Showing posts with label Luna Maya. Show all posts
Showing posts with label Luna Maya. Show all posts

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Mantan (2017)

"Mantan" mungkin menjadi salah satu kata paling mengerikan bagi pandai balig cukup akal sekarang. Menariknya, saat secara umum dikuasai dari mereka menentukan menghindar, Adi (Gandhi Fernando) yang segera melangsungkan kesepakatan nikah justru mengunjungi lima mantan kekasihnya untuk mencari tahu, apakah ada di antara kelimanya yang merupakan soulmate-nya. Mungkin banyak penonton bakal bertanya apa perlunya melaksanakan itu. Mengapa harus membuka lembaran usang penuh luka bila tengah bersiap mengarungi masa depan? Namun sejatinya demikianlah citra generasi masa kini yang gemar mempermasalahkan tetek bengek "mantan" dan "pacaran".

Mengusung hal di atas, debut penyutradaraan Svetlana Dea ini telah menjadi cerminan sempurna soal percintaan para millenial, di mana romansa masa kemudian kerap memancing keributan dan membebani. Dalam film ini, Adi mengunjungi kelima mantan di banyak sekali kota. Daniella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung, Frida (Karina Nadila) di Yogyakarta, Juliana (Kimberly Ryder) di Bali, Tara (Luna Maya) di Medan, dan Deedee (Citra Scholastica) di Jakarta. Pemilihan bermacam-macam kawasan tersebut tolong-menolong tanpa substansi terkait narasi alasannya yakni kita takkan menemui perbedaan yang dipengaruhi kultur (penokohan, konflik). Pun hanya sekilas penonton diperlihatkan lingkungan sekitar mengingat pertemuan selalu terjadi di kamar hotel, yang mungkin bentuk penyiasatan bujet.
Sisi positifnya, kamar hotel bisa membangun ruang personal, sehingga memfasilitasi obrolan intim, jujur, hati ke hati. Kemudian kita dibawa mempelajari bahwa terdapat alasan berbeda-beda yang memicu berakhirnya relasi Adi dengan masing-masing dari mereka. Semakin banyak kita tahu, semakin sulit bersimpati kepada Adi beserta segala kesalahan juga kengototan memaksa mengembalikan kenangan menyakitkan di benak mantan-mantannya. Tapi toh film ini tak berniat menjustifikasi perbuatan Adi baik dulu maupun sekarang. 

Adi menyatakan ingin "clear the air", namun berulang kali pula ketimbang menyiasati perdamaian, ia mengungkit kesalahan para mantan. Kalimat-kalimat dari mulutnya pun terdengar berlawanan dengan niatan move on. Setiap pertemuan berujung pertengkaran, yang ibarat disebut Juliana, berputar di satu titik, tak melangkah maju. Apa tujuan Adi? Seperti telah disebutkan, Adi kolam mewakili generasi kekinian yang berlebihan dibingungkan oleh perkara mantan lantaran terlampau bahagia menengok ke belakang. Mencapai destinasi, setumpuk perkara mungkin nihil resolusi, tapi satu hal pasti, Adi merasa tenang, memperoleh kepastian akan pilihannya. Mantan adalah dongeng seseorang menempuh perjalanan akhir didorong ketakutan atas masa lalu. Adi tak tentu arah, resah mesti berbuat apa, alasannya yakni sejatinya, tanpa sadar ia "hanya" ingin menerima penguatan terhadap suatu keputusan.
Ditulis sendiri oleh Gandhi Fernando, naskah Mantan lebih besar lengan berkuasa di tataran konsep ketimbang eksekusi. Premis seorang laki-laki mengunjungi lima mantan kekasih memang unik, tapi di sisi lain sulit melaksanakan penggalian mendalam dengan jumlah tokoh pula konflik sebanyak itu, apalagi lewat durasi 75 menit. Ragam aspek mulai paparan relasi Adi dan tiap mantan hingga alasan putus kurang solid dijabarkan, karam di tengah obrolan yang sesungguhnya berisi banter menarik namun acap kali tumpang tindih. Belum matangnya Svetlana Dea menyusun adegan juga berperan, di mana sang sutradara kerap kerepotan menangani momen pertengkaran secara rapi. Kurang tepatnya beberapa pilihan musik (orkestra dramatis yang tak selaras dengan nuansa low-key film kadang menyeruak) dan transisi adegan kasar  entah disebabkan penyuntingan lemah atau stock footage minim  turut melemahkan momentum.

Didominasi interaksi abjad di satu lokasi, Mantan tentu amat bergantung pada kualitas jajaran cast guna menyulut daya tarik. Ayudia Bing Slamet yang menggelitik melalui amarah tanpa henti dan komentar pedas, terdengar naturalnya lantunan kalimat Kimberly Ryder, Luna Maya dengan sisi glamornya, Citra Scholastica yang penuh semangat, hingga Karina Nadila selaku penampil paling memikat lewat sex appeal didukung interpretasi kompleks yang ia berikan bagi tokohnya, semua saling mengisi, meracik hiburan asyik. Berada di antara perempuan tersebut, Gandhi Fernando memberi akting terbaik dalam karirnya sejauh ini, melontarkan kata, humor, serta emosi bersenjatakan antusiasme yang menyenangkan disimak. Begitu film berakhir, jangan buru-buru beranjak, lantaran ada mid-credit scene singkat yang mengungkap jati diri salah satu sosok penting filmnya.

Ini Lho Filosofi Kopi 2: Ben & Jody (2017)

Luar biasa apa yang dilakukan Angga Dwimas Sasongko beserta segenap tim dengan Filosofi Kopi. Tatkala film pertama hanya mengumpulkan sekitar 229 ribu penonton, perjalanan tak lantas berhenti. Alih-alih menyatakan gagal, merk Filosofi Kopi dikembangkan lebih jauh. Berangkat dari kisah pendek karya Dewi "Dee" Lestari, sekarang kita mendapati dibukanya gerai kopi, prekuel berupa web series Ben & Jody, serta sandiwara radio selaku jembatan penghubung film pertama dengan kedua. Hasilnya nyata. Tiket pemutaran hari pertama Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ludes di banyak sekali kota. Ikut berkembang pula kisahnya, dari pemaknaan hidup dalam cerpen Dee menuju soal cinta, sahabat, keluarga, hingga kompleksitas dunia bisnis. 

Berbagai tema diangkat oleh trio penulis naskah Jenny Jusuf, M. Irfan Ramly dan Angga Dwimas Sasongko, termasuk seputar betapa hidup diisi kedatangan dan kepergian, suatu tema yang setia hadir sepanjang durasi, pun berperan memberi momen paling emosional dan intisari konklusinya. Tapi semua berawal kala dua tahun sesudah tetapkan mengendarai kombi berkeliling Indonesia menyuguhkan kopi terbaik, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) menemui jalan buntu. Mulai ditinggal karyawan, pemasukan tak seberapa, hingga kegamangan akhir merasa tanpa tujuan jadi beberapa sebab. Poin terakhir sejatinya mengundang kejanggalan.  
Ben meragukan "destinasi" hidup berkeliling menjual kopi, menyebut keduanya perlu meninggalkan zona nyaman. Artinya, semua masalah dipicu pencarian balasan karakternya atas tujuan. Namun filmnya lalai menunjukkan balasan kecuali "menemukan dirinya", serupa film pertama, mengesankan stagnansi yang sebaiknya tak dimiliki sekuel selaku proses berkelanjutan. Takkan jadi duduk masalah bila filmnya tegas memposisikan diri sebagai kisah "kepulangan" yang sejatinya turut membentuk resolusi di akhir, sayangnya banyak hal-hal lain ikut campur aduk. Sedangkan dikala Jody berkata bahwa bisnisnya tidak berjalan, kita tak melihat kesulitan finansial dalam Filosofi Kopi. Ditunjang alasan dipaksakan itu, filmnya membawa Ben dan Jody berusaha membuka kembali kedai filosofi kopi, kali ini dibantu investasi dari Tarra (Luna Maya), juga barista gres berjulukan Brie (Nadine Alexandra). Benturan dua eksklusif berbeda (Ben si idealis total dan Jody si pebisnis tulen) jadi ujian seiring masalah eksklusif yang turut menghampiri.

Melalui film kedua, Filosofi Kopi tak lagi banyak berfilosofi soal hidup dengan kopi. Tentu kalimat quotable bermakna macam "Setiap hal yang punya rasa selalu punya nyawa" tetap menghiasi, namun serupa judul awalnya yakni Ben & Jody ("Filosofi Kopi" ditambahkan sebagai penegas brand), bromance dua tokoh utama makin dikedepankan. Dinamika persahabatan Ben dan Jody masih digambarkan lewat saling ejek dibarengi rentetan kalimat seenaknya yang mengalir bebas dari verbal mereka. Rio Dewanto dan Chicco Jerikho tampil bersenjatakan chemistry meyakinkan. Chicco menciptakan keras kepalanya Ben tak menyebalkan berkat gaya asyik, sementara Rio menjaga semoga Jody tidak ditenggelamkan tingkah polah sang sahabat. Di samping keduanya, ada Luna Maya yang solid kala melakoni porsi emosional, juga Nadine Alexandra dengan kekokohan tersembunyi di balik diamnya Brie. 
Persahabatan sejati dibangun oleh pertengkaran yang menyatukan. Naskahnya disusun menurut prinsip itu, tetapi sewaktu film pertama (memenangkan Piala Citra) punya fatwa konflik mulus, Ben & Jody menjadikannya obligasi, melemparkan benturan beruntun yang daripada menyatu, baga keping-keping terpisah yang berlebih kuantitasnya. Terlampau seringnya perpindahan lokasi di mana acap kali satu daerah hadir sambil kemudian dengan cepat makin menyulitkan pergerakan alur rapi. Pun naskahnya mempunyai kesalahan fundamental berbentuk sebuah kebetulan sebagai kejutan sekaligus titik balik perjalanan karakternya. Sebab kebetulan yaitu cara paling tak elegan (kalau enggan disebut malas) guna menggerakkan cerita, terlebih jikalau merupakan fase vital pengembangan karakter. 

Andai bukan lantaran pengadeganan Angga, sulit mendapatkan kelemahan tuturan drama di atas. Sang sutradara diberkahi sensitivitas merangkai momen dramatis, yang daripada mengandalkan metode manipulatif berupa tangisan meraung ditemani musik bergelora, Angga justru "membisukan" suasana. Keheningan menyengat ini memunculkan nuansa intim yang meniru efek emosi. Bagaimana para tokoh diposisikan sebagai insan yang sedang "merasakan" ketimbang mesin pengundang haru penonton termasuk salah satu kunci. Angga paham betul menyerupai apa kehilangan atau sakit hati, sehingga visualisasi momen punya ketepatan di tatanan rasa. Ditemani formasi lagu musisi indie penyegar telinga, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody tetap perjalanan menyenangkan penuh hati, walau kini, kopi itu tak senikmat dulu. 

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Insya Allah Sah 2 (2018)

Seorang perempuan yang hamil sebelum menikah dan seorang perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, lantaran filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana jalan kisah novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 terang tampil lebih baik ketimbang pendahulunya lantaran kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai insan biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti bersikap sama terhadapnya dan film ini.

Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya. Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral menyerupai Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka ialah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik. Karena berbeda dibanding para manchild dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga dikala ia mencampuri urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang memandang dunia secara hitam-putih.

Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) jelek dari seseorang. Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka menerima todongan pistol di kepala, seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan dikala terlibat baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang gres saja nekat kabur dari penjara kemudian merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250 juta dibutuhkan.

Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar sebelumnya lantaran sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi, saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar) guna duduk di dingklik sutradara terang tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen agresi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran agresi luar biasa, elemen tersebut terang jauh lebih menghibur daripada menyaksikan ceramah agama selama 90 menit.

Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani berguru bahwa tidak semua problem sanggup terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan studi permasalahan mendalam, tapi Insya Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa membayangkan kisah Gani-Mutia dihukum tanpa unsur agama dan tetap sanggup bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), alasannya ini kisah insan yang berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa menggunakan perspektif agama pun, memang wajib ditepati.

Ada satu momen khusus yang seketika menciptakan Gani menjadi protagonis yang likeable serta layak didukung, yakni dikala Mutia menceritakan beberapa belakang layar pada Raka di suatu restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa kemudian kelam nan berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang bisa mendiamkan semua orang di ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi. Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon genggam dan bunyi tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi anggun yang gampang terbuai oleh pujian, atau jikalau anda tetap membenci penokohan Raka, anda akan senang melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.

Ini Lho Sabrina (2018)

Ada tiga jenis template. Pertama, yang diulang lantaran digandrungi publik. Kedua, yang diulang lantaran disukai pembuatnya kemudian menjadi gaya. Ketiga, yang diawali jenis kedua, tapi begitu laku manis, pengulangannya dilakukan atas dasar poin pertama. Rocky Soraya rasanya masuk jenis ketiga. The Doll (2016) memberinya kawasan menumpahkan segala elemen favoritnya (trik ala James Wan bertemu banjir darah), tapi begitu lebih dari 550 ribu penonton sukses didapat, tiada alasan meninggalkan usungan formula itu. Apalagi setahun berselang, Mata Batin dan The Doll 2 masing-masing menembus angka 1,2 juta penonton.

