Showing posts with label Trash. Show all posts
Showing posts with label Trash. Show all posts

Friday, December 7, 2018

Ini Lho Komedi Gokil 2 (2016)

Keberhasilan Komedi Modern Gokil mendapat lebih dari 200 ribu penonton tahun 2015 kemudian membuat MD Pictures tak butuh waktu usang memproduksi Komedi Gokil 2 yang tetap disutradarai Cuk FK serta masih ditulis naskahnya oleh Eric Satyo dan Dhamoo Punjabi. Banyak pihak menilai franchise ini membangkitkan nostalgia terhadap guyonan khas Warkop DKI, di mana keterlibatan Indro Warkop secara tidak pribadi mengkonfirmasi perbandingan tersebut. Saya sendiri belum menonton film pertamanya sehingga bisa dibilang buta akan bentuk pula kualitas filmnya. Namun seusai menyaksikan Komedi Gokil 2 saya tegaskan kalau muncul komparasi dengan film-film Warkop DKI, itu menyerupai merendahkan karya-karya legendaris mereka. 

Kisahnya ber-setting di rumah kost milik pasangan suami istri Indro (Indro Warkop) dan Tante Maya (Maya Wulan) yang gres saja kedatangan dua penghuni baru, Acho (Muhadkly Acho) dan Lolox (Lolox), adik Boris (Boris Bokir). Berbagai konflik menimpa satu per satu aksara di atas, mirip perselingkuhan Indro dengan Gina (Tengku Dewi), repotnya Boris mengurus tingkah polah adiknya, kembalinya mantan pacar Tante Maya, Tommy (Sas Widjanarko) hingga mimpi Acho merebut hati Mia (Senk Lotta), keponakan Indro yang gres pulang dari luar negeri. Semuanya dirangkum dalam bentuk serpihan bagan tanpa plot utama sebagai gagasan besar cerita.
Pemakaian teknik bagan sebetulnya bukan suatu keharaman khususnya pada komedi, namun setidaknya beri satu konflik selaku fokus utama. Kemudian, dari situlah sempilan lain misal sub-arc mengenai seorang aksara sanggup dimasukkan, alasannya kalau tidak, apa perbedaan film dengan beberapa program komedi televisi atau YouTube (bahkan beberapa di antaranya mempunyai paparan kisah jelas). Awalnya, perselingkuhan Indro mirip akan diberi fokus terbesar, terlebih ketika ia meminta pinjaman Acho, Boris dan Lolox mencuri barang bukti milik Gina. Tapi ternyata konflik berakhir dikala film masih menyisakan waktu setengah jam lebih kemudian berpindah menuju dongeng berikutnya. Eric Satyo dan Dhamoo Punjabi bagai malas menuliskan materi utuh feature film, dan akhir lompatan bagan acak itu saya pun malas mencurahkan fokus pada film.

Ketiadaan main plot sejatinya bisa dimaafkan dan atensi penonton sanggup direnggut andai formasi bagan tadi konsisten menghadirkan kelucuan, sayangnya, Komedi Gokil 2 gagal menunjukkan itu, bahkan gres kali ini saya tidak sekalipun tertawa kala menonton film komedi. Tentu faktor selera kuat kuat akan kesuksesan lelucon, namun ada alasan lain terkait kegagalan Komedi Gokil 2 mengundang tawa. Pertama akhir materi yang tingkat kekonyolannya abstrak tapi murahan, mirip beberapa scene di trailer  handphone di pantat, meditasi sambil terbang. In real life those unlikely and abstrak situations (maybe) are pretty funny, but in a movie are painfully embarassing to watchDi tengah momen-momen tersebut, perjuangan menyuntikkan unsur meta secara asal melalui ending selaku kelanjutan adegan pembuka daripada terasa pintar justru menegaskan kebodohan film. 
Faktor kedua ialah eksploitasi berlebihan adegan mesum. Apabila Warkop DKI memposisikan sensualitas sebagai bumbu penyedap belaka plus aksesori situasi kocak lain  slapstick, selorohan obrolan segar, parodi lagu ikonik  maka Komedi Gokil 2 berkali-kali menampilkan tokoh-tokohnya memasang lisan mesum, bodoh, sekaligus menjijikkan ketika memelototi lekuk badan para wanita  khususnya Duo Serigala  nihil iringan banyolan lain. Saya tidak munafik. Terkadang keseksian/kecantikan bisa menjadi eye candy memikat, tapi kalau itu (saja) dibutuhkan bisa memancing tawa, terbuktilah ketumpulan kreatifitas para pembuatnya. 

