Showing posts with label Short Film. Show all posts
Showing posts with label Short Film. Show all posts

Saturday, January 12, 2019

Ini Lho My 2Nd Short Movie - F(R)Iction

Kali ini postingan saya bukan berbicara perihal review film apapun melainkan sharing perihal film pendek saya yang berjudul "F(R)ICTION". Ini yakni film pendek kedua yang saya buat dimana film yang pertama hingga ketika ini masih terbengkalai dalam pembuatan musiknya tapi saya menargetkan akan segera menuntaskan "hutang" tersebut secepatnya. "F(R)ICTION" sendiri memulai proses syutingnya pada bulan Oktober kemudian selama kurang lebih enam hari. Konsepnya sendiri saya buat ibarat mockumentary dikarenakan untuk mengakali keterbatasan teknis alatnya hehehe. Untuk sinopsisnya kurang lebih sebagai berikut 

"Proses syuting film pendek yang dilakukan oleh sepasang kekasih perlahan bermetamorfosis perjalanan yang meleburkan batasan antara fiksi dan realita"

Dalam penulisan naskahnya (tentu saja) saya banyak terinspirasi dari karya-karya Kim Ki-duk. Tentu saja masih ada begitu banyak kekurangan dalam film ini yang saya harap akan menjadi pembelajaran penting bagi karya-karya ke depannya. Untuk sementara filmnya saya upload dengan kualitas yang biasa alasannya faktor koneksi yang lemot, tapi begitu menerima koneksi yang memadahi saya akan segera meng-upload kualitas video yang lebih baik. Berikut ini eksklusif saja filmnya yang berdurasi sekitar 15 menit...silahkan menonton.




Thursday, January 10, 2019

Ini Lho My Short Movie: Conversation Of Men

Yap, menyerupai yang sudah tertulis di judulnya postingan ini aku maksudkan untuk membagi satu lagi film pendek yang telah aku buat. Film berjudul "Conversation of Men" ini bersama-sama dibentuk secara "mendadak". Tidak hingga satu ahad yang kemudian aku sedang dalam proses mengerjakan tiga film pendek (satu sedang finishing, satu dokumenter sedang di edit, dan satu lagi masih tahap syuting), tapi sebab beberapa kendala, ketiganya harus tertunda dan belum terselesaikan. Saya pun tetapkan untuk menciptakan satu film secara mendadak tanpa memakai naskah. Mengaja dua orang teman saya, sehabis briefing selama setengah jam, kami pun pribadi mulai pengambilan gambar yang berlangsung dua jam. Setelah melalui proses editing singkat, film ini pun selesai. Lucunya ini yaitu film keenam menurut dimulainya proses tapi malah simpulan sebagai film ketiga saya. 

Ceritanya sendiri sangat sederhana dan berasal dari salah satu pengalaman pribadi aku dan mungkin kalian para pria juga pernah mengalaminya. Silahkan pribadi tonton saja "Conversation of Men" ini dan selamat menonton dan mengevaluasinya :)


Sebagai "bonus" aku tambahkan sebuah video iseng-iseng yang sekitar satu bulan kemudian aku ambil bersama pacar saya. Sekedar info, ini blog fashion yang ia miliki (numpang promosi hehe) Prillamie

Wednesday, January 9, 2019

Ini Lho My Short Movie (...By Fear)

Seperti yang aku sebutkan dikala membagi film Conversation of Men, ada satu lagi film pendek yang sedang aku kerjakan. Sebenarnya ...By Fear sudah sekitar dua bulan kemudian jawaban diedit tapi alasannya beberapa faktor non-teknis gres sempat aku publikasikan tidak usang ini. Film ini yaitu proyek coba-coba dikala aku tiba ke lokasi syuting film teman saya, yaitu sebuah rumah tua. Dari situlah aku tertarik untuk menciptakan film pendek horror yang di-shoot tanpa naskah dalam waktu sehari. Kaprikornus silahkan menikmati ...By Fear dan silahkan memperlihatkan komentar baik di postingan ini maupun eksklusif di halaman YouTube saya. Silahkan juga menonton film-film pendek lainnya yang ada di channel aku (bisa eksklusif ditonton juga di blog ini, ada di kanan atas halaman).

