Showing posts with label Luc Besson. Show all posts
Showing posts with label Luc Besson. Show all posts

Saturday, January 12, 2019

Ini Lho The Family (2013)

Film garapan Luc Besson ini dibintangi Robert De Niro dan diangkat dari novel karya Tonino Benacquista berjudul Malavita yang artinya Badfellas menciptakan film ini seolah menjadi versi tidak serius dari Goodfellas karya Martin Scorsese. Tapi meskipun ceritanya memang seputar dunia cecunguk dan Scorsese menjadi administrator produser bahkan ada adegan yang menampilkan pemutaran film Goodfellas, The Family sama sekali bukanlah parodi dari film tersebut. Selain De Niro, ada nama-nama besar lain ibarat Michelle Pfeiffer, Tommy Lee Jones hingga Dianna Agron di jajaran pemainnya. Saya sendiri tidak mengharapkan kisah yang berbobot dari The Family yang memang cukup mengedepankan unsur komedi, apalagi melihat jajaran film Luc Besson akhir-akhir ini yang kualitasnya biasa saja bahkan beberapa diantaranya termasuk film yang buruk. Namun sebagai hiburan yang menyenangkan The Family cukup punya potensi memuaskan saya apalagi melihat jajaran cast yang meyakinkan tersebut. Ceritanya berada seputaran keluarga Giovanni Manzoni (Robert De Niro) dan keluarganya yang sedang berada dalam aktivitas dukungan saksi di bawah pengawasan FBI.

Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos cecunguk sesudah terlibat problem dengan Don Luchese (Stan Carp) yang menciptakan sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah dukungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah hingga kini balasannya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah sebab terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan tiba ketika ia mengaku sebagai penulis novel sejarah ihwal Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai kejadian sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan ia sendiri bermasalah dengan menyesuaikan diri disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main garang sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu ialah Don Luchese semakin akrab untuk mengetahui keberadaan mereka ketika ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.

Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas kisah tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro ialah sajian utamanya. Dari luar ia ibarat laki-laki bau tanah pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun kalau ia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya murka hingga mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis ihwal dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menuntaskan problem mereka tidak ragu menggunakan kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah cecunguk sang ayah dengan sanggup melaksanakan banyak sekali bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang menciptakan masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling mengasihi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang menciptakan interaksinya lebih menarik.

Seperti yang sudah saya duga tidak ada yang Istimewa dari ceritanya. Di samping karakternya yang asyik, ceritanya tergolong sangat sederhana. Tidak ada intrik rumit yang sering muncul dalam film-film bertemakan cecunguk dengan tone yang serius. Tapi The Family memang tidak berusaha untuk tampil serius. Ceritanya tidak berusaha cerdas dan memang terasa kurang bakir di beberapa penggalan namun juga tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi kurang bakir dengan menjadi parodi film-film cecunguk ibarat Goodfellas. Ini ialah murni hiburan dengan selipan komedi yang cukup efektif. Terkadang komedinya memang berlalu begitu saja dalam artian tidak lucu, tapi saya lebih sering mendapati komedinya berhasil menciptakan saya tersenyum bahkan beberapa kali menciptakan tertawa. Bukan komedi cerdas namun tetap menarik untuk ditonton. Sebagai teladan ialah ketika Fred yang diperankan De Niro tiba ke aktivitas pemutaran sekaligus debat film yang menampilkan film Goodfellas dimana kita tahu bahwa De Niro ialah salah satu pemain film yang bermain dalam film garapan Martin Scorsese tersebut. De Niro sendiri tampil manis disini. Yah jangan harapkan kualitas nomor satu ibarat aktingnya di The Godfather II ataupun Goodfellas, namun kemampuannya membawakan sosok aksara yang dingin, brutal namun tetap terlihat lucu terperinci patut menerima kebanggaan disini.

Sampai balasannya kita dibawa pada sebuah titik puncak yang untungnya berhasil menjaga tensi film. Pembangunan konflik menuju final showdown yang memperlihatkan anak buah Don Luchese menginvasi Normandy dan menyerbu rumah Fred terasa sangat menegangkan. Apalagi ketika masing-masing anggota keluarga itu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari maut. Momen menuju final tersebut memang begitu intens dan menegangkan. Namun sayangnya ketika sanksi di pertempuran balasannya malah terasa anti-klimaks dan berakhir begitu saja seakan-akan Luc Besson kebingungan bagaimana harus mengakhiri pertempuran yang (maunya) epic tersebut. Bahkan adegan agresi "mini" ketika masing-masing keluarga Blake menghajar orang-orang di sekitarnya masih lebih menghibur daripada klimkas tersebut. Pada balasannya The Family terperinci tidak setara dengan karya-karya terbaik Luc Besson macam Nikita ataupun Leon: The Professional. Kisahnya juga dangkal dan tidak menyinggung hal-hal ibarat ambiguitas yang muncul dalam istilah "keluarga" dalam dunia gangster meski punya potensi besar untuk itu. Tapi setidaknya bukan juga karyanya yang masuk daftar terburuk dan masih jadi hiburan yang cukup menghibur khususnya berkat komedinya yang cukup berhasil dan penampilan maksimal para pemainnya dalam membawakan tokoh-tokoh dengan karakterisasi yang asyik. 

Friday, January 11, 2019

Ini Lho 3 Days To Kill (2014)

Menilik nama Luc Besson sebagai produser sekaligus penulis naskah, maka ada dua kemungkinan yaitu sanggup saja film ini yaitu film hiburan brainless yang menyenangkan macam Taken, atau sanggup saja ini hanya film tanpa otak yang benar-benar buruk seperti Colombiana. Satu yang pasti, 3 Days to Kill tidak akan lebih dari sekedar hiburan tanpa otak, apalagi jikalau melihat nama McG (Terminator Salvation, This Means War) di bangku sutradara saya jadi semakin yakin untuk tidak mengharapkan tontonan cerdas dalam film ini. Cukup duduk elok dan nikmati segala hal-hal terbelakang yang memang ditujukan sebagai hiburan semata. Tapi ternyata asumsi saya sedikit meleset. Saya mengira bahwa McG akan lebih banyak berfokus pada adegan agresi berkecepatan tinggi sambil sesekali mengangkat tema keluarga ibarat yang sering dilakukan oleh Luc Besson, tapi ternyata 3 Days to Kill tidaklah "sebombastis" itu. Kisahnya berpusat pada huruf Ethan (Kevin Costner), seorang biro CIA veteran yang masih jadi andalan dalam melakukan kiprah lapangan ibarat ketika ia ditugaskan untuk mengagalkan transaksi bom yang dilakukan oleh Albino (Tomas Lemarquis). Namun misi tersebut tidak berjalan lancar dan Albino berhasil lolos meski Ethan sempat menembak sebelah kakinya.

Albino sendiri berhasil kabur sebab disaat Ethan hampir menangkapnya, ia tiba-tiba jatuh pingsan. Ethan pun kemudian tahu bahwa ia menderita sebuah kanker otak parah dan divonis hanya akan bertahan hidup selama beberapa bulan ke depan. Karena penyakit itu jugalah pihak CIA memberhentikan Ethan dari pekerjaannya sebagai biro rahasia. Setelah semua itu, Ethan memutuskan untuk berusaha memperbaiki hubungannyya yang retak dengan sang mantan istri, Christine (Connie Nielsen) dan puterinya, Zoey (Hailee Steinfeld). Tentu saja itu tidak gampang sebab Ethan selama ini sudah meninggalkan keduanya, apalagi Zoey yang alhasil tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Kesempatan bagi Ethan untuk memperbaiki hubungannya yang kaku dengan Zoey tiba ketika Christine harus bekerja keluar kota selama beberapa hari dan menitipkan Zoey pada Ethan. Namun ternyata hal itu juga tidak berjalan dengan lancar sesudah Ethan "dikunjungi" oleh Vivi (Amber Heard), seorang biro CIA yang memerintahkan Ethan untuk membunuh The Wolf (Richard Sammel) yang merupakan atasan dari Albino. Meski awalnya menolak, Ethan alhasil mendapatkan misi tersebut sesudah Vivi memperlihatkan sebuah obat hasil eksperimen yang dikatakan sanggup menyembuhkan penyakit Ethan.
Seperti yang saya katakan diawal tadi, 3 Days to Kill tidaklah sebombastis yang saya perkirakan. Saya benar-benar tertipu oleh kulit luarnya. Dengan judul yang mengandung kata "kill" dan posternya yang sedemikian rupa, gampang untuk mengira bahwa film ini yaitu sebuah action-thriller yang kelam, apalagi mendengar premisnya yang berkisah ihwal seorang jasus yang harus menjalankan misi sembari membina kembali kekerabatan dengan keluarganya disaat ia sedang sekarat. Saya mengira film ini akan punya tone yang ibarat dengan Edge of Darkness yang dibintangi Mel Gibson, tapi nyatanya 3 Days to Kill tidak sekelam itu. Bagian awalnya memang pribadi menampilkan adegan agresi penuh ledakan, seolah menunjukan ini akan menjadi sebuah kisah ihwal secret agent yang bergerak cepat dan memacu adrenaline. Tapi semuanya berubah ketika Ethan mulai mencoba membangun kembali hubungannya dengan Zoey. 3 Days to Kill mendadak berkembang menjadi lebih banyak berfokus pada drama keluarganya sambil sesekali kembali ke ranah action-thriller yang juga dibumbui komedi. Warna filmnya jadi semakin cerah, semakin ringan dan mengesampingkan segala tetek bengek mengenai biro CIA yang berusaha menangkap gerombolan teroris. 
Tapi itu bukanlah hal yang buruk, sebab saya akui drama keluarga dan sentuhan komedinya bekerja dengan cukup baik. Hubungan ayah-anak antara Ethan dan Zoey mungkin tidak hingga terasa begitu menyentuh tapi tetap sanggup terasa elok khususnya berkat chemistry kuat dari Kevin Costner dan Hailee Steinfeld. Komedinya yang cukup baik juga semakin menciptakan kekerabatan keduanya terasa menyenangkan untuk diikuti. Bahkan sentuhan komedi juga terasa cukup kental ketika film ini menampilkan kembali momen aksinya. Bukan sebuah komedi yang menciptakan saya tertawa terbahak-bahak memang, tapi cukup untuk menciptakan saya menikmati segala momen yang dihadirkan McG dalam filmnya ini. 3 Days to Kill juga terlihat bergantung pada sosok Kevin Costner yang tampil maksimal disini. Costner tidak hanya punya kharisma yang membuatnya meyakinkan sebagai biro CIA veteran yang handal tapi juga sanggup menjadi sosok ayah yang "terjebak" dalam perjuangan mencairkan kekerabatan dengan sang puteri yang begitu kaku sesudah sekian lama. Costner juga fasih dalam mengemban porsi komedi yang diberikan padanya. Bahkan dengan wibawa yang ia miliki momen komedi yang ada semakin terasa lucu. Sayangnya sebuah potensi berjulukan Amber Heard gagal dimanfaatkan dengan baik disini. Amber Heard terang punya potensi menjadi scene stealer berkat keseksian dan karakternya yang dingin, tapi hal itu tidak dimaksimalkan. Vivi hanya muncul sesaat untuk kemudian menghilang lagi dan muncul lagi, mengakibatkan karakternya terlihat dipaksakan masuk dan tidak penting. Padahal kekerabatan Vivi dan Ethan sanggup jadi sebuah sajian yang menghibur khususnya lewat obrolan keduanya.

