Showing posts with label Shareefa Daanish. Show all posts
Showing posts with label Shareefa Daanish. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Ular Tangga (2017)

"Ular Tangga" punya bekal mencukupi untuk menjadi suguhan horor menarik. Premisnya unik. Keterlibatan Shareefa Daanish pasca lima tahun bolos bermain film juga menjadi daya tarik. Fakta di balik layar lain turut pula menyita perhatian, yaitu mengenai Wilson Tirta, produser direktur sekaligus pendiri Lingkar Film selaku rumah produksi bagi "Ular Tangga" yang masih berusia 14 tahun, menjadikannya produser film Indonesia termuda. Tidak heran jikalau gemerlap industri film menarik minat wiraswasta muda ini. Ide dongeng Wilson sempat ditawarkan pada Jujur Prananto, namun batal alasannya yaitu proses penulisan naskah Jujur dianggap terlalu lama. Rupanya ini pangkal permasalahannya.

Ketidaksabaran Wilson mendorongnya berpaling pada Mia Amalia ("Luntang Lantung", "Inikah Rasanya Cinta?"). Sedangkan dingklik penyutradaraan diisi Arie Azis ("Oops!! Ada Vampir", "Penganten Pocong", "Rumah Hantu Pasar Malam"). Oh Tuhan, mendadak proyek ini terasa mengkhawatirkan. Apakah hasrat mempercepat proses produksi berujung mengesampingkan kualitas? Menengok hasil akhirnya, kecurigaan tersebut terperinci beralasan. Bayangkan saja, anda menyaksikan film berjudul "Ular Tangga" kemudian mendapati amat minimnya donasi permainan itu. Ibarat makan sate ayam dengan porsi daging ayam sangat sedikit. Atau nasi goreng tanpa nasi. Wajar bila sebagai konsumen saya berang, merasa tertipu.
Alkisah, Fina (Vicky Monica) kerap mengalami mimpi jelek yang dicurigainya merupakan menunjukan atas insiden masa depan. Rasa ingin tau membuat Fina membaca buku "The Interpretation of Dreams" milik Sigmund Freud sembari berkonsultasi pada seorang dosen (Roy Marten). Saya enggan menyalahkan kebodohan pada film horor mengingat tujuan utamanya yaitu menakut-nakuti. Ketidaktepatan ilmu maupun lubang kecerdikan sanggup dimaklumi. Namun kengawuran "Ular Tangga" sudah kelewatan, mengatakan kedunguan hasil ketidakpedulian penulisnya. Menyatukan fantasi, mistis, reliji dan sains dalam horor itu lumrah. Namun harus ada poin yang dijadikan pegangan. Seseorang sanggup membuat dongeng didasari sains kemudian melebarkan semaunya berbasis imajinasi ke ranah lain, pun sebaliknya. 

Fokus gambar kerap menyoroti buku "The Interpretation of Dreams" tapi terperinci teori Freud (hasrat terpendam, bawah sadar, masa lalu) bukan penopang cerita. Bahkan, setelahnya unsur mimpi tak lagi muncul, beralih sepenuhnya ke mistis. Aneh pula kala Roy Marten selaku dosen awalnya berteori soal sisi terpendam manusia  lewat kalimat yang kolam dikutip mentah-mentah dari Wikipedia  sebelum tiba-tiba bicara wacana ilmu lebur sukma, kemudian berganti lagi membicarakan agama. Kenapa seorang dosen memakai istilah "lebur sukma" ketimbang "astral projection" yang mana lebih scientific? Koreksi jikalau salah, tapi setahu saya lebur sukma bukan (semata-mata) ajian mengeluarkan roh seseorang dari tubuhnya. 

Tapi sudahlah. Terserah. Semua itu tak penting asal "Ular Tangga" sanggup menghibur. Kembali ke cerita, Fina dan rekan-rekan pecinta alamnya tengah bersiap mendaki Gunung Barong walau ia mencicipi firasat buruk. Di tengah pendakian, mereka tak menghiraukan larangan Gina (Shareefa Daanish) sang guide melewati sebuah jalur, dan sanggup diduga, teror pun menghampiri. Hantu-hantu bermunculan, ditambah misteri wacana ular tangga berbahan kayu yang terkubur di bawah pohon besar. Mari lupakan fakta betapa bodohnya para tokoh melanggar pesan sosok yang paham seluk beluk kawasan setempat. Mana ada pecinta alam berpengalaman melaksanakan itu? Kenapa pula pecinta alam nekat mengambil barang misterius di suatu tempat apapun alasannya? Lagi-lagi saya bermurah hati memaafkan kelalaian tersebut.
Film ini jadi tak termaafkan saat permainan ular tangga urung dimanfaatkan. Setelah menanti sekitar 35 menit, daripada hybrid petualangan fantasi dan horor, papan ular tangga hanya dijadikan jalan menghilangkan satu per satu karakter. Setiap dadu bergulir, terjadi gempa, kemudian seseorang hilang. Begitu seterusnya, membuat contoh berikut:
Lani menggelindingkan dadu
"Hah? Lani hilang! Ke mana Lani?!"
"Lani! Lani!"
Mereka mencari Lani.
Dodoy menggelindingkan dadu.
"Hah? Dodoy hilang! Ke mana Dodoy?!"
"Dodoy! Dodoy!"
Mereka mencari Dodoy.
Bagas menggelindingkan dadu.
"Hah? Bagas hilang! Ke mana Bagas?!"
"Bagas! Bagas!"

Rasa takut juga gagal dipancing akhir penampakan hantu medioker serta hanya satu jump scare berhasil mengejutkan selama 94 menit durasi. Kengerian semakin nihil akhir kerap tak sesuainya pemilihan lagu. Paling menggelikan kala nomor pop balada "Memori Indah" milik Achie membungkus momen mendekati tamat yang diniati emosional tetapi berujung memancing tawa. Ending-nya berpotensi memuaskan (tipikal tragic cliffhanger khas horor) kalau bukan alasannya yaitu pelengkap satu adegan yang memaksakan twist sembari berusaha menambah porsi Shareefa Daanish. Ya, jikalau anda tertarik menonton "Ular Tangga" alasannya yaitu keberadaan sang aktris, urungkan niatan tersebut. Shareefa hanya muncul di awal dan tamat dengan signifikansi minim serupa board game-nya. Padahal kalau ada yang sanggup menyelamatkan "Ular Tangga", Shareefa Daanish orangnya.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

Ini Lho Danur (2017)

"Danur" diangkat dari novel "Gerbang Dialog Danur" karya Risa Saraswati, musisi sekaligus penulis buku yang populer lewat kemampuan supranaturalnya. Karya-karya Risa sendiri kental unsur mistis, berisi pengalaman interaksinya dengan para makhluk halus, termasuk Peter, hantu bocah Belanda yang namanya paling dikenal publik (album mini Risa bertajuk "Story of Peter"). Dibintangi Prilly Latuconsina yang makin menunjukan talenta beraktingnya serta Shareefa Daanish yang rasanya layak diberi gelar "Ratu horror modern Indonesia", "Danur" memang tampak menjanjikan. Belum lagi keberadaan Awi Suryadi ("Badoet", "Bidadari Terakhir", "Street Society" di dingklik penyutradaraan.

Alkisah, di ulang tahun kedelapan, Risa kecil (Asha Kenyeri Bermudez) berharap menemukan mitra untuk menghilangkan kesendiriannya jawaban selalu ditinggal sang ibu bekerja (ayahnya kerja di luar negeri). Harapan Risa terkabul, hanya saja teman yang ia sanggup bukanlah manusia, melainkan tiga hantu bocah Belanda berjulukan Peter (Gamaharitz), William (Wesley Andrew), dan Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh). Sembilan tahun berselang, Risa (Prilly Latuconsina kembali ke rumah masa kecilnya itu guna menjaga neneknya (Ingrid Widjanarko) bersama sang adik, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki). Keanehan muncul semenjak kedatangan pembantu gres berjulukan Asih (Shareefa Daanish). 
Film ini mempunyai departemen visual menawan berkat pemanfaatan banyak sekali properti bernuansa klasik dengan penempatan apik dalam tata artistiknya. Permainan cahaya pun ikut diperhatikan khususnya kala titik puncak di alam roh yang (seperti "Insidious") menonjolkan dominasi warna merah plus sedikit hijau di beberapa sudut. "Danur" amat memperhatikan tampilan, membuatnya tak monoton dari segi visual, meski kadang usahanya terasa terlampau keras, semisal penataan kamera dalam sinematografi Adrian Sugiono yang seolah anti pada gaya "mainstream", sehingga begitu sering memiringkan kameranya beberapa derajat. Stylish, terkadang dramatis, tapi lebih sering tanpa arti.

Awi Suryadi terang menyimpan setumpuk referensi  "The Conjuring", "Insidious", "Jacob's Ladder"  yang harus diakui mengakibatkan beberapa jumpscare-nya tidak terkesan malas dan apa adanya. Tapi sejalan dengan sinematografi, ketimbang menyesuaikan kebutuhan, banyak momen kolam sekedar ajang pamer gaya. Terasa repetitif kala filmnya bagai tersusun atas segmen demi segmen jumpscare. Karakternya berdiri tidur, "BOOM" hantu muncul. Karakternya menciptakan kopi, "BOOM" hantu muncul. Karakternya berjalan, "BOOM" hantu muncul. Demikian seterusnya tanpa jalinan dongeng menarik guna mengikat antusiasme penonton. Tiba-tiba saja di akhir, naskah buatan Lele Laila dan Ferry Lesmana menjawab soal jati diri Asih. Pertanyaannya, kapan film ini mengajak mempertanyakan siapa Asih? Buat apa saya peduli pada jawaban dari misteri yang tak pernah ditelusuri sebelumnya?

Andai Awi memperhatikan timing, kesan berlebihan bakal terhindarkan. Ketiadaan timing membuat sederet penampakan menjadi overkill, kehilangan daya bunuh, bahkan menggelikan. Ya, alih-alih berteriak ketakutan, berulang kali studio daerah saya menonton yang full house diramaikan gelak tawa penonton. Tatkala horror justru memancing respon yang berlawanan dengan takut, tentu ada problem besar. Penonton tertawa menyaksikan Risa salah mengartikan kegelisahan nenek yang tak bisa bicara. Penonton tertawa kala senyuman lebar Asih nampak di balik jendela. Penonton tertawa melihat nenek  yang selalu dijaga oleh keluarga  rambutnya tergerai awut-awutan selaku perjuangan tak perlu menambah kejanggalan mengerikan. Saya sendiri tertawa melihat make-up belang alias kurang rata di wajah Ingrid Widjanarko (perhatikan bab hidung dan verbal sewaktu close-up).
Shareefa Daanish mempunyai aura seram meski sekedar berdiri diam, memamerkan tatapan mata yang seolah sanggup membunuh. Awi menyadari itu, kemudian mengeksploitasinya. Sepertiga paruh selesai "Danur" lebih banyak didominasi diisi adegan Shareefa menatap huruf lain bermodalkan majemuk raut wajah. Film ini bagaikan eksperimen seputar "berapa banyak ekspresi mengerikan yang bisa Shareefa Daanish perlihatkan?" Sang aktris maksimal melakoni tugas itu, tetapi penggunaan berlebih lagi-lagi melunturkan efeknya. Semakin diulangi, semakin keras tawa penonton (termasuk saya) meledak. Sebaliknya, Prilly justru kurang diberi kesempatan unjuk gigi dikala tokoh Risa tidak diberi porsi penggalian berarti. Sepanjang durasi Risa hanya kebingungan, ketakutan, nihil karakterisasi pasti.

"Danur" bukan tergolong horror lokal jelek yang cenderung memancing amarah daripada takut. Digarap sungguh-sungguh, kekecewaan memuncak jawaban potensi besar bahan serta nama-nama yang terlibat di dalamnya. Awi Suryadi tetap salah satu sineas horror tanah air yang berpotensi menyuguhkan inovasi-inovasi. Sebagai contoh, selain sajian klasik macam "Pengabdi Setan", horror mana yang menampilkan teror sewaktu tokoh utamanya tengah solat? ("Pesantren Impian" yakni thriller). Selanjutnya tinggal bagaimana Awi bisa secara sempurna guna memakai kreativitasnya. Saya percaya dan masih akan selalu menantikan karya-karya berikutnya. 

Ini Lho The Curse (2017)

Horor kita terlalu mengandalkan jump scare. Terkesan menggeneralisasi, tapi anggapan itu tidak sepenuhnya keliru. Setiap tahun, film yang tidak mengageti dengan penampakan berisik setan lima menit sekali bisa dihitung jari. Apa daya, masyarakat kita gandrung akan gaya tersebut. Buktinya Danur mampu mengumpulkan hampir 2,7 juta penonton, menjadikannya horor lokal terlaris sepanjang masa. Di antara segelintir sineas horor dalam negeri, Muhammad Yusuf (Kemasukan Setan, Misterius, Angker) termasuk paling potensial melahirkan kengerian hakiki. Sehingga sulit dipercaya saat The Curse  dengan segala cita-cita tinggi yang dibebankan padanya  justru amat melelahkan disimak, kolam mengalami krisis identitas.

Filmnya membawa kita ke Melbourne, Australia tanpa tujuan terang kecuali demi hamparan kawasan rural serta sebuah pohon besar renta nan mengerikan yang sepanjang durasi gemar Yusuh perlihatkan. Saya yakin pemandangan serupa sanggup ditemukan tanpa perlu ke luar negeri. Begitu pula alurnya, mengenai Shelina (Prisia Nasution), seorang pengacara asal Indonesia yang bekerja di law firm setempat dan tengah menangani kasus pembantaian. Shelina yang tengah menjalani proses perceraian mulai didatangi hantu di rumahnya. Secara bergantian, filmnya menyoroti penyelidikan Shelina di siang hari dan teror mistis di malam hari. 
The Curse bagai hendak menggandakan pencapaian low budget horror macam Under the Shadow, The Witch sampai The Babadook. Judul-judul itu mencengkeram lewat atmosfer sambil sesekali melempar penampakan yang terasa efektif lantaran dipakai seperlunya. Studi huruf pun disertakan semoga atensi penonton tetap terjaga dalam pergerakan alur lambatnya. Seperti di Kemasukan Setan, Muhammad Yusuf menerapkan contoh serupa, hanya saja kali ini ia kolam terjebak di antara keinginan menciptakan slow-burning horror dan menuruti usul pasar melalui seabrek jump scare. Alhasil tercipta krisis identitas. 

Film ini setipe Danur. Hantu menampakkan sosoknya terlalu sering. Bedanya sela-sela teror dijejali adegan lambat dan shot statis berisi pemandangan. Dua formula berlawanan itu tidak sinkron. Terlebih tempo pengadeganan Yusuf tak substansial membangun atmosfer, asal lambat, menyeret, pula pretensius, termasuk ketika sinematografi Satya Ginong (penata kamera langganan Yusuf) lebih mementingkan gambar artsy ketimbang suasana mencekam. Serta merta melambatkan (bahkan meniadakan) gerak kamera dan menggunakan gambar ber-tone "dingin" tidak berbanding lurus dengan atmosferik. Pemilihan sudut hingga pemanfaatan lingkungan wajib pula diperhatikan. 
Dua jump scare cukup efektif memancing kejut, adalah kemunculan pertama dan terakhir. Penampakan pertama disebabkan kesan "tiba-tiba" sehabis rangkaian kesunyian, pun yang terakhir, tatkala kita mengira semua telah berakhir, urung menduga filmnya masih menyimpan satu kejutan. Sisanya medioker. Untuk apa static shot dan gerak kamera perlahan pemancing observasi penonton akan tiap sudut ruangan, jikalau ujungnya teror dihukum menggunakan perpindahan adegan mendadak? Lagi-lagi, itu dua jenis formula berlawanan dan tidak selaras. Menggabungkannya secara paksa menghasilkan trik murahan yang terasa menipu. 

Bicara soal menipu, rupanya jalinan ceritanya pun demikian. Persoalan langsung Shelina alih-alih menghasilkan studi psikis huruf justru dilupakan seutuhnya. Begitu pula kasus yang ia tangani, tak lebih dari pengecoh sebelum kisahnya beralih ke kasus lain yang melibatkan Leann (Shareefa Daanish). Konsep menarik wacana roh pembawa pesan pun tidak lagi penting ketika kehadiran mereka sekedar berfungsi menakut-nakuti. Semakin parah di babak konklusi sewaktu Yusuf memberi penjelasan out-of-nowhere mengenai asal para hantu sekaligus membangun ambiguitas wacana kemampuan Shelina (kemungkinan untuk bahan sekuel). Ambiguitas yang gagal memancing minat mencari tahu lebih lanjut lantaran sepanjang durasi kemampuan Shelina itu sebatas tempelan.

Prisia Nasution berusaha sekuat tenaga memberi nyawa lewat aktingnya, pun Shareefa Daanish walau porsi kemunculannya lebih sedikit. Namun performa keduanya dirusak oleh penulisan obrolan klise menggelikan. Tengok ketika Shelina membahas pemindahan persidangan kliennya ke Indonesia yang terdengar bagai obrolan orang awam ketimbang pengacara kelas atas. Atau tiap kalimat dari Leann yang menyerupai diambil dari FTV percintaan remaja. Kualitas jelek ADR (Automated dialogue replacement), menciptakan obrolan terdengar kurang natural, jadinya emosi yang seharusnya ada urung tersalurkan maksimal, melemahkan akting Prisia dan Shareefa. Emosi lewat ekspresi kuat, tetapi tidak dari tuturan verbal. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Asih (2018)

Asih membuktikan 2 hal: Awi Suryadi (dwilogi Danur) selalu berusaha memperbaiki kekurangannya dan ia pantas menerima franchise, atau setidaknya naskah yang lebih baik. Pasca sekelumit peningkatan di Danur 2: Maddah, di sini Awi menyempurnakan penyutradaraannya, tahu kapan waktunya memainkan keheningan guna membangun atmosfer, kapan mengejutkan penonton lewat jump scare, serta bagaimana melakukannya. Patut disayangkan departemen naskah mencoreng pencapaian tersebut.

Bertindak selaku prekuel yang terjadi 37 tahun sebelum film pertama, Asih mengisahkan asal-usul sang titular character (Shareefa Daanish), meski pada kenyataannya, elemen itu cuma muncul dalam satu flashback singkat. Naskah buatan Lele Laila (Keluarga Tak Kasat Mata, dwilogi Danur), yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, bahkan tidak berupaya menjelaskan keperluan selipan fakta mengenai perubahan nama Kasih menjad Asih, sebuah isu yang tak berperan dalam keseluruhan plot.

Sisanya serupa judul-judul lain di Danur Universe, yakni kompilasi teror demi teror yang ditempel paksa tanpa dongeng besar lengan berkuasa sebagai perekat. Setelah adegan pembuka kala Asih membunuh bayinya sebelum balasannya bunuh diri, kita dibawa mengunjungi satu keluarga kecil: pasangan suami-istri, Puspita (Citra Kirana) dan Andi (Darius Sinathrya) beserta sang ibu (Marini Soerjosoemarno). Pasutri ini tengah menanti kelahiran anak pertama mereka. Protagonis yang akan mempunyai bayi ketika sang antagonis kehilangan bayi terang bukan mengambarkan baik.

Asih menebar beberapa benih konflik menarik di awal. Kepikunan ditambah penglihatan Ibunda Andi yang mulai menurun, rasa takut berlebih Puspita akhir mendengar dongeng mistis dari sang bidan (Djenar Maesa Ayu), semua itu lebih dari cukup selaku pangkal perpecahan keluarga yang diakibatkan kejadian mistis, atau tepatnya, ketakutan terhadapnya. Tapi benih-benih menjanjikan itu ditinggal begitu saja seiring penolakan penulis naskah untuk repot-repot membuat dongeng sungguhan. Menjaga supaya filmnya terus berjalan (baca: mengisi durasi) merupakan fokus tunggal.

Poin menarik naskah Asih hanya dikala beberapa kepercayaan mistis lokal turut mengambil peran, yang sanggup menghadirkan rasa ngeri bagi penonton yang familiar dengan hal-hal macam bunyi anak ayam atau tiang listrik yang dipukul. Sisanya nihil. Usaha menjembatani film ini dengan Danur: I Can See Ghosts (2017) pun berujung kekonyolan. Mengapa Asih meningglkan sisirnya?

Di sinilah kapasitas Awi mengambil alih. Dibebani kiprah menghabiskan durasi (yang cuma 77 menit), sang sutradara meninggalkan pendekatan mengesalkan yang jadi andalan seri Danur, di mana jump scare berisik menghantam tiap beberapa detik. Kali ini Awi justru berani menyusun atmosfer melalui keheningan plus lagu Indung Indung yang terdengar lebih creepy dibanding Boneka Abdi.

Begitu Asih muncul, musik garapan Ricky Lionardi (Sakral, Rasuk) menolak latah untuk pribadi menggebrak. Awi menyimpan gebrakan itu khusus bagi gugusan “menu utama” ketika jump scare dilontarkan pada kesempatan  tak terduga, yang sesuai formula di “Buku Panduan James Wan”, dikala para hantu bukan sekedar “setor muka”, melainkan menyerang secara agresif. Saya terenta beberapa kali dibuatnya. Bahkan, Awi sanggup memberi sebuah momen yang benar-benar menyeramkan, bukan sebatas mengagetkan. Momen itu berupa sekelebat penampakan Asih, yang mungkin takkan disadari banyak penonton.

Sayang, sekali lagi, pencapaian Awi “dikhianati” kemalasan skenarionya begitu Asih memasuki babak ketiga yang kolam tanpa puncak intensitas. Seolah filmnya usai alasannya yakni penulis naskahnya sudah kehabisan ide, membiarkan teror Asih tidak boleh oleh doa ala kadarnya dan teriakan karakter. Secara menyeluruh, Asih memang membuktikan bahwa seri Danur, walau perlahan, konsisten mengalami peningkatan. Namun bila mereka tak kunjung memperbaiki kualitas naskah, sulit membayangkan franchise ini bakal memproduksi installment yang layak menyandang status “film bagus”. Sementara, paling tidak Asih bukan satu lagi horor berisik mengesalkan atau parade repetitif bagi lisan abnormal Shareefa Daanish.