Showing posts sorted by relevance for query american-horror-story-hotel. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query american-horror-story-hotel. Sort by date Show all posts

Thursday, December 13, 2018

Ini Lho American Horror Story: Hotel (Episode 4 - 7)

Berikut ialah review untuk "American Horror Story: Hotel" episode 4 hingga 7. Untuk ulasan episode 1 hingga 3 sanggup dibaca disini.

4 - DEVIL'S NIGHT
Episode Istimewa Halloween selalu menjadi highlight bagi serial ini. "Devil's Night" pun mengatakan premis yang menjanjikan hal serupa. Setahun sekali tiap malam Halloween, James March mengadakan pesta makan malam yang dihadiri beberapa tamu undangan. Pembeda jamuan ini dari lainnya ialah fakta bahwa tamu seruan March merupakan para pembunuh berantai legendaris Amerika yang telah usang mati. Dengan banyaknya serial killers"hell break loose" adalah apa yang aku harapkan. Sayang, "Devil's Night" berakhir sebagai episode Istimewa Halloween paling mengecewakan dalam sejarah penayangan AHS. Adegan pembunuhan disajikan terlalu "jinak" dengan darah mengalir seadanya. Narasinya terlalu banyak menghabiskan waktu menceritakan bagaimana mereka sanggup hingga mengenal James March. Alhasil potensi para pembunuh tersia-siakan. Hanya Lily Rabe sebagai Aileen Wuornos yang mencuri perhatian meski akting campy-nya tentu tak sanggup dibandingkan dengan totalitas Charlize Theron. Dialog turut jadi salah satu kelemahan terbesar episode ini. Penulisan naskahnya menggelikan, juga diperparah oleh sanksi cheesy. Obrolan John Lowe dan Miss Evers jadi salah satu bukti. Tanpa ada pengaruh pada keseluruhan narasi kecuali selipan arc milik Alex, "Devil's Night" menjadi episode yang terbuang percuma. (2.5/5)
5 - ROOM SERVICE
Here's a perfect example of how the best and worst thing of "American Horror Story" mixed into one. Hal terburuk terletak pada narasi bertumpuk. Terdapat subplot wacana Iris yang "terlahir kembali", Alex dengan kehidupan gres sebagai vampir, flashback masa kemudian Liz Taylor dan kisah pasien Alex, seorang bocah berjulukan Max. Memaksakan kisah sebanyak itu dalam satu episode berujung pada eksplorasi buru-buru. Perubahan langsung Iris dan Max terlalu cepat, sulit untuk diterima. Khusus untuk Max, berkembang menjadi vampir haus darah seharusnya tidak hingga menciptakan ia menjadi pembunuh berdarah hambar yang profesional dalam menjalankan aksi. Terdapat pula continuity error saat Donovan yang sebelumnya telah "sadar" sekarang kembali berusaha memanfaatkan sang ibu. Tapi disaat bersamaan "Room Service" memiliki sisi terbaik khas AHS, yakni kegilaan menghibur. Pembantaian di sekolah yang melibatkan bawah umur sebagai pembunuh, hingga "kegilaan" Iris sanggup memberi senyum kepuasan berkat sajian gory. Kisah Liz pun menjadi background story terbaik di ekspresi dominan kelima sementara ini yang diperkuat oleh penampilan simpatik Denis O'Hare. Episode ini juga memantapkan tone kelam "Hotel", ketika jadinya tidak ada satupun huruf "putih". Semuanya twisted dan bermasalah. Dan jikalau anda teliti, ada obrolan yang berpotensi sebagai foreshadowing tentang identitas "The Ten Commandments Killer". (3.5/5)