Saat banyak pihak memuji Mata Batin, saya justru hingga pada titik jenuh, lantaran Rocky mulai repetitif. Karyanya selalu dibuka oleh first act lambat minim penampakan—yang mana langkah berani dan patut diapresiasi—berlanjut ke second act berupa formasi jump scare medioker, hingga ditutup titik puncak berdarah-darah. Sabrina, selaku spin-off seri The Doll yang makin memperlihatkan ambisi Rocky mengikuti jejak James Wan dengan seri The Conjuring, menggunakan referensi sama. Tapi kentara terdapat perbaikan di sana-sini. Belum menyeuruh, namun satu langkah kecil jauh lebih berarti daripada keengganan melangkah.

Maira (Luna Maya) pun melangkah maju saat menikahi Aiden (Christian Sugiono), meninggalkan bencana dalam The Doll 2 di masa lalu. Keduanya belum dikaruniai momongan, tapi ada Vanya (Richelle Georgette Skornicki), keponakan Aiden yang mereka rawat pasca kedua orang tuanya meninggal. Mencuri hati Vanya yang masih selalu merindukan mendiang ibunya tidaklah mudah. Karena itu, Maira memperlihatkan boneka Sabrina edisi kedua yang khusus dibentuk Aiden (dia pemilik pabrik mainan) untuk mengenang Kayla, puteri Maira yang sudah tiada. Harapannya, sebagaimana Sabrina edisi pertama dahulu bagi Kayla, boneka gres ini bisa menemani sekaligus menguatkan Vanya.

Memasuki kemunculan keduanya, desain Sabrina makin mengerikan, yang berarti, semakin tak logis kalau disukai bocah. Sepertinya kini ialah waktunya kita menyimpan rapat-rapat ekspektasi melihat boneka Sabrina yang lebih “masuk akal”. Bedanya, kali ini boneka itu tidak pribadi menjadi sumber masalah, melainkan permainan memanggil arwah berjulukan Pensil Charlie, yang Vanya pakai guna bertemu arwah sang ibu. Bisa ditebak, justru sosok mistik jahat yang hadir. Baghiah namanya. Salah satu anak iblis. Apakah ia memiliki hubungan darah dengan Ghawiah dari The Doll pertama? Entahlah.

Paruh awalnya dibungkus tempo cukup lambat pula minim teror, yang sayangnya urung ditunjang naskah solid di tatanan drama, sehingga pondasi kisah kekeuargaan serta gejolak batin si paranormal, Laras (Sara Wijayanto), yang kini telah menikahi sesama paranormal berjulukan Raynard (Jeremy Thomas), berakhir lemah. Gagal pula usahan menyentuh hati lewat porsi drama tersebut, walau untuk subplot mengenai Laras, akting kurang meyakinkan Sara Wijayanto turut jadi penyebab.

Singkat cerita, bermain Pensil Charlie menciptakan Vanya bisa berkomunikasi dengan sang ibu, atau tepatnya, sosok yang ia percaya merupakan sang ibu. Khawatir akan kondisi bocah itu, Maira dan Aiden setuju berlibur bertiga. Liburan itu juga titik balik filmnya, di mana tempo dipercepat, sementara teror mulai menyergap. Kali ini, Rocky dibantu tim pengaruh spesialnya berkenan memutar otak demi variasi. Beberapa trik memikat, dari adegan “Edward Mordrake-esque” hingga “kesurupan pertama” menyita atensi saya. Beberapa kali bulu kuduk berdiri, bukan lantaran seram, melainkan dipicu kekaguman atas aspek teknisnya. Those weren’t scary, yet fun and highly admirable. Dipadu kemampuan sutradara memancing intensitas melalui nuansa chaotic, jadilah Sabrina suatu perjalanan seru. Bila diibaratkan musik, Rocky kolam tengah menggeber musik rock beroktan tinggi.

Selain faktor teknis, repetisi turut diminalisir oleh naskah karya Fajar Umbara (Comic 8, The Doll 2) dan Riheam Junianti (The Doll 2, Mata Batin) lewat disertakannya bermacam-macam lokasi, yang berujung menyediakan bermacam-macam metode berbeda pula untuk meneror. Pantai, penginapan, pabrik, dan pastinya rumah. Setidaknya terjadi pergantian suasana sehingga mata kita takkan lelah, walau dari alur, naskahnya sendiri mirip carbon copy dari seri-seri sebelumnya, termasuk twist-nya.

Mencapai klimaks, Sabrina seolah kehabisan amunisi trik, ditambah kerap terlampau panjang di banyak titik. Kita diajak berdiam terlalu usang mendengar Laras dan Raynard merapal mantra berupa puja-puji terhadap Yang Maha Kuasa, sama mirip first act-nya yang terus-terusan menyeret kita melihat Vanya menjalankan aplikasi pendeteksi han...maaf, maksud saya entitas. Rocky dan tim bukannya mengalah begitu saja. Tampak perjuangan menambah varian kejadian melalui bumbu agresi yang sayangnya, tanpa koreografi mumpuni, plus lagi-lagi performa kurang meyakinkan Sara Wijayanto mengayunkan senjata. Sebaliknya, Luna Maya terlihat bersenang-senang melakoni akting kesurupan gila nan over-the-top sebagaimana dalam The Doll 2.

Beberapa kelemahan sudah teratasi, kini pekerjaan rumah Rocky Soraya tinggal terus mengeksplorasi variasi trik jump scare dan tusuk-menusuk supaya tidak stagnan, mencari naskah dengan pondasi solid, dan bersedia memadatkan momen-momennya supaya tak kehilangan momentum. Sebab konklusinya, yang berusaha menutup kisah di nada melodrama, pun tidak kalah berlarut-larut bagai akan berjalan selamanya. Namun mirip saya ungkapkan, Sabrina memang bukan lompatan, melainkan langkah, yang meski kecil, asalkan konsisten berjalan ke depan, bukanlah suatu persoalan. 

Wednesday, November 28, 2018

Ini Lho Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018)

Judul film ini terdengar menyerupai adonan antara Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), dua film yang dibintangi Suzzanna Martha Frederika van Osch. Judul yang disebut pertama bukan horor, namun drama, yang konon merupakan film Indonesia pertama yang berani menonjolkan seksualitas, pemerkosaan, juga kata-kata kasar, dengan “sundel” alias “sundal” alias “pelacur” sebagai salah satunya. Menariknya, elemen-elemen plot Suzzanna: Bernapas dalam Kubur banyak mengambil pandangan gres dari Sundel Bolong (1981).

Kebetulan? Sepertinya begitu. Tapi saya bakal percaya jikalau muncul pernyataan bahwa easter egg di atas ialah kesengajaan. Sebab orang-orang di balik Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terbukti paham betul kriteria yang harus dipenuhi kala menciptakan “Film Suzzanna”. Ini bukan biopic, bukan pula remake, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan benar, alih-alih sekedar perjuangan tak tahu aib guna mengeruk uang. Ini ialah ode yang mengatakan betapa (warisan) Suzzanna masih menghembuskan napas terornya dari dalam kubur.

Pendekatan tersebut tampak dari pemilihan nama tokoh utama. Bukan Alicia, Lila, atau (yang paling tenar) Suketi, tapi Suzzanna, yang diperankan oleh Luna Maya dalam penjelmaan tepat sebagai sang ratu horor. Dalam wujud insan (a.k.a. sebelum bertransformasi menjadi sundel bolong), kita melihat Luna dalam balutan prostetik yang membuatnya kolam kembaran Suzzanna, apalagi ditambah kefasihannya berlogat kolam noni Belanda. Walau sesekali terdengar inkonsisten, Luna sebagai Suzzanna ialah pemandangan adiktif yang menciptakan saya lupa, jikalau butuh beberapa usang sebelum horor merangsek masuk.

Suzzanna dan sang suami, Satria (Herjunot Ali), menjalani kehidupan penuh cinta yang bahagia, khususnnya ketika sesudah tujuh tahun, momongan yang dinanti risikonya tiba. Tapi jikalau mengenal film-film Suzzanna, tentu anda tahu ada bencana bersiap mengacaukan kebahagiaan mereka. Tragedi yang hadir dalam wujud rencana empat karyawan Satria: Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka menetapkan merampok rumah Satria sesudah usul naik honor ditolak. Aksi itu dilangsungkan di tengah penugasan Satria ke Jepang, sementara Suzzanna sedang  menghabiskan malam Minggu menonton layar tancap. Ketika di luar dugaan Suzzanna pulang lebih awal, mereka berempat terpaksa membunuh, kemudian menguburnya di pekarangan belakang rumah.

