Showing posts with label Jefri Nichol. Show all posts
Showing posts with label Jefri Nichol. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Dear Nathan (2017)

Dilihat dari sampul luarnya, gampang menghakimi "Dear Nathan" sebagai kisah cinta cukup umur dangkal yang sekedar mengandalkan paras rupawan para pemain drama dan baris kalimat sok puitis. Tapi siapa sangka, penyesuaian adaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani ini merupakan salah satu romansa putih abu-abu paling manis dalam beberapa tahun terakhir. Tidak perlu setting luar negeri megah, wardrobe serba mahal, atau kemewahan-kemewahan lain yang belakangan kerap digunakan film cinta dalam negeri guna membuai penonton biar melupakan setumpuk kelemahannya. "Dear Nathan" sanggup membuai alasannya dua sejoli tokoh utamanya likeable serta believable.

Salma (Amanda Rawles) dan Nathan (Jefri Nichol) pertama bertemu ketika mereka terlambat mengikuti upacara bendera di sekolah. Nathan membantu Salma masuk lewat jalan rahasia, kemudian menghilang. Rupanya Nathan dikenal bandel, hampir tiap hari laga walau satu-satunya yang ia jadikan sasaran pukulan ialah para bully atau preman. Rupanya pertemuan pertama itu eksklusif menciptakan Nathan jatuh hati, dan dibantu oleh Rahma (Diandra Agatha), ia mulai mendekati Salma, yang meski menyimpan perasaan sama, ragu untuk eksklusif mendapatkan cinta Nathan. Tanpa diketahui banyak orang, Nathan sendiri menyimpan duduk kasus terkait masa kemudian tragis keluarganya.
Mengambil setting SMA, "Dear Nathan" menghadirkan pernak-pernik dunia tersebut. Bagus Bramanti dan Gea Rexy paham benar ibarat apa asmara yang pernah dialami secara umum dikuasai orang ketika SMA, kemudian menuangkannya ke naskah dalam dosis tepat. Curi-curi pandang ketika pelajaran olahraga, duduk berdua di sudut belakang sekolah, hingga jadi sentra perhatian sewaktu kali pertama berangkat berboncengan berdua. Memori saya dilemparkan ke masa itu dan dibentuk tersenyum mengingatnya. Sekolah Menengan Atas ialah kawasan cinta monyet penuh romantisme gombal mulai bersemi. "Dear Nathan" sanggup merangkum poin itu sembari menyelipkan keping lain ibarat sobat egois yang gemar mengatur, tata tertib menyebalkan, hingga selintas ukiran siswa akademisi (nan sok suci) dengan mereka yang dianggap nakal.

Nathan mewakili korban prejudice yang dipandang jelek bahkan sampah alasannya menolak mengikuti jalur lurus yang dianggap sesuai kaidah moralitas. Namun di balik tingkah kasar, ada kebaikan yang enggan diperhatikan orang-orang di sekitarnya. Nathan bukan insan penghasil quote "ajaib" macam Dimas Anggara di film-film produksi Screenplay. Daripada berkata-kata mesra, ia eksklusif bertindak untuk hal kecil sekalipun macam membelikan Salma cilok di jam istirahat. Jefri Nichol punya pesona yang bakal memancing jeritan penonton perempuan (dan beberapa pria) tanpa perlu kaku bertutur akhir berusaha tampak keren. Nichol tak coba mendramatisir penuturan kalimatnya. Terdengar manis berkat pelafalan natural, asyik, gampang menggaet simpati penonton bagi Nathan. Bagi para laki-laki emosional, Nathan akan terasa relatable. 
Cinta pada Salma ditambah perjuangan mengambil kembali kasih sayang ibu (Ayu Dyah Pasha) mendorong perubahan Nathan. Konsisten dengan perlawanannya terhadap prejudice, film ini tak berniat mengubah Nathan menjadi sosok lain yang oleh konsensus publik dianggap lebih baik ibarat Aldo (Rayn Wijaya) si ketua OSIS berprestasi misal. Serupa yang diungkapkan Salma, Nathan mesti menjadi versi lebih baik dari dirinya sendiri. Tetap easy going namun lebih teratur, pula bersedia memulai babak gres hidup khususnya bersama sang ayah (Surya Saputra). Patut disayangkan, mencapai titik ini penceritaan kurang mulus. Proses perubahan Nathan terkesan mendadak, tidak bertahap. Lubang pun sempat hadir terkait timeline membingungkan suatu adegan. Saya tidak sanggup menuliskan adegan apa, tapi melibatkan momen penting salah satu tokoh.

Daripada orkestra menggelegar, sutradara Indra Gunawan ("Hijrah Cinta") menentukan lagu-lagu pop ringan guna menemani perjalanan cinta Nathan dan Salma. Pilihan tepat, alasannya momen-momen mereka berdua terasa manis tanpa harus didramatisasi berlebihan (penyakit banyak romansa Indonesia). Balutan komedi segar hasil interaksi malu-malu kucing dua cukup umur sukses pula hidupkan suasana. Amanda Rawles berjasa di sini, dengan baik menangani kecanggungan dan salah tingkahnya Salma yang efektif memancing senyum. Ditutup oleh kebahagiaan manis di bawah guyuran hujan, lengkaplah "Dear Nathan", romantika cukup umur dengan pemfokusan pada penokohan, suatu hal yang sekarang semakin jarang ditemui tatkala puisi-puisi hampa nihil rasa jadi andalan.

Ini Lho Jailangkung (2017)

Salah besar menganggap horor tak memerlukan naskah mumpuni. Meski bukan mengedepankan alur kompleks, obrolan cerdas, atau penokohan solid naskah horor mempunyai kegunaan menyediakan layout, khususnya apabila penulis dan sutradara tidak dipegang satu orang. Deskripsi bagaimana sebuah kengerian muncul amat membantu pengadeganan sutradara. Dan satu poin yang kerap tertinggal (baik sengaja maupun tidak) yaitu "rule" alias aturan. Poin ini penting apalagi bagi horor mistis dengan mitologi mengenai hantu, apa pemancing kehadirannya, kemampuan, hingga cara mengusir. Aturan ini merupakan logika tersendiri yang wajib dipegang dalam film horor kala ketiadaan common sense bersifat lumrah.

Jailangkung jelas berambisi mengulang fenomena Jelangkung 16 tahun lalu. Duet Rizal Mantovani dan Jose Purnomo kembali di dingklik sutradara, sedangkan naskah dipegang Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, Sawadikap, Ghost Diary) menggantikan Adi Nugroho (Kuldesak, Ruang, Strawberry Surprise). Kisahnya memakai template umum, ihwal perjalanan tiga abang beradik, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hannah Al Rashid), dan Tasya (Gabriella Quinlyn) menuju pulau Alas Keramat, tempat di mana sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) berada terakhir kali sebelum koma. Dibantu Rama (Jefri Nichol) si perjaka andal ilmu kejawen, mereka menemukan diam-diam mengerikan yang bertahun-tahun disimpan Ferdi.
Walau adegan pembukanya tak lebih dari eksposisi buru-buru, awal Jailangkung cukup menjanjikan berkat penanaman misteri terkait mitos Jawa. Mitologi klenik kawasan kita memang berpotensi dieksplorasi alasannya yaitu memberi bekal misteri untuk ditelusuri. Walau teori seputar jiwa dan raga berdasarkan kepercayaan Jawa yang dipresentasikan Rama konkret didasari riset seadanya, rasa ingin tahu masih bisa disulut. Ritual apa yang Ferdi lakukan? Siapa sosok Mati Anak yang mengganggunya? Ada modal berpengaruh guna menggulirkan alur menarik. Ditambah lagi, Jailangkung enggan mengumbar penampakan sebanyak dan sedini mungkin. Sampai akhirnya, semakin jauh perjalanan, semakin jelek filmnya.

