Showing posts with label Thai Movie. Show all posts
Showing posts with label Thai Movie. Show all posts

Saturday, January 12, 2019

Ini Lho Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (2010)

Pada tahun 2010 lalu, film karya sutradara Apichatpong Weerasethakul ini sukses menciptakan sejarah dengan menjadi film Thailand pertama yang memenangi Palme d'Or serta menjadi film Asia pertama semenjak tahun 1997 yang berhasil memenangkan penghargaan tertinggi pada ajang Cannes Film Festival tersebut. Dengan judul yang cukup unik, Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives yang merupakan pembiasaan lepas dari buku berjudul A Man Who Can Recall His Past Lives akan mengajak penontonnya menyambangi sosok Boonmee yang hidup dalam sebuah dunia penuh fantasi abstrak namun disisi lain terasa begitu realistis. Film ini sudah dibuka dengan adegan yang akan menciptakan penontonnya garuk-garuk kepala kebingungan. Bagaimana tidak? Kita akan disuguhi sebuah adegan yang menawarkan seekor kerbau yang berusaha berontak dari tali yang mengikat lehernya di pohon, untuk kemudian lari melintasi sawah dan hasilnya hingga di dalam hutan sebelum kerbau itu termenung dan dibawa lagi oleh sang pemiliknya. Kemudian dalam sekejap pemandangan berganti dan menawarkan sesosok makhluk hitam pekat yang menatap kearah kamera dengan mata berwarna merah yang bersinar. Sebuah pemandangan yang sunyi, mencekam sekaligus terasa begitu aneh yang menjadi awal dari petualangan yang tidak kalah anehnya.

Setelah itu barulah kita dipertemukan dengan Boonmee (Thanapat Saisaymar), seorang petani sekaligus pemilik perkebunan besar yang sekarang tengah menderita sakit keras akhir gangguan ginjal. Untuk menemani Boonmee, datanglah adik iparnya, Jen (Jenjira Pongpas) serta ponakannya, Thong (Sakda Kaewbuadee). Selain mereka berdua, ada pula seorang imigran dari Laos berjulukan Jai (Samud Kugasang) yang dengan setia bekerja dan merawat Boonmee. Semua terlihat biasa saja hingga pada sebuah makan malam keabsurdan kisahnya dimulai. Saat itu Boonmee sedang makan malam bersama Jen dan Thong sebelum tiba-tiba arwah istrinya, Huay (Natthakarn Aphaiwong) muncul secara perlahan dan iktu bergabung dengan mereka. Bukannya ketakutan, Boonmee dan Jen justru memanfaatkan momen tersebut untuk mengobrol dengan Huay yang telah meninggal 19 tahun lalu. Belum sepenuhnya reda kekagetan saya melihat kemunculan Huay dan verbal mereka melihat kemunculan hantu tersebut, datanglah sesosok makhluk hitam yang diawal film sempat muncul sekilas tersebut. Ternyata makhluk itu yaitu Boonsong (Jeerasak Kulhong), putera Boonmee yang sudah bertahun-tahun meninggal tanpa jejak. Malam itu terjadilah sebuah reuni keluarga paling unik, gila sekaligus terasa lucu yang pernah saya lihat dalam film.

Tapi momen aneh bin aneh dari film ini tidak berhenti hingga disitu saja, alasannya di tengah dongeng tiba-tiba kita akan diajak melihat sebuah kisah mengenai seorang puteri jelek rupa yang mendambakan kecantikan. Sampai hasilnya puteri tersebut tiba di sebuah sungai yang dihuni oleh seekor ikan lele yang sanggup bicara dan sang puteri pun menyerahkan dirinya pada sang lele penunggu sungai untuk sanggup dibentuk menjadi berparas cantik, bagaimanapun caranya. Baru di film ini saya menjumpai adegan seorang perempuan bekerjasama seks dengan ikan lele. Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives punya banyak sekali macam cara untuk menciptakan saya bersumpah serapah sambil tertawa alasannya adegan-adegannya yang punya tingkat keganjilan tingkat tinggi. Adegan-adegan aneh tersebut mulai dari opening hingga kisah putri dan lele tersebut seolah memang tidak mempunyai kaitan dengan dongeng utamanya yang menampilkan kisah hidup Paman Boonmee. Pada bab itulah penonton sanggup dibentuk pusing bahkan mungkin menjadi malas mengikuti film ini, apalagi filmnya berjalan dengan begitu lambat. Saat saya bicara lambat maksud saya yaitu benar-benar lambat dimana film ini tidak mempunyai momen dengan letupan emosi yang tinggi, suasana sunyi yang dibangun tanpa musik, hingga sering munculnya adegan yang hanya menampilkan sebuah gambar statis selama beberapa saat.
Pada pengalaman pertama menonton, film ini memang terasa berat bagi saya. Jangankan menafsirkan makna yang ada, untuk sanggup bertahan hingga filmnya selesai pun butuh usaha ekstra. Sampai saya memutuskan mengulang menonton film ini dan persepsi saya berubah cukup drastis. Kesunyian yang ditampilkan semakin usang semakin terasa mensugesti dan mempunyai keindahan tersendiri. Gambar-gambarnya sederhana, termasuk pemandangan yang ditampilkan, tapi bagaimana atmosfernya dibangun memang sangat mensugesti dan menghantui saya. Saya langsung sangat menyukai suasana alam yang dibalut remang-remang fajar. Terasa sunyi, hambar namun damai. Gambar-gambar menyerupai itulah yang acapkali muncul dalam film ini dan menciptakan saya begitu nyaman menonton meskipun filmnya bergerak dengan sangatlah lambat. Jika ada hal yang tetap saya rasa mengganggu di pengalaman menonton yang kedua itu yaitu aspek emosi film ini. Pembawaan karakternya memang unik dimana mereka menanggapi segala hal seaneh apapun dengan biasa saja seolah itu yaitu keseharian mereka, namun tidak adanya letupan emosi yang meninggi menciptakan filmnya sering terasa datar meski menjadikan kenyamanan yang unik nan menghipnotis

Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives yaitu sebuah kisah mengenai reinkarnasi dan transformasi. Seperti yang terpampang di judulnya, film ini memang berfokus pada sosok Boonmee dan kehidupan yang ia lalui sebelum menjadi Boonmee menyerupai dikala ini. Dalam kepercayaan reinkarnasi, sebuah eksekusi alam memang yaitu sesuatu yang tidak sanggup lepas dari hal itu. Bagaimana sesuatu yang kita lakukan di kehidupan sebelumnya tidak peduli baik atau jelek akan menerima jawaban yang setimpal di kehidupan berikutnya meski kita akan hidup sebagai sosok yang berbeda bahkan makhluk yang berbeda. Film ini pun bertutur mengenai sebuah impian yang besar untuk bebas dimana hal itu terlihat dari kisah kerbau, puteri yang ingin menjadi cantik, hingga Boonmee yang bergulat dengan penyakitnya. Akhirnya film ini ditutup dengan sebuah ending yang tidak kalah abstrak dan ambigu yang mengingatkan saya mengenai perjalanan dari jiwa manusia. Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives tidak hanya penuh filosofis, namun juga sanggup menghadirkan sebuah drama yang disatu sisi terasa mengerikan namun disisi lain begitu lucu melihat bagaimana para karakternya menanggapi segala keganjilan di sekitar mereka dengan biasa saja, seolah kemunculan hantu dan makhluk monyet raksasa yaitu bab dari kehidupan sehari-hari. Tapi bukankah bersama-sama hal itu memang bab kehidupan yang merupakan relasi antara seisi alam ini?

Ini Lho Shutter (2004)

Shutter yakni debut penyutradaraan dari Banjong Pisanthanakun yang kini telah dikenal sebagai salah satu sutradara terbaik Thailand khususnya untuk genre horor. Film ini sendiri sempat di-remake oleh Hollywood pada tahun 2008 dengan hasil tamat yang sudah bisa diduga, yakni pendapatan tidak mengecewakan namun dicerca habis-habisan oleh para kritikus. Film aslinya sendiri cukup mendapat kesuksesan dengan menjadi film terlaris kelima di Thailand pada 2004 dan berhasil berprestasi di sejumlah pekan raya film internasional termasuk Bangkok International Film Festival. Dari judulnya pun para calon penonton sudah bisa menebak bahwa film ini akan mengakibatkan kamera sebagai fokus ceritanya. Kisahnya dibuka dengan perkenalan kita pada dua abjad utamanya yakni Tun (Ananda Everingham) yang berprofesi sebagai fotografer dan kekasihnya, Jane (Natthaweeranuch Thongmee). Keduanya sedang dalam perjalanan pulang dari pesta bersama sahabat-sahabat lama Tun. Di tengah jalan kendaraan beroda empat yang mereka kendarai menabrak seorang perempuan yang tengah menyeberang jalan. Merasa takut sudah membunuh perempuan tersebut Tun menyuruh Jane untuk tancap gas dan pergi dari lokasi kejadian meninggalkan sang perempuan tergeletak berlumuran darah di tengah jalan.

Selanjutnya gampang untuk ditebak. Tun dan Jane masih terjebak dalam rasa bersalah mereka atas kecelakaan tersebut. Namun sejak kecelakaan tersebut kejadian-kejadian gila mulai terjadi di sekitar mereka, dan kamera milik Tun mulai menangkap gambar-gambar gila dimana salah satunya sekilas ibarat penampkan sesosok perempuan yang menyeramkan. Apa yang saya harapkan dari tipikal film horor ibarat ini yakni suasana mencekam, penampakan hantu yang efektif sekaligus mengerikan sekaligus penelusurhan misteri yang menciptakan ceritanya menjadi pelengkap yang menyenangkan. Formula horor yang disajikan oleh Banjong Pisanthanakun tidaklah jauh berbeda dengan kebanyakan film-film horor yang mengakibatkan hantu sebagai penebar teror utamanya. Bedanya dalam Shutter kamera punya peranan penting tidak hanya dalam ceritanya tapi juga sebagai salah satu cara menawarkan imbas horor. Mungkin anda masih banyak yang ingat beberapa tahun kemudian dikala fenomena foto penampakan hantu termasuk yang dipajang di situs primbon menjadi "primadona" bagi para pengguna internet. Dalam film ini akan muncul banyak foto serupa bahkan banyak diantaranya yakni foto "nyata" yang memang sudah menjadi fenomena di dunia maya.

Harus diakui hal itu terasa menarik tapi masih kurang untuk menebar kengerian di zaman sekarang. Untuk 9 tahun kemudian dikala Shutter dirilis mungkin metode ini terasa mengerikan alasannya yakni dikala itu fenomena foto hantu memang sedang menjadi tren. Namun dikala menonton Shutter di tahun 2013 dikala teknologi photoshop sudah semakin maju dan merakyat apa yang disajikan tidaklah terasa mengerikan dan bukan lagi sebuah pop culture yang menarik dan relevan dikala ini. Shutter semakin terasa kurang menggigit alasannya yakni teknik menakut-nakuti yang digunakan oleh Banjong Pisanthanakun juga sudah terasa lama dikala ini. Menggunakan jump scare "sopan" yang momen kemunculannya sudah terprediksi menciptakan Shutter tidaklah terasa terlalu mengerikan. Satu atau dua kali memang saya sempatd dikagetkan tapi hanya sebatas itu tanpa menciptakan saya ingin untuk memalingkan wajah sejenak dari layar alasannya yakni ketakutan. Pada masa dimana banyak penonton sudah diperkenalkan dengan teknik jump scare ala James Wan yang lebih "brutal" dan gila, apa yang disajikan Banjong Pisanthanakun terasa terlalu lembut dan kurang mengerikan. Atmosfer yang dibangun sebernarnya sudah cukup baik, opening-nya yang didominasi warna merah dan musik mencekam juga terasa menjanjikan sayang teknik Bajong untuk menakut-nakuti karenanya terasa kurang menggigit.
Sebenarnya film ini punya potensi juga dari misteri yang terkandung dalam ceritanya. Tapi sayangnya Banjong nampak tidak mengakibatkan misteri itu sebagai fokus khususnya di awal hingga menjelang akhir. Mudah paruh awal hingga tamat hanya diisi dengan momen jump scare yang muncul secara bergantian namun tidak pernah berhasil benar-benar terasa mengerikan. Barulah dikala film melewati pertengahan misterinya mulai menjadi fokus dan dikala itu saya sudah terlanjur kurang antusias lagi. Apalagi pada karenanya bagaimana pemeriksaan terhadap misterinya tidak bisa disajikan dengan menarik dan tidak bisa menciptakan rasa ingin tahu saya muncul. Belum lagi beberapa twist yang coba dihadirkan terasa sangat predictable dari awal misterinya disajikan. Jadilah pada karenanya saya tidak lagi terlalu bersemangat menunggu misterinya terungkap secara lengkap.