Tidak hanya Vivi, huruf lainnya pun banyak yang terasa hanya tempelan belaka ibarat dua antagonis Albino dan Wolf serta keluarga yang tinggal di rumah Ethan. Khusus untuk Albino dan Wolf kedua penjahat yang begitu lemah dan sangat tidak menarik ini mengakibatkan titik puncak 3 Days to Kill menjadi jauh dari kata menegangkan dan terasa datar. Pada alhasil bukan hanya porsi aksinya saja yang terpinggirkan, tapi juga beberapa subplot yang coba dimasukkan termasuk ihwal sekelompok keluarga yang menumpang di rumah Ethan. Dari situ sangat terasa bahwa naskah yang ditulis oleh Luc Besson dan Adi Hasak punya ambisi yang begitu besar tanpa diimbangi kualitas yang mumpuni. Ada ambisi besar untuk menggabungkan aneka macam macam genre dan aspek-aspek dongeng melalui beberapa subplot, tapi jawaban kualitas yang kurang terjadilah ketidak seimangan porsi yang begitu terasa. Banyak hal yang alhasil hanya terasa numpang lewat dan hambar. Untungnya walaupun adegan aksinya terpinggirkan, tiap kemunculannya dihukum dengan tidak mengecewakan baik hingga tetap terasa menghibur. Secara keseluruhan pun, 3 Days to Kill masih menjadi tontonan yang menghibur meski terang terdapat banyak kebodohan dalam ceritanya, pembagian porsi yang kurang seimbang, beberapa kesan repetitif, serta peralihan momen antara drama keluarga dan agresi yang begitu garang dan dipaksakan.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Valerian And The City Of A Thousand Planets (2017)

Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang  seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia daerah aksara itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melaksanakan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya dikala kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan formasi pemain film kenamaan sekaligus imbas CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman aksara atau dongeng solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.

Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang tepat membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan acara luar angkasa insan dari masa ke masa, berujung pada era 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama membuatkan kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) yakni anggota kepolisian insan yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies binatang langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi banyak sekali daerah di galaksi, bertemu alien bermacam-macam bentuk, juga menyelidiki bencana masa kemudian yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian dongeng dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum hingga titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di daerah lain, menetap di sana menikmati suasana, gres lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one

Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan berpengaruh di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, dominan konflik berujung sekuen agresi tidak didorong perjuangan tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup dikala terancam ancaman jawaban terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar insan dan keburukan alami mereka (kita). 
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, alasannya bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner bisa membuat sederet lingkungan, teknologi, hingga kegiatan tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar membisu di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan lisan kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang eksklusif menghentak semenjak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal sanksi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.

Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pendekar sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori jelek Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara bisa pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh perempuan idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas bawel milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan aksara (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah badan di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.


Ulasan untuk film ini sanggup dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE