Showing posts with label Yayan Ruhian. Show all posts
Showing posts with label Yayan Ruhian. Show all posts

Friday, December 7, 2018

Ini Lho Comic 8: Casino Kings Part 2 (2016)

Saya bukan penggemar franchise buatan Anggy Umbara ini. Baik Comic 8 maupun Casino Kings Part 1 sama-sama gagal memaksimalkan potensi kehadiran banyak komika kelas wahid guna memberi menu komedi mengocok perut. Permasalahan terbesar ada pada keengganan franchise ini mengakui kebodohannya dan tetap berusaha keras tampil sekeren juga secerdas mungkin menghantarkan alur penuh intrik. Karena itulah menjelang perilisan Casino Kings Part 2, saya tidak lagi menyimpan impian terlampau besar. Memang begini gaya Anggy Umbara, memang menyerupai ini wajah franchise-nya. Hingga tanpa diduga filmnya justru cukup memuaskan, bahkan menjadi yang terbaik di antara ketiga film Comic 8.

Melanjutkan dongeng film sebelumnya, Casino Kings Part 2 tidak banyak berbasa-basi, eksklusif membawa penonton terjun ke tengah medan aksi. Bukan saja terjebak di tengah hutan, kedelapan komika masih harus menghadapi para pemburu yang diperankan oleh aktor-aktor senior tanah air (kecuali Sacha Stevenson dan Soleh Solihun). Sementara itu Indro dan Cynthia (Prisia Nasution) menerima serangan dari anak buah The King (Sophia Latjuba). The King sendiri mulai mengungkap identitas bekerjsama pada Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Sebagaimana kasus lain di mana chapter akhir sebuah franchise dipecah ke dalam dua bagian, Casino Kings Part 2 memang didominasi agresi titik puncak dan sedikit meminggirkan alur, yang justru merupakan nilai positif.
Menengok dua film sebelumnya, naskah karya Fajar Umbara dan Anggy Umbara memang terlalu berambisi menggabungkan segunung konflik berisi konspirasi penuh twist dengan hanya satu tujuan: mengejutkan penonton tanpa peduli masuk logika atau tidak. Sesungguhnya bukan persoalan andai filmnya memang sengaja dikemas kurang cendekia layaknya b-movie kebanyakan. Namun Comic 8 jelas ingin tampak keren dan dianggap serius. Pada Casino Kings Part 2 meski aspek tersebut masih muncul, fokus lebih condong ke arah aksi, yang mana merupakan keunggulan Anggy Umbara ('3' sudah jadi bukti). Sesungguhnya ini hal kecil alasannya ialah tidak terdapat perbedaan signifikan pada cara penghantaran film ini dengan pendahulunya. Masih penuh sesak oleh lens flare, efek CGI bernafsu (untuk buaya dan naga), serta slow motion. Walau harus diakui departemen artistik khususnya setting dan kostum masih memanjakan mata.
Hal kecil itu jadi kuat besar tatkala alurnya dinomorduakan. Minim intrik, Casino Kings Part 2 menjelma seutuhnya sebagai b-movie bodoh nan menyenangkan. Karena bagai film kelas b, saya sanggup memaafkan buruknya CGI atau kejutan konyol semisal pengungkapan identitas orisinil dari The King. Kekonyolan itu justru menjadi kekuatan. Termasuk ketika filmnya menciptakan Prisia Nasution, Hannah Al-Rashid dan Sophia Latjuba sebagai femme fatale sekaligus eye candy. Sentuhan komedi juga tidak dipaksakan hadir setiap saat. Sibuk dengan action, dagelan sekedar muncul sesekali, memberi waktu bagi penonton untuk bernafas sejenak. Kekuatan komedi masih belum mencapai puncak potensi (referensi The Raid sudah ketinggalan jaman) dan makin minimnya eksplorasi huruf tambah mengaburkan ciri khas tiap komika, tapi setidaknya lebih banyak tawa berhasil dihadirkan.

Is it a good movie? Sebenarnya tidak. Masih terdapat beberapa kekurangan yang lagi-lagi berada di seputaran terlalu banyaknya konflik serta huruf coba dilebur menjadi satu. Apabila anda menantikan agresi Barry Prima, Willy Dozan atau Yayan Ruhian mungkin bakal kecewa alasannya ialah begitu minimnya porsi mereka. Konklusi yang ditawarkan juga masih terasa dipaksakan biar cepat usai (sekaligus mengejutkan). Tapi sungguh hiburan memuaskan di tengah minimnya blockbuster dalam industri perfilman Indonesia. Saya masih tetap beranggapan gaya dari Anggy Umbara lebih efektif jikalau diterapkan dalam film pure action macam '3', namun melihat bagaimana ending film ini, tidak sanggup dipungkiri saya akan tetap dengan bahagia hati menantikan sekuel demi sekuel dari Comic 8


Ticket Powered by: ID Film Critics

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Satria Heroes: Revenge Of Darkness (2017)

Selain memuaskan penggemar, film layar lebar yang diangkat dari media lain (komik, novel, serial, game) juga berfungsi memancing ketertarikan penonton awam. Diharapkan pasca menonton film tersebut mereka ingin mengunjungi sumber adaptasinya. Bukan sebaliknya di mana untuk memahami dongeng atau menerima kepuasan menonton maksimal, penonton harus mengulik sumbernya terlebih dahulu. Saya tidak pernah menyaksikan serial BIMA Satria Garuda (2013) maupun sekuelnya, Satria Garuda BIMA-X (2014-2015). Bisa dibilang aku sama sekali buta, tak kenal identitas tokoh, kawasan atau kejadian di dalamnya. 

Melanjutkan kisah serialnya, Satria Heroes: Revenge of Darkness berisiko mengalienasi golongan non-penggemar di beberapa poin, semisal mengenai dunia paralel kawasan Ray alias Bima (Christian Loho) dan Rena (Stella Cornelia) tengah berada atau seputar antagonis berjulukan Topeng Besi yang mengambil tugas sentral khususnya di babak kedua. Untungnya jalinan dongeng dari naskah hasil goresan pena Daisuke Kihara bersama Ishimori Production tergolong sederhana, takkan menyesatkan penonton awam yang cukup memandangnya sebagai kisah pertarungan pahlawan super melawan monster jahat dengan pernak-pernik berupa portal antar-dimensi atau mitologi lain. 
Filmnya dibagi jadi tiga babak. Babak pertama (Kembalinya Bima) mengisahkan munculnya bahaya gres bagi Bumi yang semenjak kepergian Ray dan menghilangnya Reza/Azazel (Aditya Alkatiri) dijaga oleh Dimas (Fernando Surya) sang Satria Harimau Torga. Dimas mengingatkan pada para protagonis tokusatsu Jepang yang kerap bertingkah udik dan gres berwibawa kala bertarung. Fernando Surya berakting dengan antusiasme serupa. Berlebihan namun menyuntikkan energi, membuatnya lebih menarik disimak ketimbang Ray yang akhir penampilan datar Christian Loho tak ubahnya abjad sinetron Anak Jalanan. Tiap kalimat dramatis terdengar cringey, yang juga disebabkan penulisan obrolan dangkal.

Babak kedua (Arsya) menekankan drama soal Master Torga (Yayan Ruhian), Wira (Faris Fadjar Munggaran) sang murid, dan gadis cilik yang mereka selamatkan, Arsya (Safira Ratu Sofya). Fase ini sejatinya penting, memaparkan motivasi antagonis, memberi alasan personal, membuatnya bukan semata-mata penjahat megalomania. Tapi sekali lagi presentasi naskah lemah. Jangankan memancing simpati atau emosi, menjaga tensi saja tak bisa ketika keklisean "heartbroken-pupil-turns-evil" disampaikan ala kadarnya, menjadikan Arsya titik terlemah film ini. Yayan Ruhian pun gagal dimaksimalkan potensinya, lebih gemar berpetuah alih-alih pamer jurus silat. Di sini pula filmnya sering menyoroti mitologi dengan klarifikasi sepotong-sepotong sehingga hanya sanggup dimengerti penggemarnya saja.
Babak ketiga (Revenge of Darkness) ialah kenapa banyak sekali kekurangan sebelumnya layak dimaafkan sekaligus alasan Satria Heroes patut ditonton. Bersama Arnandha Wyanto, sutradara Kenzo Maihara yang berpengalaman menangani serial Kamen Rider paham betul bagaimana memaksimalkan cool factor para Satria melalui bermacam-macam wujud serta jurus masing-masing. Kegembiraan masa kecil aku kala menanti perubahan gres si jagoan berhasil Maihara hadirkan lagi, dan itu cukup menutupi fakta bahwa resolusi pertarungan yang dipilih terlampau menggampangkan, kental unsur deus ex machina