Secara keseluruhan Shutter bukanlah film horor yang jelek hanya saja baik dari teknik menyajikan terornya hingga konten pop culture yang diselipkan sudah tidak lagi relevan dan menarik untuk ditonton dikala ini. Beberapa potensinya juga kurang berhasil dimaksimalkan termasuk atmosfer serta lokasinya yang bersama-sama sudah cukup mendukung. Bayangkan sebuah horor terjadi di kamar merah yang tanpa ada hantu pun sudah terasa mencekam. Jika anda ingin mendapat kesan yang lebih dari film ini mungkin coba menontonnya di tengah malam sendirian dengan lampu padam, setidaknya imbas kejut dan atmosfernya akan bekerja secara jauh lebih efektif. Film apapun termasuk horor yang manis yakni yang tidak lekang oleh waktu, dan sayangnya potensi Shutter banyak terkikis alasannya yakni waktu dan perkembangan zaman.

Ini Lho Pee Mak Phra Khanong (2013)

Bicara mengenai perfiilman horor di Thailand, nama Banjong Pisanthanakun memang sudah begitu melekat. Sutradara yang satu ini memang telah banyak menciptakan film-film horor yang hebatnya masing-masing film tersebut layak disebut sebagai film horor terbaik yang pernah dihasilkan Thailand mulai dari Shutter, Alone, sampai ketika ia menciptakan masing-masing satu segmen dalam dua film Phobia. Bahkan Banjong juga terlibat dalam proyek The ABC's of Death tahun lalu. Sekarang disaat industri perfilman Thailand mulai beralih tren menjadi komedi romantis, Banjong tetap bisa menelurkan film yang berkualitas dan digemari lewat  sebuah komedi romantis berjudul Hello Stranger. Empat tahun semenjak Phobia 2 dan enam tahun semenjak Alone yang menjadi film horor panjang terakhirnya, Banjong kembali ke ranah tersebut lewat Pee Mak yang merupakan pembiasaan dari Nang Nak yang merupakan kisah rakyat Thailand. Tapi dengan berani Banjong menambahkan unsur komedi yang begitu kental dalam film ini termasuk memunculkan kembali Aey, Ter, Shin dan Puak yang sebelumnya sukses mengocok perut di dua film Phobia.

Kisah dalam film ini terjadi pada ketika Thailand masih berjulukan Siam dan berada dibawah pemerintahan Raja Mongkut yang berarti ber-setting sekitar tahun 1850-1860-an. Saat itu Mak (Mario Maurer) bersama kuartet kurang pintar Aey, Ter, Shin dan Puak sedang berada di medan perang. Mak meninggalkan istrinya Nak (Davika Hoorne) yang tengah hamil tua. Setelah perang usai, Mak dan keempat temannya tersebut pulang untuk menemui Nak yang ternyata telah melahirkan. Namun sesudah kepulangannya tersebut Mak justru mendapat kabar tidak yummy dari seisi kampung yang menyampaikan bahwa Nak sudah meninggal dan menjadi hantu. Mak tidak begitu saja percaya tapi satu per satu bencana horor mulai menimpa Mak dan teman-temannya. Film ini memang kurang ajar. Disaat saya berharap mendapat kembali teror mengerikan yang sekarang susah ditemukan dalam industri perfilman Thailand, sang master horor Negeri Gajah Putih tersebut justru menciptakan sebuah tontonan mengenai kisah rakyat horor yang ia rombak menjadi penuh kekonyolan demi kekonyolan yang pada karenanya mengakibatkan Pee Mak justru lebih kental unsur komedi daripada horornya.

Setelah adegan pembukanya yang cukup meyakinkan bahwa Pee Mak merupakan film horor yang menyeramkan, saya eksklusif "dikejutkan" ketika tone film berubah 180 derajat disaat kita dibawa melihat kondisi peperangan.Melihat belahan rambut menggelikan para karakternya, sampai obrolan yang (maunya) memantik semangat juang namun diselipin acuan film-film macam 300, Rocky sampai The Last Samurai padahal filmnya ber-setting jauh sebelum benda berjulukan film eksis saya eksklusif sadar bahwa daripada Shutter film ini akan lebih menyerupai segmen Man in the Middle ataupun In the End. Bahkan pada karenanya porsi komedi yang lebih banyak didominasi dibebankan pada kuartet konyol tersebut jauh lebih besar daripada porsi horornya sekalipun. Mungkin Pee Mak semenjak awal sudah berlabel horor-komedi namun pada karenanya saya merasa film ini lebih tepat disebut parodi. Karena karenanya pun momen angker yang ditampilkan seringkali berakhir lucu berkat keempat tokoh tersebut. Saya yang berharap mendapat sajian horor mengerikan pada awalnya sedikit kecewa tapi perlahan saya pun terpuaskan ketika humor konyolnya selalu tepat target dan menciptakan saya tertawa terbahak-bahak tidak hanya sekali dua kali namun berkali-kali. 
Namun Pee Mak tidak lantas menjadi sajian konyol nan tolol yang asal-asalan sebab baik itu konten humor yang penuh referensi, pembawaan para aktornya sampai timing dimunculkannya humor tersebut selalu sempurna. Dengan segala kteololan huruf dan kekonyolan humornya Pee Mak mengambarkan pernyataan bahwa idiot dan jenius itu berbeda tipis memang benar adanya. Tidak hanya komedi, bagi anda yang sebelumnya pernah mendengar kisah Nang Nak niscaya tahu bahwa akan ada unsur romansa yang cukup menyedihkan dalam kisah tersebut. Banjon Pisanthanakun pun masih akan menyajikan aspek romansa yang kuat. Tidak terlalu banyak, cukup berikan sebuah momen ketika Mak dan Nak berdua mengunjungi pasar malam yang indah sambil tertawa bersama dan sesekali melontarkan rayuan gombal maka terciptalah sebuah adegan klise namun terasa indah, romantis dan cukup menyentuh. Momen tersebut karenanya sudah mewakili kisah cinta Mak dan Nak. Romansanya sendiri secara keseluruhan berkisah perihal cinta sejati yang tidak mengenal bentuk dan sosok yang dicintai. Ini yaitu "pesan" biar kita tidak memandang jelek hal apapun tanpa mengenal hal itu lebih jauh. Bagi saya Pee Mak berkisah akan hal-hal tersebut daripada sekedar menebak "siapa bekerjsama yang hantu?"