Keesokan paginya ia terbangun, seolah gres bermimpi jelek menyerupai biasa. Sebuah keputusan berani dari naskah karya Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2, Stip & Pensil) yang dibentuk menurut dongeng buatannya bersama Sunil Soraya (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, Single) dan Ferry Lesmana (Danur: I Can See Ghosts). Sekilas absurd, tapi—dalam kasus langka di film horor kita—Bene menyusun aturan-aturan soal apa yang bisa/tidak bisa sundel bolong lakukan, alasan ia melaksanakan “A” daripada “B”, dan sebagainya. Jumlahnya bisa dihitung jari, tak seberapa kompleks, tapi Bene terus konsisten membangun alur menurut aturan yang ia tetapkan.

Film-film Suzzanna dahulu ialah wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, menolak malu-malu menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuh over-the-top dari sundel bolong. Sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai, baik di studio bioskop atau layar tancap di tengah lapangan kampung. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mengusung tujuan serupa, sehingga diselipkanlah komedi, yang penghantarannnya dilimpahkan pada trio Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus.

Ketiganya memerankan pembantu Suzzanna. Di satu kesempatan, mereka mecurigai jati diri si majikan, dan memulai penyelidikan yang berujung pada momen paling jenaka sepanjang film. Khususnya Opie Kumis dengan kepiawaian melontarkan celotehan-celotehan abstrak yang kelucuannya sukar ditampik. Opie memang pelawak berbakat yang butuh lebih banyak tampil di film apik macam ini ketimbang judul-judul menyerupai Humor Baper (2016) atau Selebgram (2017).

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memang hendak mengikuti formula horor Suzzanna masa lalu, namun juga berfungsi selaku modernisasi. Daripada b-movie, pendekatan lebih “besar” diterapkan, yang mana sanggup kita sadari hanya dengan sekilas mengamati tata artistik dan sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Rudy Habibie). Ketika Suzzanna menyidik seisi rumahnya sewaktu perampokan berlangsung, kameranya bergerak mulus, menyapu seisi ruangan lewat single take untuk menunjukkan keempat perampok di persembunyian masing-masing. Sedangkan musik gubahan Andhika Triyadi (Dilan 1990, Dear Nathan, Cek Toko Sebelah) terdengar megah sebagai cara glamor menyusun tensi dramatis, yang sayangnya kurang berdampak tanggapan lemahnya performa bintang film utama.

Bentuk modernisasi lainnya ialah ditiadakannya cara membunuh cartoonish, kemudian sebagai gantinya, menambah kadar gore. Seberapa pun saya rindu melihat sundel bolong mengendarai kendaraan beroda empat atau traktor, harus diakui, pemandangan tersebut akan sulit diterima penonton kekinian. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih memberi kepuasan serupa kala menunjukkan setan yang punya tugas cenderung heroik ketimbang makhluk kejam, menegakkan keadilan dengan caranya. She’s a supranatural vigilante. Tatkala dunia faktual kerap membebaskan para pelaku kejahatan terhadap perempuan dari hukuman, menyaksikan mereka mendapatkan penghakiman di sini terang menyenangkan.

Aspek horornya memang tak seberapa mengerikan. Mungkin alasannya ialah sundel bolong tak pernah menampakkan diri di lingkungan yang familiar untuk menghantui “rakyat biasa” (pinggir jalan, perkampungan, dll.) sehingga terornya kurang terasa dekat, atau mungkin, alasannya ialah Suzzanna sendiri punya aura mistis tak tertandingi. Luna Maya sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai sundel bolong dengan tawa menyayat pendengaran dan mata yang melotot begitu lebar, seolah menatapnya sanggup menjadikan kematian.

Awalnya film ini disutradarai Anggy Umbara (Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Insya Allah Sah 2) seorang, namun pasca suatu insiden (yang tak bisa saya ungkap), Rocky Soraya (The Doll, Sabrina) bergabung, menyebarkan kredit penyutradaraan. Sulit memilah mana hasil kerja Rocky mana Anggy, sehingga saya menetapkan menganggapnya sama rata. Pergerakan ceritanya mulus, menjadikan alurnya nyaman dinikmati mesti suguhan utamanya tak eksklusif muncul. Urusan membangun teror, kadang kita diajak berdiam terlalu usang di satu momen hingga intensitasnya turun drastis, tapi siapa pun yang menggarap klimaks, khususnya adegan “Kebangkitan sundel bolong”, layak dipuji atas kemampuan mencuatkan keindahan dari dramatisasi teror. Tonton film ini, nikmati perjalanannnya, kemudian mari menanti, apakah ular di atas pohon itu cuma ular biasa atau petunjuk mengenai reboot untuk.....

Thursday, November 8, 2018

Ini Lho The Doll 2 (2017)

Danur: I Can See Ghosts, The Curse, Jailangkung. Ketiganya termasuk horor lokal paling dinantikan alasannya yaitu potensi besar serta digawangi nama-nama tak sembarangan. Sayangnya ada satu persamaan lain yakni sama-sama berkualitas buruk, mengecewakan meski sejatinya digarap sungguh-sungguh. Walau demikian dua di antaranya sukses secara finansial pun nampaknya memancing kembali ekspresi dominan publik terhadap horor. Ikut mencoba peruntungan yaitu The Doll 2 yang film pertamanya mengumpulkan lebih dari 550 ribu penonton dan bertengger di posisi 15 film Indonesia terlaris 2016. 

Serupa pendahulunya, film karya sutradara Rocky Soraya ini masih mengumbar kebrutalan, mengandalkan sadisme eksplisit sebagai senjata. Prolognya berurutan menampilkan abjad paranormal Bu Laras (Sara Wijayanto) dari film pertama dan pasangan suami istri Aldo (Herjunot Ali) dan Maira (Luna Maya) beserta puteri tunggal mereka, Kayla (Shofia Shireen). Tanpa basa-basi Rocky memacu filmnya, mengumbar darah semenjak menit pertama. Bukan kekerasan kosong, melainkan punya shock value yang salah satu momennya memberi statement tegas: sang roh jahat begitu kejam, bukan hantu narsis yang sekedar doyan muncul tiba-tiba.
Suatu malam kecelakaan kemudian lintas yang secara logika tidak mungkin terjadi kecuali ada peranan alkohol merenggut nyawa Kayla, membenamkan Maira dalam depresi. Atas saran sahabatnya yang tidak percaya hal-hal mistis, Elsa (Maria Sabta), Maira mencoba memanggil arwah sang puteri menggunakan boneka kesayangannya, Sabrina  yang lebih tak masuk kecerdikan jadi mainan anak dan menciptakan Ghawiyah nampak menggemaskan  sebagai medium. Dari situlah teror bermula, menggiring Maira menuju peristiwa-peristiwa mengerikan, menyerupai salah satunya kemunculan mendadak Sabrina di antara tumpukan cucian yang entah bagaimana, seluruhnya berwarna putih. Menolak percaya kisah sang istri, Aldo membawa Maire bertemu Dini (Mega Caferansa), dokter seorang andal kejiwaan yang daripada membimbing justru "menyerang" dan menghakimi "halusinasi" Maira. 
Paragraf di atas mendeskripsikan kelemahan paling fatal The Doll 2 yaitu kebodohan luar biasa naskah garapan Riheam Junianti (Sunshine Becomes You, The Doll, Tarot) dan Fajar Umbara (trilogi Comic 8). Film horor bisa dimaafkan bila tampil bodoh, namun lain kisah ketika kebodohan tersebut hadir pada tiap titik penting, menghadirkan ganjalan untuk bisa sepenuhnya menikmati barisan kengerian. Melanjutkan jejak pendahulunya, The Doll 2 menolak eksploitasi jump scare. Kali ini hasilnya lebih baik. Sepanjang second act, ketimbang sekedar melambatkan alur kosong, ada usaha menyelipkan bobot dramatik berupa usaha seorang ibu menghadapi sedih kehilangan buah hati. Luna Maya pun memberi suntikan nyawa melalui kesanggupan mencurahkan keputusasaan bercampur pilu. Walau kesudahannya kesan draggy tetap menyeruak akhir tuturan yang cuma menjangkau permukaan. 

Meski jump scare-nya sempat formulaik, Rocky bisa menyusun beberapa hentakan tak terduga yang efektif memberi daya kejut. Tapi keunggulan terbesarnya yaitu teror action-oriented pemicu adrenalin yang berkulminasi di klimaks. Disokong gerak kamera liar Asep Kalila yang mendukung terciptanya suasana chaotic dan gemuruh musik dengan porsi sempurna gubahan Anto Hoed, sang sutradara menyajikan puncak intensitas yang acap kali menyinggung ranah kejar-kejaran ala slasher. Membanjiri lokasi dengan darah hasil bacokan berantai atau benturan ke bermacam-macam benda, di tangan Rocky badan insan dijadikan sasaran kekerasan tak berujung, seolah memfasilitasi hasrat sadisme dalam diri penonton. Berlangsung cukup usang (sekitar 30 menit), third act-nya yaitu sajian bernyali yang jarang ditemui di horor lokal belakangan ini. 


