Showing posts with label Xavier Dolan. Show all posts
Showing posts with label Xavier Dolan. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho It's Only The End Of The World (2016)

Serahkan pada Xavier Dolan untuk menghasilkan karya unik yang bersedia membaurkan visual vibrant dan musik pop dalam tuturan arthouse yang walau tidak wajib tapi identik dengan kesunyian atau kemasan sederhana. Tengok Mommy yang bersama aspek rasio 1:1 miliknya ikut memasukkan lagu-lagu familiar macam Wonderwall, Born to Die, Counting Stars hingga White Flag. It's Only the End of the World selaku pembiasaan pertunjukan teater berjudul sama karya Jean-Luc Lagarce pun serupa, bahkan tak jarang di antara monolog-monolog panjang kental teriakan karakter, filmnya menyerupai extended music video. Sedap dipandang, dinamis, meski soal substansi patut dipertanyakan.

Louis (Gaspard Ulliel), laki-laki gay 34 tahun dengan profesi sebagai penulis naskah teater memutuskan pulang ke rumah, menemui keluarganya sesudah 12 tahun. Bukan semata-mata rindu, Louis punya intensi lain, mengabarkan umurnya yang tak lagi panjang akhir penyakit (detailnya tidak dijabarkan). Sang ibu (Nathalie Baye) antusias menyambut kepulangan puteranya, pun Suzanne (Lea Seydoux), si adik yang mengenal Louis hanya dari dongeng atau artikel koran. Terjadi pula pertemuan perdana Louis dengan Catherine (Marion Cotillard), istri kakaknya, Antoine (Vincent Cassel) yang selalu mengantagonisasi semua orang lewat komentar pedas.
Pasca adegan pembuka berhiaskan quick cuts, gambar kontras didominasi warna biru juga iringan Home is Where It Hurts-nya Camille yang bertempo upbeat, keliaran Dolan enggan meluntur, eksklusif menyambungnya dengan berondongan kalimat cepat nan acak yang terasa melelahkan ketimbang rancak. Penonton seketika dihadang oleh sambutan keempat keluarga tokoh utama yang terasa abnormal lantaran mereka begitu cerewet, kolam tak bisa stop bicara, berteriak, mengomeli satu sama lain. Mungkin anda bakal menanggapinya menyerupai Louis yang lebih banyak membisu dan bicara seperlunya serupa dua hingga tiga patah kalimat dalam kartu pos yang ia kirim tiap ada anggota keluarga berulang tahun. 

Dolan mempertahankan penggambaran Lagarce atas keluarga disfungsional melalui pertukaran kata luar biasa canggung di mana para tokoh sering mengkoreksi grammar sendiri, seolah resah bagaimana bersikap di depan Louis, sang "stranger in the family". Catherine selalu ragu dan meminta maaf, juga Suzanne yang rahasia mengagumi Louis, sementara bagi Antoine apapun konteks pembicaraan niscaya salah di matanya. Timpal-menimpalinya terdengar aneh, menjadikan pertanyaan, "Mengapa tiap kalimat direspon negatif oleh lawan bicara? Kenapa tiap situasi berujung bentak-membentak?" Wajar, lantaran paruh kedua dari sumber adaptasinya abstrak, terdiri atas monolog demi monolog tanpa lawan bicara jelas. 
Dari situ kekacauan keluarga bisa dijelaskan, ketidaknyamanan Louis  yang mungkin memicu kepergiannya dulu  tersiratkan. Louis memang terlihat berbeda. Ketika keluarganya seolah terbiasa akan kondisi tersebut, sanggup seketika berubah dari saling hardik jadi mengobrol santai sembari tersenyum. Rasanya semua ialah bab keseharian. It's Only the End of the World pun bergerak dari nostalgia menuju masa kemudian (asal muasal hidup) karakternya sebelum final hidup (akhir hidup) menjemput menjadi drama kegagalan seseorang menemukan kawasan dalam keluarga. 