Kaprikornus humornya sangat berhasil, romansanya cukup menggigit, pesan moralnya cukup terasa, kemudian bagaimana dengan horornya sendiri? Sayangnya dibandingkan aspek-aspek tersebut horor dalam film ini terasa tenggelam. Tidak jelek bekerjsama mengingat beberapa atmosfer mencekam dan tegang masih bisa dibangun namun sayang semuanya karam oleh begitu bersinarnya aspek komedi yang ada. Misteri perihal siapa bekerjsama yang hantu sekilas gampang ditebak diawal tapi semakin mendekati titik puncak misteri itu jadi semakin menarik dan dibumbui beberapa twist. Jika ada yang benar-benar mengganggu sesungguhnya bukan rasa horor yang kurang melainkan klimaksnya yang terlalu diulur-ulur. Momen dalam kuil tersebut dimulai cukup menarik kalau saja sesudah itu tidak ada tarik ulur kejar-kejaran dengan sang hantu yang terlalu usang dan diulang-ulang ataupun rangkaian obrolan romansa cheesy yang berlebihan antara Mak dan Nak. Sayang sekali tensi yang dibangun justru dirusak oleh klimaksnya yang terlalu panjang. Untung film ini diakhiri dengan sebuah credit scene yang kembali memunculkan tawa demi tawa yang membangkitkan kembali rasa suka saya kepada film ini.

Bicara soal jajaran cast, jelas yang paling bersinar yaitu kuartet Kantapat Permpoonpatcharasuk, Nuttapong Chartpong, Wiwat Kongrasri dan Pongsathorn Jongwilak yang dengan kompak dan tepat menebar humor demi humor yang begitu efektif. Davika Hoorne selain bagus ia bisa memperlihatkan kesan misterius sekaligus creepy yang cukup baik meski keteteran ketika harus menampilkan adegan penuh haru di simpulan film. Mario Maurer? Yah sosoknya menyerupai menjadi penarik minat penonton khususnya kaum hawa saja sebab sosoknya paling mengganggu disini. Penghantaran komedinya tidak terlalu jelek namun chemistry dan momen romansanya dengan Davika Hoorne menjadi terasa cuek sebab sosoknya yang terlalu childish. Secara keseluruhan Pee Mak Phra Khanong yaitu hiburan yang sangat menyenangkan. Jika anda berekspektasi mendapat tontonan horor mencekam mungkin itu tidak akan anda dapatkan tapi setidaknya anda tetap akan terhibur oleh film ini.

Friday, January 11, 2019

Ini Lho Syndromes And A Century (2006)

Saya mengenal Apichatpong Weerasethakul lewat filmnya, Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (review) yang sukses meraih penghargaan Palme d'Or di Cannes Film Festival tahun 2010. Sutradara yang satu ini memang boleh dibilang merupakan sutradara paling sukses di Thailand dengan aneka macam prestasinya di ajang Cannes. Sebelum Palme d'Or, beliau sempat meraih Un Certain Regard lewat Blissfully Yours pada 2002 dan Jury Prize lewat Tropical Malady  pada tahun 2004. Sedangkan lewat Syndromes and a Century, Apichaptong menerima nominasi Golden Lion di ajang Venice Film Festival. Tapi untuk film ini bukan prestasi hebatnya di kancah internasional yang menciptakan saya tertarik, melainkan konsep ceritannya yang unik. Saya tertarik menonton film ini sehabis mendengar bahwa filmnya mempunyai dua kisah berbeda yang mana masing-masing kisah punya obrolan sama dengan setting yang menyerupai namun pada risikonya memperlihatkan sebuah konklusi yang berbeda, menarik bukan? Tentu saja saya ingin tau akan menyerupai apa Apichatpong mengemas sebuah film dengan dua kisah yang mempunyai obrolan sama tapi pada risikonya mempunyai konklusi yang berbeda. Cerita pertama film ini mengambil setting di sebuah rumah sakit kecil yang terletak di pedesaan. Filmnya dibuka dengan wawancara yang dilakukan oleh Dr. Toey (Nantarat Sawaddikul) kepada Dr. Nohng (Jaruchai Iamaram).

Semenjak pertemuan pertama itu ternyata Nohng mulai jatuh cinta pada Toey yang kemudian mulai menceritakan pengalaman dan hubungan masa lalunya dengan seorang laki-laki. Selain keduanya kita akan melihat juga interaksi lain antara dua orang huruf unik, yaitu seorang dokter gigi sekaligus penyanyi country berjulukan Ple (Arkanae Cherkam) dengan pasiennya, seorang biksu yang menyukai musik-musik modern berjulukan Sakda (Sakda Kaewbuadee). Lalu pada kisah kedua, setting berpindah ke sebuah klinik kesehatan besar di Bangkok dimana beberapa kejadian, adegan serta obrolan yang muncul di kisah pertama kembali terulang namun diluar itu semuanya berbeda. Bicara soal obrolan yang sama, Syndromes and a Century tidak memperlihatkan menyerupai yang ada di ekspektasi saya. Memang ada beberapa obrolan maupun situasi yang sama, namun secara kuantitas tidak terlalu banyak. Tapi meskipun tidak sesuai dengan ekspektasi, Apichatpong ternyata masih sanggup menebarkan sisi magisnya dalam film ini yang menciptakan kedua kisah yang hadir tetap merasa mempunyai keterikatan begitu intim dalam hal rasa. Seperti yang sempat dikatakan Apichaptong, film ini akan menyentuh tema perihal memori dan tema tersebut menjadi benang merah yang begitu berpengaruh menyatukan kedua ceritanya. Disaat kisah pertamanya banyak mengungkap memori dari huruf Toey, pada kisah kedua paruh pertama perihal kehidupan di rumah sakit kecil tersebut terasa bagaikan sebuah memori intim yang indah untuk dikenang. Hal-hal lain menyerupai mimpi juga turut menambah berpengaruh aroma memori dalam film ini
Jika bicara soal memori, ada lagi satu tema yang cukup erat kaitannya dengan hal itu yakni reinkarnasi. Saya tidak sanggup untuk tidak mencicipi aura Buddha yang kental dalam Syndromes and a Century, apalagi dengan "penampakan" beberapa patung Buddha dalam filmnya. Tentu saja dalam sebuah film yang kental dengan nuansa aliran Buddha atau yang dibentuk oleh penganutnya, tema-tema perihal Buddhisme akan begitu terasa meski hanya secara tersirat. Salah satu tema yang paling sering hadir yakni reinkarnasi, dan film ini juga memilikinya. Lewat beberapa dialognya, reinkarnasi juga sering disinggung. Tentu saja sebuah reinkarnasi erat kaitannya dengan memori, lebih tepatnya memori perihal kehidupan yang telah lalu. Sama menyerupai itu, Syndromes and a Century juga menghadirkan banyak ingatan dan perenungan akan kejadian-kejadian yang telah lalu. Selain itu, film ini juga membahas perihal perubahan kearah yang lebih baik dalam hidup. Hal itu terlihat dari sosok Nohng yang dalam kisah pertama hanya seorang pegawai gres di rumah sakit kampung namun dalam kisah kedua sudah menjadi dokter di klinik kesehatan besar yang terletak di Bangkok. Tidak hanya itu, beliau juga mempunyai seorang kekasih yang mapan dan keduanya berniat untuk pindah ke daerah yang lebih modern. 
Saya juga merasa bahwa Apichaptong coba bercerita perihal sebuah modernisasi yang "menelan" alam ini. Hal itu tidak hanya terlihat dari bagaimana hubungan kisah pertama (alam) dengan kisah kedua (Industri) tapi juga lewat aneka macam visual yang tersaji. Salah satunya yakni pada ketika mendekati ending yang memperlihatkan sebuah pipa menyedot asap yang berada dalam sebuah ruangan. Adegan itu terasa menyerupai sebuah citra perihal industri yang mulai menyedot habis hal-hal di alam ini. Mungkin saja Apichaptong tidak bermaksud untuk bercerita perihal hal itu, tapi saya mencicipi itu hadir begitu berpengaruh dalam film ini. Tentu saja bila membicarakan perihal aspek visual, Syndromes and a Century punya sinematografi yang begitu indah hasil karya Sayombhu Mukdeeprom. Banyak memakai wide shot, gambar-gambarnya seolah memperlihatkan betapa indah sekaligus misteriusnya kehidupan ini. Belum lagi dipadukan dengan pergerakan kamera yang lambat tapi niscaya mengeksplorasi aneka macam benda-benda termasuk patung-patung yang nampak begitu indah sekaligus mencekam dan misterius. Tempo pergerakan kameranya memang sangat mendukung gaya penyutradaraan Apichaptong yang juga menyajikan filmnya dengan tempo lambat. Sama menyerupai Uncle Boonmee, film ini berjalan tidak hanya lambat tapi juga terasa sunyi. Tidak ada obrolan dengan emosi yang meletup, semuanya terucap dalam tempo yang lambat dan mengalir perlahan. Iringan musik pun terhitung minim dengan lebih banyak menampilkan imbas bunyi alam.

Gaya Apichaptong itu memang bakal menyulitkan filmnya untuk dinikmati semua orang. Tempo yang lambat dan terkesan tidak dinamis terkadang menciptakan film ini terasa berat dan sanggup membosankan. Selain itu fakta bahwa film ini berjalan tanpa plot atau setidaknya tidak mempunyai narasi yang standar juga membuatnya makin sulit untuk dinikmati. Saya sendiri tidak anti terhadap film semacam ini, bahkan saya sangat menyukai Uncle Boonmee yang sama lambat dan surealnya, tapi tanggapan ekspektasi awal yang tidak terpenuhi, saya pun tidak sebegitu menyukai film ini walau sebetulnya Syndromes and a Century adalah presentasi yang indah, puitis dan terasa begitu intim. Tapi beginilah ekspektasi, bila tidak terpenuhi walaupun kita sadar bahwa film itu anggun dan sangat ingin menyukainya hal itu tidak akan terjadi.  Syndromes and a Century pun berakhir sebagai sebuah tontonan menyenangkan yang tidak hingga terasa Istimewa bagi saya.

Tuesday, January 8, 2019

Ini Lho Jogja Asian Film Pekan Raya - Light Of Asia

Light of Asia merupakan sebuah jadwal di JAFF 2014 yang menampilkan banyak sekali film pendek terpilih buatan sineas-sineas Asia. Saya menonton Light of Asia #2 yang menampilkan lima film, dengan tiga diantaranya berasal dari Indonesia. Salah satu dari tiga film pendek Indonesia yang diputar yakni Maryam buatan Sidi Saleh yang sukses memenangkan Best Short Film pada ajang Venice Film Festival tahun ini. Berikut ini ulasan pendek perihal kelima film yang berpotensi memunculkan cahaya gres dalam dunia perfilman Asia.

SOMEWHERE ONLY WE KNOW (Thailand)
Film buatan Wichanon Somumjarn ini berkisah perihal seorang perempuan muda yang bekerja sebagai akuntan berjulukan Bee dan satu hari dalam kesehariannya. Pada malam hari ketika sedang beristirahat di rumah, datanglah Art, mantan pacar Bee yang hendak mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal disana. Somewhere Only We Know tidak jauh beda dengan film-film drama arthouse dari Thailan yang lain. Amat realistis, berjalan dengan tempo sangat pelan, diisi banyak obrolan yang dihantarkan dengan "dingin" dan lambat oleh tiap karakternya. Agak melelahkan, tapi merupakan sebuah observasi cantik perihal kehidupan karakternya. Satu kejutan di final seolah memperlihatkan bahwa setiap orang niscaya punya belakang layar dalam hidupnya yang tidak diketahui orang-orang terdekatnya. (3/5)

CLEANING THE FISH (Indonesia)
Film pendek ini menawarkan citra perihal bagaimana membosankan dan beratnya kehidupan seorang ibu rumah tangga, suatu pekerjaan yang sering dianggap remeh bahkan kurang dihargai. Oleh Myrna Paramita Pohan kita diajak untuk melihat bagaimana sang huruf utama tidak ubahnya pembantu rumah tangga yang selalu bekerja keras, bahkan sering kali kurang menerima "penghargaan" dari sang suami. Sebuah observasi apa adanya, tapi bukanah untuk menampilkan rutinitas yang membosankan sebuah film tidak perlu menjadi membosankan juga? Cleaning the Fish pun gagal menciptakan saya bersimpati alasannya yakni yang kental justru aura feminis berlebih, sesuatu yang diakui oleh sang sutradara bukan tujuan film ini. Pada hasilnya Cleaning the Fish lebih cocok dikemas sebagai dokumenter saja. (2.5/5)

FAR OR NEAR (Iran)
Karya Mohammad Hamzehie ini menceritakan seorang istri dengan obsesif kompulsif yang mendapati sang suami memanggil nama perempuan lain dalam tidurnya. Hal itu mendorong sang istri untuk melaksanakan sebuah keputusan besar. Sebuah drama suami-istri yang sedikit mengingatkan pada A Separation khususnya alasannya yakni setting yang digunakan. Karakter sang istri menarik berkat aspek obsesif kompulsif pada angka tiga, dan banyak keunikan yang muncul berkaitan dengan pengambilan keputusan. Konklusinya pun memuaskan, dan memperlihatkan perihal takdir yang selalu hadir lewat cara yang abnormal dan tak terduga. (3.5/5)

MARYAM (Indonesia)
Maryam yakni perempuan beragama Islam yang bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Kristen. Pada sebuah malam Natal ia harus sendirian menjaga adik majikannya yang mempunya gangguan mental. Dari situlah awal persinggungan Maryam dengan situasi yang teramat asing bagi beliau dan kepercayaan yang ia anut. Film buatan Sidi Saleh ini memperlihatkan bagaimana bila dominan dan minoritas di negara ini dibalik. Bagaimana bila Islam yang selama ini dominan harus menjadi minoritas dalam sebuah kesempatan? Penuh dengan perenungan, karkter menarik, situasi abnormal yang menggelitik, Maryam adalah tontonan yang begitu menyenangkan. Hanya lewat 18 menit Sidi Saleh menghadirkan banyak ironi dan momen berisikan banyak sekali macam emosi dan konflik batin. Film terbaik pada Light of Asia ini dan begitu berpotensi menjadi film panjang yang menarik. (4/5)

GADIS BERKERUDUNG HITAM DAN MANUSIA SERIGALA (Indonesia)
Judul uniknya ternyata juga berlanjut dalam dongeng yang juga unik. Karya Orizon Astonia ini mengisahkan Norma, seorang cukup umur putri yang dididik dengan budaya Islam ketat oleh sang ibu yang bercadar. Dia sering dihentikan keluar rumah, tapi itu tidak menghalanginya untuk melihat atau menikmati dunia luar. Sampai suatu hari terjadilah pertemuan antara Norma dengan seorang laki-laki asing berjulukan Adam. Satu lagi film pendek dengan tema keluarga berpadu religiusitas. Saya suka bagaimana beberapa karakternya mendobrak kesan perempuan berjilbab yang sangat suci. Saya suka interaksi Norma dan Adam, khususnya sebuah adegan long shot di ruang tamu yang amat menghibur dan memancing tawa. Tidak berakhir sebagai sajian yang dalam ibarat apa yang terlihat diawal, tapi terang amat menghibur. (3.5/5)

Thursday, December 13, 2018

Ini Lho May Who? (2015)

Film terbaru garapan sutradara Chayanop Boonprakob (SuckSeed) ini memberi pola trailer yang bagus dan jelek disaat bersamaan. Bagusnya, dengan nuansa corny penuh kebodohan yang sekilas murahan saya terbujuk untuk menonton filmnya. Buruknya, trailer May Who? terlalu banyak mengungkap dagelan serta plot di dalamnya. Tapi yang menyebabkan film ini Istimewa ialah meski mempertontonkan terlalu banyak hal di trailer, saya masih sangat terhibur (meski potensinya sedikit terlucuti). Secara mengejutkan May Who? juga bukan hanya bazar kebodohan, tapi mempunyai hati berbentuk romantisme sampaumur hangat. Komedi-romantis hakikatnya bisa mengkombinasikan kelucuan dengan romantisme, dan itulah pencapaian yang bisa didapatkan film ini. 

Bahkan sedari adegan pembuka yang menampilkan deskripsi abjad Pong (Bank Thiti) terhadap banyak sekali level siswa di sekolahnya. Level tertinggi ialah kapten tim, sedangkan level terendah ialah golongan orang biasa yang ketika acara olahraga hanya duduk sebagai suporter. Bagi Pong, ia berada di bawah level terendah, alasannya ialah tidak ada satupun orang yang mempedulikan dirinya kecuali para tukang bully. Yap, kita mendapat satu lagi abjad utama "pecundang" disini. Sebaliknya, ada Fame (Tor Thanabob) yang sesuai dengan namanya berada di atas level tertinggi. Dia tampan, seorang atlet, sekaligus kapten tim. Satu-satunya kekurangan (menurut Pong) dari Fame ialah putingnya yang menjorok kedalam. Dengan semua kelebihan itu, Fame pun menjadi sosok idola di sekolah. Bahkan murid pria dan guru pun histeris meneriakkan namanya. 

Lalu kita masuk ke bab romansanya. Pong yang invincible nyatanya menyimpan perasaan pada Mink (Frung Narikun) yang notabene salah satu gadis terkenal di sekolah. Tapi dengan status mereka yang bagaikan bumi dan langit, Pong hanya berani memperhatikan gadis pujaannya dari jauh sambil terus menggambar komik ihwal relasi mereka yang penuh imajinasi (romantic and pervert one). Baik Mink maupun Fame bukanlah abjad murid terkenal yang digambarkan sombong. Kita mendapat abjad menyerupai itu dalam sosok para cheers. Fame tetap murah senyum, sedangkan Mink selalu penuh semangat menyulut semangat rekan-rekannya untuk mendukung tim mereka di pertandingan olah raga. Praktis memahami mengapa Pong menyukai gadis tersebut. Kemudian muncul May-Who (Punpun Suttata) sang titular character.
Meski berparas cantik, menyerupai namanya May-Who ialah sosok yang "tidak terlihat". Sama menyerupai Pong, ia berada di bawah golongan murid level terendah. Semua itu ia lakukan secara sengaja alasannya ialah kondisi tubuhnya yang tidak normal. Jika detak jantung May mencapai 120 kali per-menit (distumulus oleh rasa lelah, gugup, terkejut) tubuhnya akan memancarkan arus listrik yang kuat. Sangat besar lengan berkuasa bahkan bisa untuk mengisi ulang baterai aki. Kondisi ini pula yang menciptakan May enggan untuk mendekati Fame meski telah usang memendam cinta. Diawali sebuah perselisihan, May dan Pong yang sesama outcast pun menjalin pertemanan. Tujuan awalnya ialah membantu satu sama lain untuk mendapat sosok idaman mereka yang kebetuan sama-sama populer. 

Tentu ceritanya klise apalagi ditambah trailernya yang membuka tabir plot terlalu banyak. Saya tahu keduanya akan saling membantu, saya tahu pada kesannya Fame akan menyatakan cintanya pada May, saya juga tahu kesannya Pong justru jatuh cinta pada si "gadis listrik". Tapi kecuali bab "Fame menyatakan cinta" gotong royong alur dalam komedi-romantis memang sudah sanggup ditebak sampai akhir. Tinggal bagaimana seorang sutradara bisa mengemas perjalanan yang menarik untuk mencapai titik ending. Bukan tujuan final yang paling penting, melainkan prosesnya. May Who? adalah pola bagaimana sebuah proses tepat bisa melahirkan kepuasan pada ending yang sudah kita semua tahu akan menyerupai apa. 
May Who? adalah film bodoh, dan tidak ada niatan sedikitpun menutupi kebodohan itu. Justru dagelan yang akan menghadirkan respon "lebay" atau "tolol" pada penontonnya begitu dieksploitasi disini, bahkan jadi kunci kesuksesan terbesar. Dengan semangat menghadiran segalanya secara berlebihan, Chayanop Boonprakob bagai tidak menyisakan daerah untuk hal berbau realisme. Dari para cheerleader "tukang pukul" sampai murid kutu buku yang ditakuti guru lebih daripada begundal sekolah, merupakan pola bentuk absurditas berkemampuan tinggi untuk memancing tawa. May Who? seolah tidak memberi waktu bagi saya untuk istirahat tertawa. Boonprakob pun menghadirkan scene demi scene dalam pace cepat yang berpadu dengan editing dinamis. Hampir tiap sequence diisi komedi, dan hebatnya presentase kegagalannya kecil. Bahkan di momen-momen yang sudah dipaparkan oleh trailernya, saya masih bisa tersenyum.  

The only thing that relatable in this movie is the romance. Bagi penonton khususnya usia sampaumur atau 20-an tahun akan terasa kedekatan dengan jalinan romansa film ini. Kisah cinta bertepuk sebelah tangan yang penuh pengorbanan, menjadi penggemar diam-diam di masa sekolah, sampai sebuah pertemanan yang berujung saling jatuh cinta, semuanya ada disana. Chayanop Boonprakob nyatanya cukup peka dalam menyusun drama percintaan itu. Di tengah kekonyolan bertubi-tubi, sering saya menemukan bittersweetness khususnya yang melibatkan abjad Pong. Penyematan beberapa adegan dalam kemasan animasi turut membantu tercapainya hal ini. Teknik visual tersebut dipakai oleh Boonprakob bukan sekedar biar terlihat stylish, melainkan demi menguatkan kesan fantasi indah penuh mimpi dalam kisah percintaan Pong.

Memahami perasaan dalam konflik yang dialami karakternya ialah kunci keberhasilan film ini membangun romantisme. Semangat bersenang-senang yang tinggi ialah kunci keberhasilan film ini menghadirkan tawa tanpa henti. Kombinasi kedua hal tersebut ialah kunci keberhasilan May Who? sebagai sebuah komedi-romantis. Just stay away from the trailer for maximum pleasure.

Wednesday, December 12, 2018

Ini Lho Senior (2016)

Harus diakui kejayaan film horror Thailand sudah berlalu. Tidak hanya popularitasnya semakin pudar, kualitas yang dihasilkan pun tak sebaik dulu. Kini perfilman Thailand lebih identik dengan komedi-romantis berpangsa pasar cukup umur atau drama-komedi heartwarming konsumsi semua umur. Maka disaat menebarkan kengerian tidak lagi membuat antrian penonton, masih adakah peluang bagi keberhasilan horror Negeri Gajah Putih? Sesungguhnya terdapat jalan tengah untuk diambil, yakni dengan menggabungkannya dengan formula penarik isu terkini terbesar. Tapi romantic comedy dengan overload cuteness nampak tidak mungkin dicampur bersama teror para hantu. Lewat "Senior", sutradara Wisit Sasanatieng berusaha mendobrak kemustahilan tersebut yang bersama-sama tetaplah berpotensi mengecewakan para pencari straight horror.

"Senior" berfokus pada Adhiti atau lebih sering dipanggil Mon (Jannine Weigel), siswi kelas 12 suatu boarding school. Mon dijauhi teman-temannya sebab dianggap absurd akhir sering bicara sendiri. Namun kenyataannya, Mon tengah bicara dengan sesosok hantu. Gadis ini memang punya kemampuan berinteraksi dengan hantu. Meski tidak sanggup melihatnya, Mon bisa mencium aroma/hawa yang terpancar untuk mendeteksi keberadaan mereka, disamping bisa bicara secara langsung. Hantu yang belakangan mengikuti Mon punya panggilan Senior (Pongsakorn Tosuwan). Senior dulunya yakni murid di sekolah tersebut sebelum dipugar menjadi boarding school khusus wanita. Selama 30 tahun sejak kematiannya, Senior berusaha menilik misteri tamat hidup seorang puteri yang sekarang rumahnya digunakan untuk bangunan sekolah itu. Mengetahui kemampuan Mon, Senior meminta pemberian sang gadis untuk memecahkan kasus tersebut. 

Alur film memakai pattern kisah investigasi, dimana Mon dan Senior mengunjungi beberapa daerah serta saksi guna mencari fakta akan kasus yang diusut. Naskahnya sendiri tidak cukup berpengaruh menghantarkan pemeriksaan tersebut menjadi paparan menarik. Sebuah misteri akan menyedot atensi kalau penonton dibentuk ingin tau akan tanggapan sesungguhnya. "Senior" eksklusif menyodorkan misteri tanpa menarik minat saya untuk ikut mencari jawaban. Alhasil ketika kejutan yang kuantitasnya cukup banyak mulai diungkap, imbas kejut pun tak terasa. Film ini terlalu berusaha keras memberi twist sebanyak mungkin, yang pada kesudahannya berujung pada satu contoh monoton. Entah berbentuk ibarat apa, saya tahu akan muncul twist, yang mana mengurangi intensitas. Beberapa fakta mengenai identitas tokoh pun dipaksakan supaya berkaitan, sampai makin melemahkan narasi.
CUTENESS OVERLOAD!!!
Masih membicarakan naskah, "Senior" punya konsep unik berisi "aturan" mengenai apa yang tidak dan bisa dilakukan oleh para hantu, ibarat "bisakah mereka menyentuh orang hidup?" atau "bisakah mereka menembus tembok?". Pendekatan itu unik tapi bagai dua sisi mata pisau. Seharusnya "rule" tersebut mempunyai kegunaan menghindarkan film ini dari plot hole. Jika ada pertanyaan "kenapa Senior tidak mengikuti Mon masuk ke suatu tempat?", maka hukum tadi bisa memberi jawaban. Tercipta kebebasan bagi naskahnya melaksanakan apapun, sebab kalau ada ganjalan, cukup beralasan bahwa itu cuilan dari aturan. Tapi bahkan dengan kebebasan itu alurnya tetap meninggalkan banyak lubang disaat beberapa kali film ini melanggar hukum yang dibentuk sendiri. Ironis ketika penciptaan hukum pula yang kesudahannya membuat lubang, sebab bila muncul "ketidakwajaran", naskahnya tak bisa berkilah dengan statement "hantu bisa melaksanakan apapun".

Untungnya kelemahan naskah bisa ditutupi beberapa faktor. Paling fundamental -khususnya bagi penonton pria- berasal dari Jannine Weigel. Akting Jannine biasa saja, bahkan untuk beberapa scene terlalu datar cenderung menggelikan. But hey, isn't she the cutest thing? Wisit Sasanatieng paham betul pesona paras aktrisnya, maka ia sering menempatkan kamera secara close-up, sambil mengarahkan Jannine untuk bertingkah se-menggemaskan mungkin meski hanya lewat hal kecil ibarat menjulurkan pengecap atau sekedar diam. Saya dibentuk tidak peduli pada inkonsistensi aksara Mon yang digambarkan pemurung tapi beberapa kali bertingkah cheerful. Inilah cuteness factor yang dimiliki "Senior" biar lebih komersil. Berhasil? Untuk para penonton laki-laki sudah pasti. Untuk perempuan saya tidak bisa berkomentar ihwal "seberapa ganteng Pongsakorn Tosuwan?". Bukan porsi saya.
Hubungan antara Mon dan Senior punya potensi memberi romansa hangat, sayangnya ambisi dalam narasinya menghambat itu. Tidak hanya misteri pembunuhan dan cinta dua dunia, "Senior" masih dibumbui konflik persahabatan serta bullying di sekolah. Ketiga poin plot itu saling mengisi secara bergantian tapi tidak ada satupun yang berakhir maksimal. Masing-masing hanya dipaparkan seadanya, tanpa pendalaman berarti guna menjalin ikatan emosional dengan penonton. Padahal kalau dimaksimalkan, baik persahabatan atau percintaannya bukan saja berpotensi memberi kehangatan termasuk berkat selipan komedi menggelitik, tapi juga emosional khususnya meihat konklusi masing-masing. Meski tidak mendalam, setidaknya saya masih dibentuk tersenyum menyaksikan interaksi antar-karakter.

Kelebihan terbesar "Senior" (selain kecantikan Jannine) terletak pada visi pengadeganan Wisit Sasanatieng dalam mengemas gambar-gambar memikat yang turut diperkuat sentuhan musik ala choir Gereja. Keindahan audio-visual tersebut menyebabkan pengalaman menonton film ini layaknya melihat suatu mimpi sureal penuh romantika yang mengalun dalam gerak lambat indah. Belum lagi ditambah beberapa voice over dari aksara Mon. Kalimat-kalimatnya puitis, tapi tidak berlebihan dan punya porsi secukupnya. Andai dihadirkan dalam bentuk novel, rasanya "Senior" akan menjadi bacaan indah. Beberapa sequence animasi yang diselipkan turut menambah daya tarik visualnya.

Lalu bagaimana dengan horror-nya? Diluar dugaan porsinya tidak banyak, tidak pula terlalu mengerikan. Hanya saja (lagi-lagi) insting visual Wisit Sasanatieng menyebabkan momen penampakannya tidak hambar. Desain para hantu tidak selalu mengerikan, tapi cenderung aneh. Keanehan itu justru jadi kelebihan, sebab sehabis terbiasa dengan hantu perempuan berambut panjang yang kerap menghiasi Thai-horror, "hantu popcorn" dan sosok ibarat Rokurokubi (hantu dari Jepang) terang memberi warna baru. Apalagi keduanya muncul dalam adegan yang menjadi highlight bagi sisi horror filmnya. Satu-satunya momen berisi kengerian menegangkan yang memikat berkat kreatifitas sutradara. Akhirnya, asal anda tidak mengharapkan menu murni horror, "Senior" yakni hiburan menyenangkan, meski akan terlupakan tak usang sehabis filmnya usai.....kecuali wajah Jannine Weigel.