6 - ROOM 33
Seks, seks, dan seks. Dengan itu Hotel membuka episode keenamnya. I love that, tapi aspek paling mengejutkan justru ketika koneksi antara ekspresi dominan ini dengan "Murder House" semakin gamblang. Adegan pembuka ber-setting tahun 1926 menunjukkan Elizabeth mendatangi sebuah kawasan yang familiar. Bagi sebagian penggemar koneksi ini sudah sanggup diprediksi jauh hari, tapi melihatnya menjadi konkret tentu memberi kepuasan lain. Sisi lain sang Countess pun terungkap disini, bukan sekedar vampir berdarah hambar yang menyukai seks liar. Dia sama ibarat huruf lain; ringkih dan terluka. Episode ini turut mengukuhkan Denis O'Hare sebagai hal terbaik Hotel. Untuk pertama kalinya ada huruf dalam "American Horror Story" yang menarik simpati sebesar Liz Taylor. Terdapat satu adegan yang (unexpectedly) terasa menyentuh berkaitan dengan karakternya pada episode ini. I'm on her side now. Disisi lain masih ada John dengan kegilaannya yang repetitif dan membosankan, juga Alex yang sekarang justru coba menghancurkan psikis suaminya itu. Twisted and terrifying story, but lack of depth. Episode memuaskan berhiaskan hati dan menyibak misteri mengerikan di balik kamar nomor 33. (3.5/5)
7 - FLICKER
This is the last episode before mid-season break that closed the first-half of "Hotel" with quality. Episode ini menghabiskan separuh durasi untuk flashback menuju Hollywood tahun 1925. Untuk pertama kalinya kita melihat Countess sebelum bertransformasi menjadi vampir. Tidak hanya memberi eksplorasi lebih dalam pada dia, flashback ini juga mengaitkan banyak sekali titik plot, karakter, serta membuka tabir misteri Hotel Cortez. Eksekusi flashback-nya pun menawan berkat kisah menarik yang karakter-sentris, pula style ala film Hollywood pra-suara. Saya menyukai tarian antara Countess, Valentino (Finn Witrock) dan Natacha (Alexandra Daddario) yang berujung pada threesome. Elegan, intens, seksi. "Flicker" turut menyelipkan tribute sekaligus observasi pada Hollywood lewat obsesi karakternya menjadi "dewa" yang dipuja banyak orang. Begitu episode ini berakhir, tiap huruf telah mempunyai lebih banyak layer, bukan sekedar monster haus darah. Terdapat kekurangan minor ibarat penghantaran obrolan dan penyaluran emosi Gaga yang tak terlalu kuat, hingga make-up-nya ketika makan malam bersama March (those eyebrows!). Tapi aku menyukai bagaimana Gaga sanggup memberi perbedaan pada Countess sebelum dan sesudah transformasi. Kekurangan tersebut tak merubah status "Flicker" sebagai salah satu episode terbaik ekspresi dominan ini. Penutup tepat bagi babak pertama "Hotel". (4/5)

Ini Lho American Horror Story: Hotel (Episode 1 - 3)

Setelah kekecewaan terhadap Freak Show (which is the worst of AHS), saya tidak menggantungkan ekspektasi tinggi kepada animo kelima ini. Ryan Murphy boleh menjanjikan Hotel sebagai game changer, tapi kehilangan Jessica Lange yang merupakan magnet terbesar serial ini terperinci patut dikhawatirkan. Sekarang sesudah saya menyadari batasan dongeng yang ditulus Ryan Murphy dan Brad Falchuk, hanya satu impian yang saya pasang: batshit crazy! Kegilaan tanpa henti yang menciptakan saya jatuh cinta pada Asylum (musim kedua) sudah akan cukup memuaskan meski ceritanya kacau sekalipun. 
Berikut yaitu ulasan tiap episode dari American Horror Story: Hotel yang akan di-update tiap minggunya:

1 - CHECKING IN
Kita pribadi dibawa memasuki Hotel Cortez yang berdiri megah nan elegan dengan ornamen lantai sebagai tribute pada The Shining. Ada Iris (Kathy Bates) sang resepsionis tidak ramah, bartender cross dressing bernama Liz Taylor (Denis O'Hare), Sally (Sarah Paulson) si perempuan pucat berambut aneh, dan tentunya Elizabeth a.k.a The Countess (Lady Gaga) yang haus darah. Kita tahu mereka akan mengakibatkan Hotel Cortez sebagai ladang pembantaian banjir darah. Disisi lain ada Detektif John Lowe (Wes Bentley) yang tengah menangani beberapa perkara pembunuhan misterius. Inilah yang saya tunggu dari AHS: eksploitasi. Freak Show kehilangan semangat bersenang-senang dan Hotel berhasil mengembalikannya. Seorang laki-laki dengan kedua bola mata tercongkel, tangan terpaku ke dinding, dan kemaluan masih menancap di mayit seorang wanita. Pria itu masih hidup namun tidak sanggup berteriak sebab lidahnya dipotong. Lalu ada sosok The Addiction Demon yang bersenjatakan bor sebagai dildo untuk menyodomi seorang pecandu narkoba. Lady Gaga mungkin tidak punya pesona sekuat Lange, tapi merepresentasikan Hotel yang kental sisi glamor, sensualitas (I love the orgy bloodbath scene) serta adiksi. Sarah Paulson dan Denis O'Hare menjadi scene stealer dengan performa eksentrik keduanya. Ketiadaan Lange dan Paulson bukan sebagai perempuan "baik-baik" memperlihatkan kesan asing, seolah ini bukan episode AHS. Ceritanya tentu masih tidak kokoh, tapi selama kegilaan eksploitasi masih setia menghiasi, antusiasme saya terhadap Hotel bakal terjaga. (3.5/5)

2 - CHUTES AND LADDERS
Setelah "kemeriahan" episode perdana, Hotel akhirnya mulai mengeksplorasi ceritanya. Kita dipertontonkan asal seruan Hotel Cortez yang dibangun oleh James March (Evan Peters) pada 1925 sebagai kawasan penyaluran hobinya membantai orang. Terasa menyegarkan melihat satu lagi regular cast serial ini memainkan sosok berbeda. Evan Peters bukan lagi cowok yang "terperangkap". Dia kolam bangsawan psikopat yang dengan penuh ego serta harga diri melaksanakan pembunuhan. "Siapa" atau mungkin lebih tepatnya "apa" Elizabeth (Lady Gaga) pun mulai menemukan sisi terang. Tinggal menunggu saja flashback untuk pendalaman huruf di beberapa episode mendatang. Gaga memang tidak sekuat Lange dalam penghantaran dialog, tapi beliau yaitu every men's wildest imagination yang membawa sisi sensual American Horror Story pada tingkatan tertinggi. Dari sudut pandang cerita, Chutes and Ladders menjanjikan kisah menarik. Sekarang tinggal bagaimana Ryan Murphy dan Brad Falchuk tidak mengacaukan itu dengan hasrat memasukkan hal sebanyak mungkin. Jangan hingga pula Hotel berubah menjadi "iklan layanan masyarakat" mengenai anti-narkoba atau alkohol. Keep the message subtle, and it'll be fine. Pastinya episode ini menerangkan bahwa AHS semakin tasteless lewat gore dan seks-nya. And I love that! (4/5)

3 - MOMMY
Seperti judulnya, episode ini lebih banyak menyoroti drama ibu dan anak. Alex (Chloe Sevigny) masih memendam sedih akhir hilangnya Holden. Sekilas flashback memperlihatkan sisi depresif Alex dalam beberapa waktu pasca peristiwa tersebut. Maka disaat Scarlet bercerita wacana pertemuannya dengan Holden, Alex pun merasa puterinya itu sengaja ingin menyakiti perasaannya. Sedangkan Iris masih mendapatkan penolakan dari sang putera, Donovan (Matt Bomer). Dramanya tidak akan terasa emosional meski ada performa menyayat hati seorang Kathy Bates. Tapi terdapat poin plus, sebab Mommy menjadi turning point dalam dua kisah ibu-anak di atas. Setelah episode ini baik Alex maupun Iris tidak akan terasa sama lagi yang mana menarik dinanti. Episode ini banyak beristirahat sesudah kegilaan sebelumnya. Kesenangan mengendur, tapi fungsi utama Mommy adalah memperlihatkan tease sekaligus pondasi bagi konfik-konflik yang akan datang. Dari semua hal baru, kehadiran Ramona Royale (Angela Bassett), mantan kekasih Elizabeth yang berniat membalas dendan kepada sang Countess jadi yang paling menarik. Tidak sabar menanti konfrontasi Lady Gaga dan Angela Bassett. (3/5)

Wednesday, December 12, 2018

Ini Lho American Horror Story: Hotel (Episode 11-12)

Berikut yakni review untuk "American Horror Story - Hotel" episode 11 dan 12 (finale). Untuk review episode-episode sebelumnya sanggup dilihat pada link di bawah:
11 - BATTLE ROYALE
Dua episode terakhir rutin jadi momentum "AHS" untuk secepatnya memberi resolusi terhadap segala arc. Hasilnya selalu sama; penuh kejutan dan peristiwa penting namun terburu-buru sehingga impact yang dibutuhkan tak maksimal. "Hotel" bukan pengecualian, dan itu terpampang terperinci disini. "Battle Royale" melanjutkan cliffhanger ketika Liz dan Iris memberondong Countess dengan peluru. Dia terluka parah namun bertahan hidup. Setelah kegagalan itu, Liz dan Iris menentukan membebaskan Ramona untuk sanggup membunuh Countess. Sementara John yang mesti berburu guna memberi suplai darah pada Alex dan Holden masih harus berurusan dengan March. Banyak hal esensial terjadi. Dua orang tewas, satu diam-diam terbongkar, dan kembalinya abjad dari ekspresi dominan ketiga (Coven). Menghibur, tapi terlalu banyak hal terjadi tanpa tension building memadahi sehingga hanya sekedar lalu. Terlebih suatu keputuan yang diambil Ramona menciptakan pengembangan karakternya selama ini sia-sia, meskipun jadi hal gres nan menarik melihat Countess dalam kondisi tak berdaya baik fisik dan mental. Entertaining indeed, but that's it. (3.5/5)

12 - BE OUR GUEST
Akhirnya "Hotel" mencapai episode finale, momen dimana kebanyakan ekspresi dominan AHS justru mencapai titik nadir akhir efek konklusi terburu-buru. Tapi tidak untuk kali ini. Liz dan Iris karenanya mengambil alih Hotel Cortez dan berusaha memulai awal baru, merubah wajah hotel menjadi lebih baik, tanpa pertumpahan darah, tanpa tragedi. Untuk itu mereka harus bisa meyakinkan para arwah haus darah di dalamnya. "Be Our Guest" tidak lebih dari extended epilogue bagi tiap karakter. Alurnya nihil, lebih seakan-akan adonan beberapa segmen. Secara kelayakan storytelling hal ini buruk, tapi untuk pertama kalinya, "American Horror Story" memperlihatkan final yang layak mengenai nasib tokoh-tokohnya. Kelayakan itulah yang memunculkan kepuasan dalam diri saya, apalagi secara nuansa, finale ini termasuk happy ending dibanding pendahulu-pendahulunya. Minim ketegangan tapi rasa puas sungguh mendominasi. Ditambah konsistensi performa Dennis O'Hare sebagai Liz Taylor, abjad terbaik sepanjang sejarah penayangan AHS, jadilah "Be Our Guest" penutup sempurna. (4/5)

CONCLUSION: "Hotel" mengembalikan kepercayaan sekaligus antusiasme aku akan serial ini. Tentu bukan ekspresi dominan terbaik AHS, tapi terperinci jauh diatas "Freak Show" yang membosankan itu. Menyenangkan pula melihat para reguler macam Evan Peter, Sarah Paulson dan Dennis O'Hare memerankan tokoh yang amat berbeda dibanding peran-peran mereka sebelumnya. Mungkin Lady Gaga belum sepadang dengan Jessica Lange, tapi untungnya "Hotel" yakni ekspresi dominan tanpa tokoh sentral. Masing-masing punya kesempatan bersinar, mengemban beban yang ditinggalkan Lange secara kolektif. Musim kelima ini juga dengan baik mengaitkan diri dengan musim-musim sebelumnya, sehingga universe bagi AHS terbentuk rapih. Bila harus menciptakan ranking tiap musim, begini kira-kira versi saya:

ASYLUM > COVEN > MURDER HOUSE = HOTEL > FREAK SHOW

Thursday, December 6, 2018

Ini Lho American Horror Story: Hotel (Episode 11-12)

Berikut yakni review untuk "American Horror Story - Hotel" episode 11 dan 12 (finale). Untuk review episode-episode sebelumnya sanggup dilihat pada link di bawah:
11 - BATTLE ROYALE
Dua episode terakhir rutin jadi momentum "AHS" untuk secepatnya memberi resolusi terhadap segala arc. Hasilnya selalu sama; penuh kejutan dan peristiwa penting namun terburu-buru sehingga impact yang dibutuhkan tak maksimal. "Hotel" bukan pengecualian, dan itu terpampang terperinci disini. "Battle Royale" melanjutkan cliffhanger ketika Liz dan Iris memberondong Countess dengan peluru. Dia terluka parah namun bertahan hidup. Setelah kegagalan itu, Liz dan Iris menentukan membebaskan Ramona untuk sanggup membunuh Countess. Sementara John yang mesti berburu guna memberi suplai darah pada Alex dan Holden masih harus berurusan dengan March. Banyak hal esensial terjadi. Dua orang tewas, satu diam-diam terbongkar, dan kembalinya abjad dari ekspresi dominan ketiga (Coven). Menghibur, tapi terlalu banyak hal terjadi tanpa tension building memadahi sehingga hanya sekedar lalu. Terlebih suatu keputuan yang diambil Ramona menciptakan pengembangan karakternya selama ini sia-sia, meskipun jadi hal gres nan menarik melihat Countess dalam kondisi tak berdaya baik fisik dan mental. Entertaining indeed, but that's it. (3.5/5)

12 - BE OUR GUEST
Akhirnya "Hotel" mencapai episode finale, momen dimana kebanyakan ekspresi dominan AHS justru mencapai titik nadir akhir efek konklusi terburu-buru. Tapi tidak untuk kali ini. Liz dan Iris karenanya mengambil alih Hotel Cortez dan berusaha memulai awal baru, merubah wajah hotel menjadi lebih baik, tanpa pertumpahan darah, tanpa tragedi. Untuk itu mereka harus bisa meyakinkan para arwah haus darah di dalamnya. "Be Our Guest" tidak lebih dari extended epilogue bagi tiap karakter. Alurnya nihil, lebih seakan-akan adonan beberapa segmen. Secara kelayakan storytelling hal ini buruk, tapi untuk pertama kalinya, "American Horror Story" memperlihatkan final yang layak mengenai nasib tokoh-tokohnya. Kelayakan itulah yang memunculkan kepuasan dalam diri saya, apalagi secara nuansa, finale ini termasuk happy ending dibanding pendahulu-pendahulunya. Minim ketegangan tapi rasa puas sungguh mendominasi. Ditambah konsistensi performa Dennis O'Hare sebagai Liz Taylor, abjad terbaik sepanjang sejarah penayangan AHS, jadilah "Be Our Guest" penutup sempurna. (4/5)

CONCLUSION: "Hotel" mengembalikan kepercayaan sekaligus antusiasme aku akan serial ini. Tentu bukan ekspresi dominan terbaik AHS, tapi terperinci jauh diatas "Freak Show" yang membosankan itu. Menyenangkan pula melihat para reguler macam Evan Peter, Sarah Paulson dan Dennis O'Hare memerankan tokoh yang amat berbeda dibanding peran-peran mereka sebelumnya. Mungkin Lady Gaga belum sepadang dengan Jessica Lange, tapi untungnya "Hotel" yakni ekspresi dominan tanpa tokoh sentral. Masing-masing punya kesempatan bersinar, mengemban beban yang ditinggalkan Lange secara kolektif. Musim kelima ini juga dengan baik mengaitkan diri dengan musim-musim sebelumnya, sehingga universe bagi AHS terbentuk rapih. Bila harus menciptakan ranking tiap musim, begini kira-kira versi saya:

ASYLUM > COVEN > MURDER HOUSE = HOTEL > FREAK SHOW

Wednesday, December 12, 2018

Ini Lho American Horror Story: Hotel (Episode 8 - 10)

Berikut ialah review untuk "American Horror Story: Hotel" episode 8-10. Untuk review episode-episode sebelumnya sanggup dilihat disini:
Episode 1-3
Episode 4-7
8 - THE TEN COMMANDMENTS KILLER
Ini bukan saja episode pertama semenjak break, tapi juga selepas salah satu episode terbaik demam isu ini. Kaprikornus terdapat beban berat yang ditanggung olehnya. Untuk itulah, Ryan Murphy yang turun tangan menulis naskah sedari awal eksklusif memberi jawaban atas salah satu misteri terbesar, yakni identitas The Ten Commandments Killer. Tapi untuk sebagian penonton, identitas sang pembunuh sudah bisa ditebak semenjak lama. Kaprikornus ketika Murphy memfokuskan satu episode untuk memberi jawaban sambil mengeksplorasi motif sang pembunuh lewat flashback, daya tarik gagal muncul. Ditambah lagi Murphy menyuntikkan segala ke-cheesy-an yang menjadi ciri (negatif) miliknya untuk mengeksplorasi kekacauan psikis seorang tokoh. Tentu tidak berhasil. Full of cheesy dialogue, self-loathing, and shallow exploration of madness, this episode is such a borefest. Makin memperburuk keadaan ketika Murphy berusaha keras mengaitkan tiap benang merah -yang kusut- dalam pemaparan identitas sang pembunuh. Saking kacaunya sampai terkesan jawaban misteri gres dibentuk belakangan, bukan rencana semenjak awal. Episode terburuk "Hotel" sejauh ini. (2/5)
9 - SHE WANTS REVENGE
If you're a long fans of this series, than you already know when it's getting closer to the finale, everything will start to be such a mess. Story arc bertumpuk bakal secepat mungkin dituntaskan, menciptakan alur menjadi terburu-buru, kacau, bertumpuk. Episode yang giliran menampilkan Brad Falchuk selaku penulis naskah ini menawarkan tanda-tanda serupa. Awalnya ibarat akan berfokus pada Countess, tak butuh waktu usang untuk berpindah menuju abjad lain beserta flashback mereka. Saling bertumpukan tanpa meninggalkan kesan, tapi sutradara Michael Uppendahl mampu mengemasnya dengan rapih sampai kekacauan lebih jauh pun terhindarkan. Falchuk clearly did a better job than Murphy, yang ditunjukkan oleh dongeng masa kemudian Ramona. Kita dibawa melihat bahwa dibalik sosoknya yang berambisi balas dendam itu ada masa kemudian tragis dan kehangatan seorang anak dengan orang tuanya. Overall masih kacau, tapi setidaknya kekacauan ini cukup menyenangkan. Tentu ketika Lady Gaga menerima porsi lebih (seperti biasa) akan ada seks "panas" dan adegan telanjang (those stars on her breast though). (3/5) 
10 - SHE GETS REVENGE
Melalui episode terakhir sebelum mid-break ini "Hotel" menandakan bahwa fokus lebih pada Liz selalu berujung tontonan memuaskan. Liz tidak ingin lagi melanjutkan hidup tanpa Tristan, dan menentukan untuk bunuh diri sebelum dicegah oleh Iris. Karena, jikalau masih ada urusan yang belum selesai, arwah Liz akan selamanya gentayangan di Hotel Cortez. Untuk itu ia mengambil keberanian bertemu kembali dengan sang putera yang tak pernah ditemuinya selama 31 tahun. Saat karenanya reuni terjadi, kehangatan yang terasa, apalagi berkat respon emosi dari Denis O'Hare. Reuni juga terjadi antara John dan Alex, dimana mereka harus menuntaskan kekacauan tanggapan pembunuhan berantai yang dilakukan vampir anak-anak. Melegakan mendapati John bukan lagi tokoh clueless dengan kegilaan tak menarik. Tapi disaat arc-nya harus bersanding bersama dongeng Liz, pesonanya pudar. "She Gets Revenge" tidak aib terlihat "konyol" asalkan menghibur, ibarat suatu joke tentang video norak buatan Iris serta jumlah followers Instagram-nya. And the ending is amazingly hilarious yet cool at the same time. Saya tidak bisa menahan diri untuk tertawa sambil bertepuk tangan. It's one of the coolest moment in the history of "American Horror Story" that also leaves the audience with a nice touch of cliffhanger. (4/5)