Kembali ke pernyataan di paragraf awal, Xavier Dolan sekali lagi memastikan sampul filmnya akrab bagi penonton awam meski kontennya tidak demikian. Di sela-sela riuh rendah saling serang tanpa ujung, unik mendapati I Miss You-nya Blink 182 sayup-sayup diputar dan Dragostea Din Tei milik O-Zone mengiringi gerak aerobik asal Martine dan Suzanne. Adakah signifikansi? Selain nostalgia yang mana dilakukan protagonis, terang tidak. Serupa pula sempilan flashback-nya. Pemakaian slow-motion dan sinematografi garapan Andre Turpin memastikannya terlihat artistik tapi dari sisi kontekstual, fungsinya sekedar memberi informasi tambahan, bukan penguat penokohan. Kita tahu niscaya siapa mantan pacar Louis hingga aktivitas keluarganya tiap Minggu pagi, namun tidak wacana detail hubungan atau motivasi niscaya kepergian Louis yang sejatinya sanggup memancing emosi penonton.
Mengesampingkan sederet penyesuaian ke layar lebar, Dolan setia pada naskah Lagarce. Bahkan pengadeganan film ini tak ubahnya pertunjukkan teater di mana festival utamanya ialah akting bersenjatakan kata-kata, serta abjad yang bergerak keluar-masuk frame (panggung). Kesetiaan itu berujung pisau bermata dua tatkala arah tidak menentu. Sebagai paparan realis filmnya terlampau aneh, terlebih titik puncak yang bagai final dunia (musik mencekam, warna jingga menyala seolah matahari mendekati Bumi) disusul simbolisme burung di ending. Tetapi sebagai presentasi absurd, pembiasaan Dolan amat menyederhanakan surealisme naskah Jean-Luc Lagarce kemudian mengedepankan melodrama. 

Salah satu keputusan terbaik Dolan terkait memindahkan media panggung ke film yaitu pemanfaatan close-up, dengan begitu akting memukau  terlebih ekspresi  ensemble cast-nya sanggup tertangkap sempurna. Gaspard Ulliel memperagakan gejolak dalam hati yang berusaha ditekan, ditutupi dengan senyum simpul dan kediaman. Lea Seydoux meragu, bagai burung dalam kandang terbuka yang berhasrat terbang tapi malu-malu. Marion Cotillard terbata-bata, berulang kali minta maaf, memancarkan kegamangan dari tatapan mata. Nathalie Baye penuh energi tanpa kehilangan kasih sayang hangat seorang ibu yang ia tumpahkan kala dibutuhkan. Vincent Cassel sekilas merupakan sosok terkuat, meluap-luap, gemar "memangsa" lawan bicara dan menyudutkan mereka, namun kerapuhan sosok laki-laki yang disalahartikan dan  tidak tahu cara membenarkannya amat kentara.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Bad Times At The El Royale (2018)

Banyak film bermasalah jawaban menyebabkan “kebetulan” sebagai jalan pintas malas. Karakter-karakter kebetulan bertemu, terlibat problem yang dipicu serta diakhiri oleh kebetulan. Tapi melalui Bad Times at the El Royale, Drew Goddard (The Cabin in the Woods) selaku sutradara merangkap penulis naskah, justru sengaja memainkan kondisi tersebut. Bagaimana jikalau kebetulan (atau nasib sial) membawa sekelompok orang yang masing-masing menyimpan intensi rahasia, saling bersilangan jalan di ketika yang kurang tepat? As the title suggests, what a bad time indeed at the El Royale.

El Royale merupakan hotel yang terletak di perbatasan, di mana sebelah sisi berada di California, sementara sisi lainnya di Nevada (terinspirasi Cal Neva Resort & Casino). Empat tamu: Seymour Sullivan (Jon Hamm) si salesman rasis, Daniel Flynn (Jeff Bridges) si Pendeta Katolik, Darlene Sweet (Cynthia Erivo) si penyanyi  berbakat, dan gadis hippie berjulukan Emily (Dakota Johnson); plus seorang karyawan hotel berjulukan Miles Miller (Lewis Pullman). Mereka menyimpan niatan terselubung juga masa kemudian kelam, yang satu demi satu terungkap di antara title cards bertuliskan nomor kamar daerah masing-masing tokoh menginap (atau nama atau lokasi bagi tokoh tanpa kamar).

Kisahnya mulai menyusuri arah tak terduga tatkala diam-diam El Royale terbongkar, yang alhasil turut membongkar diam-diam karakternya. Saya takkan menyebut diam-diam ibarat apa (trailer-nya telah membongkar beberapa poin), namun satu hal yang dapat saya beri tahu, bahwa titik balik alurnya ditandai momen pembuktian Goddard terkait kapasitas penyutradaraannya. Momen tersebut berupa single take melibatkan mise-en-scène memikat yang mengatakan situasi dalam 2 ruangan terpisah, disusun dengan intensitas ketat, sinematografi memukau garapan Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers, Nocturnal Animals) di mana pemakaian pantulan cermin jadi highlight, pula cerdiknya pemakaian musik Goddard. Bicara soal musik, pilihan lagu-lagu Goddard plus iringan scoring gubahan Michael Giacchino (Up, Spider-Man: Homecoming, War for the Planet of the Apes) bakal membuatmu tanpa sadar menghentakkan kaki, terhipnotis oleh alunan musik dari periode 1950-1960an.

Tapi Bad Times at the El Royale bukan sebatas gaya. Beberapa penonton mungkin bakal menganggapnya sekedar sajian Tarantino-esque berdurasi sama panjang (141 menit) namun dengan obrolan kalah tajam untuk menjaga atensi penonton mengarungi perjalanan nyaris 2,5 jam. Tidak sepenuhnya keliru. Durasinya dapat saja dipangkas, meski sejatinya, perjalanan panjang itu memang harga yang harus dibayar dalam upaya menghadirkan kekayaan penokohan. Dan sungguh harga yang setimpal.

Pemakaian flashback menghasilkan kejelasan pemahaman bagi motivasi tiap individu, sekaligus memberi mereka karakterisasi unik yang saling berlainan. Bahkan tugas kecil juga mempunyai pengaruh, misalnya Buddy Sunday (Xavier Dolan) si produser musik, yang berfungsi membangun kecurigaan serta ketidaknyamanan Darlene kepada pria, khususnya laki-laki pemilik kuasa dan pemegang otoritas. Elemen tersebut mempunyai kegunaan pula membuat pertarungan psikologis di paruh akhir, yang menghantarkan Bad Times at the El Royale menuju konklusi.

Selama 141 menit, Goddard senantiasa punya cara mempertahankan antusiasme penonton. Misalnya ketika muncul flashback di tengah klimaks, yang otomatis memangkas intensitas, sebelum Goddard berhasil membawanya kembali dengan memberi salah satu aksara momen paling badass sepanjang film. Pun menyaksikan jajaran penampilnya saling mengolah tugas terasa amat menyenangkan. Bridges ibarat biasa menjadi laki-laki renta bersuara growly yang lelah oleh kehidupan; Erivo sebagai penyanyi bersuara emas yang sulit mempercayai dunia; Johnson si perempuan tangguh yang tak segan memberantas semua penghalang; Hamm sang mesin kharisma; dan Chris Hemsworth sebagai Billy Lee, pemimpin cult kejam sarat pesona yang gemar memamerkan perut six pack guna memikat para pengikut wanitanya.

Kejutan terbesar dalam Bad Times at the El Royale ialah keberadaan alegori keagamaan. Sejak kemunculan pertama Billy Lee yang terlihat kolam kedatangan sesosok messiah, sampai bagaimana filmnya memasang perspetif mengenai Tuhan yang tidak mengenal Pendeta palsu atau Nabi palsu. Hanya ada insan baik dan buruk, dan Tuhan akan dengan bahagia hati mengulurkan tunjangan bagi sisi baik, meski tunjangan itu hadir melalui jalan yang misterius.