Showing posts with label Yayu AW Unru. Show all posts
Showing posts with label Yayu AW Unru. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Night Bus (2017)

Kalau tidak salah kabar pembuatan film ini sudah didengungkan oleh Darius Sinathrya sang produser semenjak 2014 dan sempat mengadakan crowdfunding. Dibuat menurut cerpen Selamat buatan Teuku Rifnu Wikana yang sebagai hasil penuangan pengalamannya di tahun 1999 kala terjebak di bus selama 12 jam ketika melewati tempat konflik berjulukan Sampar, Night Bus memang terasa ambisius. Bagaimana tidak? Mayoritas alurnya bertempat di satu lokasi (bus malam) serta berisi belasan tokoh yang oleh Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana selaku penulis naskah coba diseimbangkan porsinya. Hasilnya ialah sajian berkonsep segar yang meski punya kekurangan di sana-sini, mampu menonjol di antara thriller lokal sejauh ini.

Sebuah bus malam yang disopiri Amang (Yayu AW Unru) siap mengarungi perjalanan selama 12 jam menuju Sampar. Berdasarkan dongeng si kondektur (Teuku Rifnu Wikana), di sana sedang meletus konflik antara militan penuntut kemerdekaan dan pemerintah. Alhasil sepanjang perjalanan mereka harus melewati pengecekan di beberapa pos militer. Penumpang bus terdiri dari bermacam-macam orang dengan tujuan sendiri-sendiri, ada wartawan, perempuan renta yang hendak berziarah ke makam puteranya bersama sang cucu, sepasang kekasih cukup umur pencari kerja, dan lain-lain. Tanpa diduga pertikaian makin sengit, bahkan turut menyeret para penumpang lebih dalam, mengancam nyawa mereka. Rahasia yang dipendam masing-masing pun mulai terungkap. 
Sempat timbul dugaan Night Bus sejatinya belum siap rilis. Selain molornya proses produksi, beberapa dilema teknis yang menciptakan premiere-nya sempat tertunda berjam-jam hingga batalnya penayangan di banyak kota dengan alasan serupa jadi pemicu perkiraan tersebut. Tapi itu kisah di balik layar yang sulit dibuktikan kebenarannya. Dari hasilnya, Night Bus kentara mengusung ambisi besar pula digarap serius. Production value-nya tidak main-main, menciptakan gambarnya yummy dipandang khususnya sewaktu Anggi Frisca sang sinematografer tahu cara merangkai visual enjoyable walau didominasi ruang sempit minim cahaya. Ketepatan menempatkan kamera dan bermain warna jadi kunci. 

Kesan mahal menguat tatkala imbas CGI kerap menghiasi. Tentu saya tak mengharapkan kualitas nomor satu, tapi di tengah keterbatasan, penggunaan CGI-nya nampak berlebihan di aneka macam kesempatan semisal kobaran api dan puing reruntuhan atau helikopter selaku cara klise menunjukkan militer tengah bergerak. Padahal tanpa CGI clumsy itu penonton sudah memahami situasinya. Aspek sound mixing turut menyimpan masalah. Acap kali menggunakan bahasa dan logat daerah, ketiadaan subtitle mengharuskan tata bunyi solid biar gampang dicerna. Kebutuhan itu gagal dipenuhi, berujung banyak obrolan samar-samar. Paling fatal dikala kalimat dari Mahdi (Alex Abbad) yang mengandung poin alur kunci diucapkan dengan berbisik, mengharuskan penonton berkonsentrasi ekstra mengolah kata demi kata.
Di luar kelemahan teknis, Night Bus masih thriller menegangkan yang mampu memaksa penonton mencengkeram dingklik kemudian menahan nafas. Emil Heradi bersedia meluangkan waktu membangun intensitas ketimbang pribadi meledakkannya, terlebih dulu mempermainkan antisipasi penonton, memancing atmosfer harap-harap cemas. Sewaktu teror kesannya menampakkan diri, alih-alih terbatasi setting sempit, Emil mampu menyeret penonton ikut duduk di dalam bus, menyebarkan ketakutan serupa penumpangnya. Sementara musik karya Yovial Tri Purnomo Sigi terdengar dramatis, tepat menemani gejolak mencekam filmnya. 

Sayang, perjuangan Emil membangun ketegangan tak jarang bertele-tele, diseret terlalu usang sebelum masuk ke sajian utama. Dipaksa menanti ketika tahu akan terjadi sesuatu khususnya terkait paparan horor atau thriller memang asyik, tapi bila penantian itu terlampau panjang dan sering, rasanya mengesalkan. Saya berkali-kali dibentuk gemas jawaban Emil gemar berlama-lama berkutat di momen kurang penting ibarat aksara berjalan atau bicara perlahan dengan tempo lambat pula. Tambah melelahkan jawaban repetitifnya bentuk teror yang dihadapi. Sekitar empat kali bus bertemu sebuah rombongan, dihentikan, kemudian penumpang dipaksa turun. Hal ini berlangsung hingga konklusi membungkus cerita. Tidak heran durasi mencapai 135 menit. 
Durasi tersebut turut dipengaruhi kerapnya naskah memasukkan momen non-esensial. Tujuannya baik, supaya penonton memahami setiap tokoh yang mana berhasil dicapai. Setidaknya saya tahu siapa dan apa motivasi masing-masing dari mereka. Tapi sesudah berkali-kali melihat tingkah Kondektur (diperankan begitu baik oleh Teuku Rifnu Wikana sehingga walau tampak seenaknya, ia tetap berperasaan dan likeable), perlukah adegan menari mengikuti musik sambil mabuk untuk menegaskan bahwa beliau sosok nyeleneh? Penegasan berulang ini berkontradiksi dengan kesubtilan naskah dalam memprsentasikan kompleksitas konflik. 

Rahabi Mandra bersama Teuku Rifnu cukup piawai menjalin kaitan antar fakta tanpa mesti gamblang bertutur, sepenuhnya menyerahkan proses penyusunan keping-keping puzzle pada penonton. Jalinan kisahnya memang rumit, namun suatu kerumitan yang selaras dengan kekacauan dunianya. Sebuah dunia di mana kekuasaan disalahgunakan, ambisi pribadi dipentingkan, di mana para pemegang kekuatan saling berseteru, meninggalkan masyarakat biasa yang lemah terombang-ambing di tengah sebagai korban tak berdaya. Sungguh kejam si kuat, sungguh malang si lemah. Di luar setumpuk kekurangannya, Night Bus kuat menghasilkan ketegangan juga lantang menyuarakan pesan.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Jelita Sejuba: Menyayangi Kesatria Negara (2018)

Saya seringkali menghindari film lokal bertema militer. Kecenderungan glorifikasi ditambah aksara yang terlampau tepat jadi penyebab utama. Menengok judulnya, saya menduga Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara takkan jauh-jauh dari golongan di atas. Sampai para tokoh tentara mulai diperkenalkan, dan saat salah satu kalimat pertama yang terucap yaitu selorohan “mambu entut” selaku respon terhadap aroma ikan asap, saya lega. Mereka bukan sosok kelewat kaku yang selalu mengucap kata-kata bernada nasionalisme selain “siap Ndan!”, melainkan sebagaimana insan biasa, gemar berkelakar. Wajar Sharifah (Putri Marino) si gadis Natuna beserta kedua sahabatnya terpikat.

Mereka bertiga pula kreator ikan asap tadi, sebagai salah satu hidangan di warung Jelita Sejuba milik keluarga Sharifah. Nantinya, melalui Sharifah juga, naskah buatan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?, Petualangan Sherina, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) dan Krisnawati menggambarkan apa yang mesti dihadapi istri-istri TNI. Apa saja kesulitan maupun resiko dalam mengasihi kesatria negara. Jaka (Wafda Saifan Lubis dalam debut akting layar lebar yang tidak mengecewakan) yaitu kesatria yang dimaksud. Walau mengasihi Jaka, Sharifah tak perlu diingatkan dua kali oleh ayahnya (Yayu Unru) bahwa profesi prajurit bakal menciptakan laki-laki idamannya sering ditugaskan ke daerah jauh dalam hitungan bulan bahkan tahun.
Membentang dari awal pertemuan yang malu-malu sebelum benih romantika tumbuh, perpisahan pertama yang tak terasa layaknya perpisahan, pertemuan kembali yang berujung pernikahan, sampai usaha merawat anak sembari mencari nafkah tatkala sang suami berada di seberang lautan, kisah Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara memang memiliki cakupan waktu yang cukup luas. Menjadi tokoh sentral, Putri Marino menampilkan transformasi mulus sehingga tumbuh kembang Sharifah nampak meyakinkan. Mencapai pertengahan durasi, tanpa saya sadari, remaja aktif, ceriwis nan usil ini telah matang juga dewasa. Satu hal yang urung berubah yakni aura positif.

Baik ketiadaan sang suami atau himpitan finansial tak pernah menjatuhkan Sharifah, meski ada satu-dua momen di mana kerapuhannya memuncak, yang mana berfungsi menjauhkan aksara dari ketabahan berlebihan. Putri Marino dianugerahi senyum (bukan cuma di mulut, pula mata) yang sanggup memancing senyum, bahkan meluluhkan hati siapa saja yang melihat. Senyum miliknya berperan besar menguatkan Sharifah sebagai aksara perempuan yang enggan terjatuh. Film ini memang melodrama, namun bukan eksploitasi dongeng merana. Komedi, baik lewat interaksi jenaka para gadis dan prajurit maupun sosok Nazar (Harlan Kasman) dengan catchphraseyele yele yele” yang bakal sulit dihapus dari ingatan, senantiasa menyegarkan suaasana.
Pun penyutradaraan Ray Nayoan (Takut: Faces of Fear segmen “Peeper”, Sinema Purnama segmen “Dongeng Ksatria”) menampakkan dinamika serupa. Ada kesan senang-senang yang dibawa sang sutradara agar karyanya ini tidak kaku. Misalnya sewaktu Sharifah bersama Jaka menjalani produser militer panjang sekaligus berbelit sebelum melangsungkan pernikahan. Bagi Sharifah, proses tersebut terasa menyebalkan nan melelahkan, tetapi Ray menentukan mengedepankan sisi jenaka dalam acara itu, lengkap dengan transisi asyik (anda akan tahu transisi menyerupai apa yang saya maksud). Berkat deretan poin plus di atas, kekurangan pada jalinan alur yang amat formulaik dan nihil perspektif gres (tanpa film ini pun kita tahu istri tentara harus harus berjuang menghadapi penantian dan ketidakpastian) pantas dimaafkan.

Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara berpeluang menghadirkan titik puncak intens yang turut menyimpan potensi emosi, sayang, pererakan buru-buru menuju konklusi, pun masih belum cakapnya Ray Nayoan membungkus agresi di medan perang melucuti sederet keunggulan terpendam itu. Biar begitu, penutupnya menyiratkan poin bermakna mengenai kehadiran Jaka dalam hidup Sharifah. Baik pribadi atau tidak, semenjak kali pertama Jaka menginjakkan kaki di warung Jelita Sejuba, ia berperan menyatukan keluarga Sharifah. Karena Jelita Sejuba sendiri, menyerupai merujuk pada pernyataan ibunda Sharifah (Nena Rosier), yaitu “tempat untuk pulang”, atau dengan kata lain perwujudan keluarga. Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara bukan cuma cinta di tataran romantika, juga keluarga.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Something In Between (2018)

Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films bisa tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat biar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di dingklik sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.

Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melaksanakan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, ibarat obrolan puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada final bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, lantaran mengungkap peristiwa selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang cowok yan tetapkan kembali ke Indonesia dari London sehabis ia terus bermimpi ihwal sebuah kawasan dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi Sekolah Menengan Atas yang saling cinta.

Tidak ada alasan besar lengan berkuasa mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), lantaran keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya lantaran mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema ialah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya materi pembicaraan. Gema sendiri beralasan jikalau “Menyukai Maya lantaran tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi menyayangi dalamnya?”. Tidak masuk nalar memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan lisan gombal. Something in Between menekan obrolan (sok) puitisnya hingga ke takaran yang sanggup dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah sikap antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali terkenal di dongeng cinta Sekolah Menengan Atas perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup membuat nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa ndeso ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan efek kejut, juga mengakibatkan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar hubungan berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, hingga Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang renta Maya, semua menerima kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan lantaran ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri dongeng sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya mewaspadai sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

Ini Lho Menunggu Pagi (2018)

Musik elektronik, narkoba, kehidupan malam, alkohol, hingga pijat plus-plus. Menunggu Pagi punya semuanya. Berikan materinya pada sineas lain, besar kemungkinan filmnya bakal berakhir sebagai perayaan klise soal hedonisme, pemberontakan, atau apa pun yang meneriakkan “We’re young and free!”. Tapi di tangan sutradara sekaligus penulis naskah Teddy Soeriaatmadja (Banyu Biru, Ruma Maida, Lovely Man), Menunggu Pagi (secara mengejutkan) jadi perjalanan melintasi dunia malam dan hiruk pikuk gelaran Djakarta Warehouse Project (DWP) yang terasa damai.

Karakter utamanya ialah Bayu (Arya Saloka) yang mengelola toko vinyl bersama dua sahabatnya, Kevin (Raka Hutchision) dan Adi (Bio One). Bayu menyukai musik dance, juga menikmati berkumpul bersama teman-temannya. Tapi dari perkataannya, ia tak menyukai kawasan ramai. Itulah alasannya menolak seruan Kevin tiba ke DWP. Apalagi di waktu bersamaan, hati Bayu tengah terganjal akhir problem dengan mantan kekasihnya (Putri Marino) yang masih ia cintai.

Merujuk pernyataan Kevin, Bayu merupakan “teman yang seru”, walau terkadang, ia enggan berkumpul dan menentukan menghabiskan waktu sendirian. Bisa dipahami. Beberapa orang memang bisa menjadi sosok tergila, namun di kesempatan lain Cuma ingin membisu menyendiri. Bayu demikian. Layaknya antitesis terhadap stereotip bagi para cowok yang menikmati kehidupan malam sambil menari mengikuti alunan musik dance. Menunggu Pagi ialah cerita mengenai individu semacam itu. Bahwa dalam keliaran malam kota besar, tinggal pula manusia-manusia lembut yang merindukan cinta ikhlas ketimbang sekedar alat pemuas nafsu.

Kemudian hadir Sarah (Aurelie Moeremans), mantan Kevin yang jengah oleh perilaku kekasihnya, Martin (Mario Lawalata). Martin berprofesi sebagai DJ, tapi juga seorang pengedar yang terlibat permasalahan dengan seorang bos kriminal (Yayu Unru) akhir melarikan narkoba miliknya. Sebagai kekasih, Martin begitu posesif, pernah menghajar laki-laki hanya lantaran ia mengirim SMS kepada Sarah, padahal dirinya sendiri terlibat kekerabatan gelap. Sewaktu Sarah menangkap berair perselingkuhan Martin sempurna di hari jadi mereka, ia pun merasa cukup.

Sewaktu Sarah mengunjungi toko vinyl untuk mengambil tiket DWP proteksi Kevin, pertemuan dengan Bayu pun terjadi. Tidak butuh waktu usang bagi keduanya menjalin ikatan lewat mendengarkan musik berdua dalam situasi yang mengingatkan saya pada adegan “music booth” milik Before Sunrise (1995), yang kebetulan juga mengisahkan perjalanan dua sejoli menunggu datangnya pagi.

Sebelum pertemuan tersebut, Bayu sempat menanyakan alasan Kevin mengakhiri hubungannya dengan Sarah. Kevin tidak memberi tanggapan gamblang, melainkan bicara soal 2 jenis wanita: mereka yang dari luar nampak liar tapi jelek di ranjang, dan mereka yang terlihat polos tapi liar dalam urusan seks. Mengingat Kevin digambarkan sebagai cowok yang haus akan seks, kita tahu Sarah termasuk kategori mana berdasarkan Kevin. Itu membuat ketertarikan Sarah dan Bayu masuk akal. Mereka merindukan sentuhan rasa di tengah bulat insan yang memuja sentuhan fisik. Sarah mengajak Bayu tiba ke DWP bersamanya. Bayu setuju, alasannya ialah sebelumnya ia memberi persyaratan pada Kevin, bahwa ia bersedia hadir andai mendapat pengalaman baru. Ini ialah pengalaman baru. Tepatnya cinta baru. Tapi Bayu bakal mendapat lebih.

Teddy mengakibatkan kehidupan malam selaku panggung di mana hal-hal gila sanggup terjadi. Tidak ada satu konflik besar berkelanjutan saat Teddy membawa penonton dalam perjalanan satu malam yang melibatkan perkelahian di kelab, kejar-kejaran mobil, teler akhir imbas halusinogen yang di satu titik membuat momen terlucu sepanjang film, dan lain-lain, meski akhirnya, hal tergila yang karakternya alami ialah menemukan cinta. They found love in a hopeless place and situation.

Hubungan Bayu-Sarah meski mempunyai pondasi kuat, sayangnya minim waktu sekaligus kesempatan guna dikembangkan secara meyakinkan. Beruntung jajaran pemain sanggup meniupkan nyawa. Mayoritas dari mereka belum tampil dalam kapasitas luar biasa, namun cocok memerankan tokoh masing-masing. Aurelie mirip biasa merupakan api dalam film yang ia lakoni, sedangkan Arya Saloka menyerupai angin lembut yang membuat nyala api itu semakin besar. Mario sempurna sebagai laki-laki frustasi yang meledak-ledak, begitu pula Bio One yang harus memasang lisan teler nyaris sepanjang durasi. Tapi penampil terbaik ialah Yayu Unru. Cukup lewat 2 adegan, sang pemain film senior bisa menebar ngeri sebagai bandar narkoba intimidatif.

Sekali lagi Teddy memamerkan penyutradaraan solid, dengan alur yang mengalir mulus, ditambah kapasitas menangani adegan-adegan dengan tingkat kesulitan tinggi, mirip kejar-kejaran kendaraan beroda empat dan konser. Bukan kebut-kebutan pemacu adrenalin, tapi mengingat Menunggu Pagi bukan suguhan aksi, menghindari kesan canggung saja sudah sebuah prestasi. Puncak pencapaian teknisnya tatkala DWP berlangsung. Teddy, dibantu penyuntingan cermat Eric Kurniawan Primasetio, mixing suara menawan, serta pengambilan gambar arif dari Robie Taswin (Filosofi Kopi, Bukaan 8), berhasil mereka ulang kemeriahan bazar itu. Kombinasi rekaman orisinil dari pihak DWP dengan buatan tim film ini (yang menampilkan para aktor) bersatu padu. Wajar apabila anda sempat menduga seluruhnya diambil pribadi di lokasi.

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho A Man Called Ahok (2018)

Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi secara umum dikuasai rakyat Indonesia niscaya tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar beling menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang kesannya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan perihal keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang disesuaikan dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang sanggup pribadi kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu jawaban praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai laki-laki penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang kemudian memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil goresan pena sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut kisah yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai laki-laki penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu bisa ia satukan untuk membentuk huruf yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar sehabis 3 tahun—selaku pemain film Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta derma yaitu conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa cukup umur Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia gres kembali ke Belitung sehabis merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga sanggup memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan huruf Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah terang dua huruf berbeda.

Daniel Mananta melaksanakan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak asing dari depan), walau ada kalanya ia terlihat menyerupai karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu konkret dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melaksanakan pendalaman ekstra, alasannya yaitu jikalau tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes lantaran memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang ketika Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang tepat merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan semoga filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita kesannya datang di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena ketika itu, mudah semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin lantaran anggapan “Kamu tidak bisa menciptakan film perihal politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melaksanakan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh menyerupai Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Posesif (2017)


Posesif karya Edwin (Babi Buta Yang Ingin Terbang, Kebun Binatang) yaitu drama romantis yang akan meruntuhkan, atau setidaknya menampar gagasan wacana "romantis" itu sendiri. Di mana kata "selamanya", alih-alih membuai justru menghasilkan teror yang berperan besar membentuk toxic relationship dalam percintaan kekinian. Sayang sekali harus ada kontroversi terkait 10 nominasi FFI yang dipandang banyak pihak (termasuk saya) tidak pantas. Padahal memandang kualitasnya, mau bertarung di FFI tahun berapa pun, takkan sulit bagi Posesif untuk menjadi unggulan.

Dipandu naskah Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Rudy Habibie), film ini diawali layaknya romantika remaja Sekolah Menengan Atas kebanyakan. Lala (Putri Marino), siswi Sekolah Menengan Atas sekaligus atlet loncat indah peraih medali PON, menemukan cinta pertama begitu bertemu Yudhis (Adipati Dolken), sang siswa baru. Tapi dari situasi familiar itu pun kita langsung diperlihatkan kepekaan Edwin merangkai momen Istimewa berbekal kesederhanaan. Dari dialog pertama secara rahasia ketika Lala hanya sanggup melihat kaos kaki Yudhis di bawah meja, hingga "ikatan" yang terpaksa dijalin jawaban eksekusi guru olahraga galak (Ismail Basbeth), bisa menghembuskan nyawa bagi benih asmara keduanya. Karena cinta tak melulu butuh nyanyian atau karangan bunga supaya bersemi.
Katanya, cinta butuh perhatian biar bertahan. Perhatian itu sanggup diberikan Yudhis untuk Lala, yang di waktu bersamaan merasa dinomorduakan oleh sang ayah (Yayu Unru) yang juga pelatihnya. Namun lama-kelamaan, perhatian itu berubah jadi kekangan. Yudhis membatasi kegiatan Lala, menjajah ruang privasinya, bahkan mempersulitnya sekedar bergaul dengan para sahabat. Yudhis bersikap posesif, malah cenderung abusive. Pertanyaannya, apakah sebutan itu hanya pantas dialamatkan padanya seorang? Apakah ayah Lala dengan tuntutan biar sang puteri berprestasi di loncat indah, ibu Yudhis (Cut Mini) yang memaksa puteranya meneruskan tradisi keluarga, atau bahkan pihak sekolah beserta bermacam-macam hukum seragamnya juga layak dikategorikan posesif?
Secara tersirat tetapi tegas, skrip Gina S. Noer menyatakan sikap posesif bukan pribadi terjadi dalam pacaran apalagi di kalangan milenial belaka. Konsep posesif dipaparkan sebagai hasrat fundamental insan mengatur seseorang yang dirasa berharga, dimiliki, atau di bawah kendali, tidak peduli siapa dan umur berapa. Terkait toxic relationship antara dua tokoh utama, naskahnya menolak memakai alur fantastis. Semua berjalan linier, tanpa kejutan, tanpa tikungan mendadak. Fokus dialamatkan pada galian psikis mendalam soal penokohan termasuk motivasi mereka. 

Mudah menghakimi Yudhis yang mengekang, lalu melaksanakan kekerasan. Namun Posesif menyelam lebih jauh, menelusuri penyebab yang kesannya menciptakan kata "mudah" tak lagi sempurna digunakan menyikapi problem tersebut. Demikian pula mengenai Lala yang berusaha mendapatkan sikap sang kekasih, juga tindakan mengatur ayah dan ibu masing-masing. Segalanya tetap tak bisa dibenarkan, tapi Posesif mengajak penonton memahaminya biar terhindar dari sikap judgemental. Sebab soal psikis memang kompleks dengan judgemental selaku musuh terbesarnya.
Demi observasi mumpuni, pondasi naskah perlu didukung penampil yang tidak kalah kuat. Adipati Dolken memastikan abjad Yudhis mempunyai pesona yang bisa mengambil hati Lala, sembari menebar kengerian dari tatapan mata penuh kebencian pun secara bersamaan menyiratkan derita. Ditambah lagi emosi fluktuatif yang pastinya menuntut jangkauan akting lebar. Putri Martino jadi tandem sepadan, piawai memberikan kegelisahan remaja di tengah ombang-ambing menuju pintu pendewasaan. Jangan lupakan pula betapa ia meyakinkan memerankan juara loncat indah. Sedangkan Yayu Unru menjaga biar simpati penonton tidak menjauh, menegaskan sosok ayah Lala sekedar kurang lancar memberikan rasa sayangnya ketimbang seorang adikara bengis.

Edwin sang sutradara sendiri turut bertransformasi. Sebagai veteran arthouse tanah air, dibawanya bekal-bekal yang cocok, ibarat pertunjukan gambar anggun dibantu sinematografi garapan Batara Goempar (Aach...Aku Jatuh Cinta) hingga keengganan menerapkan trik dramatisasi murahan ibarat musik bergelora asal masuk. Justru menarik mendapati beberapa kombinasi visual artsy dengan lantunan lagu terkenal macam Dan dari Sheila on 7 atau No One Can Stop Us-nya Dipha Barus. Manis nan ringan di luar, mencengkeram sekaligus bernyawa di dalam. Posesif bagai pernyataan dari Edwin bahwa film berkualitas tak perlu pretensius.