Showing posts with label Ethan Hawke. Show all posts
Showing posts with label Ethan Hawke. Show all posts

Sunday, January 6, 2019

Ini Lho Predestination (2014)

"Inevitable" merupakan kata yang berulang kali muncul dalam penyesuaian kisah pendek "---All You Zombies---" karya Robert A. Heinlein ini. Kata itu sekilas merupakan perwakilan dari tema takdir yang diusung oleh film ini. Judul Predestination sendiri punya arti "suatu hal yang telah dituliskan oleh Tuhan" atau dengan kata lain takdir. Tapi dalam suatu kisah sci-fi kompleks apalagi yang berkisah wacana perjalanan waktu, kata tersebut sering dipakai sebagai penggampangan untuk menutupi plot hole. Bagaimana bisa? Karena dengan menyebut inevitable, pertanyaan ibarat "bagaimana?" bisa dijawab dengan mudah: sebab itu tidak terelakkan. Sama ibarat murphy law dalam Interstellar, hanya saja secara penyebutan serta penerapan terasa less scientific. Premis film ini yaitu mengenai keberadaan biro yang bertugas untuk menghentikan agresi kejahatan sebelum kejahatan itu terjadi. Tentu saja caranya dengan menggunakan mesin waktu (dalam film ini berbentuk tas biola).

Langsung dibuka dengan agresi ketika seorang biro mengalami luka bakar parah dalam usahanya menghentikan teroris berjulukan "Fizzle Bomber" mengakibatkan film Australia ini terasa bakal mengikuti blueprint Hollywood yang penuh agresi dan ledakan. Tapi semua berubah ketika fokus film beralih pada pembicaraan antara seorang bartender (Ethan Hawke) dan penulis transgender dengan nama pena "The Unmarried Mother" (Sarah Snook). Sang penulis mengisahkan wacana masa lalunya, mulai dari masa ia ditinggalkan ketika masih bayi di sebuah panti asuhan, tumbuh sebagai gadis penyendiri dengan kemampuan fisik dan otak di atas rata-rata, keikutsertaannya dalam seleksi Space Corps, kehamilan dengan laki-laki tak dikenal yang tiba-tiba meninggalkan dia, hingga momen menyedihkan ketika bayinya menghilang dari rumah sakit. Menggunakan obrolan dan flashback film ini menggali masa kemudian sang penulis. 
Predestination menjadikan sentuhan time travel-nya sebagai jalan untuk mengeksekusi drama kehidupan. Diperhatikan lagi, konsep sci-fi disini amat sederhana bahkan predictable. Membawa konsep paradoks dan ouroboros, penonton tidak akan kesulitan menebak twist-nya. Tapi meski familiar dengan konsep predestination paradoks dimana perjalana waktu mengakomodir "A menimbulkan B dan sebaliknya B menimbulkan A" tidak akan mengurangi kesenangan anda menonton film garapan Michael dan Peter Spierig ini. Saat twist semakin bersahabat kita bisa menebak arahnya, tapi jauh sebelum itu sulit memprediksi ceritanya bergerak kearah twist tersebut. Saya dibentuk tidak sempat repot-repot menebak arahnya sebab drama yang kuat. Karena secara mengejutkan, dibalik konsep perjalanan waktunya ada drama kelam wacana takdir hingga selipan sex story yang twisted. 

Kejutan muncul bukan sekedar untuk menghias plot, tapi penting pada pembangunan drama karakter. Akhirnya sehabis kejutan hadir, efeknya pun hingga pada sisi emosi. Begitu film selesai, aku merasa bahwa segala hal yang terjadi pada karakternya terasa memilukan. Sebuah bencana menyedihkan yang diciptakan oleh kekejaman berjulukan takdir. Semakin menyedihkan lagi sebab semua itu tidak bisa dirubah (inevitable). Predestination membawa kisah time travel pada suasana kelam bahkan cukup depresif diakhirnya. Di ketika banyak sci-fi bertemakan perjalanan waktu mencoba bersikap lebih positif, tidak begitu dengan film ini. Fakta bahwa kita tidak bisa merubah takdir ditekankan sebagai suatu hal yang memilukan. Meski ada harapan, sehabis tahu keseluruhan ceritanya aku menyadari itu hanya impian semu. Tanpa banyak darah, film ini berhasil menjadi sebuah tontonan yang bagi aku cukup sadis. 
Kenapa sadis? Kenapa memilukan? Karena karakternya mengejar masa lalu. Masa kemudian yaitu ketika dimana mereka menemukan cinta, kenangan indah yang tak bisa lagi terulang. Seiring berjalannya waktu, kehidupan berjalan seolah tanpa arti sebab ketiadaan tujuan. Predestination menyoroti hal itu, disaat seseorang tidak tahu arah serta makna dari kehidupan yang ia jalani. Terasa sadis, sebab pada alhasil ketika tujuan berhasil ditemukan, dan masa depan coba dibangun, sebagai penonton kita tahu bahwa itu hanyalah sesuatu yang semu. Semuanya akan terus berputar, ibarat ular yang menggigit ekornya sendiri dalam lambang ouroboros. Diluar dugaan ada drama sedalam itu. Dengan cermat, Michael dan Peter Spierig menggiring aku pada awalnya untuk percaya bahwa film ini berkisah wacana balas dendam atau perjuangan membunuh seseorang di masa kemudian (seperti Looper) karena voice over diawal film.

Sekilas akan terasa memusingkan, tapi sebenarnya alur fim ini amat sederhana. Semakin sedehana bila anda memahami konsep paradoks dalam perjalanan waktu. Tapi memang sekeras apapun perjuangan Michael dan Peter Spierig untuk melogiskan penyesuaian ini, tetap banyak hal yang di luar nalar, sehingga membuat plot hole. Tapi aku tidak peduli. Kebanyakan sci-fi remaja ini tidak bisa menyeimbangan antara hiburan dengan kedalaman cerita. Predestination adalah produk langka yang berhasil menyuguhkan itu. Saya dibentuk terhibur, diajak bersenang-senang dengan konsep time travel penuh twist-nya, tapi juga dibentuk karam dalam drama karakternya. Konsep tinggi diimbangi dengan hati dalam kisah membuat aku tidak mempedulikan lubang alur maupun fakta bahwa film ini lebih berat ke fiksi daripada penggabungannya dengan sains. 


Saturday, December 29, 2018

Ini Lho Predestination (2014)

"Inevitable" merupakan kata yang berulang kali muncul dalam penyesuaian kisah pendek "---All You Zombies---" karya Robert A. Heinlein ini. Kata itu sekilas merupakan perwakilan dari tema takdir yang diusung oleh film ini. Judul Predestination sendiri punya arti "suatu hal yang telah dituliskan oleh Tuhan" atau dengan kata lain takdir. Tapi dalam suatu kisah sci-fi kompleks apalagi yang berkisah wacana perjalanan waktu, kata tersebut sering dipakai sebagai penggampangan untuk menutupi plot hole. Bagaimana bisa? Karena dengan menyebut inevitable, pertanyaan ibarat "bagaimana?" bisa dijawab dengan mudah: sebab itu tidak terelakkan. Sama ibarat murphy law dalam Interstellar, hanya saja secara penyebutan serta penerapan terasa less scientific. Premis film ini yaitu mengenai keberadaan biro yang bertugas untuk menghentikan agresi kejahatan sebelum kejahatan itu terjadi. Tentu saja caranya dengan menggunakan mesin waktu (dalam film ini berbentuk tas biola).

Langsung dibuka dengan agresi ketika seorang biro mengalami luka bakar parah dalam usahanya menghentikan teroris berjulukan "Fizzle Bomber" mengakibatkan film Australia ini terasa bakal mengikuti blueprint Hollywood yang penuh agresi dan ledakan. Tapi semua berubah ketika fokus film beralih pada pembicaraan antara seorang bartender (Ethan Hawke) dan penulis transgender dengan nama pena "The Unmarried Mother" (Sarah Snook). Sang penulis mengisahkan wacana masa lalunya, mulai dari masa ia ditinggalkan ketika masih bayi di sebuah panti asuhan, tumbuh sebagai gadis penyendiri dengan kemampuan fisik dan otak di atas rata-rata, keikutsertaannya dalam seleksi Space Corps, kehamilan dengan laki-laki tak dikenal yang tiba-tiba meninggalkan dia, hingga momen menyedihkan ketika bayinya menghilang dari rumah sakit. Menggunakan obrolan dan flashback film ini menggali masa kemudian sang penulis. 
Predestination menjadikan sentuhan time travel-nya sebagai jalan untuk mengeksekusi drama kehidupan. Diperhatikan lagi, konsep sci-fi disini amat sederhana bahkan predictable. Membawa konsep paradoks dan ouroboros, penonton tidak akan kesulitan menebak twist-nya. Tapi meski familiar dengan konsep predestination paradoks dimana perjalana waktu mengakomodir "A menimbulkan B dan sebaliknya B menimbulkan A" tidak akan mengurangi kesenangan anda menonton film garapan Michael dan Peter Spierig ini. Saat twist semakin bersahabat kita bisa menebak arahnya, tapi jauh sebelum itu sulit memprediksi ceritanya bergerak kearah twist tersebut. Saya dibentuk tidak sempat repot-repot menebak arahnya sebab drama yang kuat. Karena secara mengejutkan, dibalik konsep perjalanan waktunya ada drama kelam wacana takdir hingga selipan sex story yang twisted. 

Kejutan muncul bukan sekedar untuk menghias plot, tapi penting pada pembangunan drama karakter. Akhirnya sehabis kejutan hadir, efeknya pun hingga pada sisi emosi. Begitu film selesai, aku merasa bahwa segala hal yang terjadi pada karakternya terasa memilukan. Sebuah bencana menyedihkan yang diciptakan oleh kekejaman berjulukan takdir. Semakin menyedihkan lagi sebab semua itu tidak bisa dirubah (inevitable). Predestination membawa kisah time travel pada suasana kelam bahkan cukup depresif diakhirnya. Di ketika banyak sci-fi bertemakan perjalanan waktu mencoba bersikap lebih positif, tidak begitu dengan film ini. Fakta bahwa kita tidak bisa merubah takdir ditekankan sebagai suatu hal yang memilukan. Meski ada harapan, sehabis tahu keseluruhan ceritanya aku menyadari itu hanya impian semu. Tanpa banyak darah, film ini berhasil menjadi sebuah tontonan yang bagi aku cukup sadis. 
Kenapa sadis? Kenapa memilukan? Karena karakternya mengejar masa lalu. Masa kemudian yaitu ketika dimana mereka menemukan cinta, kenangan indah yang tak bisa lagi terulang. Seiring berjalannya waktu, kehidupan berjalan seolah tanpa arti sebab ketiadaan tujuan. Predestination menyoroti hal itu, disaat seseorang tidak tahu arah serta makna dari kehidupan yang ia jalani. Terasa sadis, sebab pada alhasil ketika tujuan berhasil ditemukan, dan masa depan coba dibangun, sebagai penonton kita tahu bahwa itu hanyalah sesuatu yang semu. Semuanya akan terus berputar, ibarat ular yang menggigit ekornya sendiri dalam lambang ouroboros. Diluar dugaan ada drama sedalam itu. Dengan cermat, Michael dan Peter Spierig menggiring aku pada awalnya untuk percaya bahwa film ini berkisah wacana balas dendam atau perjuangan membunuh seseorang di masa kemudian (seperti Looper) karena voice over diawal film.

Sekilas akan terasa memusingkan, tapi sebenarnya alur fim ini amat sederhana. Semakin sedehana bila anda memahami konsep paradoks dalam perjalanan waktu. Tapi memang sekeras apapun perjuangan Michael dan Peter Spierig untuk melogiskan penyesuaian ini, tetap banyak hal yang di luar nalar, sehingga membuat plot hole. Tapi aku tidak peduli. Kebanyakan sci-fi remaja ini tidak bisa menyeimbangan antara hiburan dengan kedalaman cerita. Predestination adalah produk langka yang berhasil menyuguhkan itu. Saya dibentuk terhibur, diajak bersenang-senang dengan konsep time travel penuh twist-nya, tapi juga dibentuk karam dalam drama karakternya. Konsep tinggi diimbangi dengan hati dalam kisah membuat aku tidak mempedulikan lubang alur maupun fakta bahwa film ini lebih berat ke fiksi daripada penggabungannya dengan sains. 


Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Valerian And The City Of A Thousand Planets (2017)

Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang  seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia daerah aksara itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melaksanakan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya dikala kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan formasi pemain film kenamaan sekaligus imbas CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman aksara atau dongeng solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.

Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang tepat membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan acara luar angkasa insan dari masa ke masa, berujung pada era 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama membuatkan kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) yakni anggota kepolisian insan yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies binatang langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi banyak sekali daerah di galaksi, bertemu alien bermacam-macam bentuk, juga menyelidiki bencana masa kemudian yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian dongeng dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum hingga titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di daerah lain, menetap di sana menikmati suasana, gres lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one

Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan berpengaruh di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, dominan konflik berujung sekuen agresi tidak didorong perjuangan tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup dikala terancam ancaman jawaban terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar insan dan keburukan alami mereka (kita). 
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, alasannya bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner bisa membuat sederet lingkungan, teknologi, hingga kegiatan tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar membisu di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan lisan kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang eksklusif menghentak semenjak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal sanksi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.

Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pendekar sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori jelek Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara bisa pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh perempuan idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas bawel milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan aksara (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah badan di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.


Ulasan untuk film ini sanggup dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE