Showing posts with label Reza Rahadian. Show all posts
Showing posts with label Reza Rahadian. Show all posts

Wednesday, December 12, 2018

Ini Lho Something In The Way (2013)

Karir seorang Teddy Soeriaatmadja sudah berubah. Dari sutradara yang banyak menciptakan film mainstream macam "Ruang", "Namaku Dick", hingga "Badai Pasti Berlalu", sekarang beliau lebih banyak melahirkan film indie yang hanya ditayangkan terbatas dalam beberapa pameran saja. Menonton karya terbaru Teddy Soeriaatmadja pun jadi pengalaman langka. Teddy pun nampak lebih bebas bereksplorasi dalam ceritanya termasuk dengan menghadirkan tema-teman kontroversial. Setelah "Lovely Man" yang mempertemukan seorang banci dengan puterinya selaku gadis pesantren, "Something in the Way" yang sempat ditayangkan di "Berlin International Film Festival" ini punya sopir taksi hobi masturbasi tapi rajin mengaji yang jatuh cinta dengan seorang PSK. Lagi-lagi Teddy membenturkan sisi religius dengan seksualitas, hingga masuk akal kalau filmnya tak dirilis di jaringan bioskop secara luas demi menghindari kontroversi. FYI, "Lovely Man" sempat mendapat protes keras dari FPI dan berujung hanya tayang beberapa hari. 

Ahmad (Reza Rahadian) ialah sopir taksi yang bekerja di malam hari dan banyak menghabiskan siang hari untuk mendengarkan ceramah dalam pengajian. Tapi sepulang kerja, kita bakal menemukan Ahmad yang berbeda jauh dari kesan "anak pesantren". Dia selalu memutar DVD porno untuk kemudian masturbasi yang seolah sudah jadi rutinitas. Demi menguatkan sosok Ahmad yang kecanduan, Teddy berulang kali memperlihatkan adegan Ahmad tengah masturbasi dalam aneka macam situasi dan lokasi, bahkan di dalam taksinya. Seorang laki-laki yang rajin mengaji tapi hobi masturbasi saja sudah menghadirkan "benturan", ditambah lagi fakta bahwa Ahmad rahasia menyukai Kinar (Ratu Felisha), tetangganya yang berprofesi sebagai PSK. Namun Ahmad tak mempunyai keberanian untuk sekedar menyapa. Interaksi keduanya pun paling jauh hanya disaat Ahmad membantu Kinar membuka pintu kamarnya yang macet, sebelum alhasil mereka berdua saling bantu "membuka" banyak hal dalam hidup masing-masing.
Dalam penuturannya, Teddy banyak melaksanakan repetisi. Ahmad masturbasi, rahasia mengikuti Kinar, interaksi keduanya di depan pintu atau dalam taksi, hingga makan mie instant pun dimunculkan secara berulang-ulang. Tujuannya untuk mewakili siklus kehidupan dua tokoh utamanya yang memang selalu berputar pada hal-hal itu saja. Meski repetitif dan berjalan lambat, filmnya tak pernah membosankan. Teddy tahu kapan waktunya menetap pada satu momen, dan kapan harus bergegas pindah ke destinasi berikutnya. Cakupan pemikiran yang dilontarkan cukup untuk menghadirkan perenungan. Teddy tak pernah coba menyanggah anutan Islam ihwal "wanita yang baik" dan hubungan seks. Dia hanya ingin memaparkan sebuah situasi yang sekilas nampak tidak mungkin alasannya ialah dianggap "tidak layak" tapi sebenarnya begitu wajar. Kondisi disaat insan menjadi insan yang mencicipi cinta, nafsu tapi juga meyakini dengan berpengaruh suatu kepercayaan agama. Akhirnya timbul dilema dalam diri.
Seperti "Lovely Man", Teddy Soeriaatmadja menyebabkan pendalaman huruf beserta hubungan yang terjalin diantara mereka sebagai sarana eksplorasi tema. Karakterisasi dimunculkan secara kuat, bukan hanya di permukaan saja. Ahmad sang penyendiri dan kurang baik dalam social skill memberikan kesempatan pada Reza Rahadian untuk memunculkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Gerak badan dan cara berjalannya quirky, begitu pula cara bicaranya yang penuh keraguan. Ratu Felisha mungkin hanya menjadi Ratu Felisha, tapi tidak ada aktris lain yang lebih cocok dari beliau untuk memerankan Kinar. Kinar harus punya sex appeal tinggi semoga penonton percaya akan kemampuannya "menggoda iman" laki-laki menyerupai Ahmad. Kedua tokoh utama pada alhasil saling memperlihatkan kebebasan, meski definisi "bebas" berbeda diantara mereka. Jika diperhatikan, baik Ahmad maupun Kinar sama-sama hanya mendapat kebahagiaan yang faktual dari satu sama lain, menciptakan saya terikat oleh jalinan hubungan mereka. 

Satu-satunya kekurangan yang menghalangi saya untuk lebih menyukai film ini ialah cara yang ditempuh Teddy Soeriaatmadja demi mencapai konklusi. Terlalu dipaksakan untuk hingga kesana hanya gara-gara satu kejadian yang menimpa Ahmad. Tapi konklusi yang dipilih memang sempurna, menguatkan kesan betapa pahit sebenarnya hidup meski kebahagiaan yang rasanya cantik tetap akan berulang kali tiba berkunjung. Saat iringan musik berupa petikan gitar sederhana mulai mengalun menjelang ending, perasaan getir bercampur sesak serta merta mencekik saya. Sudah beberapa kali Teddy Soeriaatmadja menyuguhkan romansa dalam film-filmnya, tapi unlikely relationship antara Ahmad dan Kinar ialah yang paling romantis. "Something in the Way" sempat jatuh ke ranah klise disaat Kinar digambarkan sebagai prostitusi yang terpaksa melaksanakan pekerjaan tersebut alasannya ialah harus menghidupi anaknya dan terlilit "hutang" pada Pinem (Verdi Solaiman) sang mucikari. Latar belakang macam itu bagai telah menjadi formula standar untuk penulisan huruf seorang prostitusi. Tapi formulaik bukan duduk perkara besar disaat pengemasan narasi dan karakternya mengesankan. 

Tuesday, December 4, 2018

Ini Lho Kartini (2017)

Saat kisah hidup seseorang diangkat ke film, ada beberapa kemungkinan. Antara namanya begitu besar, berpotensi mendulang uang, atau menyimpan relevansi terhadap gosip terkini. Kartini sang jagoan emansipasi mempunyai ketiganya. Kala feminisme makin sering diteriakkan termasuk di Indonesia, kehadiran ikon usaha perempuan negeri ini dalam layar lebar menjadi tak sekedar menarik, pula penting disimak. Sebab satu poin penting dari pemikiran Kartini, bahwa pergerakannya bukan semata manifestasi sakit hati atau hasrat kebebasan personal. Lebih dari itu, sifatnya komunal, meluas, menyangkut rakyat luas menentang kekangan sistem feodal.

Ditulis naskahnya oleh Bagus Bramanti (Dear Nathan, Talak 3, Mencari Hilal) bersama sang sutradara Hanung Bramantyo, film ini, walau banyak berkutat di lingkungan rumah Kartini (Dian Sastrowardoyo), turut menyelipkan citra kondisi sosial politik Indonesia, khususnya Pulau Jawa pada awal 1900 di bawah pemerintahan Belanda. Diceritakan tujuan hidup perempuan Jawa hanya menikah, melayani suami yang masuk akal jikalau beristri lebih dari satu. Menginjak dewasa, perempuan dipingit, tinggal dalam kamar menanti pinangan pria. Wanita (dan rakyat miskin di luar golongan bangsawan) pun dipandang remeh,  tidak semestinya memegang posisi penting macam Bupati. 
Gambaran masa itu terpampang jelas, bagaimana sistem berdampak pada kasta masyarakat kemudian dampak kegigihan Kartini yang tak berhenti di diri sendiri, pula membuka jalan lapang bagi pihak lain di banyak sisi (pendidikan, ekonomi). Setidaknya pada tataran informasi semoga penonton tahu bagaimana situasi di mana filmnya bertempat, walau batasan durasi menghalangi beberapa detail tersampaikan. Misal kurangnya eksplorasi asal mula korelasi orang bau tanah kandung Kartini, RM Sosroningrat (Deddy Sutomo) dan Ngasirah (Christine Hakim, Ngasirah muda diperankan Nova Eliza) yang substansif mengatakan kuatnya patriarki mengakar di sistem feodal. Informasi itu urung diberikan, padahal sifatnya penting, khususnya bagi penontom awam sejarah. Sebelum pemutaran, Hanung sempat menyatakan durasi terbatas menciptakan beberapa poin berpotensi kurang mendalam, untuk itu penonton diperlukan aktif membaca buku selaku salah satu sorotan utama alur. Lalu bagaimana dengan penonton yang cenderung familiar akan tokoh utama?

Bagi golongan penonton tersebut, Kartini urung memunculkan perspektif baru. Cukup membaca segelintir sumber, pemahaman serupa sanggup didapat. Terkait kedalaman, khususnya perihal feminisme, Kartini pun mengambil sisi begitu standar. Wanita dijajah pria, dijadikan pelengkap kandang madu (atau burung dalam kandang berdasarkan simbolisme filmnya), kemudian melawan, baik secara sembunyi-sembunyi atau frontal membantah. Pandangan feminismenya (paling tidak dari kacamata saya) tepat, bukan misogyny berkedok pembelaan semu hak wanita. Namun ketika pergerakan tersebut makin sering didengungkan ditambah kompleksitas penerapan yang acap kali memancing perdebatan di beberapa kondisi, kesederhanaan tuturan itu takkan menyulut perbincangan atau pemikiran lanjut. 
Sesungguhnya ada niat ke sana. Kartini teguh melawan tapi penuh perhitungan, mengandalkan pemikiran di balik jeruji penjara budaya, serta mau bernegosiasi demi win-win solution dan tujuan luas mirip keputusannya di tamat ketimbang membabi buta menentang. Sebaliknya, banyak generasi kini terlampau dikuasai amarah, di mana penolakan penindasan laki-laki lewat verbal kebencian terhadap lawan jenis (which isn't the real feminism). Dalam satu adegan, Ngasirah mengibaratkan perbedaan perempuan berpengaruh Jawa dan Belanda lewat bentuk karakter Jawa yang mengenal tanda "pangkon". Mereka sanggup berdikari tanpa lupa berbakti entah untuk orang bau tanah maupun suami. Bukan mengalah, melainkan tuntutan berpikir cerdik menyiasati kekangan. Dua adik Kartini, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha) memang berkata enggan menikah, namun pemikiran ini masuk akal, bahkan mesti dimengerti melihat nasib secara umum dikuasai perempuan Jawa selaku istri kala itu. Wajar penolakan berbasis stress berat pun rasa takut hinggap.

Sayangnya poin di atas sebatas pernak-pernik sekilas daripada fokus utama penceritaan. Seperti sudah disinggung, Kartini tak seberapa mendalam, alasannya ialah orientasinya sendiri condong sebagai biopic hiburan. Karena itu pula penggunaan Bahasa Jawanya sepotong-sepotong, dan tidak menggunakan gaya di zamannya. Hanung berpengalaman menangani biopic serupa (Sang Pencerah, Sokearno, Rudy Habibie) dan penyutradaraannya makin baik. Masih terjebak gaya bertutur terlalu gamblang dalam keharusan menghadirkan tangis untuk momen sedih (plus umlah berlebihan teks narasi), dramatisasinya sanggup diterima khususnya berkat penempatan musik sempurna guna alih-alih eksploitasi kemegahan bunyi (alasan Surga Yang Tak Dirindukan 2 amat menyebalkan). Musik karya kerja sama Andi Rianto dan Charlie Meliala tidak sekedar megah, juga memorable, dan terpenting sesuai mewakili gelora usaha titular character. 
Menghibur berarti gampang dinikmati, dan begitulah Kartini bergulir. Beberapa kali kesan episodik (penyakit umum film biografi) terasa ketika babak-babak hidup Kartini tampil silih berganti termasuk tokoh-tokoh tiba dan pergi, tetapi kematangan Hanung bercerita menjaga supaya pergerakannya halus, tidak melompat paksa nan bergairah antar titik. Menambah daya hibur ialah tata visual dari sinematografi Faozan Rizal. Aspek terbaik gambarnya terletak di kengganan Faozan Rizal "menyiram" tiap adegan dengan cahaya benderang. Pencahayaan difungsikan memberi karakter suatu momen, bukan asal menerangi. Dan keputusan menggunakan bayang-bayang gelap selain menambah kesan realis turut menguatkan tekstur, memperkaya sekaligus memperindah adegan. 

Kartini merupakan salah satu film Indonesia dengan jajaran cast terbesar dipimpin kepiawaian Dian Sastrowardoyo memanusiakan Kartini. Berkatnya, Kartini tak hanya sosok kosong perwujudan wangsit semata, melainkan perempuan muda muda biasa yang walau berjuang dikelilingi penderitaan, juga sanggup bertingkah jenaka terlebih ketika bersama Roekmini dan Kardinah. Di samping permainan tabiat mendalam sebagai Ngasirah yang memendam setumpuk derita, Christine Hakim jadi penampil dengan pengucapan Bahasa Jawa paling lancar, natural, yummy didengar. Djenar Maesa Ayu patut dipuji atas keberhasilan mendorong antipati penonton pada Moeryam meski ia berakhir sebatas keklisean ibu tiri kejam sewaktu potensi kerumitan perempuan yang tersudut ketiadaan pilihan urung ditelusuri naskahnya. Reza Rahadian berstatus glorified cameo belaka, pun porsi minim Adinia Wirasti, termasuk kemunculan kembali Sulastri  tokoh peranannya  yang dipaksakan ada demi mengakhiri konflik. 

