Showing posts with label Michael Giacchino. Show all posts
Showing posts with label Michael Giacchino. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Incredibles 2 (2018)

Jika The Incredibles (2004) merupakan parodi film pahlawan super bertemu drama keluarga kelas menengah di pinggiran kota—pekerjaan membosankan sang ayah, ibu rumah tangga—dengan keseharian monoton mereka, maka Incredibles 2, walau tetap menyoroti nilai kekeluargaan dan agresi para pemilik kekuatan super, menyentil info yang mengikuti zaman, yakni kiprah gender. Bagaimana jikalau ibu mempunyai pekerjaan mapan di luar sedangkan ayah mengurus rumah? Pria pemegang teguh nilai patriarki bakal kelabakan bahkan merasa terhina. Itu sebabnya ada relevansi pula urgensi tinggi di sini.

Melanjutkan tamat film pertama tatkala Mr. Incredible alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen Parr (Holly Hunter), bersama ketiga anak mereka menghadapi Underminer, meski aturan masih melarang agresi pahlawan super berkostum. Mereka yakin agresi tersebut baik, tapi dikala berujung melanggar hukum, apakah definisi baik masih layak disematkan? Secercah cita-cita muncul dari Winston Deavor (Bob Odenkirk), pemilik perusahaan telekomunikasi sekaligus penggemar berat pahlawan super, yang mengatakan jalan semoga petinggi-petingi dunia bersedia menghentikan pelarangan terhadap pahlawan super. Kuncinya tak lain menggaet kontribusi publik.

Rencana Winston dan adiknya, Evelyn (Catherine Keener) si mahir teknologi, yaitu memasang kamera di badan pahlawan super, supaya publik sanggup memahami lebih jauh seluk beluk di tengah pertarungan melawan kejahatan. Supaya publik tahu, betapa keselamatan mereka jadi prioritas utama para jagoan. Mengacu pada data soal “seberapa destruktif” tiap-tiap jagoan kala beraksi, Elastigirl, yang mempunyai tingkat terendah pun dipilih. Data tersebut membawa kita sedikit mengintip perihal tema gender yang diangkat. Mr. Incredibles (pria) cenderung mengandalkan otot, tanpa pikir panjang, sementara Elastigirl (wanita) lebih taktis dan mengedepankan otak. Pekerjaan bagi sang istri mengharuskan Bob tinggal di rumah menjaga ketiga buah hati.

Seperti kebanyakan suami, Bob yakin tetek bengek rumah tangga bukan masalah sulit dan akan gampang dijalankan. Bob tak tahu apa yang menantinya. Menangani Violet (Sarah Vowell) dan urusan cinta monyetnya, kiprah matematika Dash (Huck Milner), dan Jack-Jack yang memberi problem lebih dari sekedar mengganti popok. Sulit bagi Bob. Dia lelah, mengeluh, tapi bukan lantaran sisi machonya terancam, melainkan rasa “gatal” untuk kembali beraksi. Semacam post-power syndrome, yang juga dialami Helen, meski kontrol diri sang istri lebih kuat. Bob mencoba melaksanakan yang terbaik, memberi tumpuan mengenai heroisme seorang ayah. Bagi orang bau tanah yang bekerja, konsekuensinya yakni melewatkan tumbuh kembang anak. “Aku melewatkan kekuatan super pertama Jack-Jack”, ungkap Helen, sebagaimana keluhan orang bau tanah yang melewatkan langkah pertama anaknya.

Intensitas Incredibles 2 tidak sepadat film pertama akhir kesan lebih “cerewet” dari setumpuk obrolan. Ada perdebatan panjang ayah-ibu hingga pembicaraan hati ke hati para perempuan perihal kiprah gender, yang bakal sulit diikuti penonton bocah, namun cukup menyadarkan penonton dewasa, dan bukan tidak mungkin memberi mereka materi perihal parenting maupun pemberdayaan perempuan untuk diajarkan ke anak mereka suatu hari kelak. Jangan khawatir elemen tersebut menurunkan daya hibur filmnya. Layaknya film pertama, Incredibles 2, dipandu penyutradaraan berenergi Brad Bird (The Incredibles, Mission: Impssible – Ghost Protocol) masih sajian pendobrak batas terkait urusan agresi pahlawan super.

Ditemani musik epic garapan Michael Giacchino, seri The Incredibles selalu sanggup menggelontorkan agresi yang akan tampak terlalu konyol atau membutuhkan CGI terlampau banyak di medium live action. Lihat agresi pembukanya, kala kamera bergerak amat dinamis, menggunakan tracking shot, mengikuti satu demi satu ekspo kekuatan keluarga super kita, sebelum Frozone (Samuel L. Jackson) memasuki arena pertempuran, kolam menari lincah di atas lintasan es buatannya. Atau dikala Elastigirl berusaha menghentikan upaya supervillain Screenslayer, yang bisa menghipnotis korbannya melalui banyak sekali jenis layar, dengan merenggangkan tubuhnya sementara motornya “terbelah” dua. Butuh kreativitas tinggi guna mengeksekusi sekuen macam itu.

Incredibles 2 masih berperan selaku parodi film-film pahlawan super. Kunjungan kita ke rumah Tony Stark (tidak diungkap secara gamblang) jadi contoh. Pun jikalau anda familiar dengan komik Fantastic Four, yang memberi ide besar bagi pondasi The Incredibles semenjak dulu, maka Jack-Jack mungkin mengingatkan kepada Franklin Richards, putera Reed Richards dan Susan Storm yang mempunyai kekuatan tanpa batas, bahkan dianggap sebagai makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Jack-Jack sendiri merupakan sumber tawa terbesar film ini yang takkan sulit mencuri hati penonton mana saja.


Note: Jangan lewatkan film pendek Bao yang diputar di awal, satu lagi animasi indah Pixar yang menguras air mata. 

Thursday, November 29, 2018

Ini Lho Bad Times At The El Royale (2018)

Banyak film bermasalah jawaban menyebabkan “kebetulan” sebagai jalan pintas malas. Karakter-karakter kebetulan bertemu, terlibat problem yang dipicu serta diakhiri oleh kebetulan. Tapi melalui Bad Times at the El Royale, Drew Goddard (The Cabin in the Woods) selaku sutradara merangkap penulis naskah, justru sengaja memainkan kondisi tersebut. Bagaimana jikalau kebetulan (atau nasib sial) membawa sekelompok orang yang masing-masing menyimpan intensi rahasia, saling bersilangan jalan di ketika yang kurang tepat? As the title suggests, what a bad time indeed at the El Royale.

El Royale merupakan hotel yang terletak di perbatasan, di mana sebelah sisi berada di California, sementara sisi lainnya di Nevada (terinspirasi Cal Neva Resort & Casino). Empat tamu: Seymour Sullivan (Jon Hamm) si salesman rasis, Daniel Flynn (Jeff Bridges) si Pendeta Katolik, Darlene Sweet (Cynthia Erivo) si penyanyi  berbakat, dan gadis hippie berjulukan Emily (Dakota Johnson); plus seorang karyawan hotel berjulukan Miles Miller (Lewis Pullman). Mereka menyimpan niatan terselubung juga masa kemudian kelam, yang satu demi satu terungkap di antara title cards bertuliskan nomor kamar daerah masing-masing tokoh menginap (atau nama atau lokasi bagi tokoh tanpa kamar).

Kisahnya mulai menyusuri arah tak terduga tatkala diam-diam El Royale terbongkar, yang alhasil turut membongkar diam-diam karakternya. Saya takkan menyebut diam-diam ibarat apa (trailer-nya telah membongkar beberapa poin), namun satu hal yang dapat saya beri tahu, bahwa titik balik alurnya ditandai momen pembuktian Goddard terkait kapasitas penyutradaraannya. Momen tersebut berupa single take melibatkan mise-en-scène memikat yang mengatakan situasi dalam 2 ruangan terpisah, disusun dengan intensitas ketat, sinematografi memukau garapan Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers, Nocturnal Animals) di mana pemakaian pantulan cermin jadi highlight, pula cerdiknya pemakaian musik Goddard. Bicara soal musik, pilihan lagu-lagu Goddard plus iringan scoring gubahan Michael Giacchino (Up, Spider-Man: Homecoming, War for the Planet of the Apes) bakal membuatmu tanpa sadar menghentakkan kaki, terhipnotis oleh alunan musik dari periode 1950-1960an.