Dalam menghantarkan adegan pertarungan, Maihara tidak ragu menumpahkan bola api, kehancuran masif Jakarta, hingga jurus penuh warna cerah dalam kemasan visual imajinatif. Kualitas CGI kurang di sana-sini, tapi pemilihan jalur campy membuat keterbatasan efek bukan masalah. Tersaji festive spectacle, walau kemeriahan menyenangkan itu menanggalkan kesan mengancam pada klimaks. It's all frills with no thrills. Ditambah koreografi memikat berupa teknik bela diri tanah air, Satria Heroes: Revenge of Darkness niscaya memuaskan penonton anak, sementara orang cukup umur yang dikala kecil ditemani tontonan Kamen Rider bakal teringat masa tatkala gemar bergaya, membayangkan seolah menjadi sang pahlawan di layar kaca.

Note: Ada 1 mid-credits dan 1 post-credits scene di film ini.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Wiro Sableng: Jagoan Kapak Kematian Naga Geni 212 (2018)

Saya bukan pembaca novel Wiro Sableng karya Bastian Tito yang konon berjumlah 183 judul, pun memori akan serialnya sedikit buram lantaran usia yang masih terlalu muda untuk memproses secara lengkap, walau serupa bocah-bocah yang tumbuh di abad 90an, lagu temanya amat menancap di kepala. Tapi saya gemar membaca komik termasuk manga. Ketika sederet abjad berpenampilan kerena dengan kemampuan tak kalah keren berkumpul, bertarung bersama dalam satu pertempuran dahsyat, walau beberapa dari mereka muncul di dikala yang terlalu sempurna pula tanpa motivasi terperinci kecuali memeriahkan suasana, saya sudah dibentuk kegirangan. Itulah inti film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Kita bertemu si A, B, C, berkesempatan menyaksikan mereka langgar ilmu meski kepribadian mereka tak pernah benar-benar kita tahu. Setidaknya kita tahu wacana Wiro (Vino G. Bastian) dengan masa kemudian tragis yang tergambar di adegan pembuka tatkala melihat eksklusif Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) membantai kedua orang tuanya. Selama 17 tahun berikutnya, Wiro ditempa oleh Sinto Gendeng (Ruth Marini) yang mewariskan ilmu silat 212 beserta kapak kematian naga geni miliknya. Demikian pula Vino, meneruskan warisan sang ayah memerankan si pendekar sableng dengan baik. Bersikap kolam bocah gila, Vino bertukar canda bersama Ruth Marini, yang meski ditutupi riasan tebal, bisa menyelipkan emosi, di luar tentunya kegendengan menggelitik. Interaksi Wiro-Sinto selalu berhasil memancing tawa.

Sinto Gendeng menugaskan muridnya memburu Mahesa Birawa tanpa memberi tahu bahwa dialah pembunuh orang tuanya, lantaran fakta itu bakal menyulut nafsu balas dendam yang menggiring pendekar menuju kegelapan. Sebuah poin, yang oleh trio penulis naskahnya: Sheila Timothy (juga selaku produser), Tumpal Tampubolon (Tabula Rasa, Rocket Rain), dan Seno Gumira Ajidarma (Pendekar Tongkat Emas), dijadikan pesan filosofis yang memang wajib tersimpan dalam film martial arts.

Sepanjang perjalanan, Wiro bertemu sekumpulan tokoh-tokoh unik ibarat Dewa Tuak (Andy /rif) serta muridnya, Anggini (Sherina Munaf), Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi), dan Marsha Timothy sebagai Bidadari Angin Timur yang demikian mewah layaknya penghuni kahyangan dalam balutan gaun rancangan Tex Saverio. Akhirnya tidak ada satu pun dari nama-nama tadi yang bisa kita tinjau lebih dalam karakterisasinya, namun mereka sanggup menghadirkan interaksi hidup dengan jagoan kita, sehingga di sela-sela agresi pun hiburannya tetap berjalan lancar.