Ini Lho Critical Eleven (2017)

Sambut Critical Eleven, penyesuaian novel berjudul sama karya Ika Natassa yang mulai kini semestinya jadi patokan ihwal kualitas banyak sekali sisi drama romantika sinema Indonesia. Cukup manis pula manis dipandang sebagai suguhan pop, cukup besar lengan berkuasa pula kisahnya selaku studi soal huruf dan dinamika ijab kabul serta keluarga. Patut dicatat, ini bukan semata-mata dongeng usang pertemuan dua sejoli yang seiring waktu sama-sama jatuh hati, kemudian berusaha mengalahkan setumpuk rintangan guna menyatukan cinta mereka. Berbeda, lantaran tak hingga 15 menit durasi, kedua tokoh utama telah bersatu. Masalahnya, pasca persatuan itu diterjang badai, bagaimana membangunnya lagi?

Anya (Adinia Wirasti) kerap dan gemar bepergian menaiki pesawat lantaran tuntutan pekerjaan. Demikian juga Ale (Reza Rahadian) yang bekerja di oil rig, memaksanya sering bolak-balik ke luar negeri. Pertemuan pertama pada penerbangan menuju Sidney meyakinkan bahwa keduanya yakni pasangan tepat bagi masing-masing. Mereka menikah, kemudian tinggal di New York semoga Anya tidak perlu hidup jauh dari Ale yang tengah bertugas di Meksiko. Kehamilan Anya membawa pasangan ini menuju kebahagiaan hidup terbesar, hingga sebuah insiden memutarbalikkan kondisi 180 derajat, menghadirkan tanya mengenai cinta akhir timbulnya luka.
Poin terpenting film percintaan ada di huruf utama. Bisa tidaknya dongeng beserta pesan tersalurkan tergantung seberapa besar penonton mengasihi pasangan yang saling mencinta di layar. Reza-Adinia membangun kekerabatan nyata, kesudahannya gampang percaya kalau Ale dan Anya telah menjalin asmara demikian lama. Rasanya bagai melihat sepasang sobat (namun dengan perasaan lebih) yang terkoneksi hati sekaligus cocok kala bertukar pikiran sehingga interaksinya nikmat diikuti. Kemesraan memancing senyum, canda memancing tawa, pertengkaran mengoyak hati. Reza dan Adinia mengikuti jejak pasangan klasik macam Slamet Rahardjo-Christine Hakim atau yang agak modern, Nicholas Saputra-Dian Sastrowardoyo, dalam keluwesan chemistry kuat nan natural.

Penonton ingin kisah berakhir bahagia, di situ bentuk keberhasilan yang dicapai Critical Eleven. Tentu penulisan naskah dari Jenny Jusuf, Monty Tiwa, Robert Ronny, dan Ika Natassa turut berjasa. Berfokus seputar goresan pasutri, Ale dan Anya punya alasan besar lengan berkuasa dalam bersikap yang amat sanggup dimaklumi. Simpati terbagi rata, alasannya tidak ada yang lebih dirugikan, sama-sama insan yang terluka luar biasa. Bahkan bukan tidak mungkin penonton terhanyut membayangkan berada dalam kondisi sama, kemudian menyadari bahwa sanggup jadi bakal bersikap serupa. Naskahnya juga tepat membagi timing transisi kehidupan tokohnya, membuat pertentangan dua sisi (bahagia dan sedih) yang efektif mengguncang emosi.
Di samping observasi problematika pelik rumah tangga, Critical Eleven makin tinggi derajatnya ketika keluarga Ale tak dikesampingkan. Konsep soal ijab kabul yakni bentuk penyatuan bukan saja suami-istri, pun keluarga ditekankan betul. Kita mendapati Ayah (Slamet Rahardjo), Ibu (Widyawati Sophiaan), hingga abang dan adik Ale (Revalina S. Temat dan Refal Hady) berkontribusi, berusaha menengahi sesuai kapasitas, membantu tanpa interupsi berlebihan. Para tokoh pendukung ditempatkan sesuai hakikatnya, mendukung poros penceritaan ketimbang mencuri sorotan maupun pasif menjadi hiasan embel-embel di belakang. Momen terbaik film ini pun terbentuk sewaktu unsur kekeluargaan menyeruak masuk.

Momen tersebut yakni dua pembicaraan di daerah berbeda (Ale-Ayah dan Anya-Ibu) yang oleh sutradara Monty Tiwa dan Robert Ronny jeli ditampilkan bergantian, terkesan selaras dan saling mengisi. Momen ini memikat di banyak sekali tatanan. Pertama, mengukuhkan kiprah keluarga yang didorong rasa cinta berusaha membantu sang anak  baik kandung atau menantu  menemukan jalan keluar. Kedua, memberikan soal saling terima suami istri, poin yang film ini nyatakan jadi kunci pemersatu. Ketiga, tentu saja akting. Setelah pemain film muda unjuk gigi, giliran pelakon senior bersinar. Melalui sepintas insiden saja, Widyawati dan Slamet Rahardjo menuangkan sensitivitas, penuh rasa menuturkan cinta antara ayah dan ibu. Mereka berada di daerah (dan mungkin waktu) berbeda namun kolam berkomunikasi hati ke hati. Menariknya, selain sekuen ini ayah dan ibu tak pernah saling mengungkapkan cinta secara langsung, seolah menyatakan seiring keberhasilan mengarungi cobaan plus waktu, tak perlu lagi cinta gamblang dinyatakan supaya dirasa dan dipercaya.
Kekurangan Critical Eleven terletak pada penyertaan adegan kurang substansial yang mendorong durasi terlampau panjang, mencapai 132 menit. Mayoritas hal tidak perlu itu berbentuk kontemplasi karakter. Mereka diam, meratap kosong, terkadang menangis. Menjadi tidak perlu lantaran kekuatan akting Reza dan Adinia sudah cukup mewakili isi hati huruf meski hanya diperlihatkan sesekali, tanpa harus sebanyak itu. Paruh pertengahan tatkala kesedihan menghampiri memang menurunkan tensi. Ale dan Anya tak lagi ceria, daya cengkeram film pun ikut meredup. Kekurangan ini sejatinya sanggup dihindari andai tuturannya dipadatkan. Benar titik ini signifikan, tapi bukan berarti mesti berlarut-larut.

Critical Eleven merupakan keindahan luar dalam. Di luar, terkait tampilan, polesan sinematografi Yudi Datau membuat hampir tiap adegan memukau mata, mulai New York yang gemerlapan di malam dan bermandikan sinar matahari sore romantis, hingga bentangan langit luas di lepas samudera daerah Ale bekerja. Sedangkan di dalam, film ini menjadi keindahan tutur mengenai penerimaan dipenuhi ekspresi cinta di sana-sini. Ceritanya nampak sederhana tetapi begitu bernilai. Dekat namun terasa segar alasannya jarang sekali romansa kita menyinggung percintaan bersenjatakan kepekaan ditambah kedalaman menyerupai ini. Tangis akan tumpah, bukan produk manipulasi air mata yang terus diumbar, melainkan dipicu tersampaikannya ekspresi cinta kasih. Indah.

Sunday, December 2, 2018

Ini Lho Gerbang Neraka (2017)

Saya selalu mendukung keberanian sineas Indonesia mengeksplorasi genre yang jarang dijamah asal menggarapnya secara sungguh-sungguh dan karenanya layak tonton. Kekurangan khususnya terkait teknologi tentu masuk akal mengingat kita masih merangkak. Justru alasannya yaitu itu pemberian perlu diberikan alih-alih bersikap apatis, menyatakan "tidak perlu coba-coba, kita belum setingkat Hollywood". Inferiority complex demikian yaitu penghalang besar kemajuan industri perfilman, yang lucunya, sempat dibahas sekilas dalam Gerbang Neraka (sebelumnya berjudul Firegate), salah satu penemuan film tanah air paling sukses.

Robert Ronny selaku penulis naskah sekaligus produser memanfaatkan misteri situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat untuk membuatkan jalinan petualangan dengan kesadaran penuh bahwa mengingat kulturnya, sains dan klenik bakal tetap beriringan eksistensinya. Maka masing-masing pihak punya perwakilan di sini. Arni Kumalasari (Julie Estelle) termasuk satu dari tim arkeolog yang ditugaskan Presiden meneliti situs Gunung Padang. Guntur Samudra (Dwi Sasono) yaitu paranormal yang populer berkat program televisi. Sementara Tomo Gunadi (Reza Rahadian) berada di tengah, mantan wartawan kritis yang kini bekerja di tabloid mistis namun enggan mempercayai liputannya. 
Awalnya, mereka bertiga saling berseberangan, sebelum rentetan ajal tidak masuk akal menghampiri Gunung Padang, memaksa ketiganya menyatukan ilmu masing-masing. Upaya Robert membaurkan dua sisi bertolak belakang memang kurang mulus ketika seiring waktu, presentasi scientific mulai keteteran, menyederhanakan unsur misteri yang berkaitan bersahabat dengan sejarah. Untungnya Gerbang Neraka enggan memaksakan tampil sok pintar, dan bahaya utamanya memang berasal dari sisi mistis, sehingga keputusan memberi bobot lebih ke sana merupakan kewajaran. 

Pun gampang mencicipi kesungguhan bahkan mungkin kecintaan besar Robert terhadap cerita petualangan berbau arkeologi. Terpancar terang ketika serupa karakternya, Robert menggabungkan sekumpulan bahan sejarah kasatmata dengan fiksi imajinatif, menghadirkan proses cocok-mencocokkan yang meski kadang dilakukan seadanya, memberi modal penelusuran menarik bagi penonton, juga menghasilkan pembicaraan yang jauh dari kesan monoton. Serahkan pada Reza Rahadian untuk membuat tiap kalimat punya magnet, serta "menjual" momen sesederhana apapun berkat karisma luar biasa. Dwi Sasono lagi-lagi bisa menyeimbangkan ketenangan tutur dengan sisipan humor, meski sayangnya masih banyak penonton terpancing tawa di waktu yang keliru. 
Memasuki paruh kedua, jalinan alur agak melemah, terjebak dalam teladan repetitif: penampakan berujung ajal tokoh di malam hari-penemuan jenazah di pagi hari-terjadi kehebohan. Di pertengahan durasi naskahnya bagai kehabisan wangsit eksplorasi walau tensi tak hingga menghilang ketika Rizal Mantovani bisa merangkai beberapa jump scare penggedor jantung. Ditambah lagi desain sosok Badurakh yang jauh meninggalkan kualitas tampilan hantu horor kebanyakan yang biasanya mengandalkan riasan pucat atau lensa kontak semata. Badurakh merupakan iblis yang layak ditakuti, dan Rizal Mantovani pun membuat karya terbaiknya selama beberapa tahun terakhir.

Third act-nya gagal mencapai titik titik puncak tertinggi tatkala bahaya justru menurun akhir rintangan ala kadarnya dalam piramid, pun beberapa jalinan janggal antar adegan. Obrolan Reza Rahadian dan Lukman Sardi sejatinya diisi konten yang berpotensi memprovokasi, tapi bagai kurang berani menyentuh tingkatan lebih tinggi. Di sinilah tata artistik penyusun set interior piramid memikat dan CGI meyakinkan buatan OrangeRoomCs (Demona, Jagoan Instan) menyelamatkan Gerbang Neraka. Mungkin salah satu pemanfaatan CGI paling efektif di film Indonesia sejauh ini, satu lagi alasan penting mengapa Gerbang Neraka perlu ditonton. 

Saturday, December 1, 2018

Ini Lho Benyamin Biang Kerok (2018)


Benyamin Biang Kerok yaitu perjuangan modernisasi. Bukan saja menyesuaikan kemajuan zaman lewat bumbu fiksi ilmiah lewat kehadiran ragam peralatan canggih macam kepunyaan Ethan Hunt di Mission: Impossible hingga robot, pula terkait urusan moralitas masa kini. Pengki yang diperankan Reza Rahadian tak lagi gemar berkata “brengsek” atau minum bir. Bahkan motivasinya yaitu mengambarkan bisa menjadi laki-laki berguna, juga membantu warga korban penggusuran alih-alih sekedar memuaskan ego pribadi. Haruskah semua “kelahiran kembali” legenda komedi dikemas begini? Dibuat sebagai blockbuster megah yang dipecah jadi dua bagian?

Keputusan membagi dua Benyamin Biang Kerok nyatanya memunculkan “penyakit lama” berupa ketiadaan klimaks, konklusi yang terpotong kasar, serta kurang bekembangnya aneka macam poin alur, khususnya percintaan Pengki dengan Aida (Delia Husein), penyanyi ternama yang terperangkap dalam kekangan durjana berjulukan Said Toni Rojim (Qomar). Aida terganggu dikala Pengki mengejar-ngejar dia, tapi beberapa menit kemudian hatinya mendadak luluh. Pengki yang di versi gres ini bukan lagi sopir melainkan anak manja putera pengusaha terkaya se-Indonesia, Nyak Mami (Meriam Bellina), memang gampang mendapat segala kemauannya. Bagaimana bisa terikat dengan abjad menyerupai itu?
Turut dilontarkan juga pesan-pesan bernada sindiran mengenai ragam isu, menyerupai penggusuran hingga praktik KKN di kalangan politikus serta pengusaha yang memang relevan dengan kondisi Jakarta/Betawi, yang mana merupakan identitas seorang Benyamin. Pesan yang tak memperoleh kesempatan bergulir lebih dalam sehingga berujung tempelan sambil kemudian di antara parade komedi plus agresi berkonsep menarik tapi amat lemah di eksekusi. Hanung luput memberi hook dalam visualisasi tiap lelucon. Ibarat pertandingan sepak bola, Benyamin Biang Kerok yaitu tim berkemampuan olah bola dasar mumpuni tanpa dibarengi efektivitas penyelesaian akhir. Sulit untuk memenangkan pertandingan.