Tuesday, January 8, 2019

Ini Lho Jogja Asian Film Pekan Raya - Light Of Asia

Light of Asia merupakan sebuah jadwal di JAFF 2014 yang menampilkan banyak sekali film pendek terpilih buatan sineas-sineas Asia. Saya menonton Light of Asia #2 yang menampilkan lima film, dengan tiga diantaranya berasal dari Indonesia. Salah satu dari tiga film pendek Indonesia yang diputar yakni Maryam buatan Sidi Saleh yang sukses memenangkan Best Short Film pada ajang Venice Film Festival tahun ini. Berikut ini ulasan pendek perihal kelima film yang berpotensi memunculkan cahaya gres dalam dunia perfilman Asia.

SOMEWHERE ONLY WE KNOW (Thailand)
Film buatan Wichanon Somumjarn ini berkisah perihal seorang perempuan muda yang bekerja sebagai akuntan berjulukan Bee dan satu hari dalam kesehariannya. Pada malam hari ketika sedang beristirahat di rumah, datanglah Art, mantan pacar Bee yang hendak mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal disana. Somewhere Only We Know tidak jauh beda dengan film-film drama arthouse dari Thailan yang lain. Amat realistis, berjalan dengan tempo sangat pelan, diisi banyak obrolan yang dihantarkan dengan "dingin" dan lambat oleh tiap karakternya. Agak melelahkan, tapi merupakan sebuah observasi cantik perihal kehidupan karakternya. Satu kejutan di final seolah memperlihatkan bahwa setiap orang niscaya punya belakang layar dalam hidupnya yang tidak diketahui orang-orang terdekatnya. (3/5)

CLEANING THE FISH (Indonesia)
Film pendek ini menawarkan citra perihal bagaimana membosankan dan beratnya kehidupan seorang ibu rumah tangga, suatu pekerjaan yang sering dianggap remeh bahkan kurang dihargai. Oleh Myrna Paramita Pohan kita diajak untuk melihat bagaimana sang huruf utama tidak ubahnya pembantu rumah tangga yang selalu bekerja keras, bahkan sering kali kurang menerima "penghargaan" dari sang suami. Sebuah observasi apa adanya, tapi bukanah untuk menampilkan rutinitas yang membosankan sebuah film tidak perlu menjadi membosankan juga? Cleaning the Fish pun gagal menciptakan saya bersimpati alasannya yakni yang kental justru aura feminis berlebih, sesuatu yang diakui oleh sang sutradara bukan tujuan film ini. Pada hasilnya Cleaning the Fish lebih cocok dikemas sebagai dokumenter saja. (2.5/5)

FAR OR NEAR (Iran)
Karya Mohammad Hamzehie ini menceritakan seorang istri dengan obsesif kompulsif yang mendapati sang suami memanggil nama perempuan lain dalam tidurnya. Hal itu mendorong sang istri untuk melaksanakan sebuah keputusan besar. Sebuah drama suami-istri yang sedikit mengingatkan pada A Separation khususnya alasannya yakni setting yang digunakan. Karakter sang istri menarik berkat aspek obsesif kompulsif pada angka tiga, dan banyak keunikan yang muncul berkaitan dengan pengambilan keputusan. Konklusinya pun memuaskan, dan memperlihatkan perihal takdir yang selalu hadir lewat cara yang abnormal dan tak terduga. (3.5/5)

MARYAM (Indonesia)
Maryam yakni perempuan beragama Islam yang bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Kristen. Pada sebuah malam Natal ia harus sendirian menjaga adik majikannya yang mempunya gangguan mental. Dari situlah awal persinggungan Maryam dengan situasi yang teramat asing bagi beliau dan kepercayaan yang ia anut. Film buatan Sidi Saleh ini memperlihatkan bagaimana bila dominan dan minoritas di negara ini dibalik. Bagaimana bila Islam yang selama ini dominan harus menjadi minoritas dalam sebuah kesempatan? Penuh dengan perenungan, karkter menarik, situasi abnormal yang menggelitik, Maryam adalah tontonan yang begitu menyenangkan. Hanya lewat 18 menit Sidi Saleh menghadirkan banyak ironi dan momen berisikan banyak sekali macam emosi dan konflik batin. Film terbaik pada Light of Asia ini dan begitu berpotensi menjadi film panjang yang menarik. (4/5)

