Showing posts with label Stella Cornelia. Show all posts
Showing posts with label Stella Cornelia. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Satria Heroes: Revenge Of Darkness (2017)

Selain memuaskan penggemar, film layar lebar yang diangkat dari media lain (komik, novel, serial, game) juga berfungsi memancing ketertarikan penonton awam. Diharapkan pasca menonton film tersebut mereka ingin mengunjungi sumber adaptasinya. Bukan sebaliknya di mana untuk memahami dongeng atau menerima kepuasan menonton maksimal, penonton harus mengulik sumbernya terlebih dahulu. Saya tidak pernah menyaksikan serial BIMA Satria Garuda (2013) maupun sekuelnya, Satria Garuda BIMA-X (2014-2015). Bisa dibilang aku sama sekali buta, tak kenal identitas tokoh, kawasan atau kejadian di dalamnya. 

Melanjutkan kisah serialnya, Satria Heroes: Revenge of Darkness berisiko mengalienasi golongan non-penggemar di beberapa poin, semisal mengenai dunia paralel kawasan Ray alias Bima (Christian Loho) dan Rena (Stella Cornelia) tengah berada atau seputar antagonis berjulukan Topeng Besi yang mengambil tugas sentral khususnya di babak kedua. Untungnya jalinan dongeng dari naskah hasil goresan pena Daisuke Kihara bersama Ishimori Production tergolong sederhana, takkan menyesatkan penonton awam yang cukup memandangnya sebagai kisah pertarungan pahlawan super melawan monster jahat dengan pernak-pernik berupa portal antar-dimensi atau mitologi lain. 
Filmnya dibagi jadi tiga babak. Babak pertama (Kembalinya Bima) mengisahkan munculnya bahaya gres bagi Bumi yang semenjak kepergian Ray dan menghilangnya Reza/Azazel (Aditya Alkatiri) dijaga oleh Dimas (Fernando Surya) sang Satria Harimau Torga. Dimas mengingatkan pada para protagonis tokusatsu Jepang yang kerap bertingkah udik dan gres berwibawa kala bertarung. Fernando Surya berakting dengan antusiasme serupa. Berlebihan namun menyuntikkan energi, membuatnya lebih menarik disimak ketimbang Ray yang akhir penampilan datar Christian Loho tak ubahnya abjad sinetron Anak Jalanan. Tiap kalimat dramatis terdengar cringey, yang juga disebabkan penulisan obrolan dangkal.

Babak kedua (Arsya) menekankan drama soal Master Torga (Yayan Ruhian), Wira (Faris Fadjar Munggaran) sang murid, dan gadis cilik yang mereka selamatkan, Arsya (Safira Ratu Sofya). Fase ini sejatinya penting, memaparkan motivasi antagonis, memberi alasan personal, membuatnya bukan semata-mata penjahat megalomania. Tapi sekali lagi presentasi naskah lemah. Jangankan memancing simpati atau emosi, menjaga tensi saja tak bisa ketika keklisean "heartbroken-pupil-turns-evil" disampaikan ala kadarnya, menjadikan Arsya titik terlemah film ini. Yayan Ruhian pun gagal dimaksimalkan potensinya, lebih gemar berpetuah alih-alih pamer jurus silat. Di sini pula filmnya sering menyoroti mitologi dengan klarifikasi sepotong-sepotong sehingga hanya sanggup dimengerti penggemarnya saja.
Babak ketiga (Revenge of Darkness) ialah kenapa banyak sekali kekurangan sebelumnya layak dimaafkan sekaligus alasan Satria Heroes patut ditonton. Bersama Arnandha Wyanto, sutradara Kenzo Maihara yang berpengalaman menangani serial Kamen Rider paham betul bagaimana memaksimalkan cool factor para Satria melalui bermacam-macam wujud serta jurus masing-masing. Kegembiraan masa kecil aku kala menanti perubahan gres si jagoan berhasil Maihara hadirkan lagi, dan itu cukup menutupi fakta bahwa resolusi pertarungan yang dipilih terlampau menggampangkan, kental unsur deus ex machina

Dalam menghantarkan adegan pertarungan, Maihara tidak ragu menumpahkan bola api, kehancuran masif Jakarta, hingga jurus penuh warna cerah dalam kemasan visual imajinatif. Kualitas CGI kurang di sana-sini, tapi pemilihan jalur campy membuat keterbatasan efek bukan masalah. Tersaji festive spectacle, walau kemeriahan menyenangkan itu menanggalkan kesan mengancam pada klimaks. It's all frills with no thrills. Ditambah koreografi memikat berupa teknik bela diri tanah air, Satria Heroes: Revenge of Darkness niscaya memuaskan penonton anak, sementara orang cukup umur yang dikala kecil ditemani tontonan Kamen Rider bakal teringat masa tatkala gemar bergaya, membayangkan seolah menjadi sang pahlawan di layar kaca.

Note: Ada 1 mid-credits dan 1 post-credits scene di film ini.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Knight Kris (2017)

Indonesia punya banyak animator handal yang telah berlalu lalang di kancah internasional, tapi mengapa kualitas animasi layar lebar belum berkembang pesat? Masalahnya satu, yaitu anggapan bahwa keterlibatan animator anggun sudah cukup menghasilkan animasi berkualitas. Anggapan salah kaprah ini berujung melahirkan beberapa karya yang memukau secara gambar namun awut-awutan soal penceritaan, contohnya Battle of Surabaya dua tahun lalu. Knight Kris terjangkit penyakit serupa. Menawarkan konsep unik ditambah desain huruf apik, perjalanannya diganggu penceritaan medioker.

Didasari mitologi soal Asura alias raksasa jahat, Knight Kris menempatkan Bayu (Chika Jessica), bocah 8 tahun yang bercita-cita menjadi satria super sebagai huruf sentral. Impian itu terealisasi sehabis ia mencabut keris yang tersembunyi di gua, memberinya kemampuan bermetamorfosis Bayusekti (Deddy Corbuzier), satria sakti berwujud harimau. Tapi di ketika bersamaan, Bayu turut membangunkan Asura (Bimasakti) dari tidurnya. Dibantu sepupunya, Rani (Stella Cornelia) dan Empu Tandra (Bimasakti), Bayu memulai petualangan mengumpulkan enam potongan keris yang tersebar guna menggagalkan niat Asura menghancurkan dunia.
Knight Kris berpotensi mengembalikan kebahagiaan masa kecil kita kala menyaksikan kemunculan tokoh-tokoh berpenampilan keren. Nahwara (Santosa Amin) dengan tiga topeng di wajahnya, Bayusekti dan baju zirahnya, hingga Asura yang merupakan modifikasi kreatif tampilan raksasa dalam dongeng. Walau tak hingga membentuk parade meriah sebab terbatasnya kemunculan huruf akhir upaya menyimpan kisah untuk diteruskan sebagai trilogi, duet sutradara Antonius dan William Fajito sanggup menuangkan kreativitas, merangkai sederet jurus menarik pembungkus adegan agresi yang mendominasi 106 menit durasi.

Namun kembali ke permasalahan dasar, Knight Kris hanya memamerkan gambar (plus konsep). Pada adegan pertarungan misalnya, di antara kekacauan situasi, sulit merasa terikat sebab ketiadaan tensi. Kedua sutradara sekedar melempar warna dan jurus sebanyak mungkin, lalai menunjukkan nyawa dalam momen tersebut. Alhasil, apa yang terlihat hanya wujud-wujud kartun saling serang, nihil ketegangan apalagi emosi. Enak dilihat, tetapi takkan bertahan usang di ingatan, kemudian sanggup terlupakan beberapa menit setelahnya. Cukup besar kemungkinan penonton anak terpuaskan meski belum hingga taraf menimbulkan Bayusekti dan kawan-kawan sebagai idola baru. 
Menonton film ini layaknya menyaksikan kartun Minggu pagi berisi kalimat klise ketika penjahat gemar tertawa sambil berkata "Akan kuhancurkan kalian". Dialog dalam naskah goresan pena Antonius amat kaku untuk ukuran animasi anak yang mengetengahkan petualangan seru hingga filmnya terkesan terlalu serius menyikapi seluruh kondisi. Seolah berkiblat dari sinetron lokal, tiap isi hati huruf wajib dituangkan secara verbal, contohnya ketika melihat rumah sepi, karakternya akan berucap "kok sepi, apa tidak ada orang ya?". Bahkan Upin & Ipin pun enggan "secerewet" ini. Jajaran pengisi bunyi pun gagal menolong. Bimasakti dan Santosa Amin bermodalkan pengalaman mereka yummy didengar, namun Deddy Corbuzier, Chika Jessica, juga logat medok Kaesang Pangarep hadir tanpa rasa. 

Tersimpan usungan nilai wacana memperbaiki kesalahan (Bayu penyebab kebangkitan Asura) yang menyentuh ranah pendewasaan, sayangnya urung tersampaikan sepenuhnya mengingat kisahnya masih jauh dari tuntas. Begitu pula mitologi sarat budaya yang ditenggelamkan gempuran agresi bertubi-tubi. Knight Kris tak meninggalkan banyak hal untuk orang renta sampaikan atau ajarkan kepada anak kecuali hiburan sambil lalu. Melihat kualitas gambar Knight Kris, sangat disayangkan animasi negeri ini selalu terbuai oleh visual, lupa memperhatikan penceritaan yang notabene merupakan pondasi film apapun.