Beruntung film ini punya Reza Rahadian dengan kemampuannya menyulap bahan komedi medioker jadi senjata pemancing tawa yang cukup ampuh. Berkaca dari abjad Pengki di Biang Kerok versi 1972, Reza bisa tampil menyerupai dengan Benyamin, mulai bunyi termasuk cara tertawa dan bernyanyi, gestur jenaka, hingga gaya merengek yang kalau di film orisinil menciptakan Nyonya Besar (Mak Wok) jengkel, sekarang memancing amarah Nyak Mami. Pun Reza sanggup menyebabkan sederet adegan musikalnya terasa menyenangkan meski kerap kemunculannya kerap terganjal transisi kasar.
Terinspirasi film-film Bollywood—yang juga dijadikan “kiblat” film-film Benyamin dahulu—momen musikal Benyamin Biang Kerok diiringi lagu-lagu menyerupai Ondel-Ondel, Biang Kerok, Hujan Gerimis Aje, dan Nonton Bioskop yang diaransemen ulang, lebih kekinian tanpa harus melenceng dari esensi orisinalnya. Masalahnya ada di penempatan, yang daripada bertujuan melanjutkan atau mewakili rasa adegan sebelumnya, cenderung digunakan untuk menghabiskan stok lagu belaka. Bahkan “keserampangan” musikal Bollywood lebih tertata dari ini dipandang dari kesinambungan rasa. Tata artistiknya tergarap baik. Ada kemeriahan di sana, yang tidak pernah bisa ditangkap secara tepat tanggapan pilihan-pilihan shot Hanung.

Layaknya produksi Falcon lain, production value film ini terang kelas satu, yang alhasil mendukung kemewahan momen-momen agresi kental teknologi mutakhir. Tapi keseruan gagal mencapai puncak, selain lantaran filmnya dipaksa berakhir sebelum menyentuh klimaks, juga disebabkan kurang piawainya Hanung meramu agresi abstrak (dalam hal ini Anggy Umbara lebih baik). Benyamin Biang Kerok urung menciptakan aku kesal. Saya betah duduk cantik selama 90 menit, tetapi selama 90 menit itu hanya ada pertunjukan sambil lalu. Kosong. This movie tried too hard to be everything but ended up as nothing. Benyamin S. yaitu soal kekayaan warisan baik seni maupun kultural, sedangkan Benyamin Biang Kerok, jangankan warisan, meninggalkan kesan saja tidak mampu.

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Official Trailer Dan Poster The Gift, Karya Gres Hanung Bramantyo

Mendengar nama Hanung Bramantyo, kemungkinan besar yang terlintas di benak kebanyakan dari kita ialah sutradara “film komersil”. Tidak sepenuhnya keliru. Hanung sendiri mengakui, sebagai seniman sekaligus pekerja industri, beliau mesti sanggup memilah, kapan harus menciptakan film yang ditujukan bagi penonton (baca: berorientasi laba finansial), kapan sanggup mengedepankan idealisme dan bertutur sebebas mungkin. The Gift, selaku karya ke-30 Hanung sepanjang 14 tahun karirnya sebagai sutradara, terang masuk golongan yang disebut terakhir. Hanung sendiri menyatakan, bahwa inilah dirinya dalam kemerdekaan seutuhnya.

The Gift yang sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada Desember 2017 kemudian ini bercerita perihal Tiana (Ayushita Nugraha), seorang novelis yang tinggal bersebelahan dengan Harun (Reza Rahadian), seorang lelaki dengan penglihatan tidak sempurna. Awalnya saling bertengkar, lama-kelamaan mereka mulai dekat, bahkan saling mencintai. Tiana mencar ilmu jikalau di balik ketidaksempurnaan Harun, justru banyak keindahan gres dalam hidup sanggup ia temui. Sementara Harun menemukan sosok perempuan yang bersedia mendapatkan kekurangannya.

Menengok trailer-nya, pribadi terasa peralihan gaya Hanung dibanding kebanyakan karyanya belakangan ini. The Gift tampak sebagai romantika sederhana berbalut pemaknaan kehidupan, yang alih-alih mempersenjatai diri dengan gempuran dramatisasi, menentukan pendekatan kontemplatif. Walau gres nampak sekilas, pun Reza Rahadian menjanjikan performa meyakinkan nan alamiah sebagai laki-laki tuna netra. “Damai dan cantik”. Mungkin itu kesan impulsif yang saya sanggup selama menyaksikan trailer The Gift, yang tentu saja saya harapkan juga muncul kala menyaksikan hasil selesai filmnya. Untuk mencicipi kesan serupa, silahkan saksikan trailer-nya berikut ini, atau sanggup dengan menunjungi akses YouTube resmi “The Gift Movie ID”.


Dibintangi juga oleh Dion Wiyoko (Terbang: Menembus Langit), Christine Hakim (Kartini, Guru Bangsa Tjokroaminoto), Rukman Rosadi (Love for Sale, Arini), dan Annisa Hertami (Aach...Aku Jatuh Cinta, Soegija), The GIft akan tayang di bioskop mulai 24 Mei 2018.

Ini Lho The Gift (2018)

Bagi banyak sutradara, mengarahkan Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Diyon Wiyoko, sampai Christine Hakim dalam satu film yang sepertiga pecahan balasannya bertempat di Italia merupakan kemewahan. Namun kita membicarakan Hanung Bramantyo. Baginya, menangani deretan nama besar serta setting luar negeri jadi hal biasa. Menjadi tidak biasa tatkala The Gift membawanya menarik rem dramatisasi, membiarkan musik mengalun secukupnya, dan menekan jumlah sekaligus intensitas tangisan. Rupanya sehabis bertahun-tahun menerapkan pemahaman akan formula, Hanung masih menyimpan kepekaan bertutur. 


Berusaha menuntaskan novel terbarunya, Tiana (Ayushita Nugraha) pindah ke Yogyakarta, menempati kamar kosong yang terletak di kediaman Harun (Reza Rahadian). Mengalami gangguan penglihatan dan duduk perkara personal terkait keluarga membentuk Harun sebagai langsung yang kurang ramah. Berbeda kondisi fisik, keduanya mempunyai kesamaan, sama-sama terbiasa memandang dunia dari dalam kegelapan. Dibantu naskah buatan Ifan Ismail (Habibie & Ainun, Ayat-Ayat Cinta 2), Hanung mempresentasikan percintaan sebagai hasil kecocokan dua insan, membangun romantika dari interaksi yang tersusun atas obrolan tajam nan menarik ketimbang eksploitasi momen manis.
Kali ini Hanung turut memakai simbolisme yang tersaji subtil nan mulus, bermain-main dengan metafora guna menyoroti sisi gelap serta sifat korelasi manusia. Gembok pemisah kamar Tiana dan Harun melambangkan sekat pembatas dua hati, sementara bahasan soal "penglihatan" yang kental mengisi sepanjang film tak hanya bermakna literal. Apakah Tiana dengan mata yang tepat bisa melihat lebih terperinci dibanding Harun? Ataukah kesempurnaan itu membuatnya terlena, melupakan sensitivitas lain termasuk perasaan? 

Dibekali kebebasan kentara memaksimalkan kualitas penyutradaraan Hanung. Hasil pengadeganannya penuh kreativitas yang memperkuat dinamika. Kamera bergerak lincah pun beberapa kali memanfaatkan pantulan cermin dengan puncak kebolehan menyusun mise-en-scène tersaji pada sebuah pertengkaran Harun dan Tiana, sedangkan huruf Simbok berdiri di kejauhan sambil merespon. Perpindahan rutin flashback ke masa sekarang pun bergerak rapi, saling menguatkan dan menyokong alih-alih mendistraksi. Tapi poin terbaiknya ialah penyusunan situasi dramatis. 
Musik garapan Charlie Meliala dibiarkan melantun merdu sebagai latar, bukan media manipulasi rasa. Bahkan secara umum dikuasai momen terkuat tampil di tengah kesunyian mencekat layaknya bencana yang menghadang tiba-tiba tanpa bisa kita antisipasi. Penampilan para pemain ikut jadi tonggak. Baik selaku tuna netra maupun ketepatan lisan emosi, telah cukup mengingatkan penonton betapa Reza Rahadian merupakan pemain drama terbaik yang jauh meninggalkan generasinya di level berbeda. Ayushita mengimbangi lewat sensibilitas tinggi, dan bukan sebuah kejutan kala Christine Hakim mampu merenggut hati walau cuma muncul beberapa menit. 

Sayangnya The Gift menurun ketika menyentuh babak akhir, pasca memindahkan setting ke Italia seiring kehadiran Arie (Dion Wiyoko) mewarnai cinta segitiga, lalu bertransformasi dari drama low-key menuju konflik penuh kebetulan yang bagai hasil kebingungan penulis menyusun konklusi. Belum lagi bumbu kejutan yang diperlukan mencengkeram emosi namun berakhir sebatas shock value akibat kurangnya fase pembangunan. The Gift bukan persembahan terbaik Hanung Bramantyo, tapi cukup menjadi bukti bahwa sang sutradara punya kapasitas lebih dari sekedar meramu tontonan sesuai pakem.