Showing posts with label Abimana Aryasatya. Show all posts
Showing posts with label Abimana Aryasatya. Show all posts

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Petualangan Menangkap Petir (2018)

Petualangan Menangkap Petir yakni film menyenangkan dengan tokoh sentral anak-anak, meski bukan film anak yang sepenuhnya berhasil. Sebab bila terlontar pertanyaan mengenai pesan apa yang sanggup diserap, saya hanya bisa menjawab, “Jadi orang renta jangan protektif secara berlebihan”, dan “Cobalah memahami harapan anak”. Sebagai film anak, karya penyutradaraan ketiga Kuntz Agus (#republiktwitter, Surga yang Tak Dirindukan) ini malah lebih lantang mengkritisi kalangan cukup umur walau meluangkan sepanjang durasi menyoroti acara huruf bocahnya. Mungkin ini hasil proses bawah sadar ketika para pembuatnya, serupa salah satu obrolan yang mereka tulis, kerap “lupa cara menjadi anak kecil”.

Tujuan dasar Petualangan Menangkap Petir bahwasanya sederhana, yakni melecut supaya belum dewasa tak ragu mengejar mimpi, juga berpetualang ke luar rumah, bertemu teman-teman faktual ketimbang melulu berkutat di balik gadget dan dunia maya. Tapi dalam konteks film ini, bila pokok-pokok bahasan di atas dirunut kembali, semua duduk perkara justru berpangkal di orang renta ketimbang anak. Bukan sang anak, Sterling (Bima Azriel) yang meragu, melainkan sang ibu, Beth (Putri Ayudya) yang mengekang. Semua tergantung pada Beth. Masalah hanya akan tuntas ketika Beth yang tersadar, bukan Sterling.

Meninjau situs personalnya, sanggup disimpulkan Beth yakni seorang penggiat soal pendidikan terhadap anak, yang kerap membahas bagaimana semoga anak bisa bermain sesuka hati, bersenang-senang tanpa perlu membahayakan diri dengan keluar rumah. Berbanding terbalik dengan sang suami, Mahesa (Darius Sinathrya), yang sejatinya ingin Sterling mengeksplorasi dunia luar, namun enggan menyulut duduk perkara dengan Beth. Sterling, yang selama ini tinggal di Hong Kong, menjadi YouTuber tenar berkat bermacam-macam konten kreatif, berinteraksi dengan ribuan “teman” meski tak ada satu pun pernah ia temui langsung.

Kesuksesan itu menciptakan Sterling berat hati kala orang tuanya tetapkan pindah ke Jakarta. Sementara persiapan kepindahan dilakukan, Sterling dititipkan di  rumah kakeknya (Slamet Rahardjo) di Selo, Boyolali. Kekhawatiran bakal merasa jengah lantaran tinggal di kampung seketika sirna pasca bertemu Gianto alias Jaiyen (Fatih Unru) dengan segala gairahnya soal film khususnya akting. Mengetahui acara Sterling di YouTube, Jaiyen pun eksklusif mengajaknya menciptakan film mengenai legenda Ki Ageng Sela yang konon, sanggup menangkap petir ketika tengah bertani.

Aktivitas Sterling di Selo mengasyikkan, apalagi bagi penonton menyerupai saya yang berasal dari tempat pedesaan di Jawa. Semua terasa familiar, dari lokasi hingga cara interaksi penuh selorohan menggelitik warga berlogat setempat, termasuk kemunculan singkat duo Pangsit-Benjo sebagai penjual jamu tradisional. Para pemeran ciliknya pun tampak menikmati, yangjadi elemen terkait anak terbaik di film ini. Bima Azriel apik memerankan seorang bocah yang jengah atas tekanan bertubi-tubi ibunya. Bima memperlihatkan menyerupai apa kekesalan terpendam yang pelan-pelan dipupuk, menunggu meledak di kemudian hari. Keberhasilan Putri Ayudya memerankan ibu super protektif yang memudahkan kita mendukung “pemberontakan” Sterling. Jangan kaget jikalau Beth mengingatkan pada sosok-sosok di sekitar anda.

Tapi pencuri perhatian terbesar tetap Fatih Unru yang bukan cuma mahir mengocok perut, juga melakoni momen dramatik. Ada adegan ketika ia dituntut melaksanakan akting dalam akting, dan itu tampak meyakinkan, mematenkan Jaiyen sebagai pondasi motivasi pengejaran mimpi filmnya. Agak asing bahwasanya ketika motivasi motivasi itu tiba dari sosok pendukung ketimbang Sterling yang seringkali sekedar mengikuti kemauan sobatnya. Jaiyen sendiri bicara kolam orang cukup umur penggemar film alih-alih anak kecil dengan kemurnian mimpinya. Eddie Cahyono (Siti) dan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta? Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) selaku penulis naskah berusaha memposisikan diri sebagai anak kecil, kemudian gagal, kolam pemeran yang berakting buruk.

Guna menolong proses pembuatan film, Sterling dan Jaiyen meminta dukungan dua videografer pernikahan, Arifin (Abimana Aryasatya) dan Kriwil (Arie Kriting), yang konon pernah menciptakan film fenomenal, namun secara tersirat disampaikan bahwa mereka tak pernah menyelesaikan karya itu, sehingga menyebarkan mimpi serupa kedua bocah tersebut. Menurut Ifa Isfansyah selaku produser eksekutif, Petualangan Menangkap Petir didasari mimpinya bersama Kuntz Agus menciptakan film anak dan film wacana film. Sayang, mereka sulit menahan diri untuk tidak menyelipkan filosofi mengenai film, menyerupai kalimat “film itu magis” atau penyebutan istilah macam “Mise-en-scène”, yang terdengar kurang pas di film anak. Semoga beruntung menjelaskan artinya pada belum dewasa anda. Hal-hal “ke-sinema-an” tadi dicuapkan Abimana, yang balasannya memerankan huruf “serius tapi santai” menyerupai ketika mencuri perhatian tujuh tahun kemudian di Catatan Harian Si Boy walau penokohan Arifin sendiri dangkal.

Seperti saya sebutkan di awal, di luar setumpuk kelemahannya, Petualangan Menangkap Petir masih sebuah tontonan menyenangkan. Kuntz Agus bisa membungkus kegiatan karakternya menciptakan film dengan seru. Bocah-bocah ini tidak peduli meski cuma berbekal properti buatan tangan seadanya juga akting sebisanya, lantaran mereka hanya berniat bersenang-senang. Setidaknya Petualangan Menangkap Petir berpotensi menyediakan alternatif kegiatan aktif bagi anak: Membuat film. Walau lagi-lagi, berdasarkan film ini, semuanya tergantung pada orang tua. 

Ini Lho The Night Comes For Us (2018)

The Night Comes for Us dibentuk oleh laki-laki cukup umur asing yang mewujudkan mimpi berair masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah, kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh: The Story of Ricky.

Saya membubuhkan tanda petik pada kata “realistis” lantaran sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo Tjahjanto sepanjang 2018 ini terperinci tidak memerlukan logika, baik dalam pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo berdiri ialah dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan masakan sehari-hari insan di dalamnya . Wajar, alasannya dalam dunia ini Triad memegang kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.

Ito (Joe Taslim) merupakan salah satu anggota Six Seas, enam laki-laki dan perempuan pilihan dengan identitas misterius yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti menghalalkan segala cara supaya semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik berjulukan Reina (Asha Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, kemudian berbalik menghabisi anak buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya, termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.

Berikutnya ialah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan sedikit flashback, sedikit pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita goresan pena Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi cuek tanpa emosi, kecuali dikala Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal menghipnotis pertumbuhannya.

Tapi itu dongeng di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini ialah proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana ia bisa membungkus tiap janjkematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan, sampai tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan darah bahkan belahan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita melihat serpihan tubuh mereka.

Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas, Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi buatan Iko Uwais—yang menyerupai biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi dinamika serta menciptakan penonton mencicipi pengaruh dari beberapa pukulan dan tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi  (The Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.

Sulit menentukan mana pertarungan terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama dikala Fatih (Abimana Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus kematangan menangani obrolan yang tak terduga muncul di film macam ini.

Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali kalau ada film lanjutan), Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator (Julie Estelle). Bermula di kamar kemudian berlanjut ke lorong penuh belahan tubuh manusia, sekuen ini mengambarkan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah), Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi mengambarkan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia dikala ini. Karakter yang bisa memutus jari tangannya sedemikian santai menyerupai The Operator terperinci perlu dibuatkan filmnya sendiri.

Ketiga tentu saja titik puncak Joe melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna. Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang tak kalah “meledak”, sama-sama  menembus batas, baik dari sisis karakternya yang bertarung sampai titik (atau banjir?) darah penghabisan, maupun usaha keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi mengakibatkan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama, namun The Night Comes for Us merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan bahagia hati saya kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna menikmati pertarungannya secara terpisah.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Warkop Dki Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (2017)

Jangkrik Boss! Part 2 terjangkit penyakit yang jamak menyerang sebuah proyek film besar yang dipecah jadi dua bagian. Ketika Part 1 merupakan kekacauan menyenangkan yang melompat cepat dari satu keserampangan menuju keserampangan berikutnya, deretan dagelan Part 2 terasa dipaksa bergulir selama mungkin demi memenuhi kuota dua film panjang dengan masing-masing berdurasi sekitar 90 menit. Ide Anggy bersama partner penulisan naskahnya, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya sejatinya segar, namun kerap berlarut-larut, seringkali menurunkan efektivitas. Adegan perpustakaan ialah pola paling nyata. Untungnya masih terdapat setumpuk amunisi lain.

Langsung melanjutkan final film pertama, Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bersama Sophie (Hannah Al Rashid) melanjutkan petualangan mencari harta karun di Malaysia. Setelah melalui kejadian yang melibatkan ketiganya dalam eksperimen aneh, akhirnya Nadia (Nur Fazura), si gadis berbaju merah yang kopernya tertukar dengan mereka di bandara berhasil ditemukan. Pencarian harta karun pun berlanjut di suatu pulau kosong yang tidak hanya memunculkan kejutan khas Anggy Umbara, juga kegilaan yang meneruskan kegemaran Warkop bermain-main menggabungkan komedi dan berbagai genre.
Sebelum masa 90-an dengan image "jalan-jalan ke pantai melihat cewek seksi" usungan film produksi Soraya (mengisi sebagian fase film ini), Warkop mencapai puncak kualitas lewat bermacam-macam bentuk. Manusia 6.000.000 dollar adalah sci-fi, Chips satir sosial bersampul dongeng kepolisian, Depan Bisa Belakang Bisa kental unsur detektif, sampai petualangan di IQ Jongkok dan horor dalam Setan Kredit. Dua judul terakhir jadi pondasi utama Jangkrik Boss! Part 2 yang sesampainya pada klimaks, "banting setir" ke ranah fantasi imajinatif (sebelum ditutup oleh ending yang begitu tiba-tiba). Serupa karya Anggy Umbara sebelumnya, transisinya kasar, seketika tumpah semata-mata demi twist tak terduga. Tapi ada faktor lain yang membuatnya bermakna: homage

Pada dasarnya Warkop DKI Reborn adalah proyek penghormatan ambisius yang coba meleburkan setumpuk film beserta gaya bercanda Warkop DKI, dan third act Jangkrik Boss! Part 2 mengeskalasi homage-nya ke level lebih tinggi pun lebih luas, kolam membawa penonton menyusuri dunia berisikan ikon perfilman tanah air masa 70 hingga 80-an (termasuk Rhoma Irama seperti nampak di trailer). Sebuah langkah kreatif dari Anggy dan tim menyatukan mereka dengan Warkop DKI  yang mana juga berasal dari masa itu  sebagai bungkus. Bukan berhenti selaku penghormatan saja, sekuen tersebut pun luar biasa lucu (clue: Soto), menjadi pencapaian terbaik dari keliaran pikir Anggy yang sebelumnya, termasuk di film ini, punya persentase keberhasilan dan kegagalan berimbang. 
Dua pertiga awal Jangkrik Boss! Part 2 cenderung hit-and-miss akibat cita-cita membuat humor seaneh mungkin. Beberapa berlangsung datar, termasuk repetisi dagelan meta, kala atas dasar tribute, filmnya (terlalu) sering breaking the fourth wall yang mana termasuk kebolehan Warkop DKI dahulu. Toh kali ini pilihan Anggy menekankan absurditas komedi, menolak melangkah di "jalur aman" layak dikagumi. Terlebih ada "adegan soto" yang membayar lunas sederet kekurangan lain, sekaligus mengingatkan betapa keunggulan Warkop terletak pada keluwesan improvisasi mengolah kata dalam komedi verbal. Kecerdasan berkelakar yang sayangnya tertutup gambaran "film cewek seksi berbikini di pantai" akhir banyak pihak lebih familiar dengan Warkop masa Soraya yang mendominasi televisi. 

Trio Abimana-Vino-Tora masih tampil bagus, walau daya kejut hasil perubahan ketiganya otomatis berkurang sebab telah memasuki film kedua. Abimana tetap dengan salah satu transformasi tugas terbaik di perfilman kita yang bisa memancing tawa walau hanya bangun membisu (sebelum film dimulai ada iklan Top White Coffee yang ia bintangi, silahkan bandingkan). Vino kian apik memasang ekspresi. Salah satu penyebab "adegan soto" bekerja begitu baik ialah respon konyol miliknya. Tora mengakali karakterisasi Indro yang belum sesolid dua rekannya lewat totalitas kejenakaan di tiap kesempatan, layaknya penyerang yang mampu memanfaatkan peluang mencetak gol sekecil apapun. Sewaktu humor tidak konsisten bekerja maksimal, ketiganya membuat Jangkrik Boss! Part 2 selalu menarik disimak.