kejar-kejaran intens melibatkan mobil, motor, dan speedboat misalnya, mengatakan kapasitas Hughes menciptakan set-piece aksi dinamis tanpa perlu mengeksploitasi ledakan. You won't find this movie as a memorable piece of action cinema, but its madness definitely worth the ticket price