Showing posts with label Bene Dion. Show all posts
Showing posts with label Bene Dion. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Stip & Pensil (2017)

Negeri ini masih bodoh. Kalau cerdas, mana mungkin masyarakatnya sanggup digiring persepsinya melalui pembodohan atas nama agama. Tapi di mana akar permasalahannya? Melalui naskahnya, Joko Anwar menyiratkan bahwa semua berasal dari dasar ketika kita masih berguru baca tulis bermodalkan stip dan pensil. Bahwa segala kesempitan akal, kebodohan, rasialisme, teladan pikir yang mendahulukan perut daripada otak, disebabkan minimnya ketersediaan pendidikan layak sedari dini. Di tengah banyolan-banyolan, Stip & Pensil coba menghadirkan relevansi atas citra negeri kita tercinta ini. 

Menarik kala banyak pihak mengatasnamakan hak asasi kemudian membela rakyat kecil, menyalahkan orang berduit dan pemerintah, Joko memancing jalannya nalar penonton dalam memandang sebuah kondisi. Bagaimana bila sinisme pada orang kaya menutupi objektivitas kita? Bagaimana bila pemerintah telah melaksanakan tindakan tepat sesuai aturan tapi kita dibutakan perasaan, begitu saja membela rakyat miskin yang sejatinya juga keliru? Tengok empat protagonis film ini, Toni (Ernest Prakasa), Bubu (Tatjana Saphira), Saras (Indah Permatasari), dan Aghi (Ardit Erwandha), sekelompok siswa Sekolah Menengan Atas kaya yang mengeksklusifkan diri, egois, nihil kepedulian. Setidaknya itu berdasarkan teman-teman satu sekolah mereka.
Kesampingkan setting sekolahnya, terdapat cerminan masyarakat kita secara umum. Edwin (Rangga Azof) dan teman-teman menganggap diri paling benar serta memandang orang lain dari kulit luar. Sementara Richard (Aditya Alkatiri) si YouTuber/jurnalis dadakan kolam media yang enggan meninjau fakta, seenak jidat mewartakan cerita. Ingin melenyapkan stigma negatif itu, Toni dan kawan-kawan mengikuti lomba esai nasional bertema "sosial masyarakat", bersaing dengan kelompok Edwin yang menganggap langkah itu bentuk cari muka belaka. Sebaliknya, lantaran merasa tema Edwin dangkal, keempat protagonis kita memutuskan terjun ke lapangan membangun sekolah darurat untuk bawah umur di perkampugan kumuh, bukti kinerja nyata, bukan omong belaka. Ketika sekarang topik politik tengah terangkat, tentu anda familiar dengan aneka macam penokohan itu.

Sejak dulu Joko Anwar memang jago mengawinkan aspek-aspek naskahnya (karakter, konflik) dalam porsi kecil sekalipun dengan kondisi negeri ini. Caranya subtil. Sekilas hanya paparan fiktif, namun bahwasanya cerminan realita. Salah satu yang paling menggelitik sekaligus menampar di sini ialah kala warga kampung bergunjing soal Koko Salim, seorang etnis Cina penjual mie ayam. Di tamat pembicaraan, Mak Rambe (Gita Bhebhita) bertanya pada ketua kampung, Pak Toro (Arie Kriting), apakah Ko Salim merupakan warga setempat. Obrolan tersebut tentu merujuk kepada perdebatan perihal pribumi/pendatang yang belakangan sedang memanas. Stip & Pensil bagai mengandung easter eggs berisi kumpulan isu-isu di Indonesia. 
Sindiran-sindirannya komikal, membaur dengan komedi berupa kejenakaan tokoh-tokohnya yang lagi-lagi kerap menyentil sekelompok kalangan tertentu. Turut menerima bantuan Ernest Prakasa dan Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1), naskahnya cerdik merangkai humor playful berbasis absurditas situasi maupun tingkah karakter. Piawai pula sutradara Ardy Octaviand (3 Dara, Coklat Stroberi) membangun kelucuan, termasuk memaksimalkan penggunaan musik garapan Aghi Narottama menyerupai ketika keempat protagonis berusaha meminta kembali dingklik sekolah mereka dari pemilik warung yang diperankan Yati Surachman. 