Senang mendapati di dalam ambisi membuat blockbuster raksasa yang digarap luar biasa serius, film ini tidak bersikap “sok serius” dikala bertutur. Karena di antara memori-memori buram di kepala, satu hal yang saya ingat niscaya terkait serial Wiro Sableng yakni elemen kerasnya dunia persilatan dan kejenakaan yang saling mengisi dan berpadu mulus. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 terbukti menghormati warisan pendahulunya, dengan pola terbaik pada satu adegan ketika satu sosok familiar muncul sementara musik yang tak kalah familiar turut mengalun di belakang.

Yayan Ruhian yakni Mahesa Birawa, pemimpin sekelompok durjana yang berencana merebut tampuk kekuasaan dari Raja Kamandaka yang diperankan Dwi Sasono, yang melafalkan kalimat memakai bunyi tenggorokan layaknya Christian Bale sebagai Batman, sebagai perjuangan menjauhkan cap “komedian”. Bukan saja berakting, Yayan turut memegang posisi pengarah laga, memastikan setiap baku hantam terjalin dinamis. Beruntung, biarpun ini merupakan satu langkah mengejar pencapaian Hollywood, Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Surat dari Praha, Bukaan 8) urung terserang penyakit banyak film agresi produksi mereka yang menerapkan quick cut plus shaky cam overdosis. Kamera Ipung Rachmat Syaiful (Kala, Janji Joni, Surga yang tak Dirindukan 2) bergerak seperlunya, menangkap cukup terperinci tiap jurus para pendekar. Sayang, satu kelemahan justru bertempat pada satu pukulan pamungkas yang menjadikan puncak pertarungan berakhir antiklimaks.

Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 telah memancing obrolan ketika 20th Century Fox melalui bendera Fox International Productions turut serta memproduksi filmnya. Alhasil biaya sebesar US$ 3 juta atau sekitar Rp 44 miliar pun didapat. Angka yang besar bagi kita, namun tergolong mikro pada lingkup Hollywood (that’s even smaller than “The Raid 2: Berandal”), sehingga kurang bijak apabila berharap parade CGI sekelas blockbuster seharga ratusan juta dollar. CGI diterapkan sempurna guna, memperlihatkan hasil mumpuni terlebih kala membungkus bermacam-macam jurus, dengan salah satu momen paling menarik dikala Kala Hijau (Gita Arifin) terjun ke medan pertempuran. Tapi elemen visual Wiro Sableng bukan sebatas CGI. Departemen artistiknya, dari dekorasi istana selaku panggung titik puncak yang berkilauan sampai tata busana yang berjasa mengkreasi tokoh-tokoh berpenampilan ikonik, amat memuaskan mata. Terima kasih pada Adrianto Sinaga (Ada Apa dengan Cinta?, Tusuk Jelangkung) dan tim.

Gangguan justru diciptakan tata suaranya. Musik garapan Aria Prayogi (dwilogi The Raid, Killers, Headshot) berusaha terdengar bombastis, dan ya, gempuran perkusinya sanggup menghadirkan intensitas di aneka macam momen laga, tapi sewaktu bertemu celetukan-celetukan karakternya, terjadi perlombaan berat sebelah melawan kalimat yang aktornya ucapkan. Kalimat-kalimat yang kerap tenggelam, sulit dicerna, memaksa saya mengandalkan subtitle Bahasa Inggris guna memahami obrolan Bahasa Indonesia.

Jadi begitulah. This isn’t a great movie, but definitely a highly entertaining one. Hiburan yang memahami cara memancing tawa, hiburan yang tahu bagaimana membuat suguhan, yang walau tak mendalam, tersaji nikmat, apalagi tatkala klimaksnya menempatkan nyaris seluruh abjad dalam pertarungan meski tak seluruhnya dipersatukan dalam satu frame dan beberapa di antaranya bertindak selaku deus-ex-machina. Pastinya, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 telah membuka jalan blockbuster Indonesia melangkah ke tingkat lebih tinggi. Jangan segera beranjak dari kawasan duduk begitu film usai, lantaran terdapat mid-credits scene yang menyiratkan musuh besar berikutnya, yang diperankan salah satu bintang film terbesar Indonesia sekarang.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Beyond Skyline (2017)


Beyond Skyline dibuka ketika seorang perempuan (Lindsey Morgan) tengah terbaring dalam perawatan, yang identitasnya gres terungkap pada penghujung. Bahkan besar kemungkinan "rahasia" tersebut sanggup penonton pahami di pertengahan, ketika tanpa urgensi, sang perempuan sekilas muncul lagi, memperlihatkan betapa buruknya naskah buatan Liam O'Donnell yang juga menduduki bangku sutradara. Dan serupa The Brothers Strauese, duo sutradara Skyline, walau O'Donnell bukanlah pencerita handal, kisah fiksi ilmiah mengenai alien kentara merupakan passion-nya.


Itulah mengapa tatkala efek visualnya buruk, O'Donnell bisa mengemas momen invasi secara menghibur, membangkitkan sisi kanak-kanak kalangan penonton menyerupai saya, yang terobsesi akan makhluk abnormal berukuran masif. Tidak peduli seberapa besar perjuangan anggota LAPD berjulukan Mark (Frank Grillo) untuk melindungi Trent (Jonny Weston) dalam hubungan renggang ayah-anak yang dipaparkan dangkal, perhatian tetap tertuju pada alien pemburu otak insan dan ibu hamil yang menyerang dengan mecha berwujud monster raksasa. Dalam semangat film kelas B, O'Donnell tak segan menampilkan mereka di siang bolong walau kurang didukung CGI memadahi.
Namun itu hanya pelopor sementara. Perlu jalinan dongeng menarik, intensitas, atau agresi seru demi menjaga atensi penonton. Beyond Skyline lemah terkait ketiganya. Alurnya setipis kertas, apalagi begitu Mark dan kawan-kawan singgah di pesawat luar angkasa, berputar di lingkup "Frank Grillo berjalan menyusuri satu per satu ruangan" dan "alien memandangi layar". Sekalinya adegan agresi merangsek, O'Donnell gagal memanfaatkan maskulinitas Grillo, yang kita ingat betul sanggup merepotkan Captain America di The Winter Soldier hingga memikul beban menghidupkan The Purge: Anarchy seorang diri.

O'Donnell bersama sinematografer Christopher Probst kurang cakap mengemas sudut kamera agar adegan agresi tereskalasi dari sebatas baku hantam generik menjadi sajian pemacu adrenalin. Demikian pula bumbu horor/thriller yang urung mencapai kengerian tinggi sebagaimana dijanjikan momen klaustrofobik sewaktu Frank dan Audrey (Bojana Novakovic) mendapatkan pesan misterius untuk jangan menatap sinar. Bicara soal Bojana Novakovic, sayangnya sang aktris kerap melucuti potensi tensi akhir akting kaku dengan teriakan-teriakan yang tidak terang maksudnya. 
Penulisan O'Donnell tambah awut-awutan tatkala coba melebarkan mitologi, menyerupai ketiadaan paparan mengenai otak insan yang sanggup melawan kontrol alien. Bahkan guna mencapai titik terbaik film, tepatnya ketika setting berpindah ke Laos (pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Batam), Beyond Skyline harus terlebih dahulu melewati bermacam-macam bentuk penulisan naskah buruk, sebutlah perselisihan pegawapemerintah lokal melawan kartel narkoba pimpinan Sua (Iko Uwais) yang sekedar tempelan, hingga fakta bahwa tragedi di dua lokasinya bagai dua dongeng berbeda yang dipaksa menyatu.

Bukan didorong nepotisme, tetapi Iko Uwais dan Yayan Ruhian memang aspek terbaik Beyond Skyline. Aksi keduanya hadir agak terlambat dan terlampau singkat, namun mendapati mereka menghabisi sederet alien disokong koreografi garapan Yayan Ruhian menghasilkan kepuasan penebus segala kelemahan sebelumnya. Ini menegaskan, betapa Iko juga Yayan sanggup seketika melambungkan kualitas suatu sajian laga, termasuk Beyond Skyline yang berakhir sebagai B-movie menghibur, atau setidaknya guilty pleasure.