Showing posts with label Rihanna. Show all posts
Showing posts with label Rihanna. Show all posts

Friday, November 30, 2018

Ini Lho Ocean's 8 (2018)

Genre heist caper punya formula klasik, aturan-aturan yang diawali dengan (1) perkenalan benteng yang tidak mungkin ditembus (brankas, kasino, museum), kemudian kita (2) bertemu sekelompok laki-laki necis yang berencana membobolnya, (3) melihat mereka membeberkan planning mengenai siapa harus melaksanakan apa serta bagaimana. Ocean’s 8 sepenuhnya berjalan mengikuti pakem kecuali pada poin kedua, di mana alih-alih laki-laki necis, kita berkenalan dengan para perempuan berkelas. Sandra Bullock dengan ketenangan elegannya, Cate Blanchett dalam lagak semaunya, perilaku eksentrik Helena Bonham Carter sebagaimana biasa, Rihanna yang melambungkan level “keren” peretas beberapa tingkat lebih tinggi, Anna Hathaway dengan senyum yang mewakili definisi “selebritis bodoh”.

Ocean’s 8 adalah sepenuhnya soal star power. Ditambah Sarah Paulson, Awkwafina, dan Mindy Kaling, tercipta kombinasi menarik yang bukan cuma ihwal multikultural, juga bermacam-macam kepribadian. Walau bertindak selaku spin-off untuk remake dari Ocean’s 11 (1960) yang juga mengandalkan star power kelima Rat Pack (Peter Lawford, Frank Sinatra, Dean Martin, Sammy Davis, Jr., dan Joey Bishop), toh naskah garapan Gary Ross bersama Olivia Milch bergerak layaknya reka ulang dari versi Steven Soderbergh (di sini bertindak selaku produser). Debbie Ocean (Sandra Bullock) gres keluar dari penjara, menemui partner sekaligus sahabatnya, Lou (Cate Blanchett), menyusun planning merampok Toussaint, kalung berlian senilai $150 juta, kemudian membentuk tim guna menjalankan perampokan.

Seperti dikala Rusty Ryan (Brad Pitt) menentang niatan Danny Ocean (George Clooney) menyelipkan perjuangan balas dendam personal di tengah misi, Lou pun bakal menyatakan hal serupa pada Debbie, yang dijebloskan ke penjara akhir pengkhianatan Claude Becker (Richard Armitage), mantan kekasih sekaligus rekan dalam praktek penipuan benda seni. Dari konsep, persamaan dengan Ocean’s Eleven (2001) memang tak terhindarkan, sayang, detail eksekusinya justru mengingatkan akan Ocean’s Thirteen (2007), yang notabene film terburuk dalam triloginya. Sebelum perampokan utama, penipuan, sabotase, dan penyusupan dilakukan terlebih dahulu sebagai persiapan. Di fase ini, cuma para abjad yang tahu apa rencananya, sementara penonton dibiarkan buta sampai misi berakhir, tapi filmnya berharap kita terpukau oleh sanksi planning yang disusun di balik layar itu. Bagaimana bisa jikalau penonton diasingkan dan tidak merasa terlibat?

Tidak peduli seberapa tidak mungkin rencananya, penonton mesti diyakinkan bahwa itu bisa dilakukan, setidaknya oleh jajaran protagonisnya. Filmnya perlu mengatakan keberhasilan misi terjadi berkat kapasitas karakternya, bukan akhir kebodohan korban ibarat dikala Rose Weil (Helena Bonham-Carter) sang desainer dan Amita (Mindy Kalling) si pembuat berlian berusaha memindai barang sasaran perampokan. Keduanya bersikap konyol, bodoh, aneh, mencurigakan, namun urung dicurigai. Ketika karakternya lolos semudah itu, hilang pula tensi filmnya. Mudah sebelum hidangan utama di klimaks, kenikmatan hidangan pembukanya sebatas menyaksikan kepiawaian aktris-aktris kelas satu memerankan sederet tokoh tanpa kedalaman penokohan. Tapi siapa peduli? Film macam ini bukan studi karakter. Kemampuan khusus masing-masing jadi kepribadian pengganti yang mendefinisikan dan membedakan mereka.

Puncak aksinya berjalan cukup singkat, tapi dikemas penuh gaya kala Ross mengkreasi ulang Met Gala secara otentik di Metropolitan Museum of Art selaku lokasi asli, lengkap dengan barang-barang seni orisinil pula, yang semuanya bisa diperoleh berkat restu Anna Wintour, pimpinan redaksi Vogue sekaligus kurator Met Gala semenjak 1995 yang juga menjadi cameo. Tentu cameo para pesohor diharapkan demi menjaga otentitas, sehingga nama-nama ibarat Zayn Malik, Katie Holmes, Maria Sharapova, Serena Williams, Kim Kardashian, Adriana Lima, Kylie Jenner, Kendall Jenner, Olivia Munn, dan lain-lain turut hadir di antara keglamoran yang bisa menciptakan penonton berteriak “oooohh”. Itu juga respon saya tatkala Rihanna, pasca menghabiskan sepanjang film menggunakan pakaian kasual, mendadak memasuki lantai Met Gala dalam balutan gaun merah menawan.

Apalah artinya heist tanpa twist yang bertempat pasca perampokan ketika kita merasa segalanya telah usai. Kejutan yang hadir semata untuk menghentak ketimbang memperkuat jalinan cerita, walau beberapa dari penonton mungkin telah menyadarinya, mengingat film ini bukan berjudul Ocean’s 7. Kejutan yang justru menambah pertanyaan terkait kecerdikan serta detail daripada menjawab. Dalam Ocean’s 8, star power, setting megah dan gaun glamor jauh lebih mencuri perhatian dibanding agresi perampokannya sendiri. Kalau cuma itu, tidak perlu rasanya menyaksikan film heist, cukup karpet merah Met Gala sungguhan, walau di sana kita takkan melihat keluwesan Sandra Bullock mengutil, terlibat pembicaraan renyah dengan Cate Blanchett, atau Rihanna bersenang-senang mengakali sistem keamanan melalui laptop miliknya. Ocean's 8 adalah agresi perampokan biasa oleh para perempuan luar biasa.

Wednesday, November 7, 2018

Ini Lho Valerian And The City Of A Thousand Planets (2017)

Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang  seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia daerah aksara itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melaksanakan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya dikala kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan formasi pemain film kenamaan sekaligus imbas CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman aksara atau dongeng solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.

Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang tepat membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan acara luar angkasa insan dari masa ke masa, berujung pada era 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama membuatkan kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) yakni anggota kepolisian insan yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies binatang langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi banyak sekali daerah di galaksi, bertemu alien bermacam-macam bentuk, juga menyelidiki bencana masa kemudian yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian dongeng dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum hingga titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di daerah lain, menetap di sana menikmati suasana, gres lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one

Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan berpengaruh di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, dominan konflik berujung sekuen agresi tidak didorong perjuangan tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup dikala terancam ancaman jawaban terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar insan dan keburukan alami mereka (kita). 
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, alasannya bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner bisa membuat sederet lingkungan, teknologi, hingga kegiatan tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar membisu di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan lisan kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang eksklusif menghentak semenjak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal sanksi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.

Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pendekar sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori jelek Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara bisa pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh perempuan idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas bawel milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan aksara (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah badan di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.


Ulasan untuk film ini sanggup dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE