Showing posts with label Alex Abbad. Show all posts
Showing posts with label Alex Abbad. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Night Bus (2017)

Kalau tidak salah kabar pembuatan film ini sudah didengungkan oleh Darius Sinathrya sang produser semenjak 2014 dan sempat mengadakan crowdfunding. Dibuat menurut cerpen Selamat buatan Teuku Rifnu Wikana yang sebagai hasil penuangan pengalamannya di tahun 1999 kala terjebak di bus selama 12 jam ketika melewati tempat konflik berjulukan Sampar, Night Bus memang terasa ambisius. Bagaimana tidak? Mayoritas alurnya bertempat di satu lokasi (bus malam) serta berisi belasan tokoh yang oleh Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana selaku penulis naskah coba diseimbangkan porsinya. Hasilnya ialah sajian berkonsep segar yang meski punya kekurangan di sana-sini, mampu menonjol di antara thriller lokal sejauh ini.

Sebuah bus malam yang disopiri Amang (Yayu AW Unru) siap mengarungi perjalanan selama 12 jam menuju Sampar. Berdasarkan dongeng si kondektur (Teuku Rifnu Wikana), di sana sedang meletus konflik antara militan penuntut kemerdekaan dan pemerintah. Alhasil sepanjang perjalanan mereka harus melewati pengecekan di beberapa pos militer. Penumpang bus terdiri dari bermacam-macam orang dengan tujuan sendiri-sendiri, ada wartawan, perempuan renta yang hendak berziarah ke makam puteranya bersama sang cucu, sepasang kekasih cukup umur pencari kerja, dan lain-lain. Tanpa diduga pertikaian makin sengit, bahkan turut menyeret para penumpang lebih dalam, mengancam nyawa mereka. Rahasia yang dipendam masing-masing pun mulai terungkap. 
Sempat timbul dugaan Night Bus sejatinya belum siap rilis. Selain molornya proses produksi, beberapa dilema teknis yang menciptakan premiere-nya sempat tertunda berjam-jam hingga batalnya penayangan di banyak kota dengan alasan serupa jadi pemicu perkiraan tersebut. Tapi itu kisah di balik layar yang sulit dibuktikan kebenarannya. Dari hasilnya, Night Bus kentara mengusung ambisi besar pula digarap serius. Production value-nya tidak main-main, menciptakan gambarnya yummy dipandang khususnya sewaktu Anggi Frisca sang sinematografer tahu cara merangkai visual enjoyable walau didominasi ruang sempit minim cahaya. Ketepatan menempatkan kamera dan bermain warna jadi kunci. 

Kesan mahal menguat tatkala imbas CGI kerap menghiasi. Tentu saya tak mengharapkan kualitas nomor satu, tapi di tengah keterbatasan, penggunaan CGI-nya nampak berlebihan di aneka macam kesempatan semisal kobaran api dan puing reruntuhan atau helikopter selaku cara klise menunjukkan militer tengah bergerak. Padahal tanpa CGI clumsy itu penonton sudah memahami situasinya. Aspek sound mixing turut menyimpan masalah. Acap kali menggunakan bahasa dan logat daerah, ketiadaan subtitle mengharuskan tata bunyi solid biar gampang dicerna. Kebutuhan itu gagal dipenuhi, berujung banyak obrolan samar-samar. Paling fatal dikala kalimat dari Mahdi (Alex Abbad) yang mengandung poin alur kunci diucapkan dengan berbisik, mengharuskan penonton berkonsentrasi ekstra mengolah kata demi kata.
Di luar kelemahan teknis, Night Bus masih thriller menegangkan yang mampu memaksa penonton mencengkeram dingklik kemudian menahan nafas. Emil Heradi bersedia meluangkan waktu membangun intensitas ketimbang pribadi meledakkannya, terlebih dulu mempermainkan antisipasi penonton, memancing atmosfer harap-harap cemas. Sewaktu teror kesannya menampakkan diri, alih-alih terbatasi setting sempit, Emil mampu menyeret penonton ikut duduk di dalam bus, menyebarkan ketakutan serupa penumpangnya. Sementara musik karya Yovial Tri Purnomo Sigi terdengar dramatis, tepat menemani gejolak mencekam filmnya. 

Sayang, perjuangan Emil membangun ketegangan tak jarang bertele-tele, diseret terlalu usang sebelum masuk ke sajian utama. Dipaksa menanti ketika tahu akan terjadi sesuatu khususnya terkait paparan horor atau thriller memang asyik, tapi bila penantian itu terlampau panjang dan sering, rasanya mengesalkan. Saya berkali-kali dibentuk gemas jawaban Emil gemar berlama-lama berkutat di momen kurang penting ibarat aksara berjalan atau bicara perlahan dengan tempo lambat pula. Tambah melelahkan jawaban repetitifnya bentuk teror yang dihadapi. Sekitar empat kali bus bertemu sebuah rombongan, dihentikan, kemudian penumpang dipaksa turun. Hal ini berlangsung hingga konklusi membungkus cerita. Tidak heran durasi mencapai 135 menit. 
Durasi tersebut turut dipengaruhi kerapnya naskah memasukkan momen non-esensial. Tujuannya baik, supaya penonton memahami setiap tokoh yang mana berhasil dicapai. Setidaknya saya tahu siapa dan apa motivasi masing-masing dari mereka. Tapi sesudah berkali-kali melihat tingkah Kondektur (diperankan begitu baik oleh Teuku Rifnu Wikana sehingga walau tampak seenaknya, ia tetap berperasaan dan likeable), perlukah adegan menari mengikuti musik sambil mabuk untuk menegaskan bahwa beliau sosok nyeleneh? Penegasan berulang ini berkontradiksi dengan kesubtilan naskah dalam memprsentasikan kompleksitas konflik. 

Rahabi Mandra bersama Teuku Rifnu cukup piawai menjalin kaitan antar fakta tanpa mesti gamblang bertutur, sepenuhnya menyerahkan proses penyusunan keping-keping puzzle pada penonton. Jalinan kisahnya memang rumit, namun suatu kerumitan yang selaras dengan kekacauan dunianya. Sebuah dunia di mana kekuasaan disalahgunakan, ambisi pribadi dipentingkan, di mana para pemegang kekuatan saling berseteru, meninggalkan masyarakat biasa yang lemah terombang-ambing di tengah sebagai korban tak berdaya. Sungguh kejam si kuat, sungguh malang si lemah. Di luar setumpuk kekurangannya, Night Bus kuat menghasilkan ketegangan juga lantang menyuarakan pesan.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Buffalo Boys (2018)

Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan menuntaskan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan sempurna ke badan Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi titik tembak yang terang tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata. Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, agresi yang dinanti hasilnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang 102 menit Buffalo Boys, yang terasa menyerupai perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.

Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, beliau memberikan keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan ketika Buffalo Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke Indonesia di periode kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan laki-laki tangguh amoral yang hasilnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, lantaran semoga bagaimana, ini negeri Timur.

Jamar dan Suwo terang tak berada di garis abu-abu. Keduanya cowok baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas maut ayah mereka di tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa semenjak kecil di Amerika, bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach beserta kaki-tangannya. Sakar mempunyai dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan mahir memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak dipertanyakan.

Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya luput memberikan sedih dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para pahlawan western beristirahat di malam hari di depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai, pahlawan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa kemudian dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung dilibatkan, lantaran akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua cowok nihil kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar” ketika sasaran mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melaksanakan perjalanan panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk ditunggu.

Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan riasan “kotor” di sekujur badan cocok sebagai huruf yang menghabiskan waktu usang tinggal di wild west, sementara Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di ketika bersamaan, Jamar punya kapasitas tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.

Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang jajaran pemain pendukung, termasuk para villain yang punya dandanan sekaligus sikap unik cenderung gila macam Alex Abbad dan Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat performa over-the-top yang terang lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi bahaya pada Jamar dan Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal membalikkan keadaan dengan cepat nan gampang pribadi terasa. Di luar tokoh-tokoh yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak perempuan Van Trach, yang diperankan Happy Salma, yang menunjukkan akting dengan kepekaan rasa jauh mengungguli penampil lainnya.

Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski dampaknya menurun akhir dibarengi perjuangan menghindari gunting sensor lewat penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya yaitu pemilihan sudut yang digunakan Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya lantaran keengganan direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari bersahabat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas laga, bertambah melelahkan film ini.

Anda bisa berargumen bahwa banyak sekali judul western terbaik tak mempunyai banyak aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah informasi sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul ketika filmnya sebatas memberikan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo Boys bisa menjadi citra alternatif terhadap pertempuran skala kecil bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan dahulu. Namun potensi itu karam bersama poin-poin dongeng yang berakhir sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan pelurunya.

Saya begitu menantikan Buffalo Boys lantaran variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya. Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya mengucap dialog, kerap terbenam. Makara ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Aneh Lu Ndro! (2018)

Sebagaimana mestinya komedi satir, Gila Lu Ndro! menyindir realita dengan humor. Diharapkan, penonton tertawa sembari merenungkan kejadian yang tengah disaksikan. Namun film keempat sutradara Herwin Novianto (Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, Tanah Surga...Katanya, Jagad X Code) ini di satu titik lupa akan niatnya memberikan sesuatu alasannya terlampau sibuk berusaha sekonyol mungkin, sebaliknya, di titik lain getol berceramah sehingga lalai melucu. Mau yang mana pun, bobot pesannya berujung terlemahkan.

Guna memahami poin utama film ini, kita perlu mengikuti kisah yang dituturkan Indro (Tora Sudiro) kepada sang istri, Nita—nama istri Indro Warkop di dunia nyata—yang diperankan Mieke Amalia, yang cukup beruntung mendapat jatah kalimat-kalimat terlucu dalam naskah garapan Upi (Tusuk Jelangkung, My Stupid Boss, Sweet 20) bersama “anak didiknya”, Aline Djayakusuma. Deretan kalimat tersebut kebanyakan berfungsi mengutarakan keheranan sekaligus kekesalannya terhadap kisah abstrak sang suami yang mengaku bertemu Al (Indro Warkop) alias Alien, Raja dari planet Alienus.

Sebagai Raja, Al merasa perlu menemukan jalan menuntaskan konflik tak berkesudahan antara warga Alienus. Untuk itulah beliau mencari “Sumber Damai”, yang konon dimiliki Bumi. Dibantu Indro, Al pun melaksanakan perjalanan mengitari Bumi (baca: Jakarta), menemui ragam kejadian yang filmnya pakai sebagai alat menyindir isu-isu sosial di sekitar. Mulai dari yang mereka lihat pribadi menyerupai penyebaran hoax, penerimaan suap oleh polisi, pembeli yang menawar harga semaunya, dialog singkat soal kegemaran wakil rakyat tidur pulas tatkala sidang, hingga baliho berupa undangan berdoa (alih-alih mengusahakan jalan keluar) apabila terkena banjir.

Jadi apa yang Gila Lu Ndro! tawarkan demi menuntaskan segala dilema di atas? Al sebagai Raja merupakan metafora pemimpin bangsa ini, dan filmnya secara gamblang nan lantang menyebut bahwa turun ke jalan menemui rakyat pribadi alias blusukan merupakan jalan keluar. Kata “blusukan” bahkan Indro ucapkan, meniadakan ruang bagi kesubtilan. Daripada “merasakan”, rasanya menyerupai disuapi oleh Indro, yang penokohannya bisa dirangkum dalam 2 kata, “penengah konflik”. Tidak lebih, tetapi bisa kurang. Sebab di beberapa situasi, beliau bahkan tak menengahi permasalahan, sebatas berdiri, mengamati, atau malah kabur.

Bagaimana dengan kita? Para insan biasa, bukan pemimpin bangsa atau alien dengan sumber daya tanpa batas. Sejujurnya sulit dipahami jawaban masing-masing problematika tak memiliki relasi pasti, seolah tanpa citra besar untuk disampaikan. Terkesan, tiap dilema dipilih bukan atas dasar kebutuhan narasi, melainkan dari pertimbangan, “mana yang paling konyol”. Bahkan ada subplot dikala Al mendapat tugas di sebuah film buatan Alex Abbad sehabis seluruh pemain menolak hadir di lokasi. Apa kaitannya dengan pencarian kedamaian?

Untunglah, walau membayangi pesannya, komedi film ini bisa memproduksi tawa. Masih terjadi inkonsistensi, meleset di sana-sini khususnya ketika Herwin Novianto tampak kurang cakap mengatur timing, namun berhasil juga sempurna target di banyak sisi berkat sederet inspirasi kreatif Aline dan Upi, yang tetap mengedepankan kelucuan ketimbang berusaha seaneh mungkin (like you-know-who). Saya suka setiap kali Nita memotong kisah Indro, yang dibungkus lewat banyak sekali cara unik.

Berlawanan dengan sang istri, Tora kurang lepas membanyol alasannya di dikala bersamaan dibebani tugas selaku penyampai pesan moral. Sebaliknya, Indro melakoni tugas layar lebar terlucunya pasca masa Warkop DKI, dengan humor cross-dressing di final merupakan momen terbaik. Keseluruhan Gila Lu Ndro! memang lucu. Penonton yang mengisi penuh studio kawasan saya menonton terang terpuaskan. Apabila cuma bertujuan memancin tawa, maka film ini sukses. Tapi Gila Lu Ndro! ingin menjadi lebih.....dan gagal. Coba tanyakan pada penonton yang tergelak sepanjang film mengenai intisari filmnya, besar kemungkinan mereka tidak bisa mengutarakan jawaban pasti.

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018)

Judul film ini terdengar menyerupai adonan antara Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), dua film yang dibintangi Suzzanna Martha Frederika van Osch. Judul yang disebut pertama bukan horor, namun drama, yang konon merupakan film Indonesia pertama yang berani menonjolkan seksualitas, pemerkosaan, juga kata-kata kasar, dengan “sundel” alias “sundal” alias “pelacur” sebagai salah satunya. Menariknya, elemen-elemen plot Suzzanna: Bernapas dalam Kubur banyak mengambil pandangan gres dari Sundel Bolong (1981).

Kebetulan? Sepertinya begitu. Tapi saya bakal percaya jikalau muncul pernyataan bahwa easter egg di atas ialah kesengajaan. Sebab orang-orang di balik Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terbukti paham betul kriteria yang harus dipenuhi kala menciptakan “Film Suzzanna”. Ini bukan biopic, bukan pula remake, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan benar, alih-alih sekedar perjuangan tak tahu aib guna mengeruk uang. Ini ialah ode yang mengatakan betapa (warisan) Suzzanna masih menghembuskan napas terornya dari dalam kubur.

Pendekatan tersebut tampak dari pemilihan nama tokoh utama. Bukan Alicia, Lila, atau (yang paling tenar) Suketi, tapi Suzzanna, yang diperankan oleh Luna Maya dalam penjelmaan tepat sebagai sang ratu horor. Dalam wujud insan (a.k.a. sebelum bertransformasi menjadi sundel bolong), kita melihat Luna dalam balutan prostetik yang membuatnya kolam kembaran Suzzanna, apalagi ditambah kefasihannya berlogat kolam noni Belanda. Walau sesekali terdengar inkonsisten, Luna sebagai Suzzanna ialah pemandangan adiktif yang menciptakan saya lupa, jikalau butuh beberapa usang sebelum horor merangsek masuk.

Suzzanna dan sang suami, Satria (Herjunot Ali), menjalani kehidupan penuh cinta yang bahagia, khususnnya ketika sesudah tujuh tahun, momongan yang dinanti risikonya tiba. Tapi jikalau mengenal film-film Suzzanna, tentu anda tahu ada bencana bersiap mengacaukan kebahagiaan mereka. Tragedi yang hadir dalam wujud rencana empat karyawan Satria: Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka menetapkan merampok rumah Satria sesudah usul naik honor ditolak. Aksi itu dilangsungkan di tengah penugasan Satria ke Jepang, sementara Suzzanna sedang  menghabiskan malam Minggu menonton layar tancap. Ketika di luar dugaan Suzzanna pulang lebih awal, mereka berempat terpaksa membunuh, kemudian menguburnya di pekarangan belakang rumah.

Keesokan paginya ia terbangun, seolah gres bermimpi jelek menyerupai biasa. Sebuah keputusan berani dari naskah karya Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2, Stip & Pensil) yang dibentuk menurut dongeng buatannya bersama Sunil Soraya (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, Single) dan Ferry Lesmana (Danur: I Can See Ghosts). Sekilas absurd, tapi—dalam kasus langka di film horor kita—Bene menyusun aturan-aturan soal apa yang bisa/tidak bisa sundel bolong lakukan, alasan ia melaksanakan “A” daripada “B”, dan sebagainya. Jumlahnya bisa dihitung jari, tak seberapa kompleks, tapi Bene terus konsisten membangun alur menurut aturan yang ia tetapkan.

Film-film Suzzanna dahulu ialah wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, menolak malu-malu menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuh over-the-top dari sundel bolong. Sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai, baik di studio bioskop atau layar tancap di tengah lapangan kampung. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mengusung tujuan serupa, sehingga diselipkanlah komedi, yang penghantarannnya dilimpahkan pada trio Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus.

Ketiganya memerankan pembantu Suzzanna. Di satu kesempatan, mereka mecurigai jati diri si majikan, dan memulai penyelidikan yang berujung pada momen paling jenaka sepanjang film. Khususnya Opie Kumis dengan kepiawaian melontarkan celotehan-celotehan abstrak yang kelucuannya sukar ditampik. Opie memang pelawak berbakat yang butuh lebih banyak tampil di film apik macam ini ketimbang judul-judul menyerupai Humor Baper (2016) atau Selebgram (2017).

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memang hendak mengikuti formula horor Suzzanna masa lalu, namun juga berfungsi selaku modernisasi. Daripada b-movie, pendekatan lebih “besar” diterapkan, yang mana sanggup kita sadari hanya dengan sekilas mengamati tata artistik dan sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Rudy Habibie). Ketika Suzzanna menyidik seisi rumahnya sewaktu perampokan berlangsung, kameranya bergerak mulus, menyapu seisi ruangan lewat single take untuk menunjukkan keempat perampok di persembunyian masing-masing. Sedangkan musik gubahan Andhika Triyadi (Dilan 1990, Dear Nathan, Cek Toko Sebelah) terdengar megah sebagai cara glamor menyusun tensi dramatis, yang sayangnya kurang berdampak tanggapan lemahnya performa bintang film utama.

Bentuk modernisasi lainnya ialah ditiadakannya cara membunuh cartoonish, kemudian sebagai gantinya, menambah kadar gore. Seberapa pun saya rindu melihat sundel bolong mengendarai kendaraan beroda empat atau traktor, harus diakui, pemandangan tersebut akan sulit diterima penonton kekinian. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih memberi kepuasan serupa kala menunjukkan setan yang punya tugas cenderung heroik ketimbang makhluk kejam, menegakkan keadilan dengan caranya. She’s a supranatural vigilante. Tatkala dunia faktual kerap membebaskan para pelaku kejahatan terhadap perempuan dari hukuman, menyaksikan mereka mendapatkan penghakiman di sini terang menyenangkan.

Aspek horornya memang tak seberapa mengerikan. Mungkin alasannya ialah sundel bolong tak pernah menampakkan diri di lingkungan yang familiar untuk menghantui “rakyat biasa” (pinggir jalan, perkampungan, dll.) sehingga terornya kurang terasa dekat, atau mungkin, alasannya ialah Suzzanna sendiri punya aura mistis tak tertandingi. Luna Maya sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai sundel bolong dengan tawa menyayat pendengaran dan mata yang melotot begitu lebar, seolah menatapnya sanggup menjadikan kematian.

Awalnya film ini disutradarai Anggy Umbara (Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Insya Allah Sah 2) seorang, namun pasca suatu insiden (yang tak bisa saya ungkap), Rocky Soraya (The Doll, Sabrina) bergabung, menyebarkan kredit penyutradaraan. Sulit memilah mana hasil kerja Rocky mana Anggy, sehingga saya menetapkan menganggapnya sama rata. Pergerakan ceritanya mulus, menjadikan alurnya nyaman dinikmati mesti suguhan utamanya tak eksklusif muncul. Urusan membangun teror, kadang kita diajak berdiam terlalu usang di satu momen hingga intensitasnya turun drastis, tapi siapa pun yang menggarap klimaks, khususnya adegan “Kebangkitan sundel bolong”, layak dipuji atas kemampuan mencuatkan keindahan dari dramatisasi teror. Tonton film ini, nikmati perjalanannnya, kemudian mari menanti, apakah ular di atas pohon itu cuma ular biasa atau petunjuk mengenai reboot untuk.....