Showing posts with label Catherine Keener. Show all posts
Showing posts with label Catherine Keener. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Get Out (2017)

(Review mungkin mengandung spoiler)
Selain menakut-nakuti, banyak filmmaker memanfaatkan medium horor untuk memberikan kisah atau pesan tertentu. Sebutlah Alien (pemerkosaan/seks), The Babadook (kecemasan), It Follows (penyakit menular seksual), dan sebagainya. Semua dilakukan tanpa melupakan hakikat utama genre tersebut. Di permukaan, Get Out selaku debut penyutradaraan Jordan Peele terkesan biasa, menebar kengerian lewat keganjilan situasi yang dialami karakternya. Tapi memeriksa lebih dalam, naskahnya (juga ditulis oleh Peele) turut menjabarkan satir sosial terkait info rasisme, tepatnya soal perlakuan kulit putih terhadap kulit hitam. Menjadi Istimewa tatkala tiap sisi, termasuk komedi yang membesarkan namanya, sanggup Peele rangkai secara seimbang.

Fotografer kulit gelap berjulukan Chris (Daniel Kaluuya) yaitu kekasih dari Rose (Alison Williams), seorang gadis kulit putih. Saat tiba waktunya mengunjungi orang renta sang kekasih di selesai pekan, Chris khawatir apabila warna kulitnya dipermasalahkan. Nyatanya orang renta Rose, Dean (Bradley Whitford) dan Missy (Catherine Keener) menyambutnya baik. Walau demikian, Chris mulai merasa ada kejanggalan begitu melihat sikap dua pelayan kulit gelap di sana, Walter (Marcus Henderson) dan Georgina (Betty Gabriel). Ada apa dengan keduanya? Rahasia apa yang tersimpan di sana? Bermacam tanya itu takkan sulit dijawab. Bahkan semenjak opening bila anda jeli mengaitkan poin-poinnya.
Horor/thriller seputar aksara atau lingkungan janggal telah bertebaran dan Get Out memang tidak memberi penemuan dalam presentasi misterinya. Peele mengikuti contoh standar, bersabar menggerakkan alur di dua pertiga awal durasi, perlahan menambah tensi seiring observasi protagonis terhadap kondisi sekitar. Jika anda sudah kerap menyantap sajian serupa daya kejut film ini takkan seberapa. Jangan harap dihantam unpredictable twist ala-Shyamalan. Namun kelokan alur bukan semata-mata soal "seberapa mengejutkan". Pertanyaan yang diajukan semestinya "perlukah?" dan "sesuaikah dengan keseluruhan dongeng atau tiba mendadak selaku tipuan kosong?". Mengenai hal-hal itu, Peele melaksanakan tugasnya dengan baik.

Peele jeli menanam benih-benih, sehingga sewaktu tiba di ujung penceritaan, tercipta satu bagan besar utuh yang menjawab bermacam-macam pertanyaan sekaligus menjelaskan sikap tokoh-tokohnya. Sedangkan cerdiknya penyutradaraan menciptakan Get Out menjauhi keklisean jump scare berisik. Tetap banyak perjuangan menghentak jantung penonton, namun triknya tidak murahan. Peele berhasil memancing ketakutan nyata, bukan rasa terkejut sesaat yang cepat luntur walau progresi alur sedikit demi sedikit (baca: tidak mengecewakan pelan) menciptakan daya cengkeram filmnya urung hadir secara instan. Kuncinya terletak pada timing, staging, juga pemakaian musik/efek suara. 
Tatkala teror sering tiba di waktu tak terduga, pengadeganan Peele begitu apik membangun atmosfer creepy bersenjatakan kesederhanaan macam tatapan sunyi dari kerumunan. Kedua aspek ini disempurnakan oleh efektifnya musik dipakai. Selain penggunaan nomor klasik Run Rabbit Run, Michael Abels sang penata musik menyajikan pula alunan mencekam berbalut bisikan lirih yang bakal mengendap di ingatan pasca film usai. Peele memanfaatkan musik seperlunya, bahkan beberapa teror terbaik muncul ketika keheningan tiba-tiba menyeruak. Saya sanggup mencicipi ketegangan menghinggapi seisi studio, mendiamkan penonton lewat kesunyian mencekik. Kalau ada kalimat terlontar, itu akhir menyadari ketidakberesan yang seketika hadir.

Jangan lupa ini yaitu karya Jordan Peele yang bersama rekannya, Keegan-Michael Key menciptakan Key & Peele, sebuah serial komedi sketsa televisi yang di beberapa segmen memparodikan horor. Humor segar mengiringi Get Out, dan hebatnya tanpa berujung permasalahan tonal shift. Sebabnya, komedi tak asal masuk, melainkan khusus dilontarkan oleh scene stealer bernama Rod (Lil Rel Howery), petugas TSA (Transportation Security Administration) sekaligus sahabat Chris yang selalu heboh, bicara semaunya termasuk melontarkan teori gila soal budak seks. Penonton pun paham, tatkala Rod tampil itu saatnya tergelak. Sebaliknya ketika ia tidak menghiasi layar, waktunya kembali "menyalakan" mode serius. Kejelasan pembagian porsi ini sukses meniadakan inkonsistensi tone
Sebagaimana biasa, Peele menyelipkan alegori wacana rasisme. Pernyataan utamanya yaitu bahwa kulit putih selaku pemegang kekuatan dan kekuasaan berniat mengendalikan kulit hitam. Mereka menyatakan bersedia mendapatkan perbedaan tapi hanya di mulut, sementara hati dan perbuatannya tetap meneriakkan diskriminasi. Keramahan bertabur senyum tak ubahnya topeng luar semoga kaum kulit gelap terbuai tutur kata elok dan kehidupan nyaman, tanpa sadar tengah dikontrol, dilucuti kebebasannya. Peele pintar memposisikan pesan-pesan terselubung itu, bersinkronisasi dengan unsur horor sehingga urung menjadikan distraksi. Di samping info rasial, Get Out dapat dilihat pula sebagai horor seputar pengalaman pertama mengunjungi calon mertua (which is scary indeed).

Get Out bak dibentuk menurut semangat segala sesuatu sanggup ditertawakan tanpa menghilangkan keseriusan di dalamnya. Selain bibit unggul horor-komedi, pergerakan misterinya bagai diambil dari dialog santai penuh canda ketika orang kulit gelap membicarakan perlakuan jelek kulit putih pada mereka. Mulai diskriminasi sosial sampai pada level yang terdengar berlebihan dan tidak mungkin macam omongan Rod soal penculikan untuk dijadikan budak seks. Konteksnya bercanda, namun didasari realita, dipicu rasa jengah pula takut akhir kekejaman berkepanjangan. Get Out sukses menggambarkan itu, menuturkan satir sosial dengan gaya ringan tapi tetap menusuk.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Incredibles 2 (2018)

Jika The Incredibles (2004) merupakan parodi film pahlawan super bertemu drama keluarga kelas menengah di pinggiran kota—pekerjaan membosankan sang ayah, ibu rumah tangga—dengan keseharian monoton mereka, maka Incredibles 2, walau tetap menyoroti nilai kekeluargaan dan agresi para pemilik kekuatan super, menyentil info yang mengikuti zaman, yakni kiprah gender. Bagaimana jikalau ibu mempunyai pekerjaan mapan di luar sedangkan ayah mengurus rumah? Pria pemegang teguh nilai patriarki bakal kelabakan bahkan merasa terhina. Itu sebabnya ada relevansi pula urgensi tinggi di sini.

Melanjutkan tamat film pertama tatkala Mr. Incredible alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen Parr (Holly Hunter), bersama ketiga anak mereka menghadapi Underminer, meski aturan masih melarang agresi pahlawan super berkostum. Mereka yakin agresi tersebut baik, tapi dikala berujung melanggar hukum, apakah definisi baik masih layak disematkan? Secercah cita-cita muncul dari Winston Deavor (Bob Odenkirk), pemilik perusahaan telekomunikasi sekaligus penggemar berat pahlawan super, yang mengatakan jalan semoga petinggi-petingi dunia bersedia menghentikan pelarangan terhadap pahlawan super. Kuncinya tak lain menggaet kontribusi publik.

Rencana Winston dan adiknya, Evelyn (Catherine Keener) si mahir teknologi, yaitu memasang kamera di badan pahlawan super, supaya publik sanggup memahami lebih jauh seluk beluk di tengah pertarungan melawan kejahatan. Supaya publik tahu, betapa keselamatan mereka jadi prioritas utama para jagoan. Mengacu pada data soal “seberapa destruktif” tiap-tiap jagoan kala beraksi, Elastigirl, yang mempunyai tingkat terendah pun dipilih. Data tersebut membawa kita sedikit mengintip perihal tema gender yang diangkat. Mr. Incredibles (pria) cenderung mengandalkan otot, tanpa pikir panjang, sementara Elastigirl (wanita) lebih taktis dan mengedepankan otak. Pekerjaan bagi sang istri mengharuskan Bob tinggal di rumah menjaga ketiga buah hati.

Seperti kebanyakan suami, Bob yakin tetek bengek rumah tangga bukan masalah sulit dan akan gampang dijalankan. Bob tak tahu apa yang menantinya. Menangani Violet (Sarah Vowell) dan urusan cinta monyetnya, kiprah matematika Dash (Huck Milner), dan Jack-Jack yang memberi problem lebih dari sekedar mengganti popok. Sulit bagi Bob. Dia lelah, mengeluh, tapi bukan lantaran sisi machonya terancam, melainkan rasa “gatal” untuk kembali beraksi. Semacam post-power syndrome, yang juga dialami Helen, meski kontrol diri sang istri lebih kuat. Bob mencoba melaksanakan yang terbaik, memberi tumpuan mengenai heroisme seorang ayah. Bagi orang bau tanah yang bekerja, konsekuensinya yakni melewatkan tumbuh kembang anak. “Aku melewatkan kekuatan super pertama Jack-Jack”, ungkap Helen, sebagaimana keluhan orang bau tanah yang melewatkan langkah pertama anaknya.

Intensitas Incredibles 2 tidak sepadat film pertama akhir kesan lebih “cerewet” dari setumpuk obrolan. Ada perdebatan panjang ayah-ibu hingga pembicaraan hati ke hati para perempuan perihal kiprah gender, yang bakal sulit diikuti penonton bocah, namun cukup menyadarkan penonton dewasa, dan bukan tidak mungkin memberi mereka materi perihal parenting maupun pemberdayaan perempuan untuk diajarkan ke anak mereka suatu hari kelak. Jangan khawatir elemen tersebut menurunkan daya hibur filmnya. Layaknya film pertama, Incredibles 2, dipandu penyutradaraan berenergi Brad Bird (The Incredibles, Mission: Impssible – Ghost Protocol) masih sajian pendobrak batas terkait urusan agresi pahlawan super.

Ditemani musik epic garapan Michael Giacchino, seri The Incredibles selalu sanggup menggelontorkan agresi yang akan tampak terlalu konyol atau membutuhkan CGI terlampau banyak di medium live action. Lihat agresi pembukanya, kala kamera bergerak amat dinamis, menggunakan tracking shot, mengikuti satu demi satu ekspo kekuatan keluarga super kita, sebelum Frozone (Samuel L. Jackson) memasuki arena pertempuran, kolam menari lincah di atas lintasan es buatannya. Atau dikala Elastigirl berusaha menghentikan upaya supervillain Screenslayer, yang bisa menghipnotis korbannya melalui banyak sekali jenis layar, dengan merenggangkan tubuhnya sementara motornya “terbelah” dua. Butuh kreativitas tinggi guna mengeksekusi sekuen macam itu.

Incredibles 2 masih berperan selaku parodi film-film pahlawan super. Kunjungan kita ke rumah Tony Stark (tidak diungkap secara gamblang) jadi contoh. Pun jikalau anda familiar dengan komik Fantastic Four, yang memberi ide besar bagi pondasi The Incredibles semenjak dulu, maka Jack-Jack mungkin mengingatkan kepada Franklin Richards, putera Reed Richards dan Susan Storm yang mempunyai kekuatan tanpa batas, bahkan dianggap sebagai makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Jack-Jack sendiri merupakan sumber tawa terbesar film ini yang takkan sulit mencuri hati penonton mana saja.


Note: Jangan lewatkan film pendek Bao yang diputar di awal, satu lagi animasi indah Pixar yang menguras air mata. 

Ini Lho Sicario: Day Of The Soldado (2018)

Sicario pertama (2015) bicara soal “sosok putih”, distributor FBI berjulukan Kate Macer (Emily Blunt), yang mempelajari realita abu-abu sehabis ditampar keras oleh ambiguitas budbahasa di mana aturan tak berlaku. Pada sekuelnya, giliran dua sosok “penampar” Kate lah yang mendapati bahwa ketiadaan aturan mereka pun nampak higienis di hadapan intrik kotor politik internasional. Di satu kesempatan, distributor CIA Matt Graver (Josh Brolin) menyuarakan kejengahannya pada sang atasan, Cynthia Foards (Catherine Keener), bahwa langkah yang diambil pemerintah takkan mengubah apa pun. Respon Cyhnthia menciptakan Matt, si prajurit brutal nihil aturan tampak kolam bocah naif.

Ada pula dua muda-mudi terlibat dalam konflik: Isabela Reyes (Isabela Moner), puteri bungsu seorang pimpinan kartel Meksiko yang di sekolahnya bisa bersikap layaknya bos durjana tanpa takut tersentuh eksekusi guru, dan Miguel Hernandez (Elijah Rodriguez), berilmu balig cukup akal Meksiko-Amerika yang ingin menjadi kriminal. Seperti Kate di film pertama, Isabela dan Miguel bagai domba, tapi di sini, domba-domba itu berlagak layaknya serigala, sampai kesudahannya nasib mempertemukan mereka dengan kawanan serigala sungguhan yang tengah berperang. Apakah domba-domba ini akan jadi mangsa, kembali ke habitatnya, atau bertransformasi menjadi predator pula? Konklusinya memberi siratan cukup terperinci bagi arah bundar kehidupan yang bakal mereka tempuh.

Day of the Soldado membahas dua pokok problem yang belakangan makin kerap menyulut kontroversi, khususnya di Amerika, yakni serbuan teroris aneh serta imigran. Tapi Taylor Sheridan (Sicario, Wind River, Hell or High Water) yang masih menulis naskahnya tak tertarik menjabarkan “Apa yang seharusnya dilakukan?”, melainkan “Apa yang selama ini sudah dilakukan dari di balik layar”. Setidaknya berdasarkan perspektif Sheridan, yang membuka filmnya pribadi lewat hantaman mencekat dan menegangkan berupa agresi bom bunuh diri. Sayang, ketegangan di tingkatan setara gagal terulang di sisa durasi. Kementrian Pertahanan mengutus Matt guna menutup jalur para terors yang diselundupkan oleh kartel di Meksiko.

Taktik memecah-belah diterapkan. Kembali dibantu Alejandro (Benicio del Toro), Matt menculik puteri pimpinan kartel, Isabela, kemudian mengaturnya semoga tampak ibarat perbuatan kartel saingan. Tujuannya semoga kedua belah pihak saling menghancurkan tanpa perlu campur tangan pemerintah Amerika, yang nantinya diperlukan memutus mata rantai terorisme. Meski kalau ditanya mengenai definisi terorisme, Matt menjawab, “Tugas Menteri Pertahanan untuk menyematkan definisi itu ke siapa”. Di sini Sheridan tengah menyentil wacana Amerika, sang negeri adidaya, bisa pengelompokkan “si baik” dan “si jahat” sesuai kepentingan mereka.

Artinya, ambiguitas pendahulunya masih dipertahankan. Sheridan menegaskan ketiadaan kepastian soal siapa mitra maupun lawan, yang diwakili suatu momen yang ia tulis secara cerdas tatkala Isabela berhasil “diselamatkan” dari kurungan penculik. Tapi tidak semua momen tampil secerdik itu. Ada kalanya rencana Sheridan pintar, ada kalanya tidak masuk akal. Atau mungkin di dalam imajinasinya, itu masuk akal, hanya saja, akhir kebencian Sheridan terhadap eksposisi (diakuinya sendiri), banyak poin terkesan membingungkan. Bahkan lebih membingungkan ketimbang film pertama lantaran kali ini konspirasi bertambah rumit seiring skala yang turut membesar, juga melibatkan lebih banyak pihak. Kadang kebingungan tersebut mensugesti intensitas.  

Untung penyutradaraan Stefano Sollima (Suburra) solid. Mengusung tempo lebih cepat, toh kita tetap bisa menemukan pergerakan kamera yang melayang lambat khususnya dalam establishing shot, yang mengingatkan akan gaya Denis Villeneuve. Masih dipertahankan pula musik atmosferik nan menghantui, walau departemen musik kini ditangani Hildur Guðnadóttir, menggantikan mendiang Jóhann Jóhannsson. Tidak mengherankan, alasannya ialah keduanya pernah berkolaborasi di Mary Magdalene (2018), dan Guðnadóttir pernah memainkan cello dalam Arrival (2016) yang musiknya digubah Jóhannsson. Sayang, meski tetap sedap dipandang, sinematografi Dariusz Wolski (The Martian, Prometheus) nyatanya tak seindah karya Roger Deakins.

Tidak ada Emily Blunt yang kehadirannya berfungsi sebagai kacamata penonton mengintip kerasnya dunia kriminalitas, namun Day of the Soldado masih punya Josh Brolin dan Benicio del Toro, dua pemain film yang bisa menebarkan aura machismo cukup dengan duduk membisu atau bertutur secara kasual. Karakter peranan del Toro memperoleh story arc bersifat personal selaku lanjutan film pertama, yang lagi-lagi Cuma berujung sempilan di tengah tanpa imbas emosi. Tidak ada pilihan lain. Apabila Sheridan begitu getol ingin menguatkan elemen drama di sekitar Alejandro, ia membutuhkan filmnya sendiri. Sementara Brolin memantapkan status sebagai “actor of the year”. Pasca Thanos, Cable, kemudian Matt, pesan yang muncul jelas: “Jangan macam-maca dengan Josh Brolin!”.

Konklusinya membuka lapang bermacam-macam kemungkinan untuk dongeng masa depan andai seri Sicario dilanjutkan. Kemungkinan yang rasanya nyaris tidak berujung mengingat kriminalitas dan konspirasi politik merupakan jalur utamanya. Tapi di waktu bersamaan, konklusi tersebut melucuti citra kerasnya dunia gelap milik seri Sicario, di mana semestinya tak ada pihak yang kondusif dalam daerah sekelam nan semematikan ini. Sicario: Day of the Soldado tidak se-memorable pendahulunya, tidak pula mengandung teror yang sama kuatnya, tetapi sebagai sajian aksi/thriller semata, Day of the Soldado memperlihatkan cengkeraman cukup kencang.