Penyebabnya naskah buatan Baskoro gemar menyalahi logika umum hingga rule khusus sebagaimana tersebut tadi. Kakak gila mana yang membawa adik kecilnya ke pulau terpencil kemudian meninggalkannya sendiri di kamar sebuah rumah kosong menyeramkan? Remaja gila mana pula yang bisa duduk santai tersenyum menonton rekaman ijab kabul orang renta mereka di sana pada tengah malam? Lalu apa tujuan Ferdi merekam aktivitasnya selain sebagai cara filmnya mengakali flashback? Banyak juga sudut peletakan kamera terlampau sinematik untuk footage amatir. Tapi dosa lebih besar yaitu dikala Baskoro mengesampingkan hukum buatannya sendiri mengenai hantu dan jailangkung, contohnya dikala dampak gangguan hantu untuk seorang tokoh berbeda dari tokoh lain (what's the deal with Angel's abstrak hallucination?). Hantu memang tak butuh hukum main, tapi untuk apa membangun mitologi kalau berujung seenaknya sendiri? Saat penulisnya menolak peduli, bagaimana penonton mau mempedulikan filmnya?
Buruknya naskah tidak membantu Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sama-sama dikenal akan kemampuan menangkap gambar indah namun terbelakang bercerita. Didukung biaya 10 miliar rupiah, Jailangkung serupa produksi Screenplay Films lain, terlihat mahal, yummy dilihat, tapi nihil substansi, menyerupai ditunjukkan tata artistik setting rumah tempat ritual dengan bermacam-macam ornamen aneh. Sinematografi Jose Purnomo pun menyajikan kemegahan dramatis (shot pemakaman dari atas misalnya) yang urung mendukung tingkat kengerian. Setelah ekonomis di awal, begitu jump scare mulai menerjang, kita dihadapkan pada rutinits biasa berupa kejutan berisik asal masuk. Kombinasi lemahnya naskah dan penyutradaraan berpuncak di third act. Berniat membangun nuansa chaotic, kekacauan sesungguhnya justru tercipta. Saking kacaunya, bila anda olok-olokan pertanyaan menggunakan rumus 5W+1H ihwal klimaksnya, balasan bakal sulit didapat.

Eksekusi teror mencapai paruh final tak hanya meniadakan kengerian, bahkan memunculkan geli. Saya bersama secara umum dikuasai penonton lain tertawa menyaksikan Lukman Sardi menggendong hantu di depan cermin. Bukan seluruhnya salah sutradara, alasannya yaitu Lukman sendiri (bukan di adegan ini saja) bagai berakting di film horor-komedi lewat lisan dibuat-buat. Jarang melihat Lukman Sardi sebagai salah satu aspek terlemah film. It's unusual to see Lukman Sardi became one of a movie's weakest aspect, but there you go. Penampilan Lukman diikuti Jefri Nichol yang pasca penuh karisma di Dear Nathan, sekarang salah mengartikan "quirky, introvert guy" dengan wooden acting. Karakter Rama si andal ilmu mistis tidak berguna, malah beberapa kali jadi penyebab insiden buruk. Beruntung ada Hannah Al Rashid yang seorang diri membuat momen paling mencekam berkat lisan believable. Kita bisa merasa pun percaya atas rasa takut serta penderitaannya. She's that good, but the rest is just a big waste of money and many potentials.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Jailangkung 2 (2018)

Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947 untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon tenggelam akhir kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan kebijaksanaan serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang lebih besar ialah “kenapa sekuel ini dibentuk jikalau orang-orang yang terlibat tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya aku bertanya.

Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 terperinci sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar, punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada di bawah efek Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.

Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, kemudian terinspirasi menciptakan jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu. Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri Nichol), melaksanakan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya sanggup membendung kekuatan Matianak, sesudah memperoleh isu dari Bram (Naufal Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan abjad yang terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya, mendadak bergegas ke WC untuk basuh tangan. Bisa jadi ia menjunjung tinggi kebersihan, meski aku yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism) dari departemen penulisan naskah biar Bella seorang diri di ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat menyelidiki.

Di ketika bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari Tasya yang hilang sesudah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang terperinci sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan perjuangan itu. Satu momen singkat sempat mengatakan para hantu merangkak di depan Matianak layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, pembagian terstruktur mengenai mengapa hantu-hantu selain Matianak ikut meneror.

Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman sampai Keraton mistik Alas Ketonggo jadi pola lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak menyerupai ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menyebabkan film ini tidak semelelahkan dominan horor lokal jelek yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar maritim jauh lebih gampang ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.