GADIS BERKERUDUNG HITAM DAN MANUSIA SERIGALA (Indonesia)
Judul uniknya ternyata juga berlanjut dalam dongeng yang juga unik. Karya Orizon Astonia ini mengisahkan Norma, seorang cukup umur putri yang dididik dengan budaya Islam ketat oleh sang ibu yang bercadar. Dia sering dihentikan keluar rumah, tapi itu tidak menghalanginya untuk melihat atau menikmati dunia luar. Sampai suatu hari terjadilah pertemuan antara Norma dengan seorang laki-laki asing berjulukan Adam. Satu lagi film pendek dengan tema keluarga berpadu religiusitas. Saya suka bagaimana beberapa karakternya mendobrak kesan perempuan berjilbab yang sangat suci. Saya suka interaksi Norma dan Adam, khususnya sebuah adegan long shot di ruang tamu yang amat menghibur dan memancing tawa. Tidak berakhir sebagai sajian yang dalam ibarat apa yang terlihat diawal, tapi terang amat menghibur. (3.5/5)

Sunday, January 6, 2019

Ini Lho Un Chien Andalou (1929)

Seorang laki-laki paruh baya (Luis Bunuel) tengah mengasah pisau sambil menatap bulan purnama dan awan-awan di sekitarnya. Tiba-tiba adegan berganti dengan memperlihatkan close-up wajah perempuan muda (Simone Mareuil) yang matanya ditahan oleh sang laki-laki paruh baya. Lalu bersamaan dengan purnama yang disayat oleh awan, mata perempuan gampang itu pun disayat oleh pisau sang pria. Begitulah Un Chien Andalou atau yang punya arti An Andalusian Dog ini dibuka. Berawal dari perbincangan Luis Bunuel dan Salvador Dali perihal mimpi mereka, terciptalah film sureal ini. Bunuel yaitu sutradara yang punya obsesi dengan mimpi serta metode Freudian menyerupai asosiasi bebas dan psikoanalisis. Suatu malam ia bermimpi perihal bulan yang dipotong oleh awan, menyerupai mata yang tersayat pisau. Sedangkan Dali sang pelukis sureal bermimpi perihal tangan seseorang yang dikerubuti semut. Berbasis dua mimpi tersebut, Bunuel dan Dali menulis naskah bersama untuk film pendek yang disutradarai Bunuel ini.

Sebuah karya surealis memperlihatkan citra sebuah insiden atau huruf dengan simbolisasi dan metafora yang tidak jarang hiperbolis. Akan memusingkan bagi penonton, tapi juga menantang bahkan "nagih" bagi mereka yang gemar memutar otak mencari interpretasi. Tapi untuk film ini, pertanyaan sebenarnya bukanlah "apa interpretasi ceritanya?" melainkan "apakah interpretasi tersebut ada disana?" Un Chien Andalou tersusun oleh narasi yang tidak saling berafiliasi Setelah pembuka di atas, kita akan melihat seorang laki-laki muda (Pierre Batcheff) bersepeda dengan dandanan suster, perempuan androginus (Fano Messan) yang terobsesi dengan belahan tangan, adegan tangan sang laki-laki muda yang mengeluarkan semut, serta adegan lain yang terkesan dreamy sekaligus disturbing. Bunuel dan Dali menulis naskah dengan perjanjian bahwa "tidak ada satupun inspirasi atau gambar yang dapat dijelaskan secara rasional". Bunuel juga menambahkan "tidak ada satupun hal dalam film ini yang merupakan simbolisasi".
Apakah sebuah film harus punya makna? Apakah surealisme harus menyimbolkan sesuatu? Dengan dua pernyataan Bunuel di atas, dapat disimpulkan film ini dibentuk tanpa bermaksud menuturkan apapun. Bagi saya film dapat merupakan bentuk opini pembuatnya terhadap suatu kejadian, tapi juga dapat sebagai cerminan positif dari sebuah insiden tanpa dikurangi atau ditambahi. Film ini termasuk yang kedua. Bunuel dan Dali hanya ingin memvisualisasikan mimpi masing-masing dalam film ini dengan beberapa adegan pemanis sebagai benang merah. Adegan pemanis itu tidak bermaksud untuk membuat narasi yang koheren, tapi lebih kepada rasa dan suasana. Secara narasi tidak ada kaitan satu dengan yang lain. Tapi secara suasana dan kesan mimpi yang coba dibangun lewat momen demi momen tak beraturan, semuanya selaras. 
Tapi kalau mencoba berinterpretasi, saya merasa Un Chien Andalou berkisah perihal obsesi, perihal hasrat yang ditekan, perihal seksualitas yang twisted. Adegan laki-laki muda menyeret piano yang berisikan jenazah keledai, kerikil bertuliskan 10 perintah Tuhan dan dua orang Pendeta sambil mendekat kearah si perempuan muda bagai memperlihatkan hasrat seksual sang laki-laki yang tertekan oleh norma dan agama. Sang laki-laki juga diperlihatkan menikmati melihat perempuan androginus tertabrak mobil, bahkan sehabis itu ia ingin berafiliasi seks dengan si perempuan muda (simbolisasi twisted sexuality). Bunuel sendiri menyatakan bahwa kalau ada interpretasi yang mungkin tepat, itu berbasis dari psikoanalisis. Lewat psikoanalisis dalam buku The Interpretation of Dream, Sigmund Freud menyatakan bahwa mimpi merupakan hasrat terpendam, pelampiasan dari sesuatu yang ingin seseorang lakukan di kehidupan positif tapi tidak kesampaian. Tapi lagi-lagi tidaklah penting bagi saya apakah suatu film punya makna yang coba disampaikan. Karena salah satu fungsi film yaitu menuturkan suatu insiden apa adanya, menyerupai Bunuel dan Dali menuturkan mimpi mereka tanpa coba memperlihatkan interpretasi.

Tanpa harus memperlihatkan makna Un Chien Andalou tetaplah pencapian yang luar biasa dan menjadi pondasi bagi film indie sekaligus film sureal masa kini. Disaat pada masa itu para pembuat film cenderung ingin memuaskan penonton (lebih dari yang terjadi dikala ini), Bunuel justru sebaliknya ingin memperlihatkan rasa tidak nyaman bagi audience. Kesan itu berhasil tersaji dengan tepat disini. Kesan sureal tidak hanya terasa aneh, tapi juga digambarkan lewat cara se-disturbing mungkin. Visualisasi itu turut disempurnakan oleh scoring  Richard Wagner. Adegan laki-laki menarik piano yaitu teladan sempurna. Saat musik semakin meninggi, saya pun semakin merasa tidak nyaman, jantung semakin berdebar, ketegangan makin memuncak. Sebagai sebuah film bisu tanpa dialog, Un Chien Andalou adalah sajian sureal yang tidak nyaman tapi begitu mengesankan disaat bersamaan.

Saturday, January 5, 2019

Ini Lho My Short Movie - To The Biuti

Berawal dari suatu malam ahad penuh kesendirian dan kehampaan (intinya nganggur dah) muncul sedikit wangsit menciptakan film pendek. Tapi kondisi keuangan sedang kurang mendukung dan tidak ada yang dapat diajak sebab mendadak ingin menciptakan ketika itu juga. Akhirnya nekatlah aku sanksi wangsit itu sendiri. Menyusun dongeng sendiri, sutradara sendiri, pemain film sendiri, ambil gambar sendiri, edit sendiri. Akhirnya teknis dan segalanya kurang cantik sudahlah, yang penting hasrat berkarya ini terpenuhi. Bisa orgasme. Ceritanya sendiri ihwal obsesi masyarakat zaman kini akan sesuatu (watch it and you know what's the obsession). Musik yang aku pakai disini yaitu buatan Kevin MacLeod yang dinaungi lisensi creative commons. Makara silahkan dilihat film pendek atau apapun namanya karya aku ini.

Ini Lho Kompilasi Pemenang Xxi Short Film Ekspo 2015

Berikut ini yaitu review singkat aku untuk 10 pemenang "XXI Short Film Festival 2015" yang kompilasinya gres saja diputar tanggal 20 Mei ini di Yogyakarta. Kapan lagi sanggup menonton film-film pendek di layar lebar bukan? Apalagi semuanya hasil karya sineas lokal yang dibutuhkan sanggup menunjukkan masa depan cerah bagi dunia perfilman Indonesia. Tidak semuanya memuaskan memang, tapi dibandingkan banyak sekali program lain yang memutar kompilasi film pendek di Yogyakarta akhir-akhir ini, kompilasi dari XXI ini terang terasa Istimewa mulai dari kualitas hingga keberagaman genre yang diusung.

A WEEK WITH HERU
Sutradara: Made Dimas Wirawan (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri Media
Pembuka yang menaikkan mood. Seperti judulnya, film ini membawa penonton pada satu ahad dalam hidup huruf Heru yang dibagi dalam tujuh segmen, dimana tiap segmen menggambarkan insiden per-hari. Tapi semua itu tidak lewat cara serius. A Week with Heru ibarat adonan antara Happy Tree Friends versi lebih "lembut" dengan komedi ala Sketsa. Kelucuan hadir lewat twist absurd penuh kebodohan karakternya. Bergerak cepat, mengakhiri setiap segmen tepat pada dikala punch line komedi terbukti sukses menghadirkan tawa tanpa henti. Aneh, gila, bodoh, tapi sangat menghibur.


O5:55
Sutradara: Tiara Kristiningtyas (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Fiksi Pilihan Juri Media
Sekitar 10 menit awal durasi film menunjukkan keseharian warga Bantul. Kesan tenang dan tentram hadir lewat kesederhanaan mereka. Sebagai sajian eksperimental 10 menit awal itu amat menarik. Saya suka sajian realis yang layaknya dokumentasi hidup sehari-hari. Tapi sisa 2 menit terakhir yang menunjukkan wajah serta tujuan orisinil film ini justru merusak semuanya. Gemuruh serta narasi hadir tepat sehabis tangisan seorang bayi. Mungkin tujuannya untuk menciptakan penonton mencicipi ironi dari tragedi, disaat bencana sanggup tiba tiba-tiba, menghancurkan kedamaian yang ada. Penonton dibutuhkan sanggup terhenyak mendapati fakta tragis sehabis menghabiskan 10 menit menikmati ketentraman. Tapi bagi aku konklusinya mirip bentuk kemalasan. Rasanya hampa. Konsep unik dan gres memang tidak selalu berhasil.


HARI YANG LAIN UNTUK BAKKA' SENDANA
Sutradara: N. Priharwanto (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri Media
Gambaran kultur sabung ayam yang ada di Toraja ini efektif menunjukkan tanya, "apakah kultur sanggup dibenarkan jikalau itu menyakiti makhluk hidup?" Memang menyakitkan melihat ayam-ayam saling bertarung, terluka hingga bercucuran darah, bahkan dipotong kakinya. Untuk pemaparan hal itu filmnya berhasil. Tapi dalam hal lain mirip fakta bahwa kemungkinan sabung yang hadir sanggup jadi merupakan kali terakhir akhir ancaman penggerebekan polisi, hingga tugas sosok Sappe sang pemilik Bakka' Sendana dalam narasi hanya terasa sebagai tempelan yang tidak signifikan. Durasi 7 menit tampak begitu kurang untuk menggali segala aspek yang diniati sang sutradara.


DJAKARTA-00
Sutradara: Galang Ekaputra Larope (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Terbaik
Sebuah kritikan eksplisit terhadap kondisi Jakarta yang penuh kemacetan dan rawan banjir. Setting-nya yaitu Jakarta pada masa post-apocalyptic (disebut Djakarta-00) dimana kota dibangun diatas reruntuhan kota usang yang karam dalam air. Visualnya memikat, meski penggambaran beberapa aspek terlalu komedik daripada murni satir mirip tumpukan kendaraan beroda empat hasil kemacetan yang menggunung. Sebagai satir, dunia yang diwujudkan terlalu eksplisit, kurang elegan. Karakter Gani sang pelukis hipkorit yang menggambar keinginan tapi kehilangan keinginan dan Antya yang apatis bersama-sama menarik. Sayang voice acting yang lemah menciptakan dinamika interaksi keduanya gagal memberikan emosi kuat.


ONOMASTIKA
Sutradara: Loeloe Hendra (Yogyakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Fiksi
Akhirnya hadir juga drama penuh makna yang hadir lewat kesederhanaan bertutur. Seorang anak tanpa nama dan tidak bersekolah tinggal bersama kakeknya yang mempunyai banyak nama sehabis kedua orang tuanya menghilang. Nama yaitu jati diri seseorang, dan siapa diri kita hanya kita yang tahu, kita yang menentukan. Onomastika menyajikan pertanyaan ihwal jati diri lewat sudut pandang anak-anak. Perjalanannya terasa berpengaruh berkat akting elok dari sang bintang film cilik. Kita sanggup mencicipi adanya pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini ia pendam ihwal "nama". Sederhana, tidak dramatis tapi thoughtful.



THE DEMITS
Sutradara: Ruben Adriano (Bandung)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Animasi
Dari judulnya sudah sanggup ditebak animasi ini yaitu komedi dengan para hantu (dedemit) sebagai objek lelucon. Karakter utamanya yaitu Demi yang mendapati dirinya mati dalam posisi memalukan. Kondisi semakin gawat bagi Demi dikala Dinda, perempuan yang ia sukai akan tiba ke rumahnya. Saat itulah muncul tiga hantu tetangga mendatangi Demi. Murni hiburan, murni komedi menyenangkan yang mengolok-olok dunia hantu yang selama ini identik dengan kesan seram. Sama mirip A Week with heru, film ini yaitu kekonyolan ringan yang konsisten menghadirkan tawa dari awal hingga akhir.


IBLIS JALANAN
Sutradara: Salma Farizi (Jakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Dokumenter
Sederhana saja dokumenter ini, yaitu menghadirkan wawancara dengan dua pembalap Tong Setan yang mengulik sedikit kehidupan pribadi hingga resiko-resiko yang harus siap dihadapi dikala beratraksi di atas motor. Eksplorasinya memang tidak terlalu dalam dimana penonton belum akan hingga tahap memahami dua huruf secara intim apalagi emosional. Namun Iblis Jalanan cukup menjadi sarana "mengintip" kehidupan dibalik layar para pembalap. Sayang, adegan pertunjukkan simpulan hidup dalam tong setan sendiri tidak dihadirkan dengan menarik, meski iringan lagu berjudul sama milik Bangkutaman terang jadi pembangun suasana yang sempurna.


PRET
Sutradara: Firman Widyasmara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kata "pret" memang sering kita layangkan dikala melihat para calon wakil rakyat berebut dingklik pemerintahan. Janji-janji mereka memang layaknya bunyi "pret" yang dihasilkan oleh kentut dari pantat. Hanya berbunyi nyaring, tapi tidak ada isinya bahkan seringkali berbau busuk. Sindiran keras yang memang hadir "lewat cara bertutur dan teknik visual asal" (dalam artian positif) mirip judulnya sendiri. Disajikan pribadi pada sasaran, juga menggelitik alasannya mengajak penonton bersenang-senang mencela para "pantat" tapi bukan sebuah sindiran yang cerdas pula.


DIGDAYA ING BEBAYA
Sutradara: BW Purba Negara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kenapa banyak warga yang tetap nekat tinggal di lereng Merapi meski hidup mereka terancam ancaman sehabis beberapa letusan khususnya yang paling dahsyat dan memakan banyak korban jiwa pada 2010 lalu? Apa itu hanya bentuk kebodohan dan keras kepala tanpa dasar? Atau ada alasan lain? Digdaya ing Bebaya adalah dokumenter yang bersama-sama begitu sederhana, menunjukkan tiga orang perempuan renta yang tetap tinggal di lereng Merapi tengah mencari tanaman obat di hutan. Satu per satu dari mereka menuturkan insiden traumatis tersebut sambil memberikan alasan mengapa menentukan tetap tinggal. Dipadu dengan suasana sunyi, ini yaitu dokumenter yang sanggup mengajakpenonton melaksanakan merenungi dan memahami secara lebih dalam alasan para warga tersebut. 


LEMANTUN
Sutradara: Wregas Bhanuteja (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Favorit Penonton, Film Pendek Fiksi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association), Film Pendek Fiksi Terbaik
Bercerita ihwal seorang ibu yang membagikan warisan berupa lima buah lemari pada kelima anaknya, Lemantun memang yang terbaik dari total 10 film dalam kompilasi ini. Sebuah drama keluarga hangat yang menyoroti kekerabatan antar anggota keluarga, kasih sayang, dan kenangan masa kemudian yang tersimpan dalam memori mereka. Apakah kita akan melupakan kenangan tersebut? Membuangnya? Melupakan kasih sayang dan kebersamaan untuk kepentingan sendiri? Atau justru kita bakal tetap menyimpan semuanya sebagai salah satu potongan hidup yang akan kita jaga? Semua terserah kita. Tapi Lemantun jelas presentasi indah ihwal hangatnya kasih sayang dalam keluarga meski itu hadir lewat hal-hal kecil dan sederhana.