Review film ini tersedia juga di: http://tz.ucweb.com/7_1C1tE

Tuesday, November 6, 2018

Ini Lho Devil's Whisper (2017)

Hasil kerja sama MD Pictures dengan Vega, Baby! yang di Amerika dirilis eksklusif dalam bentuk home video pada 3 Oktober ini sejatinya menyimpan potensi. Naskah goresan pena Oliver Robins dan Paul Todisco yang didasari kisah dari Adam Ripp (juga selaku sutradara) coba menonjolkan gejolak psikis sosok religius kala iblis menarik hati imannya, ketimbang semata meneror lewat trik murahan. Namun, baik kedangkalan eksplorasi naskah hingga kurang cakapnya sutradara memainkan dinamika menghalangi terlaksananya niat baik tersebut. 

Protaonis kita yaitu Alex (Luca Oriel), dewasa 15 tahun dari keluarga religius. Maka tak mengherankan apabila ia bercita-cita menjadi Pastor. Walau taat beragama, orang renta Alex tidaklah kolot, menyerupai tampak pada doa bersama sebelum makan yang diisi canda tawa. Begitu pula Alex, yang di sela-sela acara agama masih sempat nongkrong bersama teman-teman sambil minum bir, atau mengencani gadis pujaannya, Lia (Jasper Polish). Segalanya berubah ketika ia menemukan kotak kayu misterius peninggalan mendiang neneknya. Bisa ditebak, iblis bersemayam dalam kotak itu, dan siap menggiring Alex menuju kegelapan.
Devil's Whisper menghabiskan lebih banyak didominasi waktu menampilkan terkikisnya kepercayaan Alex secara bertahap, seiring penampakan sosok misterius yang hanya terlihat oleh dirinya. Sehingga masuk akal kalau kedua orang tuanya yakin kejiwaan putera mereka terganggu. Sayangnya, penonton urung diseret pada pertanyaan "apakah Alex memang diganggu iblis atau punya gangguan mental?". Penonton diposisikan sebagai pihak serba tahu, tanpa dirundung kebingungan serupa karakternya. Pilihan ini melemahkan unsur psikologis kisahnya, pun menciptakan beberapa paparan poin sia-sia, contohnya soal insiden traumatik di masa kecil Alex.

Naskah Robbins dan Todisco gemar melempar fakta atau peristiwa, kemudian tak lagi membahasnya. Keputusan Alex menceritakan gangguan iblis pada sahabat-sahabatnya maupun Pastor Cutler  (Rick Ravanello) yang menderita PTSD jadi beberapa di antaranya. Naskahnya berambisi merangkum sebanyak mungkin duduk perkara tanpa tahu mesti dibawa ke mana. Dampaknya turut mengenai wacana narasi yang gerakannya kurang mulus. Ditambah lagi kegemaran film ini memakai blackout sebagai transisi, terlampau sering menghadapkan penonton pada layar gelap, menyebabkan tersendatnya pedoman alur.
Keengganan untuk hanya mengandalkan jump scare patut diapresiasi walau urung diimbangi kekuatan naskah serta pengadeganan. Minimnya jump scare memaksa Devil's Whisper bergantung akan aspek lain menyerupai atmosfer maupun visual mengerikan, namun Adam Ripp sendiri belum piawai menakut-nakuti penonton. Sosok iblis beserta tindak-tanduknya terlalu plain untuk sanggup menghasilkan scary imagery, sementara pacing-nya cenderung monoton, bagai tidak mempunyai tenaga. Pengaruh paling fatal hadir dalam titik puncak canggung, yang hanya mempunyai ketegangan setingkat pertengkaran keluarga daripada konfrontasi melawan iblis.

Para pemain tampil sesuai proporsi termasuk Luna Maya sebagai Dr. Dian, psikolog dengan penokohan klise yang tugasnya sebatas bicara dengan tenang. Beban terbesar diemban Luca Oriel. Setidaknya sang pemain drama bisa mendukung pendekatan "realis" filmnya atas konsep "kemasukan setan". Alex tak menunjukkan sikap abstrak layaknya cara lebih banyak didominasi film menunjukkan fenomena kesurupan. Dia mengalami ketidakstabilan emosi, intensi membunuh dan bunuh diri, tak ubahnya insan biasa yang menderita gangguan psikis. Inilah mengapa penggalian dangkal Devil's Whisper terhadap sisi psikologis patut disayangkan. Potensi besar pun berakhir sia-sia.