Setelah berpetualang sedemikian jauh bersama karakternya, tentu aku mengharapkan puncak yang sepadan, bukannya konfrontasi canggung yang kolam dikemas tanpa perencanaan, tanpa koreografi matang, tanpa totalitas. Beberapa horor terakhir karya duo sutradaranya, Jose Purnomo (Alas Pati, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) dan Rizal Mantovani (Kuntilanak, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) memang buruk, tapi setidaknya ada energi. Jump scare-nya mempunyai tenaga meski berhenti di taraf trik mengagetkan murahan. Jailangkung 2 bagai anak kurang gizi yang dipaksa berlari. Begitu pula jajaran pemainnya. Menyaksikan Amanda Rawles-Jefir Nichol bersama di layar lebar tak pernah sedatar dan semembosankan ini. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Something In Between (2018)

Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films bisa tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat biar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di dingklik sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.

Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melaksanakan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, ibarat obrolan puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada final bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, lantaran mengungkap peristiwa selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang cowok yan tetapkan kembali ke Indonesia dari London sehabis ia terus bermimpi ihwal sebuah kawasan dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi Sekolah Menengan Atas yang saling cinta.

Tidak ada alasan besar lengan berkuasa mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), lantaran keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya lantaran mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema ialah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya materi pembicaraan. Gema sendiri beralasan jikalau “Menyukai Maya lantaran tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi menyayangi dalamnya?”. Tidak masuk nalar memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan lisan gombal. Something in Between menekan obrolan (sok) puitisnya hingga ke takaran yang sanggup dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah sikap antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali terkenal di dongeng cinta Sekolah Menengan Atas perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup membuat nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa ndeso ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan efek kejut, juga mengakibatkan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar hubungan berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, hingga Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang renta Maya, semua menerima kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan lantaran ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri dongeng sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya mewaspadai sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

Ini Lho Dear Nathan Hello Salma (2018)

Ironis. Dear Nathan Hello Salma (berikutnya disebut “Hello Salma”) terkena pengaruh tren “Jefr-Amanda” yang dimulai oleh film pertamanya, yang secara mengejutkan jadi salah satu tontonan terbaik tahun lalu. Setelahnya, selama satu setengah tahun, mereka berpasangan dalam 4 judul (Jailangkung, Jailangkung 2, A: Aku, Benci, dan Cinta, Something in Between), belum ditambah One Fine Day di mana Amanda Rawles menerima tugas kecil. Padahal Hello Salma yaitu film solid, tapi serupa pasangan yang selalu bersama tiap hari, niscaya ada kejengahan, sehingga kilau-kilau percintaan yang dahulu manis mulai terkikis.

Tapi kembali, Hello Salma tetap film apik. Mengadaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani, kisahnya melanjutkan romantika Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) selepas keduanya tetapkan berpacaran di film pertama. Namun, memasuki tahun selesai SMA, relasi mereka justru retak, (lagi-lagi) jawaban kekisruhan buatan Nathan, yang berujung memaksanya pindah sekolah. Mereka menentukan putus. Sewaktu Salma tertekan jawaban paksaan ayahnya (Gito Gilas) melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UI (terjadi pada banyak dewasa termasuk di sekitar saya), Nathan bertemu Rebeca (Susan Sameh) di sekolah barunya.

Rebeca tak ubahnya Nathan di masa lalu. Dia hidup sendiri, jauh dari ibu lantaran enggan tinggal bersama sang suami gres pasca ayahnya meninggal bunuh diri, sebagaimana dahulu konflik Nathan dengan ayahnya (Surya Saputra). Apabila perkelahian jadi pelarian Nathan, Rebeca karam dalam depresi, bahkan mencoba bunuh diri. Kemiripan itu mendorong Nathan tergerak mengulurkan tangan, sesuatu yang hasilnya meluluhkan hati sang gadis.

Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Kartini, Benyamin Biang Kerok) mempertahankan elemen terbaik dari naskah film pertama buatannya, yakni ihwal motivasi. Kita tak perlu bertanya-tanya “Kenapa?”, alasannya yaitu senantiasa ada alasan jelas. Sungguh masuk akal bila Rebeca kepincut. Ketika keluarganya menjauh, pihak sekolah hanya bisa memarahi dan menghukum, juga jadi korban perundungan teman-teman, Nathan justru berdiri, bersedia terlibat perkelahian demi membelanya.

Nathan menghembuskan napas gres bagi hidup Rebeca, mengalunkan kembali musik di telinganya menyerupai dikala Nathan memperbaiki radio tape milik mendiang ayahnya. Sama pula dengan bagaimana Rebeca membawa nyawa gres untuk franchise ini. Nathan tetap sosok yang dicintai penggemarnya berkat kemampuan Jefri Nichol menyeimbangkan sisi bad boy dan sweet boy. Chemistry-nya dengan Amanda Rawles pun sekuat biasanya, jikalau bukan bertambah natural.

Tapi mungkin itu penyebabnya. Mereka berdua masih (atau selalu) sama, dan sesudah bersama di begitu banyak film dalam waktu berdekatan, saya mulai lelah menyaksikan dinamika yang “itu-itu saja”. Nathan berseloroh, Salma merespon lewat perilaku malu-malu mau. Beberapa pihak mungkin bakal berargumen bahwa itu bukan kesalahan filmnya, melainkan eksploitasi berlebihan dari industri. Tapi tidak. Orang-orang di balik Hello Salma sadar betul formula Jefri-Amanda telah diperas habis-habisan, dan ketimbang mencoba arah gres yang segar, mereka menentukan jalur gampang dengan mengikuti pola.

Dan begitu Rebeca muncul sebagai sosok likeable berkat kemahiran Susan Sameh memainkan 2 wajah berlainan karakternya, Hello Salma malah datang di titik jenuhnya kala kedua tokoh utamanya bersama. Khususnya dikala sutradara Indra Gunawan (Hijrah Cinta, Dear Nathan, Serendipity) memasang mode autopilot, berbeda dibanding film pertama tatkala ia sanggup mengkreasi beberapa situasi romantis. Tarian slo-mo di bawah ujan sebagai penutup, misalnya.

Bukti kebersamaan Jefri-Amanda mulai menjemukan adalah, setiap Hello Salma menyelipkan elemen komplemen (meski kecil), contohnya menaruh Surya Saputra—dengan sisi kebapakan yang jauh dari kaku—di antara mereka, filmnya selalu menemukan pijakannya lagi. Semua berjalan mulus selama layar tidak cuma menampilkan mereka saja. Satu-satunya modifikasi bagi dinamika Nathan dan Salma, yakni menggiring Salma menuju kondisi yang lebih gelap, pun tak seberapa membantu.

Permasalahan Salma relevan. Tekanan orang tua, depresi pada pelajar jawaban tuntutan akademis, semua penting untuk dituturkan. Namun naskahnya urung menghasilkan penelusuran mendalam terhadap masalah-masalah di atas, melainkan sebatas jembatan semoga Nathan dan Salma bisa kembali bersama. Nasib demikian turut dialami Rebeca, yang berujung dikesampingkan selaku penghubung, walau kondisinya lebih kompleks, menarik, pun bisa mengemban tugas Salma sebagai penyalur isu.

Untunglah, soal menyusun momen-momen ringan termasuk komedik, naskahnya tampil solid. Walau satu adegan yang menampilkan seorang dukun terasa dipaksakan, sisanya bisa menghadirkan senyum dan tawa, apalagi dikala berurusan dengan situasi-situasi canggung yang berujung celetukan jenaka karakternya. Hello Salma menunjukkan bahwa seri Dear Nathan masih menonjol dibanding romansa putih abu-abu kebanyakan. Andai Jefri dan Amanda tak sesering itu bersama. Sebab, sewaktu pasangan utama film romansa yang mestinya didukung penonton justru tenggelam, tentunya ada permasalahan.  

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho A: Aku, Benci, Dan Cinta (2017)


Perbedaan tipis benci dan cinta, gangguan-gangguan mengesalkan yang ternyata bentuk lisan malu-malu atas perasaan suka, tentu kita familiar dengan rupa-rupa gejolak asmara kawula muda semasa Sekolah Menengan Atas di atas. Dalam A: Aku, Benci, dan Cinta, kondisi serupa dialami Anggia (Indah Permatasari) dan Alvaro (Jefri Nichol). Anggia setengah mati membenci Alvaro, pemuda paling terkenal di sekolah sekaligus ketua OSIS dengan Anggia sebagai wakilnya. Baginya Alvaro tak berotak maupun hati, hanya playboy bermodal tampang penggoda belasan cewek naif yang telah menjadi korbannya. Apalagi, Alvaro kerap sengaja memancing amarah Anggia.


Polanya bisa ditebak. Alvaro sejatinya menyimpan cinta, begitu pula Anggia yang balasannya luluh juga. Keduanya hanya terlalu ragu atau gengsi mengakui apalagi mengungkapkan isi hati. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Alvaro menyimpan diam-diam perihal persahabatan dengan Alex (Brandon Salim) dan Athala (Amanda Rawles), bagaimana tiga sahabat itu terpecah akhir cinta segitiga, serta kondisi Athala yang telah beberapa usang koma di rumah sakit. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi, debut penyutradaraan Rizki Balki ini mengandung setumpuk potensi pembeda jikalau dibandingkan lebih banyak didominasi romansa putih abu-abu. 
Komedinya segar. Dasar inspirasi dari naskah buatan Alim Sudio (Surga Yang Tak Dirindukan 2, Jilbab Traveler, Pesantren Impian) bisa diwujudkan oleh Rizki Balki menjadi serangkaian sempilan momen abstrak hasil imajinasi karakternya, misal ketika Anggia dikuasai rasa aib hingga ingin loncat dari atap sekolah. Didukung pula kebolehan Indah Permatasari memerankan cewek galak cenderung berangasan yang jangankan murka sambil berteriak, bogem mentah pun tidak ragu beliau lemparkan. She could be our future romcom queen. Para pembuatnya sadar betul keunggulan sisi komedik filmnya, menumpahkannya sebanyak mungkin, yang saking efektifnya, kerap mendistraksi aspek dramatik.

A: Aku, Benci, Dan Cinta seolah galau memilih waktu pula cara untuk tampil serius. Bahkan klarifikasi lantaran Athala koma pun berujung kelucuan disengaja yang seharusnya tak perlu ada. Tensi pertikaian mengenai cinta segitiga yang dua kali menimpa Alvaro dan Alex urung mencapai titik maksimal, khususnya lantaran persahabatan yang telah berlangsung usang pun konon demikian solid itu tak pernah terasa meyakinkan. Konflik Alvaro-Alex-Athala dan dongeng Alvaro-Anggia yang balasannya bersinggungan bagai dua gagasan yang saling bertabrakan mencuri fokus tanpa mampu membaur bersinergi. 
Begitu juga paparan percintaan. Walau diberkahi insting humor mumpuni, Rizki Balki kurang cakap merangkai sisi manis romantisme remaja. Lihat ketika Alvaro dan Anggia berduet menyanyikan lagu ciptaan berdua (Alvaro menciptakan melodi dari puisi Anggia). Mixing jernih ala bunyi CD mengundang kesan artificial, menghilangkan ungkapan emosi, melemahkan momentum. Segala interaksi protagonis bakal berlalu tak berbekas andai tiada Indah Permatasari dan Jefri Nichol di jajaran lead. Bersenjatakan jangkauan emosi semakin luas dibandingkan performanya pada Dear Nathan, Jefri makin piawai memainkan sosok berandalan dengan tingkah seenaknya, tapi punya pesona berpengaruh guna menggaet hati baik huruf lain atau penonton. 

A: Aku, Benci, Dan Cinta merupakan komedi romantis masa Sekolah Menengan Atas yang lebih ampuh menggelakkan tawa daripada memancing gejolak rasa manis asmara. Toh cukup mengasyikkan dikonsumsi sebagai hiburan ringan. Di sisi lain turut memberi panggung bagi Indah Permatasari dan Jefri Nichol menunjukkan kapasitas mereka lebih jauh. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, Jefri Nichol akan kokoh jadi raja film Sekolah Menengan Atas yang selalu memancing jerit histeris penonton remaja. Sementara Indah Permatasari menerangkan bahwa ia perlu menerima pengakuan, layak dipercayakan memikul beban bintang film utama. 

Ini Lho One Fine Day (2017)

Bertaburan bintang idola kaum remaja, mengusung tumbuhnya asmara di setting luar negeri, masuk akal apabila banyak pihak skeptis akan produksi teranyar Screenplay Films ini. Terlebih Asep Kusdinar juga Tisa TS masing-masing tetap ada di dingklik sutradara dan penulis naskah. Tidak dapat disalahkan. Itulah formula kemenangan yang menghasilkan dua film dengan jumlah penonton di atas sejuta. Andai berubah pun sifatnya takkan ekstrim dan tiba-tiba. Namun saat beberapa bulan kemudian Promise "hanya" meraih sekitar 655 ribu penonton, terendah dibanding film Screenplay lain, sedikit modifikasi rasanya perlu, dan One Fine Day melakukan itu.

Kini giliran Barcelona menjadi panggung sewaktu Mahesa (Jefri Nichol), musisi amatir sekaligus penipu ulung pemeras uang wanita-wanita yang dipacarinya, bertemu Alana (Michelle Ziudith). Praktis bagi Alana menyukai Mahesa yang hangat nan romantis mengingat perilaku posesif sang kekasih, Danu (Maxime Bouttier) yang hingga mengirim bodyguard untuk mengawalnya ke mana saja. Berikutnya dapat ditebak, One Fine Day berkutat pada cinta segitiga, tepatnya pertarungan Danu si kaya yang sombong melawan Mahesa yang apa adanya tapi penuh kebebasan. Sesederhana itu.
"Sederhana" bahu-membahu kurang pas disematkan bagi karya Screenplay, pun One Fine Day yang diisi jalan-jalan mengelilingi Barcelona. Namun ketimbang judul-judul sebelumnya, film ini tak lagi disusun oleh barisan kutipan "romantis". Sesekali kalimat bernada puitis terucap tapi dalam kadar normal. Meski harus diakui, jalinan asmaranya tetap bergulir dangkal di mana kebahagiaan identik dengan montage jalan-jalan ditemani lagu Te Amo Mi Amor sambil memaksakan Alana (si pencari kebahagiaan) tertawa menanggapi apapun tingkah Mahesa (si pemberi kebahagiaan). 

Setidaknya dibandingkan Promise atau dwilogi London Love Story, glamoritas berupa mengendarai kendaraan beroda empat glamor di luar negeri atau berkencan di restoran mahal bukan pondasi. Didorong pemanfaatan tepat setting di mana kemeriahan kultur serta musik menghadirkan tarian kegembiraan, kedua tokoh utama tampak murni mencari cinta. Kali ini setting luar negeri bukan sekedar memfasilitasi hedonisme karakternya, melainkan perjuangan mereka mengejar kebahagiaan. Hal ini didukung pula oleh sosok Mahesa yang dari luar tak sesempurna protagonis laki-laki lain milik Screenplay. 
Jefri Nichol terperinci piawai melakoni tugas bad boy, walau resiko typecast perlu ia perhatikan demi daya tahan karirnya. Satu detail yang agak mengganggu yakni saat Nichol beberapa kali bermain gitar tanpa memindahkan kunci. Sementara Michelle Ziudith dengan tangisannya pasti bakal gampang menciptakan penonton dewasa ikut berurai air mata. Walau cukup disayangkan, penokohan Alana yang cenderung pasif kurang memberinya kesempatan unjuk gigi keahlian mencuri perhatian sebagai gadis bersemangat. Padahal tukar barang sindiran antara Ziudith dan Nichol bakal memberi nyawa lebih untuk percikan asmara filmnya.

Kembali menyoal penyederhanaan, menentukan tidak lagi memaksakan keberadaan diam-diam atau twist "besar" yang senantiasa jadi "penyakit" Screenplay terperinci nilai tambah dalam One Fine Day. Pergerakan alur pun berakhir lebih lancar, tanpa terbebani pengungkapan kejutan tak masuk nalar selaku konklusi. Lupakan keraguan sembari menyadari tujuan serta sasaran pasar filmnya, maka anda akan menemukan One Fine Day sebagai rilisan terbaik Screenplay Films sejauh ini.