Di jajaran cast, Indah Permatasari dan Tatjana Saphira  selaku dua sosok berlawanan  mencuri spotlight. Saras paling ekspresif dibandingkan teman-temannya, dan melihat Indah bertingkah "brutal" ketika tak ragu menghantam objek amarah dengan dingklik serta totalitas verbal besar (baca: lebay) guna menyikapi kekonyolan di sekitarnya sungguh memuaskan. Sebaliknya, Bubu ialah "si bodoh" dalam kelompok, kerap terlambat memahami sesuatu, mendadak berbuat aneh semisal bernyanyi Yamko Rambe Yamko, hingga memasang raut clueless. Kepolosan wajah Tatjana tepat mewakili ciri-ciri tersebut. 

Kembali ke naskah, sayangnya Joko gagal memperlihatkan proses memuaskan menuju konklusi beberapa problematika utama. Stip & Pensil berakhir dengan citra ideal masyarakat, tapi lalai menjabarkan proses ke sana. (Spoiler Alert) Selain perubahan perilaku instan para antagonis, ada kelemahan soal tuturan perihal relokasi (atau penggusuran terserah pandangan anda). Benar bahwa ada keluhan karakter Yati Surachman soal air, citra kampung kumuh, hingga buruknya kemudahan pendidikan, namun semua itu bukan pemicu kesediaan huruf direlokasi. Proses pemahaman warga ditiadakan, langsung melompat ke konklusi, membuat pergerakan alur luar biasa kasar. Jika itu bentuk kesengajaan selaku sindiran ("mereka protes lantaran terlanjur menutup mata dan menolak memahami") terhadap perilaku warga antara pra dan pasca relokasi, maka kelemahan terletak pada kurang mampunya Ardy Octaviand merangkai dua sisi kontras itu secara rapi semoga bisa menggelitik. 

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018)

Judul film ini terdengar menyerupai adonan antara Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), dua film yang dibintangi Suzzanna Martha Frederika van Osch. Judul yang disebut pertama bukan horor, namun drama, yang konon merupakan film Indonesia pertama yang berani menonjolkan seksualitas, pemerkosaan, juga kata-kata kasar, dengan “sundel” alias “sundal” alias “pelacur” sebagai salah satunya. Menariknya, elemen-elemen plot Suzzanna: Bernapas dalam Kubur banyak mengambil pandangan gres dari Sundel Bolong (1981).

Kebetulan? Sepertinya begitu. Tapi saya bakal percaya jikalau muncul pernyataan bahwa easter egg di atas ialah kesengajaan. Sebab orang-orang di balik Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terbukti paham betul kriteria yang harus dipenuhi kala menciptakan “Film Suzzanna”. Ini bukan biopic, bukan pula remake, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan benar, alih-alih sekedar perjuangan tak tahu aib guna mengeruk uang. Ini ialah ode yang mengatakan betapa (warisan) Suzzanna masih menghembuskan napas terornya dari dalam kubur.

Pendekatan tersebut tampak dari pemilihan nama tokoh utama. Bukan Alicia, Lila, atau (yang paling tenar) Suketi, tapi Suzzanna, yang diperankan oleh Luna Maya dalam penjelmaan tepat sebagai sang ratu horor. Dalam wujud insan (a.k.a. sebelum bertransformasi menjadi sundel bolong), kita melihat Luna dalam balutan prostetik yang membuatnya kolam kembaran Suzzanna, apalagi ditambah kefasihannya berlogat kolam noni Belanda. Walau sesekali terdengar inkonsisten, Luna sebagai Suzzanna ialah pemandangan adiktif yang menciptakan saya lupa, jikalau butuh beberapa usang sebelum horor merangsek masuk.

Suzzanna dan sang suami, Satria (Herjunot Ali), menjalani kehidupan penuh cinta yang bahagia, khususnnya ketika sesudah tujuh tahun, momongan yang dinanti risikonya tiba. Tapi jikalau mengenal film-film Suzzanna, tentu anda tahu ada bencana bersiap mengacaukan kebahagiaan mereka. Tragedi yang hadir dalam wujud rencana empat karyawan Satria: Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka menetapkan merampok rumah Satria sesudah usul naik honor ditolak. Aksi itu dilangsungkan di tengah penugasan Satria ke Jepang, sementara Suzzanna sedang  menghabiskan malam Minggu menonton layar tancap. Ketika di luar dugaan Suzzanna pulang lebih awal, mereka berempat terpaksa membunuh, kemudian menguburnya di pekarangan belakang rumah.

Keesokan paginya ia terbangun, seolah gres bermimpi jelek menyerupai biasa. Sebuah keputusan berani dari naskah karya Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2, Stip & Pensil) yang dibentuk menurut dongeng buatannya bersama Sunil Soraya (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, Single) dan Ferry Lesmana (Danur: I Can See Ghosts). Sekilas absurd, tapi—dalam kasus langka di film horor kita—Bene menyusun aturan-aturan soal apa yang bisa/tidak bisa sundel bolong lakukan, alasan ia melaksanakan “A” daripada “B”, dan sebagainya. Jumlahnya bisa dihitung jari, tak seberapa kompleks, tapi Bene terus konsisten membangun alur menurut aturan yang ia tetapkan.

Film-film Suzzanna dahulu ialah wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, menolak malu-malu menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuh over-the-top dari sundel bolong. Sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai, baik di studio bioskop atau layar tancap di tengah lapangan kampung. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mengusung tujuan serupa, sehingga diselipkanlah komedi, yang penghantarannnya dilimpahkan pada trio Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus.

Ketiganya memerankan pembantu Suzzanna. Di satu kesempatan, mereka mecurigai jati diri si majikan, dan memulai penyelidikan yang berujung pada momen paling jenaka sepanjang film. Khususnya Opie Kumis dengan kepiawaian melontarkan celotehan-celotehan abstrak yang kelucuannya sukar ditampik. Opie memang pelawak berbakat yang butuh lebih banyak tampil di film apik macam ini ketimbang judul-judul menyerupai Humor Baper (2016) atau Selebgram (2017).

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memang hendak mengikuti formula horor Suzzanna masa lalu, namun juga berfungsi selaku modernisasi. Daripada b-movie, pendekatan lebih “besar” diterapkan, yang mana sanggup kita sadari hanya dengan sekilas mengamati tata artistik dan sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Rudy Habibie). Ketika Suzzanna menyidik seisi rumahnya sewaktu perampokan berlangsung, kameranya bergerak mulus, menyapu seisi ruangan lewat single take untuk menunjukkan keempat perampok di persembunyian masing-masing. Sedangkan musik gubahan Andhika Triyadi (Dilan 1990, Dear Nathan, Cek Toko Sebelah) terdengar megah sebagai cara glamor menyusun tensi dramatis, yang sayangnya kurang berdampak tanggapan lemahnya performa bintang film utama.

Bentuk modernisasi lainnya ialah ditiadakannya cara membunuh cartoonish, kemudian sebagai gantinya, menambah kadar gore. Seberapa pun saya rindu melihat sundel bolong mengendarai kendaraan beroda empat atau traktor, harus diakui, pemandangan tersebut akan sulit diterima penonton kekinian. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih memberi kepuasan serupa kala menunjukkan setan yang punya tugas cenderung heroik ketimbang makhluk kejam, menegakkan keadilan dengan caranya. She’s a supranatural vigilante. Tatkala dunia faktual kerap membebaskan para pelaku kejahatan terhadap perempuan dari hukuman, menyaksikan mereka mendapatkan penghakiman di sini terang menyenangkan.

Aspek horornya memang tak seberapa mengerikan. Mungkin alasannya ialah sundel bolong tak pernah menampakkan diri di lingkungan yang familiar untuk menghantui “rakyat biasa” (pinggir jalan, perkampungan, dll.) sehingga terornya kurang terasa dekat, atau mungkin, alasannya ialah Suzzanna sendiri punya aura mistis tak tertandingi. Luna Maya sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai sundel bolong dengan tawa menyayat pendengaran dan mata yang melotot begitu lebar, seolah menatapnya sanggup menjadikan kematian.

Awalnya film ini disutradarai Anggy Umbara (Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Insya Allah Sah 2) seorang, namun pasca suatu insiden (yang tak bisa saya ungkap), Rocky Soraya (The Doll, Sabrina) bergabung, menyebarkan kredit penyutradaraan. Sulit memilah mana hasil kerja Rocky mana Anggy, sehingga saya menetapkan menganggapnya sama rata. Pergerakan ceritanya mulus, menjadikan alurnya nyaman dinikmati mesti suguhan utamanya tak eksklusif muncul. Urusan membangun teror, kadang kita diajak berdiam terlalu usang di satu momen hingga intensitasnya turun drastis, tapi siapa pun yang menggarap klimaks, khususnya adegan “Kebangkitan sundel bolong”, layak dipuji atas kemampuan mencuatkan keindahan dari dramatisasi teror. Tonton film ini, nikmati perjalanannnya, kemudian mari menanti, apakah ular di atas pohon itu cuma ular biasa atau petunjuk mengenai reboot untuk.....

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Rafathar (2017)

Karya Umbara Bersaudara senantiasa kaya ambisi. Berkiblat pada blockbuster Hollywood, tercipta formasi alur fantastik walau kerap memaksakan pun kurang masuk akal, visual bergaya keren walau sering melupakan substansi, hingga kuantitas pemakaian CGI tinggi meski kadang urung dibarengi kualitas. Selalu muncul kata "tapi" dan tidak jarang hasil jadinya memecah penonton menjadi dua kubu, agar demikian, keberanian memasuki area yang jarang disentuh sineas tanah air terperinci layak diapresiasi. Sekilas Rafathar bagai sekedar perjuangan Raffi Ahmad memanfaatkan rasa gemas publik akan puteranya yang gres dua tahun, namun sanggup juga dipandang selaku angin segar, sebab sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi.

Cerita high concept khas Umbara Bersaudara pribadi nampak sejak adegan pembuka kala Profesor Bagyo (Henky Solaiman) kabur dari suatu laboratorium canggih. Di waktu bersamaan, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) tengah melancarkan agresi perampokan. Akibat kebetulan bercampur kekonyolan, dua bencana ini saling bersinggungan, memberi kesempatan Profesor Bagyo meninggalkan Rafathar (Rafathar Malik Ahmad) di depan pintu aktris sinetron asal Malaysia, Mila (Nur Fazura). Bagi Mila beserta sang suami, Bondan (Arie Untung), kemunculan Rafathar yaitu anugerah sesudah bertahun-tahun ijab kabul tanpa dikaruniai anak, tanpa tahu bahwa Rafathar bukanlah bayi biasa.
Kemudian kisah menyoroti Jonny dan Popo menjalankan misi dari Bos Viktor (Agus Kuncoro) untuk menculik Rafathar. Pada paruh ini filmnya mengusung rujukan serupa Baby's Day Out, di mana dua penculik minim kompetensi dibentuk kerepotan oleh seorang bayi. Bedanya, si bayi bukan dinaungi keberuntungan melainkan punya kekuatan besi berani. Jadilah dagelan berupa Jonny dan Popo dihujani segala macam perabot mendominasi. Walau sentuhan slapstick-nya tak hingga memancing tawa menggelegar, keputusan sutradara Bounty Umbara memanfaatkan CGI demi menambah kadar "siksaan" terhadap duo penculik ndeso itu agak menolong. Setidaknya timbul kegilaan pemancing senyum.

Di luar unsur slapstickRafathar sebagai komedi masih cukup menghibur. Materi dari naskah buatan Bounty Umbara bersama Bene Dion Rajagukguk bersama-sama tergolong hit-and-miss, tapi tiap kali kena sasaran, tawa sejenak sanggup hadir termasuk berkat sokongan para pemain. Sewaktu Raffi Ahmad lebih banyak berteriak-teriak atau menggerutu tak lucu meski secara mengejutkan tidak mengecewakan baik di satu momen dramatik, Babe Cabita sebagai aksara yang setipe dengan seluruh tugas di karir keaktorannya sesekali menyegarkan suasana. Demikian pula gaya hiperbolis Agus Kuncoro sebagai penjahat multi logat.
Masalahnya, persentase hit-and-miss komedinya setara, sehingga tatkala humor gagal mengena, mudah Rafathar kehabisan daya. Bagi film komedi keberadaan plot berpengaruh bukan kebutuhan utama, namun lain kisah ketika dua per tiga durasi nyaris kosong melompong, semata-mata mengandalkan lelucon yang tidak selalu berhasil. Sebaliknya, menjelang simpulan mendadak setumpuk poin alur ditumpahkan, termasuk konspirasi bertaraf internasional ditambah sederet kejutan yang seluruhnya menggelikan sebab sulit diterima nalar. Film ini bertutur soal bayi mutan, membuatnya sah kalau diisi aspek yang melawan logika andai diiringi kesadaran atas kebodohan miliknya daripada semata-mata bentuk pemaksaan hasrat supaya terlihat keren. 

Kualitas CGI-nya terhitung tidak mengecewakan hingga datang titik puncak pertarungan Rafathar melawan robot kulkas dan ATM, dikala acap kali susah mencerna apa yang tengah berlangsung jawaban CGI kasar. Belum lagi penonton hanya disuguhi tiga robot (yang katanya) senjata perang kelas satu bergerak secara canggung, saling tabrak, saling lempar, bagai minim perjuangan memberi sentuhan estetika dalam koreografi pertempuran. Sekali lagi film ini patut diapresiasi sebab mengusung konsep yang belum dijamah film tanah air, meski soal kualitas, Rafathar adalah ambisi tinggi yang amat lemah dieksekusi. Paling tidak Rafathar Malik Ahmad masih bocah dua tahun super menggemaskan.


Review Rafathar juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_PXdL

Ini Lho The Underdogs (2017)

The Underdogs adalah film wacana ambisi para remaja meraih kesuksesan sebagai Youtubers sekaligus menampilkan Young Lex. Sederhananya, film ini praktis dibenci bahkan oleh mereka yang tidak atau belum menonton. Walau tidak seluruhnya, saya eksklusif terkadang menyimpan sentimen negatif terhadap obsesi generasi masa sekarang mengejar popularitas melalui jalan masuk yang katanya lebih dari televisi ini. Dangkal. Begitu pikir saya. Sampai The Underdogs datang, menyadarkan justru keengganan saya (atau mungkin kita) mengusut dari perspektif lain lah yang dangkal. 

Empat sekawan, Ellie (Sheryl Sheinafia), Dio (Brandon Salim), Bobi (Jeff Smith), dan Nanoy (Babe Cabita) merupakan korban bullying, dianggap pecundang di sekolah. Kondisi itu bertahan hingga lulus. Keinginan memperbaiki nasib terjawab pasca melihat kesuksesan S.O.L: Sandro X (Ernest Prakasa), Oscar (Young Lex), dan Lola (Han Yoo Ra), trio Youtubers yang sukses berkat video rap mereka. Terinspirasi, keempat protagonis kita mengikuti jalur serupa, membentuk channel rap menggunakan nama The Underdogs sambil berharap mengubah nasib di tengah bermacam-macam deraan kasus eksklusif termasuk keluarga.
Naskah garapan Alitt Susanto bersama Bene Dion Rajagukguk memegang kunci. Saya (atau lagi-lagi, mungkin kita) terbiasa menganggap jajaran Youtubers terdiri atas sosok-sosok haus atensi berotak dangkal yang angkuh pasca keberhasilan direnggut. Naskah The Underground menjelaskan betapa banyak dorongan lain. Ellie dengan pertengkaran sehari-hari orang tuanya, Bobi yang dipaksa melanjutkan pabrik tahu sang ayah atau Dio yang selalu diragukan ibunya akhir belum dianggap dewasa. Motivasi tersebut bukan saja simpatik, juga relatable. Poinnya, bisa jadi di luar sana, ada Youtubers berangkat dari alasan serupa yang terlanjur menghadapi hujatan akhir publik ogah lebih mencari tahu. 

Alurnya bergerak tak hanya rapi, pun ikut mendukung keterikatan akan karakter. Contohnya waktu Bobi menyulut perpecahan begitu The Underdogs mencapai ketenaran. Enggan berlarut-larut, sutradara Adink Liwutang secara cepat nan sempurna seketika menggiring penonton menuju pemahaman wacana duduk kasus eksklusif Bobi, menghalangi kesempatan penonton kesal kepadanya. Walau cukup disayangkan, perjalanan ke arah resolusi mengenai konflik keluarga agak terburu-buru sekaligus menggampangkan, seolah tanpa proses. Pengorbanan yang dilakukan demi memfasilitasi penyelesaian kasus lain, sebutlah persahabatan. Lalu pada konteks lebih luas terkait kultur internet, The Underdogs turut memberikan bagaimana media umum sanggup luar biasa bermanfaat andai dimanfaatkan tepat.
Komedinya memang bukan berisi humor yang bisa menancap di benak penonton usang seusai film berakhir, tetapi berhasil tampil konsisten. Meski hadir beruntun, gelontoran dagelan The Underdogs rutin memancing tawa atau setidaknya senyum lebar. Parodi merk atau aktivitas di sana-sini hingga nasib jelek tanpa ujung yang menimpa Babe Cabita (sekali lagi ia ahli memerankan penderita kesialan akut) lebih dari cukup menjalin hiburan. Pun mencuri perhatian yakni Sheryl Sheinafia lewat banyak pembawaan deadpan hingga Dodit Mulyanto yang hobi dirapikan rambutnya sembari sesekali berkata "asu kowe". Young Lex? Well, he's just chilling out here and there.

Mengangkat kisah Youtubers yang menentukan jalur video rap, sudah barang tentu The Underdogs diisi sederet nomor yang cukup menghibur telinga, khususnya lagu berlirik jenaka milik The Underdogs. Adink Liwutang tidak ketinggalan memasukkan visualisasi selaku (ceritanya) video klip lagu-lagu tersebut, menimbulkan filmnya paket lengkap mengenai Youtube. Walau masih dibarengi kekurangan-kekurangan, The Underdogs di luar dugaan lebih dari menghibur, juga sanggup memancing biar bersedia menyikapi fenomena Youtubers dari sudut pandang lain yang pastinya lebih positif.


Review The Underdogs dapat dibaca juga di tautan ini 

Ini Lho Warkop Dki Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (2017)

Jangkrik Boss! Part 2 terjangkit penyakit yang jamak menyerang sebuah proyek film besar yang dipecah jadi dua bagian. Ketika Part 1 merupakan kekacauan menyenangkan yang melompat cepat dari satu keserampangan menuju keserampangan berikutnya, deretan dagelan Part 2 terasa dipaksa bergulir selama mungkin demi memenuhi kuota dua film panjang dengan masing-masing berdurasi sekitar 90 menit. Ide Anggy bersama partner penulisan naskahnya, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya sejatinya segar, namun kerap berlarut-larut, seringkali menurunkan efektivitas. Adegan perpustakaan ialah pola paling nyata. Untungnya masih terdapat setumpuk amunisi lain.

Langsung melanjutkan final film pertama, Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bersama Sophie (Hannah Al Rashid) melanjutkan petualangan mencari harta karun di Malaysia. Setelah melalui kejadian yang melibatkan ketiganya dalam eksperimen aneh, akhirnya Nadia (Nur Fazura), si gadis berbaju merah yang kopernya tertukar dengan mereka di bandara berhasil ditemukan. Pencarian harta karun pun berlanjut di suatu pulau kosong yang tidak hanya memunculkan kejutan khas Anggy Umbara, juga kegilaan yang meneruskan kegemaran Warkop bermain-main menggabungkan komedi dan berbagai genre.
Sebelum masa 90-an dengan image "jalan-jalan ke pantai melihat cewek seksi" usungan film produksi Soraya (mengisi sebagian fase film ini), Warkop mencapai puncak kualitas lewat bermacam-macam bentuk. Manusia 6.000.000 dollar adalah sci-fi, Chips satir sosial bersampul dongeng kepolisian, Depan Bisa Belakang Bisa kental unsur detektif, sampai petualangan di IQ Jongkok dan horor dalam Setan Kredit. Dua judul terakhir jadi pondasi utama Jangkrik Boss! Part 2 yang sesampainya pada klimaks, "banting setir" ke ranah fantasi imajinatif (sebelum ditutup oleh ending yang begitu tiba-tiba). Serupa karya Anggy Umbara sebelumnya, transisinya kasar, seketika tumpah semata-mata demi twist tak terduga. Tapi ada faktor lain yang membuatnya bermakna: homage

Pada dasarnya Warkop DKI Reborn adalah proyek penghormatan ambisius yang coba meleburkan setumpuk film beserta gaya bercanda Warkop DKI, dan third act Jangkrik Boss! Part 2 mengeskalasi homage-nya ke level lebih tinggi pun lebih luas, kolam membawa penonton menyusuri dunia berisikan ikon perfilman tanah air masa 70 hingga 80-an (termasuk Rhoma Irama seperti nampak di trailer). Sebuah langkah kreatif dari Anggy dan tim menyatukan mereka dengan Warkop DKI  yang mana juga berasal dari masa itu  sebagai bungkus. Bukan berhenti selaku penghormatan saja, sekuen tersebut pun luar biasa lucu (clue: Soto), menjadi pencapaian terbaik dari keliaran pikir Anggy yang sebelumnya, termasuk di film ini, punya persentase keberhasilan dan kegagalan berimbang. 
Dua pertiga awal Jangkrik Boss! Part 2 cenderung hit-and-miss akibat cita-cita membuat humor seaneh mungkin. Beberapa berlangsung datar, termasuk repetisi dagelan meta, kala atas dasar tribute, filmnya (terlalu) sering breaking the fourth wall yang mana termasuk kebolehan Warkop DKI dahulu. Toh kali ini pilihan Anggy menekankan absurditas komedi, menolak melangkah di "jalur aman" layak dikagumi. Terlebih ada "adegan soto" yang membayar lunas sederet kekurangan lain, sekaligus mengingatkan betapa keunggulan Warkop terletak pada keluwesan improvisasi mengolah kata dalam komedi verbal. Kecerdasan berkelakar yang sayangnya tertutup gambaran "film cewek seksi berbikini di pantai" akhir banyak pihak lebih familiar dengan Warkop masa Soraya yang mendominasi televisi. 

Trio Abimana-Vino-Tora masih tampil bagus, walau daya kejut hasil perubahan ketiganya otomatis berkurang sebab telah memasuki film kedua. Abimana tetap dengan salah satu transformasi tugas terbaik di perfilman kita yang bisa memancing tawa walau hanya bangun membisu (sebelum film dimulai ada iklan Top White Coffee yang ia bintangi, silahkan bandingkan). Vino kian apik memasang ekspresi. Salah satu penyebab "adegan soto" bekerja begitu baik ialah respon konyol miliknya. Tora mengakali karakterisasi Indro yang belum sesolid dua rekannya lewat totalitas kejenakaan di tiap kesempatan, layaknya penyerang yang mampu memanfaatkan peluang mencetak gol sekecil apapun. Sewaktu humor tidak konsisten bekerja maksimal, ketiganya membuat Jangkrik Boss! Part 2 selalu menarik disimak.