Tapi Bad Times at the El Royale bukan sebatas gaya. Beberapa penonton mungkin bakal menganggapnya sekedar sajian Tarantino-esque berdurasi sama panjang (141 menit) namun dengan obrolan kalah tajam untuk menjaga atensi penonton mengarungi perjalanan nyaris 2,5 jam. Tidak sepenuhnya keliru. Durasinya dapat saja dipangkas, meski sejatinya, perjalanan panjang itu memang harga yang harus dibayar dalam upaya menghadirkan kekayaan penokohan. Dan sungguh harga yang setimpal.

Pemakaian flashback menghasilkan kejelasan pemahaman bagi motivasi tiap individu, sekaligus memberi mereka karakterisasi unik yang saling berlainan. Bahkan tugas kecil juga mempunyai pengaruh, misalnya Buddy Sunday (Xavier Dolan) si produser musik, yang berfungsi membangun kecurigaan serta ketidaknyamanan Darlene kepada pria, khususnya laki-laki pemilik kuasa dan pemegang otoritas. Elemen tersebut mempunyai kegunaan pula membuat pertarungan psikologis di paruh akhir, yang menghantarkan Bad Times at the El Royale menuju konklusi.

Selama 141 menit, Goddard senantiasa punya cara mempertahankan antusiasme penonton. Misalnya ketika muncul flashback di tengah klimaks, yang otomatis memangkas intensitas, sebelum Goddard berhasil membawanya kembali dengan memberi salah satu aksara momen paling badass sepanjang film. Pun menyaksikan jajaran penampilnya saling mengolah tugas terasa amat menyenangkan. Bridges ibarat biasa menjadi laki-laki renta bersuara growly yang lelah oleh kehidupan; Erivo sebagai penyanyi bersuara emas yang sulit mempercayai dunia; Johnson si perempuan tangguh yang tak segan memberantas semua penghalang; Hamm sang mesin kharisma; dan Chris Hemsworth sebagai Billy Lee, pemimpin cult kejam sarat pesona yang gemar memamerkan perut six pack guna memikat para pengikut wanitanya.

Kejutan terbesar dalam Bad Times at the El Royale ialah keberadaan alegori keagamaan. Sejak kemunculan pertama Billy Lee yang terlihat kolam kedatangan sesosok messiah, sampai bagaimana filmnya memasang perspetif mengenai Tuhan yang tidak mengenal Pendeta palsu atau Nabi palsu. Hanya ada insan baik dan buruk, dan Tuhan akan dengan bahagia hati mengulurkan tunjangan bagi sisi baik, meski tunjangan itu hadir melalui jalan yang misterius.

Thursday, November 8, 2018

Ini Lho War For The Planet Of The Apes (2017)

Sulit membuat sekuel bagus. Apalagi dalam konteks blockbuster ketika dominan sekuel dibentuk demi mengeruk laba komersil (yang mana tidak keliru). Dan banyak sekuel memaksakan arah ketimbang meneruskan tahapan proses karakternya secara natural. Seri reboot Planet of the Apes jadi satu pola langka, membawa penonton mengamati tokoh-tokohnya tumbuh dari monyet korban eksperimen yang memberontak di Rise, membangun kehidupan sembari makin berguru arti menjadi makhluk berakal di Dawn, kemudian berkulminasi pada War di mana peperangan tak semata soal baku hantam fisik, pula bergulat dengan perasaan. 

Beberapa tahun pasca Dawn yang memanaskan konflik dua spesies, Caesar (Andy Serkis) memimpin koloni monyet tinggal di pedalaman hutan sambil terus menghindari pasukan militer insan yang semakin berhasrat memusnahkan ia dan rakyatnya. Dari pemandangan paling pertama, War dengan Matt Reeves selaku sutradara eksklusif memamerkan sihirnya. Opening kala insan dibantu beberapa monyet mantan pengikut Koba (dipanggil Donkey) menyerbu koloni Caesar yaitu kesunyian mencekik yang senantiasa mengisi filmnya. Reeves berani membisukan momen demi momen, dan itu pilihan bijak lantaran dominan monyet berkomunikasi lewat gerak tubuh, dan War berfokus pada mereka. 
Pun kesunyian itu urung membosankan. Pertama berkat tambah mumpuninya efek motion capture. Begitu nampak meyakinkan para monyet hingga terasa magical, seolah tengah menyaksikan primata positif dengan intelegensi sudah berkembang pesat. Kedua tentu terkait akting. Tanpa mengesampingkan penampil lain, Serkis terang menonjol. Sang bintang film menghidupkan, bahkan menghembuskan hati dalam segala tutur kata hingga guratan rasa terkecil berupa tatapan mata atau perubahan ekspresi mikro. Diwakilinya gejolak kompleks dalam diri si pemimpin yang terjebak di tengah tanggung jawab melindungi segenap rakyat dan emosi personal. Yes, this time it's personal.

Semua diawali penyergapan tengah malam yang bergerak demikian intens menggiring kita menuju tragedi. Michael Giacchino mengkreasi musik yang sanggup diapresiasi tinggi baik dari keunikan gaya maupun rasa mencekam yang tertuang tegas. Di luar dampak peristiwanya, musik Giacchino memastikan momen ini tersaji sebagai horor. Dan bukan terakhir kali scoring menyegarkan kaya rasa berhasil ia berikan. Kejadian tersebut mendorong Caesar nekat memburu pimpinan militer yang hanya kita kenal sebagai Kolonel (Woody Harrelson, dalam performa yang mengingatkan pada Kolonel Kurtz-nya Marlon Brando di Apocalypse Now). Di sini kerumitan dilematis Caesar nampak. Untuk pertama kali sepanjang franchise ini penonton diajak mencurigai keputusannya.
Akhirnya ditemani Maurice (Karin Konoval), Rocket (Terry Notary), dan Luca (Michael Adamthwaite), perjalanan Caesar dimulai. Menunggangi kuda melintasi bentangan alam luas yang ditangkap begitu indah oleh sinematografi Michael Seresin, War bagaikan suguhan western. Hanya saja gurun gersang nan benderang digantikan lokasi bersalju yang masbodoh pula kelam. Pun dongeng para monyet mencari rumah gres demi kehidupan lebih baik sejalan dengan esensi setumpuk film western masa lampau. Reeves membawa perjalanan ini dalam tempo cukup lambat namun bukan diseret sekaligus terasa padat sebagaimana naskah tulisannya bersama Mark Bomback enggan menyisakan celah. Tensi melambat di antara agresi tak berujung kekosongan melainkan pembangunan intensi menuju agresi berikutnya, membuat penonton sulit menentukan kapan ketika sempurna sejenak ke kamar kecil.

Sekalinya agresi yang dijanjikan hadir, Reeves tidak mengecewakan. Walau belum sebombastis Dawn (adegan penyergapan gudang senjata dengan putaran kamera 360 derajat di tank masih action terbaik franchise ini), setidaknya keasyikan konsisten diciptakan, bahkan sebatas kera-kera kecil bergelantungan di bentangan kabel layaknya pertunjukan sirkus pun menarik. Selain itu, tiap gelaran agresi selalu memberi dampak penting bagi emos karakternya, bukan sekedar ledakan hampa. Semakin menyenangkan ketika War tidak melulu memancarkan aura depresif. Selipan humor sesekali mengisi di ketika tepat. Menyegarkan tanpa mendistraksi. Tampil pula Bad Ape (Steve Zahn) yang berkat kesesuaian timing serta penokohan likeable tak berujung jadi comic relief perusak suasana macam Jar Jar Binks (berisiko ke sana bila ditangani secara salah).

Bertempo cukup lambat juga bernuansa masbodoh bukan berarti minim rasa. Reeves menolak berlebihan mendramatisir, juga tidak meredam emosi. Seolah meracik penuh kasih sayang, sang sutradara mengandalkan sensitivitas tutur, sembari tidak terburu-buru memastikan rasa yang coba disampaikan merasuk di hati penonton. Reeves menunjukan bahwa dramatis sanggup terasa artistik nan elegan melalui keputusan mempercantik ekspresi perasaan daripada sepenuhnya menahan itu. Kelemahan mungkin muncul sewaktu third act-nya lebih mementingkan ragam penuturan filosofis daripada menumpahkan puncak aksi. Sedikit anti-klimaks tapi bukan masalah. Masih menyenangkan. Tatkala monyet bertambah cerdas sedangkan sebaliknya insan menjadi primitif, tinggal tersisa satu persamaan. Rasa. Itulah pemersatu yang semestinya meruntuhkan perbedaan. War for the Planet of the Apes adalah epilog trilogi mengesankan yang turut memberi kritik sempurna target terhadap gosip sosial masa sekarang sekaligus mengatakan solusi. 


Review ini disponsori UC Web. Ulasan film ini di UC Web sanggup anda kunjungi di: http://tz.ucweb.com/7_25r9y