Para pemain drama juga tak banyak membantu ketika Boris Bokir dan Lolox tampil sangat menyebalkan alih-alih lucu. Acho sedikit lebih likeable meski sayang paparan romansanya dengan Senk Lotta sekedar asal dimunculkan kemudian mendadak berakhir senang tanpa keberadaan perjuangan mengambil simpati penonton, menandakan ambisi Eric Satyo dan Dhamoo Punjabi memasukkan hal sebanyak mungkin ke dalam naskah tanpa memperhatikan kualitasnya. Sebenarnya Indro Warkop sudah berusaha sekuat mungkin membawakan karakternya, plus logat ngapak yang tak dibuat-buat. But he clearly needs a better material to be funny, to be Indro Warkop that we all love. Kenapa pula Brianna Simorangkir ikut terseret? Please, don't waste your great talent, love

Sampai di sini, Komedi Gokil 2 tentu bukan komedi berkualitas, tapi lagi-lagi perkiraan mengenai perbedaan selara sanggup memberi alasan untuk memaafkan (banyak penonton lain tertawa). Namun alasan itu runtuh tatkala filmnya mengakibatkan kasus "keracunan kopi sianida" sebagai materi olok-olok. Semestinya komedi justru sebuah alat kritisi cerdas bagi isu-isu penting, bukan seenaknya sendiri tanpa perasaan membuatnya sebagai materi bercandaan tak lucu. Sah-sah saja komedi dikemas selaku hiburan semata mengesampingkan seberapa cerdas leluconnya, tapi harus pula ada sensitifitas. Sulit untuk saya memaafkan hal ini. Di awal film, Komedi Gokil 2 memunculkan quote Charlie Chaplin yang berbunyi "Hari tanpa tertawa ialah hari yang terbuang." Hari saya mungkin tidak terbuang, tapi 90 menit yang dihabiskan guna menonton film ini terang terbuang. 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

Ini Lho Pacarku Anak Koruptor (2016)

Menurut saya modal terpenting seorang sutradara bukanlah pemahaman teknis melainkan visi guna memilih pengadeganan, perjalanan alur, penyampaian pesan, tone penceritaan dan masih banyak lagi. Ketidakjelasan visi sanggup berujung kekacauan akhir tidak tentunya arah suatu film. Menjadi bertambah parah apabila sutradara turut gagal memilih tujuannya, apakah ingin menciptakan film atau iklan layanan masyarakat versi extended. Pacarku Anak Koruptor sukses melemparkan setumpuk tanda tanya di otak saya. Apakah genre-nya romansa, satir, musikal, thriller politik atau komedi bodoh? Pertanyaan lebih mendasar, apakah ini film sungguhan atau kampanye anti korupsi berkedok film? Apapun sejatinya pilihan Sys NS (sutradara dan penulis naskah), penonton hanya akan dihadapkan pada berondongan keburukan demi keburukan.

Karakter utamanya yaitu Sayanda (Jessica Mila), pelopor sekaligus ketua GANK (Gerakan Anti Narkoba & Korupsi). Sayanda beserta anggota GANK lain tengah menilik kasus korupsi yang melibatkan pebisnis berjulukan Maruk Bangetan (Ray Sahetapy), di mana sejauh ini Maruk selalu berhasil lolos dari jerat aturan berkat kekuatan uang miliknya. Ironisnya, ketika itu Sayanda tengah menjalin relasi asmara dengan Gerhana (Sabda Ahessa), putera Maruk Bangetan. Mengetahui relasi mereka berdua, Maruk menolak tinggal membisu dan mengerahkan segala cara bukan hanya untuk menghancurkan percintaan Sayanda dan Gerhana, tapi juga demi menghentikan pergerakan GANK yang membahayakan agresi korupsinya.
Pacarku Anak Koruptor merupakan pembiasaan pertunjukkan pop opera berjudul Kisah Cinta Anak Koruptor dan Pacarnya  dipentaskan tahun 2011  hasil karya Sys NS. Sebuah drama panggung masuk akal mempunyai "kenakalan aneh" termasuk dalam penamaan karakter, sebut saja Maruk Bangetan hingga nama-nama geng ibarat Blujin Belel, Selendank, hingga Cepak Ngehek. Kesan slengean begitu jamak ditemui di atas panggung, terlebih jikalau kisahnya punya unsur satir atau surealis, namun beda kasus begitu diapklikasikan ke media film apalagi dengan penggarapan realis. Berawal dari sinilah kebingungan saya terhadap arah film bermula.

Awalnya Pacarku Anak Koruptor bagai satir berisi tokoh-tokoh komikal yang bertujuan sebagai sindiran, kemudian kisah bergerak menuju romansa "beda dunia", political thriller kelam dipenuhi simpulan hidup serta permainan kotor pejabat negara, hingga berujung musikal. Meleburkan banyak genre sah-sah saja, bahkan sanggup berujung sajian hybrid cerdas, tapi film ini bukan termasuk golongan tersebut. Alasannya sederhana, masing-masing bentuk di atas jangankan bagus, memenuhi ukuran standar pun gagal. Sebagai satir, komedinya terlalu bodoh dan urung menyindir. Paparan romansa juga cuek alasannya yaitu minimnya kemunculan momen Sayanda dan Gerhana memadu kasih. Mengusung judul yang kental nuansa romansa, absurd ketika aspek itu justru kemunculannya minim. Namun unsur paling menggelikan yaitu musikal. Penggarapannya amat cringeworthy saat transisi berangasan adegan, akting buruk, koreografi asal, hingga lirik menggelikan bersatu. Saya tantang anda tidak tertawa menyaksikan tukar barang nyanyian antara Gerhana dan sang ayah di penghujung film. 
Bertebarannya kekonyolan menguatkan inkonsistensi tone akibat jamaknya kehadiran unintentionally funny moments. Andai momen-momen itu sekalian dikemas komedik, mungkin kesannya justru menghibur, tapi terperinci Sys NS memaksakan suasana serius cenderung dramatis. Inkonsistensi turut hadir pada naskah yang sesekali berusaha terdengar puitis lewat pemakaian rima serta diksi "berat" namun di kesempatan lain sering menggunakan bahasa "ringan". Seolah belum cukup lucu, acapkali karakternya melontarkan obrolan kolam tengah berorasi di tengah demonstrasi hanya saja tanpa semangat membara. Momen "orasi" tersebut tak lain perjuangan Sys NS meneriakkan anti korupsi yang terlampau gamblang dan repetitif  kalimat "Aku memang cinta mati sama kamu, tapi sumpah mati saya jauh lebih cinta sama negeri ini" diulang tiga kali  membuat saya ingin berujar "I got it already, stop the preaching and let's move on!"

Pacarku Anak Koruptor tiba di titik nadir kala aspek teknisnya digarap amatiran. Seringkali gambarnya buram plus suaranya tidak jernih. Bahkan di adegan perlombaan menari  dengan alasan penyelenggaraan konyol  suara sempat menghilang, sehingga penonton hanya disuguhi gambar bisu. Perlukah saya sebut juga penempatan properti botol minuman sebagai "iklan" yang posisinya selalu sama meski hari telah berganti? Intinya, Pacarku Anak Koruptor adalah pola nihilnya visi artistik seorang sutradara, alasannya yaitu satu-satunya visi Sys NS hanya melontarkan pesan anti korupsi secara (kelewat) gamblang nan berulang. Padahal sasaran penonton film bertema ibarat ini tentunya golongan intelektual, orang cerdas yang tidak suka dijejali pesan-pesan menggurui apalagi lewat film berkualitas rendah. Sedih rasanya mendapati nama-nama besar macam Ray Sahetapy, Roy Marten, Jajang C. Noer dan lain sebagainya ikut terlibat. 'Pacarku Anak Koruptor' isn't a real movie, it's an extended public service advertisement. A terrible one. So far, this is the worst Indonesian movie of 2016.


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

Thursday, December 6, 2018

Ini Lho Ia Niscaya Tiba (2016)

Dia Pasti Datang sungguh telah menampar, menyadarkan bahwa selama ini persepsi saya akan standar film di bioskop sudah salah kaprah. Karena sebelum membicarakan tetek bengek kualitas, ada hal yang wajib diperhatikan. Hal ini amat mendasar, sehingga para filmmaker secara otomatis niscaya melakukannya tidak peduli ia menciptakan sajian komersil, arthouse, religi dan lain-lain. Hal fundamental yang saya maksud yaitu MENYELESAIKAN FILMNYA! Karena bukankah mustahil sebuah film yang belum tuntas bakal dirilis di bioskop? Tidak mungkin kan? Iya kan? Ternyata Dia Pasti Datang mengajarkan saya satu lagi hal esensial dalam kehidupan, bahwa tidak ada yang tidak mungkin, termasuk merilis film yang belum selesai. 

Mari membahas soal plot dahulu, sebab bicara perihal hal dasar, aspek satu ini termasuk basic utama pembuatan film. Masterpiece dari sutradara Steady Rimba ini berkisah perihal perempuan baik hati berjulukan Larasati (Amel Alvie). Begitu baik perempuan satu ini. Dia suka rela menghidupi, pula menjadi guru bagi bawah umur suatu panti asuhan. Larasati rutin menekankan kerajinan dan kemandirian, tapi nampaknya lupa bicara kesopanan. Saat mengajar, ia tak hanya menggunakan make-up super tebal, tapi juga baju ketat dengan kadangkala belahan dada terlihat. Dalam satu kesempatan ia mengajak bawah umur itu menonton pertunjukkan tari dimana ia ikut serta. Pertunjukkan itu menampilkan tiga perempuan berpakaian terbuka, menarikan gerakan seksi yang disambut tepuk tangan meriah serta canda tawa anak-anak. Mungkin Larasati tengah mengajarkan pubertas? Saya hanya dapat mengira-ira.
Iya, ini tidak mengecewakan ngeri
Singkatnya, Larasati dibunuh secara tidak sengaja oleh dua anak buah Daeng Karim (Guntur Triyoga), seorang camat muda sekaligus calon suaminya. Sungguh malang nasib perempuan baik hati ini, sehabis tewas, ia masih sempat diperkosa oleh dua orang tamu kehormatan Daeng Karim. Larasati tewas, menjadi hantu gentayangan yang berhasrat menuntut balas. Tapi hantu Larasati ternyata kurang cakap melaksanakan aksinya. Sebagai contoh, seorang laki-laki sudah ia serang menggunakan sebuah bambu, tapi tidak mati. Beberapa ketika kemudian serangan kembali terjadi. Pria itu terjatuh, muntah darah, kemudian diseret di sepanjang lantai, tapi tidak mati. Hingga akibatnya laki-laki itu merasa bersalah dan menentukan bunuh diri padahal sepanjang film ia terus berujar ingin segera kabur sebab takut mati. 

Jelas naskahnya buruk. Dialognya bagai ditulis oleh dua orang yang tidak pernah sekalipun bertemu selama penulisan. Alhasil perbincangan antar-karakter sering tidak sinkron. Jika ada yang bertanya "kamu udah makan?" saya yakin lawan bicaranya bakal menjawab "kebun binatang". Karakternya menyerupai berkepribadian ganda. Satu waktu mereka berkata "ayo ikuti dia! Cuma ia yang dapat kita percaya" tapi beberapa detik kemudian berujar "ngapain sih ngikutin orang ini?" Mungkin Steady Rimba yang merangkap penulis naskah ingin mengeksplorasi bagaimana rasa takut besar lengan berkuasa pada sisi psikis seseorang. Memang benar. Saat ketakutan mendominasi, otak kita menjadi kacau, tidak dapat berpikir jernih, plin plan, bodoh, idiot, dapat juga lebay. Mirip dengan tokoh-tokoh di sini.
Lalu menyoal filmnya yang belum selesai, bunyi dalam Dia Pasti Datang sering mendadak hilang. Sungguh. Tanpa musik, tanpa ambience, total bisu. Sebelum tiba-tiba obrolan masuk secara paksa. Kaprikornus semisal ada kalimat "siapa orang itu?" maka yang terdengar yaitu "pa orang itu?" Bukan sekali dua kali, hal ini terjadi puluhan kali. Lebih absurd lagi, dubbing-nya sering tidak pas dengan gerak bibir pemain. Bahkan satu kalimat sempat terdengar dua kali, padahal bibir pemain sudah tampak mengucapkan hal berbeda. Saya pun terbayang pembicaraan yang terjadi di ruang editing film ini:

Sutradara: Gimana? Kelar semua?
Editor: Kelar. Lagi render nih
(rendering selesai, film diputar)
Sutradara: Lho, kok ini musiknya belom masuk?
Editor: Lupa bos. File sound-nya keselip.
Sutradara: Terus ini kenapa dialognya keulang?
Editor: Ribet bos, ngegeser-gesernya lagi.
Sutradara: Gimana ya...
Editor: Kalo diulang ribet, render-nya lama. Laptop juga boleh minjem
Sutradara: Yaudahlah, kagak perlu. Pilem kan gambar, bunyi belom kelar mah bodo amat
Editor: Nah, bener bos!
(keduanya tertawa ngakak, menyadari bahwa toh penonton masih akan tetap menghamburkan uang menonton unfinished movie mereka ini.)

Akhirnya Dia Pasti Datang dirilis paksa, sebab para pembuatnya tidak mempermasalahkan tata bunyi yang belum selesai, sebab toh gambarnya sudah. Mereka tidak menyadari bahwa di beberapa bagian, kawat untuk menarik pintu semoga tampak tertutup dengan sendirinya masih dapat dilihat dengan mata telanjang. Bahkan ada adegan ibu hamil meminta diantar ke rumah sakit, padahal terang dari pantulan beling mobil, ia sedang bangun di depan IGD.  

Masih banyak aspek lain yang belum saya bahas, tapi sebab filmnya saja menyerupai belum selesai, review ini pun tidak saya tuntaskan. 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

Ini Lho Comic Kong X Kong (2016)

"Comic Kong X Kong" ialah film Indonesia dengan nilai 0 (nol) keempat tahun ini. Tentu butuh lebih dari sekedar kualitas buruk biar hati saya tergerak memberi angka tersebut, mengingat seburuk apapun suatu karya niscaya ada satu sisi layak mendapat apresiasi. Film terbaru karya Yan Senjaya  pembuat masterpiece berjudul "Cin...Tetangga Gue Kuntilanak"  ini tak hanya hancur di setiap sisi, namun menyembunyikan segala kebusukan di balik sambul "film anti-korupsi". Karena yang lebih rendah dari film buruk ialah film buruk yang mengatasnamakan diri sebagai pembawa pesan moral. Ibaratnya ada seseorang kentut sembarangan di tengah keramaian dengan alasan biar gas tidak mengendap menjadi racun dalam tubuh.

Biasanya butuh beberapa menit hingga tercium aroma sampah milik suatu film, tapi "Comic Kong X Kong" seolah ingin to the point, menolak mengulur waktu, pribadi mengambarkan kebusukannya. Sedari adegan pembuka ketika kedua protagonis, Muslim (Tretan Muslim) dan Gitong (Denny Gitong) datang di Jakarta guna mencari kerja, indera pendengaran saya sudah dibentuk sakit tanggapan Okky Priharmoko sang penata bunyi malas menghilangkan noise. Hampir sepanjang film, obrolan karam di balik kebisingan, ibarat berusaha mendengar seseorang bicara di landasan pesawat. Semakin ramai ketika scoring dipaksakan masuk, menambah gemuruh kekacauan perusak indera pendengaran penonton. 
Saya tidak naif mengharapkan "Comic Kong X Kong" memperhatikan logika penceritaan. Komedi berkualitas semisal "Anchorman: The Legend of Ron Burgundy" pun disusun oleh narasi tak masuk budi mengenai sosok-sosok kurang berilmu sebagai pembaca berita. Lalu kenapa ketika Muslim dan Gitong, dua pengangguran tanpa skill mumpuni diminta Detektif Yenny (Nabila Putri) menjadi informan belakang layar guna meringkus koruptor berjulukan Bos Belut (Mo Sidik), saya kesulitan menerima? Tidak lain tanggapan kegagalan film membuat huruf likeable dan lawakan lucu yang dipicu tingkah laris mereka. Sepanjang 87 menit durasi, keduanya selalu mengacaukan situasi, bertingkah bodoh, memasang lisan mesum.
This movie filled with some extreme absurdities (in a negative way). Absurditas muncul semenjak Muslim dan Gitong kencing sembarangan kemudian menjadikan meledaknya sebuah patung berbalut CGI sekelas sinetron Indosiar  terjadi berulang kali, even worse  sampai film diakhiri oleh carut marut titik puncak yang (entah bagaimana) dibutuhkan memancing tawa penonton. Saya sama sekali tidak tertawa sepanjang durasi, namun bukan soal perbedaan selera humor belaka, melainkan dipicu keengganan film menghargai penontonnya. "Comic Kong X Kong" dibentuk dengan production value begitu rendah, komedi kurang berilmu asal masuk, plus tambal sulam alur seenaknya. Jangan berharap filmnya memberi klarifikasi memuaskan perihal perubahan drastis alur dari kisah dua cowok mencari kerja menuju kekacauan pemeriksaan korupsi melibatkan ketok magic bagi insan hingga boneka teluh. 

Ditambah lagi, film ini masih berusaha menghantarkan pesan anti-korupsi di tengah aneka macam kebusukan tadi. Padahal jujur saja, bagaimana cara pembuat "Comic Kong X Kong" mempresentasikan filmnya tidak jauh lebih baik dibanding agresi koruptor. Menyajikan karya asal-asalan dengan kualitas serendah ini sempurna sewaktu industri perfilman tanah air tengah merangkak naik berpotensi membuat stigma negatif di kalangan masyarakat, menghalangi perbaikan kondisi film Indonesia. Atau mungkin Yan Sanjaya dan rekan sengaja membuat kebusukan selaku penyeimbang di antara rangkaian komedi mengesankan ibarat "My Stupid Boss" atau "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1" biar kita tidak cepat puas. Sungguh niatan mulia. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Wahana Rumah Hantu (2018)

Urusan pekerjaan kemarin sungguh melelahkan. Segelas es teh bagus dan berbatang-batang rokok menemani istirahat sore hari saya. Kemudian saya mendapati, alih-alih Jumat menyerupai film India biasanya, Thugs of Hindostan telah dirilis. “Capek begini nonton epic action asyik kali ya”, begitu pikir saya. Berharap melepas penat, tiket pun siap dibeli. Tapi sesaat sebelum goresan pena “Pay Now” dipencet, masuklah pesan itu. Pesan yang mengubah arah, memberi twist untuk kehidupan saya pada Kamis, 8 November 2018.

Pesan itu dikirim oleh admin Indonesian Film Critics (IDFC). Isinya singkat saja, namun mampu mengalahkan gelegar guntur yang meraung-raung di langit mendung sore itu. “Oy, Rumah Hantu yaks”, demikian bunyinya. Sejenak tertegun, saya berusaha menenangkan diri. “Saya mampu bertahan menghadapi Arwah Tumbal Nyai, jadi kali ini pun pasti akan baik-baik saja, ya kan? Ya kan?? Ya kaaaan????”. Oh boy, I’ve never been so wrong.

Selang beberapa jam, kembali saya tertegun. Andai bisa, ingin rasanya menghubungi Rapi Amat, menyuruhnya sungkem pada orang-orang di balik Wahana Rumah Hantu. Bagaimana tidak? Film karya sutradara Anto Lupus ini berhasil menggulingkan horor Go-Pay miliknya dari tahta film Indonesia terburuk 2018. Dan rasanya posisi ini takkan berubah lagi. Film yang lebih buruk dari Wahana Rumah Hantu sebaiknya diungsikan saja ke Planet Pluto. Oh, Pluto bukan planet? Berarti, judul-judul berkualitas di bawah Wahana Rumah Hantu pun bukan film.

Is this a movie though? Ditinjau dari makna literalnya, yakni “moving picture”, ya, Wahana Rumah Hantu berisi gambar bergerak. Bergerak menuju kehancuran. Biasanya saya menciptakan catatan mengenai kelebihan dan/atau kekurangan film yang sedang ditonton, tapi kali ini, saya menyerah. Terlalu banyak keburukan di tiap momennya, dalam segala aspek. Kalau tetap mencatat, begitu film berakhir, saya akan menuntaskan skripsi kedua saya.

Wahana Rumah Hantu mengisahkan kakak-beradik, Aurel (Adzwa Aurell) dan Sky (Sky Azhura), yang sama-sama bisa melihat hantu, dan SEPERTINYA dahulu berprofesi sebagai pengusir hantu. Kenapa “sepertinya”? Karena kita hanya mendengar itu dari pernyataan singkat Aurel. Menariknya, begitulah cara film ini—yang naskahnya juga ditulis sang sutradara—bergulir, yaitu melalui kisah yang karakternya tuturkan secara verbal.

Di satu titik, filmnya memperkenalkan subplot perihal arwah ingin tau seorang siswi yang mati di kelas. Tanpa aba-aba, mendadak kita melihat kehebohan kelas alasannya yakni KATANYA sebuah buku (atau lemari?) terbuka sendiri. Kenapa “katanya”? Lagi-lagi alasannya yakni karakternya menyampaikan itu, dan insiden mistis yang dimaksud tak muncul di layar. Seolah ada adegan yang hilang (hilang atau lupa di-shoot hayooo??). Pun sebesar apa pun perhatian dicurahkan, besar kemungkinan anda bakal tetap tersesat dalam labirin membingungkan penuh cabang dan jalan buntu, yang disebut “plot” oleh film ini. Lalu kisah si arwah ingin tau diakhiri memakai voice over.

Ya, VOICE OVER! Bayangkan andai sebelum titik puncak di Wakanda, Avengers: Infinity War berakhir, tanpa pertempuran, dan hanya terdengar Tony Stark berkata, “Kami bertempur mati-matian. Satu tim di Titan, tim lain di Wakanda. Sayangnya Thanos berhasil menjentikkan jarinya dan menghapus separuh kehidupan di alam semesta termasuk beberapa jagoan, di antaranya Spider-Man, yang sebelum kematiannya, menangis di dekapanku”. Saya yang terbelakang ini cuma bisa plonga-plongo, membayangkan kondisi di balik layar yang kemungkinan menyerupai ini:

Demikian awal kelahiran film ini, yang meski berjudul Wahana Rumah Hantu, tapi wahananya sendiri gres muncul di pertengahan, sembari melahirkan satu lagi subplot nihil substansi mengenai kecurangan para karyawan yang ingin mengakuisisi daerah tersebut, sebelum selipan reliji turut serta mengakhiri konflik. Tidak perlu kaget, toh semenjak awal filmnya sudah menegaskan bahwa derajat setan ada di bawah manusia. Buktinya, setan di sini bisa disuruh mengerjakan PR. Ghost slavery FTW!

Tapi, jikalau anda insan bernyali baja, silahkan langkahkan kaki menuju Wahana Rumah Hantu. Setidaknya anda bisa menertawakan akting gila yang acap kali memancing pertanyaan, “Emosi apa yang aktornya ingin tampilkan?”, penampakan hantu asal-asalan, twist soal identitas aksara yang mundur jauh hingga ke periode Kerajaan Majapahit (saya serius), hingga kerumitan alur yang pasti menciptakan David Lynch terkesima kemudian bersembah sujud. Percayalah, review ini gres menggambarkan sekian persen keburukan Wahana Rumah Hantu. Film jelek, biaya murah, pemain dan kru nihil pengalaman, semua bisa dimaafkan selama ada niat berkarya sebaik mungkin. But this? This is just an act of ingorance.